Diundang on air Gebyar BCA Kebanggaan Indonesia

Ini undangannya yang dikirim ke email lengkap dengan round down acara
Ini undangannya yang dikirim ke email lengkap dengan round down acara

Sejak jadi blogger, sudah beberapa kali saya diajak ke acara On air. Di Stasiun radio malah pernah jadi narasumber. Dari pengalaman itu saya jadi tau bagaimana proses siaran hingga penyiar bisa ngomong lancar dengan suaranya yang merdu.

Sabtu, 29 Nove, pengalaman melihat langsung proses On Air saya bertambah. Dari On Air di radio menjadi On air di Televisi. Yah, meskipun on air kali ini saya tidak didaulat jadi narasumber *siapa kamu tiba-tiba muncul jadi narasumber hehe*. Dapat undangan exclusive secara personal aja udah sesuatu..

Ceritanya, beberapa waktu lalu ada email masuk dari GoodLife BCA. Isi emailnya GoodLife BCA ngundang saya untuk mengikuti acara off air dan on air Gebyar BCA di Surabaya yang ditayangkan di Net. TV. Jelas senang dong, jarang-jarang Gebyar BCA live di Surabaya. Biasanya kan di Jakarta, tuh. Sstt tau gak sih, undangan itu sebenarnya khusus ditujukan untuk nasabah prioritas BCA. Tau sendirilah berapa saldo nasabah prioritas. Mm.. memang sih saya juga nasabah BCA, syukur Alhamdulillah saldo saya hingga saat ini sudah mencapai 100 M! Embeerrr…. 😀

YUNI6947Dua hari sebelum hari H, BCA menghubungi saya untuk mencarikan 2 blogger Surabaya (1 undangan berlaku 2 orang). Setelah beberapa kali dapat tolakan karena alasan waktu, akhirnya dapat juga. Maklum karena rata-rata mereka pekerja dan ada pula yang rumah tangga. Gak bisa maksa juga.

Beberapa jam menjelang acara saya kirim pesan ke teman-teman untuk janji ketemuan. Masalahnya lokasi acara Gebyar BCA ini berada di Pangkalan Tentara area Monumen Jalasveva Jayamahe di kompleks Armada Timur TNI. Tidak semua orang bisa masuk ke sini dan undanganlah satu-satunya free pass masuk. Supaya tidak saling tunggu-tungguan saya minta mereka kumpul jam 5 sore, buat jaga-jaga telatnya nanti. Di undangan sebetulnya tertulis 18.30.

Setengah 5 saya mulai OTW. Baru juga jalan ratusan meter tiba-tiba matic saya mati plethes. Distater no respon. Wes pokok’e ngadat maksimal! Mana sudah dandan cantik, eh keringat sak jagung-jagung. Lihat langit udah gelap aja. Nyari bengkel pada tutup. Setelah melalui proses serba sulapan akhirnya matic berhasil dikandangin dan kami berangkat dengan motor lainnya.*rental motor, Buk?* hehe

Sampai didaerah Perak saya dan Mas Rinaldi pakai acara nyasar. Kesasarnya jauh pula. Selama ini yang kami tau jalanan Perak itu hanya arah pelabuhan. Untung ada Polisi baik yang membantu menunjukkan arah.

Didekat pintu check undangan, sudah 1 teman yang hadir. Yang lainnya malah ada yang masih dirumah. Huh! Bikin sebel! Masa iya kami harus nunggu dia. Kalau sudah dijalan sih gapapa, lha ini masih dirumah. Andai lokasinya gak jauh seperti ini saya pun tau diri gak nyuruh mereka datang lebih awal. Lha ini kan kami harus ngikuti peraturan Armatim. Bingung juga mau ditinggal atau ditunggu. Andai dia datang saya gak mungkin juga balik lagi ke pintu check undangan. Masuk ke monumennya aja segitu jauhnya. Belum nanti ke masjid sholat Maghrib dulu.

Setelah diskusi kami memutuskan masuk. Yang telat terserah aja soalnya sudah maghrib dan gerimis. Acaranya sudah mau mulai.

Masuk kedalam Armatim pemandangannya bagus banget, angin lautnya segar. Sayang kami tak bisa menikmati karena hujan deras. Menunggu reda kami sholat dulu di Masjid Armatim.

Di kompleks Armatim itu seperti kita sedang berada di Museum Kapal. Ada banyak Kapal perang milik TNI AL yang bersandar, salah satunya Kapal Phinisi Dewa Ruci.

Gebyar BCA live Surabaya

Masuk kedalam venue suasana sudah ramai. Kursi di round table sudah penuh. Yap, akhirnya memang kami telat. Sampai venue sudah jam 19.00.

Secara keseluruhan tata letak sekitar panggung begitu mewah. Di dalam tenda yang serba hitam itu banyak ditemukan accesories berbau kelautan nusantara, seperti mutiara, kerang, pasir pantai, dan kain batik yang disalur-salurkan disepanjang jalan masuk. Di beberapa sudut tampak meja berisi banyak menu makanan khas hidangan Indonesia. Konser ini mengangkat tema Kebanggaan Indonesia, jadi segalanya juga bersentuhan dengan sesuatu yang berhubungan dengan Indonesia.

IMG_20141202_164135
Ciehhh 😀

Untuk memuaskan tamu undangan BCA dan Net. juga menyediakan area foto dengan background Kapal Dewa Ruci, lho.. semua tamu undangan boleh foto disana dan langsung mendapat hasil cetakannya. Super keren, sih!

Beberapa menit sebelum mulai On Air, diruangan yang penuh sesak dan gelap itu samar-samar saya melihat Andre Taulani, Gista Putri dan 2 pembawa acara The Comment. Lupa namanya siapa. Dari jauh saya lihat Andre tampak dekat dengan penonton. Bahkan ketika ada beberapa anak kecil minta foto, Andre dengan sotoynya pasang muka lucu.

YUNI6901

Konser dibuka oleh suara Armand Maulana, grup band GIGI. Lalu ada Duo Maia menyanyikan lagu Ratu Sejagat. Bertubi-tubi ada Ruth Sahanaya muncul membawakan lagu Andai Kan Ku Kembali. Di tengah konser Andre sempat duet dengan Citra Scholastika menyanyikan Bulan Lautan tapi Kolam Susu.

Ada yang menarik dengan penampilan GIGI di lagu ke dua. Ketika memulai beberapa bait lagu Janjimu, Armand sedang beraksi di atas kendaraan tempur di seberang panggung. Saya dan seluruh undangan merasa heran ketika mendengar suara Armand, tapi yang tampak dipanggung hanya Dewa Bujana dan kawan-kawan. Ternyata oh ternyata..

Secara keseluruhan saya puas menghadiri acara Gebyar BCA dan Net. TV. Panitia sudah bekerja begitu maksimal termasuk ekstra keras ketika hujan tiba-tiba mengguyur Surabaya. Terima kasih GoodLife BCA semoga tidak kapok ya mengundang saya ke acara BCA selanjutnya 🙂
IMG_20141202_163406

 

Sensasi Maksimal Layanan Garuda Indonesia

garuda1
Gambar: web Garuda-Indonesia

Ini pengalaman setahun lalu ketika saya dinobatkan menjadi finalis lomba blog. Walau masih dalam tahap nominasi tetapi kebahagiaan itu sudah mengguncang, terlebih ketika panitia meminta saya datang ke Jakarta dengan seluruh biaya akomodasinya ditanggung oleh penyelenggara. Woww.. luar biasa!

Tiga hari sebelum jadwal ke Jakarta saya belum mendapatkan kejelasan tiket dari panitia. Panitia hanya menelepon saya untuk konfirmasi kesediaan saya datang ke Jakarta. Itu pun seminggu sebelumnya. Untuk menanggulangi galau coba-coba saya membuka website untuk mencari tiket pesawat murah. Serunya hunting tiket melalui online itu lebih mudah. Kadang-kadang bisa menemukan promo menarik. Seperti website yang sedang saya buka ini, menunya sangat lengkap. Semua serba ada, mulai Reservasi, cari info promo,  lihat jadwal penerbangan, ngecek status reservasi, dan sekaligus check-in secara online!

Tampilan website Garuda-Indonesia. Gambar: Garuda-Indonesia
Tampilan website Garuda-Indonesia.

Di website ini saya bisa melihat banyak penawaran menarik yang disediakan oleh Garuda Indonesia. Penawaran special itu seper Istimewa, Pesan hotel, Sales promo, Penawaran bank, Program kemitraan, Travel Insurance, BPTV, dan Garuda Plusgrade.

Dari sekian promo saya lebih tertarik dengan BPTV. BPTV atau Boarding Pass True Value adalah layanan istimewa Garuda Indonesia kepada penumpangnya. Hanya dengan menunjukkan Boarding Pass maka penumpang bisa mendapatkan potongan harga di beberapa merchant seperti toko, hotel, spa, pusat perbelanjaan, dan lain-lain, yang bekerja sama dengan Garuda.

Program Baording Pass True Value. Gambar: Garuda-Indonesia
Program Baording Pass True Value. Gambar: Garuda-Indonesia

Sehari sebelum keberangkatan saya mendapat email yang isinya tiket PP Surabaya-Jakarta dengan Maskapai Terbaik Indonesia. Alhamdulillah akhirnya tiket itu datang jugaa.. tak menyangka panitia memberi pilihan maskapai terbaik untuk saya, Garuda Indonesia. Cocok seperti website yang saya buka sebelumnya.

Kredibilitas Garuda Indonesia sebagai Maskapai terbaik Indonesia sudah tak diragukan lagi. Semua orang mengakui itu, saya salah satunya. Akan tetapi mungkin rejeki saya menggapai angkasa bersama Garuda baru tercapai saat ini karena sebelum-sebelumnya saya hanya mampu membeli tiket jalur darat. Seperti nasehat orang bijak bahwasanya doa yang dipanjatkan pasti dikabulkan oleh Tuhan, hanya sampai kapan kita bersabar menunggu terkabulnya doa itu. Dan saya merasa saat inilah doa saya dikabulkan

tiket garuda

Esok paginya, dengan membawa tiket yang telah di print out saya memulai perjalanan menuju Bandara Juanda. Disana telah menunggu salah satu teman yang juga finalis lomba, namanya mbak Vika. Kebetulan sekali saya dan mbak Vika baru pertama kali naik Garuda Indonesia, jadilah sama-sama gugupnya.

Ada pengalaman berkesan ketika berada di counter check-in. Selama ini yang saya tau tiap kali melakukan check-in calon penumpang dikenai biaya airport tax dengan sejumlah uang. Sejak dalam antrian saya sudah menyiapkan data pendukung seperti print out, tanda pengenal dan dompet. Semua ini saya siapkan agar nantinya bila tepat didepan loket tidak membutuhkan waktu lama, dan tentu saja mempercepat proses check-in. Ndilalah, oleh petugas saya tidak ditarik airport tax. Sempat terpikir jangan-jangan untuk urusan kecil begini sudah dibereskan oleh panitia pengundang. Ow, ternyata bukan. Free airport tax ini merupakan salah satu bentuk layanan Garuda Indonesia bagi para penumpangnya. Dan free airport tax ini telah diberlakukan sejak awal Oktober 2012. Alhamdulillah, uang saya saya utuh hihi.. tak hanya itu proses check-in juga lebih singkat karena rata-rata penumpang telah melakukan check-in melalui beberapa alternatif, antara lain:

City Check-in yang bisa dilakukan dikantor pemasaran Garuda Indonesia. Asyiknya melakukan City Check-in adalah pelayanannya dibuka selama 24 jam hingga 4 jam sebelum keberangkatan.

Web Check-in seperti yang saya sebutkan diatas, setelah melakukan reservasi, penumpang juga bisa langsung melakukan check-in melalui web.

Phone Check-in Ini yang disebut sebagai pelayanan sempurna dari Garuda Indonesia, yaitu mementingkan speed service. Untuk menjaga antri panjang, Garuda membuka layanan phone check-in bagi calon penumpang.

Mobile Check-in Khusus layanan ini masih dalam tahap pengembangan namun kedepannya layanan ini akan segera dibuka.

Check-in Garuda Indonesia
Boarding Pass

Setelah check-in saya duduk di selasar tepat didepan boarding room. Sengaja saya tidak langsung masuk karena beranggapan jadwal keberangkatan saya masih satu jam lagi, masih lama. Sambil duduk itu sesekali mata saya melihat petugas bandara yang dengan ‘repotnya’ memanggil penumpang untuk keberangkatan (sebelum jadwal saya) agar segera masuk ke boarding room. Sambil berkeliling petugas itu membawa papan yang bertuliskan nomor penerbangan. Mereka dengan sabarnya menunggu penumpang yang masih berada diluar. Ini adalah salah satu konsep Garuda Airlines Experience  yaitu ketulusan, jiwa bersahabat dan ciri orang Indonesia yang terkenal ramah tamah. Konsep ini telah diluncurkan sejak tahun 2009, lho!

Konsep Garuda Airlines Experience ini memang sedang digalakkan sebagai bentuk layanan kepuasan konsumen Garuda Indonesia. Dengan pengalaman ini diharapkan dapat mendongkrak citra Indonesia dimata Internasional.  Ada beberapa konsep Garuda Airlines Experience yang didasarkan pada 5 panca indera: Sight, Sound, Scent, Taste, dan Touch

Salam Garuda Indonesia
Salam Garuda Indonesia.

Masuk ke dalam kabin saya langsung disambut ramah oleh awak kabin dengan ‘Salam Garuda Indonesia -nya. Menggunakan seragam khas budaya daerah, kebaya dengan kombinasi batik parang gondosuli cukup menarik dipandang. Beberapa menit lagi saya akan berada bersama mereka dengan nomor penerbangan GA309. Didalam kabin, awak kabin tak hanya diam melihat penumpang  kebingungan mencari tempat duduk terutama penumpang yang sudah ‘sepuh’. Dengan sabar ‘Mbak-mbak cantik’ itu cekatan membantu penumpang mencari nomor tempat duduk dan bahkan saya melihat ada beberapa yang membantu penumpang yang mengalami kesulitan memasukkan barang kedalam bagasi.

Pramugari Garuda Indonesia tampil anggun dengan seragam model kebaya dan batik
Pramugari Garuda Indonesia tampil anggun dengan seragam model kebaya dan batik. Sumber gambar dari Wikipedia

Selama penerbangan seluruh penumpang dibagikan permen, sekotak snack dan minuman. Khusus minuman, penumpang boleh memilih sendiri. Pilihannya macam-macam, dan yang pasti Indonesia banget. Cocoklah dengan lidah saya. Dan saya pun memilih orange jus dingin, sedang Mbak Vika memilih susu coklat. Bekal inilah yang menemani saya menikmati AVOD dihadapan saya.

Untuk penerbangan domestik  hiburan Audio Video on Demand menggunakan layar berukuran 9 inchi dengan pilihan yang disediakan terdiri dari musik, film, serta permainan. Untuk filmnya disediakan 10 judul film Indonesia, 35 film Hollywood dan 25 film Internasional seperti Jepang, Korea, Cina, India, Eropa. Dari sekian film saya memilih film 5 cm. Kebetulan sekali saya belum pernah nonton film ini meskipun dibioskop lagi booming-boomingnya.

Disebelah saya, mbak Vika, sedang asik membaca majalah yang memang disediakan untuk bahan bacaan dan sesekali membaca koran nasional yang boleh dibawa pulang oleh penumpang.

Monitor LCD layar sentuh  kelas ekonomi Garuda Indonesia
Monitor LCD layar sentuh kelas ekonomi Garuda Indonesia. Sumber foto Wikipedia
Pemandangan di luar jendela pesawat
Pemandangan di luar jendela pesawat

IMG_1359-Optimized

Tak terasa waktu 60 lebih sekian menit terlewati. Saya harus menyudahi film di monitor meskipun belum mencapai ending. Mungkin saking kerasannya saya menikmati suasana pesawat dan kenyamaan fasilitas sehingga lupa diri bahwa saya sedang berada di atas angkasa. Efek kenyamanan itu salah satunya berasal dari kebeningan sound yang dihasilkan oleh AVOD . Tampilan dan menu Audio Visual On Demand Garuda Indonesia ini membuat saya semakin bangga terhadap Indonesia. Wallpapernya menggunakan foto candi kebanggan, candi Borobudur serta alunan musiknya khas sentuhan music daerah di Indonesia. Ditambah lagi interior yang selalu menguarkan aroma segar semacam perpaduan aroma tumbuhan dan rempah Indonesia.

Sesampai di Bandara Soeta saya mengantar mbak Vika dulu mengambil bagasi dan selanjutnya bertemu dengan panitia yang menjemput kami. Karena masih harus menunggu peserta lainnya panitia meminta kami menunggu di lounge Garuda. Kebetulan sekali perut saya sudah teriak-teriak dan Alhamdulillahnya saya dan peserta lain yang sudah menunggu dipersilakan makan sepuasnya. Makanan-makanannya enak dan unik. Rata-rata makanan tradisional khas Indonesia. Begitu juga dengan minuman dan camilan yang banyak sekali pilihannya. Salut dengan maskapi ini yang walaupun namanya telah mendunia namun tak meninggalkan budaya dan tradisi Nusantara.

Sambil menikmati makanan saya bertemu dengan Mbak Lusiana Trisnasari yang juga menjadi salah satu finalis. Mbak Lusiana datang dari Riau dan kami dipertemukan di Lounge Garuda. Intinya sih kopdar di Lounge. Keren nggak sih hihi..

Kopdar di Lounge Garuda. Keren nggaik sih hihi
Kopdar di Lounge Garuda bersama Makmin KEB, Mak Lusiana Trisnasari dan Mbak Vika, teman seperjalanan. Foto dokumentasi Mak Lus
Saya dan teman-teman blogger menunggu jemputan di Bandara. Kopdar lagiii.. :D
Saya dan teman-teman blogger menunggu jemputan di Bandara. Kopdar lagiii.. 😀 Foto jepretan teman media yang juga finalis, mbak Budi Hartati. Makasih Mbak  🙂

Setelah semua berkumpul kami meninggalkan lounge.

Oya saya sempat melakukan kecerobohan besar. Tanpa sadar saya meninggalkan HP di salah satu sofa di lounge. Untungnya ada petugas yang baik hati menghampiri saya mengembalikan pada saya. Padahal saya sudah berjalan lumayan jauh, tuh. Terima kasih banyak, Pak.. *beruntung HP saya ditemukan petugas Garuda, kalau tidak entahlah apa yang terjadi*

Pengalaman terbang bersama Garuda Indonesia ini meninggalkan banyak kesan. Seperti pengalaman saya, Garuda Indonesia patut disebut pioner maskapai dengan segala pelayanannya yang serba maksimal. Mulai petugas bandara, awak kabin, hingga petugas lounge, semuanya bekerja sempurna.

Garuda Perluas jaringan di Kalimantan dan wilayah Indonesia Timur

Melengkapi pelayanan dibidang penerbangan, Garuda Indonesia juga melebarkan sayap dengan membuka rute baru di wilayah Indonesia Timur dan Kalimantan. Bahkan untuk penerbangan dari Balikpapan telah dibuka 3 rute baru. Yakni Balikpapan – Berau, Balikpapan – Banjarmasin, dan Balikpapan – Manado.

Pesawat Garuda Indonesia
Pesawat Garuda Indonesia

Layanan penerbangan Garuda Balikpapan ini telah beroperasi sejak 1 Agustus 2013. Dengan dibukanya layanan ini diharapkan kawasan Indonesia Timur semakin dikenal luas tak hanya masyarakat Indonesia tetapi juga wisatawan manca negara. Bukan tak mungkin kemudahan akses ini menjadi langkah awal sebagai upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan langkah nyata mengenalkan potensi pariwisata wilayah Indonesia Timur ke seluruh dunia.

Cukup puas terbang menggunakan layanan Garuda Indonesia. Semoga masih ada kesempatan lagi buat saya untuk melanglang buana bersama Garuda. Amiin..

Tiket Garuda Indonesia

Wisata Bukit Mas, hunian wisata sejuta pesona

Papan Wisata Bukit Mas yang terdapat didepan kompleks
Papan Wisata Bukit Mas yang terdapat didepan kompleks. Foto milik pribadi

Sudah beberapa minggu ini saya ada rencana ke bengkel motor di daerah Lidah Kulon. Sepertinya ban belakang motor saya ada masalah, sudah tipis, dan minta ganti baru. Daripada harus bolak-balik nambal, jadilah pagi tadi saya ke bengkel untuk ganti ban baru.

Melalui jalan raya Menganti kondisi lalu lintas agak padat, terutama di perempatan lampu merah yang mengarah ke Unesa. Memang, perempatan ini selalu padat di jam-jam tertentu karena jalan ini menjadi pusat arus lalu lintas dari Menganti menuju PTC. Karena cuaca cukup terik saya berhenti sejenak untuk menikmati es tebu ditepi jalan tak jauh dari perumahan Wisata Bukit Mas.

Pintu masuk Wisata Bukit Mas dari jalan Menganti
Pintu masuk Wisata Bukit Mas dari jalan Menganti. Foto milik pribadi

Setelah dahaga saya terbayar, tiba-tiba saja ada hasrat untuk melihat dari dekat bagaimana suasana hunian Wisata Bukit Mas ini. Setelah bincang-bincang sejenak dengan security saya minta ijin untuk masuk ke dalam sekaligus mengabadikan gambar. Salut banget, Bapak securitynya baik-baik dan ramah. Mereka juga tak segan mengatur arus di jalan raya Menganti bila terdapat kepadatan arus.

Di dalam kompleks Wisata Bukit Mas saya seolah diajak berwisata ke Eropa dimana tak jauh dari pintu masuk terdapat ikon dan ornamen yang kental dengan gaya European. Yang membuat saya terkesima adalah suasana rindang dari banyaknya pohon yang berdiri sepanjang jalan raya Wisata Bukit Mas. Semua serba hijau. Pun taman-taman di sebelah kanan dan kiri tampaknya juga terawat baik. Nyaris tak ada sampah berkeliaran. Dari info yang saya dapatkan, sampah-sampah di Wisata Bukit Mas ini dikelola secara baik agar manfaatnya dapat dirasakan tak hanya bagi penghuni cluster saja tetapi juga masyarakat disekitar perumahan.

Komplek Wisata Bukit Mas
Komplek Wisata Bukit Mas. Foto milik pribadi
Disisi kanan dan kiri jalan terdapat banguna seperti ini
Disisi kanan dan kiri jalan terdapat banguna seperti ini. Foto milik pribadi
Ornamen keren di dalam kompleks Wisata Bukit Mas
Karya seni keren di dalam kompleks Wisata Bukit Mas. Foto milik pribadi
Ornamen ini terdapat di tengah jalan masuk komplek
Ornamen ini terdapat di tengah jalan masuk komplek. Foto milik pribadi

Lebih ke dalam lagi terdapat cluster-cluster yang namanya diambil dari kota-kota megah di Eropa. Cluster-cluster itu antara lain Cluster Madrid, Alexandria, Acropolis, Versailes, Venezia, Rome, dan Palazzo. Selain itu masih ada Collosseum Club House yang antara lain sebagai tempat kebugaran tubuh serta playground. Masyarakat umum bisa juga menikmati sensasi kolam renang di Collosseum ini karena dibuka untuk umum.

Collosseum Wisata Bukit Mas
Collosseum Wisata Bukit Mas. Foto milik pribadi
Pemandangan indah di Wisata Bukit Mas
Pemandangan indah di Wisata Bukit Mas. Foto milik pribadi
Colloseum Wisata Bukit Mas
Colloseum Wisata Bukit Mas

Perumahan Wisata Bukit Mas berlokasi di kawasan Surabaya Barat. Kawasan ini hingga sekarang masih aktif melakukan pengembangan terutama di bidang property. Wisata Bukit Mas sendiri berdiri sejak tahun 2002 dan telah memasarkan lebih dari 1.000 unit rumah. Meski begitu Wisata Bukit Mas tetap mengedepankan kenyamanan dan keindahan lingkungan bagi masyarakat dengan membangun banyak ruang terbuka hijau sehingga siapa saja yang datang ke Wisata Bukit Mas mereka seolah sedang berwisata.

Jalan raya Wisata Bukit Mas
Jalan raya Wisata Bukit Mas. Foto milik pribadi
Karya seni disudut kawasa Wisata Bukit Mas
Karya seni disudut kawasa Wisata Bukit Mas. Foto milik pribadi
Jalanan rindang di sepanjang Wisata Bukit Mas
Jalanan rindang di sepanjang Wisata Bukit Mas. Foto milik pribadi
Salah satu perempatan di komplek perumahan Wisata Bukit Mas. Foto milik pribadi
Salah satu perempatan di komplek perumahan Wisata Bukit Mas. Foto milik pribadi

Seperti yang saya rasakan, selama berada di dalam perumahan saya seperti berada di perbukitan hijau dengan hembusan udara yang segar lagi lega. Tak melulu disuguhi polusi tapi juga solusi untuk kualitas hidup demi masa depan yang lebih baik.

Puas berwisata saya lantas melanjutkan perjalanan menuju bengkel motor langganan.

Pengalaman ke Artotel, sentuhan butik hotel dan Galeri Seni

Ini kisah pengalaman ke Artotel Surabaya. Artotel ini lokasinya di Jalan Dr. Soetomo 79-81 Surabaya. Jaraknya hanya seperlemparan batu dari Taman Korea. Jika diamati, gedung ini lebih mirip disebut sebagai.. lebih tepatnya galeri seni. Dan tahukah teman, Artotel ini ternyata adalah hotel!

Artotel Surabaya

Setelah menyimpan motor ditempat yang aman saya beranjak melewati halaman Artotel yang rindang. Tepat didepan gedung terdapat tujuh patung bebek yang berderet diatas rerumputan dengan tiap bebek menyimpan satu huruf sehingga membentuk kata ARTOTEL. Begitupun didekat pintu kaca, sebelum masuk ke ruangan saya dapat menikmati ornamen lampu taman berukuran mini di bagian kanan dan kiri dengan beragam ukuran.

Artotel Surabaya

Setelah membuka pintu kaca saya tertegun. Berderet lukisan cantik menghampar didepan saya lengkap dengan kursi beraneka warna serta patung-patung lucu. “jangan-jangan salah alamat, nih!” pikir saya cepat. Ternyata dugaan saya salah, memang disinilah tujuan saya. Itupun setelah Pak Angga Arya, Sales Manager Artotel, dan Pak Frederic Ferry, Creative Communication Manager Artotel menyalami saya dengan bergantian. Pak Frederic ini yang mengundang saya datang ditempat ini.

Jujur saya agak bingung dengan semua ini. Nama Artotel sebenarnya sudah tidak asing, dan saya sering melihatnya tiap kali lewat jalan Dr. Soetomo, tetapi yaah seperti yang saya alami, saya baru sekali masuk ke dalamnya. Padahal Artotel ini sendiri telah ada sejak 2 tahun lalu.

Setelah registrasi, disebuah meja panjang sudah menunggu teman-teman blogger Surabaya. Lucunya, saya tidak kenal wajah-wajah mereka. Kecuali satu, mbak Nurul Rahmawati, si pemilik blog bukan bocah biasa. Dan saya yakin, mereka-mereka juga tidak saling kenal satu sama lain. hihi.. ternyata dunia blogger ini luas sekali, sampai-sampai sesama profesi blogger dalam satu kota tidak saling kenal. Dan, eh jangan salah.. walau awalnya tidak saling kenal, tak butuh waktu lama, polah kami sudah kerap bikin malu hihi..

Jika dibaca nama ARTOTEL gabungan dari kata ART dan HOTEL. Persis seperti konsep Artotel yaitu hotel butik yang menggabungkan efisiensi, kesederhanaan, kreativitas dan pengalaman menikmati seni kontemporer.

Seperti yang dijelaskan oleh Pak Ferry, Artotel menciptakan wadah bagi seniman muda daerah agar dikenal secara Internasional melalui karya-karyanya. Konsep dasar Artotel sendiri adalah menjadikan butik hotel sebagai pusat komunitas dan langkah awal mengangkat dunia kreatif kekancah dunia.

ROCA Restaurant and Bar

Roca Restauran

Selain menawarkan butik hotel, Artotel juga mengenalkan restaurant yang mengedepankan kreativitas. Dengan tampilan ruangan yang serba ‘nyeni’ pengunjung dapat menikmati sensasi kenyamanan seperti diruang galeri. Yang pasti harga yang ditawarkan tidak mahal, sajiannya populer dan tentu saja menawan jika dipajang di social media. ROCA restauran juga terbuka bagi anggota komunitas yang ingin mengadakan acara kumpul-kumpul atau semacamnya dan tentu saja tempatnya begitu selfiable. Oya, ROCA Resto ini buka selama 24 jam dengan fasilitas indoor dan outdoor.

GALERI ARTOTEL

Galeri Artotel menyimpan banyak sekali koleksi seni. Mulai seni patung, seni lukis, hingga seni mural. Jangan kaget jika didalam ruangan terdapat banyak coretan tangan khas mural, terutama di bagian tangga.

Untuk koleksi lukisan sendiri, Artotel memamerkan koleksi hasil karya anak muda daerah. Seperti yang saya lihat kemarin, lukisan yang dipajang merupakan hasil karya Club lukis dari Yogjakarta. Lukisan-lukisan itu sangat menarik dan jika berminat boleh dibeli. Agar tampilan galeri selalu segar, setiap 3 bulan sekali Artotel mengadakan rotate galeri. Hal ini untuk memberikan peluang kepada banyak pelukis Indonesia agar karyanya bisa dinikmati banyak orang.

Galeri Artotel

 

Artis-artis (Sebutan untuk pelukis di Artotel) yang berhasil membuat ruangan-ruangan di Artotel menjadi bak galeri seni antara lain goresan dari:

DARBOTZ, Seorang seniman jalanan Indonesia. Dia membuat namanya di jalanan Jakarta, menciptakan hitam dan seni grafis putih dengan aksen warna yang unik dan khas

ARKIV VILMANSA, Artis kelahiran Bandung yang memiliki gaya seni gaya pop-kartun dan grafis

Hendra ‘HEHE’ Harsono, Artis Yogyakarta yang terkenal dengan karya seni ekspresif dan penuh warna, melibatkan mata serta pikiran dalam membaca karyanya

Faisal Habibie, adalah seorang seniman kontemporer dari Bandung yang memadukan desain dan fungsional benda menjadi tampak menonjol

Galeri lukis

ARTOTEL sebagai butik hotel

ARTOTEL memiliki 6 lantai dengan 3 type kamar, yakni: Studio 20, Studio 25 dan Studio 30. Yang dimaksud studio ini adalah kelas kamar. Dan angka yang mengikuti merupakan ukuran luas kamar.

Sebagai butik hotel bintang 3, rate yang ditawarkan di hotel ini mulai harga Rp. 500 ribu-an. Untuk fasilitasnya sendiri ada breakfast, wifi, newspaper, massage, dan shuttle.

Menariknya semua kamar di design dengan serba unik. Dan taukah teman bahwa setiap kamar ruangannya dilukis oleh artis dengan nuansa yang berbeda-beda. Perlantai 1 artis!

Galeri Artotel
Galeri Artotel

Galeri Artotel

 

Galeri Artotel

Makan siang rame-rame di ROCA Restauran

Sangat tidak etis jika sedari tadi saya bicara tentang seni, lukisan dan hotel tanpa sedikitpun bicara mengenai makanan.

Nah kebetulan Chef ROCA Restauran sedang berbaik hati memberikan suguhan kepada blogger dengan aneka menu khas timur dan barat. Untuk menu khas timurnya sendiri tak jauh-jauh dengan makanan khas arek Suroboyo, yaitu Soto dan Rawon. Yang menjadikan keduanya tampak aneh adalah daging yang menyertainya. Bila biasanya orang Surabaya mengenal soto daging dan soto ayam, tetapi ROCA Restauran memberikan sentuhan lain, yakni Iga. Jelas, namanya menjadi soto iga bakar dan rawon iga bakar. Selain itu ada pulaNasgor Kemangi dan Mie Pangsit.

Untuk sajian khas baratnya ada Turkey Sandwich dan Sandwich Monster.
Sesuai lidah orang barat, Turkey Sandwich menggunakan daging kalkun, keju, mix salad dan minyak oil.

Soto Iga bakar Roca Restauran
Soto Iga bakar Roca Restauran
Turkey Sandwich
Turkey Sandwich
Sandwich Monster
Sandwich Monster
Nasgor kemangi. Warna nasinya ijo
Nasgor kemangi. Warna nasinya ijo

Begitulah cerita pengalaman saya ke Artotel Surabaya. Secara seluruhan Artotel siap menjadi Center of Community yang berguna serta bermanfaat untuk segala kegiatan dengan berpegang pada prinsip HIT, EFISIEN, SIMPLE, dan ORIGINAL. Sesuai motonya, ARTOTEL, Great Design begins with Great Stories

Liburan keluarga penuh rejeki

Whoah sudah hari Jumat, cepet aja sudah mau weekend. Waktu tepat buat liburan keluarga, nih!

Libur-libur kemana, yaa..

Agak-agaknya libur minggu ini masih sama seperti yang lalu-lalu. Gak ada acara pergi jauh. palingan muter-muter dalam kota lihat situasi atau datang ke event Pameran. Kalau nggak semuanya, mentok-mentoknya ke Taman Bungkul, atau malah diam dirumah sambil baca koran politik *modelmu, Yun, koyok politikus ae* hihi

Libur memang enak ya, apalagi bersama teman dan saudara. Tapi minggu-minggu ini saya lagi banyak kerjaan *horang sibukk* jadilah liburannya dirumah aja.
Kerjaannya apa sih, Yun, segitunya ngomong sibuk? Banyaaakkk…

Kerjaanku lagi banyaakk. Semua seputar blogging.. Alhamdulillah rejekinya ngeblog dapat tawaran sana-sini.. *blogger kemaruk* 😀

Eh, tapi gak hanya nulis aja, ya.. Baru-baru ini saya juga dapat undangan acara. 2 undangan. Yang satu hari Jumat, satunya lagi hari Sabtu. Dua-duanya weekend. Sebenarnya acara ini berbayar. Investnya 100 ribu. Tapi karena blogger dikasihlah gratis! Blogger gitu loh wkwk

Jadi menurut saya definisi rejeki gak melulu soal uang. Undangan acara pun juga termasuk rejeki. Apalagi kalau materinya saya suka. Seandainya gak datang ke undangan seperti itu, mana bisa dapat ilmu bermanfaat. Kalau butuh banget, jalan satu-satunya harus beli buku dulu. Ujung-ujungnya duit lagi, kan. Tapii karena rejeki dari blogger, dapat materi langsung dari nara sumber terpercaya *kalau bisa narsum terkenal biar sekalian diajak narsis* maka sedikit-sedikit bisa berhematlah.
Kalau nggak jadi blogger mana bisa dapat undangan seperti itu. Sepesial pula!

Definisi rejeki yang lain menurut analisis saya termasuk juga bisa beli baju dengan harga tawar semurah mungkin, bisa beli buku menggunakan jimat kartu diskon, dapat kiriman produk sample gratis, datang ke undangan dapat godie bag keren, daan yang lain-lain 😀 Intinya sih sering-sering dapat gratisan aja haha..

Ngomong-ngomong rejeki saya jadi ingat kejadian setahun lalu di bulan Desember. Saya diundang liburan ke Jakarta. Waktu itu saya diminta datang ke Jakarta untuk menghadiri perayaan ulang tahun salah satu brand otomotif terkemuka. Naik pesawat dibayar termasuk ongkos airport taxnya plus nginep dihotel gratis. Sampai di Jakarta dilayani dengan sempurna.
Malamnya, ketika berangkat ke tempat perayaan di sekitar Jakarta Pusat, naik bisa rombongannya pakai kawalan Polisi. Wuih betapa kerennya jadi blogger..

Tiba diacara MC sama bintang tamunya orang terkenal semua, walaupun mereka gak bisa diajak foto bersama, sih. Senangnya lagi selain dapat goodie bag, semua peserta dikasih door prize tanpa kecuali. Usai acara, esok paginya saya sudah kembali lagi ke Surabaya. Seperti mimpi, pagi di Surabaya, malam di Jakarta, besoknya di Surabaya lagi. Yang mencengangkan adalah duit saya utuh, sodara.. lha gimana wong kemana-mana disediakan penyelenggara. Mau apa tinggal bilang. Pengin ini tinggal tunjuk. Rejeki lagiii haha..

Harapan saya semoga tahun ini diundang lagi sama brand oto, dan kalau bisa jangan ke Jakarta lagi, ke Bali atau Lombok laahh *maunya* hihi

Kalau kawan-kawan pernah nggak merasakan liburan keluarga yang ngrejekeni (membawa rejeki)?

Jalan-jalan Modal 100ribu ke situs Trowulan Mojokerto

Jalan-jalan modal 100 ribu bisa kemana?
Kemana yaa, bisa sih kemana-kemana asal tidak keluar negeri hihi..
Mau keluar pulau, bisa.. tapi pulau Madura 😀
Kalau lagi pengen keluar kota tujuan saya kalau nggak ke Pandaan, Malang, ya Mojokerto. Soalnya 3 kota itu yang punya banyak tempat menarik dan murah meriah.

Nah kebetulan BLOG JALAN JALAN sedang ngadakan Giveaway jalan-jalan dengan modal 100 ribu. Ikutan ah..

Beberapa waktu lalu saya jalan-jalan ke Mojokerto. Tau kan ya Mojokerto memiliki banyak peninggalan Kerajaan Majapahit. Dan jelas saya kesana ingin mengunjungi situs peninggalan sejarah di Trowulan yang memang paling banyak menyimpan peninggalan bersejarah. Situs yang saya kunjungi adalah Candi Brahu, lokasinya didesa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Mojokerto. Kalau ditempuh dengan motor, jarak Surabaya – Trowulan sekitar 2 jam-an saja. Untuk berapa kilometernya saya gak ngukur, kata Mbah Google, sih kurang lebih 45-50 kilometer. Matur nuwun, Mbah 🙂
Yang jelas saya isi bensin motor full tanki 20ribu bisa dipakai buat pulang pergi.

Sebelum berangkat isi perut dulu supaya dijalan gak beli-beli makanan. Buat bekal dijalan saya bawa botol minuman, jadi kalau istirahat sewaktu-waktu tinggal teguk. Bisa hemat waktu dan hemat biaya dong..

Enaknya Jalan-jalan pagi itu kondisi lalu lintas lancar. Gak barengan sama yang berangkat kerja. Paling-paling macetnya pas di lampu merah bypass Krian dan Mojokerto. Karena saya niatnya jalan-jalan, jadi gak begitu ngejar kecepatan. Santai aja sambil menikmati pemandangan jalanan.

Ke Candi Brahu adalah kunjungan pertama saya. Gara-garanya pas sedang lewat Mojokerto secara tak sengaja saya melihat tanda panah yang mengarah ke gang masuk dengan tulisan CANDI BRAHU tepat sebelah kanan dari jalan raya Trowulan, beberapa kilometer sebelum menuju ke Terminal Mojoagung. Seketika tanda itu membuat saya terperangah dan berniat akan berkunjung sewaktu-waktu.
Dan begitulah, begitu ada kesempatan langsung saja saya ajak Suami kesana. Selain itu saya juga penasaran sama patung Budha Tidur yang konon letaknya di Mojokerto juga. Sudah lama pengen kesini..

Candi Brahu Trowulan keseluruhan
Candi Brahu Trowulan keseluruhan

Begitu motor sudah melalui jalan raya Trowulan, saya minta Suami untuk mengurangi kecepatan. Dan saya sibuk menajamkan pandangan ke arah kanan jalan mencari gang yang ada tanda panah bertuliskan CANDI BRAHU. Maklum, saya takut gang nya terlewati. Soalnya kalau sudah kelewatan, mutar baliknya akan sulit, apalagi lihat ukuran kendarannya yang guedhe-gedhe begitu.. ngeri.
Dan begitu gangnya terlihat, Suami langsung nyalakan sein kanan. Syukur nyebrangnya mudah 😀

Dari jalan raya, gang masuk menuju Candi Brahu kelihatan sempit. Tapi begitu didalam, muat kok buat dua mobil. Setelah tanya penduduk 2 kali, sampailah saya di Candi Brahu.

Candi Brahu diperkirakan dibangun pada abad 15 ini nampak terawat bersih. Selain rerumputan hijau memenuhi areal Candi, disana juga terdapat banyak sekali pohon buah Maja. Pohon-pohon ini semuanya berbuah, ukurannya sebesar buah melon. Dalam mitos, buah Maja adalah cikal bakal nama kerajaan Majapahit. Konon buah Maja rasanya pahit, sehingga disebut Majapahit.

Sudah seperti backpacker ulung gak sih? :D
Sudah seperti backpacker ulung belum sih? 😀

Karena Candi ini situs bersejarah, maka tak sembarang orang boleh naik ke atas Candi. Ditakutkan Candi setinggi 20 meter dengan bahan utama batu merah ini akan runtuh. Setiap hari areal Candi ini dibersihkan, itu terlihat dari aktifitas petugas yang menyapu seluruh halaman dan menyirami tanaman yang ada disana. Petugas itu begitu ramah menyapa siapa saja yang datang ke Candi itu. Waktu saya tanya-tanya petugas juga menjelaskan dengan baik. Malahan waktu saya melihat ada buah keres berwarna merah, petugas menyuruh saya mengambil buahnya.

“Ambil saja, mbak. Gapapa, kok”

Saya tersenyum aja. Gak enak juga mau ambil buah disana. Itukan cagar budaya, takut kenapa-napa 😀

Dilarang naik, nampangnya dibawah aja ya :P
Dilarang naik, nampang dibawah aja ya.. Tak lupa botol minumnya diajak juga 😛

Untuk masuk ke dalam Candi, pengunjung hanya diminta mengisi buku tamu. Waktu saya tanya, karcis masuknya berapa, petugas menjawab “seikhlasnya”. Okelah karena gak ada ketentuan karcis masuknya, dan parkir motorpun gak ditarik petugas, saya tinggalin uang sepuluh ribu.

The Sleeping Budha

Sebelum lanjut jalan, saya tanya dulu lokasi The Sleeping Budha alias patung Budha Tidur. Oleh seseorang saya dikasih ancer-ancer arah menuju patung Budha Tidur. Ternyata oh ternyata.. patung Budha Tidur masih dalam lingkup satu desa dengan Candi Brahu, yakni desa Bejijong, Kecamatan Trowulan. Jaraknya sekitar 300 meter dari Candi Brahu. Untuk menuju Maha Vihara Trowulan tempat patung Budha Tidur saya tidak perlu keluar ke jalan raya. Sesuai petunjuk yang diberikan warga saya hanya melalui jalanan desa yang rata-rata penduduknya menjadi pengrajin arca.

Maha Vihara Trowulan ini sebelumnya digunakan ibadah khusus untuk komunitas Budha, namun karena patung ini menjadi patung terbesar ketiga didunia setelah Thailand dan Nepal maka keberadannya menjadi daya tarik wisata tersendiri. Dan pengelola pun menyadari dengan membuka gerbang seluas-luasnya bagi siapa saja yang ingin berkunjung disana tanpa menarik bayaran.

Sebelum masuk ke dalam, saya parkir motor dulu didepan gerbang Vihara. Rupanya keberadaan patung Budha Tidur ini menjadi berkah tersendiri buat penduduk sekitar. Mereka bisa mendapatkan penghasilan dari pengunjung Vihara seperti jualan jajanan atau jasa penitipan motor.

Saya amati patung Budha Tidur ini ukurannya memang besar. Dari referensi yang saya baca, patung Budha Tidur dibuat tahun 1993 dengan panjang 22 meter, lebar 6 meter dan tinggi 4,5 meter. Meski terbuat dari beton namun hasil pahatannya halus sekali. Warna emasnya begitu alami. Konon patung ini dipahat oleh perajin dari Trowulan sendiri.

Sang Budha dalam keadaan tertidur

Dibawah Patung Budha Tidur terdapat relief-relief kehidupan sang Budha dengan kolam air yang ditumbuhi tanaman teratai. Untuk mencegah tangan-tangan jahil, patung Budha ini dikelilingi pagar aluminium.

Dari cerita yang saya dapat, setiap hari patung ini ramai dikunjungi. Tak hanya orang dewasa saja, tetapi anak-anak sekolah juga banyak yang berkunjung kesini.
Seperti saya, mungkin mereka penasaran ingin melihat Siddharta Gautama yang wafat dalam kondisi tertidur.

Patung Budha Tidur

Puas melihat dan berfoto didepan patung Budha saya pun kembali ke Surabaya, setelah sebelumnya bayar ongkos parkir 2 ribu. Melihat banyaknya jajanan saya beli bakso cilok 2 bungkus harga 6 ribu plus air mineral (2 botol @500ml) 6 ribu (persediaan air dibotol sudah habis :D)

Sesampai di Surabaya, karena perut keroncongan saya mampir dulu ke baksonya Pak Salam, bakso langganan di daerah Ketintang dekat kuburan. 2 porsi bakso ditambah lontong dan es jeruk habis 20 ribu.

Jadi kalau ditotal-total berapa ya, modal seratus ribu sisa banyak kayaknya..

Kita rinci, ya:
Bensin 20 ribu
Ke Candi Brahu 10 ribu
Parkir di Maha Vihara 2 ribu
Jajan bakso cilok 6 ribu
Beli minum 6 ribu
Beli bakso 20 ribu
Total semuanya 64 ribu
Yihaa 100 ribunya sisa banyaaaak…

Yang ingin mengenalkan anak-anak sekaligus wisata edukasi situs sejarah di kerajaan Majapahit bisa lho jalan-jalan ke Mojokerto. Wisatanya murah-murah tapi tidak murahan. Kalau ingin eksplorasi lebih banyak mengenai sejarah Majapahit bisa juga berkunjung di Museum Trowulan. Bayarnya Cuma 5 ribu aja.

Pantai Teluk Hijau, mutiara tersembunyi di Banyuwangi

Siapa yang nolak diajak ke pantai. Jalan-jalan ke pantai itu mengasyikkan. Biarpun harus menerobos cuaca yang terik tapi akan terbayar lunas dengan suguhan pemandangan yang memukau. Ombaknya, lautnya, pasirnya dan romantisnya *ehem*.
Kuncinya hanya satu jika ingin berlama-lama dipantai yaitu bawa perbekalan yang tepat. Terutama minuman untuk menjaga terhindar dari dehidrasi. Salah satu minuman yang pas untuk dibawa jalan-jalan ke pantai adalah Herbal Tea.

Beberapa bulan lalu saya dan teman-teman blogger dari Surabaya mengadakan perjalanan wisata ke kota Banyuwangi. Salah satu destinasi yang dituju adalah Pantai Teluk Hijau atau Teluk Ijo atau Green Bay. Wah, baru tau ada pantai bernama Teluk Hijau. Biasanya pantai identik dengan biru tapi kenapa satu ini bernuansa hijau? Hmm.. penasaran..

Pantai Teluk Hijau berada di Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi. Jaraknya sekitar 90 km arah barat daya Banyuwangi. Pantai ini masuk dalam wilayah konservasi Taman Nasional Meru Betiri.

Perjalanan menggapai pantai Teluk Hijau seolah petualang menjelajah alam. Ibarat peribahasa ‘Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ketepian’, kalau ini berperosot-perosot dahulu, berguling-guling dahulu, lalu berjingkrak-jingkrak kemudian 😀

Setelah melalui perjalanan panjang, berkelok dan berliku, mobil trooper yang kami sewa tiba di Pantai Rajegwesi. Kalau ditanya berlikunya seperti apa, ya berliku banget pokoknya pakai goyang oplosan segala. Efek ber off road ria. Medan yang dilalui si trooper gak hanya aspal, tapi juga kerikil-kerikil tajam yang kadang-kadang disertai genangan air. Seru sih tapi lama-lama bikin perut mual. Mungkin efek guncangannya itu.

Medan berliku yang harus dilewati mobil Trooper
Medan berliku yang harus dilewati mobil Trooper

Pantai Rajegwesi adalah akhir petualangan perjalanan si trooper karena untuk menuju pantai Teluk Hijau tidak bisa dilalui dengan kendaraan. Alternatif nya kalau nggak naik perahu ya jalan kaki.

Setelah melakukan diskusi yang cukup alot, bahkan sampai ada yang abstain segala, akhirnya didapatlah kesepakatan memilih berjalan kaki. Konon, rute jalan kaki sensainya lebih amboy ketimbang naik perahu.
Ah yang beneeer..?

Anak tangga ini menjadi saksi dimulainya petualangan
Anak tangga ini menjadi saksi dimulainya petualangan

Kata penduduk setempat naik perahu lebih cepat sampainya, cuma 15 menit. Sedangkan kalau jalan kaki jaraknya 1 kilometer ditempuh dalam 1 jam plus dapat bonus pemandangan laut dari atas bukit dimana pemandangan ini tidak didapatkan kalau naik perahu. Aih.. penasaraann..

Ya udah jalan kaki saja. Biar makin dekat dengan alam dan membuat badan lebih sehat!

Perjalanan dimulai dengan menaiki anak tangga. Awalnya saya pikir jarak 1 km kedepan medan yang dilalui akan begini terus tapi ternyata nggak, sampai habisnya anak tangga medan yang dilalui berganti menjadi jalan setapak berlumpur.

Menikmati Lukisan Agung

Pantai Teluk Ijo menawarkan berjuta keindahan. Pesona alamnya, pantai yang masih sepi, pasir yang putih dan bersih serta karang-karang kokoh yang begitu alami. Itulah gambaran yang saya tangkap ketika sampai di seperempat perjalanan. Saking terpesonanya saya berhenti dulu untuk mengabadikan apa yang tersaji didepan mata. Tak lupa juga meneguk Teh Liang Teh Cap Panda untuk menambah stamina tubuh. Efek manis teh yang terbuat dari ekstrak tumbuh-tumbuhan herbal ini membantu mempertahankan serta membangkitkan kembali daya tahan tubuh yang sudah banyak terkuras. Kandungan bahan-bahan herbalnya pun pelan-pelang menghilangkan rasa mual yang sejak tadi saya tahan.

Cantik, kan?
Cantik, kan?

Puas narsis-narsisan adegan selanjutnya adalah ‘perosot-perosotan’. Perosotannya serius nih, bukan mainan punya anak-anak ituu.. Benar-benar berat dan sulit medannya. Jalan yang semula berupa tanah lembek makin lama semakin basah bahkan beberapa ada yang becek. Ditambah tekstur tanah yang lembut yang jika diinjak akan licin, maka mau tak mau kami harus hati-hati. Kalau perlu satu sama lain harus saling membantu sebab kalau tak hati-hati kaki bisa tergelincir ke bawah. Untungnya ada tambang di kanan kiri jalan sehingga lumayan membantu. Memegang ranting saja kurang kuat, bisa-bisa malah rantingnya patah dan saya kebawa jatuh. Biar sudah hati-hati saja masih ada teman yang terpeleset kok sehingga celananya dipenuhi tanah basah.. hihi..

Begini ini jalannya. Kalau nggak hati-hati bisa terpleset :D Foto milik Mas Surya, teman rombongan
Begini ini jalannya. Kalau nggak hati-hati bisa terpleset 😀
Foto milik Mas Surya, teman rombongan

Ketemu Pantai Batu

“Ayo semangat!! Pantainya sudah dekaattt…” teriak teman didepan.

Mendengar kata pantai saya pun semangat berjuang memacu kaki agar segera sampai. Maklum tingkat kepo saya sudah tinggi pakai banget. Hasilnya, bukannya cepat sampai tapi saya benar-benar tergelincir, sodara haha.. tapi gak sampai guling-guling kok karena dipegangi sama petugas pemandu dari MER yang menemani kami. MER itu Masyarakat Ekowisata Rajegwesi, sebuah organisasi dibawah naungan Taman Nasional Meru Betiri dimana anggotanya adalah masyarakat sekitar pantai.

“ Santai aja Mbak itu bukan Teluk Hijaunya.. Teluk Hijau masih jauh disana. Yang dilihat mereka itu namanya Pantai Batu” jelas Mas-mas dari MER.

Pantai Batu?
Pantai apalagi tuh?

Eh iya bener pantainya banyak batunya lhoo.. pantesan dikasih nama Pantai Batu.

Pantai Batu
Pantai Batu

Biasanya pantai kan identik dengan pasir, tapi ini beda. Pantai Batu memiliki tepian berupa batu-batu alam asli. Ukurannya macam-macam, bentuknya juga. Keaslian batu di pantai ini terlihat dari tekstur dan warnanya. Uniknya lagi batu-batu di pantai ini tertata begitu rapi. Gak mungkin kayaknya kalau manusia yang nata, segitu banyak batu gak yakin manusia bisa melakukannya. Konon batu-batu ini terdampar akibat bencana Tsunami. Karena batu-batu itu masuk dalam konservasi Taman Nasional maka pengunjung dilarang membawa pulang mereka. Pegang boleh, dibawah kemana-mana juga boleh asalkan tidak dibawa pulang.
Sungguh pemandangan di Pantai Batu ini alami sekali. Tebing-tebing tinggi begitu kokoh memancarkan auranya. Hutan-hutam perdu disekitar pantai juga tak kalah memukau.

Sambil menunggu yang lain, yang masih tertinggal dibelakang, saya menghabiskan waktu dengan membersihkan celana dan sandal yang dipenuhi lumpur pakai air laut. Suka aja melihat air laut yang bening. Barulah setelah yang lain sampai dan memberikan waktu isitirahat sejenak saya melanjutkan kembali perjalanan. Kali ini medannya sama hanya saja derajat ketinggiannya yang berkurang. Tanahnya juga lebih landai.
Asyik, jalannya santai..

Teluk HIjau apa kabaar..

Dari Pantai Batu menuju Pantai Teluk Hijau jaraknya sekitar seperempat kilometer saja. Lokasinya tepat dibalik tebing pantai Batu. Kira-kira jalan 15 menitan-lah.

Dan inilah yang dibilang peribahasa itu.. berperosot-perosot dahulu, berguling-guling dahulu, lalu berjingkrak-jingkrak sambil teriak-teriak tak jelas kemudian hihi

Bagai menemukan mutiara asli, kilaunya pantai ini seketika menghunus nadi. Bagaimana tidak, disaat kelelahan melanda, tanpa diduga tampaklah cahaya putih berkilauan dari balik tebing. Sebuah tanda kayu bertuliskan Pantai Teluk Hijau (GREEN BAY) berdiri diatas pasir putih nan lembut. Dan saya makin yakin pantai Teluk Hijau sudah didepan mata! Yeayyy..

Pantai Teluk Hijau. Inilah mutiara berpendar itu :)
Pantai Teluk Hijau. Inilah mutiara berpendar itu 🙂

Subhanallah.. indahnyaa..
“Pantai Teluk Hijau lihatlah ada aku disini”

Tak disangka ternyata Indonesia masih memiliki mutiara alam yang berkilau yang kecantikannya begitu menggoda. Mutiara ini masih asli dan alami. Dan saya yakin suatu hari nanti Pantai ini akan menjunjung nama Indonesia ditingkat dunia dalam hal pariwisata pantai!

Wahai orang Indonesia lihatlah negaramu. Negaramu ini indah!

Ternyata melampiaskan kebahagiaan ini tak cukup hanya dengan teriak-teriak dan jingkrak-jingkrak karena semua keindahan alam ini adalah milik Tuhan semesta alam pemilik lukisan agung.

Diantara tebing
Diantara tebing

Pantai Teluk Ijo selain menawarkan berjuta kecantikan, Ia juga memiliki garis pantai yang bersih. Air lautnya.. oh air lautnya berwarna ijo! Bukan biru.. airnya beniing sekali. Jangan takut berenang atau sekedar bergelimpangan diatas pasir karena dipantai ini bebas dari sampah! Iya, pantai ini masih bersih dari sampah. Sejauh mata memandang saya tak melihat sampah sama sekali. Setelah dijelaskan petugas disana saya jadi tau bahwa aturan dipantai ini dilarang membuang sampah sembarangan. Datang gak bawa sampah, pulang wajib bawa sampah!

Yang paling meninggalkan kesan di pantai ini adalah pasirnya. Butiran pasirnya haluus dan tebal. Mau guling-gulingan, mau main istana-istanaan, Bisaa. Di kawasan pantai Teluk Hijau ini juga ada air terjunnya, lho.. nggak tinggi banget sih cuma 8 meter. Tapi sangat cukupan buat mandi dan membasuh badan setelah berendam di air laut. Keren banget kaann..
Lebih menarik lagi di pantai Teluk Hijau tidak ditemukan pedagang asongan. Dan rasanya seolah pantai punya sendiri. Disini satu-satunya penyedia makanan adalah MER. MERlah yang menyiapkan paket-paket wisata plus konsumsinya!

Eh iya, pantai ini juga punya penjaga lho.. ini dia penjaganya:

Hei! balikin kelapa muda itu! :D
Hei! balikin kelapa muda itu! 😀

Seperti kesepakatan awal, pulang dari Teluk Hijau rombongan memutuskan naik perahu. Iyalah, gak mau kalau harus pulang lagi jalan seperti tadi. Lumpurnya itu licin banget. Alhamdulillah.. tragedi pelesetan sudah berakhir hihi..
Bersama 5 kawan dan 1 nahkoda saya menumpang dalam satu perahu. Iya, perahu disini maksimal diisi untuk 6 orang saja. Setelah memakai jaket pelampung saya duduk di bagian depan perahu. Bukannya sok berani, tapi hanya disitulah tempat satu-satunya kosong. Bagian belakang sudah diduluin teman-teman. *hiks curang*

Sebelum dilepas ke tengah laut, perahu lebih dulu didorong rame-rame.

Mulanya naik perahu ini perasaan saya aman terkendali. Dan begitu berada di tengah laut yang diapit tebing, nyali saya menciut. Ditambah ombak besar lautan yang sedikit-sedikit menggoyang perahu kami.

“Ya Allah semoga perjalanan ini selamat sampai tujuan”. Walau jujur saya begitu menikmati pemandangan ditengah-tengah laut. Sangat-sangat menyihir mata. Hampir-hampir saya mengeluarkan kamera untuk mengabadikan moment ini. Sayangnya kamera dan peralatan yang berbau elektronik sudah saya bungkus rapat dan masuk ke dalam tas plastik. Hal ini sebagai antisipasi agar kamera tidak jatuh ke laut atau terkena cipratan air laut.

Saya hanya bisa menuliskan disini gambaran pemandangan itu. Diatas perahu yang berkecepatan sedang saya seperti menyongsong laut dan langit yang keduanya menyatu tanpa sekat. Dinding-dinding tebing menjulang dengan kokohnya. Ombak berayun, air berkecipakan kesana kemari. Ombak, laut, tebing, pepohonan semuanya bersatu dalam bingkai lukisan alam yang nyata. Oh, Indahnya Indonesiaku..

Hihi.. narsis dibelakang perahu sambil bawa batu :P
Hihi.. narsis dibelakang perahu sambil bawa batu 😛

Lima belas menit sudah berlalu saatnya saya turun dari perahu dan menginjak pasir pantai Rajegwesi. Alhamdulillah selamat sampai tujuan. Saat berjalan menuju tempat istirahat yang nyaman saya baru sadar kalau bibir terasa kering dan tenggorokan seperti gatal. Ah semoga bukan gejala panas dalam. Mumpung belum buru-buru saya buka Herbal Tea Liang The Cap Panda. Hmm.. segaaaar.

 

Jika kau kedinginan, teh akan menghangatkanmu. Jika kau kepanasan, teh akan menyejukkanmu. Jika kau depresi, teh akan membuatmu ceria. Jika kau terlalu gembira, teh akan menenangkanmu – William Gladstone, 1865

(dikutip dari Novel The Teashop Girls)

Go Top