Kavling sajadah

Musholla Darussalam Bratang, Surabaya
Musholla Darussalam Bratang, Surabaya

Ini adalah pemandangan Musholla Darussalam yang letaknya 20 meter dari rumah saya. Setiap Ramadhan tiba Musholla ini selalu memanfaatkan jalanan kampung (gang) untuk pelaksanaan sholat tarawih. Foto ini saya ambil pada 22 Ramadhan 1435H lalu sekitar pukul 4 sore, tak lama usai karpet digelar.

Perhatikan sajadah merah dan biru yang sudah terhampar lalu ditinggal pemiliknya itu..

Kebiasaan warga disini adalah dulu-duluan mendapatkan tempat sholat yang menurutnya nyaman dan strategis. Tempat yang sudah dikavlingi sajadah tidak boleh ada yang memindah. Kalau masih nekat memindahkan siap-siap saja ditegur dan mencari tempat lain lagi 🙂

“Foto ini diikutsertakan dalam Lomba Foto Blog The Ordinary Trainer”

logo

Festival Rujak Uleg Surabaya 2014: Rukun menikmati sepiring rujak

“719.. 720.. 721.. Mulai!” Aba-aba Djadi Galajapo kepada seluruh peserta Festival Rujak Uleg Surabaya 2014 kemarin siang di jalan Kembang Jepun Surabaya.

Ribuan warga Surabaya 'tumplek blek' menonton Festival Rujak Uleg Surabaya 2014
Ribuan warga Surabaya ‘tumplek blek’ menonton Festival Rujak Uleg Surabaya 2014

Festival Rujak Uleg Surabaya 2014 merupakan bagian perayaan Hari Jadi Kota Surabaya yang ke 721. Acara rutin yang setiap tahun dilaksanakan di bulan Mei ini selalu diikuti ribuan peserta dari berbagai kalangan. Beragam instansi dan profesi turut menyemarakkan. Bahkan demi menarik perhatian juri dan pengunjung mereka sampai harus berdandan lucu dan unik. Alhasil dandanan mereka kerap menjadi jujugan moncong kamera. Sebaliknya, semakin banyak moncong kamera mendekat maka semakin uniklah gaya meraka hingga tak jarang membuat orang lain tertawa. Mereka berjoget sambil meneriakkan yel-yel.

Seperti salah satu peserta yang saya temui kemarin. Peserta ini menggunakan kostum badut dan tampak akrab dengan petugas Dishub yang sedang berdinas. Sambil melayani pengunjung yang ingin berfoto bersama, saya iseng bertanya:

“Bapak dari mana?”

“Dari mana yaa?” si Bapak menjawab sambil tertawa malu-malu…

“Anu mbak..” sambil tetap malu-malu. “Dari Dinas..” lama diam. “Perhubungan” kemudian cekikikan.

Melihat gaya malu-malu si badut saya pun tertawa terpingkal. Sambil berseloroh saya menggoda si badut “Oh, pantesan akrab sama petugas Dishub..” yang kemudian diikuti tertawa teman-temannya.

Peserta Festival Rujak Uleg Surabaya 2014 dari Dinas Perhubungan
Peserta Festival Rujak Uleg Surabaya 2014 dari Dinas Perhubungan
(Bukan) Bocah SD
(Bukan) Bocah SD

Lain Dishub lain pula tampilan Ibu-ibu dari Disperinda Perak ini. Saat turun dari bis yang membawa mereka saya ijin memotret karena kostumnya unik. Begitu saya mengarahkan kamera, seseorang dari mereka teriak: “Eh difoto lho reek…”

Usai saya potret, tanpa malu-malu mereka memberi pesan khusus: “Mbak-mbak jangan lupa ya, dari Disperindo Perak. Trus nanti tambahkan yel-yel “Geni.. geni-geni.. Bulll!” (api.. pai-api.. bull)

Festival Rujak Uleg Surabaya 2014 kemarin berlangsung meriah. Jalanan Kembang Jepun yang merupakan kawasan niaga bersejarah di kota Surabaya dan sehari-harinya padat oleh lalu lalang mobil box kini lengang berganti meja-meja yang diatasnya terdapat cobek dan ulegan.

NGULEG ROSO
NGULEG ROSO

Sebelum acara dimulai mereka asyik berjoget mengiringi alunan musik dangdut yang dibawakan oleh Orkes Melayu lokal. Lagu pokok’e joget yang liriknya diubah menjadi pokok’e nguleg semakin menambah keseruan. Tanpa malu-malu semua peserta dan pengunjung bergoyang.

“Pokok’e nguleg.. pokok’e nguleg.. pokok’e nguleg..”

Joget Pokok'e nguleg.. pokok'e nguleg
Joget Pokok’e nguleg.. pokok’e nguleg

Suasana semakin seru manakala Bu Risma hadir dan menyapa peserta satu persatu dari ujung ke ujung. Seolah jumpa fans, mereka saling berebut salaman dan sesekali meminta foto bersama. Sambil tak henti tersenyum, Mak’e arek-arek ini melambaikan tangan kepada pengunjung yang berdiri di belakang garis pembatas.

20140518-YUNI2315

Usai memberikan pidato pembukaan, acara nguleg bersama pun resmi dibuka.

20140518-YUNI2415

Menikmati sepiring rujak rame-rame
Menikmati sepiring rujak rame-rame

Tak hanya peserta saja, Panitia dari Pemerintah Kota juga turut nguleg dengan cobek berukuran raksasa yang telah disediakan di tengah-tengah panggung. Walikota, Wakil Walikota, Kepala Dinas, semuanya nguleg rujak bersama-sama.

Cobek besar yang sebelumnya digunakan 'nguleg' oleh Walikota beserta pejabat Pemkot sebagai simbolis
Cobek besar yang sebelumnya digunakan ‘nguleg’ oleh Walikota beserta pejabat Pemkot sebagai simbolis

Di akhir acara, rujak yang telah diuleg dibagikan kepada pengunjung yang sejak tadi menunggu. Meski ribuan warga Surabaya ‘tumplek blek’ dijalanan namun tak ada adegan saling rebut.

Festival Rujak Uleg Surabaya 2014 ini menjadi contoh bahwa sesama warga harus saling hidup rukun. Hal itu dibuktikan dengan rukunnya warga yang tak mendapat jatah piring rujak namun mereka tetap bisa menikmati secara bersama-sama bersama pengunjung yang lain.

Tretek Bungkuk Ngagel, Jembatan penuh kenangan

Kami menyebutnya Tretek Bungkuk Ngagel atau Jembatan Bungkuk.

Kemarin, sepulang dari Malang, saat turun dari Bis Kota saya menyempatkan mengambil gambar Tretek Bungkuk dari dekat. Rasanya sudah lama sekali saya tidak melintasi jembatan bergeladak kayu dimana dulu pernah saya lewati dengan jalan kaki menuju terminal Joyoboyo. Walau sekarang hampir setiap hari melalui jalan Ngagel, namun sekalipun saya sudah tidak pernah melintas. Terlebih karena sudah ada motor yang membawa saya kemana-mana sehingga jarang sekali menggunakan angkutan umum di Joyoboyo.

Tretek Bungkuk dari kejauhan yang masih tampak gagah membelah Kali Mas
Tretek Bungkuk dari kejauhan yang masih tampak gagah membelah Kali Mas

Masih jelas sekali saya ingat ketika Terminal Bis antar kota masih dipusatkan di Joyoboyo, Tretek ini ramai dengan lalu lalang manusia yang berangkat mudik atau sekedar liburan di Kebun Binatang Surabaya. Saat melintas, Bapak selalu menggandeng tangan saya dengan erat dan selalu memberi aba-aba loncat jika ada bilah kayu berlubang. Jika hari biasa, Tretek ini juga banyak sekali dilewati karyawan dan anak sekolah yang berangkat menuju tempat beraktifitas dengan jalan kaki atau menuntun sepeda ontel diatas jembatan. Namun sejak Terminal antar kota Purabaya di pindah ke Bungurasih, volume pengguna Tretek Bungkuk menjadi berkurang.

Lokasi Tretek Bungkuk ini berada di Jalan Ngagel Surabaya, tak jauh dari Stasiun Wonokromo. Entah siapa yang pertama memberi nama Tretek Bungkuk, yang jelas tretek ini sudah ada sejak saya kecil. Mungkin saja Tretek ini sudah ada sejak lama, sayangnya saya tak menemukan keterangan pasti tentang riwayat keberadaan Tretek Bungkuk yang hingga kini masih berdiri gagah diapit dua gelondong pipa raksasa milik PDAM.

Bagi penduduk perkampungan yang tinggal disekitar kawasan Ngagel dan Darmo Kali, Tretek Bungkuk ini sangat penting sebab dengan menggunakan Tretek ini mereka tak kesulitan menuju arah tengah kota seperti Jl. Raya Darmo atau Jl. Raya Diponegoro dan sebaliknya, kawasan Ngagel atau Gubeng. Bagi warga yang biasa naik angkutan umum, Tretek ini sangat membantu sekali. Mereka tak perlu lama-lama nambang/naik perahu gethek demi menyebrangi sungai Kali Mas.

Sejak dulu hingga kemarin, saat saya melewatinya, daya tarik dan keunikan yang dimiliki Tretek Bungkuk masih sama, yaitu jajaran kayu yang ditata sedemikan rupa sebagai jalan lintasannya. Saya tidak tau mengapa lintasan Tretek Bungkuk tidak dibuat cor atau beton, meski sebetulnya saya tetap suka kalau penampakannya masih seperti yang dulu. Selain kenangannya lebih kuat juga pejalan kaki lebih leluasa lewat tanpa harus terganggu dengan suara klakson motor. Sejak dulu memang tretek ini hanya dikhususkan bagi pejalan kaki saja.

Geladak kayu Tretek Bungkuk yang tampak rapi
Geladak kayu Tretek Bungkuk yang tampak rapi

Kalau melihat fungsi dan letak Tretek yang diatas sungai Kali Mas, saya yakin Tretek ini sudah ada jauh dari tahun saya lahir. Mengingat letak Tretek ini yang strategis, dekat dengan sungai Jagir yang merupakan muara sungai Kali Mas dimana sejak dulu Kali Mas sebagai jalur transportasi niaga pada jaman penjajahan.

Jika teman-teman datang ke Surabaya dan melintasi jalan Ngagel, sempatkan sebentar untuk mencoba melewati Tretek Bungkuk ini. Pastinya sensasinya sungguh luar biasa. Untuk jalan kaki, Tretek ini tak begitu panjang, hanya selebaran sungai Kali Mas. Paling tidak dengan melintas di jembatan ini teman-teman bisa merasakan sensasi berjalan diatas jembatan dengan bunyi kayu glodak-glodak sambil tetap waspada barangkali menemukan satu-dua kayu yang berlubang sehingga mau tak mau harus hati-hati saat melintas agar kaki tak terperosok ke bawah. Tapi yang pasti jembatan ini aman dilewati.

Atau mungkin ada teman-teman yang sudah pernah melewati Tretek Bungkuk Ngagel? Boleh dishare disini.. 😉

Ini lho 3030 yang Spektakuler itu..

Apa yang terjadi jika sebuah pertunjukan Laser dipadu dengan 3D Mapping dan hologram yang dibumbui Dance, Comedy serta Fashion yang dibalut dengan Teknologi luar biasa?

Hanya satu kata jawabannya, SPEKTAKULER!!

Dan semuanya ada di Pertunjukan bertajuk 3030.

Seperti yang telah saya posting sebelumnya, untuk menikmati event Spektakuler 3030, pengunjung hanya diminta menunjukkan follow akun @3030Surabaya. Dan pada hari Sabtu kemarin saya berhasil menjadi salah satu orang yang menikmati dengan mata kepala sendiri bagaimana uniknya pertunjukan ini.

Yes, mata kepala saya sendiri tanpa tedeng aling-aling lensa kamera atau apapun. Meskipun sebelumnya saya sudah menyiapkan semua peralatan perang itu, nyatanya begitu sampai didalam lokasi, ketika mau mengambil foto, eh lhadalah memory card dikamera kosong, alias ketinggalan dirumah. Woah nangis Bombay…

Oke tidak apa-apa. Demi sebuah pertunjukan saya harus konsisten menikmati semuanya tanpa harus terganggu oleh apapun walau sebenarnya tangan ini sungguh gatal dan jantung berdebar-debar saking gemasnya karena tidak bisa mendokumentasikan sesuatu yang fenomenal dihadapan saya. Percuma saja melotot tajam ke kamera kalau ternyata keberadaannya hanya sebagai pajangan belaka.  Ibarat jalan dihutan sambil gendong-gendong jerigen air  berisi 10 liter dan begitu sampai ternyata yang saya tuju adalah sumber air terjun yang airnya jernih dan dingin! Huh menyebalkan!

Adalah Satria dan Triana, 2 prajurit terbaik Tahun 3030 yang diutus Sang Kapten untuk berbagi teknologi kepada para manusia di masa lalu dan para dewa di langit. Tahun 3030 dunia diibaratkan telah mencapai titik kesempurnaan dalam segi teknologi maupun kehidupan bermasyarakat.

Pertama-tama pertunjukan dibuka dengan dance yang sangat ciamik dimana 3 dancer seolah memegang laser dengan tangan lalu dipermainkan sedemikian hebat. Teriakan dan tepuk tangan penonton sekejap membahana. Selanjutnya mulailah Misi pertama.

Misi Pertama. Satria dan Triana harus mengubah sebuah kota yang kotor dan sepi. Tiba-tiba muncullah Edi dan teman-temannya. Mereka adalah Youngster berjiwa muda, dinamis, dan ekspresif. Sayangnya ruang gerak mereka terbatas akibat lambatnya koneksi yang digunakan. Mereka seolah hampa dan tidak bisa melakukan apa-apa. Di sinilah tugas Satria dan Triana untuk membantu menyelesaikan permasalahan mereka.

Misi ke Dua. Satria dan Triana harus mencari asisten digital untuk menjawab semua kebutuhan. Pada misi kedua ini setting waktunya nyleneh. Tersebutlah Dewi Drupadi yang sedang mencari asisten untuk menjawab permasalahan ke 5 pacarnya yang hobi main gadget.

Penampakan Dewi Drupadi. Foto Merdeka.com
Penampakan Dewi Drupadi. Foto Merdeka.com

Alih-alih membantu muncullah seorang pemuda keren membawa gitar yang bernama Semar. Seketika itu Dewi Drupadi bernyanyi:

“Tuhan kirimkanlah aku… kekasih yang baik hati..

Bukan yang kayak begini.. yang bau terasi..”

Uniknya, dalam pertunjukan tersebut, Dewi Drupadi ditokohkan secara teknik 3D Holographic. Semacam gambar video namun bisa hilang meninggalkan serpihan-serpihan kertas. Serpihan ini benar-benar muncul lho ditengah-tengah penonton!

Dewi Drupadi yang berubah menjadi serpihan kertas
Dewi Drupadi yang berubah menjadi serpihan kertas

Demi membantu Dewi Drupadi Semar memanggil 3 anaknya yaitu Bagong, Gareng dan Petruk. Tak dinyana bukan asisten digital yang didapat melainkan asisten yang bernama BCL. Ngakunya BCL itu singkatan dari Bohay, Cantik, LANANG! 😀

Belum juga Dewi Drupadi mendapatkan asisten kini Bathara Guru juga mengeluh kuwalahan akan tugas-tugasnya. Misalnya ketika tugas Negara, Bathara Guru ingin menghubungi Mentri tiba-tiba pulsanya habis. Disinilah kemudian Satria dan Triana hadir menjawab semua permasalahan tersebut.

Satria dan Triana sedang memberi solusi Mbah Ciluk dan Punakawan
Satria dan Triana sedang memberi solusi Mbah Ciluk dan Punakawan

Misi ke 3. Satria dan Triana harus bisa memenuhi keinginan generasi muda supaya bisa tampil gaya meski membawa bermacam gadget. Mereka sudah menyiapkan 3 desainer muda yaitu Oscar Lawalata, Kleting dan Daniel Mananta.

Satria, Triana dan semua pemain
Satria, Triana dan semua pemain.

Bila melihat semua permasalahan diatas sudah bisa ditebak siapa penyelenggara acaranya. Yang pasti dia adalah penyedia jasa komunikasi GSM. Sudah tau kan?

Saking kagumnya saya sampai ingin sekali lagi menonton pertunjukan itu. Niatnya mau bawa semua perangkat perang sebagai dokumentasi. Daaannn Minggu pagi jam setengah sepuluh saya niat berangkat nonton 3030 lagi. Harapannya supaya bisa mendapatkan tiket. Hari terakhir, bo.. apalagi ditwitter panitia bilang full!

Sampai disana suasana sunyi senyap. Lha gimana gak senyap wong pertunjukan pertama aja dimulai jam 12. Saya lihat dimeja panitia masih amburadul. Saya pun iseng-iseng mendekati Pak Security sambil berharap siapa tau nyimpen tiket barang selembar dua lembar. Lumayan nanti gak perlu antri sambil berpanas-panas ria hehe

Daaannn lagi-lagi Pak Sec nya baik hati, saya dikasih beberapa tiket kosong fotokopian, sodara! Tiket itu lalu saya bagi ke anak-anak kuliahan yang juga berniat nonton 3030 tapi belum memiliki tiket. Jadi siang itu saya gak perlu antri lama-lama. Tapi panasnya tetep dapat.. 😀

Hunting tiket 3030

Tanggal 21 – 30 Maret 2014 di kota Surabaya ada event menarik. Namanya Pertunjukan spektakuler 3030 Surabaya. Konon event ini merupakan spektakuler show 3 Dimensi. Entah apa yang dimaksud 3 Dimensi tapi denger-denger sih pertunjukan bagus apalagi lihat foto-foto yang ada di hestek #3030Surabaya.

Kemarin saya berniat ngajak Suami nonton pertunjukan ini. Sebelum berangkat saya hunting informasi dulu di twitter. Dari informasi yang saya peroleh untuk hari Jumat – Sabtu – Minggu penontonnya full padahal jadwal pertunjukan dalam sehari ada 7 kali! Untuk menonton acara ini pengunjung tidak dipungut biaya. Syarat yang dipenuhi untuk mendapatkan tiket adalah menunjukkan follow @3030Surabaya. Itu saja, asik kan..

Habis Maghrib kami berangkat ke Parkir Timur Plasa Surabaya yang ada di jalan Pemuda Surabaya. Sebelum mencapai jalan Pemuda, jalanan di Surabaya macetnya minta ampun. Sejak dari jalan Sumatera motor sulit sekali bergerak. Pengendara didominasi anak-anak muda yang sepertinya akan melihat pertunjukan 3030 ini. Hingga lampu merah didepan hotel Sahid motor benar-benar berhenti. Bahkan meski lampu sudah menunjukkan warna hijau saya masih kesulitan bergerak. Begitu didepan Monkasel sudah banyak antrian motor yang ingin parkir. Rupanya, banyaknya antrian ini yang menjadi sebab kemacetan.

Dari pada saya ikut antri panjang, saya milih mencari tempat parkir di Cafe ‘remang-remang’ didepan Monkasel. Di cafe itu tempat parkirnya luas dan sepi. Petugas parkirnya pun tak keberatan kami parkir disana. Alhamdulillah diberi kemudahan.. herannya kenapa mereka-mereka yang antri sampai memenuhi bahu jalan tidak parkir di Cafe saja, sih..

Sesampai di parkir timur pengunjung luar biasa ramainya. Antrian masuk dan antrian mengambil tiket mengular dimana-mana. Karena baris antriannya ruwet saya sampai tidak bisa melihat mana pintu masuknya. Petugas jaga pun sampai tidak terlihat. Demi mendapat informasi yang pasti saya ingin bertanya langsung kepada petugasnya. Sambil menerobos antrian saya berjalan menuju pintu keluar. Beruntung disana ada petugas penjaganya.

“Pak, cara mendapatkan tiket pertunjukan gimana caranya?”

“Oh, Mbak belum mendapat tiket? Tunggu sebentar ya, petugas tiketnya sedang istirahat makan”

Saya memaklumi. Sambil menunggu saya berdiri didekat pagar. Tak hanya saya yang bingung, dibelakang saya ternyata banyak orang-orang yang juga tidak tau kemana harus mendapatkan tiket. Lalu saya dengar ada beberapa orang bertaya kepada petugas, oleh petugas dijawab harus antri didepan. Lho, kok jawabannya berbeda. Tadi sama saya jawabnya disuruh nunggu, kok sama yang lain diminta antri.. Walau begitu saya tetap tidak beranjak dari tempat berdiri.

Tak lama kemudian, petugas mendatangi saya sambil mengajak petugas cewek.

“Mbak ini lho kasian menunggu dari tadi” kata petugas laki-laki. Saya gelagapan. Dibanding yang lain saya baru sebentar menunggu.

“Untuk berapa orang, Mbak?” tanya Mbak petugas.

“2 orang Mbak” jawab saya yang kemudian di suruh menunggu sementara si Mbak pergi ke mejanya.

Sang petugas laki-laki bilang harusnya untuk mendapatkan tiket antri dulu didepan. Karena saya perempuan makanya dikasih langsung. Duh.. segitunya, Paak.. tapi makasih banyak sih sudah dibantu 😀

Tak lama kemudian si Mbak datang sambil menggenggam sesuatu sambil bertanya, “Mbak, bawa bolpoin?”. “Bawa” jawab saya.

“Ya udah tangannya Mbak siniin biar nggak kelihatan yang lain” seraya memindahkan sesuatu dari tangannya ke tangan saya. “Habis diisi nanti kasih tiketnya ke petugas pintu masuk, ya”

Setelah bilang trima kasih, saya langsung menghambur ke pelukan suami untuk pinjam bolpoin. Mengingat suasana begitu rame saya tidak langsung menonton, Jadwal yang saya ambil hari Sabtu jam 4 – 5 sore yang itu berarti hari ini, nanti sore, asiikkkk….

Mengenal Desa Tembakau

Postingan ini lanjutan dari postingan sebelumnya

Saat mobil berhenti ditengah tanjakan, kami berempat berjibaku mengendalikan laju mobil supaya tidak semakin mundur.

“Injak gasnya” teriak Kang Yayat

“Sudah” balas Mas Rinaldi

Dan entah bagaimana kemudian mobil pelan-pelan bisa naik ke tanjakan walau derunya mengalahi suara mobil derek. Gak yakin juga sih, bunyi mobil derek itu bagaimana hehe

Sampai di jalanan datar dan stabil barulah kami semua turun. Bukan untuk melihat view bagus, tapi penasaran darimana bau gosong itu berasal. Pasalnya usai berhasil naik, tiba-tiba menguar bunyi gosong di indera penciuman kami. Kang Yayat mengira bau itu dari kampas rem, tapi Mas Rinaldi membantah, bau itu asalnya dari ban. Ya udahlah bukan perdebatan sulit, yang penting jalan tanjakan itu sudah berlalu.

Walhasil keoptimisan Kang Yayat semakin menipis. Pesimis, jalan yang dilalui tidak sampai tujuan. Kami sudah terlalu jauh masuk kedalam desa tapi sama sekali belum melihat rumah penduduk. Masalahnya ini desa orang dan kami juga tidak tau mau kemana haha.. yang jelas tujuan kami satu, menemukan tempat tembakau. Ditengah niat putar arah yang sepertinya juga tertahan karena jalan setapak yang dilalui hanya cukup satu mobil membuat kami meneruskan perjalanan lagi minimal sampai menemukan lahan luas untuk kami jadikan tempat berbalik arah.

Berbekal petunjuk penduduk, kira-kira 500 meter sampailah kami pada sebuah pertigaan. Menurut informasi di dekat-dekat pertigaan itu terdapat rumah yang menjual tembakau. Usai tanya sana sini, ternyata rumah yang menjual tembakau berada jauh dibawah disalah satu jalan pertigaan tersebut. Wuih, ampuun jalannya menurun curam! Dipikir lagi daripada nanti mobil kami bisa turun tapi gak bisa naik maka dipilihlah jalan kaki. Resikonya Mas Rinaldi harus tetap diatas, menunggu didalam mobil. Sempat ada yang memberi tawaran membawakan mobil sampai dibawah, tapi kami menolak. Hihi.. masih takut dan trauma 😀

Kurang lengkap gimana suguhannya :D
Kurang lengkap gimana suguhannya 😀
PS: Bukan pesan sponsor 😀
Saya milih suguhan ini sahajo, lebih maknyus :D
Saya milih suguhan ini sahajo, lebih maknyus 😀

Begitu sampai di rumah Pak Haji, pemilik tembakau, kami disambut dengan ramah. Obrolan yang tidak bisa fokus karena memikirkan insden tadi bercampur waktu yang mulai beranjak petang membuat kami tidak bisa berlama-lama. Padahal disana, kalau mau lama itu menguntungkan sebab para komunitas asbak(ul) karimah dibolehkan melinting rokok sendiri dengan tembakau dan kertas yang sudah tersedia. Ditambah suguhan kopi susu plus ketan jagung dengan kuah gula kelapa, hmm.. mungkin suatu hari nanti boleh diulang..

“Ogah! Aku kapok kesana lagi!” celetuk Cak Lozz panik. Doi mati gaya sambil pegangan bangku erat-erat.

“Yang bener aja, nggak.. nggak mau lagi naik” kata Mas Rinaldi yang ketika turun menolak pegang setir.

Dan Alhamdulillah perjalanan turun tidak menemui kendala. Semua baik-baik saja. Bahkan kami sempat turun ditengah jalan buat foto-foto pemandangan.

Oya ngomong-ngomong desa Semambung selain memiliki view bagus, hawanya segar. Bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa Madura. Bagusnya lagi disepanjang jalan desa masih banyak terlihat rumah penduduk yang bentuknya mirip rumah adat Madura. Atap gentengnya rendah dengan dinding terbuat dari kayu. Penduduknya ramah-ramah dan asyik diajak ngobrol. Sayangnya ketika kesana tidak sedang musim panen sehingga kami tidak bisa melihat bentuk tanamannya. Menurut Pak Haji musim panen tembakau terjadi sekitar antara bulan Juni dan Juli.

Dipilih dipilih..
Dipilih dipilih..

Gimana-gimana, tertarik datang? 😀

Insiden ngeri

Ceritanya Sabtu Minggu kemarin saya habis melakukan perjalanan jauh. Mulai dari Surabaya – Jember – Banyuwangi – Situbondo – Besuki – Probolinggo – Surabaya. Perjalanan semacam roadshow ini demi melampiaskan hasrat kopdar bersama kawan-kawan blogger yang berada di wilayah paling timur pulau Jawa.

Tapi-tapi.. dalam tulisan ini saya tidak bercerita mengenai kopdarnya sebab seperti yang sudah-sudah kopdar selalu da pasti meninggalkan kesan yang sangat dalam. Terutama hubungan pertemanan yang bak saudara dekat. Sampai-sampai rumah teman pun kami sita untuk dijadikan basecamp haha.. cerita detailnya akan saya tulis satu persatu dilain posting aja supaya lebih ngena ceritanya.

Untuk kali ini saya akan menjawab ke-kepoan Mbak Prit mengenai pengalaman  seru apa yang telah kami alami selama berada diperjalanan.

Singkatnya, usai dari Banyuwangi, Kang Yayat (sang pencetus ide perjalanan) mengajak Cak Lozz, saya dan Mas Rinaldi mengeksploitasi desa di daerah Besuki Situbondo yang konon menjadi tempat penghasil tembakau. Sebagai orang Jawa Timur, terus terang saya tidak begitu paham tentang asas pertembakauan ini. Malahan saya baru tau kalau di Jawa Timur ada daerah penghasil tembakau. Perasaan di buku RAPL jaman SD dulu gak ada deh informasi mengenai beginian. Kecuali pabrik kertas Leces dan PLTU Paiton yang legendaris dan sering keluar dalam soal ujian EBTA/EBTANAS.

Yaah.. demi menuruti nafsu para asbak(ul) karimah (baca: perokok), bolehlah dicari tau ada apa saja disana.

Perjalanan darat yang semula dikira dekat ternyata jauhnya seulur-ulur. Lagi-lagi saya menemui seorang pecinta alam yang tiap ditanya jawabnya selalu “Dekat sini aja” padahal kalau diukur jaraknya beratus-ratus kilo. Untungnya saya belum pernah ngukur, selain nggak mau, juga nggak punya meterannya sih wakaka..

Berpegang informasi dari Mas Sofyan yang katanya tinggal lurus ngikuti jalan sampailah kami pada Taman Nasional Baluran. Perjalanan dari sini lumayan jauh juga. *eh gak bisa bilang jauh sih wong saya sudah ‘teler’ berat, sampai nahan kepala sendiri aja gak kuat (baca: saking ngantuknya sampai kepala miring-miring).

Kalau ngikuti arah dipeta urutan Kabupaten yang dilewati seperti antara Surabaya, Sidoarjo, Bangil Pasuruan, Probolinggo. Jadi kalau dari Banyuwangi urutannya menjadi Banyuwangi, Situbondo, Besuki, Probolinggo. Bedanya, jarak antara Banyuwangi ke Situbondo itu jauh buuuuanget (baca buuuuu nya sampai pipi menggelembung) silakan ditiru dan Anda akan merasakan sensasi lebainya haha..

Sampai di Besuki waktu sudah menginjak Ashar. Habis tanya penduduk disana-sini sampailah kami di desa Semambung. Menuju desa ini, Kang Yayat sempat pesimis sebab kontur jalannya rusak berat dan berlubang disana-sini. Mana lihat belakang perkampungan penduduk jauh pula. Tapi karena orang desa Semambung baik-baik dan ngasih infonya juga sambil senyum okeelah kami ikuti. Meskipun sebenarnya aneh juga, masak tiap orang ditanya jawabnya selalu “Oh, gak jauh kok. Kurang lebih sekilo lagi”. Apa jangan-jangan senyumnya itu mengandung arti, supaya kami tidak mogok ditengah jalan lalu balik pulang? 😀

YUNI0459

Awalnya jalan yang kami lewati datar-datar saja dengan suasana amat sangat pedesaan. Lihat kiri ada bukit dan sawah berpetak-petak. Lihat ke kanan ada gunung yang dibawahnya kali bening yang membelah perbukitan hijau. Sedang dibagian depan, tampak lalu lalang penduduk berjalan kaki sambil memanggul rumput yang baru ditebang diatas kepala dengan jalanan yang mulai menanjak. Dan pemandangan itu jelas membuat kami terpana dan tidak sadar kalau kontur jalan yang kami lalui semakin tinggi.

YUNI0505

YUNI0508

Saking keasyikan menikmati pemandangan sambil berjeprat-jepret ria tiba-tiba… Insiden ngeri terjadi.

Ditengah-tengah jalan tanjakan sekonyong-konyong mobil berhenti mendadak. Diam-yam. Tanpa gerakan berarti. Sedang pemandangan dibelakang tampaklan jalanan aspal yang menurun curam. Sesekali mobil mundur kebelakang. Lalu berhenti lagi.

Kami berempat saling menguatkan. Melihat Mas Rinaldi yang saat itu kebagian nyetir terus berusaha mencari ancang-ancang dengan muka pasi. Dibelakang Kang Yayat berusaha mengendalikan laju mobil dengan memberi alternatif kendali apa yang harus dipegang. Sedangkan Cak Lozz, saya nggak bisa melihat jelas seperti apa rautnya yang pasti ketika saya pegang, tangannya bergetar hebat. Sedangkan saya yang ketika itu berada disamping Mas Rinaldi tidak tau harus merasakan apa. Takut nggak. Deg-degan juga nggak. Perasaan seperti tak terjadi apa-apa. Biasa aja gitu. Atau ada yang salah dengan dada saya? wah mesti lari ke paranormal terdekat nih, ups 😀

Tapi beneran lho kejadian seperti ini saya pikir biasa saja. Soalnya beberapa kali saya mengalami kejadian begini. Ditengah-tengah tanjakan tiba-tiba mobil yang saya tumpangi berhenti. Yang saya ingat kejadian seperti ini saya alami waktu mau naik ke Gunung Welirang dan ketika dalam perjalanan ke Sedudo. Jadi ketika Kang Yayat, Mas Rinaldi dan Cak Lozz merasa ketakutan, saya malah merasa biasa saja haha..

Baru ngerti ternyata mobil berhenti ditengah tanjakan itu berbahaya, toh.. kalau begitu besok-besok kalau terjadi lagi, saya suruh dada ini supaya deg-degan aja kali ya.. tapi-tapi kalau sudah tau berbahaya begini kok jadi takut sendiri, sih. Ogah deh, semoga nggak ada lagi kejadian macam ini. Bikin takut sendiri jadinya.. yang jelas kalau diajak naik kesana lagi, tetep maulah.. pemandangannya bague, euy 😀

Mogok niye.. yakin sampai Surabaya jalan kaki? :D
Mogok niye.. yakin sampai Surabaya jalan kaki? 😀

Bersambung ke postingan selanjutnya ya 😉

Go Top