Mengenal Desa Tembakau

9 comments 924 views

Postingan ini lanjutan dari postingan sebelumnya

Saat mobil berhenti ditengah tanjakan, kami berempat berjibaku mengendalikan laju mobil supaya tidak semakin mundur.

“Injak gasnya” teriak Kang Yayat

“Sudah” balas Mas Rinaldi

Dan entah bagaimana kemudian mobil pelan-pelan bisa naik ke tanjakan walau derunya mengalahi suara mobil derek. Gak yakin juga sih, bunyi mobil derek itu bagaimana hehe

Sampai di jalanan datar dan stabil barulah kami semua turun. Bukan untuk melihat view bagus, tapi penasaran darimana bau gosong itu berasal. Pasalnya usai berhasil naik, tiba-tiba menguar bunyi gosong di indera penciuman kami. Kang Yayat mengira bau itu dari kampas rem, tapi Mas Rinaldi membantah, bau itu asalnya dari ban. Ya udahlah bukan perdebatan sulit, yang penting jalan tanjakan itu sudah berlalu.

Walhasil keoptimisan Kang Yayat semakin menipis. Pesimis, jalan yang dilalui tidak sampai tujuan. Kami sudah terlalu jauh masuk kedalam desa tapi sama sekali belum melihat rumah penduduk. Masalahnya ini desa orang dan kami juga tidak tau mau kemana haha.. yang jelas tujuan kami satu, menemukan tempat tembakau. Ditengah niat putar arah yang sepertinya juga tertahan karena jalan setapak yang dilalui hanya cukup satu mobil membuat kami meneruskan perjalanan lagi minimal sampai menemukan lahan luas untuk kami jadikan tempat berbalik arah.

Berbekal petunjuk penduduk, kira-kira 500 meter sampailah kami pada sebuah pertigaan. Menurut informasi di dekat-dekat pertigaan itu terdapat rumah yang menjual tembakau. Usai tanya sana sini, ternyata rumah yang menjual tembakau berada jauh dibawah disalah satu jalan pertigaan tersebut. Wuih, ampuun jalannya menurun curam! Dipikir lagi daripada nanti mobil kami bisa turun tapi gak bisa naik maka dipilihlah jalan kaki. Resikonya Mas Rinaldi harus tetap diatas, menunggu didalam mobil. Sempat ada yang memberi tawaran membawakan mobil sampai dibawah, tapi kami menolak. Hihi.. masih takut dan trauma 😀

Kurang lengkap gimana suguhannya :D

Kurang lengkap gimana suguhannya 😀
PS: Bukan pesan sponsor 😀

Saya milih suguhan ini sahajo, lebih maknyus :D

Saya milih suguhan ini sahajo, lebih maknyus 😀

Begitu sampai di rumah Pak Haji, pemilik tembakau, kami disambut dengan ramah. Obrolan yang tidak bisa fokus karena memikirkan insden tadi bercampur waktu yang mulai beranjak petang membuat kami tidak bisa berlama-lama. Padahal disana, kalau mau lama itu menguntungkan sebab para komunitas asbak(ul) karimah dibolehkan melinting rokok sendiri dengan tembakau dan kertas yang sudah tersedia. Ditambah suguhan kopi susu plus ketan jagung dengan kuah gula kelapa, hmm.. mungkin suatu hari nanti boleh diulang..

“Ogah! Aku kapok kesana lagi!” celetuk Cak Lozz panik. Doi mati gaya sambil pegangan bangku erat-erat.

“Yang bener aja, nggak.. nggak mau lagi naik” kata Mas Rinaldi yang ketika turun menolak pegang setir.

Dan Alhamdulillah perjalanan turun tidak menemui kendala. Semua baik-baik saja. Bahkan kami sempat turun ditengah jalan buat foto-foto pemandangan.

Oya ngomong-ngomong desa Semambung selain memiliki view bagus, hawanya segar. Bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa Madura. Bagusnya lagi disepanjang jalan desa masih banyak terlihat rumah penduduk yang bentuknya mirip rumah adat Madura. Atap gentengnya rendah dengan dinding terbuat dari kayu. Penduduknya ramah-ramah dan asyik diajak ngobrol. Sayangnya ketika kesana tidak sedang musim panen sehingga kami tidak bisa melihat bentuk tanamannya. Menurut Pak Haji musim panen tembakau terjadi sekitar antara bulan Juni dan Juli.

Dipilih dipilih..

Dipilih dipilih..

Gimana-gimana, tertarik datang? 😀

author
Author: 
loading...
  1. Insiden ngeri | yuniarinukti.com3 years ago

    […] Majalah Indonesia dan bundling bonus Mengenal Desa Tembakau […]

    Reply
  2. author

    Hanna HM Zwan3 years ago

    hihihihihi…ngeri juga ya mbk,eh q punya koleksi foto rumah tembakau lho mbk *yg buat nyimpen tembakau itu*,banyak di pinggir jalanana kota JEmber… 😀

    Reply
  3. author

    Nunu El Fasa3 years ago

    Masih begitu natural

    Reply
  4. author

    nh183 years ago

    Hah …
    bau ini dulu pernah demikian akrab di penciuman saya
    itu duluuuu … 🙂

    Salam saya Mbak Yuni

    (8/3 :7)

    Reply
  5. author

    joe3 years ago

    pengen sih datang, kalau ada yang bayarin hehe….

    Reply
  6. author

    Zizy Damanik3 years ago

    Satu hal yang saya sangat setuju. Lebih baik kita mengamankan mobil daripada mobil tak bisa naik, bahaya kan? Hihi..
    Itu, tembakau semua. Wuih….

    Reply
  7. author

    tina latief3 years ago

    Daerah sana memang sentra produksi tembakau ya mak.. di desa kakek saya dulu ada juga yang masih suka menanam tembakau hingga mengolahnya sendiri.. tapi karena yang sepuh sudah banyak yg meninggal jadi sudah jarang sekali..

    Reply
  8. author

    bintangtimur3 years ago

    Ah, Yun…baca ceritanya disini aja deh…kalo lihat perjuangan buat sampai kesana, saya malah jadi serem duluan 🙁

    Reply
  9. author

    syaifullah3 years ago

    Ini kampung halamanku. Mbak asli orang mana? Bapak saya juga penjual tembakau. Rumahnya setelah jembatan di semambung. Panen tembakau itu hanya di musim kemarau. Soalnya tidak mungkin kita menanam tembakau di musim hujan. Daun tembakau akan mengkerut dan kerdil klo kena hujan. klo lagi musim hujan begini yang banyak tanaman jagung. Tembakau yang ada itu simpanan musim kemarau tahun kemaren

    Reply

Leave a Reply