Pengalaman Ke Poli Kandungan RS Haji Surabaya
Pengalaman menjadi pasien RS Haji Surabaya tujuan saya ke Poli Kandungan, dan di sinilah pertama kali nama saya tercatat di Rumah Sakit serta…
Apapun namanya, #KEBersamaan itu selalu indah. Bersama menjalin keakraban, bersilaturrahmi sekaligus mengembalikan fitrah menjadi pribadi yang bersih.
Minggu, 7 September 2014 komunitas Kumpulan Emak Blogger (KEB) mengadakan Halal Bihalal serentak 6 kota di Indonesia, salah satunya Surabaya. Sebuah penghormatan bagi Emak-emak blogger di Surabaya dan sekitarnya untuk mempererat tali persaudaraan.
Setelah diskusi panjang kali lebar disepakatilah tempat Halal Bihalal. Tempatnya di Sidoarjo, di kediaman Mak Tatit Ujiani. Alhamdulillah Mak Tatit bersedia rumahnya kami repotin. Kalau acara diadakan dirumah kan suasananya jadi lebih santai dan bebas. Ngobrol-ngobrol pun bisa lebih akrab.
Kenapa harus di Sidoarjo, Di Surabaya kan bisa?
Sebagai blogger yang tinggal di Surabaya, saya nggak mau egois dengan ‘mengkultuskan’ harus di Surabaya. *sok bijak, nih* sekali-sekali dong yang di Surabaya ngalah, masak apa-apa kudu di Surabaya. Dan ternyata, setelah saya membaca daftar alamat rumah anggota yang hadir 8 dari 10 orang tinggalnya di Sidoarjo. Nahlo, jadi selama ini Emak blogger Surabaya itu egois *lihat saya, jangan yang lain*. Kurang memikirkan bagaimana teman-teman yang di Sidoarjo dan Gresik jauh-jauh datang ke Surabaya. Belum nanti repotnya bawa anak kecil. Jadi, maafkan saya ya Emak-emak 🙂
Baiklah, Sidoarjo sudah. Surabaya, sering. Gresik kapan? Direncanain lagi yaah..
Awalnya kami rencana untuk urunan buat biaya konsumsi. Tapi lagi-lagi Bu Tatit melarang dan beliau ingin seluruh biayanya ditanggung sendiri.
*Aduh, Bu.. gak usah repot-repot.. keluarkan saja semua yang ada dikulkas* Lho?! 😀
Baiklah untuk mengurangi beban tuan rumah saya usulkan agar enggota yang hadir membawa makanan ala kadarnya buat tambah-tambahan cemilan. Tak disangka sesuatu ala kadarnya itu jadi bertumpuk-tumpuk. Makanan yang terhidang jadi berlimpah. Alhamdulillah wa Syukurillah..
Jam 10 tet, saya sudah disekitar perumahan tempat tinggal Bu Tatit. Karena sesuatu hal *baca=nyari alamat* yang gak ketemu-ketemu pke tanya sana-sini dulu, saya tiba jam 10 lewat. Kiranya sudah rame ternyata masih 2 orang yang hadir, Neng Sari Widiarti sama Mak Irowati. Sambil menunggu emak yang lain saya, Sari dan Mak Iro cemil-cemil cantik.
Cemil-cemil cantik itu ambil kacang goreng sebiji dikunyah 10 menit.
Ambil lagi sebiji, kunyah lagi 9 menit.
5 menit kemudian:
Ambil kacangnya segenggam lalu dikunyah 2 menit.
Ambil lagi segenggam dikunyah semenit.
Semakin lama, makannya beringasan wkwk
Nggaklah.. nggak gitu-itu banget keles. Gini-gini juga Emak Surabaya itu sopan-sopan. *ehem* *keselek es ganepo*
Setelah semua hadir total hadirin ada 16 orang termasuk sang tuan rumah. Eh tambah satu lagi Bapak-bapak, dia suami saya yang menjaga istrinya dengan setia. Jadi totalnya 17.
Dari sekian yang hadir ada yang sudah kenal dan akrab karena sudah pernah ketemu sebelumnya. Lain dari itu saya merasa asing, yang membuat saya SKSD adalah namanya.
“Oh ini toh Mak anu..”
“Oh ini toh Mak anu..”
“Oalaahhh ini toh..” ujung-ujungnya, OOO… bunder hihi
Rasanya seperti De Javu gitu lho
Sering dengar namanya, tapi gak tau yang mana orangnya..
Untungnya Mak-Mak Blogger Surabaya itu baik-baik dan murah senyum. Diajakin apa aja mau. Termasuk foto selfie dan gokil-gokilan.
Seperti biasa pertama ketemu salaman dulu sambil nyebut nama. Selanjutnya ngobrol-ngobrol ngalor ngidul. Eit, bukan nggosip lho, tapi kami ngobrolin seputar dunia blogging. Bagaimana caranya optimasi blog supaya visitornya bisa banyak. Sambil silaturrahmi, sambil berbagi informasi..
Salut banget dengan semangat Emak-emak dalam dunia kepenulisan. Meski dirumah direpotin sama keluarga masih bisa meluangkan waktu untuk menulis.
Karena keasyikan ngobrol usai tukar kado nggak terasa aja sudah hampir jam satu. Waktunya sholat Dhuhur dulu. Usai sholat Dhuhur dilanjut dengan foto selfie rame-rame yang diakhiri dengan sesi foto bersama.
Gak usah berebut, semua kebagian 😀
Entah kenapa kalau kumpul-kumpul begini rasanya kok seperti anak SMA, ya. Bawaannya narsis muluu..
Akhirnya kami pulang membawa sebungkus kenangan. Keceriaan bertemu teman-teman seprofesi dan seperjuangan membuat kami seolah saudara lama yang baru berjumpa.
Terima kasih buat seluruh Emak Blogger Surabaya yang sudah hadir, kehadiran kalian membuat acara menjadi hidup dan rame. Tak lupa saya pribadi dan mewakili nama Kumpulan Emak Blogger juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Bu Tatit sekeluarga atas kesediannya menggunakan tempat tinggal sebagai tempat kami berkumpul. Semoga kebaikan Bu Tatit sekeluarga mendapat balasan dari Allah SWT, Amiin.
Sampai jumpa lagi kawan-kawan…
Jalan-jalan modal 100 ribu bisa kemana?
Kemana yaa, bisa sih kemana-kemana asal tidak keluar negeri hihi..
Mau keluar pulau, bisa.. tapi pulau Madura 😀
Kalau lagi pengen keluar kota tujuan saya kalau nggak ke Pandaan, Malang, ya Mojokerto. Soalnya 3 kota itu yang punya banyak tempat menarik dan murah meriah.
Nah kebetulan BLOG JALAN JALAN sedang ngadakan Giveaway jalan-jalan dengan modal 100 ribu. Ikutan ah..
Beberapa waktu lalu saya jalan-jalan ke Mojokerto. Tau kan ya Mojokerto memiliki banyak peninggalan Kerajaan Majapahit. Dan jelas saya kesana ingin mengunjungi situs peninggalan sejarah di Trowulan yang memang paling banyak menyimpan peninggalan bersejarah. Situs yang saya kunjungi adalah Candi Brahu, lokasinya didesa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Mojokerto. Kalau ditempuh dengan motor, jarak Surabaya – Trowulan sekitar 2 jam-an saja. Untuk berapa kilometernya saya gak ngukur, kata Mbah Google, sih kurang lebih 45-50 kilometer. Matur nuwun, Mbah 🙂
Yang jelas saya isi bensin motor full tanki 20ribu bisa dipakai buat pulang pergi.
Sebelum berangkat isi perut dulu supaya dijalan gak beli-beli makanan. Buat bekal dijalan saya bawa botol minuman, jadi kalau istirahat sewaktu-waktu tinggal teguk. Bisa hemat waktu dan hemat biaya dong..
Enaknya Jalan-jalan pagi itu kondisi lalu lintas lancar. Gak barengan sama yang berangkat kerja. Paling-paling macetnya pas di lampu merah bypass Krian dan Mojokerto. Karena saya niatnya jalan-jalan, jadi gak begitu ngejar kecepatan. Santai aja sambil menikmati pemandangan jalanan.
Ke Candi Brahu adalah kunjungan pertama saya. Gara-garanya pas sedang lewat Mojokerto secara tak sengaja saya melihat tanda panah yang mengarah ke gang masuk dengan tulisan CANDI BRAHU tepat sebelah kanan dari jalan raya Trowulan, beberapa kilometer sebelum menuju ke Terminal Mojoagung. Seketika tanda itu membuat saya terperangah dan berniat akan berkunjung sewaktu-waktu.
Dan begitulah, begitu ada kesempatan langsung saja saya ajak Suami kesana. Selain itu saya juga penasaran sama patung Budha Tidur yang konon letaknya di Mojokerto juga. Sudah lama pengen kesini..
Begitu motor sudah melalui jalan raya Trowulan, saya minta Suami untuk mengurangi kecepatan. Dan saya sibuk menajamkan pandangan ke arah kanan jalan mencari gang yang ada tanda panah bertuliskan CANDI BRAHU. Maklum, saya takut gang nya terlewati. Soalnya kalau sudah kelewatan, mutar baliknya akan sulit, apalagi lihat ukuran kendarannya yang guedhe-gedhe begitu.. ngeri.
Dan begitu gangnya terlihat, Suami langsung nyalakan sein kanan. Syukur nyebrangnya mudah 😀
Dari jalan raya, gang masuk menuju Candi Brahu kelihatan sempit. Tapi begitu didalam, muat kok buat dua mobil. Setelah tanya penduduk 2 kali, sampailah saya di Candi Brahu.
Candi Brahu diperkirakan dibangun pada abad 15 ini nampak terawat bersih. Selain rerumputan hijau memenuhi areal Candi, disana juga terdapat banyak sekali pohon buah Maja. Pohon-pohon ini semuanya berbuah, ukurannya sebesar buah melon. Dalam mitos, buah Maja adalah cikal bakal nama kerajaan Majapahit. Konon buah Maja rasanya pahit, sehingga disebut Majapahit.
Karena Candi ini situs bersejarah, maka tak sembarang orang boleh naik ke atas Candi. Ditakutkan Candi setinggi 20 meter dengan bahan utama batu merah ini akan runtuh. Setiap hari areal Candi ini dibersihkan, itu terlihat dari aktifitas petugas yang menyapu seluruh halaman dan menyirami tanaman yang ada disana. Petugas itu begitu ramah menyapa siapa saja yang datang ke Candi itu. Waktu saya tanya-tanya petugas juga menjelaskan dengan baik. Malahan waktu saya melihat ada buah keres berwarna merah, petugas menyuruh saya mengambil buahnya.
“Ambil saja, mbak. Gapapa, kok”
Saya tersenyum aja. Gak enak juga mau ambil buah disana. Itukan cagar budaya, takut kenapa-napa 😀
Untuk masuk ke dalam Candi, pengunjung hanya diminta mengisi buku tamu. Waktu saya tanya, karcis masuknya berapa, petugas menjawab “seikhlasnya”. Okelah karena gak ada ketentuan karcis masuknya, dan parkir motorpun gak ditarik petugas, saya tinggalin uang sepuluh ribu.
The Sleeping Budha
Sebelum lanjut jalan, saya tanya dulu lokasi The Sleeping Budha alias patung Budha Tidur. Oleh seseorang saya dikasih ancer-ancer arah menuju patung Budha Tidur. Ternyata oh ternyata.. patung Budha Tidur masih dalam lingkup satu desa dengan Candi Brahu, yakni desa Bejijong, Kecamatan Trowulan. Jaraknya sekitar 300 meter dari Candi Brahu. Untuk menuju Maha Vihara Trowulan tempat patung Budha Tidur saya tidak perlu keluar ke jalan raya. Sesuai petunjuk yang diberikan warga saya hanya melalui jalanan desa yang rata-rata penduduknya menjadi pengrajin arca.
Maha Vihara Trowulan ini sebelumnya digunakan ibadah khusus untuk komunitas Budha, namun karena patung ini menjadi patung terbesar ketiga didunia setelah Thailand dan Nepal maka keberadannya menjadi daya tarik wisata tersendiri. Dan pengelola pun menyadari dengan membuka gerbang seluas-luasnya bagi siapa saja yang ingin berkunjung disana tanpa menarik bayaran.
Sebelum masuk ke dalam, saya parkir motor dulu didepan gerbang Vihara. Rupanya keberadaan patung Budha Tidur ini menjadi berkah tersendiri buat penduduk sekitar. Mereka bisa mendapatkan penghasilan dari pengunjung Vihara seperti jualan jajanan atau jasa penitipan motor.
Saya amati patung Budha Tidur ini ukurannya memang besar. Dari referensi yang saya baca, patung Budha Tidur dibuat tahun 1993 dengan panjang 22 meter, lebar 6 meter dan tinggi 4,5 meter. Meski terbuat dari beton namun hasil pahatannya halus sekali. Warna emasnya begitu alami. Konon patung ini dipahat oleh perajin dari Trowulan sendiri.
Dibawah Patung Budha Tidur terdapat relief-relief kehidupan sang Budha dengan kolam air yang ditumbuhi tanaman teratai. Untuk mencegah tangan-tangan jahil, patung Budha ini dikelilingi pagar aluminium.
Dari cerita yang saya dapat, setiap hari patung ini ramai dikunjungi. Tak hanya orang dewasa saja, tetapi anak-anak sekolah juga banyak yang berkunjung kesini.
Seperti saya, mungkin mereka penasaran ingin melihat Siddharta Gautama yang wafat dalam kondisi tertidur.
Puas melihat dan berfoto didepan patung Budha saya pun kembali ke Surabaya, setelah sebelumnya bayar ongkos parkir 2 ribu. Melihat banyaknya jajanan saya beli bakso cilok 2 bungkus harga 6 ribu plus air mineral (2 botol @500ml) 6 ribu (persediaan air dibotol sudah habis :D)
Sesampai di Surabaya, karena perut keroncongan saya mampir dulu ke baksonya Pak Salam, bakso langganan di daerah Ketintang dekat kuburan. 2 porsi bakso ditambah lontong dan es jeruk habis 20 ribu.
Jadi kalau ditotal-total berapa ya, modal seratus ribu sisa banyak kayaknya..
Kita rinci, ya:
Bensin 20 ribu
Ke Candi Brahu 10 ribu
Parkir di Maha Vihara 2 ribu
Jajan bakso cilok 6 ribu
Beli minum 6 ribu
Beli bakso 20 ribu
Total semuanya 64 ribu
Yihaa 100 ribunya sisa banyaaaak…
Yang ingin mengenalkan anak-anak sekaligus wisata edukasi situs sejarah di kerajaan Majapahit bisa lho jalan-jalan ke Mojokerto. Wisatanya murah-murah tapi tidak murahan. Kalau ingin eksplorasi lebih banyak mengenai sejarah Majapahit bisa juga berkunjung di Museum Trowulan. Bayarnya Cuma 5 ribu aja.
Saya pernah mengikuti suatu seminar tentang pentingnya menjaga kesehatan tubuh. Dalam satu penjelasan yang disampaikan oleh seorang Nutritionist, agar tubuh selalu sehat dan zat kandungan makanan diserap tubuh secara optimal maka diperlukan gizi berimbang. Gizi berimbang ini penting selain dapat menjaga kebugaran tubuh juga untuk menghindari obesitas. Untuk mendapatkan gizi berimbang salah satu caranya adalah konsumsi food combining, mengkombinasikan zat makanan seperi karbohidrat, protein atau lemak dengan vitamin dan mineral.
Bicara vitamin, ada banyak jenis makanan yang mengandung vitamin, antara lain sayur dan buah-buahan. Agar tubuh dapat berkembang baik maka tubuh membutuhkan Vitamin A, B, C, D, E, dan K.
Bagi kita, emak-emak yang usianya menginjak 30 tahun kandungan makanan yang cocok dikonsumsi adalah Vitamin C.
Mengapa Vitamin C?
Sebab Vitamin C memberikan banyak manfaat bagi tubuh dan kulit agar selalu tampil bugar dan segar. Usia 30 tahun rentan terhadap penuaan dini. Gejala ini disebabkan oleh pemakaian kosmetik berlebihan tanpa didukung perawatan maksimal sehingga kulit sebagai jaringan penyokong menjadi tidak sehat. Gejala ini juga disebabkan karena iklim Indonesia yang mudah berubah dengan tingkat polusi cukup tinggi.
Untuk menunjang penampilan agar tubuh selalu bugar sebaiknya emak-emak seperti kita membiasakan makan makanan yang mengandung Vitamin C. Makanan yang mengandung vitamin C dapat ditemui pada buah-buahan seperti: jeruk, pepaya, nanas, kiwi, jambu biji, melon, tomat, mangga. Untuk sayuran dapat mengkonsumsi, antara lain: cabe, bayam, kubis, brokoli.
Sebenarnya untuk mendapatkan asupan Vitamin C ada beberapa plihan alternatif agar tubuh dapat menyerap secara maksimal, yaitu:
1. Mengolesi tubuh dengan cream vitamin C
2. Minum suplemen yang mengandung vitamin C
3. Melakukan suntikan vitamin
4. Infus vitamin C melalui pembuluh darah
Di era modern seperti sekarang dimana teknologi berkembang pesat, banyak metode baru bermunculan. Contohnya metode suntik vitamin dan infus vitamin. Dua metode ini sekarang sedang marak sebab penyaluran zat yang masuk dalam tubuh dianggap sangat efektif. Pendistribusiannya tepat sasaran langsung menuju ke pembuluh darah.
Ada pengalaman seorang kawan yang pernah mencoba terapi kulit menggunakan metode Infus Vitamin C. Usai diinfus kawan ini merasa tubuhnya seperti muda kembali. Kulitnya terasa kencang, lebih lembab dan cerah, garis halus dan kerutan juga berkurang. Selama melakukan infus Vitamin, tak ada efek samping yang dirasakan. Bahkan konon infus Vitamin ini aman buat penderita maag meskipun dosis yang diberikan besar sebab metode infusnya langsung masuk kedalam pembuluh darah sehingga tidak menimbulkan nyeri perut.
Salah satu klinik yang menyediakan pelayanan infus Vitamin C adalah STANMED CENTER. Keunggulan infus Vitamin C di Stanmed Center adalah jenis vitaminnya menggunakan Sodium Ascorbate yang dibeli langsung dari pabrik Vitamin C terbaik didunia dan diimpor langsung dari Eropa sehingga jelas kualitas serta merknya. Dosis yang diberikan pun cukup besar yaitu 5000mg.
Berbeda dengan Vitamin C yang dijual dipasaran, dosis yang diberikan hanya 1000mg dengan jenis Vitamin Ascorbic Acid dengan sifat asamnya yang dapat memicu rasa ngilu.
Selama proses infus, pasien harus menunggu selama 15 menit. Tak terlalu lama juga tak terlalu cepat.
Abidin Siman, MBA, seorang pakar kesehatan yang juga Presdir STANMED CENTER memberi pesan kepada kita semua agar selalu berhati-hati ketika melakukan perawatan Vitamin C. Jika membeli vitamin C di toko obat atau apotik pastikan jelas asal-usulnya agar tidak keliru membeli produk palsu.
Kalau teman-teman, sudah pernahkah mencoba infus Vitamin C?
Ada yang pernah dengar arisan MMM? Atau malah ada yang jadi membernya?
Beberapa hari ini arisan MMM diungkap banyak di Harian Surya. Saya belum ‘ngeh’ awalnya, tetapi karena Harian itu memuat berita berseri akhirnya membuat saya tertarik membaca. Dan ternyata sudah banyak orang yang sudah tau bisnis MMM, mungkin sayanya saja yang kurang upadet.
MMM singkatan dari Manusia Membantu Manusia. Bahasa asingnya Mavrodi Mondial Moneybox. Bisnis ini awalnya marak di Rusia, entah kemudian ditutup oleh Sergey Mavrodi, founder MMM. Mungkin karena banyak member yang dirugikan sehingga harus ditutup.
Mirisnya, dikala orang Rusia tutup kuping rapat-rapat mengenai arisan MMM ini, eh lhadalah kok orang Indonesia malah rame-rame jadi membernya MMM. Pertama operasi pada Januari 2013 member MMM tercatat sekitar 50 orang, 6 bulan kemudian member MMM tercatat mencapai 17.000 partisipan. Ini orang Indonesia gampang banget ya terpengaruh..
Saya sebenarnya tidak tertarik menulis bisnis ini disini. Buat apa, toh ya saya bukan membernya MMM, dan sama sekali tidak tertarik ikutan. Awal mulanya saya ketemu teman lama di THR Mall. Lama nggak ketemu bukannya tanya kabar, ujug-ujug teman saya ini cerita bisnis MMM. Begitu mendengar MMM disebut saya langsung tertawa dan menuduh teman saya sudah menjadi member MMM.
“Kok ujug-ujug tanya MMM, sih Mbak. Sampean ikut bisnis itu, ya?” tuduh saya
“Nggaakk.. bos ku yang ikut. Saya nggak paham begituan”
Saya tersenyum. Memang begini situasi kerja di THR. Sejak dulu kalau ada isu baru tak usah menunggu berhari-hari, tenggat sejam aja sudah merebak dimana-mana.
“Kamu tau si A, dia lho sudah invest 300 juta. Dapatnya lumayan. Balik modalnya cepet” kata si teman.
Walau menjadi alumni THR saya masih kenal satu-dua nama disana jadi ikut-ikutan kepo
“Si A dari toko Angkasa (toko samaran)?” tanya saya penuh selidik
“Iya, bener. Sekarang dia jadi jutawan gara-gara gabung jadi anggota MMM. Banyak kok orang THR sini yang jadi membernya MMM. Untungnya lho mencapai 30% per transaksi. Mending, kan dari pada jualan komputer, bathi (untung)nya Cuma sedikit, gak nutut buat bayar stand sama listriknya”
Tawa saya makin kencang. Sejak dulu pembahasan untung jualan komputer gak ada habisnya. Meski tidak pernah memiliki toko komputer, menjadi karyawan saja sudah cukup buat saya untuk membaca geliatnya yang sejak dulu begitu-begitu aja. Ditambah lagi harga stand yang setiap tahun melonjak membuat pengusaha toko kewalahan membayar hutang.
Kembali lagi ke bahasan MMM
Bagi yang belum paham, bisnis MMM sekilas memang menjanjikan. Bagaimana tidak iming-iming untung 30% per transaksi membuat mereka ngiler untuk memperbanyak invest disana. Asal tau saja bisnis MMM bukan bisnis MLM yang menjual produk kepada konsumen. MMM ini murni permainan uang. Dan yang mengatur semuanya adalah sistem. Dalam sistem MMM member baru wajib menyetor uang yang disebut sebagai PH (Provide Help). Jika seorang member sudah melakukan PH maka dia wajib meminta GH (Get Help). Ketika ada permintaan GH sistem akan mengacak akun member dan langsung ditransfer ke rekening si peminta GH itu. Hitungannya misalkan, seorang member PH satu juta, maka dia berhak GH 1,3 juta. Seperti itulah gambaran yang dijelaskan Harian di Surya.
Jika dipikir-pikir member MMM sangat diuntungkan. Tapi jika dinalar lebih dalam kita pasti berpikir, untung 30% didapat dari mana?
Nah ini yang mesti kita pahami. Bisnis MMM memiliki skema piramid. Semakin tinggi posisi member maka semakin banyak prosentase didapat. Apalagi kalau member berhasil mendapatkan downline. Setoran downline-downline inilah yang dipotong untuk membantu GH member. Maka supaya seorang member cepat GH mereka membuat trik sendiri, yaitu membuat akun baru. Tentu saja akun-akun ini dia sendiri yang menjalankan. Semakin sering member melakukan PH dia juga mudah mendapat GH. Begitu seterusnya. Selama banyak member baru, MMM akan terus berkembang. Resiko terbesar yang akan dihadapi member adalah saat sistemnya rusak dan harus restart ulang. Ibarat komputer, sistem akan mengulang kembali dari awal. Lha terus uang yang kemarin disetor kemana? Entahlah, kita tanya saja kepada rumput yang bergoyang 😀
Kabar yang beredar MMM pernah mengalami kerusakan sistem. Menjelang lebaran kemarin banyak member yang meminta GH, dan hanya sedikit yang melakukan PH. Wajarlah namanya juga lebaran, pasti membernya banyak yang butuh uang. Kerusakan sistem itu mengakibatkan banyak member yang tidak bisa mencairkan uangnya. Mungkin tidak terlalu masalah jika member memiliki cadangan uang, lha yang tidak ada cadangan dan berharap-harap uangnya cair tapi gak cair-cair ini yang kasihan. Pasti mereka akan kebingungan.
Kembali lagi inilah kinerja sebuah sistem. Barangkali kalau yang bekerja manusia bisa kita omel-omeli sepuasnya, kalau mesin, diomeli sampai bibir memble pun pasti mbidhek (diam) aja. Ora pathek’en!
Hai para member MMM, sudah GH berapa, bagi-bagi cerita dong.. 😀
Siapa yang nolak diajak ke pantai. Jalan-jalan ke pantai itu mengasyikkan. Biarpun harus menerobos cuaca yang terik tapi akan terbayar lunas dengan suguhan pemandangan yang memukau. Ombaknya, lautnya, pasirnya dan romantisnya *ehem*.
Kuncinya hanya satu jika ingin berlama-lama dipantai yaitu bawa perbekalan yang tepat. Terutama minuman untuk menjaga terhindar dari dehidrasi. Salah satu minuman yang pas untuk dibawa jalan-jalan ke pantai adalah Herbal Tea.
Beberapa bulan lalu saya dan teman-teman blogger dari Surabaya mengadakan perjalanan wisata ke kota Banyuwangi. Salah satu destinasi yang dituju adalah Pantai Teluk Hijau atau Teluk Ijo atau Green Bay. Wah, baru tau ada pantai bernama Teluk Hijau. Biasanya pantai identik dengan biru tapi kenapa satu ini bernuansa hijau? Hmm.. penasaran..
Pantai Teluk Hijau berada di Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi. Jaraknya sekitar 90 km arah barat daya Banyuwangi. Pantai ini masuk dalam wilayah konservasi Taman Nasional Meru Betiri.
Perjalanan menggapai pantai Teluk Hijau seolah petualang menjelajah alam. Ibarat peribahasa ‘Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ketepian’, kalau ini berperosot-perosot dahulu, berguling-guling dahulu, lalu berjingkrak-jingkrak kemudian 😀
Setelah melalui perjalanan panjang, berkelok dan berliku, mobil trooper yang kami sewa tiba di Pantai Rajegwesi. Kalau ditanya berlikunya seperti apa, ya berliku banget pokoknya pakai goyang oplosan segala. Efek ber off road ria. Medan yang dilalui si trooper gak hanya aspal, tapi juga kerikil-kerikil tajam yang kadang-kadang disertai genangan air. Seru sih tapi lama-lama bikin perut mual. Mungkin efek guncangannya itu.
Pantai Rajegwesi adalah akhir petualangan perjalanan si trooper karena untuk menuju pantai Teluk Hijau tidak bisa dilalui dengan kendaraan. Alternatif nya kalau nggak naik perahu ya jalan kaki.
Setelah melakukan diskusi yang cukup alot, bahkan sampai ada yang abstain segala, akhirnya didapatlah kesepakatan memilih berjalan kaki. Konon, rute jalan kaki sensainya lebih amboy ketimbang naik perahu.
Ah yang beneeer..?
Kata penduduk setempat naik perahu lebih cepat sampainya, cuma 15 menit. Sedangkan kalau jalan kaki jaraknya 1 kilometer ditempuh dalam 1 jam plus dapat bonus pemandangan laut dari atas bukit dimana pemandangan ini tidak didapatkan kalau naik perahu. Aih.. penasaraann..
Ya udah jalan kaki saja. Biar makin dekat dengan alam dan membuat badan lebih sehat!
Perjalanan dimulai dengan menaiki anak tangga. Awalnya saya pikir jarak 1 km kedepan medan yang dilalui akan begini terus tapi ternyata nggak, sampai habisnya anak tangga medan yang dilalui berganti menjadi jalan setapak berlumpur.
Menikmati Lukisan Agung
Pantai Teluk Ijo menawarkan berjuta keindahan. Pesona alamnya, pantai yang masih sepi, pasir yang putih dan bersih serta karang-karang kokoh yang begitu alami. Itulah gambaran yang saya tangkap ketika sampai di seperempat perjalanan. Saking terpesonanya saya berhenti dulu untuk mengabadikan apa yang tersaji didepan mata. Tak lupa juga meneguk Teh Liang Teh Cap Panda untuk menambah stamina tubuh. Efek manis teh yang terbuat dari ekstrak tumbuh-tumbuhan herbal ini membantu mempertahankan serta membangkitkan kembali daya tahan tubuh yang sudah banyak terkuras. Kandungan bahan-bahan herbalnya pun pelan-pelang menghilangkan rasa mual yang sejak tadi saya tahan.
Puas narsis-narsisan adegan selanjutnya adalah ‘perosot-perosotan’. Perosotannya serius nih, bukan mainan punya anak-anak ituu.. Benar-benar berat dan sulit medannya. Jalan yang semula berupa tanah lembek makin lama semakin basah bahkan beberapa ada yang becek. Ditambah tekstur tanah yang lembut yang jika diinjak akan licin, maka mau tak mau kami harus hati-hati. Kalau perlu satu sama lain harus saling membantu sebab kalau tak hati-hati kaki bisa tergelincir ke bawah. Untungnya ada tambang di kanan kiri jalan sehingga lumayan membantu. Memegang ranting saja kurang kuat, bisa-bisa malah rantingnya patah dan saya kebawa jatuh. Biar sudah hati-hati saja masih ada teman yang terpeleset kok sehingga celananya dipenuhi tanah basah.. hihi..
Ketemu Pantai Batu
“Ayo semangat!! Pantainya sudah dekaattt…” teriak teman didepan.
Mendengar kata pantai saya pun semangat berjuang memacu kaki agar segera sampai. Maklum tingkat kepo saya sudah tinggi pakai banget. Hasilnya, bukannya cepat sampai tapi saya benar-benar tergelincir, sodara haha.. tapi gak sampai guling-guling kok karena dipegangi sama petugas pemandu dari MER yang menemani kami. MER itu Masyarakat Ekowisata Rajegwesi, sebuah organisasi dibawah naungan Taman Nasional Meru Betiri dimana anggotanya adalah masyarakat sekitar pantai.
“ Santai aja Mbak itu bukan Teluk Hijaunya.. Teluk Hijau masih jauh disana. Yang dilihat mereka itu namanya Pantai Batu” jelas Mas-mas dari MER.
Pantai Batu?
Pantai apalagi tuh?
Eh iya bener pantainya banyak batunya lhoo.. pantesan dikasih nama Pantai Batu.
Biasanya pantai kan identik dengan pasir, tapi ini beda. Pantai Batu memiliki tepian berupa batu-batu alam asli. Ukurannya macam-macam, bentuknya juga. Keaslian batu di pantai ini terlihat dari tekstur dan warnanya. Uniknya lagi batu-batu di pantai ini tertata begitu rapi. Gak mungkin kayaknya kalau manusia yang nata, segitu banyak batu gak yakin manusia bisa melakukannya. Konon batu-batu ini terdampar akibat bencana Tsunami. Karena batu-batu itu masuk dalam konservasi Taman Nasional maka pengunjung dilarang membawa pulang mereka. Pegang boleh, dibawah kemana-mana juga boleh asalkan tidak dibawa pulang.
Sungguh pemandangan di Pantai Batu ini alami sekali. Tebing-tebing tinggi begitu kokoh memancarkan auranya. Hutan-hutam perdu disekitar pantai juga tak kalah memukau.
Sambil menunggu yang lain, yang masih tertinggal dibelakang, saya menghabiskan waktu dengan membersihkan celana dan sandal yang dipenuhi lumpur pakai air laut. Suka aja melihat air laut yang bening. Barulah setelah yang lain sampai dan memberikan waktu isitirahat sejenak saya melanjutkan kembali perjalanan. Kali ini medannya sama hanya saja derajat ketinggiannya yang berkurang. Tanahnya juga lebih landai.
Asyik, jalannya santai..
Teluk HIjau apa kabaar..
Dari Pantai Batu menuju Pantai Teluk Hijau jaraknya sekitar seperempat kilometer saja. Lokasinya tepat dibalik tebing pantai Batu. Kira-kira jalan 15 menitan-lah.
Dan inilah yang dibilang peribahasa itu.. berperosot-perosot dahulu, berguling-guling dahulu, lalu berjingkrak-jingkrak sambil teriak-teriak tak jelas kemudian hihi
Bagai menemukan mutiara asli, kilaunya pantai ini seketika menghunus nadi. Bagaimana tidak, disaat kelelahan melanda, tanpa diduga tampaklah cahaya putih berkilauan dari balik tebing. Sebuah tanda kayu bertuliskan Pantai Teluk Hijau (GREEN BAY) berdiri diatas pasir putih nan lembut. Dan saya makin yakin pantai Teluk Hijau sudah didepan mata! Yeayyy..
Subhanallah.. indahnyaa..
“Pantai Teluk Hijau lihatlah ada aku disini”
Tak disangka ternyata Indonesia masih memiliki mutiara alam yang berkilau yang kecantikannya begitu menggoda. Mutiara ini masih asli dan alami. Dan saya yakin suatu hari nanti Pantai ini akan menjunjung nama Indonesia ditingkat dunia dalam hal pariwisata pantai!
Wahai orang Indonesia lihatlah negaramu. Negaramu ini indah!
Ternyata melampiaskan kebahagiaan ini tak cukup hanya dengan teriak-teriak dan jingkrak-jingkrak karena semua keindahan alam ini adalah milik Tuhan semesta alam pemilik lukisan agung.
Pantai Teluk Ijo selain menawarkan berjuta kecantikan, Ia juga memiliki garis pantai yang bersih. Air lautnya.. oh air lautnya berwarna ijo! Bukan biru.. airnya beniing sekali. Jangan takut berenang atau sekedar bergelimpangan diatas pasir karena dipantai ini bebas dari sampah! Iya, pantai ini masih bersih dari sampah. Sejauh mata memandang saya tak melihat sampah sama sekali. Setelah dijelaskan petugas disana saya jadi tau bahwa aturan dipantai ini dilarang membuang sampah sembarangan. Datang gak bawa sampah, pulang wajib bawa sampah!
Yang paling meninggalkan kesan di pantai ini adalah pasirnya. Butiran pasirnya haluus dan tebal. Mau guling-gulingan, mau main istana-istanaan, Bisaa. Di kawasan pantai Teluk Hijau ini juga ada air terjunnya, lho.. nggak tinggi banget sih cuma 8 meter. Tapi sangat cukupan buat mandi dan membasuh badan setelah berendam di air laut. Keren banget kaann..
Lebih menarik lagi di pantai Teluk Hijau tidak ditemukan pedagang asongan. Dan rasanya seolah pantai punya sendiri. Disini satu-satunya penyedia makanan adalah MER. MERlah yang menyiapkan paket-paket wisata plus konsumsinya!
Eh iya, pantai ini juga punya penjaga lho.. ini dia penjaganya:
Seperti kesepakatan awal, pulang dari Teluk Hijau rombongan memutuskan naik perahu. Iyalah, gak mau kalau harus pulang lagi jalan seperti tadi. Lumpurnya itu licin banget. Alhamdulillah.. tragedi pelesetan sudah berakhir hihi..
Bersama 5 kawan dan 1 nahkoda saya menumpang dalam satu perahu. Iya, perahu disini maksimal diisi untuk 6 orang saja. Setelah memakai jaket pelampung saya duduk di bagian depan perahu. Bukannya sok berani, tapi hanya disitulah tempat satu-satunya kosong. Bagian belakang sudah diduluin teman-teman. *hiks curang*
Sebelum dilepas ke tengah laut, perahu lebih dulu didorong rame-rame.
Mulanya naik perahu ini perasaan saya aman terkendali. Dan begitu berada di tengah laut yang diapit tebing, nyali saya menciut. Ditambah ombak besar lautan yang sedikit-sedikit menggoyang perahu kami.
“Ya Allah semoga perjalanan ini selamat sampai tujuan”. Walau jujur saya begitu menikmati pemandangan ditengah-tengah laut. Sangat-sangat menyihir mata. Hampir-hampir saya mengeluarkan kamera untuk mengabadikan moment ini. Sayangnya kamera dan peralatan yang berbau elektronik sudah saya bungkus rapat dan masuk ke dalam tas plastik. Hal ini sebagai antisipasi agar kamera tidak jatuh ke laut atau terkena cipratan air laut.
Saya hanya bisa menuliskan disini gambaran pemandangan itu. Diatas perahu yang berkecepatan sedang saya seperti menyongsong laut dan langit yang keduanya menyatu tanpa sekat. Dinding-dinding tebing menjulang dengan kokohnya. Ombak berayun, air berkecipakan kesana kemari. Ombak, laut, tebing, pepohonan semuanya bersatu dalam bingkai lukisan alam yang nyata. Oh, Indahnya Indonesiaku..
Lima belas menit sudah berlalu saatnya saya turun dari perahu dan menginjak pasir pantai Rajegwesi. Alhamdulillah selamat sampai tujuan. Saat berjalan menuju tempat istirahat yang nyaman saya baru sadar kalau bibir terasa kering dan tenggorokan seperti gatal. Ah semoga bukan gejala panas dalam. Mumpung belum buru-buru saya buka Herbal Tea Liang The Cap Panda. Hmm.. segaaaar.
Jika kau kedinginan, teh akan menghangatkanmu. Jika kau kepanasan, teh akan menyejukkanmu. Jika kau depresi, teh akan membuatmu ceria. Jika kau terlalu gembira, teh akan menenangkanmu – William Gladstone, 1865
(dikutip dari Novel The Teashop Girls)
“Yun, disitu ada yang jual rujak cingur? Tolong nanti bawain 2 bungkus ya, sambalnya dipisah aja” pesan seorang kawan ketika saya berada di daerah jalan Rajawali.
Rucak Cingur? Duh dimana, ya, batin saya panik. Saat dihubungi posisi saya sedang dijalan, lokasinya pas dibelakang tembok penjara Kalisosok. Entah kenapa saya begitu penasaran dengan penjara legendaris ini, konon penjara ini sedang proses tawar-menawar antara pemilik dan Pemkot.
Ah, ini kan Surabaya, mana mungkin gak ada penjual rujak cingur di daerah sini. Yang pasti saya harus lebih teliti membaca satu persatu nama menu makanan yang tertulis di tenda di jajaran warung sekitaran Jembatan Merah Plasa. Dengan lapak berjajar sebegini banyak pasti ada salah satu yang menawarkan rujak cingur. Benar saja, setelah memacu motor mengikuti arus, mata saya tertambat di sebuah warung di jalan Kembang Jepun. Warungnya agak nyelempit kedalam dan hampir-hampir ketutupan tenda tetangganya. Warung itu menawarkan aneka jenis rujak. Ada rujak cingur, rujak tolet, rujak manis, dan menu pelengkap lainnya lontong balap serta kolok/kolek.
Mengapa saya berusaha keras mendapatkan makanan legendaris khas Surabaya ini, tak lain adalah karena sang penikmat rujak adalah orang spesial. Mungkin di tempat tinggalnya sana, beliau tidak menemukan penjual makanan yang berbumbu utama petis, kacang dan pisang batu.
Mbak Imelda, nama seorang teman yang lagi ‘ngidam’ rujak cingur itu. Sudah pada tau, kan, beliau itu siapa. Yup, beliau adalah seorang blogger yang berdomisili di Jepang. Kalau kita lihat di tiap postingannya, mbak Imelda selalu mengenalkan budaya Jepang kepada teman-teman Indonesianya. Walaupun sedang menulis tentang aktifitasnya dirumah mbak Imelda selalu menjelaskan segala sesuatu di Jepang yang belum diketahui teman-teman Indonesia. Misalnya, hari ini hari apa. Menurut mbak Imelda setiap hari orang Jepang selalu merayakan hari bersejarah. Jadi kalau setahun ada 365 hari, berarti orang Jepang merayakan hari penting sebanyak 365 kali, pula. Waahh kira-kira mereka hapal semuanya nggak ya..
Setelah mendapatkan 2 bungkus rujak cingur segera saya meluncur ke tempat yang telah disepakati. Yang jelas tempat ini tak asing bagi warga Surabaya termasuk saya. Saking terkenalnya sampai-sampai saya belum pernah masuk ke sana. Tempat itu adalah Hotel Majapahit! “Ah, semoga gak ada penampakan”. Lho apa hubungannya sama penampakan? Oh Eh Anu.. gak papa.. bukan apa-apa kok.. 😀
Jadi begitulah awal cerita saya bertemu dengan mbak Imelda. Pertemuan saya ini juga atas prakarsa Kang Yayat, sang kawan yang minta dibawain rujak cingur tadi. Mulanya kami janjian di Museum H.M. Sampoerna, sayangnya pertemuan tidak sampai terjadi, karena saya kesiangan datang. Hikmahnya saya diberi kesempatan menikmati suasana didalam Hotel Majapahit tempat menginapnya mbak Imelda. Asyiikk..
Eh tapi kapan-kapan aja ya saya pajang foto Hotel Majapahitnya, biar kesannya lebih spesial hihi.. sekarang saya kasih ini aja
Seperti yang saya duga mbak Imelda adalah sosok yang ceria. Lihat saja disetiap fotonya mbak Imelda selalu menyunggingkan senyum. Beliau ramah dan tak pelit ilmu.
Ada kejadian lucu ketika baru masuk kamar. Saat Kai akan meluncur di atas kasur mbak Imelda dengan cepat melarang. Dengan bahasa yang gak dipahami kuping saya, mbak Imelda menahan mereka agar jangan mendekati kasur. Ternyata mbak Imelda ingin mendokumentasikan dulu interior kamar! Haduuh.. ternyata dimana-mana blogger itu sama, ya! Haha..
Sorenya kami kopdar rame-rame. Yang pasti formasinya lebih lengkap dan meriah karena ada sesi selfie-selfienya gitu..
*Maaf fotonya pelit, kerapian nyimpen sampai lupa naruh*
“Jangan pelit-pelit kenapa sih, mau beli ya beli”
“Tapi sekarang bukan lagi musim diskon, besok aja kalau lagi diskonan”
“Huh! Bukan Yuni namanya kalau belum itung-itungan diskon!”
Bisa bayangkan bagaimana dongkolnyaSuami kalau saya sedang bicara soal diskon. Gara-gara diskon, seringkali saya membatalkan pembelanjaan demi menunggu momen yang tepat untuk menyelesaikan transaksi. Alhasil Suami hanya bisa ngelus dada sambil berpuas diri menahan hasrat belanja.
Soal belanja kami memang memiliki perbedaan karakter yang mencolok. Saya cenderung belanja kalau menemukan info diskonan. Dengan berbagai cara saya akan berusaha mendapatkan barang diskonan. Entah harus memakai uang tabungan atau apa *seringnya memakai uang selipan yang saya simpan dibawah tumpukan baju*. Sebagai istri yang baik saya kan lebih tau dimana lokasi-lokasi yang cocok sebagai tempat menimbun uang. Sehingga jika suatu saat saya menemukan sesuatu yang dirasa menarik dan baik bagi hubungan kami berdua saya segera mengambil tindakan jitu. Salah satunya membeli barang idaman Suami lalu menyerahkannya dengan memasang tampang seolah-olah itu hadiah dari saya. Menurut saya trik ini sangat bagus walau besoknya saya pura-pura butuh duit dan berharap Suami menggelontorkan uang lagi sebagai ganti membeli ‘hadiah’ semalam.
Sangat berbeda dengan karakter Suami yang selalu memegang erat budaya selama ada uang, beli. Apalagi kalau barang itu benar-benar dibutuhkan, urusan diskon bisa jadi nomor sekian.
Seperti yang pernah saya alami bulan Maret lalu. Sudah lama Suami ingin dibelikan sepatu karena sepatu lamanya dianggap tak layak lagi. Sebagai Istri yang baik, tentu saya mendengar keluhan Suami. Padahal dalam hati ini menuai protes “Kenapa baru bilang sekarang, perayaan tahun baru sudah selesai, sekarang mana ada toko ngasih diskon besar-besaran!”
Supaya dianggap Istri yang baik *berharap semoga tidak dicap pencitraan* dengan kalem dan pasti saya berjanji membelikannya sepatu nanti saat menjelang lebaran. Maksudnya kalau lebaran kan dimana-mana banjir diskon, gitu..
“Kenapa nunggu lebaran, tahun depan aja sekalian. Biar tiap hari aku pakai sandal jepit ke kantor”
“Kan sekarang hampir pertengahan tahun, mana ada diskon besar-besaran?
“Katanya ratu diskon masa ketinggalan info, browsing dulu sana diinternet. Banyak tuh info diskonan”
Eehh.. iya ada internet. Hari gini mana ada sih sesuatu yang nggak mungkin di internet. Saya jadi ingat pengalaman seorang teman yang membeli barang secara online dengan memanfaatkan coupons yang didapatnya dari sebuah website. Nama webistenya iPrice.co.id, yaitu web yang menyediakan berbagai macam coupons, diskon untuk pembelian barang secara online di toko online, salah satunya Zalora.
Seolah mengerti keinginan konsumen situs ini secara berkala mengupdate kupon, diskon, kode voucher berdasarkan kategori produk dan toko. Diskonnya bisa lumayan, kadang-kadang malah mencapai 70%!
Mungkin belum banyak diketahui bahwa di Asia, termasuk Indonesia, orang sudah memiliki kesempatan belanja online hemat menggunakan iPrice Coupons. Yakni dengan memanfaatkan kode kupon yang ada di situs iPrice. Caranya mudah, jika sedang berbelanja online temukan apakah ada penawaran menarik dari iPrize di situs Zalora. Lalu diakhir transaksi masukkan kode kupon yang sudah disediakan oleh iPrice. Caranya dengan mengcopy kode kupon lalu paste-kan di halaman transaksi Anda. Jangan takut, semua kode kuponnya legal, kok! Asal jangan terlewat saja masa berlakunya.
Selamat berbelanja hemat 🙂