Pesan minum, disuguhi Rivanol

Jangan salahkan generasi 80 –an, seperti saya, kalau hanya mengenal obat merah sebagai penolong pertama ketika terjadi kecelakaan. Anak 80 –an, mana kenal dengan yang namanya Rivanol. Taunya obat merah! Pilihan lain, ya Betadine.

Tadi siang, gara-gara beli Rivanol, saya dimarahi sama petugas apotek. Masalahnya sepele, gara-gara saya tanya, “Rivanol apakah sejenis kapsul?” wes gitu, thok. E, lha kok saya di marahi entek ngamek! Wkwk..

Salah saya apa? Klirunya dimana?

Ketika lewat di jalan Gresikan, saya bilang ke Mas Rinaldy, saya haus, saya mau beli minum. Lalu, ujug-ujug dia menghentikan motor di pinggir jalan, dan saya tolah-toleh mencari penjual minum, dan membatin, mana penjual minumnya?

Dengan santai Mas Rinaldy menunjuk ke sebuah apotek di sebrang jalan. “Tolong belikan Rivanol”

Lhah? Kok di suruh ke apotek. Lha wong saya haus..

Oke, mungkin diantara kami sedang tidak ada kesinkronan 😀

“Beli Rivanol, berapa biji?” tanya saya.
Saya nggak ngeh, kalau Rivanol adalah obat luar. Saya mikirnya Rivanol sejenis obat pereda nyeri semacam Amoxicillin. Karena Mas Rinaldy sedang menderita sakit yang jauh dibilang keren, yaitu sakit ‘chanthenghen’, istilah gaulnya, cantengan. Maka dia minta dibelikan obat pereda nyeri.

rivanol

Di Apotik, saya langsung bertanya ke petugas, punya Rivanol, gak? Dibilang ada.
Sebelum Rivanol –nya ditunjukkan ke saya, petugas bertanya, “Mau yang besar, apa yang kecil?”

Lagi-lagi kepala saya tidak sinkron, efek butuh aqua, kali. Saya mikirnya petugas apotek ngasih pilihan, saya mau beli yang dosis besar, apa dosis kecil.

Sebelum saya jawab, saya tanya balik ke petugas apotek, “Yang besar berapa, yang kecil berapa?”

Dijawabnya, “yang kecil harga 2.500, yang besar 4.500,-“

Hmm.. saya diam sebentar. Mikir, yang besar dosisnya berapa mg, yang kecil berapa mg. Daripada keliru, saya tanya, “Rivanol itu apa, ya? Sejenis pil atau seperti kapsul?”

Tak disangka jawaban petugas apotek sungguh sangat mengagetkan. “Ya ampuuun, Mbaak, sampean ini gimana, Rivanol kok kapsul. Sampean gak tau Rivanol, ta?”

Saya jawab aja sekenanya, “Tau, kayak Amoxicillin, kan?” Huahaha.. jawaban saya ternyata kliru! Sok tau! Wkwk..

Petugas langsung mengambil sebuah botol berwarna kuning dari etalase dan menunjukkannya didepan saya. Pas saya lihat, ya ampuuunn, ini kan saya punya di rumah. Oalaah ini namanya Rivanol, tooh.. wkwk.. saya gak sadar kalau di kotak P3K sudah ada obat ini, dan entah lupa, atau gak tau namanya saya gak tau kalau yang dimaksud Rivanol ternyata obat kuniiing.. panteees, kok kayak gak familiar gitu dengar kata Rivanol, haha..

“Sampean ini gimana, Rivanol ya Rivanol. Kayak alkohol, gitu lho, buat membersihkan luka!”
“Oh…!”

“Sampean ini aneh, udah segede gini gak tau Rivanol. Emangnya sampean gak pernah sakit?”
“Nggak” jawab saya menggeleng sekenanya. Haha..

Selama beberapa menit saya di ceramahi sama petugas apotek. Mereka menjelaskan fungsi Rivanol, kenapa luka harus dikasih Rivanol, dan bla.. bla.. bla…

Setelah menunggu beberapa menit, saya beli yang besar. Biarin, ah, dari pada kena malu. Itung-itung buat inves di rumah.

Di depan Mas Rinaldy saya bilang, “saya tadi haus, mau beli minuman, lha kok di suguhi botol Rivanol..!”

“Iya habis ini cari Indomaret”

Ealaaah, tibak’e sama-sama gak sepaham 😀

4 thoughts on “Pesan minum, disuguhi Rivanol

Leave a Reply