Mengikhlaskan hutang yang tak dibayar

Mengikhlaskan Hutang yang tak dibayar? Beraaat, sangat berat! Seberat bayar hutang, dan seberat menagih hutang. Persoalan hutang memang rumit, antara yang berhutang dan berpiutang, sama-sama dalam posisi yang sulit. Ditagih, molor, gak ditagih, amnesia.

Tema Collaborative Writing KEB kali ini ditulis oleh Mak Haeriah Syamsuddin yang melemparkan ide berupa Bayarlah Hutangmu sebelum ditagih. Wadaww, kalau kayak gini ikhlas-ikhlas aja ngutangi, hihi …

Kunci sukses nagih hutang

Betul yang ditulis Mak Haeriah, orang berutang itu antara dua pilihan; sedang butuh atau karena kebiasaan. Melihat orang yang sedang ditimpa kesulitan kayaknya kasihaan bangeet. Akan tetapi melihat orang yang kebiasaan berhutang, sedangkan dirinya mampu beli cash, rasanya juga gregetan, apalagi ditagih bayarnya susah, pakai marah-marah pula.

Saya pernah berhubungan dengan urusan hutang piutang saat kerja dulu. Kerjaan spesifik saya sebenarnya jualan, bukan ngurusi keuangan, tapi seringnya ketiban sampur ngerangkap debt collector. Pindah tempat kerja 3 kali, semuanya begitu. Mungkin muka judes saya cocok jadi tukang tagih, wakaka …

Suatu ketika, bagian keuangan kesulitan menagih toko A. Tagihan yang harusnya 3 hari, molor jadi 3 minggu. Apalagi toko A membuat ketentuan tagihan hari Selasa dan Kamis. Tiga kali Selasa, dan tiga kali Kamis, masih saja belum lunas. Sampai nota tagihannya lecek, karena kelamaan nangkring di folder tagihan. Karena nyerah, bagian keuangan minta tolong saya nagihin. Dalam hati saya juga penasaran, sesangar apa sih bos toko A sampai gak berhasil nagih.

Hari Selasa, pun, tiba. Jam 3 sore (waktu yang tepat untuk nagih), saya menuju toko A. Sebelum saya ngomong nagih, saya perhatikan dulu suasana toko A, apakah ada customer, atau Bosnya sedang nganggur. Kalau ada customer saya diam dulu, menunggu. Meskipun satu jam nunggu, kalau gak ditanya keperluannya apa, saya tetep diam. Saat ditanya, saya baru jawab, “Mau nagih, Pak”.

Tak jarang saya dijanjikan datang jam 4. Datang jam 4, dijanjikan lagi datang jam 5. Saking hapalnya karakter Bos toko A, tiap nagih saya datang jam setengah 6. Biasanya jam-jam segini, para Bos dan bagian keuangan sedang sibuk-sibuknya ngitung hasil jualan hari itu.

Begitu datang, Bosnya berkata, “Ya gini kalau nagih, sopan. Jangan kayak temanmu, nagih utang teriak-teriak didepan customer”. Akhirnya saya tau, mengapa teman saya selalu gagal nagih di toko A. Sering saya datang keesokan hari karena Bos toko A minta perpanjangan sehari. Hikmahnya, tiap nagih saya diprioritaskan, gak harus nagih Selasa dan Kamis aja, sekiranya tagihan jatuh tempo, saya datang, tagihan itu dibayar hehe …

Kunci sukses nagih hutang dengan cara sopan dan sebisa mungkin pandai mencuri hati orang berhutang. Orang Jawa bilangnya, pinter ngepek ati. Misalnya dengan basa-basi, ngajak ngobrol, bertanya kabar, pokoknya mengakrabkan diri, deh. Tapi, cara kedua gak selamanya berhasil, apalagi yang berhutang saudara sendiri. Seringnya justru mengikhlaskan hutang dengan catatan kapok ngutangi lagi!

Baca juga: Cerdas Merencanakan Keuangan Sejak Dini untuk Masa Depan Lebih Baik

Banyak yang bilang, lebih baik tidak ngutangi saudara dari pada merusak hubungan persaudaraan. Iya, memang betul. Kadangkala justru saudara lebih tega dari hubungan teman. Pas butuh aja terlihat kasihan, begitu jatuh tempo, njeketeeek diam seribu bahasa, boro-boro menyapa, menampakkan diri aja, nggak, hahaha …

Beberapa kali pengalaman memberi hutang ke saudara dan teman, saya selalu berpikir jeleknya dulu, bagaimana kalau gak dibayar?

Bukan mau suudzon, tapi perlu juga jaga-jaga hal jeleknya. Segala sesuatu kan harus dihitung baik buruknya, dan ketika suatu saat hal jelek menimpa, kita sudah siap dengan resikonya, termasuk mengikhlaskan hutang yang tak dibayar. Kalau dari awal gak siap mengikhlaskan hutang, lebih baik jangan dihutangi, dari pada jadi aib dikemudian hari dan perasaan gak ikhlasnya dibawa sampai ke ujung dunia, hayo?

“Barang siapa mati dan memiliki tanggungan utang dinar ataupun dirham, maka ia akan dilunasi dengan pahala kebaikannya. Karena di akhirat tiada lagi manfaat dinar ataupun dirham.” (HR. Ibnu Majah dari shahabat Ibnu Umar radhiallahu anhuma dan Syaikh Al Albani mengomentari hadits ini dalam Shahihut Targhib no. 1803, “Hasan shahih.”)

Memberi hutang orang lain sama dengan mengikhlaskan harta kita untuk diserahkan kepada orang lain. Katakan dengan baik-baik jika memang tidak mau memberi hutang, meskipun terkadang resikonya menyakitkan, dibilang kita pelit, gak mau bantu orang lain, gak toleransi, dan lain-lain dan lain-lain. Sebab, uang yang dihutangkan jangan diharap kembali tepat waktu. Karena uang hutang, bukan uang tabungan yang sewaktu-waktu bisa ditarik. Emak-emak, Bapak-bapak, menghutangi orang bukan sebuah kewajiban, lho. Sebaiknya, kalau memang tidak dihutangi jangan maksa orang memberi hutang.

Begitupun jika tak sanggup bayar hutang, lebih baik sampaikan jujur dengan meminta penangguhan pembayaran. Berkata jujur lebih baik daripada menghilangkan diri diantara rerimbunan ketakutan.

“Barang siapa yang mau memberi tangguhan kepada orang yang sedang kesulitan atau bahkan membebaskannya, maka Allah akan menaunginya di bawah naungan ‘Arsy-Nya di hari tiada naungan selain naungan-Nya.” (HR. At Tirmidzi)

Supaya gak sakit hati, saat memberikan hutang kepada orang lain, ikhlaskan hutang itu jika suatu hari nanti tak dibayar.

14 thoughts on “Mengikhlaskan hutang yang tak dibayar

  1. Judulnya sangat menggelitik
    Dan ini memang dilema
    Kita ingin membantu teman … tetapi dilain sisi kadang yang dibantu tidak tau diri.
    Solusi ?
    Saya menghindari diri untuk berhutang atau menghutangi
    Jika hati saya berkata “Ya dia perlu dibantu” maka saya akan berikan dia uangnya (walaupun tidak sebesar yang dia minta). Sambil dalam hati saya niatkan bersedekah saja. Sehingga saya tidak berharap uang tersebut dikembalikan (walaupun dia bilangnya hutang)

    Dan dibanyak kejadian, memang uang tersebut tidak kembali

    salam saya Mbak Yun

  2. Terkadang mengikhlaskan utang memang lebih baik dari menagih. Apalagi kalau sampai harus mengorbankan sebuah ikatan persaudaraan atau pertemanan. Btw, jadi pengen liat muka judes mak Yuni, hihihi

  3. Apakah teman kita tetap berdosa atau tetap memiliki tanggungan hutan,
    Kalau kita sudah mengikhlaskan hutang teman kita ?
    (posisi teman kita itu ntah beneran lupa atau pura-pura lupa)

  4. Saya ikhlaskan dengan catatan, dia punya niat bayar tapi tidak mampu (mungkin mau menghubungi tapi sudah hilang kontak atau bahkan betul-betul lupa) tapi kalau mampu bayar, ingat tapi sengaja tidak membayar, saya gak rela. Biar jadi tagihan akhirat saja. Berarti emang niat dianya.. Haha

Leave a Reply