Alat Musik Sasando
Cerita Yuni,  Hiburan

Ada Sasando dan Sape di Persamuhan Nasional Pendidik Pancasila di Surabaya

Kalau tambah lama tapi tambah bobrok,
Apa namanya kalau bukan Jancuk!

~ Sujiwo Tejo ~

Lagu Buka Titik Joss bergema di Graha Wilwatikta, Pandaan, Pasuruan, yang dibawakan riuh oleh beberapa ibu guru dari seluruh Indonesia. Suara mereka ‘B’ aja, bahkan cenderung amburadul, tapi jadi menarik di telinga karena musik pengiringnya adalah Sape dan Sasando. Alih-alih joget di panggung, saya justru memperhatikan permainan alat musik asli Indonesia itu. Ini Sape, lho! Juga Sasando!

Tau Sasando, kan? Orang Indonesia tidak tau Sasando kebangetan!

Ketika masih sekolah SD, saya teramat sayang dengan uang kertas rupiah pecahan 5000an emisi tahun 1992. Selain nilai nominalnya besar pada waktu itu, saya paling suka memperhatikan gambar Sasando di salah satu sisi kertas berwarna coklat tersebut. Bentuknya unik, melengkung seperti mangkok.

Seumur-umur hidup di Surabaya saya belum pernah melihat fisiknya secara langsung. Lalu bagaimana cara memainkannya?

Sasando adalah alat musik berasal dari Nusa Tenggara Timur. Alat musik dawai khas daerah di Indonesia ini memang antik, tidak semua orang bisa memainkannya. Dan saya baru tau kalau Sasando dibuat dari bambu dan daun lontar yang dianyam sebagai tempat resonansinya.

Setelah puluhan tahun mencari jati diri tentang alat musik Sasando, pertanyaan waktu kecil akhirnya terjawab. Dalam salah satu sesi kegiatan Persamuhan Nasional Pendidik Pancasila di Surabaya, saya melihat langsung bentuk Sasando yang ternyata cara memainkannya dengan dipetik. Daaan, bentuk Sasando aslinya lebih memikat dari yang pernah saya lihat di gambar uang!

Selama beberapa saat saya terhanyut menikmati alunan musik Sasando yang berkolaborasi mesra dengan Sape. Dan hari itu, jadilah lagu Buka Titik Joss menghidupkan suasana ruang pendopo dengan epik.

Ada Sasando dan Sape di Persamuhan Nasional Pendidik Pancasila di Surabaya

Jujur saya akui, bakat musik saya sangat payah. Walau begitu masih ada sisi yang bisa saya banggakan, yaitu sedikit bisa menikmati seni dan budaya lokal.

Tidak, saya tidak sedang ingin disebut sok nasionalis, tapi ada sesuatu yang greget di jiwa saat mendapati hal yang menurut saya aneh dan unik. Seperti halnya melihat langsung penampakan Sape dan Sasando di Surabaya, tanpa harus pergi ke mana-mana. Biar, biar saja orang berkata BIASA, namun bagi saya itu hal yang LUAR BIASA.

Namanya Bang Ganzer. Lelaki muda yang memainkan Sasando dengan apik. Pemuda ini menurut saya nyleneh. Ia memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang pada umumnya. Bang Ganzer sangat luwes bermain musik. Hebatnya dia bisa memainkan alat musik menggunakan kedua tangan dan kakinya sekaligus! Siapa yang tidak terkesima?

Ganzer bernyanyi sambil memainkan Sasando

Bayangkan, tangan kiri menekan launchpad, tangan kanan memetik Sasando. Sementara kakinya menginjak pedal. Herannya, meski semua badannya bergerak, Bang Ganzer masih tetap tersenyum dan sesekali memberi kode kepada penyanyi yang berkali-kali salah menempatkan melodi. Ckck, kagum saya.

Sementara Ganzer sibuk dengan Sasandonya, ada personel lain yang asik memainkan Sape. Sape adalah alat musik yang dipetik berasal dari Kalimantan Timur. Bentuknya panjang seperti gitar, namun memiliki bentuk yang ramping.

Tari Anire

Saking serunya, kolaborasi Sasando dan Sape pada Persamuhan Nasional Pendidik Pancasila di Surabaya sejenak menghidupkan suasana karena semua orang berjoget bergembira.

Kesenian dalam Persamuhan Pendidik Pancasila

Dua kali mengikuti acara Persamuan, cukup banyak kesenian daerah yang saya ketahui. Jika pada Persamuhan Nasional Pembakti Kampung di Anyer saya melihat Rampak Bedhug, maka di Persamuhan Nasional Pendidik Pancasila, saya bisa melihat Sape dan Sasando.

Tari Saman dari Aceh

Tak hanya itu saja, Tari Saman Aceh dan Tari Anire Papua pun, disajikan dengan sangat bagus. Inilah Bhinneka Tunggal Ika yang sebenarnya. Karena kegiatan diselenggarakan di Surabaya, maka tari Remo dan tari Lentera Tunjungan juga turut menghibur hadirin.

Selain penampilan kesenian Indonesia, pemahaman Pancasila juga kerap didengungkan dalam setiap langkah kegiatan. Tak sekedar dieja atau dihafal saja. Dan tanggal 29 November hingga 2 Desember 2019 kemarin, Pancasila dalam Narasi, Rasa, dan Laku Lampah kembali bergaung di hadapan 500 Pendidik Pancasila dari seluruh Indonesia di Hotel Shangri-La Surabaya.

Bersama Bapak dan Ibu Guru dari NTT dan Sumatera Barat yang mengenakan pakaian adat daerah

Bertemu Ramona Ekel, Ibu Guru Sejarah dari Manado

Bertambah satu lagi kebahagiaan saya, bertemu teman baru saudara se-Indonesia. Kalau di Anyer saya sekamar dengan Kakak Grace dari Maluku, kesempatan kali ini saya sekamar dengan Bu Ramona Ekel, guru sejarah berasal dari Manado.

4 hari bersama Bu Mona sangat menyenangkan. Saya mengenal beliau sebagai guru yang energik, gaul, dan modis. Beliau paling semangat mengikuti kegiatan. Jam 5 pagi ketika saya masih berkalang selimut, Bu Mona sudah berdandan cakep dengan pakaiannya yang selalu keren. Terima kasih Bu Mona, maafkan saya yang selalu mengganggu kenikmatan tidur Ibu..

Persamuhan Nasional Pendidik Pancasila di Surabaya tidak hanya mempertemukan saya dengan bapak dan ibu guru se-Indonesia, tapi juga mendapat banyak cerita inspiratif dari orang-orang yang menginsipirasi. Salah satunya Ibu Walikota Surabaya, Tri Risma Harini.

Pancasila Dalam Ruang Kelas

Sepertinya kehadiran beliau begitu ditunggu-tunggu oleh semua hadirin. Terbukti ketika turun dari panggung, semua orang berebut minta foto bersama.

Yang paling saya ingat pesan dari beliau adalah guru sebaiknya tidak memaksa murid menyukai pelajaran yang mereka tidak suka. Dalam ketidak sukaan, guru harus memahami kemauan murid dan berusaha mengakomodir keinginan mereka. Misalnya murid tidak suka matematika, jangan paksa mereka menyukai matematika. Cara itulah yang selama ini diaplikasikan Ibu Walikota Surabaya kepada warganya.

Bu Risma juga menekankan kepada para guru agar selalu menjunjung kebersamaan. Ibarat sapu lidi, jika hanya sebiji, lidi tidak bisa digunakan untuk nyapu. Begitupun lidi yang berjumlah banyak tapi tidak diikat, juga tidak dapat digunakan untuk menyapu.

Mari Tak Hafal Pancasila

Jika bicara Pancasila, teramat luas jangkauannya sebab Pancasila mengandung nilai yang sejatinya mudah dilakukan tapi sangat sulit dilakoni karena menyangkut ego. Seperti penggalan syair dari Mbah Sujiwo Tejo yang kurang lebih begini:

Mari kita tak hafal Pancasila, sebagaimana banyak orang tak hafal rumus kimia oksigen,
tetapi saat menghirup oksigen

Mari kita tak hafal Pancasila, daripada kita hafal nama-nama kucing tetangga, tapi tak tahu ketika kucing itu mangkrak lalu mati lantaran kurang makanan

Mari kita tak hafal Pancasila, kalau itu berarti kita selalu menghafal sakit hati kita kepada orang-orang yang menyakiti kita

Penampilan budayawan nyentrik dalam persamuhan membiuskan aura adem pada masing-masing jiwa. Setiap kata, setiap jeda, setiap kalimat pada Pancasila dibedah hingga merobekkan tabu.

Namun dari semua rangkaian kegiatan Persamuhan Nasional Pendidik Pancasila di Surabaya, ada lirik humanis yang diciptakan oleh R.M Sosrokartono dan dilagukan indah oleh Mbak Tejo berjudul Sugih Tanpo Bondo.

Saya kasih liriknya ya, untuk lagunya nonton saja di YouTube. Yang pasti pesan dari lagu berbahasa Jawa ini mengejarkan kesederhanaan. Semoga tulisan ini menambah inspirasi kehidupan bagi kita semua, Amiin..

Sugih tanpo bondo
Digdoyo tanpo aji
Trimah mawi pasrah
Sepi pamrih tebih ajrih

Langgeng
Tanpo susah, tanpo seneng
Anteng mantheng
Sugeng jeneng

Salam Pancasila!

5 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.