Balai Pemuda Surabaya
Cerita Yuni,  Piknik

Rekreasi ke Alun-Alun Surabaya: Menyusuri Balai Pemuda ‘De Simpangsche Societeit’

Pesona Balai Pemuda memang tak pernah mati, apalagi sekarang sudah berubah nama menjadi Alun-alun Surabaya. Praktis kawasan ini disulap jadi destinasi menggiurkan. Tapi tau nggak sih kalau dulunya orang Eropa juga suka kongkow di tempat yang mereka sebut De Simpangsche Societeit ini?

Gedung Cagar Budaya Balai Pemuda

Setiap melintas di jalan Gubernur Suryo mata saya selalu terpikat dengan bangunan eksotik bergaya ekletisisme, yaitu campuran antara neo gothic, renaissance dan klasika romanika. Susah beut nyebutnya, bagi saya apapun istilahnya, menurut saya kubahnya mirip sanggul pengantin perempuan Jogja, hehe..

Beberapa hari lalu kegabutan saya membawanya ke mari. Perjalanan iseng namun harus berubah serius ketika mendapati gedung Grahadi ada gawe besar sampai dipasang tenda di tengah jalan. Muter otak, akhirnya saya putuskan mengambil arah kiri menuju Genteng. Oh, jangan tanya senewennya saya, perjalanannya tinggal sak srutan, tapi harus muter lagi lewat Balai Kota – Monkasel – Delta Plaza – barulah sampai ke Jalan Yos Sudarso.

Tau gitu tadi lewat Ngagel.. Kebanyakan gaya sih pakai muter ke Tunjungan!

Rekreasi ke Alun-Alun Surabaya

Alun-alun Surabaya

Usai direvitalisasi, baru kemarin saya masuk ke dalam Alun-alun Surabaya. Kalau bukan karena pameran Wayang Srimulat mungkin saya nggak akan buru-buru datang ke mari. Ternyata beneran cakep ya!

Alun-alun Surabaya ditata sedemikian rupa dan sukses menarik warga berkunjung. Ide menjadikan lokasi ini sebagai destinasi diterapkan maksimal oleh Pemkot Surabaya. Ada parkiran motornya, perpustakaan kota, halaman luas untuk berlari anak-anak, dan spot yang paling penting adalah area bawah tanah yang digunakan untuk memajang karya seni.

Ketika datang, suasana tak begitu ramai. Oleh petugas saya diarahkan untuk scan Peduli Lindungi dulu. Sial, ternyata di marketplace sudah tak menemukan aplikasinya lagi. Lama saya menggulirkan layar HP di depan petugas, syukurlah kemudian dipersilakan masuk secara ‘cuma-cuma’

Masuknya gratis, petugas nggak minta saya nunjukin bukti reservasi tiket juga. Mungkin pengunjung gak banyak kali ya. Konon untuk masuk ke Alun-alun Surabaya pengunjung disarankan pesan tiket online di tiketwisata.surabaya.go.id.

Rekreasi di Alun-alun Surabaya

Suasana ruangan bawah tanah cukup nyaman. ACnya adem, di dalamnya ada tangga untuk duduk-duduk. Menuju ke bawah ada akses eskalatornya, cuman mati satu. Naiknya, OKE, pas turun kaki kudu yang bergerak. Interiornya asik, lumayan buat isi-isian feed, sayang sinyal provider tak terjangkau di koneksi saya. Maksud hati ingin upload story jadi urung.

Saat asik keliling, tiba-tiba ada petugas menyuruh saya dan semua pengunjung agar meninggalkan ruangan dengan alasan istirahat. Saya buru-buru mengecek jam di HP. Setengah 12 kurang 5 menit, dan kami diperbolehkan kembali lagi setengah satu.

Hmm, okeh. Dalam hati setengah kecewa, memangnya kenapa dengan jam istirahat? Kan petugasnya banyak. Apakah sulit mengatur shift, setidaknya tidak sampai mengusir pengunjung.

Jejak Cagar Budaya Balai Pemuda

Destinasi wisata Surabaya

Dalam ‘pengusiran’, saya memanfaatkan waktu menikmati bangunan cagar budaya Balai Pemuda. Tembok putih berstruktur garis horizontal yang dikombinasikan pintu melengkung seakan melemparkan diri ini ke masa lampau.

Saking indahnya, di beberapa sudut tampak muda-mudi mengambil gambar dengan beraneka ragam gaya. Sinar matahari yang menyorot sebagian lantai selasar tak mengurangi semangat mereka mengabadikan diri.

Sebetulnya ingin minta tolong mereka fotoin 1-2 jepretan, tapi kok malu. Saya gak bisa bergaya, melihat pose mereka di depan kamera saya merasa insekyur duluan, haha..

Senang sekali lihat anak muda menjadikan Balai Pemuda sebagai tempat rekreasi. Itu artinya pendirian gedung oleh kolonial tahun 1907 sampai hari ini berhasil sesuai fungsinya.

Lelah muter di luaran, saya mencari bangku di area yang sejuk untuk buka-buka HP. Baru mau ngecek notif, mata saya tertuju pada sebuah lorong dengan beberapa anak tangga menurun menuju ke sebuah pintu. Pintu kaca berbingkai kayu yang cukup lebar namun dalam posisi terkunci

Rekreasi ke Balai Pemuda

Dibalik pintu tersebut ada ruangan dengan pencahayaan matahari yang cukup terang. Ruangannya kosong aja, hanya tampak atap transparan, pintu-pintu tertutup, dan pilar-pilar membentuk segi delapan. Menurut saya tiangnya unik. Pilar besi berdiameter kecil namun sanggup menyangga atap kubah. Di ballroom inilah dulu Meneer dan Mevrouw menghabiskan waktu bersenang-senang, berpesta sambil berdansa.

De Simpangsche Societeit tempat Kongkownya bangsa Eropa

Cangkir De Simpangsche Societit Soerabaia
Koleksi makan De Simpangsche Societit di Museum Surabaya

Ketika Indonesia masih dihuni orang kulit putih, De Simpangsche Societeit hanya boleh digunakan oleh bangsa Eropa. Pribumi dilarang keras masuk kecuali para bangsawan yang memiliki jabatan tinggi.

Membayangkan betapa eksklusifnya jalan Gubernuran pada waktu itu, ditambah kedai es krim Zangrandi yang masih berdiri eksis sampai sekarang. Bisa dikatakan gedung ini zaman dahulu jadi tempat favorit, udahlah posisi gedung di sudut jalan tepat berada di 4 simpang jalan yang dikenal dengan sebutan Simpangstrat

Ballroom De Simpangsche Societit Surabaya

Seiring perubahan zaman yang diikuti hengkangnya Belanda dari Indonesia, gedung De Simpangsche Societeit yang dibangun oleh arsitek bernama Westmaes tetap dijadikan sebagai lokasi pikniknya pendatang Jepang.

Jika Belanda memanfaatkan De Simpangsche Societeit buat cangkruk sambil main bowling, bagi orang Jepang lokasi ini dijadikan tempat indah-indahan bahkan melegalkan prostitusi.

Lalu sebagai tempat pesta, seperti apa jejak kemewahan De Simpangsche Societeit?

Saat mengunjungi Museum Surabaya di Siola, saya mendapati barang-barang peninggalan De Simpangsche Societeit masih tersimpan dengan baik. Furniture seperti meja – kursi, piano, lemari makan, hingga cermin dinding yang semuanya terbuat dari kayu mahal masih tampak sempurna. Catnya masih bagus dengan pernis yang mengkilap.

Furniture peninggalan De Simpangche Societit

Diantara barang-barang itu ada baki untuk menyajikan makanan, piring, gelas, sendok/garpu, juga cangkir dengan logo De Simpangsche Societeit. Mungkin dulu piring makan berlogo ini dapat meningkatkan nafsu makan, tapi buat saya sudah cukup nikmat makan menggunakan piring bertuliskan Sedaap dan minum sambil membaca Nuvo.

Jadi, kapan kalian ngajak aku rekreasi lagi?

6 Comments

  • HM Zwan

    Sekali lewat sini aku mbk, kapan hari pas kesasar wkkwkwk…apik ya tibak’e, pingin main kesini kapan-kapan. Ohya mbk, parkir kendaraan roda 4 dimana ya. Agak takut kalo naik mobil pelan-pelan disitu takut dibel motor belakang wkwkwk

  • Sari

    Kok bisa gratis mbak? Hari tertentu atau emang terserah petugasnya, kalau sepi gratis, hihi… Kalau ke sini, mending malam atau siang sih, katanya kalau malam lebih bagus. Tapi mending aku diajak mbak yun, jalan-jalan

  • tukang jalan jajan

    Alun ALun dimana mana emang desainnya kece banget apalagi kota kota besar di Indonesia yang memiliki bangsawan londo cukup banyak. Paling tidak tersedia tempat makan dan dansa serta tempat kumpul para sosialita dan pastinya banyak sejarah dan cerita yang tersimpan disana dan seru untuk di ulik

  • Uniek Kaswarganti

    Kadang nek dipikir-pikir miris ya mba saat merunut sejarah gini. Gedung apike koyok ngene, dibangun di atas bumi Nusantara, tapi orang kita sendiri ga boleh menginjakkan kaki di situ. Rasane kudu misuhi wong Londo tenan kok. *kok malah esmosi

    Suk kapan2 klo dolan ke Surabaya ajakin aku ke situ lah mba. Mau mbayangin betapa romantisnya nonik dan sinyo berdansa di ruang dekat pintu kayu itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *