asuransi kesehatan
Cerita Yuni,  Keluarga

Rawat Inap Nggak Punya Asuransi? Nasib!

“Karena nggak punya asuransi, Ibunya dirawat sebagai pasien umum ya, Mbak” ucap petugas Rumah Sakit seraya menyodorkan dokumen rawat inap.

Ini adalah pengalaman pertama saya ke rumah sakit sebagai penanggung jawab pasien rawat inap. Di satu sisi saya merasa lega karena Ibuk telah ditangani dokter saraf, di sisi lain saya harus menyiapkan dana perawatan.

“Asuransi BPJS aja masak nggak punya mbak?” Petugas RS masih gak yakin dengan jawaban saya.

Dengan muka meringis saya jawab, “iya mbak, gak ada”

Saat itu saya merasa gemes pada diri sendiri, kenapa nggak dari kemarin-kemarin daftar asuransi kesehatan.

Mbak pelayanan RS bahkan memberikan info kalau persyaratan memiliki BPJS saat ini mudah sekali hanya dengan menyerahkan persyaratan KTP, KSK, buku tabungan, 2-3 hari kartunya bisa langsung jadi. Tapi memang untuk aktivasinya butuh waktu 14 hari.

Rumah Sakit

Rawat Inap Nggak Punya Asuransi

Sudah disampaikan berkali-kali oleh financial planner bahwa keberadaan asuransi itu sangat penting terutama buat perlindungan diri dan keluarga kalau terjadi apa-apa dalam hidup. Ibaratnya sedia payung sebelum hujan. Tapi gimana ya, biaya premi asuransi kan tinggi, saya masih mikir untuk mengajukannya.

Bahkan ketika Pemerintah mulai mewajibkan tiap keluarga Indonesia harus memiliki BPJS, Kartu Sehat, KIS, atau apalah, saya juga belum tergerak untuk mendaftarnya. “Opo jare nanti ajalah”(apa kata nanti). Selalu begitu pemikiran saya.

Benarlah, pengalaman mahal harganya, gara-gara tak punya asuransi kesehatan, saya harus membayar biaya perawatan Ibuk di Rumah Sakit pakai uang tabungan. Padahal, andai saja punya asuransi, beban pasien dan keluarganya nggak akan dobel-dobel.

Satu hal yang paling saya syukuri, kami tidak bingung mencari utang-utangan untuk bayar RS. Begitupula dengan pihak rumah sakit, mereka perhatian banget pada kami hingga Ibuk selesai diopname. Mungkin karena di RS jarang ada pasien umum, ya, di sana saya dihapal banget lho sama perawat dan dan staf. Tiap ketemu nyapanya, “Oh ini mbak yang Ibunya pasien umum, ya?”

Perbedaan Pasien Umum dan Asuransi

Derita menjadi pasien umum itu berat banget. Benar-benar harus siap uang bila sewaktu-waktu ada penanganan cepat seperti beli obat suntik, tebus resep, dan lain-lain.

Suatu malam, perawat memberitau saya bahwa ada obat yang harus dibeli saat itu juga. Saya yang lagi enak-enaknya tidur otomatis harus ke apotek untuk menebus resep.

Tapi karena pasien umum, sebelum menuju apotek, saya harus ke kasir dulu membayar biaya obatnya. Setelah dari kasir, baru menyerahkan resep dan bukti bayarnya ke apotek. Ribet kan? Apalagi jarak loket satu dengan yang lain jauh-jauhan. Udah nunggu kasir lama, nunggu obat disiapkan juga lama. Bayangkan kalau pasien butuh obat cepetan, dan kitanya nggak siap uang tunai. Malam-malam kudu muter deh nyari ATM, hayyah..

Beda banget dengan pasien dengan perlindungan asuransi, mereka cukup mengumpulkan resep lalu membubuhkan tanda tangan. Nggak pake acara antri di kasir dulu.

Pengalaman yang sungguh melelahkan..

Rawat Inap dengan asuransi

Rekomendasi Memiliki Asuransi

Setelah dirawat 5 hari, dokter memperbolehkan Ibuk pulang. Ditengah kebahagiaan itu, perawat datang meminta saya untuk menyelesaikan administrasinya terlebih dahulu. Saya melenggang aja ke kasir bawa kartu ATM, berharap Rumah Sakit punya mesin EDC untuk penyelesaian administrasi.

“Mohon maaf, Mbak, kami hanya menerima uang tunai” kata mbak kasir. Duh biyuungg…

Biar cepet selesai, akhirnya saya nyari pinjaman motor untuk pergi ke ATM terdekat. Hasilnya, saya malah muter-muter ngelilingi kawasan Ketintang.

Setelah membereskan urusan administrasi, mereka rame-rame merekomendasikan saya supaya segera memiliki asuransi untuk Ibuk. Mungkin mereka kasihan melihat saya riwa-riwa dengan rute: kasir – apotek – kasir – apotek

“Buat BPJS aja lho Mbak biar nggak repot, soalnya habis ini Ibunya harus kontrol rutin juga”

Begitulah, sepulang dari Rumah Sakit, selang sehari, saya meluncur ke kantor BPJS di Surabaya untuk mendaftarkan Bapak Ibu serta Saya dan Suami.

Ternyata benar, punya perlindungan itu bikin nyaman. Mau ke Puskesmas, kontrol rutin, atau ke UGD Rumah Sakit, tinggal nunjukin kartunya aja. Tapi biar sudah punya asuransi, kita tetep punya payung lain. Apalagi kalau bukan dana darurat? itu lebih penting daripada tabungan investasi!

One Comment

  • ainun

    betul mbak dana darurat perlu banget untuk kondisi darurat seperti sakit
    dan mempunyai BPJS untuk saat ini juga perlu mbak.
    aku dulu punya asuransi + investasi atau bahasa lainnya unitlink. tapi karena nggak pernah claim dan denger denger susah ketika waktu claim, jadi aku tutup saja

Leave a Reply

Your email address will not be published.