blog
Cerita Yuni

Ngeblog karena dukungan Papa Mertua

Jika ditanya, siapa sosok yang memberikanmu inspirasi membuat blog? Saya akan menjawab Mbah Google. Berkat beliau saya terobsesi agar nama saya diketahui orang. Minimal ketika ada yang mengetik Yuni di mesin pencarian, yang muncul bukan semata-mata sosok Yuni Shara, hehe..

Dan jika pun tetap ditanya sosok, saya akan menceritakan sedikit kejadian masa lalu, anggap saja balas dendam kepada seseorang, dan meyakinkan diri bahwa suatu hari nanti saya pasti bisa punya blog sendiri!

Sebut saja Fulan. Dia seorang anggota komunitas blog di Surabaya yang jaya pada masanya. Setau saya Fulan memiliki jaringan yang banyak dan saya memandangnya sebagai blogger senior. Apalagi pada saat itu blognya si Fulan sudah dengan embel-embel dotcom. Siapa coba yang nggak ngiler?

Lebih keren lagi, ketika saya membuka halaman webnya, header foto Fulan begitu tampak narsis. Betapa saat itu narsistik hanya dipunyai oleh artis, model, dan segala yang berhubungan dengan seni? Sedangkan Fulan hanya manusia biasa, bagaimana tidak hebat kalau foto dan namanya terpampang nyata di halaman google!

Suatu malam, di sebuah acara, saya melihat sosok Fulan dari kejauhan sedang berjalan menuju parkiran. Saya tergopoh-gopoh mengejarnya dengan harapan bisa berbincang sedikit saja tentang blog dan seluk beluknya.
Setengah ngos-ngosan, saya nyalakan nyali berhadapan dengannya dan bertanya polos, “Mas Ful, aku sudah lihat blog sampean. Bagus. Ajari aku ngeblog po’o..”

Diluar dugaan, ekspresi Fulan jauh dari yang saya harapkan. Setelah saya bicara, Fulan menyalakan motornya dan hanya melihat saya sekilas sambil berkata singkat, “Ah, ngeblog itu gampaang. Masa nggak bisa..” Breenggggg, kemudian sekonyong-konyong dia ngilang sama motornya.

“Sialan!” saya mengumpat singkat. Gitu amat jadi manusia.

Saya menyadari saya anak bawang. Harap diketahui, tahun 2007 saya masih baru kenalan dengan internet. Baru punya email, buka browser pun yang dibuka nggak jauh-jauh dari halaman detikcom. Giliran saya bertanya, dijawabnya gampang.

Baiqh. Tidak apa-apa. Saya nge-pukpuk diri sendiri sekaligus membuang rasa kecewa.

Ngeblog karena dukungan Papa Mertua

Saat mudik suatu hari, Papa mertua memanggil saya agar mendekat ke layar komputernya. “Yun, kamu bikin blog seperti ini bagus lho, Yun”

Dengan jujur saya berkata, “Iya Pa, saya juga ingin punya blog tapi nggak tau bagaimana cara mulainya”. Curahan hati saya dijawab agar saya membeli buku tentang ngeblog yang pada saat itu memang lagi booming. Mencari buku ngeblog model apa saja, baik praktek maupun teori, di Gramedia sak bajeg!

“Tapi nulisnya tentang apa, Pa?”
“Kamu nulis tentang kehidupanmu aja, Yun” jawab Papa.

Baiklah, karena saya benar-benar otodidak, segala masukan saya jalani. Sesuai anjuran Papa, pulang mudik, saya bergegas ke toko buku dan membeli buku goBlog. Saya ingat betul warna sampulnya merah. Lupa siapa nama pengarangnya.

Dengan buku goblog, saya praktek langsung pelan-pelan. Dan ternyata memang gampang. Benar kata Fulan. Setelah blog saya jadi, kebingungan saya selanjutnya adalah, “MAU NULIS APA?”

Selama rentang 1 tahun saya benar-benar bingung, blog ini mau diapakan? Alih-alih ngeblog, saya malah ingin menulis novel saja, haha.. kebetulan pada saat itu novel Ayat-Ayat Cinta lagi ramai dan saya tertarik dengan gaya penulisan Habiburrahman El Shiraj. Rupanya menulis memang tak semudah menjejerkan huruf. Yang paling parah, saya teramat sulit memperlakukan panggilan Saya, Aku, Anda. Juga panggilan Kita dan Kami. Sehingga saya belajar lagi mengenai sudut pandang dalam kepenulisan sekaligus membuat ide menulis blog yang enak dibaca.

Dan suatu Ketika, saya berkenalan dengan Blogdetik. Iseng-iseng saya membuat akun di sana dan mencoba menulis 1 artikel pendek. Di sini mulailah perjalanan ngeblog saya dimulai. Entah rejeki, entah bagaimana, usai mempublish 1 artikel yang berjudul gorengan di blogdetik, seorang adminnya menghubungi saya melalui email dan meminta alamat lengkap.

Jeng, jeng.. saya mendapat kiriman kaos blogdetik, notes, bolpoin, dan kalender meja!

Itulah hadiah ngeblog pertama saya. Sejak saat itu, saya jadi keranjingan menulis dan Alhamdulillah bertahan sampai sekarang. Ternyata membuat blog memang gampang, TAPI.. ada tapinya… harus konsisten!

Namun lebih penting dari itu, saya membuka peluang siapa saja yang mendukung karier blog saya berkembang. Seperti blogger senior Kang Yayat yang menginspirasi membuat domain dan segala yang berhubungan dengan kata kunci, theme, dan lain-lain

Bertemu si Fulan lagi

Setelah kecewa dengan sikap Fulan, saya agak menarik diri. Kalau ketemu Fulan saya agak antipati. Bukan benci sih, tapi gak seneng aja, hehe.. Kebetulan suami kenal Fulan, beberapa kali kami sering bertemu. Fulan juga sudah menanggalkan blognya sejak lama.

Hingga suatu ketika, dalam 1 meja, Fulan memanggil nama saya dan bilang begini, “Yun masih ngeblog ya. Mbok ya ajari istriku ngeblog biar kayak kamu jadi pekerjaan utama”

Yah, seperti yang kalian tau bagaimana sikap saya kalau sudah keluar sebelnya. Saya jawab begini, “Nggak ah, males. Ngeblog gitu aja nggak bisa”

Dan si Fulan pun merengek, mbok ojo ngonooo….

Dalam hati saya tertawa, haha..

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.