Keluarga

Pengalaman Rapid Test di Lab Klinik Kimia Farma Surabaya

Pengalaman Rapid Test di Lab Klinik Kimia Farma Surabaya – Sebulan lalu saya menjalani tes rapid Covid-19 untuk keperluan bepergian ke Banjarmasin. Sempat bingung mencari tempat layanan yang harganya terjangkau, sebab info yang saya dengar, Pemerintah telah menurunkan tarif tes memutus rantai virus ini. Karena pingin yang murah, saya banyak mencari tau dong melalui mesin pencarian.

Tidak mudah mendapatkan informasi biaya rapid test di google, tapi ada laman yang memberitakan tarif di stasiun adalah yang paling murah. Hanya Rp. 85.000,-. Karena murah banget saya semangat berangkat ke Stasiun Gubeng. Tapi ternyata, rapid test di stasiun harus menunjukkan pembelian tiket. Duh!

Lalu ada teman yang menyarankan supaya saya melakukan Rapid di Laboratorium Klinik Kimia Farma yang konon harganya lebih murah dari klinik Layanan Rapid Test Covid-19 di Surabaya lainnya.

Pengalaman Rapid Test di Lab Klinik Kimia Farma Surabaya

Klinik Kimia Farma Surabaya

Sesuai rekomendasi, tanggal 5 September 2020 saya pergi ke Apotek Kimia Farma yang di Jalan Darmo depan Taman Bungkul. Sudah PD aja masuk gitu, ternyata bukan di situ tempatnya. Tapi di Apotek Kimia Farma Darmo yang ada Klinik Pratama-nya di pertigaan Pandegiling!

Ya udah, saya keluar lagi, belum-belum udah rugi bayar parkir, wkwk.. (biaya parkir aja dibahas :D)

Tidak sulit mencari Klinik Pratama Kimia Farma, selain lokasinya di pojok jalan, area parkirnya juga luas. Di sana ada 2 gedung, satu buat apotek, satu lagi buat LabKlinik.

Sebelum masuk LabKlinik, seperti biasa ada petugas yang memberikan nomer antrian di depan pintu masuk sekaligus ngecek suhu tubuh. Oleh petugas diinformasikan juga bahwa biaya Rapid Test di Klinik Kimia Farma sebesar Rp. 150.000,- dan hasil tesnya bisa ditunggu kurang lebih 1 jam.

Menurut saya 150 ribu itu murah, ada Klinik di daerah Tambaksari yang menawarkan tarif Rp. 160.000,- selisih 10 ribu aja sih, tapi kalau 2 orang kan hematnya jadi 20 rebuuu, hehe..

Layanan Petugas Klinik Pratama Kimia Farma

Bagus nggak sih layanan petugas klinik di Kimia Farma? Hmm, kalau boleh saya bilang sih biasa aja, malah cenderung sedikit kurang ramah. Seandainya ada rating antara 1-10, saya ngasih angkanya 6 aja. Maaf ya, Qaqaaqqqq..

LabKlinik Kimia Farma Surabaya

Sebetulnya tuh pegawainya muda-muda, tapi nggak tau kenapa mereka kalau ngomong sama pasien kurang kalem aja nadanya. Saya tau mereka nggak lagi marah, tapi nadanya ngegas.

Jadi waktu itu meja registrasi kosong agak lama. Kami kira petugas sedang menanti pasien berikutnya, wong saya lihat mbak-mbaknya nggak lagi sibuk. Saya pun inisiatif maju. Belum juga saya mengeluarkan suara, tanpa dinyana, 2-3 orang kompak bilang gini, “Nanti dipanggil ya!” dengan suara keras. Dan saya pun reflek jawab setengah menggerutu, “Iyo, iyo mbak, biasa ae po’o, gak usah ngegas”

Lha siapa yang gak kaget dibegitukan. Iya tau ini Surabaya, tempatnya orang-orang keras. Tapi yo nggak bareng gitu kalau ngomong, kan kaget saya, apalagi sifatnya layanan. Itu aja sih kejadian gak nyamannya, sisanya puas-lah. Puas banget, malah.

Alur layanannya, setelah dipanggil, petugas meminta KTP. Lalu ada formulir yang harus diisi YA/TIDAK dengan pertanyaan seputar:

Gejala: Riwayat demam >= 38 derajat selama 14 haru terakhir, batuk/pilek, nyeri tenggorokan, dan sesak nafas.

Faktor Resiko: Pernah melakukan perjalanan selama 14 hari terakhir, pernah kontak erat dengan pasien positif Covid-19, bekerja di lingkungan yang sudah terpapar Covid-19

Selanjutnya pasien menyerahkan biaya Rapid Test dan kembali menunggu panggilan.

Seperti halnya cek darah, petugas hanya mengambil sample darah di jari saya. Cara pengambilannya santai, seperti nggak lagi mau nyuntik gitu. Untuk bagian ini saya lumayan puas. Setelah pengambilan darah, kami tinggal menunggu hasil tes.

Nah bagian ini yang bikin deg-degan. Saat membuka amplop, rasanya seperti melihat hasil pengumuman kelulusan! Alhamdulillah Non Reaktif.

Masa berlaku Surat Rapid

Hasil Rapid Tes Kimia Farma

Surat Rapid untuk bepergian berlakunya 14 hari. Jadi sebisa mungkin perginya tidak lebih 2 minggu, kalau lebih dari durasi tersebut berarti harus tes rapid lagi.

Sebaiknya beli tiket dulu apa Tes Rapid dulu?

Banyak teman yang bertanya seperti ini. Jawaban saya tergantung keyakinan. Kalau saya tes rapid dulu, baru beli tiket. Sayang kalau (jangan sampai) hasilnya reaktif dan tiket yang sudah dibeli hangus. Dan saran saya rapid tesnya H-1 sebelum jadwal keberangkatan biar nggak pontang-panting dikejar waktu. Tapi banyak juga kok yang beli tiket dulu baru rapid.

Oya, ada maskapai yang harga tiketnya sudah include biaya rapid, ya. Jadi pastikan klinik mana yang telah bekerjasama dengan maskapai tersebut biar gak salah masuk klinik. Udah ngeyel ternyata harus bayar lagi.

Begitulah pengalaman Rapid Test di Lab Klinik Kimia Farma Surabaya sebagai dokumen pelengkap perjalanan.
Pokoknya sebelum bepergian jangan rapid dadakan, resikonya tiket hangus!

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.