Buku

Giveaway Novel Lampau

Setelah kemarin saya mengupas novel Lampau karya Sandi Firly dan mewawancarai langsung penulisnya kini saatnya bagi-bagi novel Lampau.

Akan ada 1 eksemplar buku lampau dari Gagas Media yang diberikan kepada 1 teman beruntung. Syaratnya gak susah kok, simak berikut ini:

  1. Follow twitter @Gagasmedia. Kalau mau memfollow twitter saya juga boleh di @yuninukti (ini gak wajib, difollow Alhamdulillah, gak difollow naudzubillah hehe)
  2. Baca review novel lampau di sini dan wawancaranya di sini
  3. Jawab pertanyaan ini:
    Apa yang teman-teman pikirkan saat membaca kata lampau
  4. Jawaban ditulis di kolom komentar ini dengan format:
    Nama:
    Akun twitter:
    Jawaban:
  5. Dari semua jawaban yang masuk akan dipilih yang paling unik dan menarik untuk mendapatkan 1 novel lampau dari Gagas Media.
    Supaya agak lama, jawaban saya tunggu hingga tanggal 15 November 2013 ya..

    Jadi, jangan sampai ketinggalan ya, berikan jawabanmu seunik dan semenarik mungkin

46 thoughts on “Giveaway Novel Lampau

  1. Ibu semakin hebat
    Banyak kemajuan, sudah jago review buku..maju terus

    Dengan bangga saya mengundang sahabat untuk mengikuti Kontes Unggulan Proyek Monumental Tahun 2014
    Silahkan cek syarat dan ketentuannya

    Salam hangat dari Surabaya

  2. Nama:RAHMAH
    Akun twitter:@amma_chemist
    Jawaban:
    “Lampau” mengingatkan saya pada salah satu jenis tenses yang ada dalam bahasa Inggris dan sering diajarkan oleh mendiang Ayah. Beliau tidak pernah mengatakan “masa lalu” tetapi “masa lampau”.
    Sampai detik ini Alhamdulillah masih bisa mengaplikasikan tenses tersebut ketika menulis artikel di blog berbahasa asing 😀

    Sukses GA-nya mbak Yuni 😀

  3. Nama:Melly
    Akun twitter: @melfeyadin
    Jawaban:membaca kata lampau, yg terbaca di benak saya adalah sejarah, karena masa lalu ada sejarah, sejarah yang ga bisa dilupain gitu aja, karena biasanya masa lalu atau masa lampau yang sudah kita lewatin itu penuh dengan cerita yang berkesan.

  4. Assekkk ada GA ^_^
    Nama:Hanna HM Zwan
    Akun twitter:@hmzwan
    Jawaban:Kalo denger atau baca kata LAMPAU, yang ada dipikiran saya itu kok Jadul, Jaman dahulu,Yang dulu-dulu, pokoknya yang bertahun-tahun deh “istilahnya” hehehe…

    1. Dan kalau diibaratkan sebuah cetakan foto kertasnya menguning, warnanya hitam putih trus ada baret-baretnya 😀
      Trima kasih sudah ikutan GA saya Mbak 🙂

  5. Nama: sari widiarti
    Akun twitter: @MentionSari
    Jawaban: kata lampau sih, yang ada dipikiran, masa dimana masih sekolah dasar pakai seragam putih merah, masih lugu bin culun gitu. Eh, maksudnya masih polos 😀

    1. Apalagi kalau masa lampau itu teramat manis, sayang untuk dihalau. Semakin dihalau nanti malah bikin galau 😀
      Trima Kasih sudah ikutan GA saya 🙂

  6. Nama : Dian Mayasari Azis
    Akun Twitter : @dianmayy
    Jawaban : Lampau pastinya identik dengan masa lalu. Masa yang telah lewat. Masa yang telah usai. Lampau pun identik dengan kenangan.

  7. Nama:Dian S
    Akun twitter:@DeeLaluna
    Jawaban:
    Lampau, dia yang telah berlalu dari hidupku, dia yang menjadi bayang-bayang di bagian lain hatiku, dia yang dikenang dan membuat rindu, atau dia yang ingin dilupakan karena meninggalkan jejak lara.
    Lampau, ada ribuan rasa yang ditinggalkannya. 🙂

  8. Nama: Rizka
    Twitter: @rizka2701

    Setiap membaca masa lampau. Saya selalu teringat dengan kata Bill Keane “Yesterday is history, tomorrow is a mystery, today is a gift of God, which is why we call it the present”.
    Masa lampau adalah sejarah, esok adalah misteri, dan hari ini adalah rahmat dari Tuhan.
    Saya termasuk orang yang selalu mengingat sejarah masa lampau. Karena sejarah dari masa lampau dapat memberikan pelajaran bagi Saya tentang artinya kehidupan dan waktu.
    Dalam kehidupan akan selalu ada kesan yang berbuah manis dan pahit. Jika kehidupannya berbuah manis, maka Saya tidak hanya bahagia tapi Saya juga akan mengambil hikmah/pelajaran dari kehidupan tsb. Namun jika kehidupannya pahit, maka Saya tidak akan larut sedih tapi berusaha mengambil hikmah supaya menjadi “pressure” bagi Saya untuk terus semangat dan maju.
    Masa lampau juga memberikan pelajaran kepada Saya bahwa Tuhan memberikan waktu itu singkat. Waktu itu akan terus berjalan. Saya harus bisa menjalani waktu dengan beribadah/berperilaku dengan sebaik-baiknya. Sepaya album masa lampau saya berisi dengan hal2 yang bermanfaat dan berguna bagi orang lain.

  9. Nama : Dian. S
    Twitter : @DeeLaluna
    Lampau, sekelebat waktu yang berlalu. Dia pergi meninggalkan kenangan dan rindu.
    Kadang, lampau meninggalkan jejak luka yang ingin dilupakan. Tapi, kadang lampau membawa secuil manis yang selalu ingin dikenang.
    Ah, lampau…terasa sederhana, tapi maknanya sungguh
    dalam bagi manusia yang tak rela dia telah menjadi masa lampaunya.

    Terimakasih GAnya Mbak! 😀

    1. Jejak luka yang terkadang membuat sakit namun harus dan harus ditelan dengan rasa manis

      Trima kasih sudah ikutan GA saya 🙂

  10. Nama : M. A. Rizaldy
    Twitter : @hajimemimi

    Yang terlintas ketika mendengar kata LAMPAU adalah kenangan. Entah kenangan buruk atau manis, tetaplah sebuah kenangan itu tak bisa dilupakan.

    Kata Lampau/Lalu/Dulu atau apapun istilahnya adalah rekam jejak kehidupan yang telah kita tapaki. Rekam jejak yang sedikit banyak mempengaruhi menjadi seperti apa diri kita sekarang, lebih baik atau malah lebih buruk. Semua tergantung pada diri kita mau atau tidak mengambil pelajaran dari masa lampau.

    Thanks ya GAnya.. :))

    1. Segala kenangan yang terekam di masa lampau merupakan awal sebuah perubahan menjadi lebih baik dan dewasa
      Trima kasih sudah ikutan GA saya 🙂

  11. Nama: Ratri Anugrah
    Twitter: @imawesomenerd
    Jawaban:

    “Lampau” merujuk pada masa lalu. Hal yang melintas di kepala waktu baca kata itu adalah kejadian-kejadian yang berlangsung selama 20 tahun hidupku (ups ketahuan umur berapa). Aku ingat kota tempatku lahir dan mengenyam pendidikan sampai SD. Kota yang begitu asri, sepi, dan dingin. Aku ingat waktu duduk-duduk di ruang tamu sambil membaca buku waktu hujan turun di bulan puasa. Rasanya nyaman sekali. Aku ingat saat dimana aku berjuang sendiri di lingkungan yang baru, lingkungan yang jauh berbeda dari tempat asalku. Meski saat itu rasanya kecut, namun sekarang kalau dikenang jadi manis. Entah kenapa “lampau” selalu mengingatkanku pada hal-hal yang manis.

  12. Susi Lestari
    Twitter @lestari_zhi
    Kalau mendengar kata lampau yang ada dalam benak saya adalah “Sesuatu hal yang sudah berlangsung lama, sudah menjadi masa lalu.”

  13. ikutan ngramein ya mbaaa

    Nama : intan rawit
    twitter : @intanrawit
    jawaban
    Ketika mendengar kata LAMPAU, yang terlintas di benak saya adalah sejarah, kenangan, kejadian atau peristiwa yang telah terjadi sebelumnya dalam kurun waktu yang cukup lama. Banyak yang terjadi di masa lampau yang tidak boleh dilupakan begitu saja seperti halnya sejarah, dan pelajaran-pelajaran bernilai yang dapat diambil dari kejadian yang sudah lampau agar menjadikan kita pribadi yang lebih baik di masa mendatang.

    1. Lampau ibarat buku diary yang jika dibuka dan dibaca membuat tertawa juga menangis 🙂
      Trima Kasih sudah ikutan GA saya 🙂

  14. Nama: Damae Wardani
    Twitter: @damae53
    Jawaban:

    “Yang terpikir olehku saat membaca kata “lampau”, adalah sebuah masa ketika kita main Sundamanda bersama-sama. Bermain kelereng, petak umpet, dan wayang-wayangan di halaman. Bermain dodolan (baca: jual beli) dan membuat gubug dari daun pisang bertiang kayu di pekarangan. Bermain masak-masakkan kue yang terbuat dari adonan tanah, di-oven di atas pawon (semacam tungku dari batu bata) dan dialasi seng bekas. Juga masa ketika kita asik bermain ular tangga, yang seringkali membuat kita lupa kapan mandi dan kapan makan.

    Aha, aku ingat. Kita juga sering bermain rumah-rumahan, terbuat dari gundukan pasir yang entah sudah ditiduri kucing berapa lama. Penghuninya terdiri dari gambar-gambar orang beraneka rupa, terbuat dari kertas, bisa diganti pakaiannya, dan bisa melakukan segala aktivitas sesuka kita. Dulu kita membelinya seharga 500 perak, dan itu sudah kita anggap mahal.

    Jika musim kemarau tiba, kita pasti ramai memperbincangkan layangan. Tak hanya anak kecil yang merengek minta receh untuk membelinya, banyak juga orang dewasa yang terkena demam layang-layang. Maka saat itu langit desa tampak cantik dengan segala bentuk layang-layang yang unik. Kalau sudah menerbangkan layangan dari sawah depan rumah itu, kita sering melamun dan berkhayal. Bahkan khayalanku sampai terbawa mimpi: aku terbang bersama layang-layang ke arah selatan. Dan kini barulah aku sadar: selatan-nya Indonesia adalah Australia. Apakah ini sebatas mimpi? Entahlah..

    Kata lampau juga mengingatkanku pada matamu, hidungmu, rambutmu, pipimu, gigimu, juga senyummu. Sebuah ingatan tentang kesempurnaan wajah, bak rembulan dibelah dua. Tak ada yang tak indah, tak ada yang tak menyenangkan untuk dipandang. Itulah romanmu.

    Sayang, kini kita terpisah ruang dan waktu. Aku pun tak yakin kau masih mengingatku, mengingat masa-masa lucu kita, mengingat segala kegembiraan dan kesedihan yang kita lewati bersama. Bahkan 3 kali kepulanganku, atau sejak 3 tahun lalu, aku tak menemukan lagi roman yang sama dengan romanmu.

    Kemana? Dan dimana? Aku sering dan selalu bertanya.

    Tak lagi kutemui permainan kelereng di halaman. Tak lagi kutemui layang-layang mengangkasa dengan (tak) bebasnya. Tak lagi kulihat dodol-dodolan di pekarangan. Tak juga kulihat anak-anak riang dengan pecahan genting di tangan, memainkan Sundamanda.

    Yang tersisa kini adalah warnet game online, playstation, dan sederet tongkrongan di tepi jalan. Yang kulihat kini hanyalah, anak-anak SMP kebut-kebutan di jalanan berlubang. Yang kutemui hari ini ialah, gadis-gadis berambut pirang dengan gadget keren di genggaman.

    Hingga jauh pandangku masih menyisakan tanya. Dimanakah gerangan dapat kulihat wajahmu, duhai bocah tampan berlesung pipi? Wajah yang dulu selalu membuat mataku tak terpejam kala tertawa bersama, bersepeda bersama, dan melakukan semua hal yang kita suka, bersama. Dimanakah wajah yang bagaikan bulan di belah dua (itu)?

    Sungguh, aku merindukan masa “lampau”ku.”

    nah lho, gak sadar kalau jawabannya bakal panjang begini, mbak 🙂 hehe

    1. Wkwk.. keren nih kalau dijadikan postingan blog 😀
      Membaca ini saya jadi teringat akan wafer Supermen, permen cicak warna-warni, mainan bongkar pasang, yang semuanya harga 100 rupiah 😀

      Trima kasih ya Mbak sudah ikutan GA ku 🙂

  15. Nama: Delta Kenda Ramadita
    Akun twitter: @DeltaYordani

    Jawaban:

    Lampau itu masa lalu, masa lalu yang tidak dapat kita ulang lagi kejadiannya, walaupun kita buat semirip mungkin, tetap saja tidak akan terulang lagi. Dari lampau juga kita dapat mengetahui,apakah hal itu baik atau buruk buat kedepnnya, dan apakah mesti kita perbaiki, atau hanya didiamkan seperti itu mengikuti alurnya 🙂

  16. Nama: Sabariah
    Akun twitter: @cabbyy_
    Jawaban: Lampau itu masa lalu yang biasanya masih dijadikan sekat untuk hidup seseorang. Sebagai sang motivator dan inspirator. Motivator : agar hidup lebih baik kedepannya, belajar dari masa lampau tersebut agar perbuatan buruknya tak diulangi lagi, dan perbuatan baiknya diteruskan. (Aduh kak ribet ini :D)

  17. Nama : M. A. Rizaldy
    Twitter : @hajimemimi
    Link share : https://twitter.com/hajimemimi/status/401296231697108992

    Yg pertama kali terlintas saat membaca kata LAMPAU adalah kenangan. Sebuah kenangan tetaplah tidak bisa dilupakan, entah itu kenangan manis atau buruk.

    Kata Lampau atau Dulu/Lalu atau apalah sebutannya adalah rekam jejak dalam kehidupan kita, yang sedikit banyak mempengaruhi menjadi seperti apa kita sekarang, menjadi lebih baik atau malah tambah buruk. Semua itu tergantung pada diri kita mau belajar dari masa lampau atau tidak.

    Ok, itu aja jawabanku. Thanks GAnya. Smoga aku beruntung.. 🙂

  18. Nama : Uniek Kaswarganti
    Twitter : @UniekTweety

    Jawaban :

    Lampau?? Untukku lampau itu lebih berarti ‘aku’. Ya, aku dengan segala yang pernah terjadi pada diriku. Aku dengan segala kebimbangan untuk memilih, sama dengan Ayuh yg bingung dalam memilih gadis berkepang dua atau gadis bermata teduh. Coba kalau ‘aku’ ini bukan ‘lampau’,tak kan lah ada kebimbangan macam ini. Lampau dan aku adalah satu kesatuan yg melekat sepanjang masa dan tak terpisahkan. Tak bisa kubergerak tanpa adanya masa lampau yg membangun semua kisi-kisi hidupku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *