Bisnis · Blogging · Jalan-jalan

Menelusuri jejak sejarah Perbankan di Surabaya dan mengenal fungsi LPS di Indonesia

Ketika melewati kawasan Jembatan Merah, Surabaya, ada gedung tua cantik yang selalu ingin saya foto, yaitu Gedung Bank MayBank. Gedung MayBank terletak di tikungan antara jalan Jembatan Merah dan Jalan Cendrawasih. Karena lokasinya di pojok, gedung ini terlihat sangat mencolok.

Melihat sekilas saja, bangunan bercat putih yang masih berdiri kokoh ini sudah terbaca bangunan lawas. Ciri utamanya terletak pada jendela-jendela mungil di keseluruhan bangunan serta jam dinding yang nempel di puncak bangunan.

Saya berhasil mengabadikan gambar ketika menunggui motor yang sedang diperbaiki karena bocor. Kebetulan ada tambal ban yang mangkal tepat di depan gedung ini.

Saat menunggu itu saya iseng browsing sejarah gedung ini. Lumayan buat ngisi waktu daripada melamun, hehe.. Dari referensi yang saya baca, Gedung Bank MayBank dulunya bernama Netherlands Spaarbank atau istilah Indonesianya Bank Tabungan Manfaat Umum.

Netherlands Spaarbank di bangun pada tahun 1914 dan fungsinya menggantikan kantor Bank Tabungan yang ada di jalan Embong Malang, Surabaya. Jika dihitung usia bangunan saat ini adalah 103 tahun. Wow! Gedung tua namun tampak ‘sehat’ karena dirawat baik. Sebagai apresiasi, gedung yang memiliki pintu masuk menjulang itu dijadikan sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Kota Surabaya.

Sebagai kawasan yang dihuni kebangsaan Eropa pada zaman dahulu, bentuk gedung ini Belanda banget. Arsiteknya saja kelahiran Belanda yang bernama Fritz Joseph Pinedo. Tak hanya gedung ini saja, hampir sepanjang jalan di sini bangunannya berbentuk kolonial.

Bank Tabungan Manfaat Umum dan cikal bakal perbankan di Indonesia

Berbicara fungsi Bank Tabungan Manfaat Umum yang telah di gagas pada masa sebelum kemerdekaan, sedikit banyak Indonesia telah merasakan manfaatnya, diantaranya belajar mengatur sistem keuangan sendiri.

Di awal-awal kemerdekaan, Bank di Indonesia diatur menurut kegiatan usahanya, seperti Bank Umum, Bank Pembangunan, Bank Tabungan, Bank Pasar, Bank Desa, Lumbung Desa, atau Bank Pegawai yang kemudian dipersempit menjadi 3 golongan saja, yakni Bank Sentral, Bank Umum dan Bank BPR dimana masing-masing telah diatur menurut fungsinya.

Saat ini perkembangan dunia perbankan telah meluas. Kegiatan Perbankan tak hanya sebagai pemenuh jasa transaksi keuangan saja tetapi setiap aspek kehidupan diupayakan bersentuhan dengan bank.

Recehan yang aman jika di Bank-kan

Saya jadi ingat dulu waktu SD, setiap murid diwajibkan menabung di Tabanas. Warna bukunya coklat, setorannya masih rendah, kalau gak salah 500 rupiah apa ya? lupa-lupa ingat :D. Betapa sejak dahulu masyarakat Indonesia sudah diajari kebiasaan menabung..

Kebiasaan Menabung dan Jaminan Simpanan di Bank

Keberadaan Bank dalam suatu negara sangatlah penting. Sebagai penghimpun dana masyarakat, Bank berupaya memelihara kestabilan ekonomi.

Menyadari pentingnya kesadaran menabung di Bank, sesuai Undang-Undang Republik Indonesia no. 24, Presiden mengesahkan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) pada tahun 2004.

Tugas-tugas LPS di Indonesia antara lain:
1. Merumuskan dan menetapkan kebijakan pelaksanaan penjaminan simpanan.
2. Melaksanakan penjaminan simpanan.
3. Merumuskan dan menetapkan kebijakan dalam rangka turut aktif memelihara stabilitas sistem perbankan.

Rekening yang disimpan akan ditanggung oleh LPS hingga nominal 2 Milyar per rekening!

Adanya Lembaga Penjamin Simpanan di Indonesia diharapkan nasabah merasa aman dan nyaman menyetorkan simpanannya ke Bank. Biar seru yuk tonton video berikut:

3 thoughts on “Menelusuri jejak sejarah Perbankan di Surabaya dan mengenal fungsi LPS di Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *