Ada apa di jl. Semarang

“Seandainya kamu jadi penulis, kamu mau bukumu dibeli orang tapi gak dapat royalti?”

Saya tersentak lalu diam. Ucapan suami saya benar. Saya terlalu naif menganggap sebuah hasil karya orang dengan harga murah.

**

Beberapa hari lalu ketika saya melewati Stasiun Pasar Turi, tiba-tiba saja saya ingin menghentikan laju kendaraan dan mampir disebuah deretan toko buku di jalan Semarang.

Jalan Semarang ini adalah pusatnya toko buku bekas di Surabaya. Namun saya hampir tidak pernah membeli buku disitu walaupun saya lihat banyak sekali lalu lalang orang yang keluar masuk di toko buku tersebut sambil mencari buku yang mereka inginkan.

Di deretan toko-toko buku tersebut bertumpuk-tumpuk buku bekas dengan aneka judul. Mulai buku pelajaran, komic, majalah, novel hingga skripsi.

Jajaran buku bekas di salah satu kios
Jajaran buku bekas di salah satu kios
Majalah dan komik bekas
Majalah dan komik bekas

Dari jajaran buku-buku itu saya tertarik dengan deretan buku yang tersampul rapi dan ditata secara berderet ala toko buku besar. Judul buku-buku itu menurut saya adalah buku best seller.

Saya ambil salah satu buku yang tidak bersampul. Saya perhatikan covernya berwarna agak gelap. Saya bolak-balik sampulnya memang sangat mirip dengan yang asli. Namun ketika saya melihat bagian dalam buku itu kualitas kertas serta tulisannya jauh berbeda dengan buku aslinya. Tapi yang pasti masih bisa terbaca..

“Wah menarik ini..” pikir saya.

Apalagi saat saya tanya harganya 3x lebih murah dari harga aslinya.

Dari hasil mampir itu saya mendapatkan beberapa buku. Tidak banyak sih, hanya beberapa. Maksudnya saya mendapatkan 3 buku yaitu 5 cm, 2, dan Kun Fayakuun 2 nya Ust. Yusuf Mansur hard cover.

Ke 3 buku itu saya beli murah saja, 45 ribu!

Tidak! Saya tidak bermaksud membajak! Saya hanya penasaran dengan isinya (Tapi tidak menutup kemungkinan untuk beli lagi sih kalau memungkinkan) hihi..

Rupanya beli buku di Jl. Semarang itu seperti candu! Sekali beli ingin rasanya nambah lagi.

Jadi setelah nonton film rectoverso kapan itu, suami saya tertarik untuk beli bukunya. Sebelumnya saya sudah sempat baca di Toga Mas, dan memang buku itu harganya cukup mahal.

Entah kenapa tiba-tiba saya merasa toko buku ini salah menempelkan label harga. Herannya lagi beberapa buku yang saya pegang, harganya juga seperti tak masuk akal. Ada konspirasi politikkah antara bawang dan buku? Apakah mereka janjian menaikkan harga? 😀

Lalu saya menggumam “kalau di jalan Semarang, ada buku rectoverso gak ya?”

“Gak ada! Toko bukunya tutup, musim hujan!” samber suami saya! *idih denger aja*

Minggu kemarin, alih-alih nunggu Toga Mas buka, kami melewati Jl. Semarang.

Padahal sebetulnya perjalanan kami gak relevan sama sekali. Toga Mas yang ada di jalan Pucang lebih dekat dengan rumah. Tapi kami malah muter melewati jl. Semarang yang nun jauh disana. Yah intinya boleh kan kalau saya mau ke Jakarta tapi muter lewat Manado  dulu? 😀

Dan, horee.. toko buku di Jl. Semarang buka..

Tapi kan saya kesini cuma lewat. Yah kali aja ada buku menarik yang ingin saya beli.

Saya masuk ke salah satu toko buku dan saya tanya, ada buku rectoverso, gak?

Sial. Semua penjual bilang, “buku apa itu?”

Ya deh, memang gak boleh kok beli buku bajakan. Kasihan penulisnya, gara-gara buku-buku bajakan itu royalti mereka jadi berkurang.*sok bijak*

Tapi kan gak salah juga kalau saya tanya, toh saya kan hanya lewat sini 😀

Dan akhirnya saya beli juga buku rectoverso di Toga Mas..!! Horee.. *sambil ngumpetin buku madre yang tadi sempat dibeli dengan harga 9ribu*