[Review Film] Spy In Love, Film Laga Spionase ala Indonesia

Film laga masih berada di peringkat atas mengalahkan genre drama dan horor. Hollywood sering membuktikan kesuksesannya dalam menciptakan tontonan layar lebar berbalut adegan fisik hingga membuat pecinta film action rela berdiri antre di barisan loket bioskop untuk jadi penonton pertamanya. Serial CSI, Hawaai Five O, dan sejenisnya makin mengundang orang suka terhadap tayangan berbau kriminalitas. Fenomena ini ditangkap produser kelahiran Indonesia, Danial Rifki dengan menciptakan film Spy In Love, film laga Spionase ala Indonesia.

Indonesia bisa membuat film Action?

Review Film, Spy In Love

Saat pertama ditawari nonton bareng film Spy In Love, saya buru-buru browsing di internet. Judulnya mengundang pertanyaan, Spy tapi Love. Apa ini artinya film ‘tembak-tembakan yang dibalut adegan buka-bukaan?

Ups! Lupa kalau KPI sekarang ketat untuk urusan ini. Saya tidak berharap juga film ini ada adegan begituannya, cukup aja di Jangkrik Boss yang masih setia bawa-bawa dada dan paha. Padahal tanpa keduanya, humornya udah dapat, lho! Harusnya produser Warkop DKI bagi-bagi untung dengan membiarkan paha dan dada dipamerkan di counter Kaefsi, hehe …

Kembali ke Spy In Love …

Film Spy In Love dibuka dengan adegan misteri sebuah Tablet Smartphone yang dibawa oleh wanita sambil berlarian kesana kemari. Belakangan, Tablet itu dimasukkan ke dalam tas ransel milik seorang anak yang kemudian ditutup dengan sebuah tembakan sehingga wanita itu mati.

Tonton dulu, yuk, Thrillernya:

**

Ray Sahetapy (Kakek Ray) seorang pensiunan BIN yang menjadi dosen, bersahabat dengan Krisna yang diperankan oleh Pong Hardjatmo, seorang Inteligen aktif. Keduanya sering berbagi informasi seputar kejahatan internasional.

Putra, cucu Kakek Ray diperankan oleh Hamish Daud menjalin hubungan dengan Yasmin (Siti Saleha). Mereka berencana menikah dengan mengundang Kakek Ray dan Megan (Shafira Umm), Ibu Yasmin datang ke Penang, Malaysia.

Review Film Spy In Love

Di Penang, Kakek Ray tak sekedar menemui cucunya, tetapi juga menganalisa kasus pembajakan pesawat Malaysia Airlines yang belum menemui titik terang. Informasi dari Krisna, ciri-ciri pelaku adalah seorang wanita yang mengenakan pakaian dan aksesoris serba hitam. Kebeneran, didepan Kakek Ray berdiri seorang perempuan dengan cicir-ciri sama. Curigalah Kakek Ray.

Merasa diperhatikan, perempuan itu balik curiga. Hal-hal konyol menyelimuti pertemuan mereka. Belakangan diketahui bahwa perempuan yang dicurigai Kakek Ray adalah Megan, Ibunya Yasmin.

Di sini saja terlihat adegan yang ambigu. Antara serius, atau humor. Film action seserius Barry Prima gak ada adegan beginian. Namun, jika laga humor, feel humornya terkesan nggantung. Nggantungnya karena Ray Sahetapy bukan aktor humor, selucunya Ray tetap gak terlihat lucu. Untung saja gaya bicara Megan lucu, walau gak terlalu maksa, penonton masih bisa tersenyum.

Baca juga: Review Film Dilarang Masuk!

Kakek Ray dan Megan tinggal di hotel yang sama. Hotel tempat Putra dan Yasmin bekerja. Keberadaan mereka membuat suasana hotel menjadi runyam. Baru tiba di hotel, Kakek Ray sudah membuat pingsan pelayan. Ceritanya gini, ada seorang pelayan mengirim minuman ke kamar Kakek Ray. Belum-belum Kakek Ray udah aja curiga dengan botol minuman yang dibawa pelayan. Padahal belum ada ciri-ciri yang membuktikan pelayan akan meracuni Kakek Ray. Barulah saat udah curiga itu, Kakek Ray melihat ada sebuah tato di pergelangan pelayan sehingga Kakek Ray memaksa pelayan itu minum minuman yang dibawanya sendiri. Setelah sedikit adu hantam, pelayan itu pingsan!

Review Film Spy In Love
Ray beraksi!

Selanjutnya, curiga demi curiga menghantui Kakek Ray. Di sekitarnya muncul musuh-musuh rahasia yang membuntuti Kakek Ray. Saat melihat Kakek Ray berhadapan dengan musuh, ekspetasi saya terhadap film ini runtuh. Mengapa seorang lakon laga harus Ray Sahetapy? Kemana aktor-aktor laga Indonesia jaman dulu yang tentu cocok jadi pemeran Kakek, seperti Barry Prima dan Advent Bangun? Kalau gak ada, masih mending pakai Rhoma Irama yang adegan pukul memukulnya tak terlalu memalukan. Dibanding Ray Sahetapy, lho ya, hehe …

Banyak adegan mengejutkan yang muncul dalam film Spy In Love. Yang paling tampak adalah layar grafis berisi video Krisna sedang ngobrol dengan Kakek Ray. Kalau teman-teman pernah lihat film agen rahasia sepert CSI, maka Spy In Love juga memilikinya! Gak hanya saya, penonton lain pun langsung riuh keheranan. Tumben film Indonesia ada grafisnya! Haha..

Maaf, bukan mau merendahkan mutu film Indonesia, justru adanya grafis ini menunjukkan film Indonesia mengalami kemajuan besar. PR buat sutradara agar lebih halus lagi menggarapnya supaya tampilannya sama bagus dengan grafis-grafis yang di film barat.

Review Film Spy In Love

Dalam film Spy In Love penonton diajak berkelana keliling Penang hingga di sudut-sudut kota. Yang paling menyenangkan adalah belajar memahami bahasa Malaysia, Betul .. betul .. betul ..!

Selama menonton film ini, perasaan saya senang terus. Gak ada takut kalau-kalau lakonnya ditembak, trus mati. Yang membuat saya yakin hanya satu, yaitu lakon pasti menang belakang, sebab ekspetasi saya terhadap lakon laga sudah ambruk. Untung saja ada Putra. Ternyata diam-diam Putra adalah seorang agen rahasia yang sedang menyamar.

Review film Spy In Love
Putra saat action dengan Bren -nya

Kehadiran Putra meningkatkan kembali harapan saya terhadap suksesnya film action, yaitu wajah ganteng cenderung bule, gagah, dan nenteng senjata mentereng. Makin takjub lagi bahwa Putra memiliki jam tangan yang bisa digunakan sebagai titik koordinat saat dirinya sedang dalam masalah. Sebagai agen rahasia, Putra hanya dibantu oleh seorang wanita yang disebut sebagai Big Mama. Kalau di Mission Imposible, Big Mama itu perannya sebagai ‘M’.

Review Film Spy In Love
Big Mama

Yang suka nonton film action luar negeri, kalian kudu nonton film action rasa Indonesia, Spy In Love ini. Ide ceritanya bagus. Begitupun adegan-adegan luar biasa yang selama ini belum ditampilkan oleh film produksi Indonesia. Pokoknya layak tonton, deh!

Bagaimana Putra bisa menyelamatkan penumpang pesawat yang ternyata pelakunya adalah rekan terdekatnya? Saksikan film Spy In Love di Bioskop, yah. Tayang perdana tanggal 29 September kemarin!

Ini testimoni saya:

Geliat bisnis film dan peluang blog film di Indonesia

Beberapa bulan lalu saya mendapat setumpuk voucher nonton dari seorang teman. Saya tak bisa menyebutkan nama teman itu tapi yang pasti beliau seorang blogger yang sangat baik hati dan telah rela memberi saya peluang nonton bioskop gratisan hehe..  Makasih Mas I***, tau aja kalau saya suka nonton bioskop gratisan hehe. Karena vouchernya setumpuk dan nggak mungkin saya habiskan sendiri, meskipun tidak tercetak tanggal kadaluarsa, voucher itu saya bagi-bagi lagi ke teman-teman blogger. Asas Demokrasi, dari blogger, oleh blogger, untuk blogger.. 😉

Bersama Edward Akbar dan Karina Salim, pemain film Mantan Terindah
Bersama Edward Akbar dan Karina Salim, pemain film Mantan Terindah

Jujur saja, bila ditanya suka nggak nonton bioskop, saya akan jawab jujur, bisa suka bisa tidak. Tergantung situasi dan kondisinya dulu. Suka jika kondisinya dapat free pass, tidak suka bila nggak ada free pass, nggak ada undangan nobar, dan nggak ada acara meet n greet. Norak banget yah haha.. intinya sih nggak mau nonton bioskop kalau bayar pakai uang sendiri hihi..

Jika dirasa-rasa harga tiket bioskop memang tidak begitu mahal. Di Surabaya ratenya berkisar Rp. 35.000,- hingga Rp. 50.000,-. Setaralah dengan harga buku. Kalau nonton sendiri harga segitu masih wajarlah ya, tapi kalau nonton berdua, dihitung-hitung lagi kok sayang banget sama duitnya. Mari kita hitung berapa habis duit kalau nonton bioskop berdua, mungkin bisa habis Rp. 130 rb – 200 rb dalam rentang waktu 2-3 jam! Rinciannya, antara 70ribu – 100ribu untuk tiket bioskop, ditambah 60rb – 100rb buat beli minum dan popcorn.

Bagi seorang istri seperti saya, dari pada uang segitu habis buat nonton bioskop mendingan buat beli beras *tipikal Ibu-ibu rumah tangga banget* 😀 kalau disuruh milih bila ada uang segitu mendingan saya buat beli buku. Buku bisa dibaca diulang-ulang, tanpa ada iklan, dan ceritanya lebih detail. Toh saya juga nggak gila-gila amat sama film bioskop. Akan beda pemikirannya bagi mereka yang memang suka banget nonton bioskop. Jadi jangan bandingin saya dengan mereka, ya.. 😉

Tetapi kenapa tiba-tiba bandinginnya dengan buku?

Tau sendirilah kondisi film Indonesia sekarang ini, mereka lebih banyak diadaptasi dari novel atau kisah nyata dari buku (yang konon) best seller. Sudah sering terbukti, beberapa kali buku yang difilmkan dapat mendulang jumlah penonton yang angkanya fantastis. Katakanlah film Ayat-Ayat Cinta, 5 cm, 99 Cahaya di langit Eropa, dan yang terbaru film Hijab yang sebagian besar ceritanya diadaptasi dari buku Hijab Storynya Saskia Adya Mecca. Dan saya rasa untuk tahun 2015 ini trend film Indonesia menurut saya masih sama seperti 2 tahun belakangan, yaitu fenomena buku difilmkan.

Mengenai bisnis bioskop sendiri memang masih menguntungkan di area Ibukota. Bisa kita lihat bagaimana perkembangan Mall di Ibukota seperti di Surabaya, contohnya. Saya perhatikan setiap dibangun Mall, selalu ada studionya. Sangat berbeda dengan daerah yang minim pertokoan sehingga menahan pengusaha membuka usaha perbioskopan disana. Kalaupun ada kemungkinan hanya 1 -2 Mall saja di Kabupaten. Memang keadaan itu dapat membunuh harapan mereka menonton bioskop, tapi toh mereka tak lebih canggih dengan orang Ibukota, yaitu memanfaatkan streaming, membaca ulasan-ulasan di internet atau malah download dari youtub. Itulah mengapa banyak sekarang ini blogger film bertaburan. Selain meningkatkan trafik pengunjung, banyaknya blogger film di Indonesia jumlahnya tak sebanyak blogger travelling. Itu berarti masih banyak peluang yang bisa didapatkan dari blog, salah satunya bikin blog dengan niche film *mulai, otak bisnisnya muncul*

Karena kesulitan mendapatkan studio, saya juga tak bisa bilang seperti apa antusiasme komunitas film di daerah. Namun yang saya tau mereka cukup antusias bila ada film baru yang menggebrak dunia perbioskopan. Mereka tak segan datang ramai-ramai ke Ibukota sekedar untuk nonton bareng. Cara ini pun menjadi momen ampuh terciptanya sebuah komunitas sehingga bila sewaktu-waktu ada niat nonton bareng lagi mereka tinggal melakukan koordinir.

Nah kalau di daerahmu bagaimana, Sob? Sering nggak mangikuti nobar?