Resensi Buku: TKP Bicara, Catatan Aiptu Pudji Hardjanto, mengungkap kasus bermodal Rumput

TKP Bicara

Judul: TKP Bicara
Penulis: Aiptu Pudji Hardjanto
Penerbit: PT. Revka Petra Media
Tahun Terbit: Juli 2015
Tebal: 250 halaman

Resensi Buku: TKP Bicara, Catatan Aiptu Pudji Hardjanto, mengungkap kasus bermodal Rumput – Dalam salah satu tayangan FOX Crime, seorang anggota CSI berhasil mengungkap kasus pembunuhan setelah menemukan bekas tapakan di atas rumput. Padahal pembunuhan sendiri dilakukan di dalam ruangan yang sama sekali jauh dari rumput berada. Belakangan diketahui ada bekas rumput tercerabut di sepatu pelaku. Disitulah kemudian kejahatan mulai terungkap.

Di dunia kriminalitas, rupanya rumput berperan besar membantu pengungkapan sebuah pembunuhan. Kedengarannya sepele, apa bagusnya rumput? Eh, jangan main-main sama rumput, Rumput tetangga pun kalau hijaunya berbeda bisa jadi panjang urusannya.. apalagi urusan yang menyangkut Ibu-Ibu, pakai ditanya pula belinya dimana, caranya nanamnya gimana, harganya berapa, lanjut deh jadi bahasan di Arisan RT, Hiks!

TKP Bicara

Di tangan Aiptu Pudji Hardjanto, sebuah rumput bisa menjadi barang bukti mengungkap kejahatan. Semua itu dituang dalam bukunya berjudul TKP Bicara.

Siapa Aiptu Pudji Hardjanto? Saya yakin dunia literasi tidak mengenal nama beliau. Memang, Aiptu Pudji Hardjanto bukan sosok penggiat literasi, beliau adalah seorang anggota Unit Identifikasi Polrestabes Surabaya. Yes, Aiptu Pudji Hardjanto adalah Polisi. Polisi yang menceritakan perjalanan hidupnya ke dalam sebuah buku.

Suatu siang saya mendapat hadiah buku berjudul TKP Bicara dari Polisi Wangi, Bapak AKBP Takdir Matanette. Buku tersebut merupakan karya anggota Reskrim Polrestabes Surabaya bernama Aiptu Pudji Hardjanto. Begitu diserahkan oleh Om Nette Boy, hal pertama yang saya lakukan adalah memperhatikan gambar cover depan dan membaca sinopsis cover belakang, persis yang selama ini saya lakukan saat akan membeli buku.

Setelah membaca sinopsisnya yang hanya separagraf, saya merasa, buku ini buku bagus. Komentar bagus teramat umum, lebih tepatnya menarik.

Sejak pulang dari Atambua, Aiptu Pudji Hardjanto mendapat tugas baru, yakni mengurus mayat. Bukan mayat biasa, melainkan mayat korban pembunuhan. Anggota unit Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis) Jawa Timur ini boleh dibilang menguasai apa yang disebut Jeffrey Deaver dalam novel-novel kriminalnya: hukum pertukaran materi. Bahwa ketika terjadi sebuah peristiwa kriminalitas, selalu terjadi transfer materi. Banyak kasus pembunuhan maupun tragedi kemanusiaan berhasil diungkap Aiptu Pudji. Cara mengungkapnya pun tidak biasa dan unik, malah terkesan sepele. Bagaimana bisa?

Dihadapan Om Nette Boy, plastik buku itu langsung saya sobek. Dengan sekali belah, halaman buku itu terbuka acak. Sekilas, rangkaian kalimatnya bagus, penyusunan bahasanya mudah dipahami. Sekali duduk, dua lembar halaman seketika berpindah ke kepala saya.

Sinopsis Buku TKP Bicara

Buku TKP Bicara berisi catatan perjalanan seorang Aiptu Pudji Hardjanto saat menjalankan tugas menjadi anggota Kepolisian. Usai menamatkan pendidikan Bintara Militer Sukarela Polri tahun ajaran 1993 – 1994, Ia mendapat tugas pertamanya di Polres Belu, Polda NTT. 3 bulan kemudian, Aiptu Pudji di tugaskan di Polsek Haekesek, Desa Tohe, 60 kilometer sebelah Timur Kota Atambua sebagai Kanit Resintel.

“Darah Kita, isi perut kita, hati kita, otak dan pikiran kita, bahkan kegilaan kita sama, karena kita dilahirkan dan ditakdirkan sebagai anggota Polisi”

Kehidupan di Polsek Haekesek menempa Aiptu Pudji hidup serba apa adanya. Di sini pun Aiptu Pudji menambatkan hatinya kepada sosok wanita asal Bali yang kemudian berhasil Ia pinang.

Tak lama tugas di Polsek Haekesek, Aiptu Pudji dipindah tugas ke Polsek Biudukfoho, lokasinya jauh di pelosok, jaraknya 160 kilometer dari Polsek Haekesek. Tidak ada listrik, jauh dari sumber air, alat komunikasi satu-satunya menggunakan SSB (radio komunikasi). Yang tampak menonjol dari gedung Polsek Biudukfoho adalah atap seng, berdinding anyaman batang lontar. Bersama ke 4 rekannya (Polsesk Biudukfoho dihuni 6 orang termasuk Aiptu Pudji dan Kapolsek), Aiptu Pudji merangkap jabatan sebagai anggota Babinkamtibmas.

Keminiman fasilitas di Polsek Biudukfoho membuat Aiptu Pudji akrab terhadap siapa saja, salah satunya adalah Piter Napa, seorang pemburu binatang dan petani.

Bagi Aiptu Pudji, Piter Napa merupakan sosok luar biasa yang berjasa dalam hidupnya. Dari Piter Napa, Ia belajar banyak bagaimana cara berburu binatang, membaca arah larinya binatang, juga membaca jejak hewan buruan. Yang paling utama dari teori Piter Napa adalah ilmu mencari jejak rumput, tanah, ranting, daun, dan sebagainya.

Meski berawal dari belajar berburu binatang, namun teori Piter Napa berhasil diaplikasikan oleh Aiptu Pudji untuk membaca jejak ‘target’ kasus pembunuhan yang dilakukan oleh manusia. Hasilnya, rata-rata kasus pembunuhan bisa diungkap oleh Aiptu Pudji. Tak hanya diungkap, Aiptu Pudji juga canggih membaca gerak pelaku saat menghabisi korbannya, kendati belum mendapat pengakuan langsung dari pelaku. Semua itu Ia baca dari hasil olah TKP yang dilakukannya.

TKP Bicara 1
Berdoa, rutinitas wajib Sebelum olah TKP

Kasus pembunuhan yang pertama kali diungkap Aiptu Pudji adalah ditemukannya mayat tak jauh dari sungai di wilayah Polsek Biudukfoho. Selama bertugas di Polsek Biudukfoho, jarang sekali ditemukan kasus pembunuhan, kecuali pencurian hewan ternak. Namun penemuan kali ini benar-benar ujian bagi Aiptu Pudji, sekaligus ‘ngetes’ teori Piter Napa dalam menangkap manusia ‘buruannya’.

Bagi yang suka membaca detektif, bab ini cukup seru diikuti, termasuk bagaimana Aiptu Pudji bermalam sendiri hanya ditemani jenazah yang belum ditemukan pelakunya. Rekan Aiptu Pudji yang lain bukan tidak membantu, tetapi mereka juga harus riwa-riwi dari TKP ke kantor Polsek. Kondisi medan yang berat dan jauh, membuat anggota yang lain bekerja sendiri.

Malam itu, sambil mengamati sosok jenazah, Aiptu Pudji berusaha mencari jejak pelaku. Yaitu dengan meneliti rumput satu persatu. Tak butuh waktu lama, Aiptu Pudji langsung menemukan pelakunya, walau masih dalam taraf menduga, namun insting Aiptu Pudji sudah meyakini siapa pelakunya.

“Pembunuh pasti penasaran melihat hasil karyanya. Dia pasti kembali ke tempat semula. Sekedar memastikan jejaknya agar tidak terlacak”

Dalam bab ini, pembaca seakan diajak turun langsung ke lokasi TKP. Pembaca juga diajak berlelah-lelah jalan kaki mengirim pelaku ke Polres Belu hanya dengan diikat ke punggung mengunakan tali lasso selama 11 jam!

Review Buku TKP Bicara

Banyak pelajaran yang diambil dari Buku TKP Bicara. Buku TKP Bicara mengajarkan kepada kita semua bahwa se- profesional apapun seseorang menutupi kejahatan, kebenaran akan terungkap. Pengalaman Aiptu Pudji membuktikan bahwa mayat adalah seni dinamis yang bisa berbicara. Dalam diamnya, mayat dan TKP bersinergi memberi kekuatan membantu mengungkap sebuah kasus. Dan satu lagi yang berperan membantu kesuksesan Aiptu Pudji mengungkap kasus, yaitu Insting.

TKP Bicara 5

16 cerita yang ditulis Aiptu Pudji, hampir semuanya memanfaatkan Insting. Di saat rekan dan pimpinannya hampir menyerah, Insting Aiptu Pudji berusaha bermain logika. Yah.. kadang-kadang antara Ngeyel dan Pantang Menyerah, bedanya seperti seutas rambut, tipiiiss.. *tergantung merk shamponya juga, sih* 😀

TKP Bicara 4
Foto Aiptu Pudji sedang melakukan identifikasi jari korban Pesawat Air Asia

Dalam bukunya, Aiptu Pudji tak melulu membahas dunia forensik, kejadian seperti ditinggal timnya berangkat ke TKP sehingga Ia harus menyusul naik motor sendirian dan kehujanan, memenangkan sayembara dari pimpinannya yang hampir menyerah mengungkap kasus, bersikeras antar rekan yang saling tak mau berdiri mengangkat telepon akibat kelelahan sepulang olah TKP, hingga mimpi (yang dirasakan nyata) akibat melempar jenazah orang tua yang alim. Kejadian yang terakhir menjadi pelajaran mahal, bahwa betatapun itu jenazah, ada hak untuk dirinya diperlakukan secara wajar dan mendapat penghormatan yang baik.

TKP Bicara 3
Diam dan terpekur sendiri adalah ciri khas Aiptu Pudji dalam mengolah insting. Siapa sangka kalau di bawah paving ternyata terdapat mayat?

“Saya lebih menikmati aroma pembusukan jenazah daripada bau formalin yang menyesakkan” TKP Bicara halaman 178

Membaca Buku TKP Bicara, tanpa sadar saya langsung bisa menebak karakter Aiptu Pudji. Gaya tulisan Aiptu Pudji sangat begitu hati-hati menuangkan kata-kata. Dugaan saya sih, Aiptu Pudji berusaha tidak menakut-nakuti pembaca. Sebab selain tulisan, Aiptu Pudji juga menyertakan foto-foto dirinya beserta foto korban (yang tentu saja di blur). Aiptu Pudji adalah sosok yang tak gampang menyerah dan mudah bergaul. Ia juga seorang negosiator ulung, dengan menggaris depankan kebijakan. Semoga saja tebakan saya benar, saya belum ketemu orangnya, juga 😀

Buku TKP Bicara berisi catatan perjalanan Aiptu Pudji mengungkap kasus pembunuhan di Surabaya diantaranya Pembunuhan Bos Keramik, Pembunuhan Mahasiswi Akper yang direkayasa seperti bunuh diri, Pembunuhan karyawati cantik yang TKP nya di rusak sehingga mengesankan korban bunuh diri, membongkar mayat dalam tabung, dan kisah lainnya lagi.

Kekurangan buku ini terdapat judul yang ditulis tanpa menggunakan spasi. Entah di sengaja tanpa spasi atau editornya kelewatan, saya tidak paham. Untuk kesalahan tulis hampir tidak ada.

TKP Bicara 6
Judul tanpa spasi

Buku TKP Bicara cocok bagi pembaca buku/novel detektif. Oh, yang suka baca novel biografi pun bisa juga!. Tenang saja, buku TKP Bicara tak seseram yang kalian bayangkan, kok. Justru menariknya kita bisa belajar cara mengolah sebuah insting. Walaupun kategori non fiksi, namun Aiptu Pudji mengajak pembaca untuk menyelami dunia identifikasi. Sejatinya dunia identifikasi tidak serumit yang kita duga, bagi Aiptu Pudji yang paling penting adalah ketelatenan dan ketelitian.

TKP Bicara 2
Sama-sama Mbois, Hayo tebak, yang mana komandannya? 😀

Bagi yang ingin memiliki buku TKP Bicara bisa mendatangi toko Buku Petra Togamas dengan harga per ekslempar Rp. 100.000,-. Kalau mau ringkes lagi, saya bantu koordinir, minimal 3 buku ya biar irit ongkirnya 🙂

Tips Cerdas bermain Brain Games

Tips Cerdas bermain Brain Games

Minggu kemarin ada program bagus di MetroTV. Namanya Brain Games. Baru tau Metro punya program beginian. Kenapa gak dari dulu ya, bosen berita lagi, berita lagi.. 😀

Brain Games yang tayang kemarin menggiring pemirsa dalam sebuah permainan otak. Programnya bagus, mengajak kita mengingatkan sesuatu apa saja dalam kehidupan sehari-hari, yang kadang tidak terpikir di kepala manusia.

Brain Games MetroTV

Di mulai dari perkenalan singkat, presenter kemudian menunjukkan 6 kartu remi di atas meja. 3 diantara kartu tersebut dibuka dan ditunjukkan kepada pemirsa di layar televisi. Selama beberapa detik, pemirsa diajak mengamati kartu-kartu tersebut.

Selanjutnya, presenter bertanya kepada pemirsa, “Berapa total angka yang ada di 3 kartu remi tadi?”

Bagi pemirsa yang teliti dan fokus, pasti bisa menjawabnya. Kalau tidak fokus, ow.. tentu saja salah. Seperti sayaa hehe..

Tapi tenang saja, presenter masih memberikan kesempatan sekali lagi, kok..

Seperti permainan sebelumnya, presenter membuka 3 kartu remi lagi. Lagi-lagi pemirsa diajak mengamati kartu itu selama 5 detik.
Selama 5 detik itu kalian mikir apa, hayo?

Saya yakin, kalian sibuk ngitung jumlah angka di kartu tersebut, bener nggak?
Demikian juga saya, saya sibuk ngitung total angka-angka di kartu-kartu remi tadi. Alasannya gampang, supaya saat presenter tanya, saya bisa jawab.

Atau ada yang sibuk mikir selain ngitung jumlah kartu remi?
Tak masalah, selama kartu dibuka, pemirsa boleh menikmati pemandangan yang ada di hadapannya.

Yang jadi persoalan sekarang, pertanyaan apa yang diajukan si Mbak presenter?

Brain Games
Brain Games

Daaan pertanyaannya adalah..
“Kartu remi mana yang ada gambar kacamatanya?”

Nahloo.. kali ini pertanyaannya tidak lagi itung-itungan. Tanpa sadar pemirsa diajak bermain otak. Dan rata-rata mereka terjebak di dalamnya. Presenter sedang ngetes ketelitian kita. Yang tidak teliti dan memperhatikan secara seksama pasti akan terlempar. Dalam hal ini pilihan call a friend sudah expired alias gak berlaku hehe..

Pelajaran apa yang bisa di petik dari Brain Games diatas? Bagaimana rahasia sukses bermain Brain Games

Permainan asah otak di android
Permainan asah otak di android

Tips Cerdas bermain Brain Games untuk aktifitas sehari-hari

Dalam kehidupan sehari-hari ada banyak hal-hal yang biasa kita lihat, bahkan tiap hari kita bersinggungan, tapi tak pernah sedikitpun terpikir untuk memperhatikannya.

Misalnya,
“Berapa banyak jumlah anak tangga di kantormu?”
“Ada berapa kancing baju seragam sekolah kalian?”
“Apa warna gayung di kamar mandi kantor?”
“Berapa nomor KTPmu?”

Dan lain sebagainya..

Meskipun tiap hari bersinggungan, apakah kita pernah rela hati memperhatikannya? Sayangnya, kita justru tak pernah memikirkannya. Kenapa? Karena rata-rata mereka menganggap hal itu bukan persoalan penting yang harus diingat.

Pada salah satu cerpen majalah Bobo tahun 90’an. Ada kisah seorang anak, sebut saja Budi, sedang menjalankan aktivitas sehari-hari yang teramat biasa dan jamak dilakoni banyak orang. Budi adalah anak yang hobi menghafal nomor seri uang kertas miliknya sebelum dibelanjakan.
Pada suatu hari Budi membeli jajanan di sekolah. Ia merasa sudah menyerahkan uang kepada sang penjual, namun penjual keukeuh belum terima uang dari Budi. Untung saja Budi mengingat nomor seri uang yang tadi sudah diserahkannya. Akhirnya Budi pun bebas dari tuduhan, dan penjual juga mengaku khilaf.

Dalam hal ini tak ada yang bisa disalahkan. Kata orang Jawa, “Wong lali wani mati!” haha.. Lali dan tidak teliti perbedaannya sangat tipis.

Begitulah cara kerja Brain Games. Gaya-gayanya, antara penting gak penting Hehe.. Padahal penting banget, lho.. apalagi seorang detektif yang meneliti bukti kejahatan. Seorang penyidik kepolisian pun kadang-kadang harus bermain brain games untuk mengungkap kasus *panggil-panggil Pak Polisi Wangi* 😀

Dalam kehidupan sehari-hari saya juga kerap melupakan sesuatu yang detail di sekitar saya, walau gak semua bisa saya hapal.

Brain Games ala Yuni

Tips Sukses Brain Games untuk aktifitas sehari-hari ala saya adalah menghafal nomor kontak HP teman-teman, menghafal no KTP, menghafal no rekening, dan apa lagi, ya? Saking banyaknya yang dihafal sampai lupa semua haha..

Jadi jangan heran saat teman-teman menelepon saya, lalu saya bertanya balik, “Ini siapa, ya?” itu artinya kepala saya lagi blank! Wkwk.. Alhamdulillah, sih, kejadian bertanya balik seperti itu jarang sekali terjadi.

Kebiasaan ini sudah saya lakukan sejak lama, utamanya sejak hobi gonta-ganti HP. *horang kayaaah* 😀

Meskipun saat ini nomor kontak sudah bisa disimpan melalui media online, tapi saya tetap tidak lakukan. Bukan ingin menyepelekan, tetapi buat pelajaran saya pribadi seandainya suatu waktu saya ingin menghubungi seseorang dan saya dalam keadaan ‘kepepet’ sedangkan posisi HP mati lupa ngecharge, Power Bank gak bawa, dll saya masih bisa mengingat no telepon kerabat.

Bukan juga mau sombong ngandalin otak sehingga membuat gudang memori luber kemana-mana, tapi suatu saat dalam keadaan terdesak lalu dimintai data pribadi, saya gak perlu lagi buka-buka dompet hanya untuk sekedar melihat no KTP.

Sedikit cerita, dulu saat masih kerja, saya seperti Buku Telepon berjalan. Hampir semua teman kantor, terutama bagian purchasing, selalu teriak manggil nama saya tanya nomor telepon suplier. Padahal di Buku Telepon saya sudah catat semua nomor-nomor suplier. Tapi entah, mungkin terlalu malas berdiri mengambil buku telepon, mereka lalu mengadalkan saya. Cukup teriak dari mejanya, “Yun, nomor telepon suplier A, berapa?”.. “Yun, nomor PABX suplier B, berapa?”

Pernah suatu ketika saya sengaja menghindari pertanyaan mereka. Tiap kali mereka tanya, saya jawab, “Cari di buku telepon” *maksudnya supaya mereka gak ngandalin saya, gitu*. Awal-awal berhasil, meskipun sambil malas-malas, mereka masih mau mencari sendiri nomor-nomor yang dibutuhkan di buku telepon. Tapi lama-lama pekerjaan menjadi tak efisien. Masa hanya mencari 1 suplier saja, butuh waktu 30 menit ngubek-ngubek buku telepon. Kalau mereka mau mikir dikiiit aja, kan bisa mengingat letaknya. Walau buku telepon gak ada tanda abjadnya, tiap hari bersinggungan dengan buku telepon masa gak hapal-hapal juga posisinya.

Bagaimana supaya bisa hafal hal-hal gak penting di lingkungan sekitar tanpa harus menghafalnya?

Inilah Tips Sukses bermain Brain Games

1. Rajin memperhatikan benda-benda disekitar kita.
2. Hubungkan benda-benda sekitar dengan sesuatu yang kita anggap penting, contoh: Nomor rekening saya: 188.030.8161
Untuk menghapal angka ini, saya mengkombinasikan angka-angka tersebut dengan kejadian sehari-hari.

– 188 –> banyak yg bilang angka 8 adalah angka cantik. Gak perlu dihapal udah tau sendiri, angka cantik udah pasti 8. Jadilah 188 (angka satu juga gak perlu saya hapal, karena termasuk permulaan angka.
– 030 –> Ini kombinasi angka cantik, saya gak perlu menghapal angka 0-nya. Cukup 3 nya yang saya garis bawahi. Yang saya ingat dari angka 3 adalah 3 bersaudara. Jadilah 030.
– 8161 –> Kombinasi ini juga cantik. Angka 8 angka cantik, angka 6 saya ambil dari tanggal lahir saya, 26 (diambil belakangnya aja). Karena angka 1 nya ada 2, sseperti angka 0, gak perlu saya hapal. Jadilah 8161

3. Supaya gampang menghapal nomor sebaiknya pakai patokan 3 – 3 atau 4 – 4. Seperti nomor telepon: 0811 – 3400 – 721 atau bisa juga 081 – 134 – 007 – 21 (Cara yang belakang saya lebih suka menyebutnya begini: 081 – 134 – 00 – 721. Gak ada alasan apa-apa, biar enak menghapalnya aja.

Tips Cedas bermain Brain Games gak selalu melulu menghapal angka. Bisa yang lainnya.. yang paling utama adalah rajin memperhatikan secara seksama apa saja yang ada disekitar, cara itu akan lebih gampang mengingatnya. Selamat Mencoba..

Review Film I am Hope: Di mana ada keberanian, Di situ ada harapan

Review Film I am Hope: Di mana ada keberanian, Di situ ada harapan

Siapa yang belum nonton film I am Hope?
Nonton, gih! Jangan lupa bawa sapu tangan. Siap-siap basaahhh… 😀

Sejatinya, film I am Hope sudah tayang di bioskop seluruh Indonesia sejak tanggal 18 Februari 2016, tapi nonton bareng di Surabaya sendiri, baru diadakan tanggal 21 Februari kemarin. Gemerlap kabar nonton bareng sendiri sudah di sounding sejak Januari, lama banget kan yah.. karena itulah saya semangat berangkat.

Saya tiba di XXI Ciputra World jam 13.30, ada Bu Vanda berdua putrinya. Berjalan mendekat, sekalian clingak-clinguk nyari yang lain, “Mbak nobarnya di tunda jam setengah lima”

Nobar film I am Hope

Reaksi saya spontan, “Uwwhattt?!”

Padahal, sebelum berangkat saya sempat komen di grup WA, ijin mandi. Lha kok sekarang ada kabar nobarnya di tunda. Yah.. yah.. piye, ya.. udah nyampe disana masak mau pulang. Mana diluar ujan deres. Ya udahlah ya, gak usah diceritakan protesnya disini, kasihan mbak Wulan Guritno dan Managemen film I am Hope yang udah jauh-jauh datang dari Jakarta tapi gak tau apa-apa tentang kejadian ini. Semoga kedepannya, ada koordinasi yang lebih baik lagi.

2016-02-23_05-33-08
Para istri memotret suaminya. Kegiatan iseng yang bisa dilakukan sambil nunggu jadwal nobar

Lanjut cerita film..

Review Film I am Hope: Di mana ada keberanian, Di situ ada harapan

Tepat pukul 17.00 film I am Hope dimulai dengan gambaran keluarga bahagia Bapak, Ibu, Anak, yang terdiri dari Raja Abdinegara, Madina Abdinegara, dan Mia Abdinegara. Keluarga berjiwa seni yang hidup bahagia dengan profesinya masing-masing sebagai pecinta theatre.

Nobar film I am Hope4

Hingga suatu ketika, Madina harus meninggalkan suami dan anaknya karena mengidap penyakit Kanker. Kehidupan yang semula bergelimang, terkuras untuk pengobatan Madina.

Mia, gadis dewasa yang telah berusia 23 tahun tiba-tiba di vonis dokter menderita Kanker Paru-paru. Penyakit ini menjadi sebuah trauma yang tak akan habis. Setelah Madina, kini Mia. Raja merasa terpukul dengan keadaan ini. Ia takut kehilangan anggota keluarga yang dicintainya karena penyakit Kanker

Meski batinnya menderita, Mia di teguhkan oleh seorang sahabat dalam imajinasinya. Ia adalah Maia. Maia selalu berada disamping Mia dalam suka maupun duka. Disinilah kemudian kehidupan berat Mia berliku. Apalagi ada David yang selalu hadir menjaga Mia. Bersama David, Mia akhirnya sukses menembus Rumah Produksi. Naskah yang ditulis Mia berhasil diterima oleh PH Rama Sastra.

Kabar menyenangkan, tapi juga menyedihkan. Di satu sisi Mia akan menjadi calon sutradara (mengikuti jejak Ibunya), disisi lain Ayahnya ingin Mia fokus pengobatan. Bagaimana juga dengan nasib David yang dianggap sebagai penyebab parahnya penyakit Mia? Lalu bagaimana nasib Mia selanjutnya?

Film I am Hope berlatar belakang keluarga yang penuh kedamaian. Disini dicontohkan bahwa dukungan keluarga membawa kekuatan dalam menembus ketakutan.

Saya suka ucapannya Mia saat memberikan gelang harapan kepada penderita Kanker:

“Pakailah gelang ini. Jangan pernah takut gagal, karena di mana ada keberanian, di situ ada harapan”

Film I Hope merupakan besutan Sutradara Adilla Dimitri. Film ini dimainkan oleh bintang Indonesia yang namanya sudah tak asing lagi. Seperti Fachry Albar (David), Tio Pakusadewo (Ayah Mia), Tatjana Saphira (Mia), Feby Febiola (Ibu Mia), Ray Sahetapy (Dokternya Mia), Alessandra Usman (Maia), dan nama-nama lain seperti Ine Febriyanti, Ariyo Wahab, Ray Sahetapy, Kenes Andari, dan Fauzi Baadila

2016-02-23_05-31-23

Review Film I am Hope: Di mana ada keberanian, Di situ ada harapan

1. Maia merupakan sosok imajinasi yang diciptakan Mia. Sebagai sosok yang tak wujud Maia pintar berekspresi. Terutama saat Mia jatuh dalam kesedihan. Yang menjadi catatan saya adalah adegan ketika Mia malas balas chattingannya David. Merasa harus membantu Mia, Maia mengambil smartphone Mia lalu membalas chattingan David. Sampai pulang saya kepikiran, kok Maia bisa sih balas chattingan David? Kan dia hanya imajinasi Mia?

2. Ketika adegan Mia datang ke gedung theatre saat baru pulang operasi. Waktu itu Mia didorong kursi roda sama Bapaknya. Tiba-tiba datanglah David menggantikan posisi Bapaknya Mia tanpa sepengatahuan Mia. Saya pikir Mia bakal terkejut dengan kedatangan David, karena sebelumnya mereka sedang marahan. Tapi ekspresi Mia biasa saja, gak terkejut sama sekali. Padahal saya berharap Mia akan terkejut.

Nobar film I am Hope

Review Film I am Hope: Di mana ada keberanian, Di situ ada harapan , Lagi-lagi anak negeri menelorkan karyanya. Hadirnya film I am Hope semakin menyembuhkan luka perfilman Indonesia. Film I am Hope datang dengan membawa kepedulian dan dukungan kepada penderita Kanker di seluruh Indonesia.

Baca juga Review Film: Dilarang Masuk..! Bukan sembarang film Horor!

Review Film: Dilarang Masuk..! Bukan sembarang film Horor!

Review Film: Dilarang Masuk..! Tadi sore saya berkesempatan Nonton Bareng film berjudul Dilarang Masuk..! di XXI Plaza Surabaya. Roadshow film Dilarang Masuk..! hari ini dihadiri bintang film antara lain Sahila Hisyam, Jordi Onsu Yova Gracia dan Jessica Torsten.

2016-02-11_11-22-30

Film Dilarang Masuk..! merupakan debut Digital Film Media Production yang akan ditayangkan bioskop seluruh Indonesia mulai 24 Maret 2016 mendatang. Khusus hari ini saja warga Surabaya boleh nonton secara gratis! Asyiik..!

2016-02-12_12-04-04

Tiba di studio XXI Plaza Surabaya, 4 bintang film Dilarang Masuk..! sedang melayani wawancara media sembari meladeni anak-anak remaja yang mayoritas pelajar SMP dan SMA yang meminta foto bareng. Untungnya saya masih berkesempatan foto bareng bersama Yova Gracia dan Sahila Hisyam, meski sabar bergantian dengan anak-anak remaja ini. *syukur masih ingat usia* 😀

Foto bersama Yova Gracia. Pict by Cewe Alpukat
Foto bersama Yova Gracia. Pict by Cewe Alpukat

2016-02-11_11-22-15

Awalnya saya tak mengira kalau film Dilarang Masuk..! adalah film bergenre horor sebab target penonton adalah anak-anak remaja. Biasanya film horor Indonesia punya ciri khas menyedot penonton dewasa, yaah seperti yang kita taulah, horor Indonesia penuh intrik humor yang dibalut dengan adegan sensual. Tetapii.. film horor satu ini menurut saya beda. Humornya cerdas, alur ceritanya runut, lalu ditutup oleh jawaban sebuah konflik. Saya rasa sutradara pinter membuat plot cerita. Di bagian awal, penonton diajak bersenang-senang dahulu sekaligus menikmati kejutan-kejutan a la horor. Alur yang menarik membuat penonton lupa terhadap konflik yang diangkat oleh film itu sendiri.

2016-02-11_11-21-48

Eits, jangan serius dong bacanya…
Penasaran, yaaa??
Baiklah, ini dia Review Film: Dilarang Masuk..!

Lisa adalah seorang murid baru. Tipikalnya pendiam cenderung misterius. Pada suatu hari Lisa hilang di sekolah hingga membuat orangtua, guru dan teman-temannya kebingungan mencari. Adit terakhir kali melihat Lisa berada di lantai atas gedung sekolahnya.

Demi mencari keberadaan Lisa, Adit dan ke 4 temannya berinisiatif mencari Lisa di lantai atas. Mereka nekat melanggar batasan rambu Dilarang Masuk.

Mengapa digedung sekolahan ada rambu-rambu dilarang masuk?
Jawabannya, tonton aja filmnya hihi..

Pada suatu malam, Adit dan kawan-kawan berencana mencari keberadaan Lisa. Sepanjang pencarian banyak kejadian-kejadian seram yang mereka temui, termasuk penampakan arwah menakutkan. Sayangnya, mereka tidak menemukan Lisa. Mereka justru bertemu dengan Ibu Guru Rumi. Mereka heran, kenapa malam-malam Bu Rumi ada di lantai atas? eng.. ing.. eng.., siapa sebenarnya Ibu Guru Rumi?

Malam pencarian itu, Adit dan kawan-kawan juga bertemu dengan Bang Jono, satpam sekolahan yang mengaku saudara kembarnya Adit. Akan tetapi saat di konfrontasi keesokan paginya, Bang Jono mengaku tidak menjaga sekolah malam hari, Ia hanya bertugas pagi hari saja. Lalu, siapa yang mereka temui pada malam itu kalau bukan Bang Jono?

2016-02-11_11-21-07

Nonton film Dilarang Masuk..! rasanya saya seperti naik Jet Coaster. Adegan-adegan seramnya benar-benar menghentak. Tapi saya puas jejeritan. Bagi yang suka naik Jet Coaster dan suka bermain petualangan, film ini cocok jadi tontonan. Pengin jejeritan, jerit saja sampai kencang. Pengin tertawa, tertawa aja sampai ngakak. Biarkan adrenalinmu bermain sendiri, pokoknya tugasmu adalah menikmati! Hehe..

Takut itu wajar, wong namanya juga film horor. Kalau 10 jarimu tak sanggup menutupi rasa takut, bawa topi kupluk yang tebal biar setannya gak nerobos di sela-sela jari huahaha..

Percayalah, film horor ini tidak akan menipumu dengan adegan humor yang berkesan norak. Walaupun settingnya anak sekolahan, di film ini gak akan ditemukan rona kebencian. Film ini murni persahabatan.

Yang masih penasaran dengan film ini tonton aja trailernya disini:

Selesai nonton bareng Dilarang Masuk..! saya dan teman-teman masih merasakan sensasi kaget dan tertawa sehingga kami tak langsung balik kanan bubar jalan, grak. Sambil menunggu yang masih antri di kamar mandi, juga sambil nunggu kesempatan, siapa tau, ketemu artis lagi (biar bisa diajak foto bareng 😀 ) kami bergerombol di pojokan.

2016-02-11_11-43-44

Naah, sudah baca review Film: Dilarang Masuk..!, kaan? Makanya jangan lewatkan tayangan perdana -nya di bioskop-bioskop langganan. Catet tanggalnya, ya! 24 Maret 2016! Okee?!

Tentang Shehrazat 1001 Malam

Saya tertarik nonton Drama Turki Shehrazat 1001 Malam gara-gara potongan adegannya di tayangin terus-terusan di TV. Dan yang paling membuat saya penasaran adalah air muka datar yang selalu ditampakkan oleh Bergüzar Korel, pemain Shehrazat, yang mirip sama artis Indonesia. Hayo tebak kayak siapa??

Jika diperhatikan secara seksama, wajah Bergüzar Korel mirip sekali sama Luna Maya. Rambut panjang, mata bulat, dan kalau senyum muanisss, apalagi pas berhadap-hadapan sama Halit Ergenç, si Tuan Onur.

Shehrazat

Di ceritakan, Shehrazat Eviliyaoglu adalah seorang Ibu beranak satu yang bernama Khaan Eviliyaoglu. Ayahnya, Ahmet Eviliyaoglu, meninggal dunia saat Khaan berumur setahun karena kecelakaan mobil. Sebagai single parent, Shehrazat bekerja di perusahaan Binyapi sebagai arsitek yang dipimpin oleh Tuan Onur, lelaki yang hingga di usia mapan tidak mempercayai cinta. 3 bulan bekerja, Shehrazat berhasil mendapat pekerjaan proyek di Dubai.

Sayangnya keberhasilan Shehrazat tidak diimbangi kebahagiaan di keluarganya. Khaan, anak satu-satunya didiagnosis penderita leukimia. Untuk membayar donor sumsung tulang belakang berikut biaya operasinya, Shehrazat harus mendapatkan uang sebanyak 150 ribu dollar.

Ditengah kebingungan itu Shehrazat mencari cara dengan mendatangi Tuan Burhan, Mertuanya yang kaya raya tapi tidak menganggap Khaan sebagai cucunya. Uang tidak didapat, tapi cacian yang diterima. Dalam keadaan terdesak, Shehrazat nekat meminjam uang perusahaan.

Saat menghadap Tuan Onur, Shehrazat dianggap karyawan tidak tau diri. Sebagai pegawai yang baru bekerja 3 bulan Shehrazat dianggap terlalu berani meminjam uang perusahaan terlalu banyak. Namun akhirnya Tuan Onur memberikan pinjaman asalkan Shehrazat mau bersamanya semalam. Tidak ada harapan lagi selain pilihan itu satu-satunya, Shehrazat menerima permintaan Bosnya.

Ketika nonton drama Shehrazat beberapa kali saya dibuat nangis. Muka galau yang ditunjukkan Shehrazat dan kekakuan sikap seorang Tuan Onur membuat perasaan saya seolah terlibat didalamnya. Alur ceritanya padat dan tidak bertele-tele, membuat kemasan drama ini menjadi kuat.

Terhitung hingga hari ini, drama Shehrazat baru memasuki episode 13. Tayangnya jam 21.30 setelah sinetron Cinta di Langit Taj Mahal.

Semakin berjalannya episode, jalan cerita drama ini semakin memukau. Kehadiran sahabat Tuan Onur, yaitu Tuan Karim, yang mendadak jatuh cinta dengan Shehrazat dan kemunculan Bennu Ataman, sahabat Shehrazat di Binyapi Company yang diam-diam menyukai Tuan Karim, seakan mempersulit keberadaan Shehrazat. Di lain pihak diam-diam Tuan Onur juga menaruh rasa cemburu bila Karim berdekatan dengan Shehrazat.

Apa jadinya bila 4 orang saling jatuh cinta, dan 2 diantaranya bertepuk sebelah tangan? Karim jatuh cinta dengan Shehrazat. Karim dicintai oleh Bennu Ataman. Sedangkan posisi Shehrazat sebagai sahabat Bennu, dan posisi Karim sebagai sahabat Onur.

Makin ke sini, drama ini sudah mulai menujukkan konflik yang berat. Meski begitu konflik-konflik itu bisa dinikmati dengan sangat sedap. Tak seperti drama-drama yang selama ini memenuhi layar kaca dimana pemain antagonis terlalu menampkaan kebencian kepada pemain protagonis.

Karakter pemain drama Shehrazat sangat cerdas. Sikap yang ditunjukkan pemain baik kepada pemain jahat sulit ditebak. Karena itulah drama Shehrazat menuai sukses besar ketika tayang di beberapa negara didunia. Sedangkan di Turki sendiri, drama ini begitu digandrungi dengan judul asli Binbir Gece

Hanya saja yang membuat saya agak heran adalah handphone yang digunakan oleh para pemain-pemainnya! Model HPnya bukan handphone touchscreen canggih seperti sekarang lagi marak.

Beberapa kali saya lihat ketika adegan menelepon, perangkat yang digunakan masih menggunakan model keypad yang layarnya sekitar 2 inch-an. Bahkan Bos-Bos Binyapi pun menggunakan telepon model candybar. Pokoknya Hpnya mash jadul, deh!

Makin diperjelas lagi ketika perusahaan Binyapi mengadakan pesta tahun baru. Ditengah-tengah pesta, ternyata ada angka yang menunjukkan tahun 2007! Waduh, ini drama lama bangeet.. setelah saya browsing memang drama ini di produksi antara tahun 2007-2009!

Salut sama drama ini. Walaupun film produksi lama, tapi suasana dan cerita yang diangkat bisa diterima oleh pecinta drama zaman sekarang. Saya suka saya suka!!

Review Novel The Teashop Girls, sehangat harapan semanis persahabatan

Kali ini saya ingin menulis review novel The Teashop Girls, sehangat harapan semanis persahabatan. Buku ini sudah dibaca lama, tapi baru sempat review sekarang 🙂

Meski teh disebut minuman yang mengandung banyak manfaat namun ketenarannya jauh jika dibandingkan dengan kopi. Seperti kopi, teh juga memiliki banyak jenis dan rasa, seperti teh hijau, teh merah, teh hitam, teh rasa vanilla, teh herbal, dan lain-lain.

teashop
Cover Novel The Teashop Girls. Sumber foto: goodreads.com

Annie Green, cucu seorang pemiliki kedai teh Steeping Leaf bernama Louisa merasakan itu. Sejak kecil Annie begitu menyukai teh. Bersama sahabat-sahabatnya, Genna dan Zoe, mereka menamakan dirinya Gadis-gadis Kedai Teh. Mereka kerap membuat acara high tea ala Inggris, merayakan ulang tahun bersama, dan membuat scrapbook tentang teh. Isi scrapbook macam-macam, ada resep makanan dengan bahan utama teh, cara membuat teh enak hingga kliping berisi iklan teh.

Ketertarikannya pada teh membuat Annie ingin menjadi bagian dari Steeping Leaf, caranya dengan melamar menjadi karyawan kedai di tempat neneknya. Tentu saja neneknya menerima keinginan Annie. Apalagi di kedai teh ada Jonathan, cowok ganteng yang magang di Steeping Leaf lalu ditugasi Louisa sebagai inventaris barang.

Keberadaan Annie di kedai Steeping Leaf membuat gadis-gadis Kedai Teh sering menghabiskan waktu bersama. Pelanggan-pelanggan baru datang silih berganti. Namun kendala mulai datang manakala listrik tiba-tiba mati mendadak dan kedai dinyatakan harus tutup sementara. Rupanya Nenek Louisa menutupi apa yang selama ini menjadi masalah di kedainya. Kenyataan listrik mati menjadi tanda bahwa Steeping Leaf tidak bisa membayar tagihan listrik, serta kedatangan seorang pria yang membawa surat pengusiran karena Louisa tidak bisa melunasi biaya sewa.

Melihat ini semua Annie dan teman-temannya berniat membantu Nenek Louisa dengan membantu promosi di sekolah dan membuat iklan di trotoar jalan dengan kapur. Sayangnya kegiatan itu harus hancur akibat cuaca yang tidak bersahabat sehingga menjadikan iklan-iklan yang mereka gambar hanyut terbawa air hujan.

Keadaan semakin sulit manakala hadir Zach Anderson, anak pengusaha real estate yang sombong dan dengan angkuhnya berusaha mengadakan perubahan kehidupan Shorewood.

Ditambah lagi hadirnya Kedai Franchise Kopi yang baru dibuka dengan suasana ruangan lebih modern dengan sofa cantik, seakan menurunkan derajat Steeping Leaf, yang merupakan kedai teh ala tradisional. Orang-orang yang dulunya pelanggan tetap Steeping Leaf, kini mereka berpindah ke kedai franchise kopi. Hal ini semakin membuat Annie dan Jonathan terpukul. Belum lagi hinaan-hinaan Zach yang semakin terdengar panas di kuping.

“……. Semua orang yang menjadi bagian dari Steeping Leaf harus memahami langkah yang harus diambil bisnis ini supaya bertahan. Satu-satunya hal yang tetap adalah perubahan. Orang bijak yang mengatakan itu. Kurasa Bill Gates”

Dan begitulah ide Jonathan untuk memperbarui penampilan kedai Steeping Leaf benar-benar mereka lakukan. Membershkan permukaan kedai, menurunkan poster dan mengecat kembali temboknya, menyingkirkan stoples yang tidak seragam, dan mengganti buku-buku dari rak dan menggantinya dengan yang baru.

Apakah perubahan besar-besaran yang dilakukan Annie dan Jonathan menjadikan kedai Steeping Leaf kembali menarik perhatian pengunjung?

Cerita masih berlanjut dengan kekecewaan Annie terhadap Jonathan yang ternyata lebih mencintai kakaknya, Beth, ketimbang dirinya. Padahal Annie sudah berusaha menjadi sosok yang diharapkan Jonathan. Louisa juga sepertinya tak begitu puas dengan perubahan yang dilakukan cucunya terhadap tokonya. Apapun alasannya Steeping Leaf adalah kedai peninggalan Charles, suaminya, dan Louisa tak ingin kenangan-kenangan terhadap Charles hilang begitu saja.

Masalah semakin runyam saat Annie dan Genna bertengkar hebat yang menyebabkan hubungan mereka merenggang. Semakin pelik lagi, Zach, begitu terus menerus mengganggu Annie.

Apakah kedai Steeping Leaf dapat kembali berjaya, dan apakah gadis-gadis kedai teh dapat bersatu kembali? Buku The Teashop Girls merupakan buku yang sarat akan persahabatan, cinta, dan kekuasaan. Di dalam novel ini, pembaca akan disuguhi catatan-catatan seperti resep membuat teh, resep membuat kue camilan, kliping gambar iklan teh, sejarah teh, catatan harian, tips mempercantik tubuh, dan catatan-catatan menarik lainnya.

Review Novel The Teashop Girls: sehangat harapan semanis persahabatan
Review The Teashop Girls: sehangat harapan semanis persahabatan

Membaca buku ini saya seperti sedang mendengarkan cerita beserta menikmati santapan-santapan teh dan camilan ala Inggris. Semuanya dibungkus dengan gaya bahasa menarik dan enak dibaca. Nyaris tidak ada salah tulis.

Sedikit catatan review The Teashop Girls, sehangat harapan semanis persahabatan dari saya adalah seadainya resep, gambar dan iklan itu disajikan dalam bentuk full warna mungkin novel ini akan menjadi buku yang indah.

Judul: The Teashop Girls (sehangat harapan, semanis persahabatan)
Oleh: Laura Schaefer
Penerbit: Mizan Fantasi
Cetakan pertama: Maret 2013
Halaman: 309

Bergumul dengan buku Bergumul dengan Gus Mul

Judulnya ruwet yak, kalau pusing baca judulnya, saran saya jangan dibaca. Daripada tambah ruwet mending baca langsung Buku Bergumul dengan Gus Mul!

Sebenarnya, saya menulis buku ini tujuannya ingin berbagi cerita kehidupan saya, yang menurut banyak orang selalu kelihatan susah, padahal saya sih bahagia-bahagia saja. Kadang, malah sebaliknya. Kalau kata orang Jawa, urip pancen wang-sinawang.

Lalu, banyak yang bilang bahwa bahagia itu bisa berawal dari hal yang sederhana dan sepele. Lha, memang iya. Saya bisa mendapatkan kebahagiaan itu dari orang-orang di sekitar saya, seperti keluarga, tetangga, dan juga kawan bermain. Mereka selalu membuat hati saya bahagia. Walaupun dibalik kebahagiaan hidup itu, masih ada stempel yang melekat pada saya, bahkan awet sekali: Jomblo (sabar yo, Le)

Jomblo, akhir-akhir ini semakin gencar saja. Apalagi ada tambahan kehadiran Agus Mulyadi atau Gus Mul yang secara vulgar menyatakan kejombloannya melalui blog pribadi yang kemudian bertransformasi menjadi sebuah buku. Buku yang pertama, Jomblo hapal Pancasila, dan yang kedua, yang baru diluncurkan bulan Februari 2015, judulnya Bergumul dengan Gusmul.

Nyatanya kehadiran buku seputar jomblo tak membuat para singgelers di seluruh dunia protes atau marah, mereka bahkan seperti menemui oase dan semakin bangga bahwa sebenarnya masih banyak stock jomblo di dunia ini hehe…

Walau bukan dari kalangan jomblo (setidaknya saya ingin menyatakan kepada khalayak bahwa saya Alhamdulillah dilahirkan ke dunia menemukan pasangan lebih dulu sebelum para jomblo-jomblo itu :D), nyatanya saya teramat penasaran membaca buku Bergumul dengan Gusmul. Entah karena judulnya yang ‘ngawe-awe’, atau karena fotonya Gus Mul yang nyentrik sok SKSD, atau karena warna pink cover bukunya yang girly, haha…

Saya curiga jangan-jangan editornya salah milih warna, nih, padahal diluar sana para jomblowan banting tulang berusaha mengumbar warna biru ditubuhnya agar terlihat maskulin dihadapan para jomblowati. Lha kok malah melawan arus!

Saya menyadari buku Bergumul dengan Gusmul terbitnya bulan Februari, yang.. yang katanya bulan bagi-bagi ‘gula jawa’ sedunia *lagi gak punya coklat, coklat mahal, sekilo 200 rebu! Gantinya gulo jowo ae.. :D*. Mungkin juga karena penulis dan pembuat desain cover buku ini sedang kasmaran jadi dibuatlah warna pink *kecurigaan tak beralasan* haha..

Etapi, ngomong-ngomong warna pinknya cantik lho.. seperti.. seperti bajunya Raja Jalal hihi.. melirik warnanya saja langsung bikin perasaan ingin mengoleksi orangnya, eh, bukan ding, mengoleksi bukunya *twink-twink*

Buku Bergumul dengan Gusmul berisi banyak kisah-kisah sederhana yang sering muncul di sekitar. Terdiri dari 39 bab yang semuanya hampir sukses membuat saya tak berhenti tertawa. Ada hikmah, intrik, kekuasaan, dan pengorbanan… mirip seperti kisah cinta raja Jalal kalau sedang sakau memikirkan ratu Jodha *eaa kok larinya ke raja Jalal lagi…

gusmul foto.

Jadi sebenarnya di Buku Bergumul dengan Gusmul ini pembaca diajak mengenal teman-teman Gusmul yang doyan nge-ciu, orangtua dan saudara Gusmul yang jowo tulen, serta cerita kearifan lokal yang lumrah terjadi di kampung.

Ada salah satu obrolan ngakak yang membuat saya tidak bisa berhenti tertawa. Obrolan ini terjadi antara Bapak dan Emaknya Gus Mul dihalaman 32:

Pak, mbok KTPne digoleki meneh yo, lha iki nang fotokopian’e, fotoku ora patio cetho, Je
(Pak, mbok KTPnya dicari lagi, lha ini di fotokopiannya, foto saya nggak begitu jelas) kata Emaknya Gus Mul ketika sibuk mencari KTP yang tersesat nyimpannya.

Dijawab sama Bapaknya: “Halah, kowe ki rasah ramin, Bu, lha wong rupamu ki ket biyen cen wes ra cetho, kok!” (Halah, kamu nggak usah ribut, Bu, lha wong wajahmu sejak dulu memang sudah nggak jelas, kok)

Glodhak!!!

Siapa yang nggak ngakak baca jawaban begitu. Bagi orang yang ngerti bahasa Jawa, jawaban Bapaknya Gus Mul ini tergolong koplak. Guyonan ini sukses membuat saya tertawa sampai nangis-nangis.

Ini masih nemu satu bab, padahal dibab lainnya, masih banyak lontaran-lontaran makjleb khas Gus Mul yang selalu menjebak di bagian penutupnya.

Dari banyak buku humor yang saya baca, baru nemu tulisan yang menurut saya anti mainstream. Bahasa Indonesia berpadu logat Jawa membuat saya kangen reuni dengan teman-teman sekolah yang kekoplakannya persis seperti tulisan Gus Mul yang tingkat humornya diatas rata-rata. Celetukannya natural, khas naluriah orang Jawa kalau sedang njagong.

Bagi yang sedang haus kasih sayang hiburan, buku Bergumul dengan GusMul layak jadi teman pergumulan. Bagi yang sedih, patah hati, kangen orangtua, dikecewakan sahabat, baca deh buku ini, dijamin selesai baca buku ini tingkat keromantisan teman-teman akan bertambah, minimal seromantis warna covernya.. ihik-ihik 😀