Cerita Yuni

Pengalaman Nonton Konser Tulus dan Didi Kempot di Surabaya, Kumerasa Ambyaarrr!

Tidak tau kapan pastinya lagu-lagu Didi Kempot familiar di kalangan anak milenial saat ini. Termasuk juga penyanyi Tulus yang menurut saya lagunya lumayan melankolis dan sejujurnya lebih cocok didengarkan oleh manusia level usia 30-40an.

Apakah ada pemborosan selera pada musik anak remaja sekarang? Jawabannya membuat saya Mbuh, haha

Pengalaman Nonton Konser Tulus dan Didi Kempot di Surabaya, Kumerasa Ambyaarrr!

Tepatnya tanggal 8 Desember 2019 saya diajak nonton Konser Tulus dan Didi Kempot di Surabaya sama Mas Rinaldy di DBL Arena. Namanya juga diajak, saya hooh-hooh saja, apalagi ada Didi Kempot yang lagu-lagunya sedang ramai digandrungi orang. Sekaligus membuktikan seantusias apa anak Surabaya dengan lagu-lagu Didi Kempot yang membuat penontonnya sampai nangis-nangis.

Di luar dugaan, heran saja tidak cukup untuk mengungkapkan keterkejutan saya melihat anak muda yang nonton konser serasa sedang bernyanyi di ruang karaoke.

Diam-diam saya merasa koplak. Mungkin lebih tepatnya plonga-plongo. Lha bagaimana, kanan kiri saya menyanyi dengan sangarnya. Joget-joget dengan hebohnya. Teriak-teriak dengan gokilnya. Saya hanya mencep. Meneng plethes karena gak hapal lirik. Gak hapal lirik sih masih bisa nggremeng-gremeng dikit, ini bener-bener gak ngerti lagunya. Parah!

Sadisnya Konser Tulus

Muhammad Tulus. Lebih dikenal dengan sebutan Tulus. Penyanyi yang ditelinga saya mengandung aliran pop jazz ini rupanya cukup dielu-elukan remaja Surabaya.

Entah sayanya yang tidak terlalu suka musik dengan aliran ini atau menganggap lagunya B aja sehingga tidak peka dengan nada maupun lirik lagu-lagu Tulus. Dan ketika konser berjalan, saya merasa BLANK.

BLAS saya gak ngerti satupun lagunya TULUS!

Lah terus kamu kenapa tetep nonton konsernya Maknyaaakkkk?

Ada 2 alasan kenapa saya mau nonton konser. Pertama karena dapat tiket GRATIS. Kedua karena selain TULUS ada Didi Kempot juga. Biasa, kan, kalau ada penyanyi yang hits, pasti digabungkan dengan penyanyi yang kelasnya rata-rata. Buat penyeimbang biar suasana konser gak monoton

Ternyata opini ini salah besar. Kehadiran TULUS dan Didi Kempot rupanya sama-sama penyanyi hits. Lagunya sama-sama disenangi orang.

Jam 20.00 tepat, seorang laki-laki berpembawaan parlente berjalan memasuki panggung yang diiringi dengan suara nyayian tanpa musik. Saat itu suasana tribun senyap. Cewek sebelah saya kelihatannya juga tak terlalu antusias.

Begitu satu baris lirik selesai dinyanyikan, tiba-tiba saja ruangan itu berubah jadi lautan penyanyi. Lagi-lagi saya masih berpikir positif, “alah paling cuma satu lirik aja, yakin deh gak hapal nyanyian selanjutnya..”

Mbrodol, dugaan saya keliru. Dari lagu pertama sampai lagu terakhir tak sekalipun mereka diam. Ada kali Tulus menyanyikan 10 lagu, dan manusia-manusia seumuran 20 tahunan itu hapal lirik di luar kepala!

Biar gak plonga-plongo amat, saya coba browsing lirik dan berusaha mengikuti nyanyian, tetap saja saya gagal. Percuma, usaha apapun kalau selera musiknya beda, gak akan bisa cocok.

Ya udah, selama konser berlangsung, saya duduk aja menikmati orang karaoke di tempat konser. Mas Rinaldy sampai berkelakar, “gak bisa nyanyi yaaaa, kasihaann..” haha

Sementara di dekat saya ada anak laki-laki kelas 4 SD bernyanyi bersama kakek-neneknya dengan sangat lekoh. Sampai matanya merem-merem menghayati lagu. Tapi jujur, suaranya Tulus memang enak banget. Empuk, gitu.

Sepulang nonton konser, saya pun mencari lagu-lagunya Tulus. Siapa tau saya bisa menyanyi dan menikmati selayaknya para penonton konser. Hingga tulisan ini tayang, telinga saya masih tidak bisa merasakan indahnya lagu-lagu Tulus..

Sobat Ambyar bertemu Didi Kempot

Mau bilang puncaknya konser malam itu adalah Didi Kempot rasanya tidak mungkin sebab Tulus sudah mengawali penampilan dengan sangat epik.

Menuju pergantian artis, panitia terkesan mengulur waktu dengan membagi-bagikan perdana Smartfren dan goodiebag yang memang jadi sponsor utama konser Tulus dan Didi Kempot tersebut.

Ditambah lagi MC juga kebanyakan PHP hingga membuat pengunjung teriak tak sabar minta keluarkan Didi Kempot segera!

Begitulah, selang beberapa saat Om Didi Kempot tampil dengan suaranya yang khas. Sekali lagi, penonton menyambut dengan berdiri dan berjingkrak-jingkrak mengikuti lirik lagu.

Bukannya saya tidak tau lagu-lagu Sobat Ambyar, tau tapi tidak hapal penuh. Saya merasa lagu Didi Kempot sekarang sudah beda generasi dengan lagu-lagu jaman model Stasiun Balapan waktu saya SMP.

Berbeda dengan Tulus, meski saya tidak hapal lirik, tapi saya masih bisa mengikuti alunan lagu Didi Kempot

Soalnya telinga saya lebih tertarik dengar musik rancak ketimbang yang mendayu-dayu, hehe..

Yang paling seru ketika bagian lirik Cendol Dawet Limangatusan. Bumi tempat saya berpijak rasanya turut bergetar. Hebohnya bangeten! Tapi saya suka. Saya sampai tertawa kepingkal-pingkal melihat tingkah anak-anak muda itu.

Namun dari sekian kehebohan, kehadiran Mas Dori sempat membuat para perempuan berteriak histeris. Termasuk saya, haha..

Oh, saya baru tau ternyata Mas Dori duda, ya.. nasibnya lebih ambyar dari Sobat Ambyar, hehe..

Mas Dori mendapat kesempatan nyanyi 1 lagu. Tidak terlalu familiar juga di telinga saya, tapi para penonton masih bisa nyanyi. Hebat ya mereka.. bisa tau lagu-lagu barunya Didi Kempot. Ckck..

Tak banyak lagu yang dinyanyikan Didi Kempot. Paling 6-7 lagu aja. Tapi saya bahagia, karena di bagian penutup, Om Didi Kempot menyanyikan lagu Stasiun Balapan. Wah reuni banget saya. Saat inilah bagian saya benar-benar menikmati konser. Lagu Stasiun Balapan yang dulunya waleh, aransemen baru membuat lagu ini jadi lebih meriah. Saya sukaaa..

Setelah konser berakhir, playlist YouTube saya isinya Didi Kempot semua. Memang asik, sih.. Dan sekarang bibir saya auto nyanyi.. Dudu klambi anyar sing nang njero lemariku.. tapi bojo anyar sing mbok pamerke nang aku.. Sakno, sakno!

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.