Gadis Biru
Keluarga

Gadis Biru

Saat pertama menjejakkan kaki di lantai Metro Mini jurusan Terminal Senin, mata saya seketika tak bisa lepas pada sesuatu yang menggelitik hati. Sebuah pemandangan yang jarang sekali saya lihat di Surabaya hingga membuat fokus ini sulit melepas pandang darinya.

Seorang gadis bercelana legging motif corak dipadan dengan kaos biru bertuliskan Stylish girl.  Sebuah tas saku warna biru tercangklong di pundaknya, serasi dengan warna sepatu kets yang dikenakan. Rambutnya diikat  lalu ditekuk rapi yang sekilas mirip gelung, lalu dipermanis  dengan bandana biru berpita cantik di atas kepalanya. Makin menawan kala melihat giwang tempel model kancing bulat bermotif polkadot yang juga berwarna biru di telinganya.

Semua serba matching. Saya menyebutnya Gadis Biru.

Make upnya cantik. Lengkap pula. Memakai bedak, eye shadow dan lipstik warna natural, ditambah alis hitam tebal non tato disertai garis hitam melingkari mata. Makin menambah keanggunan khas wanita sosialita ibukota. Perawakannya yang tinggi dan berkulit putih bersih laksana mahkluk sempurna yang tak kurang suatu apa.

Suka melihatnya. Yakin bukan hanya saya saja yang tertarik, tapi juga semua mata  tertuju ke padanya. Jangankan laki-laki, saya yang wanita pun tak kalah terpesona memandangnya.

Tiap kali mencuri pandang, selalu saja saya temukan  1– 2 orang yang tersenyum ke arah Gadis Biru. Tak jarang sambil berbisik, kepala mereka seraya geleng-geleng. Barangkali antara kagum dan heran.

“Masih jauh, Bu, tetap di dalam aja!” teriak si gadis biru kepada salah seorang penumpang yang dari tadi melongok ke luar jendela metromini memastikan seberapa jauh lagi tujuan pemberhentiannya. Suaranya begitu parau namun lantang.

“Om, masuk dong, Om!  Ah.. si Om bikin penuh pintu aja nih” Protesnya kepada salah satu penumpang yang berdiri di dekat pintu bus.

“Harusnya bisa dapat 100 penumpang, dari tadi hanya 10 orang!” Lanjutnya sambil teriak menggerutu.

Saya yang dari tadi melongo melihat gaya libas Gadis Biru, kini tersenyum simpul.  Ucapan Gadis Biru itu terlalu Hyperbola. Jangankan si Om yang kena damprat itu, saya saja dari tadi hanya bisa berdiri di dekat pintu. Boro-boro geser, menempatkan pijakan kaki aja susah. Bagaimana mau masuk, coba, kalau suasana di dalam kendaraan sudah sesak oleh manusia hingga nafas saja berat. Dan inilah kelebihan yang dimiliki Gadis Biru, walau ucapannya sadis namun tak membuat semua orang marah. Pun yang didamprat malah tertawa kacau.

“Bu berdiri yang bener, Bu, supaya mobilnya bisa muat banyak!” Teriaknya ke arah tengah Metro Mini. Entah kepada siapa teriakanya ditujukan. Ada aja sesuatu yang diprotesnya.

“Bang, tolong masuk, Bang!” Kali ini ditujukan pada orang di dekat saya

Emang dari tadi saya di luar?” protes lelaki yang dipanggil Abang. Gadis Biru tak mengindahkan, Ia lantas menerobos kerumunan menuju lorong tengah Metro Mini.

“Ongkos-ongkos.. Ongkosnya, Bu” tangannya cekatan menerima lembarang dua ribuan dari penumpang baru. “Berapa nih, Bu, dua ribu sekarang, sudah gak jaman seribu lima ratus!” lanjutnya sewot kepada salah satu penumpang.

Berkali-kali ocehan yang Ia lontarkan tak sedikit pun membuat penumpang sensi. Mereka malah mafhum dan tak sedikit yang kagum akan kecerewetannya.

“Kiri!!” paraunya kencang sambil menghentak-hentakkan koin yang dari tadi digenggamnya di pintu kaca Metro Mini, tanda ada orang akan turun. Walau ucapan yang dilontarkan kepada penumpang cukup sadis, si gadis lumayan perhatian jika sedang menurunkan orang sepuh. Semua barang ia bantu turunkan dan tak lupa mengucapkan hati-hati. Saking perhatiannya, Ia kerap menyalahkan sopir yang terlalu kecepatan nginjak gas saat penumpangnya belum turun sempurna.

”Awas.. turun kaki kiri dulu, Bu..” si gadis biru turun sejenak lalu.., “Lanjut, Bang, goyaaang….!” Secepat angin Ia naikkan salah satu kakinya di atas lantai Metro Mini begitu penumpang sudah turun.

Kala kerjaannya senggang, tangannya sibuk mengelus-elus lembarang kertas uang ribuan dan ditata sedemikian rupa. Sesekali matanya jelalatan mencari penumpang baru di jalanan untuk ‘dipaksa’ masuk ke Metro Mini penuhnya. Tapi sesekali juga dia waspada, melihat kebelakang barangkali ada Metro Mini lain yang secara diam-diam berusaha mendahului.

Bila ada Metro Mini lain yang berada tak jauh dengan kendaraannya, cekatan dia melantangkan suara ke arah sopir, “16 lampu merah” sebagai tanda pemberitahuan kepada sopir bahwa ada Metro Mini lain bernomor 16 sedang berhenti di lampu merah.

Kali lain dia berteriak cerewet “Siap-siap Arion..” atau “Siap-siap Tugas” sebagai tanda pemberitahuan bagi penumpang yang akan turun di tempat yang dia sebutkan tersebut.

Bila akan berhenti mengambil penumpang, dengan semangat, tangannya memberi aba-aba kepada pengendara di belakang metro Mini agar sedianya diberi jalan.

Si gadis biru itu benar-benar cekatan. Baginya semua penumpang harus habis dilahapnya, jangan beri kesempatan untuk Metro Mini lain.

Saat tiba di Setasiun Senen saya harus turun. Rupanya daya pesona ‘magis’nya masih terbawa oleh saya, sehingga, meski sudah berada di ujung jalan, mata ini tak henti-hentinya menatap si gadis biru yang suaranya masih terdengar tegas menggelegar di kejauhan.

Dialah Gadis Biru sang kenek Metro Mini.

Yang membuat saya terus bertanya-tanya adalah, masak iya si gadis biru itu benar-benar berprofesi sebagai kenek. Sudah cantik, tegas, loyal dan berintegritas. Tak masalah juga kalau perempuan cantik jadi kenek. Masalahnya hanya pada saya, kenapa dulu gagal mempertahankan cita-cita jadi kenek, huhu..

Adakah teman-teman di Jakarta yang pernah melihat Gadis Biru ini?

12 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.