Keluarga

Lebaranku, memanfaatkan moment dan silaturrahmi

Seperti tahun kemarin, Lebaran tahun ini saya dan Suami memutuskan tidak mudik lagi. Biasanya setiap lebaran saya mudik ke rumah orang tua Suami di Jakarta. Tapi tahun ini alasan tidak mudik saya masih sama seperti sebelum-sebelumnya yaitu mepetnya pengumuman libur. Dan lagi membeli tiket kereta mepet-mepet begini sulitnya minta ampun. Jadilah lebaran tahun ini kami habiskan di Surabaya sembari berkunjung di rumah Saudara dan nenek yang ada di Jombang.

Diakhir-akhir bulan Ramadhan adalah waktu sibuknya umat Islam untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berbau lebaran. Pada saat sibuk itulah biasanya banyak ditemukan momen unik demi menyambut datangnya Hari Fitri. Karena lebaran tahun ini sangat spesial yaitu bersamaannya umat Islam merayakan Idhul Fitri juga karena saya belum pernah melakukan sesuatu yang unik.

Hunting Foto

Memang agak aneh sih, lebaran-lebaran kok malah dipakai buat hunting foto. Ya, bagaimana lagi menjelang lebaran momen seperti ini kan sangat berharga banget buat mendapatkan jepretan yang unik-unik. Kapan lagi bisa melihat pemandangan orang mudik dengan bawaan full kalau tidak pas momen lebaran seperti ini πŸ˜€

Supaya saya juga bisa merayakan Idhul Fitri, kegiatan hunting foto itu saya lakukan sehari menjelang lebaran. Pada hari puasa terakhir, pagi-pagi sekali saya dan suami mendatangi terminal Purabaya.

Mau pergi kemana?

Nggak kemana-mana. Cuma duduk-duduk sesekali hilir mudik ngeliatin orang mudik!

Iseng banget!

Memang. Kalau gak waktu lebaran kapan lagi bisa punya koleksi foto orang mudik πŸ˜›

Disana kami tak hanya melihat bis-bis yang berjajar tapi juga repotnya seorang porter yang membantu bawaan pemudik. Yang membuat kasian adalah kalau melihat porter yang sudah tua membopong bawaan pemudik yang jumlahnya melebihi kewajaran. Ada juga calo penumpang yang semangat menawarkan bis kepada pemudik. Saking semangatnya mereka sambil berteriak-teriak dan memaksa calon penumpag untuk segera naik ke bus.

Porter sedang mengemban tugas
Porter sedang mengemban tugas

Merayakan lebaran bersama Tetangga dan Saudara

Besoknya, pada hari H Idhul Fitri, seusai Sholat Ied di lapangan, saya dan Suami makan dengan menu khas lebaran Ibu saya, yaitu nasi kuning lengkap dengan lauk ayam, sambal goreng tempe, srundeng serta telur ceplok yang diiris-iris memanjang. Sebelumnya, malam-malam diiringi suara takbir di masjid Ibu saya getok-getok didapur untuk memotong ayam. Sambil memotong ayam Ibu saya bercerita bahwa Emak Ibu (nenek saya) kalau lebaran begini biasanya juga selalu memotong ayam yang jumlahnya cukup banyak, menurut Ibu, nenek sengaja membuat banyak masakan untuk dibagi-bagikan ke tetanggaΒ  seusai sholat Ied. Hmm.. momen berdua inilah yang saya suka dan pastinya akan menjadi kenangan tak terlupa. Mungkin suatu saat saya juga akan mengikuti tradisi yang dilakukan nenek serta Ibu saya.

Rupanya lebaran di Surabaya tak selalu sepi. Buktinya belum juga sejam usai bubaran Sholat Ied, rumah saya sudah kedatangan banyak tamu untuk bersilaturrahmi. Mereka ini adalah tetangga yang akan berangkat mudik. Selesai satu tamu berlanjut dengan tamu-tamu lainnya. Bak air mengalir, rumah saya tak pernah sepi tamu ditambah lagi dengan kedatangan kakak serta saudara yang mengajak istri dan anaknya kerumah membuat suasana ramainya luar biasa.

Saat tamu sudah agak sepi, bergantian saya yang mengunjungi rumah tetangga. Berkeliling dari satu rumah kerumah lainnya yang senantiasa terbuka menerima siapa saja yang datang.

Kumpul bersama saudara dan keponakan
Kumpul bersama saudara dan keponakan
Narsis bersama keponakan. Manda, Salsa, Bima dan Titha
Narsis bersama keponakan. Manda, Salsa, Bima dan Titha

Hingga menjelang malam, suasana rumah dan jalanan masih tampak ramai sehingga saya dan kakak-kakak lainnya yang menginap dirumah harus berdiri ditengah jalan untuk bersalaman dengan tetangga-tetangga yang lewat.

Mudik ke Jombang dan silaturrahmi dengan sahabat blog

Pada lebaran kedua barulah kami sekeluarga mudik ke Jombang, ke rumah nenek dari Ibu saya. Selama di perjalanan, memanfaatkan momen tetap kami lakukan yakni dengan memotret apapun yang kami anggap unik. Mulai macetnya jalanan, Pak Polisi yang sibuk mengatur lalu lintas, hingga memotret pemudik yang menggunakan segala cara demi bisa berkunjung ke rumah orangtua dikampung.

11-12 dengan situasi di Surabaya, suasana di Jombang juga sangat ramai. Walaupun badan terasa lelah karena 2 hari bangun pagi dan tidur menjelang malam pun tak sempat kami rasakan. Pencampuran rasa itu telah melebur dan berbaur manis membuahkan kebahagian dan keceriaan. Kerinduan terhadap sanak saudara terbayar sudah dengan berkumpulnya semua saudara. Ah, indahnya..

Disela-sela bertemu keluarga di Jombang itu saya juga sempatkan berkunjung ke rumah seorang teman blog. Siapa lagi kalau bukan senior saya yaitu Pakde Cholik. Yah, seorang blogger yang menetap di Surabaya tetapi lahir di kota Jombang. Saya yakin semua sudah pada tau itu. Pada saat itu Pakde memberitau saya kalau besoknya akan ada tamu blogger asli Jombang tapi tinggalnya di Jogya akan bertamu ke rumah Pakde juga adalah Pak Ahmad Muhamimin Azzet.

Kopdar blogger Hari Raya bersama Pakde dan Pak Muhaimin Azzet
Kopdar blogger Hari Raya bersama Pakde dan Pak Muhaimin Azzet

Benar saja, ketika keesokan harinya saya kerumah Pakde lagi, Pak Muhaimin beserta istri sudah hadir duluan. Seperti kopdar-kopdar yang lalu kami bercengkerama panjang lebar mengenai dunia perbloggingan, dunia tulis menulis dan sedikit menyinggung soal agama, sebab tamu kita satu ini adalah seorang ustad.Β 

Setelah kopdar itu kami langsung cap cus ke Surabaya. Ah, lebaran yang indah, dan kopdar yang menyenangkan. Jarang-jarang bisa unjung-unjung sekaligus kopdar dengan teman blogger pada saat lebaran seperti ini, yang ada mereka pada sibuk mudik ke kampung halamannya masing-masing, berkumpul keluarga sembari makan kue lebaran.

Ini cerita lebaranku, mana cerita lebaranmu? πŸ™‚

27 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.