Cerita Yuni

Blogger VS Generasi Instagram

Dih, hari ini DL terakhir nulis tema LBI pekan ke enam, yah. Lagi gak punya ide, niih.. gimana admin? Hehe..

Dari kemarin sebetulnya udah punya ide mau nulis pengalaman jadi narasumber di acara Jaringan Informasi Masyarakat (JIM) Bojonegoro yang kebetulan temanya seputar blogging. Udah nyedian waktu dan mood yang nyaman. Ndilalahnya, mak jegagik, tangan saya nulis artikel Laskar Gerhana Matahari. Udah kadung nulis lancar, ya udah dilanjutkan ajaa, sapa tau dikasih rejeki jalan-jalan gratis ke Belitung. Doakan, yaa..

Trus sekarang mau nulis apa?
Mboh, mood nulis acara JIM udah ilang. Mau ngawali kalimat, susahnya.. haha..

Tapi gini deh, diam-diam saya merasa apresiatif melihat anak-anak remaja sekarang pinter membuat video, menciptakan meme kartun lucu, juga foto-foto yang di edit menjadi selayak fotografer profesional. Walaupun jatuh-jatuhnya mereka belajar sendiri secara otodidak, patut dikasih jempol, tuh usaha mereka. Saya aja yang pernah diajari belum bisa membuat gambar bagus. Bukan soal bisa gak bisanya, tapi tingkat kekreatifan kita beda. Mereka lebih telaten ketimbang saya hehe

Di Instagram dan di Facebook sering saya lihat video dan foto-foto cakep. Begitu dilihat PPnya, ternyata masih anak SMA. Wuih, kereenn..

Jadi keingat bulan Desember kemarin ponakan saya yang masih SMP kelas 7 ngerengek-rengek ke orangtuanya minta sewa kamera DSLR buat kado ulangtahunnya. Iya, sewa. Bagi dia, mending uangnya di pakai sewa kamera ketimbang buat traktir makan teman-temannya. Rupanya teman-teman sekolahnya suka foto-foto. Padahal dia rumah sudah punya Kamera Pocket Canon Ixus, kok milih sewa..

Sony Mirrorless A5100

Beberapa hari kemudian, saya pinjem smartphonenya dia dan melihat ada foto-foto bagus di folder galeri. Saya tanya, ini foto siapa? dia bilang foto dia sendiri. Siapa yang jepret? Jepretan sendiri pakai kamera SLR sewaan. Saya terperangah.. wih anak, anak sekarang canggih-canggih..

Saya tau ponakan saya ini punya potensi, terutama dalam hal gambar-menggambar dan fotografi. Tapi tidak dalam hal tulis menulis. Pernah saya coba giring potensinya kearah penulisan. Saya beri buku dan pensil dan memintanya nulis apa yang dia mau tulis. Jawabanya sangar, “aku gak bisa nulis, Tee..”

Yah yah yah, saya gak bisa paksakan, dong..

Sementara di lain momen saya bertemu dengan pelajar SMA yang heboh membuat artikel untuk tugas pelajaran IT. Yaitu membuat blog dan membuat postingan. Menurut mereka, Guru ITnya memberikan tugas melalui email, lalu si murid mengerjakan tugas Pak Guru di blognya. Sampai setahun kemudian saya tak bertemu lalu bertemu lagi ingin ikut kegiatan blogger. Saya seneng lah, berarti Pak Gurunya sekses mencetak blogger remaja.

Di lokasi saya tanya tentang blognya. Jawaban yang diberikan sungguh mencengangkan. Dia sudah lupa password blognya karena sejak lulus sekolah, blognya gak diupdate. Intinya, dia membuat blog hanya menyelesaikan tugas sekolah. Selebihnya tidak. owww owww… sayang sekalii..

Saya akui, memang pekerjaan penulis itu sulit. Tiap hari harus membuat konsep tulisan dan mengolah kalimat sehingga bagus dibaca oranglain. Tapi kembali lagi, kalau ingin jadi penulis, meskipun tidak memiliki passion, asal mau mencoba lebih keras, saya yakin bisa sukses.

15 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.