Pacaran durasi a la generasi Z
Cerita Yuni

‘Pacaran’ Durasi a la Remaja Generasi Z

Sisa lebaran meninggalkan cerita berkesan buat saya, terutama ketika berkumpul dan bertukar cerita dengan beberapa keponakan sepantaran yang tingkat sekolahnya sama-sama kelas 8. Lucu sekaligus menyenangkan.

Rupanya selain kebiasaan bermain game online, ada salah satu yang hobi telpon-telponan dengan teman perempuannya selama berjam-jam melalui video call. Inilah yang membuat heran sekaligus gemas.

Saya sebut aja pacaran durasi. Entah siapa yang memulai aksi ini, namun konon gaya telpon video dengan durasi panjang sedang menjadi trend di kalangan remaja. Bahkan ketika sama-sama tidur pun, HP dalam kondisi nyala!

“Matikan aja kenapa sih, ngabisin data, tau! Ngabisin baterai!”

“Tidur ya tidur aja, besok pagi telponan lagi kan bisa!”

Segala kata protes, ternyata tak bernilai di hadapan mereka. Yang ada malah saya diketawain dan dibilang gak gaul. Dih!

Memahami polah remaja jaman sekarang

Sudah jadi PR buat orang tua memahami pola pikir remaja, tapi jangan menghakimi juga sekalipun mereka berbuat ulah. Sebisa mungkin diketawain aja dan ajak mereka mengungkapkan kenapa melakukan hal seperti itu.

Kalau saya, semakin mendalami karakter mereka, makin ketauanlah tuanya usia saya, haha..

Jika dihitung, saat ini jumlah keponakan saya ada 13 dan hampir semuanya berusia sepantaran, usia SMP – SMA yang satu sama lain memiki keunikan karakter. Menghadapi remaja awal ini tentu jadi PR sendiri, usia-usia ketika mereka sudah mulai menemukan dunianya.

Cara saya mengakrabkan diri adalah berusaha ngerti kesukaannya. Misalnya dengan Manda yang hobi main TikTok, saya sampai harus ‘melupakan’ usia agar menjadi teman jogetnya, lho!

Begitupun dengan Titha, saya kerap menyisihkan waktu khusus ketika diajak bermain gartic.io. Serepot apapun, ketika dua WA ngajak mainan, sulit untuk ditolak.

Tapi yang lebih menguras pikiran ketika mendekatkan diri dengan anak laki-laki. Rata-rata mereka tidak banyak bicara, sehingga harus saya yang memancing obrolan dan banyak menggali pertanyaan seputar kegiatan mereka di rumah dan sekolah.

Ketimbang anak perempuan, anak laki-laki lebih susah diajak buka-bukaan. Kalau ada masalah mereka cenderung diam, baru mau ngomong kalau kata-kata saya seakan berada di posisi mereka. Jadi harus bener-bener mengerti apa yang Ia rasakan. Kadang saya mikir, lah opo aku mbok anggep cenayang yang selalu mengerti isi hatimu? Tapi itulah seninya menghadapi remaja 😀

Trik saya, intens menyapa melalui chatting. Bertanya sekarang lagi apa dan memulai obrolan receh. Meski jawabannya juga amat-amat receh. Malah sering saya tanya 5 kata, jawabannya cuma 1 kata. Giliran dijawab panjang, pakenya huruf korea wkwk

Ngobrol NO HP-HP Club!

Lebaran siang hari tamu di rumah kian bertambah dan itu artinya remaja laki-laki di rumah makin banyak. Ada Kiki, Galih dan Fandi. Anak perempuannya Titha sama Manda.

Sesuai prediksi, lelaki bertiga ini sejak datang sudah sibuk dengan HPnya. Apalagi kalau nggak mabar? Diajak ngobrol ya ngobrol tapi tetap, tangan nggak lepas dari HP. Biar gak cuek-cuek amat, sesekali saya libatkan mereka untuk mengerjakan sesuatu. Misalnya minta tolong ambilin stoples kue, nyuruh makan, dan lain-lain.

Hingga suatu ketika ada momen santai. Saya panggil mereka lalu saya ajak duduk di kursi bersama. Saya meminta semua gadget diletakkan. Tapi nggak frontal, pake gaya bercerita dulu. Kayak gini,

“Tante itu kalau ketemu teman-teman nggak boleh lho sambil mainan HP. Semua HP harus dikumpulkan di meja. Boleh pegang kalau ada panggilan telepon. Nah sekarang kita juga begitu, taruh HPnya semua. Yang batterainya habis dicharge dulu”

Mereka nurut. Setelah semua santai, saya mulai buka pembicaraan. Satu per satu saya tanya kabarnya, bagaimana puasanya, tarawihnya, ngajinya, tugas sekolahnya, dengan gaya wawancara. Biar ramai, saya selipkan cerita lucu atau meme yang sering saya temukan di sosmed. Untuk menjawabnya, saya minta mereka bercerita!

Kehadiran Manda yang sudah kelas 12 cukup menambah sensasi. Kelebihan usianya menambah percikan tawa dengan gaya pro kontranya. Tak terasa, selama hampir 3 jam mereka lupa dengan gadgetnya.

‘Pacaran’ Durasi Remaja Generasi Z

Selain wawancara standar, ada salah satu pertanyaan yang saya ajukan kepada Kiki, yaitu mengenai gaya pacaran durasi. Mungkin tidak elok bila saya bertanya pada anak SMP, tapi harus saya lakukan karena sebelumnya saya melihat Kiki sedang ngobrol lama dengan teman perempuannya selama berjam-jam melalui video call.

Remaja Generasi Z
Dari kiri: Kiki – Fandi – Saya – Galih

 

Saya ceritakan sedikit ya kejadiannya..

Gini, pagi-pagi saya sedang ngobrol bersama Kiki dan Manda sambil ngecharge HP. Di tengah obrolan, si Kiki ini kebelet buang air besar dan meninggalkan HPnya dalam kondisi menyala. Saya kan kepo, HP ditinggal tapi sambungan video call-nya nggak dimatikan. Itu kan buang-buang kuota ya?

Saya pikir saking kebeletnya, si Kiki lari dan lupa nggak menutup sambungan vidcall-nya. Usut punya usut, ternyata Kiki lagi teleponan video dengan teman perempuannya. (saya nggak sebut pacar karena terlalu muda untuk disebut pacaran).

Hampir satu jam sambungan teleponnya nyala tapi nggak ada aktifitas! Pun di seberang sana, ada seorang anak perempuan sedang menghadap layar. Begitu Kiki kembali, saya tanya lah kenapa HPnya gak dimatikan. Jawaban Kiki, “Gak papa, Te. biar ae. Makin lama kan makin bagus”

Karena gemas, saya minta Kiki untuk menyudahi vidcallnya. Saya pinjam HPnya, saya izin untuk ngomong sebentar dengan anak perempuan di seberang sana sekaligus mematikan sambungan, saya bilang baik-baik dengan teman perempuannya begini,

“Kakak, sudah dulu ya telponannya, nanti disambung lagi. Sekarang Kiki masih lebaran, mau ngobrol dulu sama sodara-sodaranya. Saya matikan sekarang ya, Kak”

Di sini saya mulai kepo, tujuannya apa sih vidcall lama-lama?

Kata Kiki, “Untuk menguji kesetiaan, Te” polos.

Otomatis jawaban ini memicu tawa. Seruangan ngakak semua. Oleh Manda diaminkan bahwa memang pacaran durasi itu sedang trend di kalangan remaja. Semakin lama durasinya, semakin setia pacarnya.

Iki uwopo lo..

Kesetian model apa pakai acara telponan lama? Kiki bilang dirinya ingin mencetak REKOR teleponan TERLAMA bareng ‘pacar’ dengan mengoleksi bukti screencap durasi telepon kemudian ditunjukkan kepada teman-temannya. Duh, Rek.. onok-onok ae toh yo..

Yang pernah dilakukan teman-temannya Kiki adalah vidcall selama 9 jam! Dari sebelum tidur hingga bangun pagi. Cara ini menunjukkan kalau dirinya setia, bahkan tidur aja rela ditunggui. Jadi Kiki ingin membuat durasi yang lebih dari itu gituu, haha..

Jadi kalau dulu telepon sampai bingung ngomong apa, anak sekarang nelepon cukup HP ditaruh di meja trus ditinggal-tinggal.

Saya jadi ingat kejadian seorang gadis yang marah dengan pacarnya karena selama beberapa saat tidak membalas WAnya. Dengan bukti CCTV, Ia protes ke pacarnya:

Jam 12.00 kamu masuk rumah
Jam 12.05 kamu buka HP
Jam 12.30 kamu masuk kamar

Rentang 12.05 hingga 12.30 kamu buka HP ngapain aja, kenapa nggak balas WAku?

Meniru grup parodi facebook yang selalu mencari kebenaran, izinkan saya mengeluh, Allhail ngademin, apakah begini gaya pacarana durasi a la remaja sekarang? Sungguh rakjel bingung menyikapnya 😂😂

 

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.