Air Susu Dibalas Air Tuba
Cerita Yuni

Ketika Air Susu dibalas Air Tuba

“Sebaik-baiknya teman, suatu ketika bisa berubah jadi jahat. Kecuali Ia seorang Teman Sejati”

Sebenarnya saya tak ingin mengingat kejadian ini, tapi entahlah, semakin saya melupakan, kisah ini makin mengudara di kepala saya. Bisa jadi efek kangen atau mungkin terlalu banyak kenangan yang saya simpan. Bahkan beberapa hari ini saya iseng mencari namanya di Facebook sekadar ingin tau kabarnya. Sayang belum berhasil.

Kejadian ini saya alami saat remaja. Saya memiliki teman yang usianya lebih tua 2 tahun, dan kami berteman baik sejak saya kelas 3 SD. Sebut saja Sri Rejeki, nama sebenarnya. Iyap, saya sebut nama sebenarnya siapa tau Mbak Sri baca postingan ini dan ingin berteman lagi dengan saya.

Selama rentang pertemanan itu keakraban kami seperti hubungan kakak dan adik. Tiada hari tanpa runtang-runtung bersama Sri. Setiap pagi Sri datang ke rumah mengajak saya ke pasar dengan sepeda mininya. Kami bersepeda, saya duduk di boncengan. Pagi kami selalu begitu karena jadwal sekolah saya masuk jam 12 siang, sedangkan Sri jam 10 pagi.

Perjalanan waktu begitu cepat hingga tak terasa saya di bangku SMK dan Sri kuliah di Universitas swasta bergengsi di Surabaya. Meski soal penampilan berubah drastis, hubungan kami tetap dekat. Tak jarang Sri mentraktir saya facial atau creambath di salon. Sri juga pernah mengajak saya Ice Skating di TP 3 bersama teman kuliahnya. Pokoknya kemewahan apapun yang dilakukan Sri, saya pasti turut menikmatinya.

Kenapa kami bisa sedekat itu? Karena Tante E, Mamanya Sri PERCAYA PENUH sama saya. Saya dianggap anak baik dan orangtua Sri yakin Yuni bisa menjadi teman baik untuk anaknya.

Sayangnya kepercayaan yang dibangun orangtua Sri pada saya, dirusak oleh anaknya sendiri. Saya kerap diminta bicara bohong dan membuat kesaksian palsu. Sesungguhnya hal ini bertabrakan dengan nurani saya, tapi rayuan Sri yang membabibuta kerap meruntuhkan kejujuran saya. Selain itu ada hal lain juga yang mengharuskan saya berkata bohong, yaitu sikap Tante E yang keras dan NGGAK MAU TAU.

Contohnya kejadian yang kami alami ketika disuruh beli pelembab di Indomart (pada masa itu belum jadi Indomaret). Sebagai minimarket pendatang baru, kasirnya sangat ketat memegang aturan bahwa “barang yang telah dibeli tidak dapat dikembalikan”.

Nahas bagi kami, karena salah beli, Tante E minta barangnya dikembalikan tanpa alasan apapun! Seribu satu alasan kami jelaskan, Tante E tetap nggak mau tau. Di sisi lain, jam sudah menujukkan Sri harus berangkat sekolah.

Dengan muka capek serta badan lelah, saya dan Sri kembali lagi ke Indomart dan meminta pengertian kasir. Setelah berdebat hebat, namanya juga anak SD, mbak kasirnya membolehkan barangnya kembali.

Sampai di rumah, Sri siap-siap ke sekolah, tinggallah saya disidang Tante E. Tapi sebelumnya, saya dan Sri sudah menyiapkan kalimat pamungkas untuk menjawab pertanyaan sang Mama.

Kebiasaan membuat jawaban manipulasi itu terbawa hingga kami sama-sama remaja. Soal membuat kata drama, Sri paling bakat. Ketika saya kehabisan kata, Sri hadir menambahkan kalimat dramatis. Ternyata berkata bohong kalau nggak punya bakat itu sulit, lho.

Hingga pada saatnya Sri jatuh cinta pada lelaki penghuni rumah baru tepat di depan rumahnya. Saya memanggilnya Om Gin. Makin cintanya bersambut, Sri makin sering berbohong pada Mamanya diikuti kebiasaan pulang malam dan bolos kuliah. Sialnya saya yang dijadikan alasan bohongnya. Bagi saya terserah selama bukan saya yang bohong.

Air Susu Dibalas Air Tuba

Ketika Air Susu Dibalas Air Tuba

Suatu hari Sri kena types dan harus opname di RS Willian Booth. Tante E secara pribadi minta tolong saya untuk menjaga Sri selama di RS, padahal aturan di William Booth pasien tidak boleh ditunggu selain perawat. Sengototnya saya menjelaskan keadaan ini pada Mamanya, Ia tidak percaya pada saya. Dianggapnya saya nggak mau nunggui anaknya.

Di sisi lain, Sri ingin ruangannya naik kelas ke VIP. Pikir saya mungkin Sri ingin kami bersama terus. Tentu saja keinginan itu diladeni oleh Mamanya. Jadi kami tinggal seruangan, untuk saya disewakan bed tambahan

Baru 30 menit pindah ke ruangan VIP, Sri merengek supaya saya menelepon Om Gin. Di sini saya mulai merasa ada yang aneh. Sudah ada saya kenapa harus manggil Om Gin? Saya menolak permintaannya.

Bukannya fokus pada penyembuhan, Sri makin memaksa saya supaya menghubungi Om Gin. Karena kesal, saya marah dan kami bertengkar lalu diam-diaman. Tapi tak lama, Sri mulai merengek lagi. Toh Om Gin sebenarnya menolak ke RS (diam-diam saya telepon Om Gin dan menceritakan sikapnya Sri)

Entah bagaimana, jam 9 malam ujug-ujug Om Gin datang ke kamar. Saya yang sedang nonton TV kaget. Saat itu saya dan Sri dalam situasi diam-diaman. Karena merasa jamnya terlalu malam, saya bicara berdua sama Om Gin dan mengingatkan supaya tidak berlama-lama di RS. Dan daripada jadi nyamuk manusia, saya tinggal tidur.

Jam 3 pagi saya kebangun, kaget mendapati Om Gin tidur di samping ranjangnya Sri. Saya kalut, kenapa dia harus nginap, sih? Akhirnya saya bersikap masa bodoh.

Jam 5 pagi kamar ramai,

“Yun bangun, ada Bapakku!” teriak Sri. Saya yang lelap, buru-buru berdiri. Saya lihat ekspresinya Sri sama Om Gin kebingungan.

Dalam kondisi setengah sadar, saya bilang ke Om Gin, “Kalau sampean gentle, tetap di sini, ngomong apa adanya sama Bapaknya Mbak Sri!”

Bukannya mendukung, Sri malah nyuruh Om Gin pergi. Tinggallah saya dan Sri di kamar.

Akhir kejadian ini membuat pertemanan saya dan Sri berpisah. Saking marahnya, orangtua Sri bahkan memutuskan pindah rumah karena tak mau lagi berhubungan sama saya dan keluarga saya. Namun yang membuat saya kecewa bercampur jengkel, di momen saya menghadapi Tante E untuk menjelaskan keadaan sebenarnya, Sri malah asik cekikikan dengan Om Gin di telepon.

Saya hanya bisa mbatin, Sri, kamu nggatheli 🙂

 

14 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.