[GagasDebut] Review Novel: One More Chance

11 comments 1468 views

Cintaku tak bisa habis untuknya.

Naif, tapi itulah cinta yang kurasa.
Tak sepadan dengan waktu yang selalu tepat waktu.

Tapi tahukah kamu dimana letak ironisnya situasi ini,
ketika menyadari cintaku ternyata berbanding terbalik dengan perjalanan waktu.

Pintaku ini nyaris mustahil. Tapi, jika memang bisa, sudikah waktu berhenti sejenak untuk mengabulkan ingnku, agar bersamanya lebih lama lagi?
Karena bersama dia selamanya pun sebenarnya tidaklah cukup…

one-more-chance

Ada yang bilang kalau mereview blog tidak boleh mengatakan jelek atau bagus. Akan tetapi sah-sah saja kan jika saya memberikan kritikan sebagai ungkapan ketidakpuasan saya walau sebetulnya bukan ingin berkata nyinyir terhadap penulisnya.

Seperti kebiasaan saya setiap akan membeli buku, saya terlebih dulu melihat covernya dan membaca sinopsisnya. Kalau perlu mengintip juga isinya. Tentu saja saya mengintipnya menggunakan buku yang kemasannya sudah terbuka.

Sama halnya ketika memilih novel One More Chance (OMC) karya Ninna Rosmina. Saat membaca judulnya saya pikir novel ini menceritakan suatu hubungan yang sudah terjalin kemudian retak lalu salah satu pelakunya ingin kembali lagi. Ternyata dugaan saya salah, novel ini malah menceritakan seorang gadis yang menderita Leukimia. Hmm.. bisa juga sih, walaupun agak-agak gimanaa gitu, karena penyakit ini kan biasanya berhubungan dengan umur. Dan tebakan saya mungkin endingnya meninggal dunia. Ternyata benar.

Diawal-awal cerita penulis tidak menyebutkan nama penyakit yang diderita Dawai atau Vio, sang tokoh utama. Akan tetapi saya yakin pembaca bisa langsung menebak nama penyakit itu.

Yang membuat aneh menurut saya adalah nama sang tokoh. Violina Dawai Martadipura (dipangil Dawai dan Vio) dan Anugrah Putra Cello (dipanggilnya Cello). 2 Nama yang berhubungan dengan musik. Buat Cello mungkin pantas karena dia seorang gitaris band dikampusnya. Sedangkan Vio, dalam dirinya tidak ditemukan sesuatu sama sekali yang berhubungan dengan musik, melodi atau lagu. Nyanyi aja yang dihapal Cuma It’s my life Bon Jovi. Dan penulis juga tidak menyinggung latar belakang orang tuanya Dawai sebagai penyanyi atau pecinta seni.

Vio kuliah di jurusan Arsitektur, jurusan yang biasanya dihuni para cowok-cowok, namun dinovel Vio seolah tak memiliki teman cowok, kecuali kakak tingkat atasnya seperti Cello, Wisnu dan Rizky. Teman-teman Vio yang sering disebut Rully dan Rida.

Awal ketertarikan Vio mengambil jurusan ini karena terpesona dengan Cello saat menonton konsernya. Dia tertarik karena Cello memiliki rambut gondrong.

Dari awal membaca novel ini saya begitu sulit menemuka benang merah. Hingga bab ke 15, saya tak menemukan gregetnya. Adegan yang muncul masih Vio yang terus menerus ngejar-ngejar Cello. Bahkan beberapa bab saya diajak membaca kisah Vio ketika duduk dibangku SMA. Saya nggak ngerti maksud bab ini apa. Disana diceritakan Vio menjadi anak yang kaku, gak mau bergaul dengan teman-teman, bergabung menjadi anak geng, hingga ikut-ikutan balap motor liar. Kesannya cerita ini makin melebar kemana-mana.

Rasa haru novel ini baru muncul di bab akhir, yaitu saat Vio berada di detik tutup usia. Vio dan Cello duduk di taman. Sambil menyandarkan kepala di bahu Cello Vio berpesan agar Cello mau menjaga Putri Dawai, puteri mereka.

Vio tak menyesal kalau harus meninggal saat itu karena dia merasa 100 wishesnya sudah terisi penuh: jatuh cinta, merasakan patah hati, menikah, memiliki anak, dan meninggal dalam pelukan lelaki yang mencintai da dicintai olehnya.

Aku tahu kalau Tuhan itu Maha Adil, aku diciptakan oleh-Nya dengan sangat sempurna tanpa kekurangan satu apa pun dan aku diberikan akal untuk berpikir. Bahkan sampai detik ini, aku tetap merasa sempurna

Membaca novel ini secara keseluruhan membuat saya tidak begitu nyaman. Karena selama saya berkutat dengan halaman tulisan bukan cerita yang saya dapatkan tetapi saya jadi seperti mendengarkan orang ngobrol. Kalau obrolan berbobot dan masih ada hubungan cerita sih gak masalah, tapi obrolan yang saya dapatkan kesannya bertele-tele. Anak gaul bilang menye-menye. Entahlah apa itu artinya. Obrolan yang mestinya gak perlu seharusnya gak usah dibuat panjang yang akhirnya malah menghabiskan halaman tanpa memberi cerita berbobot.

Untuk adegan. Ada catatan yang menurut saya janggal. Yaitu saat Cello mengajak Vio nikah. Biasanya dalam adegan romantis-romantisan seorang lelaki yang mengajak nikah cewek menggunakan kata-kata mesra atau sikap yang menunjukkan keseriusan. Menurut saya kalau Cello ngajak nikah trus bilang, “Vio, yuk kita nikah” kok kayaknya seperti ngajak makan bakso, ya.. dataaaar bangeet..

Apalagi saat mengutarakan itu dikatakan kalau Cello keluar dari ruang sidang lalu mendekati Vio yang berdiri di kaca jendela. Namun di bab selanjutnya diungkit kembali bahwa Cello mengucapkannya di koridor kelas, didepan seluruh mahasiswa dan dosen yang hadir sehingga mendapatkan banyak tepuk tangan. Mana nih yang bener?

Satu lagi, untuk panggilan. Kadang dipanggil Vio, kadang Vi. Kalau buat saya sih enaknya Vi. Sebagai catatan lebih baik tidak menggunakan banyak panggilan seperti Dawai, Vio, Vi. Cukup satu saja asal pas ditelinga.

Yang paling saya suka adalah tampilan covernya. Berwarna hijau dengan pita warna merah. Pita ini yang membuat novel ini enak dilihat karena berhubungan dengan penderita kanker.

Judul: One More Chance
Penulis: Ninna Rosmina
Penerbit: Gagas Media
Terbit: Cetakan pertama, April 2013
ISBN: 979-780-642-1
Halaman: 313
Ukuran: 13 x 19 cm
Harga: Rp. 48.000

author
Author: 
loading...
  1. author

    risa3 years ago

    Oh.. waw.. keren reviewnya, mba, soalnya kadang susah mengatakan kejujuran itu :p
    Semoga kelak bukuku masuk dalam daftar belanjaanmu lalu dibedah juga kyk gini. Eh malah lanjut ngiklan hehe

    Reply
  2. author

    Rahmah3 years ago

    Jadi maksudnya One more chance apa mbak dlm novel ini?

    Reply
  3. author

    Muna Sungkar3 years ago

    Judul nya rada g nyambung ya mbak, kl one more chance mestinya ada kesempatan vio utk sembuh tp ni kn endingnya meninggal

    Reply
  4. author

    bintangtimur3 years ago

    Wah, jadi nggak semangat beli nih, Yun…tapi memang, kejujuran itu modal kita me-review buku. Kalo kita nulisnya berbanding terbalik dengan kesan yang kita dapat dari buku itu, disa diprotes orang sekampung dong kitanya…
    😀

    Reply
  5. author

    bintangtimur3 years ago

    Sama Yuuuun, saya juga suka dengan cover buku ini…lucu banget ya warnanya!

    Reply
  6. author

    bintangtimur3 years ago

    Oya, menurut saya, kalo kita pakai nama buat pemeran utama, sebaiknya satu nama saja, jangan ada tiga kayak di novel ini…Vio, Dawai dan Vi…bingung nanti pembacanya…dan sebetulnya, nama itu berpengaruh banget buat ilustrasi kita terhadap seseorang yang menjadi tokoh utama. Iya nggak, Yun?

    Reply
  7. author

    Tuti3 years ago

    review yang wow …

    Reply
    • author
      Author

      yuniarinukti3 years ago

      Trima kasih banyaak 🙂

      Reply
  8. [GagasDebut] Wawancara bersama novelis Ninna Rosmina | yuniarinukti.com3 years ago

    […] [GagasDebut] Review Novel: One More Chance […]

    Reply
  9. Giveaway One More Chance | yuniarinukti.com3 years ago

    […] Barangkali ada yang bingung dengan pertanyaan ini, maka saya persilakan membaca review novelnya disini. […]

    Reply
  10. author

    @damae533 years ago

    overall, saya tetap angkat topi untuk penulis novelnya, karena saya belum tentu bisa berkarya seperti itu. 🙂

    nice review, mbak yuni.

    Reply

Leave a Reply