Buku

[GagasDebut] Review Novel: One More Chance

Cintaku tak bisa habis untuknya.

Naif, tapi itulah cinta yang kurasa.
Tak sepadan dengan waktu yang selalu tepat waktu.

Tapi tahukah kamu dimana letak ironisnya situasi ini,
ketika menyadari cintaku ternyata berbanding terbalik dengan perjalanan waktu.

Pintaku ini nyaris mustahil. Tapi, jika memang bisa, sudikah waktu berhenti sejenak untuk mengabulkan ingnku, agar bersamanya lebih lama lagi?
Karena bersama dia selamanya pun sebenarnya tidaklah cukup…

one-more-chance

Ada yang bilang kalau mereview blog tidak boleh mengatakan jelek atau bagus. Akan tetapi sah-sah saja kan jika saya memberikan kritikan sebagai ungkapan ketidakpuasan saya walau sebetulnya bukan ingin berkata nyinyir terhadap penulisnya.

Seperti kebiasaan saya setiap akan membeli buku, saya terlebih dulu melihat covernya dan membaca sinopsisnya. Kalau perlu mengintip juga isinya. Tentu saja saya mengintipnya menggunakan buku yang kemasannya sudah terbuka.

Sama halnya ketika memilih novel One More Chance (OMC) karya Ninna Rosmina. Saat membaca judulnya saya pikir novel ini menceritakan suatu hubungan yang sudah terjalin kemudian retak lalu salah satu pelakunya ingin kembali lagi. Ternyata dugaan saya salah, novel ini malah menceritakan seorang gadis yang menderita Leukimia. Hmm.. bisa juga sih, walaupun agak-agak gimanaa gitu, karena penyakit ini kan biasanya berhubungan dengan umur. Dan tebakan saya mungkin endingnya meninggal dunia. Ternyata benar.

Diawal-awal cerita penulis tidak menyebutkan nama penyakit yang diderita Dawai atau Vio, sang tokoh utama. Akan tetapi saya yakin pembaca bisa langsung menebak nama penyakit itu.

Yang membuat aneh menurut saya adalah nama sang tokoh. Violina Dawai Martadipura (dipangil Dawai dan Vio) dan Anugrah Putra Cello (dipanggilnya Cello). 2 Nama yang berhubungan dengan musik. Buat Cello mungkin pantas karena dia seorang gitaris band dikampusnya. Sedangkan Vio, dalam dirinya tidak ditemukan sesuatu sama sekali yang berhubungan dengan musik, melodi atau lagu. Nyanyi aja yang dihapal Cuma Itโ€™s my life Bon Jovi. Dan penulis juga tidak menyinggung latar belakang orang tuanya Dawai sebagai penyanyi atau pecinta seni.

Vio kuliah di jurusan Arsitektur, jurusan yang biasanya dihuni para cowok-cowok, namun dinovel Vio seolah tak memiliki teman cowok, kecuali kakak tingkat atasnya seperti Cello, Wisnu dan Rizky. Teman-teman Vio yang sering disebut Rully dan Rida.

Awal ketertarikan Vio mengambil jurusan ini karena terpesona dengan Cello saat menonton konsernya. Dia tertarik karena Cello memiliki rambut gondrong.

Dari awal membaca novel ini saya begitu sulit menemuka benang merah. Hingga bab ke 15, saya tak menemukan gregetnya. Adegan yang muncul masih Vio yang terus menerus ngejar-ngejar Cello. Bahkan beberapa bab saya diajak membaca kisah Vio ketika duduk dibangku SMA. Saya nggak ngerti maksud bab ini apa. Disana diceritakan Vio menjadi anak yang kaku, gak mau bergaul dengan teman-teman, bergabung menjadi anak geng, hingga ikut-ikutan balap motor liar. Kesannya cerita ini makin melebar kemana-mana.

Rasa haru novel ini baru muncul di bab akhir, yaitu saat Vio berada di detik tutup usia. Vio dan Cello duduk di taman. Sambil menyandarkan kepala di bahu Cello Vio berpesan agar Cello mau menjaga Putri Dawai, puteri mereka.

Vio tak menyesal kalau harus meninggal saat itu karena dia merasa 100 wishesnya sudah terisi penuh: jatuh cinta, merasakan patah hati, menikah, memiliki anak, dan meninggal dalam pelukan lelaki yang mencintai da dicintai olehnya.

Aku tahu kalau Tuhan itu Maha Adil, aku diciptakan oleh-Nya dengan sangat sempurna tanpa kekurangan satu apa pun dan aku diberikan akal untuk berpikir. Bahkan sampai detik ini, aku tetap merasa sempurna

Membaca novel ini secara keseluruhan membuat saya tidak begitu nyaman. Karena selama saya berkutat dengan halaman tulisan bukan cerita yang saya dapatkan tetapi saya jadi seperti mendengarkan orang ngobrol. Kalau obrolan berbobot dan masih ada hubungan cerita sih gak masalah, tapi obrolan yang saya dapatkan kesannya bertele-tele. Anak gaul bilang menye-menye. Entahlah apa itu artinya. Obrolan yang mestinya gak perlu seharusnya gak usah dibuat panjang yang akhirnya malah menghabiskan halaman tanpa memberi cerita berbobot.

Untuk adegan. Ada catatan yang menurut saya janggal. Yaitu saat Cello mengajak Vio nikah. Biasanya dalam adegan romantis-romantisan seorang lelaki yang mengajak nikah cewek menggunakan kata-kata mesra atau sikap yang menunjukkan keseriusan. Menurut saya kalau Cello ngajak nikah trus bilang, โ€œVio, yuk kita nikahโ€ kok kayaknya seperti ngajak makan bakso, ya.. dataaaar bangeet..

Apalagi saat mengutarakan itu dikatakan kalau Cello keluar dari ruang sidang lalu mendekati Vio yang berdiri di kaca jendela. Namun di bab selanjutnya diungkit kembali bahwa Cello mengucapkannya di koridor kelas, didepan seluruh mahasiswa dan dosen yang hadir sehingga mendapatkan banyak tepuk tangan. Mana nih yang bener?

Satu lagi, untuk panggilan. Kadang dipanggil Vio, kadang Vi. Kalau buat saya sih enaknya Vi. Sebagai catatan lebih baik tidak menggunakan banyak panggilan seperti Dawai, Vio, Vi. Cukup satu saja asal pas ditelinga.

Yang paling saya suka adalah tampilan covernya. Berwarna hijau dengan pita warna merah. Pita ini yang membuat novel ini enak dilihat karena berhubungan dengan penderita kanker.

Judul: One More Chance
Penulis: Ninna Rosmina
Penerbit: Gagas Media
Terbit: Cetakan pertama, April 2013
ISBN: 979-780-642-1
Halaman: 313
Ukuran: 13 x 19 cm
Harga: Rp. 48.000

11 thoughts on “[GagasDebut] Review Novel: One More Chance

  1. Oh.. waw.. keren reviewnya, mba, soalnya kadang susah mengatakan kejujuran itu :p
    Semoga kelak bukuku masuk dalam daftar belanjaanmu lalu dibedah juga kyk gini. Eh malah lanjut ngiklan hehe

  2. Wah, jadi nggak semangat beli nih, Yun…tapi memang, kejujuran itu modal kita me-review buku. Kalo kita nulisnya berbanding terbalik dengan kesan yang kita dapat dari buku itu, disa diprotes orang sekampung dong kitanya…
    ๐Ÿ˜€

  3. Oya, menurut saya, kalo kita pakai nama buat pemeran utama, sebaiknya satu nama saja, jangan ada tiga kayak di novel ini…Vio, Dawai dan Vi…bingung nanti pembacanya…dan sebetulnya, nama itu berpengaruh banget buat ilustrasi kita terhadap seseorang yang menjadi tokoh utama. Iya nggak, Yun?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *