Belanja murah di Pasar Tradisional

Betapa beruntung saya tinggal di daerah yang masih ada Pasar Tradisionalnya. Dalam satu Kelurahan, sekurangnya ada 2 pasar Tradisional yang dekat dengan rumah saya. Pasar Krempyeng dan Pasar Krukah. 2 pasar yang lokasinya terbentang namun memiliki pelanggan setianya masing-masing.

Eh, masih ada satu pasar tradisional lagi, yaitu Pasar Mangga Dua – Wonokromo. Pasar ini hidupnya malam hari, lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah saya, hanya terpisah dengan Kali Brantas, kesana bisa ditempuh dengan sepeda onthel. Pasar Wonokromo merupakan pasar Induk, tempat kulakan pedagang sayur.

Semua Pasar diatas menyimpan sejarah tersendiri di kepala saya.

Pasar Tradisional
Pasar Tradisional

Sejak kecil Ibuk saya selalu mengajak saya belanja ke pasar tradisional, meskipun tetangga kanan kiri ada yang jual sayur, Ibuk saya lebih memilih belanja di pasar Krempyeng atau pasar Krukah. Dulu saya juga kerap diajak ke Pasar Wonokromo. Kalau ke pasar ini kami harus jalan jam setengah 3 pagi. Kesiangan dikit, harga bisa jadi lebih mahal.

Alasan memilih belanja Pasar Tradisional?

Karena harga sayur dan ikan di Pasar Krempyeng lebih murah. Bumbu-bumbu dapur dan segala macam, lengkap dan harganya jelas tak lebih mahal di Supermarket. Mau cari singkong, ketela, kacang kulit, ada. Pilihan sayurannya banyak. Ikannya pun bermacam-macam. Paling menyenangkan lagi, jajanan pasar nya komplit. Ada tiwul, klanthing, lopis, dawet grendul, dan sebagainya. Murah meriah, kenyang, dan pastinya, enaaak..
Pasar Tradisional juga menjual makanan ringan kiloan, seperti kedelai goreng, kacang kulit garing, jagung marning, makaroni pedas, dan lain-lain.

2016-01-26_05-01-06
Jajanan Pasar

Bebarapa waktu lalu saya malah sempat blusukan di Pasar Pabean di jalan Songoyudan Surabaya. Pasar Pabean ini adalah Pasar Tertua di Surabaya. Bagi pecinta fotografi, pasar ini kerap dijadikan sebagai lokasi hunting favorit. Meskipun dari luar terdapat banyak sampah, tapi asik juga lho blusukan ke sini.

Saya juga pernah blusukan ke Pasar Keputran. Pasar paling fenomenal di Surabaya yang tak habis kalau hanya diceritakan saja. Pasar Keputran adalah pasar paling ‘cuek’ ditengah majunya pembangunan kota. Sudah berapa kali pedagang pasar Keputran ditertibkan, tapi tetap saja mereka jualan di tengah jalan. Tiap sore hingga malam hari, lalu lintas di jalan Urip Sumoharjo padat oleh mobil pengangkut sayuran. Mereka santai saja memarkir di pinggir trotoar, hilir mudik menaik-turunkan dagangan.

Aktifitas di Pasar Tradisional
Aktifitas di Pasar Tradisional

Pokoknya saya suka blusukan ke Pasar!
Bau pedas gilingan cabe, mata panas efek rajangan bawang, bau anyir ikan-ikan laut, semua itu sangat nikmat dibanding harumnya pengharum ruangan di Supermarket!

Tapi sangat disayangkan, keberadaan pasar tradisional ini seperti tak mendapatkan perhatian dari pihak berwenang. Harusnya pasar tradisional diberikan pengayoman lebih. Yaaa, memang, sih, dibanding Supermarket modern, harga pajak yang tertera di karcis sangat murah. Pedagang hanya dikenakan retribusi Rp. 1.000,- per hari. Sangat jauuh, dibanding pajak Supermarket Modern. Tapi lihatlah, pedagang di pasar tradisional jelas-jelas membantu petani dan pemilik ladang. Barang di jual di Pasar Tradisional tak melulu bermerk. Bahkan sebagian besar produk lokal, alias No Merk!

Nah, teman-teman suka belanja dimana? Pasar Tradisional atau Pasar Modern?

Kalau saya sih suka belanja di pasar Tradisional. Bisa menghemat anggaran belanja bulanan. Harganya, pun, masih bisa di tawar, lagi!

14 thoughts on “Belanja murah di Pasar Tradisional

  1. Aku sih pasar tradisional sama moderen kedua-duanya suka. tapi pasar tradisional memang lebih hemat sih dan buah-buahan, sayuran atau ikannya masih segar, tapi sering kalap juga kalau liat jajanan di pasar hihihi

    @gemaulani

  2. Kalau disuruh milih antara pasar tradisional dan pasar modern maka saya memilih pasar modern, karena kenyamanannya. Tapi saya lebih memilih pasar tradisional juga karena harganya yang murah, dan harga nya yang murah.
    @rin_mizsipoel

Leave a Reply