Kombes Pol Yan Fitri Halimansyah: Jadi Polisi karena takut Polisi

“Saya sebenarnya takut, lho, Mbak, sama Polisi. Saat SD kelas 1 saya pernah di tangkap Polisi!”

Kadang-kadang sebuah impian tidak selalu berjalan sesuai cita-cita. Seperti pepatah bilang, manusia boleh berencana, tetapi Tuhan lah yang menentukan. Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Yan Fitri Halimansyah mengalami sendiri bagaimana cita-citanya menjadi seorang Camat kandas di tengah jalan.

Hmm.. jadi Camat?
Beloknya jauh bener, Pak..
Dari Camat ke Polisi? hehe

Usai meresmikan Festival Batu Akik di depan Kantor Kapolrestabes jalan Sikatan Surabaya, tanggal 23 kemarin, saya mengambil kesempatan berbincang dengan beliau di ruangan kantornya. Mumpung berhadapa, sayang kalau tidak dimanfaatkan. Dan apa yang saya lakukan? Yes, ngepoin sepak terjang beliau selama karir di Kepolisian! 😀

Malam itu di kantor Pak Yan Fitri tampak ramai. Selain saya, ada beberapa perwakilan Bonek Surabaya yang juga bertamu di kantor Bapak kelahiran Tanjung Pinang yang akrab di panggil Meneer. Ada juga istri Meneer Yan dan keluarga yang baru datang dari Jakarta.

Pak Yan1

Di sela-sela menikmati makan malam, Meneer Yan bercerita ketakutan pertamanya terhadap korps berseragam coklat. “Namanya Pak Zakaria. Saya ingat betul nama beliau. Saat itu saya di tangkap sama Abang saya karena melanggar lalu lintas. Dan baru tau setelah jadi Polisi bahwa Pak Zakaria saat itu pangkatnya Kopral.”

Ketakutannya terhadap Polisi malah membawa masa kecil Meneer Yan akrab dengan Kepolisian. Tanpa di duga Kakak Meneer Yan menikah dengan Polisi dan Meneer Yan dibawa tinggal di asrama Polisi. Mau tak mau, Meneer Yan harus berada di lingkungan Polisi. Di akhir sekolah SMA, Meneer Yan mendaftarkan diri jadi Taruna Akpol.

“Daftarnya niat apa iseng-iseng, Pak?” tanya saya kepo hihi..

“Serius, sih daftarnya. Tidak iseng tapi juga tidak niat. Pokoknya takut, aja haha..” kelakar Meneer Yan. “Gimana nggak takut, mbak, lha wong lari aja di tungguin, jadi ya pasraah aja. Lama-lama, ketakutan itu jadi pasrah dan keinginan. Tapi banyak takutnya..”

Pelajaran dari seorang Meneer Yan, bahwa sebuah ketakutan harus di lawan dengan keseriusan. Jangan mikir rejeki, karena rejeki sudah ada yang ngatur.

Setelah lulus dari Taruna Akpol, Meneer Yan mendapat tugas melanjutkan ke Sekolah Penerbang Angkatan Udara selama 2 tahun. Disanalah awal mula karir kepolisian itu di tempa. Di saat kabar bahagia lulus dari Sekolah Penerbang, Meneer Yan harus menerima kabar berpulangnya sang Kakak sehingga diusia muda Meneer Yan harus menghidupi 4 keponakan yatim. Untuk menambah penghasilan, sambil bertugas menjadi anggota Polisi, Meneer Yan nyambi dagang sapi bersama 4 orang teman se-liting. “Senin sampai Jumat saya dinas di Polisi, Sabtu Minggu saya kulakan sapi di Lampung” kisah Meneer.

Pak Yan

Saya: “Dengan kesibukan Bapak sebagai Kapolres Surabaya, apalagi sudah larut begini Bapak juga masih ngantor, bagaimana cara Bapak membagi waktu dengan keluarga?

“Istirahat saya memang kurang, mbak. Baru bisa tidur jam 2. Pagi-pagi sudah berangkat lagi. Kalau ada libur ingin menghabiskan waktu bersama anak-anak. Jalan-jalan dan nonton.”

Saat bercerita mengenai waktu, Meneer Yan mengajak saya masuk ke dalam kehidupan pribadinya. Meneer Yan bercerita bahwa waktu yang diberikan untuk anak kurang. Anak-anak Meneer semuanya anak rumahan dan mereka masih suka minta di masakin Mama, dan disuapin Papanya. Selama sekolah, Meneer Yan bahkan jarang ambil raport sekolah dan ikut rapat walimurid.

Saat dinas di Pondok Cabe, Meneer Yan pernah mengalami kecelakaan jatuh dari Helikopter di atas ketinggian 1500 feet untuk menghindari badai di sekitar Bogor. Akan tetapi Allah masih berkehendak menyelamatkan Meneer Yan dengan menjatuhkan heli diatas pohon nangka. Sayangnya heli masih dalam kondisi nyala sehingga terjatuh lagi di kedalaman. Di tengah memikirkan anak pertama berusia 3 bulan di dalam kandungan istri, Meneer Yan berusaha membantu rekannya dan menyelamatkan dirinya sendiri. Pukul 9 malam, Meneer Yan di temukan sopir taksi Citra lalu dibawa ke Samapta Mabes Polri Penerbang. Atas kejadian itu Meneer Yan sempat melakukan pemulihan selama 2 tahun lamanya sehingga batal melanjutkan sekolah ke Amerika yang seharusnya berangkat tanggal 7 Mei 1997, 12 hari setelah tragedi jatuhnya pesawat.

“Kalau sudah pensiun saya ingin jadi pengajar saja, Mbak. Naik motor berdua dengan istri ngajar sana, ngajar sini. Saya ingin ngajar pendidikan bela bangsa dan negara yang sekarang sudah dilupakan generasi muda.”

Saya: “Selama di Polisi, dimana tempat dinas yang paling berkesan, Pak?”

Tanpa berpikir, Meneer Yan menyebutkan, bahwa di Surabaya berkesan. Di Bekasi berkesan. Di Polda Metro, juga berkesan. Semua berkesan karena tiap tempat beda karakter dan beda masalah.

Saya: “Kalau di Surabaya, apa yang meninggalkan kesan di hati Bapak?”

“Surabaya banyak, Mbaak..

1. Berhadapan dengan suporter. Saya heran, kenapa di Surabaya ada 2 suporter olahraga? Saya berusaha adil dan mendekati keduanya mencari duduk permasalahan. Persebaya 1927 dan ISL. Saya prihatin dengan suporter. Mereka terpecah karena kepentingan orang tertentu. Saya harap minimal mereka saling menghargai. Saya tidak memihak siapa salah, siapa yang benar. Saya ingin duduk diantara dua pihak. Dan ternyata mereka punya hati.

2. Membuat Bu Risma menyanyi dan tersenyum. Bisa melawak, melucu, menggoda orang.
Saya: “Memangnya Bu Risma selama ini kenapa, Pak?”
Biasanya marah-maraah… hehe..

3. Melenyapkan begal dan geng motor di Surabaya. Surabaya tidak ada begal dan geng motor. Jangan sampai adik-adik jadi geng motor. Ada begal, saya penggal. Karena begal selalu sadis.

4. Kejahatan di Surabaya sangat tinggi. Walaupun sekarang masih saja ada motor ilang. Satu dua ilang, wajar namanya kota besar. Tapi kami berusaha selesaikan. Dibantu anak buah Kasatreskrim, Polsek-polsek, kami ingin kejahatan di Surabaya lenyap. Saya ingin Polrestabes Surabaya harus berbeda dengan Polrestabes yang lain karena cikal bakal Polisi ada di Surabaya.

Pesan saya kepada Polisi yang lain, kalian harus memiliki mental pejuang agar saat purna nanti kalian tidak menyesal. Mumpung masih berseragam, kalian masih boleh nyemprit orang, boleh menghentikan orang, boleh nangkap orang. Puaskan lah itu. Jangan sampai saat purna kalian tidak meninggalkan kesan apa-apa.

Masa yang berjalan akan habis. Oleh karena itu tangkap penjahat sebanyak-banyaknya. Jadi Polisi harus tegas. Tegas dalam artian melayani. Transparan. Jangan sampai tajamnya ke bawah, ke atasnya tumpul. Jadi Polisi harus bisa jadi teladan. Klo gak bisa memberikan teladan nanti masyarakat mencontoh siapa?”

Ada banyak PR yang harus diselesaikan Meneer Yan Fitri Halimansyah sebagai Kapolrestabes di kota Surabaya ini. Namun Meneer Yan optimis bahwa arek-arek Surabaya mudah bersahabat. Bersama jajaran Kepolisian di Surabaya, Mener Yan berharap dukungan masyarakat terhadap kepolisian. Boleh takut dengan Polisi, tapi takut yang positif. Kalau masih ada yang takut melihat Polisi, saya doakan kalian semua menjadi camat haha..

8 thoughts on “Kombes Pol Yan Fitri Halimansyah: Jadi Polisi karena takut Polisi

  1. suporter Surabaya emang nyeremin sihhh, apalagi kalo udah ketemu musuhnya Arema. Duuhh itu yaaa….bisa gak sihh gak usah terlalu fanatik2 banget sama klub bola :/ sampe harus bunuh2an segala

  2. Tulisan mbak membuat saya sedikit mengurangi rasa benci terhadap polisi, ternyata Pak Yan punya niat yg tulus yaa, semoga semua polisi bermental “bela negara” kayak Pak Yan. TFS mbak 🙂

Leave a Reply