Women Techno

Bu TV

Kemarin saya ketemu Bu TV.

Bu TV, Begitu saya memaanggil.

Sebutan Bu TV tidak ada keterkaitan inisial namanya. Sebutan itu juga tidak ada hubungannya dengan pemilik banyak TV, lebih-lebih pemilik stasiun TV. Tapi saya menyebut begitu karena Bu TV adalah petugas yang menarik pajak TV zaman saya belum sekolah dulu.

Waktu saya kecil, saya sering melihat Bu TV mengetuk dari satu rumah ke rumah yang lain setiap sore di awal-awal bulan. Memakai bawahan coklat tua serta atasan coklat terang dengan lambang TVRI, Bu TV telaten memasuki rumah tetangga. Ada yang ramah mempersilahkan Bu TV masuk tapi ada juga yang menutup pintu sebagai penolakan halus. Salah satunya rumah saya yang masuk golongan penolakan. Β Β 

Setiap awal bulan, Ibu saya sudah mewanti-wanti kepada anak-anaknya, kalau lihat Bu TV nagih iuran, segera tutup pintunya. Atau kalau Bu TV masuk, bilang Ibu tidak dirumah.

Sebenarnya penolakan Ibu saya itu beralasan. Sebab saat itu kami memang memiliki TV hitam putih layar 14’ yang kondisinya rusak dan sering ngamar di tempat service. Atau kalau sedang normal TV disekolahkan di kantor pegadaian sehingga meskipun di bukunya Bu TV ada nama orangtua saya, tapi fisik dirumah tidak ada, makanya Ibu saya malas bayar iurannya.

Lucunya kami percaya saja apa yang dikatakan Ibu. Setiap kali kami tanya kenapa TV itu harus disekolahkan, jawaban Ibu saya terdengar klise, supaya pinter!

Tapi ujung-ujungnya tetap bayar iuran juga meskipun dobel.

Setelah beberapa lama berada dalam ketidak pastian akhirnya Bapak membeli TV warna kondisi second yang bisa dipakai nyetel saluran TV swasta. Gara-garanya sih sepele, kalau tidak salah ingat supaya bisa nonton siaran langsung piala dunia yang jam tayangnya dini hari. Katanya TV hitam putih yang lama tidak bisa dipakai nonton saluran lain selain TVRI.Β 

Nah pas bu TV nagih, ketahuan kalau TV saya baru. Jadilah tagihan iurannya nambah. Yang awalnya iuran senilai TV hitam putih, berganti iuran senilai TV warna.

Dan nyatanya kondisi TV warna second itu sebelas dua belas. Di pakai nyetel TV swasta sih bisa, tapi warnanya suka gak mau muncul. Kadang warna kadang hitam putih. Malah kadang sudah disetting warna sampai full pun gambarnya tetap hitam putih.

Sebel, kan. TV warna yang hitam putih tapi bayar iurannya seharga TV warna. Awal-awalnya dibayar sama Ibu saya, tapi lama-lama kok eman-eman.

Saat ditagih Ibu saya bilang ke Bu TV bahwa TVnya bukan warna tapi hitam putih, jadi minta supaya iurannya diturunin.

Bu TVnya sih sempat tidak percaya. Tapi waktu diperlihatkan *untung warnanya gak muncul*, Bu TVnya percaya.

Lagi-lagi saat jadwalnya Bu TV narik iuran, Ibu saya segera memberitau kami, kalau ada Bu TV nagih dan kami sedang nonton TV, trus TVnya muncul warna, cepat-cepat matikan TV. Atau setting warnanya diganti hitam putih supaya Bu TV lihatnya TV kita hitam putih.

Tapi lama-lama Bu TV maklum akan keadaan TV kita. Dan meskipun Bu TV datang narik iuran lalu melihat TV itu tampilannya warna, Bu TV maklum. Tagihannya tetap TV hitam putih πŸ˜€

Tak lama kemudian Bu TV sudah tak pernah lagi keliling narik iuran TV. Konon kabarnya pajak TV dihapus jadi mau punya TV berapapun sudah tak dikenai iuran lagi.

Hingga sekarang kalau ketemu Bu TV saya geli sendiri. Kalaupun menyapa, tetap saya panggil dengan sebutan Bu TV.

β€œMonggo, Bu TV..”

28 thoughts on “Bu TV

  1. eh iya ya..
    taun berapa iuran tv itu hilang. dulu bapak rutin bayar ke kantor pos di kecamatan. tiap bulan justru aku yang ribut nanyain kapan bayar tipi, biar bisa ikut jalan jalan ke kota

  2. Haii mba Yuniii,… apakabar ?
    senangnya akhirnya aku bisa mampir di rmh virtualmu πŸ™‚
    Meski masih menikmati sakitku nih mba, kok cerita perjalanan ke kota batiknya belum ada mba?
    ayoo cerita ahh… πŸ™‚

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *