Jalan-jalan

3 Pengalaman seru naik kereta ekonomi

3 Pengalaman seru naik kereta ekonomi pernah saya alami dan masih membekas hingga sekarang, sehingga bila mengingatnya kembali rasanya jadi pengin tertawa sendiri.

Setiap mudik ke Jakarta beberapa kali saya naik kereta kelas ekonomi. Iya naik kereta yang kelasnya paling murah dan paling ‘ancur’ suasananya.

Entah ya saya kok merasa eman ya kalau harus beli tiket yang mahal, toh hanya beda sedikit aja fasilitasnya dibanding kelas bisnis dan executif. Apalagi dari sedikit perbedaan fasilitas  itu, harga tiketnya berbeda sangat jauh-sejauhnya.

Boleh dibandingkan harga antara kereta api Gaya Baru Malam Selatan yang ditiket tertera Rp. 33.500 dengan kereta api Sembrani yang harganya berkisar Rp. 400.000.

Perbedannya hanya di jam keberangkatan, bentuk kursinya yang bisa diturunkan dan ditegakkan dan suasananya juga cenderung senyap, tak ada lalu lalang penjual.

Sedangkan persamaannya sama-sama belinya untuk urusan makan dan sama-sama ada ACnya! Iya kereta kelas ekonomi sekarang ada AC nya lho dan kamar mandinya juga lumayan bersih dan wangi. Hanya saja suasananya sedikit ramai oleh teriakan penjual.

Senangnya naik kelas ekonomi itu saya bisa jajan sesuka hati dengan jajanan yang aneka rupa, unik dan murah. Seperti tahu lombok, kacang rebus, lanting, sale pisang, tape goreng, dan macam-macam. Tapi untuk nasi saya jarang beli diatas kereta.

Ngomong-ngomong 3, seperti tema kontes yang diadakan Mbak Lidya, Mas Bro, dan Dija, ponakannya Tante Elsa, ada 3 kenangan mengesankan yang terus membekas di memori kepala saya mengenai pengalaman naik kereta ekonomi ini.

  1. Pulang bareng rombongan bonek.

Kejadian ini saya alami saat sepulang saya menghadiri acara ulang tahun Dblogger tanggal 11 Januari di Gandaria City.

Ketika itu saya sendirian saja berangkat dan pulang. Suami yang biasa menemani saat itu harus tinggal di Jakarta karena ada suatu pekerjaan.

Boleh dibilang saat itu saya beli tiketnya dadakan, jadi berangkat dari rumah langsung beli tiket di Jatinegara dan langsung naik kereta pulang ke Surabaya. Pada waktu itu kebijakan PT KAI khusus kereta ekonomi tidak boleh reservasi, tiket harus dibeli saat hari keberangkatan. Untungnya saya masih mendapatkan tiket.

Setelah mendapatkan tiket saya keliling disekitar stasiun sembari menunggu kedatangan kereta. Saat itulah saya baru tau bahwa kereta GBM yang saya tumpangi nantinya berbarengan dengan rombongan suporter / bonek yang pulang ke Surabaya setelah menonton pertandingan antara Persija dan persebaya. Ada 3 gerbong yang disediakan oleh PT KAI khusus untuk rombongan Bonek.

Awalnya saya senang pulang bareng bonek karena pastinya amanlah sama mereka yang sama-sama orang Surabaya. Ternyata dugaan saya salah besar. Kereta GBM itu jadi sasaran lemparan batu oleh para suporter di luar kereta.

Sebelum kereta berangkat, beberapa petugas Stasiun dan beberapa polisi yang disiagakan di gerbong kereta sudah memberi woro-woro untuk berhati-hati bila ada kekisruhan. Mereka memberi nasihat untuk segera menurunkan tas untuk ditata sedemikian rupa sebagai penutup jendela bila sewaktu-waktu ada lempara batu.

Dan benar saja selepas melewati Bekasi, kereta GBM itu riuh rendah bak tragedi besar terjadi. Aneka lemparan menghujani kereta kami yang menimbulkan “tak.. tak.. taratak.. taratak tak..” para Polisi berkeliling dengan helm dan senjata laras panjang mengamankan situasi didalam kereta. Bahkan demi keamanan penumpang, pihak PT KAI mengumumkan bahwa kereta akan langsung berhenti di Sta. Cirebon. Dari Sta. Cirebon kereta tidak berhenti di Sta selanjutnya dan akan berhenti lagi di Sta. Yogjakarta. Bagi penumpang yang akan turun di Sta. Sebelum Yogjakarta baru dibolehkan turun kalau kereta sudah berhenti.

Tak bisa dibayangkan suasana malam itu. hampir semua penumpang semalaman membuka mata. Kursi-kursi semuanya kosong karena ditinggal penghuninya menunduk di bawah kursi, dan ada juga yang telentang dibagasi atas demi menghindari lemparan.

Apalagi saat di Solo, suasana yang tadinya sudah sedikit mereda, kembali lagi dihujani bebatuan.

Suasana baru benar-benar berhenti dan sunyi saat kereta tiba di Sta. Madiun! Saya baru bisa bernafas lega dan menikmati tahu lombok dan bergelas-gelas minuman kemasan yang dibagikan petugas KAI, karena mereka tau bahwa kami sedang kelaparan karena sepinya penjual. Iya semua makanan itu dibagikan gratis!

Saat suasana sudah aman, para penumpang menaikkan kembali tasnya ke bagasi atas. Dan saat itu pemandangannya begitu parah. Kaca-kaca jendela sudah banyak yang bolong. Batu sebesar batubata beterbaran didalam kereta, dikursi dan dilantai.

Akhirnya saya tiba di Sta. Wonokromo dengan selamat pukul setengah 3 dinihari (lumayan menghemat waktu).

  1. Kehilangan Suami

Ini yang agak aneh, tiba-tiba saja suami saya hilang dan tak kembali lagi dikursinya setelah kereta berhenti di Sta. Purworejo.

Kejadian ini saya alami saat pulang mudik lebaran dari Jakarta. Waktu itu suasana kereta sangat ramai, kondisi kereta juga full hingga untuk berdiri saja sulitnya minta ampun karena sempitnya lahan sekedar untuk injakan kaki.

Belum lagi banyaknya penjual yang wara-wiri menawarakan dagangan seolah tak mau mengalah dengan para penumpang. Ketika itu belum ada kebijakan seperti sekarang ini, dimana PT KAI masih menjual tiket bebas tempat duduk bagi penumpang kereta kelas ekonomi. Sehingga biarpun suasananya sudah penuh hingga untuk nafas aja sulit, setiap kereta berhenti di Stasiun masih ada saja penumpang yang naik dan membuat para penumpang didalam ini seperti ‘tetel’ ditekan-tekan. (bisa bayangin kan bagaimana rasanya makanan tetel / jadah yang lengket itu ditekan-tekan, biar sudah ditekan kayak apa ya tetap aja gak bisa dapat space longgar)

Nah karena suasana sumpek, panas dan gak karu-karuan ditambah kereta api berhenti lama banget di tengah areal persawahan, saat itulah tiba-tiba lampu kereta mati. Malah bikin emosi saja, kan? Mana gak ada angin sama sekali, kipas angin juga mati. Huh! Pokoknya sumpek-pek!

Begitu kereta berjalan lalu berhenti lagi di Stasiun saat itulah suami saya berdiri dari kursinya. Saya pikir dia sedang ke kamar kecil atau mencari angin di dekat pintu.

Tak lama kemudian kereta berjalan lagi tapi suami saya belum juga kembali. Saya santai saja, mungkin berdiri didekat pintu lebih nyaman dibanding di dalam.

Baru saya menyadari saat ditanya penumpang lain, “Mbak, masnya tadi kemana, kok belum kembali-kembali?”

Saya mulai bingung. Untungnya tiket saya yang pegang, coba kalau dia yang pegang bisa disuruh turun saya kalau ada pemerikasaan. Dan yang bikin saya panik lagi dompet dan HP suami saya itu ada ditas saya. Mumet rasanya mikir. Sudah gitu ATM juga semua saya yang bawa. Sedangkan perjalanan masih jauh pula, Kota Solo aja belum nyampe, trus dia pulang naik apa? Duit juga gak pegang? Kalau lapar dia makan apa? Masak minta orang? Apa ngamen? Tapi rasanya gak mungkin 2 opsi itu di lakukan secara suami saya gak ada bakat melakukan 2 cara itu.

Akhirnya saya pasrah aja. Dibalik itu semua pasti nanti ada keajaiban. Saya sampai rumah jam 4 pagi dengan perasaan super galau.

Hingga jam 7 pagi saya belum dapat kabar akan keberadaan suami. Dirumah saya berusaha makan enak dan tidur nyaman aja walau sebetulnya pikiran kalut.

Ndilalah jam 12 siang saya ditelepon suami kalau dia sudah ada di Sta. Gubeng Surabaya dan minta dijemput. Uh leganyaa..

Dan benar saja keajaiban itu muncul, saat ketinggalan kereta dia langsung menghubungi PT KAI. Disana petugas meminta suami saya menunggu sampai ada kereta ke arah Surabaya. Dan coba apa yang dia dapat, gara-gara ketinggalan itu dia bisa dapat tumpangan kereta kelas Executive lho.. dan dilayani spesial pula oleh petugas PT KAI

  1. Salah Stasiun

Kejadian ini yang baru beberapa hari lalu saya alami. Karena kebijakan PT KAI yang sering berubah-ubah membuat saya bingung harus naik kereta dari mana. Terakhir kali saya naik ekonomi sih dari Sta. Senin karena di Sta. Jatinegara kereta tidak berhenti.

Dan kemarin itu saya mengikuti jejak sebelumnya berangkat menuju Sta. Senin. Dari rumah jam 10 pagi karena jadwal kereta GBM 12.20 siang. Dari Klender saya dan suami naik metro mini menuju Sta. Senin.

Sampai di Sta. Senin jam masih menunjukkan pukul 11.30, “Ah masih sejam lagi” pikir saya. Sambil menunggu jadwal, saya beli buah dan jajanan di Stasiun. harapannya supaya penantian kami nanti nyaman, begitu.

Di dalam Stasiun saat mencari tempat yang nyaman untuk menunggu, iseng saya tanya petugas portir, tetap dengan lagak Suroboyoannya. “Pak, sepur Gayabaru, ngentenine nang endi?” (Pak KA Gayabaru nunggunya dimana?”

Dijawab oleh petugas portir “Oalah Mbak, Gayabaru neng Kota, ra’ nang kene” dengan logat ngapaknya.

Glodak!! Mana sekarag sudah jam 11.45! kurang beberapa menit lagi..

“Sampean numpak taxi opo bajaj wae mbak, nek numpak angkot ra’ nututi” katanya, yang lalu saya akhiri dengan kata “Suwon”.

Secepat kaki ini melangkah saya melewati jajaran Taxi, “60 rebu, mbak, ngejar jam” kata tukang Taxi. Ogah ah, masak dari Senin ke Kota 60 rebu. “Selawe nek gelem!” tawar saya.

Lalu ada bajaj lewat, “telung puluh wae”. “Emoh, rong puluh nek gelem” tawar saya. “Yo wes Selawe wae” Oke deh tancap gas!

Namanya juga bajaj ya, walaupun sudah ngebut sambil ngeden trus badan ini keder semua tetap aja lari ditempat. Makin stres aja saya. Sudah gitu muacetnya minta ampyuun..

Untung Pak Bajaj nya baik, dia pintar nyari sela. Dia lewat Jl. Pangeran Jayakarta untuk menghindari macet didepan mangga dua. Sempat pula Pak bajaj nya marah karena dimundurin pick up saat kejebak macet. Mendengar dia marah saya dan suami ketawa gak berhenti-henti. Logat marahnya itu lho lucu banget..

Alhamdulillah saya tiba Sta. Kota tepat waktu. Sambil lari-lari untuk mengejar kereta yang sudah ‘ongkang-ongkang’ kaki diatas rel. Begitu naik kereta sudah mau jalan aja, dan lagi gerbong saya ada di paling depan sendiri, klop ngos-ngosannya!

Benar-benar deh 3 pengalaman seru naik kereta ekonomi yang pernah saya alami itu, semuanya bikin spot jantung 😀

26 thoughts on “3 Pengalaman seru naik kereta ekonomi

  1. ceritanya seruuu.. apalagi yang kedua, bikin ketawa terpingkal2 *maaf mba bukan maksud nertawakan tp memang lucu, masih ga abis pikir suaminya ktinggalan tp ga sadar*

  2. bener bener cerita per kereta api an yang unik Mbak…
    aku membayangkan yang barengan sama bonek tuh, pasti mencekam sekali ya suasananya…. sampe ikutan tegang

  3. seru banget ya mbak pengalamannya , sampai kehiangan suami segala. Mbak katanya sekarang kereta ekonomi sudah lebih baik ya? gak tau deh bener ata gak belum pernah naik. Terima kasih ya sudah ikut berpartisipasi

    1. KA Ekonomi itu:
      1. Ber-AC dan bukan cuma pajangan. Kalau apes (tapi jarang) bisa sedingin kulkas)
      2. Asongan tak boleh naik
      3. Waktu tempuh makin cepat, dari sisi jadwal maupun sisi ketepatan( Kereta sekarang sering kecepetan)
      4. Nggak beresakan, sudah sistem tempat duduk

  4. Yuuun, selamat ikutan lomba ya…saya belum pernah naik kereta ekonomi, bukan sok kaya lo, tapi memang belum berani mencoba…hehe, ujung-ujungnya ya kereta jenis yang itu-itu aja 😀

  5. Mbak Yun, terima kasih atas partisipasinya di acara sederhana bertajuk SYUKURAN RAME-RAME. Maturnuwun 🙂

    Penjuriannya sederhana saja, terdiri atas tiga tahap:

    1. Kesesuaian dengan tema (dan memenuhi persyaratan GA)
    2. Diksi dan penulisan
    3. Imajinasi (sudut pandang, dll)

    Pengumuman pemenang akan dilaksanakan pada 1 April 2013

  6. eyampuunnn.. ini bener2 cerita seru, mbak yuni.
    tapi hebat euy, bisa tenang sampai surabaya dan ketemu lagi dengan suami tercinta.. hadehh. 😛

  7. mba Yuniiiii..
    itu kenapa suami kok bisa ilang gitu siiiih…hihihi..
    emang gak pada bawa hape apah?

    dan sepertinya pengalaman naik kereta bareng bonek ituh pernah di posting yah?
    aku inget berasa syerem gitu bacanya…

  8. wihhh…… mantep bener deh 3 pengalaman serunya
    sy juga pernah mbak pulang kesurabaya pake GBMS bareng rombongan bonek.
    bener” menegangkan……. bahkan kereta sempat mogok didaerah setelah cirebon.
    kebetulan disitu pas ada konsentrasi massa (kampanye kayaknya) begitu tahu yang ada dlm kereta rombogan bonek. wihhh langsung deh diserbu th kereta…… bener” kacau saat itu. bukan bonek kl gak ngelawan. walau pun ditimpukin batu dr segala arah.
    untung loko cadangan cepat datang, dan kereta pun berjalan langsung tanpa berhenti distasiun sepanjang jabar-jateng. kereta baru berhenti dist. madiun
    dan seperti yang mbak katakan……. batu segala ukuran berserakan didalam gerbong.

  9. Wah…artikel lawas tp critane apik, Baca artikel soalnya mo nyoba naek ekonomi gaya baru dari jakarta ntar bulan juni, kalo ketinggalan kereta emang menguntungkan dan pernah saya alami dan dapetnya sama executive kosong lompong kayaknya raja di dalam gerbong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *