Tretek Bungkuk Ngagel, Jembatan penuh kenangan

Kami menyebutnya Tretek Bungkuk Ngagel atau Jembatan Bungkuk.

Kemarin, sepulang dari Malang, saat turun dari Bis Kota saya menyempatkan mengambil gambar Tretek Bungkuk dari dekat. Rasanya sudah lama sekali saya tidak melintasi jembatan bergeladak kayu dimana dulu pernah saya lewati dengan jalan kaki menuju terminal Joyoboyo. Walau sekarang hampir setiap hari melalui jalan Ngagel, namun sekalipun saya sudah tidak pernah melintas. Terlebih karena sudah ada motor yang membawa saya kemana-mana sehingga jarang sekali menggunakan angkutan umum di Joyoboyo.

Tretek Bungkuk dari kejauhan yang masih tampak gagah membelah Kali Mas
Tretek Bungkuk dari kejauhan yang masih tampak gagah membelah Kali Mas

Masih jelas sekali saya ingat ketika Terminal Bis antar kota masih dipusatkan di Joyoboyo, Tretek ini ramai dengan lalu lalang manusia yang berangkat mudik atau sekedar liburan di Kebun Binatang Surabaya. Saat melintas, Bapak selalu menggandeng tangan saya dengan erat dan selalu memberi aba-aba loncat jika ada bilah kayu berlubang. Jika hari biasa, Tretek ini juga banyak sekali dilewati karyawan dan anak sekolah yang berangkat menuju tempat beraktifitas dengan jalan kaki atau menuntun sepeda ontel diatas jembatan. Namun sejak Terminal antar kota Purabaya di pindah ke Bungurasih, volume pengguna Tretek Bungkuk menjadi berkurang.

Lokasi Tretek Bungkuk ini berada di Jalan Ngagel Surabaya, tak jauh dari Stasiun Wonokromo. Entah siapa yang pertama memberi nama Tretek Bungkuk, yang jelas tretek ini sudah ada sejak saya kecil. Mungkin saja Tretek ini sudah ada sejak lama, sayangnya saya tak menemukan keterangan pasti tentang riwayat keberadaan Tretek Bungkuk yang hingga kini masih berdiri gagah diapit dua gelondong pipa raksasa milik PDAM.

Bagi penduduk perkampungan yang tinggal disekitar kawasan Ngagel dan Darmo Kali, Tretek Bungkuk ini sangat penting sebab dengan menggunakan Tretek ini mereka tak kesulitan menuju arah tengah kota seperti Jl. Raya Darmo atau Jl. Raya Diponegoro dan sebaliknya, kawasan Ngagel atau Gubeng. Bagi warga yang biasa naik angkutan umum, Tretek ini sangat membantu sekali. Mereka tak perlu lama-lama nambang/naik perahu gethek demi menyebrangi sungai Kali Mas.

Sejak dulu hingga kemarin, saat saya melewatinya, daya tarik dan keunikan yang dimiliki Tretek Bungkuk masih sama, yaitu jajaran kayu yang ditata sedemikan rupa sebagai jalan lintasannya. Saya tidak tau mengapa lintasan Tretek Bungkuk tidak dibuat cor atau beton, meski sebetulnya saya tetap suka kalau penampakannya masih seperti yang dulu. Selain kenangannya lebih kuat juga pejalan kaki lebih leluasa lewat tanpa harus terganggu dengan suara klakson motor. Sejak dulu memang tretek ini hanya dikhususkan bagi pejalan kaki saja.

Geladak kayu Tretek Bungkuk yang tampak rapi
Geladak kayu Tretek Bungkuk yang tampak rapi

Kalau melihat fungsi dan letak Tretek yang diatas sungai Kali Mas, saya yakin Tretek ini sudah ada jauh dari tahun saya lahir. Mengingat letak Tretek ini yang strategis, dekat dengan sungai Jagir yang merupakan muara sungai Kali Mas dimana sejak dulu Kali Mas sebagai jalur transportasi niaga pada jaman penjajahan.

Jika teman-teman datang ke Surabaya dan melintasi jalan Ngagel, sempatkan sebentar untuk mencoba melewati Tretek Bungkuk ini. Pastinya sensasinya sungguh luar biasa. Untuk jalan kaki, Tretek ini tak begitu panjang, hanya selebaran sungai Kali Mas. Paling tidak dengan melintas di jembatan ini teman-teman bisa merasakan sensasi berjalan diatas jembatan dengan bunyi kayu glodak-glodak sambil tetap waspada barangkali menemukan satu-dua kayu yang berlubang sehingga mau tak mau harus hati-hati saat melintas agar kaki tak terperosok ke bawah. Tapi yang pasti jembatan ini aman dilewati.

Atau mungkin ada teman-teman yang sudah pernah melewati Tretek Bungkuk Ngagel? Boleh dishare disini.. 😉

Hunting tiket 3030

Tanggal 21 – 30 Maret 2014 di kota Surabaya ada event menarik. Namanya Pertunjukan spektakuler 3030 Surabaya. Konon event ini merupakan spektakuler show 3 Dimensi. Entah apa yang dimaksud 3 Dimensi tapi denger-denger sih pertunjukan bagus apalagi lihat foto-foto yang ada di hestek #3030Surabaya.

Kemarin saya berniat ngajak Suami nonton pertunjukan ini. Sebelum berangkat saya hunting informasi dulu di twitter. Dari informasi yang saya peroleh untuk hari Jumat – Sabtu – Minggu penontonnya full padahal jadwal pertunjukan dalam sehari ada 7 kali! Untuk menonton acara ini pengunjung tidak dipungut biaya. Syarat yang dipenuhi untuk mendapatkan tiket adalah menunjukkan follow @3030Surabaya. Itu saja, asik kan..

Habis Maghrib kami berangkat ke Parkir Timur Plasa Surabaya yang ada di jalan Pemuda Surabaya. Sebelum mencapai jalan Pemuda, jalanan di Surabaya macetnya minta ampun. Sejak dari jalan Sumatera motor sulit sekali bergerak. Pengendara didominasi anak-anak muda yang sepertinya akan melihat pertunjukan 3030 ini. Hingga lampu merah didepan hotel Sahid motor benar-benar berhenti. Bahkan meski lampu sudah menunjukkan warna hijau saya masih kesulitan bergerak. Begitu didepan Monkasel sudah banyak antrian motor yang ingin parkir. Rupanya, banyaknya antrian ini yang menjadi sebab kemacetan.

Dari pada saya ikut antri panjang, saya milih mencari tempat parkir di Cafe ‘remang-remang’ didepan Monkasel. Di cafe itu tempat parkirnya luas dan sepi. Petugas parkirnya pun tak keberatan kami parkir disana. Alhamdulillah diberi kemudahan.. herannya kenapa mereka-mereka yang antri sampai memenuhi bahu jalan tidak parkir di Cafe saja, sih..

Sesampai di parkir timur pengunjung luar biasa ramainya. Antrian masuk dan antrian mengambil tiket mengular dimana-mana. Karena baris antriannya ruwet saya sampai tidak bisa melihat mana pintu masuknya. Petugas jaga pun sampai tidak terlihat. Demi mendapat informasi yang pasti saya ingin bertanya langsung kepada petugasnya. Sambil menerobos antrian saya berjalan menuju pintu keluar. Beruntung disana ada petugas penjaganya.

“Pak, cara mendapatkan tiket pertunjukan gimana caranya?”

“Oh, Mbak belum mendapat tiket? Tunggu sebentar ya, petugas tiketnya sedang istirahat makan”

Saya memaklumi. Sambil menunggu saya berdiri didekat pagar. Tak hanya saya yang bingung, dibelakang saya ternyata banyak orang-orang yang juga tidak tau kemana harus mendapatkan tiket. Lalu saya dengar ada beberapa orang bertaya kepada petugas, oleh petugas dijawab harus antri didepan. Lho, kok jawabannya berbeda. Tadi sama saya jawabnya disuruh nunggu, kok sama yang lain diminta antri.. Walau begitu saya tetap tidak beranjak dari tempat berdiri.

Tak lama kemudian, petugas mendatangi saya sambil mengajak petugas cewek.

“Mbak ini lho kasian menunggu dari tadi” kata petugas laki-laki. Saya gelagapan. Dibanding yang lain saya baru sebentar menunggu.

“Untuk berapa orang, Mbak?” tanya Mbak petugas.

“2 orang Mbak” jawab saya yang kemudian di suruh menunggu sementara si Mbak pergi ke mejanya.

Sang petugas laki-laki bilang harusnya untuk mendapatkan tiket antri dulu didepan. Karena saya perempuan makanya dikasih langsung. Duh.. segitunya, Paak.. tapi makasih banyak sih sudah dibantu 😀

Tak lama kemudian si Mbak datang sambil menggenggam sesuatu sambil bertanya, “Mbak, bawa bolpoin?”. “Bawa” jawab saya.

“Ya udah tangannya Mbak siniin biar nggak kelihatan yang lain” seraya memindahkan sesuatu dari tangannya ke tangan saya. “Habis diisi nanti kasih tiketnya ke petugas pintu masuk, ya”

Setelah bilang trima kasih, saya langsung menghambur ke pelukan suami untuk pinjam bolpoin. Mengingat suasana begitu rame saya tidak langsung menonton, Jadwal yang saya ambil hari Sabtu jam 4 – 5 sore yang itu berarti hari ini, nanti sore, asiikkkk….

Saat cagar budaya dijadikan sebagai pusat pertunjukan reog

Balai Pemuda merupakan salah satu gedung bersejarah yang hingga kini tetap dilestarikan oleh Pemerintah Kota Surabaya. Sebagai cagar budaya, gedung ini kerap dijadikan sebagai langganan penyelenggaraan event yang bersifat kesenian tradisional. Salah satunya adalah pertunjukan seni reog Ponorogo.

Seni Reog Ponorogo, karya Domi Yanto, Pemenang Potret Mahakarya Indonesia
Seni Reog Ponorogo, karya Domi Yanto, Pemenang Potret Mahakarya Indonesia

Setiap hari Minggu pagi, saya sering berkunjung ke gedung Balai Pemuda ini. Apalagi kalau bukan untuk menyaksikan pertunjukan reog. Ya, di gedung ini setiap hari Minggu, tepatnya di pelataran gedung selalu diadakan pertunjukan seni khas Jawa Timur. Jadwalnya berselang-seling, antara pertunjukan reog dan pertunjukan kuda lumping.

Walau sering tampil, namun tak mengurangi antusiasme warga Surabaya untuk menonton pertunjukan reog ini. Sebab grup yang tampil setiap 2 minggu itu selalu memiliki karakteristik yang berbeda. Baik dari sisi humor sang Bujang Ganong (Ganongan), Keluwesan gerak tari Jathilan juga penampilan gemblak yang terlihat sangar namun lucu.

Jam 8 pagi, penonton sudah siap di posisinya masing-masing. Meski tanpa komando para penonton ini sudah lebih dulu membentuk lingkaran yang tengah-tengahnya kosong. Sedangkan kru reog sendiri, sambil mempersiapkan timnya selesai dandan, sudah memulai membunyikan musik khas reog Ponorogo.

Sebagai pembuka, pertunjukan ini didahului oleh tari Jathilan yang dibawakan oleh 4 gadis. Mereka ini menari  secara luwes dengan gerak yang kadang berloncatan mengikuti irama musik.

Tari Jathilan. Foto Yuniari Nukti
Tari Jathilan.
Foto Yuniari Nukti

Setelah itu barulah muncul Warok yangkemudian di ikuti dengan Gemblak. 2 sosok ini selalu melengkapi pertunjukan barongan berkepala bulu merak raksasa ini.

Warok.  Foto Yuniari Nukti
Warok.
Foto Yuniari Nukti

Selanjutnya berganti dengan kemunculan anak kecil yang biasa disebut Bujag Ganong (Ganongan). Kemunculan anak-anak ini sering membawa kesegaran tersendiri. Sebab gerak dan tarian yang dibawakan kerap lucu dan menggemaskan. Tak jarang ia bersalto mengikuti hentakan kendang, hingga membuat penonton terperangah saking kagumnya.

Bujang Ganong  Foto Yuniari Nukti
Bujang Ganong
Foto Yuniari Nukti

Saat Bujang Ganong ini tampil biasanya Gemblak turut meramaikan suasana. Mereka kerap membuat obrolan dan adegan lucu sehingga membuat penonton tertawa karenanya. Bersama Bujang Ganong mereka saling berbalas atraksi salto atau membuat atraksi unik yakni membuat semacam piramid ala reog.

Atraksi Piramid Foto Yuniari Nukti
Atraksi Piramid
Foto Yuniari Nukti

Terakhir, dan yang paling ditunggu-tunggu adalah penampilan reog. Dalam setiap pertunjukan ada 2 reog yang tampil. Keduanya akan memakai topeng bersama-sama lalu menari saling berhadapan kemudian saling memutar menunjukkan aksinya. Aksi ini seolah-olah menggambarkan 2 singo barong yang sedang bertarung. Semakin kencang reog berputar, maka semakin kencang pula tepuk tangan penonton.

Reog bersiap tarung Foto Yuniari Nukti
Reog bersiap tarung
Foto Yuniari Nukti

Wajar jika penonton begitu kagum sebab beratnya dadak merak Reog ini konon mencapai 50 kilogram dengan panjang dan lebar kurang lebih sekitar 2 meter-an. Bayangkan, bagaimana sulitnya seseorang membawa barang seberat 50 kilogram hanya dengan bantuan gigi saja lalu meliuk-liuk dan berputar-putar keudara. Yang pasti akan sangat berat. Namun penari reog ini sudah terbiasa melakukannya.

Reog bertarung Foto Yuniari Nukti
Reog bertarung
Foto Yuniari Nukti

Kebiasaan membawa reog dengan hanya menggunakan bantuan gigi bukanlah pekerjaan mudah. Setidaknya diperlukan banyak-banyak latihan berupa membawa beban berat dan tentunya juga latihan ilmu tenaga dalam.

Sebagai warga Surabaya saya amat bangga dengan diadakannya pertunjukan Reog sebagai pertunjukan mingguan. Setidaknya dihari libur itu, selain untuk menghilangkan penat, saya masih bisa menikmati dan merasa memiliki kesenian tradisional negeri sendiri yang beberapa saat sebelumnya nyaris di klaim negara lain.

Untuk itu marilah bersama-sama memiliki Reog sebagai kesenian tradisional. Memiliki saja tak cukup jika sekedar diucapkan, tetapi dibuktikan dengan berbondong-bondong saling menggerakkan satu sama lain agar senantiasa menyaksikan kesenian tradisional. Dengan Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia, mari bersama-sama kita dukung kesenian tradisional nusantara sebagai harta berharga bangsa.

Surabaya dan gedhang goreng

Suatu ketika saya dikasih tunjuk suami Photo Profil kotak BBM teman kantornya. PP yang ditampilkan itu bukan foto orang melainkan sebuah tulisan.

Setelah membaca PP itu saya lantas tertawa keras.

“Koplaaakk…” kata saya sambil terus tertawa. Entah kenapa tiba-tiba saya mengucapkan itu. Yang jelas kata itu saya ucapkan bukan maksud untuk mengejek si empu PP. Pokoknya spontan aja.

Bunyi tulisannya begini:

Dobol Suroboyo puanase koyok gedhang goreng..

(Dobol Suroboyo panasnya seperti pisang goreng)

Ada 2 alasan disini kenapa saya tertawa sekencang itu.

Yang pertama kata Dobol.

Dobol ini kalau diartikan dalam bahasa jawa artinya lebih kearah ambrol atau jebol. Namun penggunaan dobol sendiri sangat jarang digunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang berbau jebol, ambrol dan sejenisnya.

Dobol lebih sering digunakan untuk mengumpat sesuatu.

Misalnya ada orang membawa sesuatu kemudian barang itu tiba-tiba jatuh. Karena kaget dia spontan berkata “eh dobol-dobol..”

Mungkin kata itu masih nyambung karena ada hubungannya dengan barang jatuh. Tapi ada juga yang berkata “Dobol, koen ojok golek gara-gara” (Dobol, kamu jangan cari gara-gara). Atau Dobol, sakjane karepmu iku opo seh? (Dobol, sebenarnya apa sih maumu?)

Sama seperti membaca tulisan itu, kalau saya mendengar orang marah atau mengumpat yang diawali dengan kata dobol saya langsung tertawa. Lucu dengarnya. Apalagi diucapkan dengan logat Suroboyo yang medok. Membayangkan aja saya langsung tertawa seperti saat saya menulis ini. Sambil kepingkel-kepingkel sendiri.

Yang kedua kata gedhang goreng

Saya bingung apa hubungan antara Surabaya, panas dan gedhang goreng. Maksudnya mungkin panasnya Surabaya sepanas gedhang goreng yang baru diangkat dari wajan. Namanya juga baru turun dari penggorengan, yo mesti ae panas. Tapi kenapa harus gedhang goreng, kok bukan ote-ote, tahu isi, pohong goreng atau telo goreng. Padahal biasanya telo sering dipakai buat mengumpat orang. “O, telo..”.

Saya pun sering menggunakan umpatan telo ini kalau lagi di jalan raya. Kata ini spontan saya ucapkan kalau lagi geram sama orang yang seenaknya menyerobot lampu merah atau yang bergaya ala preman.

Walaupun saya suka mengumpat tapi saya usahakan agar umpatan yang keluar terdengar elegan. Atau setidaknya tidak menyinggung orang lain. Emang telo itu elegan? 😀  Dan umpatan itu gak sembarangan saya ucapkan supaya gak kena imbasnya. Bisa-bisa saya yang malah berdosa.

Cara lain mengucapkan kata umpatan adalah dengan guyon yang nadanya dipanjangkan seperti muuaayak.. atau koplaaaak..

Janc*k juga bisa jadi guyonan tinggal mengubah tanda bintang menjadi huruf o atau i. Supaya nggak terkesan tabu kata janc*k bisa diubah menjadi  jambu, jamput, jangkrik dan semua yang mengandung huruf depan J. Umpatan guyon ini biasanya berlaku kepada teman yang yang sudah akrab dan kenal lama.

Dan yang paling penting saya gak berani mengumpat dengan sesuatu yang didalamnya ada campur tangan Tuhan. Seperti cuaca panas, dingin, atau mencela sesuatu yang sudah menjadi kehendak Tuhan.

Memang cuaca Surabaya akhir-akhir ini terasa panas. Saya lihat di aplikasi andorid mencapai 35 derajat. Bahkan kipas angin pun gak bisa dinikmati sama sekali. Gak di kipasi itu sumuk, dikipasi anginnya panas.

Untuk satu ini saya gak berani mengumpat, takut dosa. Kalau sudah gerah banget paling-paling saya hanya mengeluh Ya, Allah, panasee… atau sumuk’e reeek..

Walaupun sebenarnya mengeluh itu tidak boleh.

Panas dunia aja sudah ngeluh, gimana nanti panas nya neraka. Naudzubillahimindzaalik.. 

Traffic Light penyebrangan

Selain jembatan penyebrangan kota Surabaya juga memiliki traffic light penyebrangan khusus bagi pejalan kaki dan sepeda ontel.

Traffic Light penyebrangan ini sangat unik sebab orang yang ingin menyebrang tak perlu lagi melambaikan tangan kepada pengendara mobil dan motor sebagai tanda minta jalan, tetapi mereka cukup menekan tombol di tiang kemudian tanpa menunggu waktu lama akan ada aba-aba lampu berwarna merah. Aba-aba ini biasanya di tandai dengan suara sangat keras yang bunyinya seperti minta perhatian. “Didid… didid.. didid….” ketika ada bunyi itu para penyebrang di persilakan untuk menyebrang.

Inilah saatnya pejalan kaki di anggap bak raja jalanan. Tanpa harus di burui, tanpa rasa takut di tabrak. Melenggang santai saja seperti jalan itu milik sendiri. Mau nyebrang ramai-ramai, mau sendirian saja juga boleh. Tetapi biasanya mereka nunggu sampai ada temannya dulu. Baru kalau sudah di tunggu tapi gak dapat teman juga dia boleh menyebrang sendiri.

Di banding jembatan penyebrangan, lampu merah penyebrangan ini lebih efektif dan cepat ketimbang harus bercapek-capek naik ke jembatan lebih dulu.

Ada cerita menarik mengenai lampu merah ini.

Beberapa hari lalu ketika Kak Julie sedang di Surabaya kami janjian ketemuan. Saya pun menjemputnya di hotel kemudian naik Taksi bersama-sama ke rumah Pakde untuk silaturrahmi.  Kebetulan letak hotelnya tepat di depan Gedung DPRD Surabaya, di sebelahnya Zangrandi dan jalan itu adalah kawasan padat lalu lintas. Apalagi jalurnya hanya untuk satu arah saja.

Taksi kami panggil. Namun tak satu pun yang berhenti. Mungkin karena posisi kami berada di kanan jalan, sedangkan Taksi berjalan di bagian kiri tepat di depan Gedung DPRD. Begitu pula dengan Taksi yang sedang ngetem di depan DPRD. Walaupun kami sudah melambaikan tangan memanggil mereka namun tak ada satupun dari mereka yang tertarik mendekati kami. Kesannya mereka tak butuh penumpang. Jalan satu-satunya ialah kami harus nyamperin mereka. Dan tentu saja kami harus menyebrang ke sana.

“Kek mana nyebrangnya?” tanya Kak Julie.

“Kita pakai lampu merah ini, Kak” kata saya. Sedikit grogi sebab saya jarang menggunakan fasilitas ini. Gimana cara nekan tombolnya. Dan tombol mana yang harus di tekan. Letaknya saja saya belum tau..

Saya memutari tiangnya sambil mencari letak tombol itu. Ketemu. Lalu saya pencet tombolnya.

“Kok mobilnya gak berhenti, Dek?” tanya Kak Julie lagi setelah menunggu beberapa saat.

“Masih harus nunggu merah dulu Kak, baru mereka berhenti” kata saya. Dalam hati saya sendiri bingung, kenapa lampunya gak berubah juga.

Untung lah ada satu orang yag bergabung bersama kami. Dia pun lantas menekan tombol itu sekali lagi. Masih sama, lampunya belum berubah juga.

Melihat kebingungan ini di depan sana, di lampu merah depan Gedung sana ada Pak Becak yang mambantu menekan tombol dari sana. Tanpa menunggu lama lampu pun berubah merah. Dan semua mobil berhenti. Oalah, mungkin tombol di bagian saya gak berfungsi makanya gak ngefek sama lampunya.

Semua kendaraan berhenti, saya dan Kak Julie pun melenggang nyebrang.

“Dek, beneran mereka berhenti?”

“Iya, tenang saja gak mungkin mereka nabrak kita. Kalau sampai ada yang berani nabrak merekalah yang salah” kata saya sok hehe..

“Ih, keren ya Surabaya. Gak percaya aku ada beginian. Katrok kali aku ya hahaha….”

Dalam hati saya bilang “I.. iya.. kita sama-sama katroknya Kak haha..”

Dan memang setopan penyebrangan ini semakin di minati warga Surabaya. Buktinya semakin jarang ada orang yang menyebrang sembarangan. Imbasnya jembatan penyebrangan yang makin tak laku hehe..

Adakah traffic light penyebrangan di kotamu teman?

Bu Risma dan kota seribu taman

Kalau di Jakarta ada Pak Jokowi, maka di Surabaya saya bangga punya Bu Risma (Tri Rismaharini)

Sosok Ibu Walikota yang memiliki gaya kepemimpinan unik ini dalam 3 tahun jabatannya sedikit banyak telah sukses mengubah wajah kota Surabaya.

Walau namanya mungkin tak setenar Jokowi tetapi bagi warga Surabaya, khususnya pasukan kebersihan, sosok Bu Risma sangat di hormati dan di segani. Pembawaannya sederhana, suka ceplas-ceplos, murah senyum tapi juga punya hobi marah-marah. Bagi yang pernah dan sering bekerja di bawah kepemimpinan Bu Risma, mendengar Bu Risma marah adalah hal biasa. Dan itu salah satu upaya untuk menyelesaikan masalah.

Saya punya 2 orang dekat yang bekerja sebagai petugas kebersihan kota. Dan dari mereka lah saya bisa menulis ini disamping melakukan pengamatan sendiri juga melalui media cetak atau digital. Tinggal saya kait-kaitkan saja.

Meskipun suka ceplas-ceplos, namun Bu Risma tak main-main denga kata-katanya. Jika ada proyek atau saluran jalan yang tak kunjung selesai dan dirasa cukup mengganggu keindahan kota, Bu Risma akan secepat mungkin cari tau dan sesegera mungkin meminta mereka menyelesaikannya. Sejak sebelum menjadi Walikota hingga menjadi  walikota, Bu Risma memang menonjol dalam kebersihan jalan, saluran air/sungai juga kecantikan kota. Sepertinya sudah sesuai bidangnya, Bu Risma yang seorang lulusan S2 Manajemen Pembangunan Kota di ITS ini, selama karier di pemerintahan, beliau pernah menjabat: Kepala Seksi dan Tata Guna Bappeko Surabaya (1996), Kepala Dinas Pertamanan dan Kebersihan (2005-2008), Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (2008-2010) yang kemudian membawa beliau pada Partai Politik.

Meskipun di awal-awal Bu Risma enggan untuk menjadi Walikota tetapi mau tak mau Bu Risma berangkat juga. Itu karena hasil survei yang sempat di syaratkan oleh Bu Risma. Syarat yang diajukan adalah Jika survei atas dirinya tidak mencapai angka 20% maka Bu Risma enggan jadi walikota. Kenyataannya survei menunjukkan angka 22%.

Di usung oleh PDIP, Bu Risma di sandingkan dengan Walikota sebelumnya, yakni Bambang DH. Karena sudah menjabat selama 2 periode yang seharusnya Bambang DH tidak boleh menjabat lagi, maka di jadikanlan Bu Risma sebagai posisi walikota.

Meski selama pemilukada berjalan lancar, kenyataanya Bu Risma mendapat batu sandungan. Antara lain, belum 1 bulan menjabat, Bu Risma akan di lengserkan oleh DPRD Surabaya. Dan bahkan dalam pelengseran itu, PDIP sebagai partai pengusungnya juga masuk menjadi salah satu partai yang ikut melengserkan Bu Risma. Meski akhirnya gagal di turunkan. Sebaliknya, kini PDIP memberi perhatian penuh kepada Bu Risma atas kesuksesannya memimpin kota Surabaya.

Tak berhenti sampai di situ, Kini Bu Risma masih di uji dengan menjadi pemimpin tunggal kota Surabaya. Sebab, sejak  mencalonkan diri menjadi Cagub Jatim, Bambang DH telah mengundurkan diri menjadi wakil walikota sejak April lalu. Dan hingga kini belum juga ada penggantinya.

Kini kota Surabaya telah berubah wajah. Kota yang dulunya terkenal panas dan debu, menjadi asri dan segar. Pepohonan hijau tumbuh di mana-mana memayungi jalanan Surabaya. Juga taman-taman nan indah yang mempercantik kota membuat siapa saja betah berada di luaran. Di tangan Bu Risma, Surabaya memiliki tempat wisata gratisan yang bisa di kunjungi oleh siapa saja juga kapan saja.

Dan harapan saya sebagai warga Surabaya, semoga masih ada sosok Bu Risma lain yang mampu mengimbangi kinerja beliau sehingga jika di akhir masa pemerintahannya nanti Surabaya tetap menjadi kota terbersih dengan seribu tamannya.

Bu Risma tangannya di bebat karena patah
Bu Risma tangannya di bebat karena patah

 

Referensi: Majalah Detik

Konvoi Persebaya dan Bonek

Saat melintas di depan Stasiun Gubeng minggu siang kemarin, ada pemandangan tak biasa. Puluhan aparat dan ratusan bonek berkumpul dengan kostum hijau lengkap berikut atributnya. Akan ada konvoi Persebaya dan Bonek.

Bonek menunggu dari Depan Sta. Gubeng hingga Hotel Sahid Surabaya
Bonek menunggu dari Depan Sta. Gubeng hingga Hotel Sahid Surabaya
Aksi Bonek yang bersahabat :)
Aksi Bonek yang bersahabat 🙂
Misi.. numpang narsis ye.. :D
Misi.. numpang narsis ye.. 😀

Awalnya saya mengira ada razia, ternyata bukan. Mereka berkumpul untuk menunggu pemain Persebaya tiba dari Solo. Menurut kabar yang saya dapat, kesebelasan Persebaya menjuarai Divisi Utama setelah bertanding melawan Perseru Serui dengan kemenangan 2 – 0.

Beruntung saat itu saya bawa kamera dan karena peristiwa seperti ini jarang terjadi saya banting setir menjadi reportase dadakan. Mulanya saya hanya ingin memotret jeep keren yang dipakai untuk arak-arakan tetapi begitu melihat antusisme para Bonek saya pun ikut-ikutan konvoi. Bukan ikut konvoi sih, tapi saya hanya motret konvoinya aja.

Konvoi Persebaya dan Bonek di mulai dari depan Stasiun Gubeng. Para pemain yang menaiki jeep sambil membawa piala di arak oleh para supporter yang dikawal oleh aparat kepolisian. Persis seperti pertandingan di stadion, para supporter itu bernyanyi sambil mengibarkan bendera hijau Bonek. Beberapa bonek juga sempat membuat asap kuning selama di perjalanan membuat arak-arakan itu terlihat meriah dan hidup.

Tertib dan aman :)
Tertib dan aman 🙂
Pemain Persebaya
Pemain Persebaya
Piala di arak keliling Surabaya
Piala di arak keliling Surabaya
Seru, tidak menakutkan :D
Seru, tidak menakutkan 😀
Motor dan Mobil Polisi mengawal perjalanan konvoi di Jalan Urip Sumoharjo
Motor dan Mobil Polisi mengawal perjalanan konvoi di Jalan Urip Sumoharjo

Dari Sta. Gubeng, konvoi itu melewati Jl. Pemuda, Jl. Panglima Sudirman (Pangsud), Jl. Urip Sumoharjo hingga Darmo dan berhenti sejenak di depan Taman Bungkul. Selanjutnya mereka berputar melewati Kebun Binatang dan berlanjut terus hingga Jl. Urip Sumoharjo lagi melewati Jl. Basuki Rahmad, Jl. Gubernur Suryo di depan Grahadi lalu berhenti di depan Gedung DPRD Surabaya dibelakang Balai Pemuda. Di sana para pemain Persebaya dan Bonek di sambut oleh ketua DPRD Bpk. M. Mahmud.

Dalam sambutannya M. Mahmud mengucapkan selamat kepada para pemain yang telah berjuang dan para Bonek yang selalu setia memberi semangat. Kata M. Mahmud lagi, di Surabaya hanya satu Persebaya dan satu Bonek.

Piala di gadang-gadang
Piala di gadang-gadang

YUNI5241YUNI5242Sebelum masuk ke dalam Gedung DPRD, satu persatu Bonek berebut mengabadikan diri bersama pemain atau berdua dengan pialanya saja. Mereka berebut untuk bisa mencium piala kebanggaan mereka itu.

Karena hari sudah beranjak siang, saya buru-buru pulang karena belum Sholat Dhuhur. Rupanya selama acara penyambutan para Bonek itu masih setia di depan Gedung.

Dan pagi tadi saya baca berita tentang konvoi kemarin. Ternyata konvoi masih berlanjut hingga ke Jl. JAgung Suprapto.

Selamat konvoi Persebaya dan Bonek.. Semoga kemenangan yang di raih bukan kemenangan yang terakhir.

Kasih jalan-kasih jalan... ada Bonita lewat :P
Kasih jalan-kasih jalan… ada Bonita lewat 😛
Go Top