Aksi keren kiper Timnas Indonesia Kurnia Meiga

Yeayy.. Keren banget aksi kiper Timnas Indonesia Kurnia Meiga ini!!

Sempat ketinggalan nonton pertandingan Timnas Garuda melawan Netherland tadi malam yang sudah berjalan di menit 35 akhirnya berlanjut hingga berakhir babak pertama.

Saya bukan maniak bola banget ya, tapi karena kemarin itu penjaga gawangnya Timnas Garuda dipegang Kurnia Meiga jadilah saya menikmati pertandingan hingga menit ke 70 sekian-an, kalau tidak salah habis gawang kita kebobolan 2 kali deh.

Maunya saya pengen tetap nonton sampe pertandingannya habis, apalagi ada Andik yang diturunkan oleh pelatih Jackson F Tiago pada babak ke 2, tapi apa daya tiba-tiba saya merasa phobia akut. Walaupun sudah berusaha menenangkan diri sambil berbesar hati menerima apapun hasilnya karena pertandingan ini adalah laga persahabatan, tapi… bukan masalah kalah menangnya. Saya hanya menyayangkan duit yang 1 Miliar itu lho!! Ah.. melayang deh 😀

Kalau menurut pengamatan saya yang nggak gibol-gibol banget, pemain Timnas kita itu sudah kalah serangan dihadapan skuat Netherland, namun Timnas cuma bisa bertahan dan bertahan. Beruntung pawang gawang Garuda berkali-kali mengelak bola, dan jadilah pertandingan tadi malam menjadi asyik ditonton karena Kurnia Meiga berhasil menciptakan sebuah tontonan dramatis mengalahkan semua judul sinetron produksi Genta Buana!

Idih lirikannya.. :D
Idih lirikannya.. 😀

Kiper Timnas Indonesia Kurnia Meiga yang tadi malam tampil memukau dihadapan ribuan penonton, memiliki nama asli Kurnia Meiga Hermansyah. Lelaki bertinggi badan 184 cm dan bulan Mei lalu berusia 23 tahun merupakan sosok yang sangat piawai menangkap bola. Dugaan saya, sejak kecil Kurnia Meiga punya hobi menangkap kecebong dan belut di empang sambil hujan-hujanan. Dan waktu kecil Ibunya kerap menyanyikan lagu Cicak-cicak didinding. Jadi selain piawai membaca arah bola, instingnya juga ikutan main. Sekalinya ada bola yang mendekati gawang, hap! Langsung ditangkap, Tuh kan seperti lagu cicak-cicak didinding.. 😀

Setelah pertandingan semalam, konon Kiper Timnas Indonesia Kurnia Meiga dipuji oleh Pelatih Timnas Belanda, Louis Van Gaal karena beberapa kali sukses menampik bola yang mengancam gawangnya. Naah.. kalau penjaga gawangnya sudah bermain oke seperti ini, semoga untuk kedepan bisa diimbangi oleh pemain-pemain lainnya. Oke, Kurnia.. siap-siap ya dapat kontrak bintang iklan seperti Andik 😀

*gambar dari google

Masakan Cinta ala Chef Letnan Sari

Kapten Bhirawa tak bisa menyembunyikan kekagumannya terhadap Letnan Sari saat melihat gadis ayu itu secara cekatan menyelesaikan kegiatan memasak dalam suatu perlombaan di instansinya. Gadis tinggi semampai dengan lesung dipipi itu sangat berbeda dalam penampilan kesehariannya. Biasanya Ia tampil bak prajurit laki-laki, namun sekarang Ia seolah Ibu rumah tangga yang luwes dan bersahabat bersama piranti dapur.

“Tak salah bila selama ini aku mengagumimu?” Gumam Kapten Bhirawa sambil menatap tajam si gadis berambut sebahu bak mata burung Elang yang siap menerkam. Sudah setahun ini, sejak mutasinya ke Surabaya, Ia sering memperhatikan gadis yang sehari-harinya berpenampilan cuek ini . Rupanya pembawaan yang tegas telah menutupi segala kemilau wanitanya hingga Ia sendiri tak menyadari bahwa Letnan Sari memiliki sejuta keindahan wanita yang selama ini dicarinya, yaitu perempuan tegas namun bijaksana.

Ketika sedang menikmati suguhan maha indah itu, Kapten Bhirawa terlambat menyadari bahwa 2 bola mata Letnan Sari juga sedang mengarah kepadanya. Namun sebelum Ia mengalihkan pandang ke arah lain sebagai tepisan rasa malu, sesegera mungkin Kapten Bhirawa menyunggingkan senyum semanis mungkin yang Ia mampu walaupun dalam hatinya yakin sekarang ini Ia sedang menjadi bahan tertawaan Letnan Sari akibat tertangkap basah menatapnya.

Tepat sesuai perkiraan. Masakan Letnan Sari dinyatakan sebagai juara pertama! Bergegas Kapten Bhirawa mendekati Letnan Sari untuk memberi ucapan selamat. “Siap! Kapten. Ijin mempersembahkan masakan ini untuk Anda!” Malu-malu Letnan Sari berhadapan dengan lelaki yang diam-diam dipujanya. Seperti mendapat angin segar, tanpa banyak kata Kapten Bhirawa membalas dengan menyerahkan sekuntum mawar merah yang disana terselip sepucuk surat cinta yang sempat ditulis tanpa terencana. Sebagai simbol menyatunya 2 hati itu Letnan Sari dan kapten Bhirawa menikmati masakan cinta hasil olahan Chef Letnan Sari.

Bu TV

Kemarin saya ketemu Bu TV.

Bu TV, Begitu saya memaanggil.

Sebutan Bu TV tidak ada keterkaitan inisial namanya. Sebutan itu juga tidak ada hubungannya dengan pemilik banyak TV, lebih-lebih pemilik stasiun TV. Tapi saya menyebut begitu karena Bu TV adalah petugas yang menarik pajak TV zaman saya belum sekolah dulu.

Waktu saya kecil, saya sering melihat Bu TV mengetuk dari satu rumah ke rumah yang lain setiap sore di awal-awal bulan. Memakai bawahan coklat tua serta atasan coklat terang dengan lambang TVRI, Bu TV telaten memasuki rumah tetangga. Ada yang ramah mempersilahkan Bu TV masuk tapi ada juga yang menutup pintu sebagai penolakan halus. Salah satunya rumah saya yang masuk golongan penolakan.   

Setiap awal bulan, Ibu saya sudah mewanti-wanti kepada anak-anaknya, kalau lihat Bu TV nagih iuran, segera tutup pintunya. Atau kalau Bu TV masuk, bilang Ibu tidak dirumah.

Sebenarnya penolakan Ibu saya itu beralasan. Sebab saat itu kami memang memiliki TV hitam putih layar 14’ yang kondisinya rusak dan sering ngamar di tempat service. Atau kalau sedang normal TV disekolahkan di kantor pegadaian sehingga meskipun di bukunya Bu TV ada nama orangtua saya, tapi fisik dirumah tidak ada, makanya Ibu saya malas bayar iurannya.

Lucunya kami percaya saja apa yang dikatakan Ibu. Setiap kali kami tanya kenapa TV itu harus disekolahkan, jawaban Ibu saya terdengar klise, supaya pinter!

Tapi ujung-ujungnya tetap bayar iuran juga meskipun dobel.

Setelah beberapa lama berada dalam ketidak pastian akhirnya Bapak membeli TV warna kondisi second yang bisa dipakai nyetel saluran TV swasta. Gara-garanya sih sepele, kalau tidak salah ingat supaya bisa nonton siaran langsung piala dunia yang jam tayangnya dini hari. Katanya TV hitam putih yang lama tidak bisa dipakai nonton saluran lain selain TVRI. 

Nah pas bu TV nagih, ketahuan kalau TV saya baru. Jadilah tagihan iurannya nambah. Yang awalnya iuran senilai TV hitam putih, berganti iuran senilai TV warna.

Dan nyatanya kondisi TV warna second itu sebelas dua belas. Di pakai nyetel TV swasta sih bisa, tapi warnanya suka gak mau muncul. Kadang warna kadang hitam putih. Malah kadang sudah disetting warna sampai full pun gambarnya tetap hitam putih.

Sebel, kan. TV warna yang hitam putih tapi bayar iurannya seharga TV warna. Awal-awalnya dibayar sama Ibu saya, tapi lama-lama kok eman-eman.

Saat ditagih Ibu saya bilang ke Bu TV bahwa TVnya bukan warna tapi hitam putih, jadi minta supaya iurannya diturunin.

Bu TVnya sih sempat tidak percaya. Tapi waktu diperlihatkan *untung warnanya gak muncul*, Bu TVnya percaya.

Lagi-lagi saat jadwalnya Bu TV narik iuran, Ibu saya segera memberitau kami, kalau ada Bu TV nagih dan kami sedang nonton TV, trus TVnya muncul warna, cepat-cepat matikan TV. Atau setting warnanya diganti hitam putih supaya Bu TV lihatnya TV kita hitam putih.

Tapi lama-lama Bu TV maklum akan keadaan TV kita. Dan meskipun Bu TV datang narik iuran lalu melihat TV itu tampilannya warna, Bu TV maklum. Tagihannya tetap TV hitam putih 😀

Tak lama kemudian Bu TV sudah tak pernah lagi keliling narik iuran TV. Konon kabarnya pajak TV dihapus jadi mau punya TV berapapun sudah tak dikenai iuran lagi.

Hingga sekarang kalau ketemu Bu TV saya geli sendiri. Kalaupun menyapa, tetap saya panggil dengan sebutan Bu TV.

“Monggo, Bu TV..”

Fenomena novel difilmkan

Kalau diperhatikan fenomena novel di filmkan sedang in. banyak film Indonesa diadaptasi dari novel dalam negeri. Entah karena cerita novel lebih menjual atau sekedar ingin mendompleng judul novel yang sudah best seller sehingga nantinya promosi film itu lebih gampang diterima oleh masyarakat. Dan itu sebuah ide yang bagus supaya keberadaan penulis di Indonesia lebih di kenal dan dihargai oleh masyarakat, disamping untuk menggugah kembali semangat mereka akan kebiasaan membaca, lebih-lebih menulis.

Walau sebenarnya saya lebih suka kalau novel yang difilmkan itu memang benar-benar sastra yang apik sehingga sebagai apresiasianya novel-novel itu layak didokumentasikan.

Terus terang, seandainya tidak ada penggagas memfilmkan cerita di novel, niscaya film-film kita akan terus berputar disekitaran genre horor dan sensualitas saja. Sangat disayangkan mengapa film-film horor yang selama ini beredar di layar lebar Indonesia lebih banyak menjual sensualitasnya saja ketimbang isi ceritanya sendiri. Tak perlu saya sebutkan judul filmnya yang pasti film-film horor keluaran negeri ini masih berada di level ‘murahan’. Antara judul dan isi cerita sangat tidak relevan, malah terkesan ‘asal jadi’ dan mudah ditebak endingnya sambil merem sekalipun.

Tak perlu juga saya bandingkan antara film horor produksi kita dengan film horor produksi barat yang sudah mendunia itu sangat jauh berbeda. Barangkali faktor permodalan dan kreativitasnya yang sulit diraih sehingga film-film kita memberi kesan monoton.

Kembali lagi ke novel..

Ada cukup banyak karya sastra kita yang dibioskopkan walau terkadang masih ada efek didramatisir supaya lebih memacu jantung penonton. Bagi saya sih boleh-boleh saja, terserah sang sutradara, tapi alangkah baiknya bila efek dramatisir itu dibuat lebih natural dan tidak mengada-ada.

Sebagai penikmat novel saya lebih suka kalau novel yang difilmkan itu sama persis ceritanya dengan yang ada dinovel. Sehingga antara membaca di novel dan menonton filmnya, sensasinya bisa berbeda meski ceritanya sama.

Ada beberapa film yang keluar setelah saya membaca novelnya. Tapi ada juga film yang ditayangkan sebelum saya baca novelnya.

Jeleknya saya, kalau sudah membaca novelnya kemudian nonton filmnya yang ternyata ada kemelencengan cerita, secara spontan saya langsung protes. Apalagi ceritanya didramatisir dan dibuat-buat. Rasanya kecewa sekali.

Sebaliknya, kalau saya sudah nonton filmnya, tapi belum baca novelnya, lalu ceritanya terus membekas dikepala saya, besoknya saya langsung membeli novel itu. dan lagi-lagi jeleknya saya, suka membandingkan antara cerita di novel dan di film. Kalau tidak sesuai ya protes lagi. *Mohon maklumi penonton cerewet satu ini* 😀

Sebagai contoh fenomena novel difilmkan yang pernah saya lihat, tapi saya protes 😀

Novel Ayat-ayat Cinta. Setelah menyelesaikan novel ini saya begitu terkesima. Jalan ceritanya bagus, penulisannya bagus, endingnya juga luar biasa. Habis baca novel ini imaginasi saya seolah sedang di Mesir, membayangkan indahnya suasana kota Mesir dengan penduduknya yang humanis dan rasa kekeluargaan yang dimiliki para Mahasiswa Indonesia di Mesir. Begitupun kisah cinta segitiga antara Maria, Aisha dan Fahri yang begitu romantis dan islami.

Tapi begitu melihat filmnya, dimana sedari awal saya berharap lebih, minimal sama, seperti yang ada dinovel, tiba-tiba  lenyap begitu saja. Film AAC jauh dari bayangan saya. Setting Mesirnya kurang, pemeran Aisha nya kurang sesuai dan lagi ceritanya banyak dibuat-buat. Seperti saat Maria sakit. Dinovel Maria sakit karena memikirkan Fahri, sedangkan di film dia sakit karena ditabrak mobil. Gak sinkron sama sekali.

5 cm. Jujur saja saya belum pernah nonton 5 cm. Padahal pada awal-awal tayang saya ingin sekali nonton film itu. Bahkan kalau disuruh milih antara 5 cm dan Habibie Ainun yang rilisnya hampir barengan, dengan semangat saya milih 5 cm!. Apalagi kesan teman-teman yang sudah nonton film ini menyatakan bagus, saya jadi makin penasaran.

Namun keinginan nonton saya terpatahkan dengan penasaran saya membaca novelnya. Waktu itu saya pikir belum afdol rasanya kalau nonton film 5 cm tapi belum baca novelnya. Dengan kesan yang saya dapat dari teman-teman, cerita novelnya pasti akan lebih bagus dan lebih detail.

Sayangnya, begitu membaca novel, baru juga mulai di halaman pertama, kok saya tidak mendapatkan ‘roh’nya sama sekali. Rasanya tulisan Donny Dhirgantoro ini kurang mengena sama sekali. Ditambah lagi, di buku itu Donny banyak mengutip lirik-lirik lagu inggris yang sama sekali saya tidak tau dan tidak kenal. Jadi aneh sendiri bacanya.

Akhirnya, buku itu tetap saya baca sampai habis, tapi tidak bisa saya nikmati. Ibarat makan nasi, nasi itu masuk keperut tapi tidak nikmat dilidah. Kecewalah saya, dan memudarlah niat saya untuk menonton filmnya (gak nolak juga sih kalau dikasih gratisannya)

Namun kekecewaan saya terbayar sudah dengan hadirnya film RECTOVERSO. Film yang sebelumnya sudah saya baca ceritanya sebagian ketika di toko buku itu sangat memukau. Antara novel dan filmnya sangat pas. Saya pikir sutradara sangat pintar mencari pemain yang sesuai dengan karakter yang di buku. Ekspresi pemainnya bisa mewakili gaya penulisan Dee.

Saya sendiri berharap semoga kedepannya nanti semakin banyak film-film Indonesia yang berkisah tentang kehidupan apa adanya. Boleh-boleh saja fantasi, tapi mbok ya yang masuk akal. Bukan sekedar menjual peran dan mengobral daya khayal tinggi saja, tapi diimbangi kisah realistis. Kasihan penontonnya, sudah mahal-mahal bayar tiket tapi yang didapat jauh dari harapan ^_^

Menjadi Kondektur

Tadi pagi iseng-iseng saya buka-buka lemari buku. Disana saya menemukan sebuah buku kenangan saat SMK dulu. Sebetulnya sih bukan buku beneran hanya berupa lembaran fotokopian yang saya kumpulkan jadi lembaran buku.

Ceritanya dulu itu saat kelas 3 SMK saya ingin membuat sebuah buku kenangan untuk teman-teman sekelas. Karena sekolah tidak mencetak buku kenangan akhirnya saya berinisiatif menyusun sendiri dengan meminta teman-teman sekelas membuat semacam biodata pribadi masing-masing pada selembar kertas HVS. Dengan selembar HVS itu mereka boleh menulis apa saja seperti puisi, pantun, gambar atau apapun asal unik dan kreatif serta foto mereka.

Kumpulan-kumpulan HVS itu saya fotokopi lalu saya bagikan kepada mereka.

Tidak mudah saat itu menyuruh mereka membuat biografi. Ada saja alasannya. Katanya: “Gae opo nggawe buku kenangan?”

Begh. Rasanya pengen aja jitak kepala mereka satu-satu, mereka baru menyadari setelah saya jelaskan fungsinya.

Oke. Mungkin saat itu buku seperti  itu gak ada apa-apanya dan sama sekali gak penting, tapi sekarang? Setelah 13 tahun berlalu?

Kalau saya bilang buku itu sangat-sangat sederhana sekali. Dan yang saya suka adalah kekreatifannya mereka dalam membuat goresan-goresan gambar dan puisi sederhana dengan bahasa yang sederhana pula hingga membuat saya tiba-tiba kangen ketemu mereka.

Saya buka satu persatu halaman bergambar yang saya susun sesuai buku absen sambil tertawa baca tulisan-tulisan mereka. Foto dan nama-nama yang mereka ragkai dengan font cara mereka sendiri membuat saya kagum bahwa ternyata temanku-temanku dulu itu romantis-romantis dan pintar merangkai kata walau terkesan lebai. Namun justru kelebaian itu yang membuat saya kangen dengan masa-masa remaja.

Hingga tibalah saatnya saya membuka halaman yang paling belakang. Sesuai abjad, nama sayalah yang selalu paling bawah sejak SD dulu. Disitu saya menulis Nama, alamat rumah (waktu itu belum punya telpon), dan beberapa coretan-coretan aneh.

Ada satu tulisan yang tiba-tiba membuat saya kaget dan tertawa. Saya menulis begini: Sebenarnya saya bercita-cita ingin menjadi Kondektur!

Hah?

Kenapa saya dulu menulis begitu ya?

Gak ada kerennya sama sekali, cita-cita kok jadi kondektur bis! 😀

Oke, mungkin itu ungkapan polos saya waktu itu. Tapi jujur sejak dulu saya ingin sekali menjadi seorang kondektur bis.

Iya, kondektur. Yang kerjaannya berdiri didekat pintu bis sambil naik turun jika ada penumpang akan naik atau turun. Sepertinya saya akan tampak keren dengan balutan seragam warna orange memakai tas pinggang berisi duit recehan sambil ditangan menggenggam segepok duit kertas dan segepok karcis, berjalan dari belakang ke depan minta ongkos kepada penumpang. Keren, kan?

Saya juga akan tampak gagah mengetok-ngetok duit recehan di kaca pintu bis sambil teriak kencang, “Kiriii!!!” sebagai aba-aba supaya sopirnya berhenti.

Sampai sekarang pun kalau melihat kondektur wanita atau kenek perempuan saya suka iri. Kenapa saya dulu gak bisa ngejar cita-cita jadi kondektur. Padahal saya pernah lho berdiri dipinggir pintu dengan kaki sebelah. Saya juga bisa nurunin penumpang terus lari ngejar bis. Narikin ongkos penumpang kemudian meluruskan uang-uang kertas saya juga bisa.

Tapi apa kondektur itu juga termasuk cita-cita? 😀

Tiket Kereta

Seperti pengalaman sebelumnya yang selalu kesulitan mendapatkan tiket, saat ke Jakarta beberapa hari lalu saya mencoba membeli tiket di Ind*maret. Sejak diberlakukannya tiket online yang bisa dibeli 90 hari sebelum keberangkatan, keadaan itu terasa berimbas pada sulitnya mendapatkan tiket kereta, terutama kelas Bisnis dan ekonomi.

Sempat takut kehabisan sih, apalagi rencana keberangkatan saya berbarengan dengan hari kejepit nasional. Dan jangan tanya lagi berapa harga yang dipatok, yang pasti lebih tinggi dari harga normal, kecuali kelas ekonomi yang murah meriah itu, harganya gak memandang warna kalender! Dan kelas itu yang saya suka.. 😀

Pagi-pagi jam 9, tepatnya seminggu sebelum keberangkatan saya pergi ke Ind*maret. Sambil tanya-tanya dan pilih-pilih lalu kemudian memutuskan, akhirnya saya beli 2 tiket PP sekaligus. Rupanya membeli tiket kereta dengan menunjukkan KTP membuat transaksi menjadi lama. Harus mengisi nama penumpang, nomor KTP serta No. Handphone. Namun itu semua juga demi kenyamanan calon penumpang, kan.

Beli tiket di Ind*maret itu ternyata lebih gampang. Selain gak perlu antri diloket, juga saya bisa melihat kursi kosong yang tersisa langsung dari servernya PT KAI. Jadi sang kasir gak bisa bilang tiket habis kalau di server masih tersedia.  

Yah meskipun harga di Ind*maret selisih harga Rp. 3.500/tiket dibanding beli langsung di Stasiun, wajarlah itu keuntungan toko, dan lagi saya dikasih bonus Mie Cup 1 biji. pokoknya apa-apa yang namanya bonus, sesuatu banget deh 😀

Dari struk yang dikasih Ind*maret itu nantinya bisa ditukarkan dengan tiket asli di Stasiun terdekat paling lambat 1 jam sebelum keberangkatan. Tetapi dari pada nanggung resiko, hari itu juga struk itu segera saya tukarkan di Stasiun.

Karena baru pertama kali beli tiket di Ind*maret, awalnya saya ragu. Beneran gak ini struknya. Apa benar tinggal ngasih struknya aja yang cuma selembar kecil itu ke loket di stasiun? Sempat saya meyakinkan diri ke kasirnya Ind*maret, kalau-kalau struk saya itu gak diakui.

Dan setelah saya bawa ke loket memang benar, datang ke loket, ngasih struk dan KTP jadi deh dalam bentuk tiket.

Kesimpulan saya membeli tiket di Ind*maret mempermudah calon penumpang kereta untuk mendapatkan tiket secara instan. Bila dipikir-pikir, kalau ada yang jual tiket terdekat begini ngapain dulu saya harus jauh-jauh ke stasiun apalagi pke antri segala. Dan ngapain gak sedari dulu Ind*maret jualan tiket. Malah kadang sudah ngoyo-ngoyo antri lalu tiba-tiba tiket dinyatakan habis. Apalagi belinya mendadak, bikin ngenes, kan..

Jadi teman, kalau kamu berencana pergi keluar kota dengan kereta usahakan beli tiketnya jauh-jauh sebelum hari keberangkatan. Supaya hati tentram dan pikiran gak pusing mikirin tiket.

*catatan: Postingan ini bukan iklan, hanya untuk berbagi saja.. 😀

Cerita Es Teh

Saat beli nasi bungkus di sebuah warung kopi saya tidak langsung beranjak pergi, mata saya tertarik membaca halaman Jawa Pos yang tergeletak diatas meja warung dengan halaman muka seorang pejabat yang sedang naik daun terkait sebuah kasus.

Di warung itu selain saya ada 3 orang laki-laki yang sedang sibuk mendinginkan kopi dengan cara meniup-niup cairan hitam itu diatas lepek. Sesekali Ia menyeruputnya sedikit-sedikit.

Sedangkan 2 laki-laki lainnya serius memencet-mencet keypad Hpnya seraya sesekali menyedot lintingan tembakau yang lalu menciptakan kepulan asap di udara.

Saat saya sedang sibuk membaca deretan kata pada halaman lebar itu datanglah seorang pengunjung baru diwarung. Seorang perempuan berusia sekitar 40-an dengan pakaian yang biasa namun terlihat sedikit modis duduk agak jauh dengan posisi saya.

Kedatangannya itu membuat saya mendongak lalu berpaling memperhatikannya meski tetap dengan kondisi koran yang masih terbuka.

Dari jauh saya mendengar si Ibu itu memesan es teh bungkus. Si penjual pun dengan cekatan menuruti permintaan si Ibu. Setelah mencampur biang teh dan air putih lalu teh itu diaduknya. Tak lupa beberapa sendok gula telah dituang juga kedalam air berwarna coklat itu. Sebelum air teh dituang ke plastik, terlebih dahulu dimasukkan es batu.

Bungkusan es teh pun siap diserahkan kepada si Ibu lengkap dengan plastik pembungkusnya.

Setelah diserahkan tiba-tiba si Ibu itu bilang bahwa bukan es teh seperti ini yang diinginkannya. Dia ingin teh botol.

Penjual pun menuruti keinginan si Ibu. Es teh yang tadi diserahkan dimintanya balik lalu digantikan dengan teh botol biasa.

“Es nya mana?” kata si Ibu.

Coba kalau kondisi seperti itu apa yang ada dipikiran teman-teman?

Pasti kita mikirnya oh berarti si Ibu ini maunya teh botol yang dituang ke dalam plastik lalu dikasih es batu, gitu kan? Sama seperti pikiran saya dan si penjual.

Si penjual warung pun meminta balik lagi teh botol tadi lalu menuangnya ke dalam plastik yang sudah dikasih es batu.

Bungkusan itu pun lalu diserahkan kepada si Ibu tadi itu lagi.

Lagi-lagi si Ibu berkata, bukan es teh seperti ini yang diinginkannya.

Dari jauh saya pun mengernyit sambil memandang si Ibu dengan pikiran aneh. Trus maunya es teh yang seperti apa?

Kalau dari awal dia bilang es teh, dapatnya ya teh yang diaduk lalu dikasih es. Kalau bilangnya es teh botol, dapatnya ya teh bermerk kemasan botol lalu dituang dan dikasih es.

“Ibu maunya es teh yang seperti apa?” tanya si penjual.

Tapi sayang jawaban si Ibu tak terdengar di telinga saya. Setelah beberapa saat mereka berdebat, diakhir pembicaraan si penjual marah dan mengusir si Ibu itu.

“Sudah sana, gak usah beli-beli lagi kesini!” teriak si penjual.

Dan seperti tidak merasa bersalah si Ibu itu menjawab sebelum akhirnya meninggalkan warung.

“Ya sudah, sekali aja saya beli disini!” teriaknya.

Karena sebel, bungkusan es teh yang tadi dipegang penjual di lemparkan saja di jalan. Dan hasil lemparannya itu jatuh di hadapan si Ibu. Yang pastinya sih si Ibu melihat bahwa teh yang batal dibelinya itu dibuang saja oleh penjual.

Setelah insiden itu saya dan beberapa orang di warung saling pandang-pandangan.

“Mas, kenapa teh nya tadi dibuang? Kan sayang..” kata saya.

“Biarin, Mbak. Lebih baik saya rugi teh botol satu dari pada ngelayani orang edan itu!”

Akhirnya warung itu riuh dengan omelan sedangkan saya yang sudah hilang nafsu membaca koran memilih pergi, tapi tetap dengan pikiran sendiri tentang kemauan si Ibu tadi akan es teh.

Kira-kira apa ya maunya si Ibu tadi itu? #edisi penasaran# 😀