Menjadi Kondektur

Tadi pagi iseng-iseng saya buka-buka lemari buku. Disana saya menemukan sebuah buku kenangan saat SMK dulu. Sebetulnya sih bukan buku beneran hanya berupa lembaran fotokopian yang saya kumpulkan jadi lembaran buku.

Ceritanya dulu itu saat kelas 3 SMK saya ingin membuat sebuah buku kenangan untuk teman-teman sekelas. Karena sekolah tidak mencetak buku kenangan akhirnya saya berinisiatif menyusun sendiri dengan meminta teman-teman sekelas membuat semacam biodata pribadi masing-masing pada selembar kertas HVS. Dengan selembar HVS itu mereka boleh menulis apa saja seperti puisi, pantun, gambar atau apapun asal unik dan kreatif serta foto mereka.

Kumpulan-kumpulan HVS itu saya fotokopi lalu saya bagikan kepada mereka.

Tidak mudah saat itu menyuruh mereka membuat biografi. Ada saja alasannya. Katanya: “Gae opo nggawe buku kenangan?”

Begh. Rasanya pengen aja jitak kepala mereka satu-satu, mereka baru menyadari setelah saya jelaskan fungsinya.

Oke. Mungkin saat itu buku seperti  itu gak ada apa-apanya dan sama sekali gak penting, tapi sekarang? Setelah 13 tahun berlalu?

Kalau saya bilang buku itu sangat-sangat sederhana sekali. Dan yang saya suka adalah kekreatifannya mereka dalam membuat goresan-goresan gambar dan puisi sederhana dengan bahasa yang sederhana pula hingga membuat saya tiba-tiba kangen ketemu mereka.

Saya buka satu persatu halaman bergambar yang saya susun sesuai buku absen sambil tertawa baca tulisan-tulisan mereka. Foto dan nama-nama yang mereka ragkai dengan font cara mereka sendiri membuat saya kagum bahwa ternyata temanku-temanku dulu itu romantis-romantis dan pintar merangkai kata walau terkesan lebai. Namun justru kelebaian itu yang membuat saya kangen dengan masa-masa remaja.

Hingga tibalah saatnya saya membuka halaman yang paling belakang. Sesuai abjad, nama sayalah yang selalu paling bawah sejak SD dulu. Disitu saya menulis Nama, alamat rumah (waktu itu belum punya telpon), dan beberapa coretan-coretan aneh.

Ada satu tulisan yang tiba-tiba membuat saya kaget dan tertawa. Saya menulis begini: Sebenarnya saya bercita-cita ingin menjadi Kondektur!

Hah?

Kenapa saya dulu menulis begitu ya?

Gak ada kerennya sama sekali, cita-cita kok jadi kondektur bis! 😀

Oke, mungkin itu ungkapan polos saya waktu itu. Tapi jujur sejak dulu saya ingin sekali menjadi seorang kondektur bis.

Iya, kondektur. Yang kerjaannya berdiri didekat pintu bis sambil naik turun jika ada penumpang akan naik atau turun. Sepertinya saya akan tampak keren dengan balutan seragam warna orange memakai tas pinggang berisi duit recehan sambil ditangan menggenggam segepok duit kertas dan segepok karcis, berjalan dari belakang ke depan minta ongkos kepada penumpang. Keren, kan?

Saya juga akan tampak gagah mengetok-ngetok duit recehan di kaca pintu bis sambil teriak kencang, “Kiriii!!!” sebagai aba-aba supaya sopirnya berhenti.

Sampai sekarang pun kalau melihat kondektur wanita atau kenek perempuan saya suka iri. Kenapa saya dulu gak bisa ngejar cita-cita jadi kondektur. Padahal saya pernah lho berdiri dipinggir pintu dengan kaki sebelah. Saya juga bisa nurunin penumpang terus lari ngejar bis. Narikin ongkos penumpang kemudian meluruskan uang-uang kertas saya juga bisa.

Tapi apa kondektur itu juga termasuk cita-cita? 😀

Cerita Es Teh

Saat beli nasi bungkus di sebuah warung kopi saya tidak langsung beranjak pergi, mata saya tertarik membaca halaman Jawa Pos yang tergeletak diatas meja warung dengan halaman muka seorang pejabat yang sedang naik daun terkait sebuah kasus.

Di warung itu selain saya ada 3 orang laki-laki yang sedang sibuk mendinginkan kopi dengan cara meniup-niup cairan hitam itu diatas lepek. Sesekali Ia menyeruputnya sedikit-sedikit.

Sedangkan 2 laki-laki lainnya serius memencet-mencet keypad Hpnya seraya sesekali menyedot lintingan tembakau yang lalu menciptakan kepulan asap di udara.

Saat saya sedang sibuk membaca deretan kata pada halaman lebar itu datanglah seorang pengunjung baru diwarung. Seorang perempuan berusia sekitar 40-an dengan pakaian yang biasa namun terlihat sedikit modis duduk agak jauh dengan posisi saya.

Kedatangannya itu membuat saya mendongak lalu berpaling memperhatikannya meski tetap dengan kondisi koran yang masih terbuka.

Dari jauh saya mendengar si Ibu itu memesan es teh bungkus. Si penjual pun dengan cekatan menuruti permintaan si Ibu. Setelah mencampur biang teh dan air putih lalu teh itu diaduknya. Tak lupa beberapa sendok gula telah dituang juga kedalam air berwarna coklat itu. Sebelum air teh dituang ke plastik, terlebih dahulu dimasukkan es batu.

Bungkusan es teh pun siap diserahkan kepada si Ibu lengkap dengan plastik pembungkusnya.

Setelah diserahkan tiba-tiba si Ibu itu bilang bahwa bukan es teh seperti ini yang diinginkannya. Dia ingin teh botol.

Penjual pun menuruti keinginan si Ibu. Es teh yang tadi diserahkan dimintanya balik lalu digantikan dengan teh botol biasa.

“Es nya mana?” kata si Ibu.

Coba kalau kondisi seperti itu apa yang ada dipikiran teman-teman?

Pasti kita mikirnya oh berarti si Ibu ini maunya teh botol yang dituang ke dalam plastik lalu dikasih es batu, gitu kan? Sama seperti pikiran saya dan si penjual.

Si penjual warung pun meminta balik lagi teh botol tadi lalu menuangnya ke dalam plastik yang sudah dikasih es batu.

Bungkusan itu pun lalu diserahkan kepada si Ibu tadi itu lagi.

Lagi-lagi si Ibu berkata, bukan es teh seperti ini yang diinginkannya.

Dari jauh saya pun mengernyit sambil memandang si Ibu dengan pikiran aneh. Trus maunya es teh yang seperti apa?

Kalau dari awal dia bilang es teh, dapatnya ya teh yang diaduk lalu dikasih es. Kalau bilangnya es teh botol, dapatnya ya teh bermerk kemasan botol lalu dituang dan dikasih es.

“Ibu maunya es teh yang seperti apa?” tanya si penjual.

Tapi sayang jawaban si Ibu tak terdengar di telinga saya. Setelah beberapa saat mereka berdebat, diakhir pembicaraan si penjual marah dan mengusir si Ibu itu.

“Sudah sana, gak usah beli-beli lagi kesini!” teriak si penjual.

Dan seperti tidak merasa bersalah si Ibu itu menjawab sebelum akhirnya meninggalkan warung.

“Ya sudah, sekali aja saya beli disini!” teriaknya.

Karena sebel, bungkusan es teh yang tadi dipegang penjual di lemparkan saja di jalan. Dan hasil lemparannya itu jatuh di hadapan si Ibu. Yang pastinya sih si Ibu melihat bahwa teh yang batal dibelinya itu dibuang saja oleh penjual.

Setelah insiden itu saya dan beberapa orang di warung saling pandang-pandangan.

“Mas, kenapa teh nya tadi dibuang? Kan sayang..” kata saya.

“Biarin, Mbak. Lebih baik saya rugi teh botol satu dari pada ngelayani orang edan itu!”

Akhirnya warung itu riuh dengan omelan sedangkan saya yang sudah hilang nafsu membaca koran memilih pergi, tapi tetap dengan pikiran sendiri tentang kemauan si Ibu tadi akan es teh.

Kira-kira apa ya maunya si Ibu tadi itu? #edisi penasaran# 😀

  

Padmasana

Narsisnya ini artististik gak sih? :D
Narsisnya ini artististik gak sih? 😀

Kokoh jeruji keangkuhan luruh terseret kewibawaan
Kasih melegalkan tatapan yang penuh rindu dan cinta,
Menumpahkan aura cahaya yang tak berbatas.

Kegagahan seolah mudra yang bermeditasi,
Menyimpan aroma wangi kesetiaan tapi juga rendah hati
Padmasana menyimpan seribu misteri, misteri yang hanya bisa dipecahkan oleh insan  berhati putih

Adakah dibalik posisi Lotus itu menyimpan keseriusan laksana Budha?
O, salah sama sekali..
Itu hanya gaya lotus-lotusan agar dianggap suatu kenarsisan.
Kenarsisisan yang katanya memiliki keartistikan 😀

#Bingung mau dikasih keterangan apa, terlampau sulit untuk menggambarkan suatu kenarsisan apalagi ada embel-embel artistik pulak. Semoga tulisan yang sedikit itu dapat mewakili gambaran arca Buddha di Candi Borobudur yang sedang melakukan meditasi dengan posisi lotus atau dinamakan Padmasana#

Buka mata buka telinga

Selain suka mengamati penampilan orang saya itu juga suka sekali mendengarkan pembicaraan orang. Hmm, maksud saya bukan mau menguping atau apa tapi saya hanya ingin menilai sikap dan karakter orang yang berada didekat saya.

10 Tahun lalu saat saya baru bekerja disebuah toko accesories computer yang menjual beraneka CD Blank, Mouse dan perlengkapan komputer lainnya saya pernah mengalami kejadian yang berhubungan dengan kebiasaan saya mendengar percakapan orang.

Sebagai orang baru yang masih harus menghapalkan harga dan produk yang dijual di toko, saya lebih bayak melihat dan mendengarkan rekan senior saya ketika melayani pembeli. Namun tidak menutup kemungkinan saya ikut membantu melayani apabila situasi toko dalam keadaan rame walau saya harus sering-sering bertanya kepada teman senior mengenai harga dan spesifikasi barang.

Sambil mendengarkan biasanya saya kerap memperhatikan orang dari segi penampilannya, gayanya, sorot matanya, dan juga cara bicaranya.

Suatu hari datanglah seorang laki-laki ke toko. Pada saat itu suasana Mall tempat saya bekerja dalam keadaan sepi karena bertepatan dengan sholat Jumat. Saat laki-laki itu melihat-lihat merk CD Blank, teman senior saya menghampirinya dan bermaksud melayani. Dan lagi-lagi saya hanya kebagian memperhatikan sikap dan gaya bicaranya. Saat itu entah mengapa saya merasa ada yang aneh dengan sorot matanya. Setiap saya tatap matanya laki-laki itu seperti orang yang salah tingkah. Karena tidak ingin merusak transaksi akhirnya saya memilih untuk mengalihkan pandangan. Namun bukan berarti telinga saya ikut beralih.

“Mbak saya beli CD Blank 1” Setelah memilih-milih sekian lama akhirnya lelaki itu memutuskan membeli.

“ 1 apa, Pak? 1 Roll apa 1 keping?”  Tanya senior saya.

“eh.. 1, ya 1 aja, 1.. 1 biji” jawab laki-laki itu dengan nada bingung. Sambil menjuali teman saya menggerutu pelan. Saya lirik teman saya itu dan dia membalas lirika saya. lirikannya seperti mengatakan raut muka sebal. Saya menyadari sedari tadi laki-laki itu memang terlalu banyak tanya. Semua merk dia tanya harganya, tapi-ujung-ujungnya hanya membeli 1 keping CD yang harganya Rp. 2.500,-!

Setelah menerima bungkusan berisi CD, laki-laki itu menyerahkan uang Rp. 100.000-an kepada teman saya. Karena dianggap kembaliannya terlalu banyak teman saya minta dibayar dengan uang pas saja. Tapi oleh laki-laki itu dijawab tidak ada. Mau tak mau teman saya memberi juga kembalian sebanyak Rp. 97.500,-.

Secara tiba-tiba laki-laki itu mengatakan bahwa dia memiliki uang Rp. 2.500,- dan meminta kembali uang Rp. 100.000 nya dikembalikan lagi kepadanya.

Setelah transaksi usai dan laki-laki itu sudah pergi, barulah saya berani angkat bicara.

“Mbak, tadi harga CD Blank nya berapa?”

“Rp. 2.500,-“

“Trus Mbak ngasih uang berapa?”

“Seratus ribuan”

“Jadi kembaliannya, berapa”

“Rp. 97.500,-“

“Sudah Mbak kasih kembaliannya sama dia?”

“Sudah”

“Trus kok tadi dia ngasih duit lagi Rp. 2.500,-?”

“Iya, dia bilang ada uang pas”

“Trus yang uang seratus ribuannya dia, mbak kasihkan lagi?”

“Iya, kan dia sudah bayar Rp. 2.500,-”

“Lalu kembaliannya Mbak yang Rp. 97.500,-, gimana?”

Teman saya diam. Rupanya dia baru menyadari ada kesalahan transaksi. Lalu kami mencoba mereka ulang kembali kejadiannya. Untuk memastikan saya minta teman saya menghitung semua uang yang ada dilaci. Dan ternyata benar uang dilaci tidak sesuai jumlahnya, kurang Rp. 97.500.

Seketika dia berlari mengejar laki-laki tadi. Sayangnya laki-laki itu sudah menghilang.

Usut punya usut ternyata laki-laki itu memang penipu. Dia menggunakan modus dengan cara halus untuk mempengaruhi korbannya. Dan bukan toko kami saja yang menjadi korban penipuannya, toko-toko tetangga juga ada beberapa yang telah tertipu olehnya.

Misteri kotak Pandora dibalik tewasnya Mudhoiso

Cakil1-207x300

Cerita sebelumnya:

Tepuk tangan penonton Wayang Orang BlogCamp Budhoyo gemuruh.

Kiprah Cakil yang lincah dan tehnik menghindari serangan yang dilakukan oleh Arjuno juga ciamik.

     Klimaks  perang tanding antara satria bagus dengan raksasa bergigi mancung tampaknya akan segera tiba.

Cakil yang diperankan oleh Mudhoiso tampak menarik keris dari rangkanya. Sementara Rikmo Sadhepo yang ayu gandhes pemeran Arjuno melirik sambil senyum kemayu.

Tusukan keris yang mengarah dada dapat dielakkan oleh Arjuno sambil menyabetkan selendang kearah kepala Cakil. Raksasa bertingkah pencilakan itu muntap. Dengan gerakan bringas diarahkannya keris luk 9 itu ke arah perut Arjuno. Kini satria panengah Pendowo tak buang-buang waktu. Ditangkapnya pergelangan tangan Cakil lalu diputarnya dengan ujung keris mengarah ke tubuh sang raksasa. Cakil berusaha menghindar. Sreeeeet…..ujung keris merobek leher Cakil.

Cakil menjerit keras, lalu ambruk. Arjuno meninggalkan palagan sambil tersenyum. Niyaga mengalunkan gending sampak. Layarpun diturunkan. Tepuk tangan penontonpun cethar membahana.

Tiba-tiba terdengar suara jeritan bersahut-sahutan dari balik layar yang tertutup.

Inspektur Suzana yang sedang menonton pagelaran wayang orang itu segera lari menuju panggung. Disingkapkannya layar. Tubuh Mudhoiso tergeletak dengan wajah membiru, matanya melotot seolah menahan sakit. Darah mengalir dari lehernya. Dirabanya nadi laki-laki berkostum Cakil itu. Tak ada denyutan lagi. Mudhoiso telah tewas.

Cerita selanjutnya:

Hari sudah pekat. Kokokan ayam telah terdengar sekali beberapa menit yang lalu. Itu tandanya waktu saat ini sudah menandakan lebih dari jam satu dini hari. Di luar sana suasana rumah-rumah warga sudah sepi senyap. Tampaknya mereka kelelahan karena beberapa jam yang lalu heboh melihat jenazah Mudhoiso dibawa ambulan ke rumah sakit, ditambah kedatangan beberapa orang kepolisian yang datang untuk mengusut kasus kematian salah satu pemain wayang orang Blogcamp Budhoyo. Teriakan, tawa dan sorak-sorai penonton saat pagelaran berlangsung tadi seolah hanya ilusi belaka yang berganti dengan kegelisahan. Hanya suara kerikan jangrik mengganggu syahdunya malam. Beribu-ribu mimpi bergerombol diatas langit sana sambil mencari mangsa jiwa lelap yang bisa dihampiri.

Kontras dengan pemandangan disini, didalam gedung Blogcamp Budhoyo ini. Suara tangisan dan sesekali teriakan membahana  di salah sudut ruangan. Sudah hampir satu jam suasana diruangan ini begitu mencekam, suara saling menyalahkan satu sama lain, suara saling membenarkan dirinya sendiri bercampur aduk yang sulit untuk dipisahkan bak air dan minyak. Semuanya ingin menjadi yang terbenar, semuanya ingin menjadi pahlawan kesiangan dengan mengeluarkan alibi mereka masing-masing. Diruangan itu ada Inspektur Suzana yang turut menyesalkan kejadian yang barusan dilihat didampingi AKBP Bella yang datang tidak lama setelah kejadian bersama anggota Polisi yang lain.

Diruangan sebelah bapak-bapak polisi sedang sibuk dengan tugasnya. Para petugas pengayom masyarakat itu sedang meneliti sidik jari dan meneliti kemungkinan-kemungkinan lain guna memastikan penyebab kematian Mudhoiso.

“Saudara Rikmo, coba ceritakan kepada saya secara runtut bagaimana kejadiannya sehingga Pak Mudhoiso tiba-tiba tewas ditempat. Saudara kan tau bahwa wayang orang ini hanyalah sebuah sandiwara?” Tanya Inspektur Suzana dengan lembut seolah Ia berbicara kepada anak kecil yang kehilangan mainan.

“Saya.. saya tidak tau, Bu Pol!” Jawab Rikmo yang rupanya ayu gandhes  sambil menahan isak tangis. “Selama ini setiap saya berperan menjadi Arjuno dan Mudhoiso sebagai Cakil, tidak pernah ada kejadian seperti ini. Biasanya keris luk 9 yang kami pakai bukanlah keris betulan. Tapi mengapa keris yang tadi saya pakai tiba-tiba membuat Modhoiso jadi mati beneran!” Rikmo menahan kecewa.

“Halah, kamu ndak usah bohong Cak Mo! Kamu kan yang sengaja membunuh Cak Mudhoiso!” Teriak Juki sambil menunjuk-nunjuk jari telunjuknya ke arah Rikmo Sadhepo. Juki adalah kru wayang orang Blogcamp Budhoyo yang setiap ada pagelaran bertugas sebagai penjaga pintu masuk.

“Jangan nuduh orang sembarangan sampean, Cak. Sampean tau apa, wong sampean kerjanya diluar” Rikmo tak terima dengan perlakuan temannya yang menuduh sembarangan.

“Ada berapa orang tim wayang orang di Blogcamp Budhoyo ini, Saudara Rikmo?” tanya AKBP Bella yang parasnya ayu semlohe icik-icik ehem sama seperti Inspektur Suzana.

“Ada 10 Orang, Bu Pol”

“Siapa dan tugasnya apa saja?”

“Terdiri dari 5 orang pemain, 1 orang seksi konsumsi, 1 orang bagian riwa-riwi, 1 orang bagian penjaga pintu masuk dan 2 orang memegang peranan dobel”

“Peranan dobel maksudnya bagaimana, Saudara Rikmo. Bisa anda jelaskan?”

“Peranan dobel ya bekerja dobel, Bu Pol. Jadi mereka itu merangkap 2 bagian. Seperti misalnya, Cak Joned yang penulis naskah drama, dia juga ikut bermain peran dipanggung. Menulis naskah kan waktunya bisa dikerjakan diluar waktu pertunjukan. Dan Cak Sugeng sebagai seksi perlengkapan, meskipun seksi perlengkapan tampaknya sibuk tetapi Sugeng sudah profesional mengerjakan tugasnya sehingga disela-sela pekerjaannya Sugeng mendapatkan peran walau sebenarnya Mudhoiso keberatan”

“Kenapa mereka terlibat peran dipanggung? Bukankah mereka mempunyai kesibukan sendiri?”

“Karena…”

“Karena kalau hanya mengandalkan bagian perlengkapan honornya cuma sedikit, Bu Pol!” Sugeng angkat bicara. Nada suaranya sewot.

“Enak yang jadi pemeran utama, honornya banyak” Juki ikut menggerutu. Mendengar gerutuan Juki tim yang lain ikut mengangguk sedangkan Inspektur Suzana hanya melirik sambil memperhatikan sejenak.

“Saudara Sugeng, Anda kan bertugas sebagai seksi perlengkapan, mengapa anda memberi keris betulan kepada Mudhoiso?”

“Saya.. saya.. anu.. Bu Pol.. Saya tidak tau” jawab Sugeng gugup. Memang saya yang menyiapkan semua perlengkapan panggung tetapi saya tidak menyiapkan aksesori untuk Mudhoiso karena Mudhoiso menyiapkan sendiri perlengkapannya seperti keris, gigi palsu dan rambut palsu didalam kotak pribadi yang selalu terkunci”

“Lalu kenapa keris Mudhoiso bisa berubah menjadi keris beneran. Apakah ada orang yang menyimpan kunci kotak perlengkapan Mudhoiso selain Mudhoiso sendiri?”

“Ada Bu Pol. Saya yang menyimpannya. Tetapi saya hanya diberi amanat menyimpan saja oleh Mudhoiso”

“Boleh saya lihat kuncinya?” AKBP Bella menyodorkan tangannya ke arah Sugeng.

Setelah mendengar jawaban-jawaban yang diberikan, AKBP Bella dan Inspektur Suzana berbisik-bisik sebentar. Keduanya lalu menyuruh tim wayang orang untuk beristirahat sedangkan mereka ingin keruangan sebelah untuk melihat perkembangan olah TKP.

Disana AKBP Bella dan Inspektur Suzana mendapat laporan dari bawahannya yang menemukan kotak milik Mudhoiso yang berisi properti panggung terkunci rapat dengan gembok yang masih menempel. Kotak itu oleh Inspektur Suzana diteliti dengan seksama. Tak lama kemudian Ia berniat membuka kotak itu. Ia hanya ingin memastikan didalamnya berisi barang apa saja. Namun saat ingin membuka gembok dengan kunci yang tadi diberi oleh Sugeng, gembok itu tidak bisa terbuka. Sudah berkali-kali dicoba pun gembok itu tetap tidak mau terbuka.

Ia heran mengapa kotak itu tidak bisa dibuka, bukankah kunci yang dimiliki Sugeng sama persis dengan kunci milik Mudhoiso. Apakah gembok itu sengaja diganti oleh Mudhoiso supaya rahasianya lebih terjamin?

“Hmm.. semakin ruwet saja kasus ini” Inspektur Suzana bergumam pelan.

Selama beberapa menit suasana hening. Inspektur Suzana dan AKBP Bella beserta anggota yang lainnya masih menggodok dan berpikir motif kematian yang membuat geger seisi Blogcamp Budhoyo.

Beberapa anggota mengecek sidik jari yang tertempel pada gemboknya. Namun ada kejanggalan yang terjadi disini sidik jari yang menempel pada gembok tidak sama persis dengan sidik jari milik Mudhoiso. Lebih janggal lagi saat mendapati kunci ganda milik Sugeng tidak bisa membuka gembok tersebut. Dugaan sementara berarti ada orang yang mengganti gembok milik Mudhoiso. Dan itu berarti ada orang lain yang masih memegang kunci milik gembok yang sekarang tertempel di kotak. Tapi siapa yang menyimpan kunci itu.

AKBP Bella dan Inspektur Suzana mulai memanggil satu persatu tim Blogcamp Budhoyo untuk diperiksa sidik jarinya dan beberapa pertanyaan untuk mencari tau siapa pemilik gembok dan kunci yang menempel pada kotak pribadi milik Mudhoiso.

Ketika tiba giliran Sugeng Inspektur Suzana sempat menanyakan apakah Sugeng yakin kunci yang dibawanya adalah kunci ganda milik Mudhoiso? Dan Sugeng pun dengan mantap menjawab Iya. Dan saat ditanya lagi, Apakah selama ini Sugeng pernah meninggalkan kunci disuatu tempat atau tertinggal ditempat lain? Sugeng pun menjawab yakin tidak pernah. Ia yakin selalu menyimpan kunci itu di dalam tas kecil yang selalu tergantung diikat pinggangnya, bahkan saat tidur sekalipun.

Kasus ini semakin ruwet saja.

Setelah memanggil semua anggota satu persatu, Inspektur Suzana dan AKBP Bella akhirnya mendapat titik terang siapa pembunuh Mudhoiso. Kedua petinggi polisi itu selain mengecek kesamaan sidik jari, mereka juga menilai kondisi psikologi, raut muka dan kemantapan dalam menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan.

Dikantor Polisi keesokan harinya..

“Saudara Juki, sidik jari Anda menempel di gembok yang terpasang di kotak milik Mudhoiso. Sidik jari Anda juga membekas di pisau yang digunakan Saudara Rikmo saat membunuh Mudhoiso. Rupanya Anda lupa melap pisau bekas pegangan Anda. Kenapa Anda mengganti gembok milik Mudhoiso dengan gembok yang lain?” tanya Inspektur Suzana dengan penuh selidik. Meskipun pertanyaan yang diajukan kepada Juki terdengar sinis dan kejam namun itu semua tak merubah aura kecantikan yang dipancarkan Inspektur wanita ini.

Juki tampak kesulitan menjawab pertanyaan dari Inspektur cantik itu. Namun dia juga tidak bisa mengelak bahwa memang dialah yang telah mengganti pisau properti milik Mudhoiso dan digantikan dengan pisau miliknya. Saat membuka gembok itu, Ia menggunakan kunci milik Sugeng yang diambilnya saat Sugeng sedang tidur. Sugeng tidak sadar bahwa kunci yang dibawanya adalah kunci yang telah ditukar oleh Juki selama beberapa hari terakhir.

Juki membuka paksa gembok yang terkunci saat suasana ruangan sepi. Saat itu Sugeng juga sedang berada diatas panggung bersama pemain lainnya sehingga dengan leluasanya Juki melaksanakan aksinya. Supaya perbuatannya tidak diketahui, Juki sengaja mengganti gembok baru supaya semua orang mengira bahwa Mudhoiso lah yang mengganti gemboknya sendiri.

“Apa motif anda membunuh Mudhoiso?”

“Saya.. saya.. iri dan marah terhadap Mudhoiso. Setiap pegelaran wayang orang, Mudhoiso selalu mendapat pemeran utama. Sedangkan saya yang dulu mengajak Mudhoiso bergabung di wayang orang Blogcamp Budhoyo ini hanya mendapat pekerjaan sebagai menjaga pintu masuk yang gajinya tidak seberapa. Padahal Mudhoiso bisa berperan menjadi Cakil atas jasa saya juga yang telah mengajarinya memainkan peran dari nol. Namun Mudhoiso seolah melupakan saya” jawab Juki dengan kepala tertunduk. “Saya khilaf Bu Pol..” kata Juki lagi, pelan.

Akhirnya kematian Mudhoiso terkuak. Dan itu semua berkat kerjasama beberapa pihak yang telah berusaha keras membuka tabir sebuah permainan rahasia.

Giveaway Senangnya hatiku:Ini adalah blog baru saya!

Hmm, gimana ya bilangnya.. #garuk-garuk kepala#

Oke saya mau bilang kalau ini adalah blog baru saya #maksudnya sih pamer# hehe. .

Saat memiliki blog baru ini perasaan saya sungguh gak karuan, antara senang dan sebel. Kalau dibilang senang, ow jelas saya senaaang banget  biar bagaimana dengan keberadaan blog baru ini yang nyata-nyata menggunakan domain sendiri saya seperti dipecut untuk harus lebih serius dan semangat untuk membuat tulisan.

Memang saya akui bahwa sejak bulan Desember hingga awal Januari 2013 ini nama saya seolah tenggelam jauh dibawah bumi sana. Komentar di blog teman gak pernah, berkoar status dan komentar di facebook juga jarang, apalagi posting tulisan di blog, yang ada malah postingan lama, sudah basi!

Barangkali saya gak perlu mengungkapkan panjang lebar kenapa hal ini bisa terjadi, yang jelas alasan saya begitu sangat pasaran, sama seperti yang dialami beberapa teman blogger detik yang lain, yaitu tidak bisa masuk dashboard! Sudah dicoba banyak kunci dari kunci pintu, kunci brankas, kunci T sampai dibela-belain menemui Pangeran William dan Kate buat pinjem kunci inggris pun sama aja hasilnya!

Kesenangan saya yang lain dengan hadirnya blog ini adalah dibulan Januari sama seperti blog lama saya yang ceritayuni.blogdetik.com.

Saya jadi teringat awal-awal pertama kali ngeblog dulu, bagaimana ‘kepo’nya mengenal dunia blogging. Bagaimana semangatnya saya menclok-menclok dari blog satu ke blog yang lain hanya supaya nama saya terpampang dimana-mana, rasanya keren aja sih nama saya bisa terpampang di social media walaupun hanya di kolom komentar. Belum lagi saat foto saya beterbaran di google image ketika menulis keyword ‘yuniari nukti’, tiba-tiba berasa jadi orang penting yang wajib dikenal! Hehe..

Belum kalau sudah menang kontes, meskipun hanya mendapat hadiah sebuah buku rasanya seperti habis dapat hadiah uang 10 juta dan susah diucapkan dengan kata-kata!

Pokoknya saat pertama ngeblog dulu yang saya pikirkan hanya supaya nama saya dibaca dan dikenal orang begitu saja. Selain itu biar dunia tau bahwa seorang yuniari nukti sekarang adalah seorang blogger! Inilah hebatnya saya yang sudah memiliki blog, lebih keren statusnya dibanding orang yang gak punya blog! Hehe..

Ini adalah blog baru saya!

Maaf jangan capek bacanya ya, soalnya saya lagi senang nih punya blog baru hehe..

Ketika memulai akan mengisi artikel diblog ini sejuta harapan, sejuta impian dan sejuta imajinasi berlevitasi diatas kepala saya tanpa edit photoshop. Saya ingin blog baru ini lebih bagus isinya, lebih santai dibacanya dan lebih banyak berisi pengalaman-pengalaman hidup yang pernah saya alami.

Akhir kata saya ucapkan trima kasih buat teman-teman yang sudah bertanya kemana saya selama ini menghilang. Dan trima kasih juga buat teman-teman yang sudah cukup baik hati berkunjung dan meninggalkan komentar di blog saya yang lama meskipun saya jarang apdet dan jarang berkunjung ke blog kalian. Dan trima kasih juga buat teman senior saya yang semangat ngeblognya tak pernah pudar sedikitpun yaitu Pakde Cholik, dan Kang Yayat yang sudah mengingatkan bahwa blog saya perlu dibersihkan karena banyak debu yang bertumpuk, dan karena mereka jugalah blog baru saya ini ada dan bertengger didunia maya walau masih harus terseok-seok karena sudah ketinggalan jauh sekali..

Ini adalah blog baru saya! Selamat datang semua.. 🙂

 

Go Top