Puasa, makan keres

Alhamdulillah tahun ini saya masih diberi Allah SWT umur panjang sehingga bisa bertemu kembali dengan bulan Ramadhan. Seperti tahun-tahun sebelumnya saya menjalani hari-hari puasa di kota Surabaya yang saat ini kondisi cuacanya suka meriang, kadang panas, kadang mendung, dan kadang-kadang tanpa ditebak tiba-tiba hujan.

Setiap datang bulan Ramadhan, pengalaman yang tak bisa saya lupakan adalah makan buah keres (kersen) pada pagi hari dibulan puasa. Walaupun itu sudah berlangsung berpuluh tahun yang lalu tapi rasa bersalahnya masih terasa sampai sekarang.

Ceritanya begini, dulu saat masih SD, saya dan teman-teman bersemangat merayakan euforia Ramadhan. Sehingga selesai sahur saya tidak kembali tidur tetapi menunggu sholat Shubuh dulu kemudian main bareng teman-teman. Entah jalan-jalan, bersepeda atau duduk-duduk di atas pipa di bawah kebun keres milik Perusahaan Air Minum. Kebetulan rumah saya berada di belakang komplek Penjernihan, disana ada banyak pipa-pipa mulai berukuran kecil hingga raksasa. Diantara pipa-pipa itu tumbuh pepohonan keres yang buahnya merah merekah. Meskipun bukan bulan puasa, setiap pulang sekolah atau hari libur saya dan teman-teman senang bermain disitu.

Pagi itu adalah hari pertama puasa. Setelah jalan-jalan kami duduk-duduk di atas pipa sambil ngelihatin teman-teman laki-laki yang sibuk dengan bambu panjang yang diisi karbit dan air kemudian dikasih api. Bunyi “DEBUMMM!!” yang keras, menggelegar lagi menggema membuat saya dan teman-teman lain asyik memperhatikan. Sambil sesekali menutup telinga.

Kebetulan sekali Saya melihat anak-anak bermain mercon bumbung di daerah Kenjeran
Kebetulan sekali Saya menemukan anak-anak bermain mercon bumbung di daerah Kenjeran

Ditengah keasyikan itu kepala saya mendongak keatas sambil iseng mencari buah keres yang sudah ranum. Melihat buah keres ranum itu rasanya senangnya minta ampun. Biasanya memang begitu, kalau tidak puasa, buah keres yang sudah diincar harus sesegera mungkin diambil, sebelum keduluan yang lain.

Disaat yang lain sedang asyik, saya pun mencari alternative mengambil buah itu. Saya mencoba naik ke atas pipa dan sekali raih langsung dapat buah yang merah. Tiba-tiba saja, “hap!” buah itu saya kulum. Rasanya, hmm.. nikmatnya. Manis sekali.. setelah mengulum, begitu akan membuang kulitnya saya ingat kalau hari itu sedang berpuasa. Aduh, kalau ketahuan teman-teman gimana. Seketika saya langsung salah tingkah. Padahal teman-teman saya tidak sedang melihat saya. tapi perasaan saya mengatakan ada mata yang sedang melihat ke arah saya. Dada saya deg-degan keras, rasanya galau antara batal, nggak, batal, nggak, walaupun memang kenyataannya tidak sengaja.

Akhirnya, secara diam-diam saya ambil kulit itu pke tangan kemudian saya buang. Lalu saya kembali lagi bergabung bersama teman-teman. Setelah kejadian itu, selama disana saya diam saja. gak berani ngomong apa-apa. Saya anggap kejadian tadi adalah rahasia saya sendiri, dan hanya Allah saja yang tahu.

Entahlah, kenapa pengalaman makan keres itu hingga sekarang masih terbayang terus diingatan. Mungkinkah karena saya sudah menikmatinya ya? 😀

Penting, gak pentingnya ngabuburit

Ngabuburit, yuuuk….

Akhir-akhir ini istilah ngabuburit seakan umum dipakai umat muslim di mana saja. Tidak hanya orang Sunda saja, tapi di Surabaya juga menggunakan istilah ngabuburit untuk menunggu tiba datangnya berbuka puasa.

Saya jadi ingat, dulu, sebelum mengenal istilah ini, duduk dimeja sambil ngelihat Ibu saya memasak adalah ngabuburit cara saya. Membaui aroma masakan yang nikmatnya tak terkira membuat saya enggan untuk beranjak jauh-jauh dari dapur. Apalagi kalau acara di TV bagus-bagus, aduuh susah sekali untuk meninggalkannya. Jangankan mandi, melaksanakan Sholat Ashar aja suka ditunda-tunda. Alasan apalagi kalau bukan takut ketinggalan acara. Tau-tau sudah adzan Maghrib aja hehe..

Ngobrol-ngobrol bersama teman saat sore hari menjelang berbuka juga waktu yang sangat nikmat untuk dilakukan. Rasa lapar dan haus bisa lupa dengan sendirinya. Yah, namanya juga ngobrol. Jangankan dibulan puasa, waktu gak puasa aja, asyik banget kok..

Setelah diceramahi Pak Ustad disela-sela Sholat Tarawih, Saya jadi tau bahwa mencium aroma masakan saat puasa hukumnya adalah makruh, walaupun tidak membatalkan puasa. Jadi, kalau sudah mencium aroma masakan cepat-cepat saya menahan diri dan menahan kalimat untuk tidak bilang, “Hmm.. enaknyaaa”

Selain itu Pak Ustad juga bilang kalau menghabiskan waktu puasa dengan banyak-banyak menonton TV juga tidak bagus.  Alasannya sayang dengan puasanya, pahalanya bisa berkurang.

Sedangkan ngobrol dengan teman, boleh-boleh saja. Tapi yang ditakutkan adalah berghibah. Namanya manusia kalau sudah ngomongin sesuatu suka lupa diri. Awalnya ngobrolin tentang sahur kesiangan, lalu ngobrolin pengalaman puasa, trus ngobrolin sholat tarawih, tapi lama-lama pembicaraannya jadi berbelok kemana-mana. Misalnya ngomongin kegantengan Ustad yang ceramah tadi malam. Trus ngomongin artis korea yang nggantengnya mirip Pak Ustad. Lalu berlanjut ngomongin si ini begini..  si anu begitu.. dan ujung-ujungnya ngerasani atau ngomongin orang. Kalau Bang Rhoma bilang namanya ghibah. Nah, sayang kan sama puasanya, gak ada manfaatnya. Dan lagi-lagi, ngurangin pahala puasa.

Menurut Pak Ustad, kalau ngabuburit lebih baik digunakan dengan melakukan perbuatan positif. Misalnya, Setelah Sholat Ashar dilanjutkan dengan membaca Al Quran. Nggak usah banyak-banyak, cukup 1 atau 2 ayat saja lalu mentaddaburinya. Membaca artinya sekaligus memyelami maknanya.

Kalau susah melakukannya, nyetel radio aja. Disana ada banyak stasiun-stasiun yang memperdengarkan ceramah agama, biasanya mendekati sholat Maghrib ada kok ceramah-ceramah agama yang bermanfaat dari Kyai yang masih baru hingga yang sudah meninggal. Contohnya Kyai Zainuddin MZ. Masih ada, kan?

Yah kalaupun terpaksa harus nonton TV, carilah stasiun yang menampilkan acara yang bersifat rohani. Jangan sinetron melulu, lah.. kasihan nanti isi kepalanya, jadi kebanyakan masalah. Bukannya mengatasi masalah tapi nambah masalah.

Males ngapa-ngapain? Itu manusiawi kok. Emang kalau puasa itu bikin males buat ngerjakan sesuatu. Nah, kalau lagi malas ngapa-ngapain, online aja. Baca-baca artikel yang bermanfaat buat nambah-nambah ilmu pengetahuan tentang Islam. Kalau sudah dapat ilmunya, posting di blog. Selain buat nambah ilmu juga untuk berbagi pengetahuan kepada sesama. Impas, kan?

Lalu, penting gak sih ngabuburit itu?

Saya akan jawab, ngabuburit itu penting. Tapi dengan syarat harus dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang positif dan bermanfaat. Bukankah bulan Ramadhan ini Allah SWT sedang mengobral pahala, jadi kalau kita melakukan amalan ibadah, walaupun sedikit, maka pahala yang didapatkan akan dilipat gandakan olehNya.

Jadi, yuk, ngabuburit, yuuk…

Hari Sabtu

“Sekarang hari apa, Bu?”

“Hari Rabu! Kenapa toh Pak, tiap hari nanya melulu?”

Aku tersenyum.

Di usia ke 63 ini tak ada kebahagiaan selain menunggu tiba nya hari Sabtu. Hari yang sejak remaja dulu pernah kunantikan. Hari yang membuat jiwaku bagai muda lagi. Hari yang membuat hidupku selalu bahagia akan setiap kedatangannya. Membayangkan tawanya, cerianya, keluguannya, tangisannya, teriakannya, dan semuanya. Cucu-cucuku, kakek merinduimu..

Pengalaman pertama belanja online

Membeli barang di toko online pernah saya lakukan sekali. Waktu itu ada customer yang ingin membeli Monitor LCD merk Sa*sung layar 23 inch.

Bekerja di toko komputer, mencari spare part adalah tugas saya, karena toko di tempat saya bekerja tidak menyediakan barang. Akibatnya bila ada yang ingin membeli barang mereka harus memesan dulu melalui chatting atau telpon. Bagi yang sudah langganan mereka terbiasa dengan keadaan ini disamping mereka bisa menawar harga, barang yang saya kasih pun garansinya baru (garansi per tanggal pembelian) karena saya pesankan dulu melalui distributor.

Seperti biasa customer itu tanya-tanya dulu. Punya LCD Monitor Sa*sung 23’ nggak? Typenya apa? Harga berapa?

Mendapat pertanyaan yang bertubi-tubi itu seringnya saya jawab singkat dan padat: “Saya cek dulu ya”

Merekapun mahfum.

Segera saja saya menghubungi seluruh pemegang Monitor merk tersebut. Dari mulai kelas Distributor, Master Dealer hingga Dealer, semua saya hubungi untuk menanyakan ketersediaan barang dan harga yang paling murah.

Sayangnya dari kesemuanya itu mengatakan barang yang saya cari sedang kosong. Bahkan mereka juga mengatakan stock di Jakarta juga sedang kosong.

Kalau sudah begini langkah saya selanjutnya adalah menawari customer itu dengan stock barang yang sedang ready di Surabaya, misalnya ada ready  layar 22, ya itu saya tawarkan’.

Namun usaha tawar menawar itu gagal karena customer saya maunya yang 23’. Tak mau pasrah meninggalkan customer, sayapun berusaha mencari cara lain yaitu browsing di toko online.

Lucu sih sebetulnya. Saya jualan komputer tapi malah nyari ditoko online yang harganya diatas harga yang seharusnya saya dapatkan. Apalagi untuk dijual kembali. Bisa saja saya tawarkan ke customer dengan harga mahal tapi saya takut kalau customer itu gak jadi beli. Kalau sekedar gak jadi sih gak masalah, kalau toko saya di cap mahal? Tapi saya pikir, apa salahnya dicoba, namaya juga usaha?

Namun lagi-lagi usaha saya gagal karena di toko-toko online yang masuk jajaran halaman pertama google, rata-rata hasilnya tak memuaskan saya. Mulai link yang error, link yang diklik tak ditemukan, hingga link terbuka namun harga yang tertera jauh lebih mahal.

Ditengah kebuntuan, saya tanya ke teman-teman dan bos yang rajin buka internet, dimana toko komputer online yang menjual LCD 23’. Dari mereka biasanya saya dapat informasi serta memberi link alternative untuk saya kunjungi, karena mereka aktif di forum.

“Coba buka ent*r computer.com, disana barang-barangnya lengkap” kata Bos saya.

Mendengar namanya saya sedikit ragu, sebab selama ini toko online yang sering jadi perbincangan adalah toko itu-itu aja. Sedangkan nama toko ini baru sekali ini saya dengar. Dan lebih ragu lagi, pendengaran saya yang salah atau Bos yang salah nyebutin webnya karena saya tulis ent*rcomputer.com, yang muncul toko komputer luar negeri. Rupanya saya yang salah ketik, harusnya ent*rkomputer.com.

Begitu terbuka, halaman depannya berisi promo produk murah. Di bagian atasnya tertera alamat, no telpon dan YM. Selanjutnya ada kolom-kolom petunjuk jenis-jenis produk yang ingin kita cari.

Langsung saja saya klik bagian kolom LCD.

Daan.. betapa senangnya, dihalaman itu terpampang semua jenis, ukuran, type, dan merk LCD Monitor. Tampilannya berbaris persis pricelist sehingga memudahkan saya mencari barisan merk yang ingin saya beli.

Barisan harga itu tanpa gambar dengan spesifikasi seadanya. Harga yang tertera juga sangat murah. Saya yang setiap hari berpegang harga distributor aja masih kalah dibanding toko ini. entah kenapa harga-harga yang tertera rata-rata adalah harga dealer. Malah beberapa diantaranya dibawah standart harga dealer.

Bukan kesenangan, saya malah takut. Ini beneran toko online apa sekedar nampang harga doang. Malah-malah toko ini fiktif yang menawarkan harga murah kemudian berujung.. ah saya tidak mau berandai-andai. Namun ketakutan itu saya halau karena toko ini menyebutkan alamat. Jadi tidak mungkin kalau toko ini fiktif.

Lebih girang lagi, saat saya bertanya LCD 23’ melalui layanan chatting, si CS menyatakan barang ready.  Sayangnya layanan mereka sedikit lamban. Dari 6 CS yang tersedia, hanya 2-3 saja yang online. Setelah nge-BUZZ berkali-kali dan menunggu sekian jam (jam loh, bukan menit) baru salah satu dari mereka menjawab (Sengaja saya BUZZ semua CS yang online dengan harapan mana yang duluan balas dia yang saya orderi). Untungnya si CS tersebut enak diajak ngobrol. Bahkan dia menyarankan untuk packingan LCD dialas pakai kayu supaya aman. Ah, solusi yang jitu, saya aja gak kepikiran sampai kesana.

Akhirnya terjadilah transaksi. Seperti harapan saya barang sampai dalam waktu 2 hari.

Saya senang belanja online di sini karena selain barang-barang yang dijual sangat lengkap, harga yang ditawarkan termasuk murah. Namun yang jadi kendala adalah kurangnya layanan informasi.

Saya contohkan toko komputer di Surabaya yang rata-rata buka jam 9-10 pagi, maka jam segitu  YM mereka langsung nyala. Namun di ent*rkomputer ini hingga jam 10 lebih, layanan chatting belum ada yang nyala. Saya berpikir, apakah toko komputer ini belum buka? Atau sudah buka tapi YMnya belum dinyalakan?

Sayang kan kalau ada yang beli harus ketahan, namanya juga toko online pastinya YM adalah sarana termudah yang bisa diakses.

Seperti saya yang ada di Surabaya, gak mungkin kalau harus interlokal telpon kesana, walaupun saya butuh banget barangnya. Kalaupun ada No GSM tapi khusus untuk layanan SMS aja. Pun saya coba SMS juga gak dibalas-balas.

Walaupun hanya sekali bertransaksi saya jadi sering berkunjung kemari. Setiap membuka halaman web ini untuk mengecek harga,  seringkali saya mendapati YMnya CS hanya beberapa yang online. Mungkin saja si CS kebanjiran order sehingga harus jawab sana jawab sini. Kalau sudah begitu kenapa layanan CS lainnya tidak dibuka sehingga kami, para calon pembeli dapat segera bertransaksi.

Jangan rusak hubungan ini

Menjadi karyawan yang sudah bekerja sekian tahun serta setiap hari bertemu teman-teman yang sama membuat hubungan saya dengan karyawan lainnya ibarat dulur ketemu gedhe alias akrab dengan sendirinya.  Kesamaan nasib dan pengalaman membuat dinding tinggi yang awalnya terpisah secara pelan-pelan menyatu menjadikan hubungan erat bak kakak dan adik.

Sebut saja namanya Bulan. Usia yang terpaut 2 tahun, membuat saya memanggilnya Mbak Bulan, walaupun kalau secara hitungan kertas saya yang lebih lama bekerja dibanding dia. Kepintarannya berbicara dan mengerti keinginan satu sama lain membuat saya suka bila berdekatan dengannya. Tak hanya saat bekerja, diluar jam kantor pun kami sering bertemu dan berlama-lama ngobrol melalui telepon. Seringnya sih Mbak Bulan dulu yang menelpon saya untuk curhat masalah cowok, menurutnya saya bisa membaca kemauan cowok karena dianggapnya saya sudah menikah, sedangkan dia belum.

Hingga suatu hari, tepatnya sebelum libur lebaran, saya ijin tidak masuk karena membuat kue lebaran untuk dibawa mudik ke rumah mertua. Supaya tidak jadi masalah, saya ijinnya tidak terus terang beralasan bikin kue, namun alasan lain yang lebih masuk akal. Yang tau saya bolos bikin kue hanya Mbak Bulan saja, teman-teman lain tidak tau.

Esoknya ketika saya masuk, suasana kantor berubah drastis. Entah kenapa teman-teman semua pada gak ngajak ngomong saya termasuk Mbak Bulan. Gak mau berprasangka buruk saya pun menganggap biasa aja, seperti tak terjadi apa-apa. Tapi makin saya buat biasa makin lama mereka ini makin menjengkelkan. Ditanya baik-baik jawabannya singkat, kayak saya ini musuh dalam selimut. Akhirnya saya memilih diam dan aktifitas seperti biasanya.

Saat Bos datang kekakuan kami bukannya mencair, tapi makin menjadi. Saya jadi bingung, ada apa sebenarnya..

Lalu saya dipanggil Bos keruangannya. Saat ini pun saya tak menganggap hal itu aneh karena bos sering memanggil saya mengajak ngobrol dan diskusi panjang lebar. Begitu saya duduk dihadapannya, Bos langsung berkata: “Bulan ini kamu terakhir kerja disini”

Seperti badai besar menghantam karang saya kaget. Saya jawab: “Masalahnya apa, Pak?”

Setelah diam beberapa saat, bos berkata: “Kemarin kamu nggak masuk bikin kue, ya?” sambil tatapan menyelidik. Jelas saya kaget, padahal kemarin saya ijin gak masuk dengan alasan ada urusan keluarga, kenapa sekarang dia tau saya gak masuk karena bikin kue.

“Kalau iya, kenapa Pak?” tantang saya balik. “Bikin kue kan termasuk urusan keluarga”. Si Bos diam. Lalu dia bilang akibat saya gak masuk sehari tokonya merugi. Saya jawab begini: “Pak ditoko ini yang bagian jualan bukan hanya saya, lagian besok sudah lebaran, lihat aja toko-toko sebelah sudah pada tutup. Tapi Bapak aja yang bertahan buka. Kalau memang kemarin saya dilarang bolos, kenapa Bapak gak balas SMS ijin saya? Karena bapak gak balas saya anggap ijin saya disetujui, seperti ijin yang  kemarin-kemarin mana ada Bapak balas SMS ijin saya, toh Bapak gak semarah ini..”

Debat kusir kami berlanjut. Bahkan si Bos menuduh yang nggak-nggak. Katanya saya suka ngasih harga modal ke kompetiter, dia juga menyalahkan saya karena sering berhubungan dengan teman-teman mantan karyawannya, dan tuduhan-tuduhan lain yang justru makin terdengar gak masuk akal.

Kali ini saya gak mau balas, saya pikir buat apa berdebat dengan orang macam ini. Saya dengarkan apa aja dia ngomong. Yang kemudian saya tutup dengan pertanyaan: “Itu semua kata siapa?” Dia diam gak bisa ngomong. “Kalau benar tuduhan itu saya lakukan, saya do’akan semoga toko ini sukses”

Akhirnya saya terima kekalahan itu walaupun dalam hati saya merasa menang. Saya pulang tanpa pamit ke teman-teman, setelah sebelumnya mendengarkan istrinya bos nangis-nangis minta maaf dan meminta saya membuktikan bahwa saya tidak salah. Dari lubuk hati saya sebenarnya ingin mengorek pelakunya, tapi buat apa, toh kalau saya sudah menyerahkan pelakunya, tak akan membuat saya bisa kembali lagi bekerja disini.

Esok dan esoknya lagi tak ada teman-teman yang menghubungi saya, termasuk Mbak Bulan. Begitupun dengan saya, karena sudah sakit hati saya juga nggak mau menghubungi Mbak Bulan. Walaupun sebenarnya ingin sekali konfirmasi, namun bagi saya hubungan kami cukup sekian.

Suatu hari saya mendapat kabar kalau Ibunya Mbak Bulan meninggal dunia. Entah kenapa tiba-tiba saya ingin menemuinya meskipun dalam hati masih ada perasaan marah dan tak terima. Setelah diskusi dengan suami dan berusaha membuang jauh-jauh ego dan emosi, berdua kami kerumahnya yang ternyata sudah pindah alamat.

Pertama kali bertemu dengan rasa canggung kami berpelukan. Rupanya setelah sekian lama tak bertemu membuat kami masing-masing kangen. Ada perasaan menyesal walau tak terungkap. Dan rasa itu.. rasa kasih sayang kakak terhadap adik yang tetap dia simpan, mengacak-ngacak kepala, memaki-maki, menghina penampilan (yang memang saya akui dia lebih matching). Sambil pelukan kami sama-sama meminta maaf kesalahan lalu.

Hingga kini hubungan kami masih baik. Kami masih sering chatting, berkirim kabar, atau salah satu datang kerumah. Yang lebih membahagiakan beberapa bulan lalu Mbak Bulan telah melangsungkan pernikahannya. Selamat ya Mbak semoga hubungan kalian bahagia dan langgeng, Amiin.. 🙂


Aksi keren kiper Timnas Indonesia Kurnia Meiga

Yeayy.. Keren banget aksi kiper Timnas Indonesia Kurnia Meiga ini!!

Sempat ketinggalan nonton pertandingan Timnas Garuda melawan Netherland tadi malam yang sudah berjalan di menit 35 akhirnya berlanjut hingga berakhir babak pertama.

Saya bukan maniak bola banget ya, tapi karena kemarin itu penjaga gawangnya Timnas Garuda dipegang Kurnia Meiga jadilah saya menikmati pertandingan hingga menit ke 70 sekian-an, kalau tidak salah habis gawang kita kebobolan 2 kali deh.

Maunya saya pengen tetap nonton sampe pertandingannya habis, apalagi ada Andik yang diturunkan oleh pelatih Jackson F Tiago pada babak ke 2, tapi apa daya tiba-tiba saya merasa phobia akut. Walaupun sudah berusaha menenangkan diri sambil berbesar hati menerima apapun hasilnya karena pertandingan ini adalah laga persahabatan, tapi… bukan masalah kalah menangnya. Saya hanya menyayangkan duit yang 1 Miliar itu lho!! Ah.. melayang deh 😀

Kalau menurut pengamatan saya yang nggak gibol-gibol banget, pemain Timnas kita itu sudah kalah serangan dihadapan skuat Netherland, namun Timnas cuma bisa bertahan dan bertahan. Beruntung pawang gawang Garuda berkali-kali mengelak bola, dan jadilah pertandingan tadi malam menjadi asyik ditonton karena Kurnia Meiga berhasil menciptakan sebuah tontonan dramatis mengalahkan semua judul sinetron produksi Genta Buana!

Idih lirikannya.. :D
Idih lirikannya.. 😀

Kiper Timnas Indonesia Kurnia Meiga yang tadi malam tampil memukau dihadapan ribuan penonton, memiliki nama asli Kurnia Meiga Hermansyah. Lelaki bertinggi badan 184 cm dan bulan Mei lalu berusia 23 tahun merupakan sosok yang sangat piawai menangkap bola. Dugaan saya, sejak kecil Kurnia Meiga punya hobi menangkap kecebong dan belut di empang sambil hujan-hujanan. Dan waktu kecil Ibunya kerap menyanyikan lagu Cicak-cicak didinding. Jadi selain piawai membaca arah bola, instingnya juga ikutan main. Sekalinya ada bola yang mendekati gawang, hap! Langsung ditangkap, Tuh kan seperti lagu cicak-cicak didinding.. 😀

Setelah pertandingan semalam, konon Kiper Timnas Indonesia Kurnia Meiga dipuji oleh Pelatih Timnas Belanda, Louis Van Gaal karena beberapa kali sukses menampik bola yang mengancam gawangnya. Naah.. kalau penjaga gawangnya sudah bermain oke seperti ini, semoga untuk kedepan bisa diimbangi oleh pemain-pemain lainnya. Oke, Kurnia.. siap-siap ya dapat kontrak bintang iklan seperti Andik 😀

*gambar dari google

Masakan Cinta ala Chef Letnan Sari

Kapten Bhirawa tak bisa menyembunyikan kekagumannya terhadap Letnan Sari saat melihat gadis ayu itu secara cekatan menyelesaikan kegiatan memasak dalam suatu perlombaan di instansinya. Gadis tinggi semampai dengan lesung dipipi itu sangat berbeda dalam penampilan kesehariannya. Biasanya Ia tampil bak prajurit laki-laki, namun sekarang Ia seolah Ibu rumah tangga yang luwes dan bersahabat bersama piranti dapur.

“Tak salah bila selama ini aku mengagumimu?” Gumam Kapten Bhirawa sambil menatap tajam si gadis berambut sebahu bak mata burung Elang yang siap menerkam. Sudah setahun ini, sejak mutasinya ke Surabaya, Ia sering memperhatikan gadis yang sehari-harinya berpenampilan cuek ini . Rupanya pembawaan yang tegas telah menutupi segala kemilau wanitanya hingga Ia sendiri tak menyadari bahwa Letnan Sari memiliki sejuta keindahan wanita yang selama ini dicarinya, yaitu perempuan tegas namun bijaksana.

Ketika sedang menikmati suguhan maha indah itu, Kapten Bhirawa terlambat menyadari bahwa 2 bola mata Letnan Sari juga sedang mengarah kepadanya. Namun sebelum Ia mengalihkan pandang ke arah lain sebagai tepisan rasa malu, sesegera mungkin Kapten Bhirawa menyunggingkan senyum semanis mungkin yang Ia mampu walaupun dalam hatinya yakin sekarang ini Ia sedang menjadi bahan tertawaan Letnan Sari akibat tertangkap basah menatapnya.

Tepat sesuai perkiraan. Masakan Letnan Sari dinyatakan sebagai juara pertama! Bergegas Kapten Bhirawa mendekati Letnan Sari untuk memberi ucapan selamat. “Siap! Kapten. Ijin mempersembahkan masakan ini untuk Anda!” Malu-malu Letnan Sari berhadapan dengan lelaki yang diam-diam dipujanya. Seperti mendapat angin segar, tanpa banyak kata Kapten Bhirawa membalas dengan menyerahkan sekuntum mawar merah yang disana terselip sepucuk surat cinta yang sempat ditulis tanpa terencana. Sebagai simbol menyatunya 2 hati itu Letnan Sari dan kapten Bhirawa menikmati masakan cinta hasil olahan Chef Letnan Sari.