Ada apa di jl. Semarang

“Seandainya kamu jadi penulis, kamu mau bukumu dibeli orang tapi gak dapat royalti?”

Saya tersentak lalu diam. Ucapan suami saya benar. Saya terlalu naif menganggap sebuah hasil karya orang dengan harga murah.

**

Beberapa hari lalu ketika saya melewati Stasiun Pasar Turi, tiba-tiba saja saya ingin menghentikan laju kendaraan dan mampir disebuah deretan toko buku di jalan Semarang.

Jalan Semarang ini adalah pusatnya toko buku bekas di Surabaya. Namun saya hampir tidak pernah membeli buku disitu walaupun saya lihat banyak sekali lalu lalang orang yang keluar masuk di toko buku tersebut sambil mencari buku yang mereka inginkan.

Di deretan toko-toko buku tersebut bertumpuk-tumpuk buku bekas dengan aneka judul. Mulai buku pelajaran, komic, majalah, novel hingga skripsi.

Jajaran buku bekas di salah satu kios
Jajaran buku bekas di salah satu kios
Majalah dan komik bekas
Majalah dan komik bekas

Dari jajaran buku-buku itu saya tertarik dengan deretan buku yang tersampul rapi dan ditata secara berderet ala toko buku besar. Judul buku-buku itu menurut saya adalah buku best seller.

Saya ambil salah satu buku yang tidak bersampul. Saya perhatikan covernya berwarna agak gelap. Saya bolak-balik sampulnya memang sangat mirip dengan yang asli. Namun ketika saya melihat bagian dalam buku itu kualitas kertas serta tulisannya jauh berbeda dengan buku aslinya. Tapi yang pasti masih bisa terbaca..

“Wah menarik ini..” pikir saya.

Apalagi saat saya tanya harganya 3x lebih murah dari harga aslinya.

Dari hasil mampir itu saya mendapatkan beberapa buku. Tidak banyak sih, hanya beberapa. Maksudnya saya mendapatkan 3 buku yaitu 5 cm, 2, dan Kun Fayakuun 2 nya Ust. Yusuf Mansur hard cover.

Ke 3 buku itu saya beli murah saja, 45 ribu!

Tidak! Saya tidak bermaksud membajak! Saya hanya penasaran dengan isinya (Tapi tidak menutup kemungkinan untuk beli lagi sih kalau memungkinkan) hihi..

Rupanya beli buku di Jl. Semarang itu seperti candu! Sekali beli ingin rasanya nambah lagi.

Jadi setelah nonton film rectoverso kapan itu, suami saya tertarik untuk beli bukunya. Sebelumnya saya sudah sempat baca di Toga Mas, dan memang buku itu harganya cukup mahal.

Entah kenapa tiba-tiba saya merasa toko buku ini salah menempelkan label harga. Herannya lagi beberapa buku yang saya pegang, harganya juga seperti tak masuk akal. Ada konspirasi politikkah antara bawang dan buku? Apakah mereka janjian menaikkan harga? 😀

Lalu saya menggumam “kalau di jalan Semarang, ada buku rectoverso gak ya?”

“Gak ada! Toko bukunya tutup, musim hujan!” samber suami saya! *idih denger aja*

Minggu kemarin, alih-alih nunggu Toga Mas buka, kami melewati Jl. Semarang.

Padahal sebetulnya perjalanan kami gak relevan sama sekali. Toga Mas yang ada di jalan Pucang lebih dekat dengan rumah. Tapi kami malah muter melewati jl. Semarang yang nun jauh disana. Yah intinya boleh kan kalau saya mau ke Jakarta tapi muter lewat Manado  dulu? 😀

Dan, horee.. toko buku di Jl. Semarang buka..

Tapi kan saya kesini cuma lewat. Yah kali aja ada buku menarik yang ingin saya beli.

Saya masuk ke salah satu toko buku dan saya tanya, ada buku rectoverso, gak?

Sial. Semua penjual bilang, “buku apa itu?”

Ya deh, memang gak boleh kok beli buku bajakan. Kasihan penulisnya, gara-gara buku-buku bajakan itu royalti mereka jadi berkurang.*sok bijak*

Tapi kan gak salah juga kalau saya tanya, toh saya kan hanya lewat sini 😀

Dan akhirnya saya beli juga buku rectoverso di Toga Mas..!! Horee.. *sambil ngumpetin buku madre yang tadi sempat dibeli dengan harga 9ribu*

Nyasar di perpustakaan

Di sudut ruang pelayanan ada sebuah pintu yang menarik perhatianku. Dari kejauhan tertangkap sebuah pemandangan yang menurutku sedikit aneh, sebuah komputer dengan beberapa anak mengerubunginya serta beberapa mbak-mbak muda sedang asyik dimejanya.

Kucoba mendekati kusen yang pintunya terbuka lebar. Saat kulongokkan kepala ternyata dibagian kirinya terdapat jajaran buku yang berdiri rapi yang ditata menurut jenis dan golongannya pada sebuah tatakan kayu panjang bertingkat.

Mataku terperangah takjub.

“Silakan masuk mbak..” seru sebuah suara. Aku pun tertegun. Dan aku pun mencari sumber suara sekaligus melayangkan senyum.

“E.. saya sedang ngambil e-KTP, mbak”

Si mbak yang tadi memanggilku mendekati seraya menyodorkan buku besar untuk kuiisi.

“Silakan baca-baca dulu, mbak. Boleh juga dipinjam..”

Seketika aku tertarik untuk masuk dan ingin melihat lebih jauh tentang ruangan itu.

Ditengah-tengah rak, beberapa anak sedang sibuk mengerjakan tugas ketrampilan diatas sebuah matras lebar. Mereka bekerja berkelompok menyelesaikan pekerjaan sekolah. Dipojokan rak bagian ilmu pengetahuan, 2 anak berseragam SMP sedang asyik mencari-cari buku. Barangkali saja mereka sedang mencari literatur.

Melihat judul buku yang tertata apik dan rapi itu mataku seolah kalap. Rasanya ingin semuanya kulahap saat ini juga. Ingin kuraup buku-buku itu lalu segera kujejalkan kedalam gudang otakku.

Ruangan ini begitu indah dan nyaman. Tulisan-tulisan penyemangat membaca buku yang ditulis didinding dengan font serta warna ala anak-anak membuatku sangat terkesan. Ditambah lagi fasilitas tambahan bagi pengunjung semakin membuat betah berlama-lama disana.

Walaupun fasilitasnya terbatas (komputer 1 unit yang bebas digunakan pengunjung untuk berselancar maya serta meja besar untuk digunakan anak-anak mengerjakan tugas) namun tak mengurangi nilai sebuah perpustakaan dikelas kelurahan.

Buku-buku yang terpajang juga beraneka rupa. Mulai buku-buku tentang UKM, hobi dan ketrampilan, ilmu pengetahuan, bahasa, agama, fiksi, majalah hingga anak-anak.

Ruangannya pun jauh dari kesan berantakan karena di sebelah rak paling pojok terdapat sebuah ‘sampah’ buku, dimana buku-buku yang sudah dibaca harus ‘dibuang’ kesitu sehingga tidak merusak tatanan buku yang sudah berdiri di raknya.

Setelah puas mencari-cari buku, aku pun meminjam sebuah buku milik Dee yang berjudul Filosofi kopi untuk kubawa pulang. Rupanya di perpusatakaan ini seorang pengunjung boleh membawa maksimal 2 buku untuk dibawa pulang dengan jagka waktu meminjam 1 minggu. Ongkos sewanya? Tidak ada, alias gratis! Jaminannya apa? Tidak ada jaminan apa-apa. KTP dan SIM kita aman didompet karena tak perlu ditinggal disana.

Begitulah suasana perpusatakaan kelurahan ngagel rejo, kelurahan yang dari sejak aku kecil hingga dewasa menaungi segala data administrasi kependudukanku.  Sebenarnya sudah lama aku ingin berkunjung kesini. Karena belum ada urusan dikelurahan aku tidak serta merta masuk kesana. Padahal untuk pinjam buku diperpustakaan ini tidak hanya dikhususkan bagi warga yang sedang ‘berurusan’, tetapi sengaja dibuka untuk semua warga kelurahan yang ingin meminjam buku.

Konon perpustakaan Ngagel rejo ini adalah perpustakaan terbaik tingkat nasional dan baru-baru ini mendapat award Nugra Jasadarma Pustaloka 2012 kategori lomba perpustakaan desa tingkat nasional dengan menyisihkan 500-an perpustakaan kelurahan se-Indonesia. Kabar ini juga aku taunya dari teman yang berdinas di perpustakaan daerah kota Lamongan Jawa Timur setelah sebelumnya aku bercerita bahwa di kelurahan ngagel rejo memiliki perpustakaan.

Awalnya sih sempat tak percaya tapi setelah googling dengan keyword Perpustakaan terbaik nasional, ternyata memang betul.

Dari hasil googling itu aku mendapat jawaban mengapa perpustakaan kelurahan ngagel rejo kecamatan wonokromo ini bisa meraih juara. Yaitu karena buku-buku yang dimiliki kelurahan ngagel rejo ada lebih dari 1.000 buku dan memiliki katalog serta karena memenuhi syarat administrasi  yakni adanya struktur organisasi perpustakaan.

Dan menurut Kepala Badan Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya Arini Pakistianingsih, yang dilansir dari situs antar jatim.com

Perpustakaan Ngagelrejo tidak hanya telah berhasil mendongkrak minat baca masyarakat tapi turut mendorong perekonomian dan pemberdayaan masyarakt melalui pembinaan dan pengelolaan UMKM. Disamping itu, sejumlah inovasi dikembangkan di perpustakaan itu di antaranya fasilitas baca bagi penyandang tuna netra serta fasilitas belajar bagi masyarakat di Ngagelrejo. Jadi perpustakaan ini di design menjadi tempat rekreasi yang edukatif yakni sebagai tempat membaca sekaligus rumah belajar yang nyaman. Masyarakat memanfaatkan perpustakaan ini sebagai tempat belajar kedua selain di rumah mereka sendiri.

Sementara itu, Lurah Ngagelrejo Suji widodo menyatakan menyambut gembira atas penghargaan ini. Menurutnya masyarkat terbantu bisa mengembangkan usahanya dari rajin membaca. Saat ini sejumlah usaha UMKM berhasil dikembangkan mulai usaha kuliner, kerajinan hingga pada usaha padat karya. Agar minat baca semakin meningkat, perpustakaan Ngagelrejo juga menggelar kegiatan sekolah terbuka bekerja sama dengan SMPN 12 Surabaya. Dari situ minat baca terutanma anak-anak semakin meningkat sehingga semakin rajin mengunjungi perpustakaan”

Suasana Perpustakaan Ngegal Rejo
Suasana Perpustakaan Ngegal Rejo
Adik2 SMPN 12 memanfaatkan komputer dan sebagian lagi mengerjaka pekerjaan sekolah
Adik2 SMPN 12 memanfaatkan komputer dan sebagian lagi mengerjaka pekerjaan sekolah
Tempat parkir perpustakaan yang penuh dengan gambar da tulisan motivasi
Tempat parkir perpustakaan yang penuh dengan gambar da tulisan motivasi

Kalau di kelurahan teman-teman bagaimana, ada perpustakaannya juga? 🙂

 

RECTOVERSO dan Meet and Greet

RECTOVERSO..  REC.. TO.. VER.. SO..

Cinta tak harus diungkapkan, karena cinta memiliki hati yang pandai mengungkapkan. (Yuniari Nukti – 2013)

RECTO VERSO adalah film yang merupakan adaptasi dari kumpulan cerpennya Dee yang dikemas dalam sebuah buku dengan judul sama yaitu RECTOVERSO.

Dalam buku ini terdapat 11 cerita namun hanya 5 judul saja yang difilmkan. Cerita-cerita itu berjudul: Malaikat Juga Tahu, Firasat, Cicak di Dinding, Curhat buat sahabat, dan Hanya Isyarat.

Film RECTOVERSO ini di Produseri oleh Marzella Zalianty dengan merangkul 4 Sutradara cantik yang antara lain: Olga Lydia, Cathy Sharon, Marcella Zalianty, Happy Salma dan Rachel Maryam.

Meski diambil dari 5 judul yang berbeda, dan pastinya dengan cerita yang berbeda, dengan ending yang berbeda, pemain yang berbeda dan sutradara yang berbeda namun tidak membuat film ini kehilangan pesan yang akan disampaikan. Dari semua perbedaan itu terangkum menjadi satu kesimpulan bahwa Cinta tak perlu terucapkan.

Justru dengan jalan cerita yang terlompat-lompat itu membuat film ini menjadi unik dan penuh makna. Seperti halnya tulisan-tulisan Dee yang penuh intrik, makna serta kekuatan dalam merangkai kata membuat pembaca diajak untuk berpikir kritis tapi juga cerdas dalam memahami sebuah karya sastra.

Dalam memadukan ke 5 cerita itu Marcella sengaja membuat cerita sepotong-sepotong. Seperti misalnya pada cerita Malaikat Juga Tahu diputar dengan durasi beberapa menit, lalu berlanjut dengan Firasat, lalu Cicak di Dinding, Curhat buat sahabat dan yang terakhir Hanya Isyarat kemudian cerita kembali lagi di Malaikat Juga Tahu dan seterusnya. Dengan alur yang seperti itu penonton diajak untuk mampu  mengingat-ingat jalan cerita sebelumnya. Dan inilah keunikan film ini.

Film RECTOVERSO selain di Sutradarai aktris-aktris papan atas Indonesia juga dipenuhi oleh bintang papan atas juga seperti Lukman Sardi, Prisia Nasution, Asmirandah, Widyawati, Dwi Sasono, Yama Carlos, Sophia Latjuba, Cathy Sharon, Marcella Zalianty, Rachel Maryam, Indra Bhirowo, Acha Septriasa, dan masih ada banyak lagi.

Meet and Greet with Marcella zalianti dan Nonton Bareng film Recto Verso

26 Februari kemarin di @Black Canyon Coffee Surabaya Town Square diadakan acara Meet and Greet with Marcella Zalianti dan Nonton Bareng film Recto Verso. Info ini saya dapat dari seorang teman suami yang bekerja di Speedy dan sering ketemu saya juga kalau sedang ada acara komunitas. Dari info itu saya ikut registrasi karena saya pengguna kartu Simpati.

Di tempat registrasi saya hanya diminta menunjukkan SMS registrasi lalu mendapatkan goodie bag, kaos merah Rectoverso, tiket yang bisa ditukar makanan, dan tiket nonton rectoversi di XXI Sutos.

Dari kantor saya langsung datang ke Sutos. Sempat gak pede sih karena gak ada yang kenal, suami juga datang terlambat. Beruntung saya ketemu teman-teman media dari Sindo dan detik saat di lift yang kemudian saya barengi mereka. Rupanya keberadaan media membuat kepercayaan diri saya menguat karena  bersama mereka saya mendapat tempat duduk yang strategis dan walaupun tidak saling kenal kami jadi akrab 😀

Sst.. ternyata Marcella Zalianty itu cantik banget loh, walaupun body nya kelihatan makin berisi. Dan justru Happy Salma yang badannya agak kurus dan makin terlihat sexy hihi..

Acara Meet and Greet di sponsori oleh UseeTV yang merupakan program barunya Telkom. Jadi selain mengenalkan film, Telkom juga mengenalkan keunggulan dari UseeTV yang diantaranya Layanan VoD (Video On Demand) gratis, Live TV, Layanan Radio lokal, Layanan ToVi (Toko Video) yang melayani tontonan video-video flm terbaru box office hanya dengan membayar Rp. 3.500 per film yang dapat ditonton selama 48 jam, atau bisa juga berlangganan selama 1 bulan dengan membayar Rp. 10.000.

Jujur waktu diterangin tentang UseeTV ini saya benar-benar gak nyimak. UseeTV itu apa, yang nerangin juga siapa, yang saya tau cuma mereka itu pegawai Telkom, gitu aja!

Menurut saya semua itu gak penting banget. Bagi saya yang paling penting saat itu adalah mengagumi sosok para artis plus sibuk mencari tempat yang strategis buat ambil gambar mereka. Tapi yang lebih menonjok perasaan saya adalah ketika saya sibuk dengan semua itu, tiba-tiba seorang teman media tanya ke saya “Mbak, itu namanya Pak Satyo, ya?”

Rasanya Mak Jleb aja pertanyaannya. Karena bingung saya ‘iyain’ aja.. habis saya gak ngerti siapa itu. Seandainya yang nanya itu teman saya gak begitu pusing, lha ini kan mereka wartawan. Benar-benar nyari berita. Kalau salah info gimana?

Karena merasa bersalah dan takut memberi informasi yang salah akhirnya saya mulai benar-benar menyimak apa yang disampaikan tentang UseeTV ini.

Dan akhirnya sebelum mereka pergi saya ralat jawaban saya itu. Maaf ya Mas.. masih belum terlambat, kan? 😀

Bersama teman media dan radio
Bersama teman media dan radio
Nobar Rectoverso
Nobar Rectoverso

 

Cerita Es Teh

Saat beli nasi bungkus di sebuah warung kopi saya tidak langsung beranjak pergi, mata saya tertarik membaca halaman Jawa Pos yang tergeletak diatas meja warung dengan halaman muka seorang pejabat yang sedang naik daun terkait sebuah kasus.

Di warung itu selain saya ada 3 orang laki-laki yang sedang sibuk mendinginkan kopi dengan cara meniup-niup cairan hitam itu diatas lepek. Sesekali Ia menyeruputnya sedikit-sedikit.

Sedangkan 2 laki-laki lainnya serius memencet-mencet keypad Hpnya seraya sesekali menyedot lintingan tembakau yang lalu menciptakan kepulan asap di udara.

Saat saya sedang sibuk membaca deretan kata pada halaman lebar itu datanglah seorang pengunjung baru diwarung. Seorang perempuan berusia sekitar 40-an dengan pakaian yang biasa namun terlihat sedikit modis duduk agak jauh dengan posisi saya.

Kedatangannya itu membuat saya mendongak lalu berpaling memperhatikannya meski tetap dengan kondisi koran yang masih terbuka.

Dari jauh saya mendengar si Ibu itu memesan es teh bungkus. Si penjual pun dengan cekatan menuruti permintaan si Ibu. Setelah mencampur biang teh dan air putih lalu teh itu diaduknya. Tak lupa beberapa sendok gula telah dituang juga kedalam air berwarna coklat itu. Sebelum air teh dituang ke plastik, terlebih dahulu dimasukkan es batu.

Bungkusan es teh pun siap diserahkan kepada si Ibu lengkap dengan plastik pembungkusnya.

Setelah diserahkan tiba-tiba si Ibu itu bilang bahwa bukan es teh seperti ini yang diinginkannya. Dia ingin teh botol.

Penjual pun menuruti keinginan si Ibu. Es teh yang tadi diserahkan dimintanya balik lalu digantikan dengan teh botol biasa.

“Es nya mana?” kata si Ibu.

Coba kalau kondisi seperti itu apa yang ada dipikiran teman-teman?

Pasti kita mikirnya oh berarti si Ibu ini maunya teh botol yang dituang ke dalam plastik lalu dikasih es batu, gitu kan? Sama seperti pikiran saya dan si penjual.

Si penjual warung pun meminta balik lagi teh botol tadi lalu menuangnya ke dalam plastik yang sudah dikasih es batu.

Bungkusan itu pun lalu diserahkan kepada si Ibu tadi itu lagi.

Lagi-lagi si Ibu berkata, bukan es teh seperti ini yang diinginkannya.

Dari jauh saya pun mengernyit sambil memandang si Ibu dengan pikiran aneh. Trus maunya es teh yang seperti apa?

Kalau dari awal dia bilang es teh, dapatnya ya teh yang diaduk lalu dikasih es. Kalau bilangnya es teh botol, dapatnya ya teh bermerk kemasan botol lalu dituang dan dikasih es.

“Ibu maunya es teh yang seperti apa?” tanya si penjual.

Tapi sayang jawaban si Ibu tak terdengar di telinga saya. Setelah beberapa saat mereka berdebat, diakhir pembicaraan si penjual marah dan mengusir si Ibu itu.

“Sudah sana, gak usah beli-beli lagi kesini!” teriak si penjual.

Dan seperti tidak merasa bersalah si Ibu itu menjawab sebelum akhirnya meninggalkan warung.

“Ya sudah, sekali aja saya beli disini!” teriaknya.

Karena sebel, bungkusan es teh yang tadi dipegang penjual di lemparkan saja di jalan. Dan hasil lemparannya itu jatuh di hadapan si Ibu. Yang pastinya sih si Ibu melihat bahwa teh yang batal dibelinya itu dibuang saja oleh penjual.

Setelah insiden itu saya dan beberapa orang di warung saling pandang-pandangan.

“Mas, kenapa teh nya tadi dibuang? Kan sayang..” kata saya.

“Biarin, Mbak. Lebih baik saya rugi teh botol satu dari pada ngelayani orang edan itu!”

Akhirnya warung itu riuh dengan omelan sedangkan saya yang sudah hilang nafsu membaca koran memilih pergi, tapi tetap dengan pikiran sendiri tentang kemauan si Ibu tadi akan es teh.

Kira-kira apa ya maunya si Ibu tadi itu? #edisi penasaran# 😀

  

Giveaway #1 “Me and Jogja”: Menikmati malam di alun-alun

Menikmati malam di alun-alun Jogya
Menikmati malam di alun-alun Jogja

Jogja memang tak pernah mati, begitulah yang saya ucapkan manakala menikmati suasana Jogja di malam hari.

Sabtu malam itu, jam sebelas malam saya dan teman membelah jalanan kota Jogjakarta. Sengaja malam itu kami tidak berdiam diri dipenginapan mengingat malam itu adalah malam terakhir kami berada di kota Bakpia Pathok.

Malam itu kami sengaja mencari tempat untuk nongkrong sambil menjawab rasa penasaran saya terhadap nasi kucing. Sebetulnya kami juga penasaran dengan yang namanya kopi joss tetapi berhubung di tempat yang kami singgahi tidak ada menu itu akhirnya kami memilih untuk memesan teh panas, wedang ronde, nasi kucing, dan roti bakar.

Uniknya roti bakar yang disajikan tidak di bakar diatas wajan lebar seperti pada umumnya roti bakar yang dijual di Surabaya, tetapi roti itu memang benar-benar di bakar diatas arang sehingga terdapat keunikan rasa.

Sepanjang jalan dipinggir alun-alun yang menuju  Kraton  itu dipenuhi  warung-warung tenda lengkap dengan gelaran tikar untuk lesehan pengunjung. Satu dua orang pengamen juga turut meramaikan suasana dengan genjrengan gitarnya di bawah sorotan lampu jalan yang berwarna kuning.

Teman, jangan sungkan untuk selalu datang ke Jogja, karena JOGJA tinggal ‘JUJUG SAJA’  🙂

Bahasa Surabaya: Dino valentin

Bahasa Surabaya adalah bahasa sehari-hari yang digunakan arek-arek Suroboyo khususnya dan orang Jawa Timur pada umumnya. Walaupun terdengar seperti bahasa jawa umum , tetapi dialek dan penekanan kata pada boso Suroboyoan memiliki ke khas-an tersendiri.

Boso Suroboyo memiliki ciri khas yang to the point atau ‘asal njeplak’. Terkesan lebay ketika menyebutkan sesuatu yang bersifat ‘banget’ seperti misalnya: banyak sekali = akeh banget (jawa)= uakeh (suroboyo), panas sekali = panas banget (jawa)=puanas (suroboyo) dsb. Juga selalu menggunakan akhiran ‘e pada kalimat yang menunjukkan kepemilikan, seperti rambutnya = rambut’e, uangnya = duik’e, bukunya = buku’e bisa juga bukune.

Oya maaf jika saat baca nanti menemukan kata-kata kasar, bukan maksud saya menuliskan sesuatu yang kasar tetapi saya berusaha mengikuti dialek asli Suroboyo yang walaupun kasar tetapi orangnya hangat kok, *mosoookkk..* hehe

Berikut ini adalah cerita yang saya tulis dengan bahasa Suroboyoan:

lCFF5L3LRd14 Februari winginane, jare arek enom-enom dino Valentin. Iku lho gae ngelingno dino roso sayang. Jareno pas dino iku gae ngungkapno roso sayang mbarek wong tuo, roso sayang mbarek bojo, roso sayang mbarek konco , utowo roso sayang mbarek sir-sirane.

Pancene ono-ono ae kok arek enom jaman saiki. Wong arep ngetokno roso sayang ae lho kok leren ngenteni setaun pisan, padal bendino yo wes mari sayang- sayangan. Lak iyo se, Rek?

Salah sijine, Pi’i, sing latah melok-melok ngramekno dino roso sayang mbarek sir-sirane, jenenge Ning Tun. Arek enom siji iku ket jam 5 sore wes macak ngguanteng. Nggawe clono lepis, hem kotak-kotak trus rambut’e di sureni klimis. Sampek tumo ae gak iso mancik pathak’e saking lunyune rambute. Nek Pi’i mlaku ambune mak bal-bul. Wuangi!

Karepe Pi’i dino valentin iki kudu di rayakno mbarek sir-siran. Mboh mlaku-mlaku, opo mangan-mangan. Pokok’e opo-opo kudu karo genda’ane. Ngono iku gae bukti nek Pi’i iku seneng temen mbarek Ning Tun masiyo duik nang dompet’e cekak.

Sing penting lak perhatian’e tah duduk duit’e. Ngono lho, Rek..

Mari muacak necis, Pi’i budhal nang omahe Ning Tun. Sak durunge budhal Pi’i wes pesen mbarek Ning Tun ojo mangan dhisek, polane arek enom iku arep ngejak mangan nang warung kalkulator taman bungkul. Rodok-rodok mbois thithik, rek, mosok valentinan nraktir mangan genda’an nang warung pojok. Arep di dekek endi raine Pi’i..

Duik satus ewu sing disiapno gae nraktir Ning Tun disimpen nang dompet’e trus didekek nang sak mburi clono lepis’e. Ben luwih ketok parlente dompet’e di pecungulno thithik. Sopo ngerti nek Ning Tun ndelok ben tambah sayang mbarek awak’e.

Pas wes tekan omahe Ning Tun, Pi’i njagang bronfit’e trus lungguh methangkring nang ndhukure. Prejengane pokok’e wes koyok yok-yok’o ae arek iku. Pithik ae sampek nggegek ndelok tingkahe arek lanang sing rodok koclok iku.

Gak suwe ngenteni, Ning Tun metu tekan omahe.

Ndelok sir-sirane macak uayu menik-menik tur semlohe, Pi’i ngadeg mbarek ngelus-ngelus rambute sing klimis iku. Mari ngguya-ngguyu isin-isinan arek enom loro lanang wedok iku budhal kota-kota.

Biasa, rek, mosok dino valentin mek lungguh-lungguh nang omah thok. Bek’bek’e oleh sak cipok rong cipok teko Ning Tun, batin Pi’i. Pancene arek iku rodok koplak kok utek’e. Gak tepak blas! Ojo ditiru lho rek, duso koen!

Mari tekan puter-puter Pi’i ngejak Ning Tun mlebu nang warung kalkulator sing wes ruame. Nang kono akeh arek enom, wong tuwek, lanang, wedok campur dadi siji. Pi’i mbarek Ning Tun lungguh nang salah siji dingklik kayu dowo.

Sek tas lungguh onok arek wedok-wedok liyo melbu nang warung kalkulator iku karo ngguyu cekakaan. Ning Tun langsung mlengos ndelok dapurane arek-arek sing ngguyu gak aturan iku.

Barang didelok tibak’e konco-konco kuliahe dewe. Langsung ae Ning Tun melok mbengok, karepe nyeluk arek-arek iku. Gak temen mari diceluk, arek wedok-wedok iku mau lungguh nang sebelahe Ning Tun. Trus melok pesen pisan.

Pi’i sing onok nang sebelahe Ning Tun rumongso  seneng-seneng seneb. Arek sak mono akeh’e sopo sing kate mbayari, nggawe duik gambar gareng, tah? Tapi Pi’i mbidheg ae gak wani ngomong Ning Tun.

Acara valentin sing dikiro romantis tibake seje ambek perkiraane. Ning Tun akeh ngobrol mbarek konco-koncoe. Pi’i gak direken blas. Atine Pi’i kroso mbedhodhok gak karuan.

Mari mangan, iso gak iso Pi’i yo kudu mbayari koncone Ning Tun pisan. Mosok arep mbayar dewe lak gak enak ambek Ning Tun.

“Kabeh satus suwidak pitu, Cak” jare mbok dhewor sing nduwe warung.

Pi’i  klagepen. Duik nang dompet mek onok satus ewu tok. Arep nyilih Ning Tun yo isin, rek. Pi’i bingung.

“Endi, Cak? Kabeh entek satus suwidak pitu” dibaleni maneh omongane mbarek mbok dhewor sing nduwe warung.

“Mak, sepurane. Duikku onok mek satus ewu tok. Iso utang gak. Mene tak bayar kurangane. Temenan! Nek sampeyan gak percoyo tak tinggali KTPku gae jaminan” Jare Pi’i.

Wong sing nduwe warung iku langsung mrengut. Bathuk’e melok mencureng pisan “Mbok pikir warung iku gaden tah, sak enak’e dewe utang! Warung iki duduk warunge mbahmu, Ngerti, kon!”

“Iyo yo, Mak. Sepurane sing uakeh. Temenan mene tak bayar. Sumprit iku lho aku gak mbojok!”

“Yo wes, ndang nyingkrih’o kono, gak sumbut aku ndelok prejenganmu!”

Pi’i ngalih, prainane pringisan.

Urusan mbayar wes beres. Pi’i langsung ngejak nyingkrih Ning Tun.

“Cak, ndelok biskop, yok. Jarene arek-arek onok film apik. Judul’e operesen widing,  jarene mulai tayang saiki”

Pi’i wes kadung mutung.

Batin’e Pi’i “gak ngurus! Babahno.. bah ono film anyar, bah ono film Jeki Cen dangdutan, sing penting saiki moleh. Wong duik’e wes amblas ngene kok!”

Tapi Pi’i gak eroh arep ngomong opo mbarek Ning Tun.

Yo opo-yo opo Pi’i kudu golek alasan ben iso mulih.

Gak suwe mikir

“Wetengku mules. Moleh ae, Ning” jare Pi’i ngaspo ambek mercing-mercingno motoe. Cepet-cepet tangane nggandeng Ning Tun nang parkiran. Pancene arek enom siji iku pualing pinter nek dikongkon ngaspo.

“Walaaah, Caaak….” lambene Ning Tun mrengut limang senti.

Terjemahan:

14 Februari kemarin, anak muda bilang merupakan hari valentin. Itu lho peringatan hari kasih sayang. Katanya  hari itu untuk mengungkapkan kasih sayang kepada orang tua, kasih sayang kepada istri/suami, kasih sayang kepada teman atau kasih sayang kepada kekasih.

Memang ada-ada aja anak muda jaman sekarang. Hanya untuk ngerayakan kasih sayang aja lho kok harus nunggu setaun sekali, padahal tiap hari kan sudah sayang- sayangan. Iya kan, teman-teman?

Salah satunya, Cak Pi’i, yang latah ikut-ikutan meramaikan hari kasih sayang itu dengan kekasihnya, namanya Ning Tun. Anak muda satu itu sejak dari jam 5 sore sudah dandan ngguanteng. Memakai celana lepis, hem kotak-kotak lalu rambutnya di sisir klimis. Sampai-sampai kutu aja gak bisa jalan dikulit kepalanya karena licinnya rambut Pi’i. Kalau dia jalan baunya kebal-kebul, wanginyaa!

Maunya Pi’i hari valentin itu harus dirayakan dengan kekasih. Entah itu jalan-jalan atau makan-makan. Pokoknya semuanya harus bareng pacar. Hal-hal seperti itu untuk membuktikan bahwa Pi’i sayang banget sama Ning Tun walaupun uang di dompet pas-pasan.

Yang penting kan perhatiannya bukan uangnya. Begitu lho teman-teman..

Setelah dandan necis, Pi’i berangkat ke rumahnya Ning Tun. Sebelum berangkat Pi’i sudah berpesan kepada Ning Tun untuk tidak makan dulu, sebab anak muda itu berniat ngajak makan di warung kalkulator taman bungkul. Keren-keren sedikit lah, masak hari valentin ngajak makan kekasih di warung pojok. Mau ditaruh mana muka Pi’i..

Uang seratus ribu yang sudah disiapkan untuk nraktir Ning Tun disimpan di dompetnya lalu ditaruh di saku belakang celana lepisnya. Supaya lebih tampak parlente dompetnya di angkat keatas sedikit. Siapa tau kalau Ning Tun melihat jadi makin sayang pada dirinya.

Sesampai dirumahnya Ning Tun, Pi’i mendirikan sepeda motornya lalu duduk diatasnya. Nggaya sekali, begitulah gambarannya Pi’i. Ayam aja sampai terbahak-bahak melihat tingkah lelaki sedikit nyleneh itu.

Tidak lama menunggu, Ning Tun keluar dari rumahnya.

Melihat kekasihnya dandan super cantik menik-menik serta sexy, Pi’i berdiri sambil ngelus-ngelus rambutnya yang klimis. Setelah senyum malu-malu dua anak muda laki perempuan itu langsung berangkat keliling kota.

Biasalah teman, masak hari valentin cuma dirayakan dengan duduk-duduk dirumah aja. Siapa tau dapat satu-dua ciuman dari Ning Tun, pikir Pi’i. Memang anak itu agak kurang waras otaknya.Gak benar sama sekali! Jangan ditiru ya teman, bikin tambah dosa!

Selesai dari putar-putar Pi’i ngajak Ning Tun masuk ke dalam warung kalkulator yang sudah rame. Disana banyak anak muda, orang tua, laki, perempuan campur jadi satu. Pi’i dan Ning Tun langsung mengambil tempat di salah satu bangku panjang.

Baru mereka saja duduk ada beberapa anak perempuan lain masuk di warung kalkulator itu sambil tertawa kencang. Seketika Ning Tun langsung menoleh untuk melihat kelakuan anak-anak yang tertawa tanpa sopan itu.

Setelah dilihat ternyata teman-teman kuliahnya sendiri. Langsung aja Ning Tun ikut teriak, maksudnya untuk memanggil mereka. Benar saja, anak-anak perempuan itu tadi duduk di sebelahnya Ning Tun. Lalu ikut pesan makan sekalian.

Pi’i yang ada di sebelahnya Ning Tun merasa senang-senang sedih. Anak segitu banyak siapa yang akan membayar makanannya, mau bayar pakai uang gambar gareng, apa? Tetapi Pi’i diam aja gak berani bilang Ning Tun.

Acara valentin yang awalnya berjalan  romantis ternyata beda seperti perkiraannya. Ning Tun lebih banyak ngobrol bersama teman-temannya. Pi’i dicuekin sama sekali. Hatinya Pi’i terasa membara.

Setelah makan, bisa tidak bisa Pi’i harus membayar makan teman-temannya Ning Tun sekalian. Masak mau bayar makanan sendiri, malu lah sama Ning Tun.

“Semua seratus enam puluh tujuh, Cak” kata ibu pemilik warung.

Pi’i  bingung. Uang di dompetnya hanya ada seratus ribu aja. Mau pinjam Ning Tun ya malu lah. Pi’i bingung.

“Mana, Cak? Semuanya habis seratus enam puluh tujuh ribu” ulang ibu pemilik warung.

“Bu, maaf. Uang saya hanya ada seratus ribu aja. Bisa utang gak. Besok saya bayar kekurangannya. Pasti! kalau Anda gak percaya saya tinggalkan KTP saya sebagai jaminan” Kata Pi’i.

Si pemilik warung seketika cemberut. Keningnya ikut berkerut “Kamu pikir warung ini pegadaian apa, seenak sendiri aja ngutang! Warung ini bukan warungnya nenekmu, tau kamu!

“Iya ya, Mak. Maaf sekali. Beneran besok saya bayar. Sumpah, saya tidak bohong!”

“Ya sudah, cepat sana pergi, gak cocok saya lihat modelmu (sikap dan kenyataan)!”

Pi’i pergi sambil senyam senyum.

Urusan bayar sudah selesai. Pi’i langsung ngajak keluar Ning Tun.

“Cak, nonton biskop, yok. Katanya teman-teman ada film bagus. Judulnya Operesen Widing, katanya hari ini tayang perdana”

Pi’i sudah terlanjur ngambek.

Pikir Pi’i “bukan urusan! Biar saja.. biar ada film baru, biar ada film Jeki Cen dangdutan, yang penting sekarang pulang. Duit sudah habis begini!”

Tapi Pi’i bingung harus bilang apa sama Ning Tun.

Biar bagaimana Pi’i harus nyari alasan supaya bisa pulang.

Tak lama berpikir

“Perutku sekarang mulas. Pulang aja yuk, Ning” kata Pi’i bohong sambil matanya menahan sakit. Cepat-cepat tangannya nggandeng Ning Tun ke parkiran. Memang anak muda satu itu paling pintar bohong.

“Yaaah, Caaak….” bibirnya Ning Tun cemberut lima senti.

NB:

Wes yo, Rek sak mene ae aku nggawe crito boso Suroboyo, nek akeh-akeh nggarai koen-koen kabeh kemekelen. Masio critone gak lucu, moco tulisan boso Suroboyo iku biasane nggawe wong ngguyu. Tapi nek mari moco tetep gak iso ngguyu, yo mbok mocone karo ngguyu, mesem-mesem thithik ngono lho rek..

Sudah ya teman-teman segini aja saya nulis cerita bahasa Surabaya, kalau banyak-banyak bikin kalian semua tertawa. Biarpun ceritanya tidak lucu, biasanya baca tulisan berbahasa Surabaya itu bisa bikin orang tertawa. Tapi kalau selesai baca tetap gak bisa bikin kalian tertawa, kalau begitu bacanya sambil tertawa aja, senyum-senyum dikit gitu..

Nasib HP Second

Kali ini saya menceritakan kembali tentang kebiasaan saya memperhatikan penampilan dan mendengarkan orang lain bicara. Entahlah mengapa saya begitu tertarik dengan hal-hal seperti itu apalagi kalau pembicaraan mereka berkaitan dengan informasi yang sedang hangat atau cerita kehidupan yang mengandung hikmah.

Kejadian itu terjadi saat saya berniat mengisi pulsa di sebuah counter penjualan hp dan pulsa didekat kantor. Saat saya datang dicounter itu sudah ada pembeli laki-laki yang sepertinya membeli kartu perdana dan dilayani oleh pegawai counter. Di counter itu selain pegawai yang melayani itu ada pula seorang bapak yang duduk dibelakang meja yang sepertinya seorang pemilik counter tersebut.

Tak begitu lama menunggu sang pemilik counter menyuruh pegawainya untuk mendahulukan saya. Saat si pegawai menunggui saya menulis no HP yang akan diisi pulsa, sang pemilik counter berdiri lalu membantu melayani pembeli laki-laki yang membeli kartu perdana tadi.

Sambil menunggu si pegawai mencet-mencet HP tanda sedang mengetik sms mengisi pulsa, saya mendengar pembicaraan antara pembeli laki-laki disebelah saya dan bapak pemilik counter. Awalnya saya tidak begitu tertarik dengan obrolan mereka, tetapi saat sang pemilik berkata dengan suara keras barulah saya  ke mulai tertarik untuk mendengar dan memperhatikan topik yang sedang mereka bicarakan.

“Sampean beli HP ini, Mas?” seru pemilik counter. Seruannya itu terus terang membuat saya kaget, begitu juga dengan pembeli laki-laki itu. Kekagetan kami sepertinya beralasan sebab kami datang ke counter ini hanya ingin membeli pulsa dan bukan untuk pamer hp.

“Sampean beli HP ini berapa?” tanya pemilik counter sambil membolak-balik HP No*** seri 62** second yang sudah tidak mulus lagi.

“Seratus lima puluh ribu, Pak” jawab laki-laki itu datar.

“Waduh, Mas, sampean kemahalan belinya! HP ini tadi di jual ke saya seharga 80 ribu aja saya tolak”.

Batin saya, siapa juga yang mau jual hp itu ke bapak.

“Kenapa nggak mau, Pak?” tanya si pembeli itu.

“Sini saya kasih tau alasannya..” sambil si bapak membuka casing belakang HP lalu menyisipkan sim card yang baru dibeli didalamnya. “Ini pecah, Mas” si bapak menunjukkan bodi bagian bawah HP yang cuil sedikit. “Yang pecah ini bukan casingnya loh tapi bodinya” sambil si Bapak menunjukkan tempat yang rusak.

Saya yang awalnya berdiri agak jauh pelan-pelan mulai tertarik untuk mendekati pembeli laki-laki itu sambil melihat dan mendengarkan penjelasan dari pemilik counter. Begitu juga dengan pegawai yang melayani saya tadi juga ikut mendekat ke bosnya. Rupanya hal-hal aneh seperti ini mampu menarik orang untuk mencari sebab musababnya, ya..

Biar bagaimana dia adalah penjual HP, tentunya sedikit banyak mengerti seluk beluk ponsel.

“Trus Flash kameranya rusak” lanjut si pak Bos seraya menunjuk kamera. “Okelah barangkali tak seberapa masalah kalau flashnya rusak asal masih bisa dipakai memotret” lanjutnya.” Tapi kalau volume suaranya kecil meski sudah di maksimalkan, gimana? Ini nih dengarkan..” si Bapak menyalakan nada dering.

Seketika saya, pemilik hp, dan si pegawai bebarengan mendekatkan telinga ke hp tersebut. Persis anak kecil yang baru saja menemukan mainan unik, semua dibuat penasaran.

“Nggak kedengaran, Pak” akhirnya saya turut andil dalam obrolan.

“Dengar, mbak, tapi kuuecil” kata si pemilik hp.

Saya manggut-manggut, setuju.

“Lho, Bapak kok tau kalau Mas nya ini baru beli hp?” tanya saya kepada sang Bos. Investigasi dimulai hihi..

“Ya tau dong, Mbak, lha wong tadi yang punya HP ini mau jual ke sini. Tapi saya tolak”

“Kenapa ditolak, Pak?”

“ya nggak berani aja Mbak, lha kondisinya seperti itu..”. “Awalnya dia mau jual hp itu 150ribu. Lalu saya tawar 100ribu dengan syarat saya cek dulu kondisinya. Sama yang punya dikasih. Nah setelah saya cek dan ternyata hasilnya seperti itu saya tawar lagi 80ribu. Dan di kasih sama dia. Setelah nawar 80ribu saya pikir-pikir lagi kondisinya, akhirnya saya memutuskan tidak berani membeli”

“Wah saya kena tipu dong, Pak” kata pemiliknya

“Sampean gak kena tipu, Mas. Salahnya sampean sewaktu beli HP tadi kenapa tidak dicek”

“Soalnya saya sedang nggoreng, Pak. Jadi saya nggak memperhatikan betul-betul”

“Sampean tinggal dimana sih Mas?”

“Di sana, Pak. Saya jual gorengan Bandung” jawab si pemilik HP sambil tangannya menunjuk ke satu arah.

“Sebetulnya dengan harga 150ribu sampean nggak rugi, Mas. Karena memang pasarannya HP itu secondnya segitu, tapi kalau dengan kondisi normal”

Laki-laki itu diam dan termenung. Dan saya kok ikut-ikutan iba melihatnya.

“Lain kali kalau beli HP second hati-hati, Mas. Dicek dulu kondisinya” kata sang Bos.

Sebelum meninggalkan counter, saya kok merasa bahwa seharusnya si pemilik counter itu nggak perlu menceritakan secara detail kepada si pemilik. Ya memang sih memberi informasi yang baik boleh-boleh saja tapi kembali lagi ke status HP itu. HP itu kan sudah dibeli dan gak mungkin dikembalikan lagi sama yang punya. Dan lagi antara pemilik HP dan si Mas yang jual gorengan kan gak saling kenal, trus harus mencari kemana dong?

Kasihan si Masnya, jadi ‘gelo’ dan merasa ditipu. Padahal kalau dipikir-pikir yang salah bukan si penjual HP tapi karena keterbatasan informasi dan budget yang dimiliki si pembeli.