Dibalik layar dunia kefarmasian
Gaya Hidup

Antrian Resep Obat Lama? Cari tau Belakang Layar Dunia Kefarmasian, yuk!

“Duh, paling malas periksa ke Rumah Sakit. Konsultasi dokternya sebentar, tapi antri di Apotiknya yang lama. Gak cuma lama, tapi, luwwamaaaa!”

Begitulah POV seorang anak yang tiap bulan antar orang tua kontrol ke Rumah Sakit.

Bukannya ngeluh, saya menyadari jumlah pasien di rumah sakit sangat banyak. Itung aja ada berapa poli, dan setiap poli ada puluhan orang. Bagi yang rajin kontrol kesehatan pasti sudah hapal alurnya, mulai pendaftaran, absen sidik jari BPJS, antri tensi, lanjut konsultasi dokter. Tahap terakhir dan paling menguras waktu adalah antri resep.

Sungguh, bagian ini yang paling membutuhkan kesabaran total. Ya emang kita hanya duduk di ruang ber-AC dengan signal wifi yang nyaman, tapi selama 3 jam menunggu kerasa juga jenuhnya.

Petugas Farmasi ngapain aja, nyiapin obat lama banget!

Tidak cukup kata untuk mengeluh, terkadang sebel juga melihat pegawai hanya duduk-duduk di depan komputer. Kesannya gak merasa bersalah gitu ditunggu pasien segitu banyak. Sampai-sampai saya pernah bilang gini ke suami, “Ini gak ada kah lowongan volunteer khusus bagian nyiapin obat biar cepet selesai? Resep sudah dibikinin dokter, tinggal masuk-masukin obat ke plastik gitu aja kok lama. Wong ya dikasih obatnya cuma 2!”

Ternyata betul kata orang tua, manusia hidup hobinya sawang sinawang. Secara fisik, mata ini melihat pegawai farmasi kerjanya duduk aja menghadap layar, kadang-kadang sambil buka layar HP lalu mencandai temannya. Sementara di hadapan mereka, ada puluhan orang gelisah menanti panggilan.

Kenyataannya tanggung jawab kinerja farmasi sangat besar, lho. Gara-gara menanti dipanggil nomer yang sulit ditebak durasinya, akhirnya saya iseng mencari tau di internet dengan kata kunci: Mengapa antrian resep di Rumah Sakit lama?

Dari hasil pencarian dengan pemilihan kata kunci asal-asalan dan setengah curhat, akhirnya saya mendapatkan jawaban yang bisa diterima akal saya. Gak pake ngeyel, udah langsung “ooh, ternyata begituu.. pantesan lama”

Menyiapkan Resep Obat Tak Sekadar Memasukkan Obat Dalam Kemasan Plastik

Barangkali bagian ini yang tidak dipahami pasien dan keluarganya. Ketika nomer antrian dipanggil, kita taunya menyebutkan tanggal lahir pasien sebagai syarat penyerahan obat. Selanjutnya petugas farmasi menjelaskan tata cara konsumsi obat.

Dari informasi di internet, saya jadi tau bahwa tahapan menyiapkan resep obat melalui beberapa alur yang mana setiap bagian dikerjakan berbeda orang. Tujuannya supaya tidak ada kesalahan dalam pengambilan obat terutama dosisnya

Setelah menerima resep obat dari pasien, petugas akan mengecek dulu apakah sesuai dengan pasiennya. Apakah obat untuk anak-anak atau orang dewasa agar tidak ada kesalahan dosis.

Selanjutnya dilakukan penyiapan dan peracikan (jika obat racik). Jika obat sudah siap, tahapan selanjutnya melakukan penempelan label konsumsi ke masing-masing obat.

Terakhir tahap pengecekan kembali apakah obat sudah sesuai dengan resep. Jika sudah baru dilakukan pemanggilan.

Meski alurnya mudah, namun kerja kefarmasian membutuhkan ketelitian penuh untuk menghindari kesalahan fatal yang terjadi pada tubuh pasien.

Persatuan Ahli Farmasi Indonesia (PAFI) dan Komitmen Menjunjung Kesehatan Masyarakat Secara Optimal

Dunia kedokteran memiliki andil yang besar dalam mengedukasi masyarakat menjaga kesehatan tubuhnya, tapi jangan lupa bahwa masih ada dunia kefarmasian yang juga berperan besar menjunjung kesehatan masyarakat supaya optimal.

Waktu pelajaran sekolah dulu kita sering mendengar relawan PMI yang sukarela membantu korban dalam mempertahan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Pada saat itulah, Ahli Farmasi Indonesia mengambil peran mensejahterahkan khususnya kesehatan masyarakat dan farmasi.

Website https://pafimalaka.org menjelaskan bahwa PAFI didirikan pada tanggal 13 Februari 1946 di Yogyakarta yang fungsinya sebagai wadah menghimpun Semua Tenaga yang Bhakti Karyanya di bidang Farmasi. Saat ini PAFI yakni organisasi profesi yang bersifat kekaryaan dan pengabdian memiliki cabang di mana-mana, terutama di wilayah kesatuan Republik Indonesia

Tujuan PAFI yaitu mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat Indonesia, mengembangkan dan meningkatkan pembangunan farmasi Indonesia, serta meningkatkan kesejahteraan anggota.

Kabar baiknya, PAFI telah memiliki Call Center HALO PAFI yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mendapatkan informasi dan solusi kefarmasian, diantaranya:

  • Layanan Pengaduan dan Keluhan Kefarmasian
  • Pelayanan Informasi Obat
  • Info Lowongan Kerja Kefarmasian
  • Info Tenaga Teknik Kefarmasian

Nah, teman-teman udah ya jangan ngeluh lagi soal antrian obat yang lama. Jika tidak bisa menunggu lama, antrian obat bisa ditinggal lalu diambil keesokan hari seperti yang biasa saya lakukan. Jadi hemat waktu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *