Aiptu Pudji Hardjanto, Polisi Mbois sahabat Jenazah

Aiptu Pudji Hardjanto, Polisi Mbois sahabat Jenazah. Tampilan Mbois identik dengan gagah, parlente dan wangi yang berjalan ditengah kerubutan manusia dengan penuh pesona. Namun Mbois yang disandang Aiptu Pudji Hardjanto justru terbalik, Ke-mbois-an dirinya dirasa keren bila sedang berada di antara gelimang jenazah yang membutuhkan tangan dinginnya untuk diidentifikasi. Apa pendapat kalian?

Kalau saya gak jadi orang Mbois, gapapa! Gak Pathek’en! Buat apa dandan necis kalau hanya bersinggungan dengan mayat! Hihi..

Aiptu Pudji Hardjanto, Polisi Mbois sahabat Jenazah. Mungkin banyak yang bertanya, apa asiknya mengidentifikasi jenazah sedangkan di luar sana banyak orang menutup hidung menahan gejolak harum yang menyengat. Bagi Pak Djie, panggilan akrab beliau, jenazah dianggap sebuah karya seni. Seni Dinamis yang menyimpan banyak rahasia untuk di korek tingkat mahakarya nya. Hal itulah yang membawa sosok yang karib dengan kacamata hitam memilih menjadi bagian Tim Inafis di Polrestabes Surabaya.

Sejak membaca buku TKP Bicara, nama Aiptu Pudji Hardjanto membayang-bayangi pikiran saya bak hantu bergentayangan. Hanya satu keinginan saya, menjelma dihadapannya dan minta konfirmasi segala hal tentang isi bukunya. Sekaligus juga menggali kepenasaran saya bagaimana seseorang bisa mengkaitkan insting terhadap keberadaan jenazah korban pembunuhan.

Baca Resensi Buku: TKP Bicara, Catatan Aiptu Pudji Hardjanto, mengungkap kasus bermodal Rumput

TKP Bicara 2

Nyatanya, pertemuan saya dan Pak Dji malah keduluan produser Hitam Putih yang menghubungi saya melalui inbox FB, “Mbak, saya mau undang Aiptu Pudji sebagai Bintang Tamu Prog. Hitam Putih, bisa bantu no kontak?”

Yayaya.. sudahlah biarkan Pak Pudji masuk TV dulu, masuk blog saya belakangan haha… kata wong Jowo, Lakon Menang Keri, Bro! 😀

Apa dikata, setelah masuk TV saya malah dapat nomer antrian 799 pakai cap jempol kaki, mengungguli para fansnya yang ingin bertemu beliau. Sempat bersua pun di Polres Tanjung Perak beberapa waktu lalu hanya bisa foto bersama. Itupun dapat foto dengan gaya yang Koplak 😀 Bisa ngobrol cuma sebentar, gak sampai 3 menit putus karena kehabisan koin haha..

2016-06-18_02-37-37

Di Kedai Ketan Punel tadi malam kemenangan telak berada di tangan saya! Pak Djie sukses saya ‘ikat’ di tepi pagar raya Darmo sampai jam 12 malam di temani 2 petugas Polsek Wonokromo. Selama berjam-jam saya interogasi beliau habis-habisan! Setengah tega, saya persilakan secangkir kecil wedang sereh menemani beliau.

Mengenakan kaos hitam lengan panjang, celana jins, dan sepatu corak ular, pemiliki akun FB Djie Saja, saya tuntut menjawab pertanyaan saya. Rambut gondrongnya yang aduhai (kayaknya habis direbonding, deh haha) mengingatkan saya pada Charlie ST 12. Kali ini rejeki saya bisa mengamati wajah sangar beliau tanpa kaca mata hitam. Tuh, kan, saya bilang apa, Lakon Menang Keri, Reeek! 😀

Sebagai Polisi Identifikasi, Pak Djie banyak menyimpan foto hasil olah TKP beberapa kasus kejahatan. Kerajinan Djie mendokumentasikan foto membawa dirinya ke hadapan Kapolrestabes Surabaya yang saat itu dipimpin KombesPol Yan Fitri Halimansyah, untuk menyusun buku tentang pengalamannya melakukan olah TKP. Tak main-main, perintah atasan itu harus Ia selesaikan dalam waktu 2 Minggu! Dibantu Kasatreskrim Surabaya, AKBP Takdir Mattanete, buku itu diserahkan kepada Pak Yan tepat 2 Minggu kendati belum semuanya tuntas.

Baca juga Tentang AKBP Takdir Mattanete, Kasat Reskrim Surabaya dan sosok Polisi Wangi

2016-06-18_02-38-08

Rupanya, trik Pak Yan melecut semangat anggotanya untuk berkarya, membawa sisi kebaikan yang tak terduga bagi Pak Djie. Buku yang awalnya di beri judul “Aku Bukan Siapa-siapa” yang kemudian melalui tahap revisi sebanyak 5 kali plus penggantian judul menjadi TKP Bicara, menunjang popularitas dan rejeki bagi diri orang tua Rizki dan Mentari.

Bukan tak mudah menerbitkan sebuah buku, beragam pertentangan diterima Djie dari berbagai kalangan, terutama dari institusinya sendiri. Bila kita baca buku TKP Bicara, sangat jarang kita temukan istilah-istilah ilmiah tentang identifikasi. Justru di buku itu lebih banyak kita dapatkan cerita seputar kisah dibalik pengungkapan kasus pembunuhan. Itulah yang menjadi perdebatan karena isi buku itu dianggap tidak memiliki dasar. Djie pun tak tinggal diam, Ia merasa buku TKP Bicara diperuntukkan bagi pembaca non akademis sehingga Ia menulis segalanya dengan bahasa yang mudah dipahami.

Baca juga Kombes Pol Yan Fitri Halimansyah: Jadi Polisi karena takut Polisi

Sebagai pembaca non akademis, saya merasakan benar manfaat buku TKP Bicara, karena dari sanalah saya memahami TKP detail, cara membaca jejak, dan merangkai bukti.

“Berkembanglah kamu, tanpa melanggar hal yang ditentukan” – Djie Saja

Buku TKP Bicara menunjukkan bahwa sebenarnya tim Identifikasi berperan besar MEMBANTU mengungkap sebuah kasus. Berdasar fakta dan TKP, pelaku kejahatan mudah dikenali walau sangat disayangkan bagian Identifikasi jarang mendapat publikasi. Selama ini kan, masyarakat hanya tau, dan media selalu menyorot kegiatan Polisi sedang menangkap pelaku, padahal dibalik itu ada proses besar yang telah dilewatkan, yaitu identifikasi. Dari buku TKP Bicara lah terkuak tugas iden ternyata tidak mudah.

Momen Gokil bersama Pak Djie di Kantor Polres Tanjung Perak
Momen Gokil bersama Pak Djie di Kantor Polres Tanjung Perak

Setiap melihat Pak Djie tak pernah sekalipun memakai seragam dinas Polisi. Ketika saya tanya tentang seragam, Pak Djie malah tertawa. Ia mengaku sudah jarang memakai seragam Polisi. Semenjak bertugas menjadi serse dan Iden, seragam tak lagi sering menempel di badannya. Lucunya, anak-anak Pak Djie malah tidak tau bahwa Papa nya ternyata seorang Polisi!

Ketika saya tanya apa harapan menjadi seorang Polisi ‘tanpa seragam’, Pak Djie menjawabnya, “Saya tidak ingin menjadi Polisi Sukses, Saya ingin Menjadi Polisi Baik”

Ada sepercik keanehan yang saya dapat dari jawabannya. Di saat orang lain berlomba ingin menjadi orang sukses, justru seorang Djie, malah ingin menjadi orang baik. Lihat saja bagaimana Ashoka selalu terkendala masalah karena menjunjung tinggi asas kebaikan. Sedangkan di pihak Sushima, dia lebih mendapatkan kemenangan karena mengejar kesuksesan dan jabatan.

“Buat saya Polisi Baik akan dikenang baik kalau perbuatannya baik. Kalaupun tidak mendapat kebaikan, saya anggap buah jatuh di tempat yang salah”

Mumpung di hadapan Pak Djide, iseng saya bertanya tentang ‘kejahatan’ lalu lintas seperti menanggalkan helm saat berkendara. Ternyata kejadian ditilang Polisi kerap dilakukan putranya sendiri, Rizki, sepulang sekolah di SMAN 2 Surabaya. Usia 18 tahun belum memiliki SIM merupakan kenakalan remaja. Di saat teman-temannya kena tilang, Rizki pun menyerahkan diri untuk ditilang. Teman-temannya bilang, “Bapakmu kan Polisi, kok mau ditilang?”, jawaban Rizki, “Justru kalau gak ditilang, saya kena marah Bapak!”

Lebih lucu lagi, ada Polisi yang hapal kelakuan Rizki sering kena tilang lalu lapor ke Pak Djie, “Djie.. Djie.. lain kali selipkan fotokopi KTA mu di STNK, biar kami gak nilang” Pak Djie tertawa dan menjawab, “Tilang ya tilang aja. Tinggal bayar kok!”, Di balas oleh rekannya, “Duit gajimu berapa, bisa-bisa habis dipakai bayar tilang” haha..

Pernah pula nama Pak Djie dijadikan taruhan ponakan agar lolos dari tilang. Mendapat laporan dari rekannya, Pak Djie malah minta saudaranya agar ditilang. Alasannya sepele, “Ketika saya tugas di pelosok dengan segala kekurangan, apa mereka membantu saya? Ketika saya bekerja berat dan susah, saya gak minta bantuan mereka. Tapi ketika mereka berurusan sama Polisi kok minta saya selesaikan? Saya mau bantu kalau posisi mereka benar. Kalau salah, ya tilang aja..”

Aiptu Pudji Hardjanto, Polisi Mbois sahabat Jenazah mengakui dirinya tidak pernah merasa takut hantu. Bagi Djie, rasa takut hanyalah khayalan, khayalan yang membentuk imajinasi dalam bentuk hantu. Saat bersinggungan dengan jenazah, Djie merasa mereka adalah kawannya. Ia lebih tega melihat orang mati ketimbang orang sakit. Menurut Djie, Orang hidup pasti mengalami kematian, sedangkan tidak semua orang hidup mengalami sakit. Alasan itu yang membuat Djie takut melihat jarum suntik dan selang infus.

Momen bersama Pak Djie di Gapura Surya. Merasa aman ditemani Polisi Mbois :D
Momen bersama Pak Djie di Gapura Surya. Merasa aman ditemani Polisi Mbois 😀

Ngobrol dan bicara panjang lebar dengan Pak Djie menjadi kesenangan tersendiri. Pribadinya yang sederhana dan santai menanggapi persoalan mampu menarik magnet tiap orang berkawan dekat dengan beliau. ‘Kepolisiannya’ tidak membatasi pergaulannya terhadap siapa saja. Saya jadi makin yakin, dibalik satu Polisi brengsek, ada sejuta Polisi baik yang menjaganya. Sukses selalu untuk Pak Djie dan keluarga…

Resensi Buku: TKP Bicara, Catatan Aiptu Pudji Hardjanto, mengungkap kasus bermodal Rumput

TKP Bicara

Judul: TKP Bicara
Penulis: Aiptu Pudji Hardjanto
Penerbit: PT. Revka Petra Media
Tahun Terbit: Juli 2015
Tebal: 250 halaman

Resensi Buku: TKP Bicara, Catatan Aiptu Pudji Hardjanto, mengungkap kasus bermodal Rumput – Dalam salah satu tayangan FOX Crime, seorang anggota CSI berhasil mengungkap kasus pembunuhan setelah menemukan bekas tapakan di atas rumput. Padahal pembunuhan sendiri dilakukan di dalam ruangan yang sama sekali jauh dari rumput berada. Belakangan diketahui ada bekas rumput tercerabut di sepatu pelaku. Disitulah kemudian kejahatan mulai terungkap.

Di dunia kriminalitas, rupanya rumput berperan besar membantu pengungkapan sebuah pembunuhan. Kedengarannya sepele, apa bagusnya rumput? Eh, jangan main-main sama rumput, Rumput tetangga pun kalau hijaunya berbeda bisa jadi panjang urusannya.. apalagi urusan yang menyangkut Ibu-Ibu, pakai ditanya pula belinya dimana, caranya nanamnya gimana, harganya berapa, lanjut deh jadi bahasan di Arisan RT, Hiks!

TKP Bicara

Di tangan Aiptu Pudji Hardjanto, sebuah rumput bisa menjadi barang bukti mengungkap kejahatan. Semua itu dituang dalam bukunya berjudul TKP Bicara.

Siapa Aiptu Pudji Hardjanto? Saya yakin dunia literasi tidak mengenal nama beliau. Memang, Aiptu Pudji Hardjanto bukan sosok penggiat literasi, beliau adalah seorang anggota Unit Identifikasi Polrestabes Surabaya. Yes, Aiptu Pudji Hardjanto adalah Polisi. Polisi yang menceritakan perjalanan hidupnya ke dalam sebuah buku.

Suatu siang saya mendapat hadiah buku berjudul TKP Bicara dari Polisi Wangi, Bapak AKBP Takdir Matanette. Buku tersebut merupakan karya anggota Reskrim Polrestabes Surabaya bernama Aiptu Pudji Hardjanto. Begitu diserahkan oleh Om Nette Boy, hal pertama yang saya lakukan adalah memperhatikan gambar cover depan dan membaca sinopsis cover belakang, persis yang selama ini saya lakukan saat akan membeli buku.

Setelah membaca sinopsisnya yang hanya separagraf, saya merasa, buku ini buku bagus. Komentar bagus teramat umum, lebih tepatnya menarik.

Sejak pulang dari Atambua, Aiptu Pudji Hardjanto mendapat tugas baru, yakni mengurus mayat. Bukan mayat biasa, melainkan mayat korban pembunuhan. Anggota unit Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis) Jawa Timur ini boleh dibilang menguasai apa yang disebut Jeffrey Deaver dalam novel-novel kriminalnya: hukum pertukaran materi. Bahwa ketika terjadi sebuah peristiwa kriminalitas, selalu terjadi transfer materi. Banyak kasus pembunuhan maupun tragedi kemanusiaan berhasil diungkap Aiptu Pudji. Cara mengungkapnya pun tidak biasa dan unik, malah terkesan sepele. Bagaimana bisa?

Dihadapan Om Nette Boy, plastik buku itu langsung saya sobek. Dengan sekali belah, halaman buku itu terbuka acak. Sekilas, rangkaian kalimatnya bagus, penyusunan bahasanya mudah dipahami. Sekali duduk, dua lembar halaman seketika berpindah ke kepala saya.

Sinopsis Buku TKP Bicara

Buku TKP Bicara berisi catatan perjalanan seorang Aiptu Pudji Hardjanto saat menjalankan tugas menjadi anggota Kepolisian. Usai menamatkan pendidikan Bintara Militer Sukarela Polri tahun ajaran 1993 – 1994, Ia mendapat tugas pertamanya di Polres Belu, Polda NTT. 3 bulan kemudian, Aiptu Pudji di tugaskan di Polsek Haekesek, Desa Tohe, 60 kilometer sebelah Timur Kota Atambua sebagai Kanit Resintel.

“Darah Kita, isi perut kita, hati kita, otak dan pikiran kita, bahkan kegilaan kita sama, karena kita dilahirkan dan ditakdirkan sebagai anggota Polisi”

Kehidupan di Polsek Haekesek menempa Aiptu Pudji hidup serba apa adanya. Di sini pun Aiptu Pudji menambatkan hatinya kepada sosok wanita asal Bali yang kemudian berhasil Ia pinang.

Tak lama tugas di Polsek Haekesek, Aiptu Pudji dipindah tugas ke Polsek Biudukfoho, lokasinya jauh di pelosok, jaraknya 160 kilometer dari Polsek Haekesek. Tidak ada listrik, jauh dari sumber air, alat komunikasi satu-satunya menggunakan SSB (radio komunikasi). Yang tampak menonjol dari gedung Polsek Biudukfoho adalah atap seng, berdinding anyaman batang lontar. Bersama ke 4 rekannya (Polsesk Biudukfoho dihuni 6 orang termasuk Aiptu Pudji dan Kapolsek), Aiptu Pudji merangkap jabatan sebagai anggota Babinkamtibmas.

Keminiman fasilitas di Polsek Biudukfoho membuat Aiptu Pudji akrab terhadap siapa saja, salah satunya adalah Piter Napa, seorang pemburu binatang dan petani.

Bagi Aiptu Pudji, Piter Napa merupakan sosok luar biasa yang berjasa dalam hidupnya. Dari Piter Napa, Ia belajar banyak bagaimana cara berburu binatang, membaca arah larinya binatang, juga membaca jejak hewan buruan. Yang paling utama dari teori Piter Napa adalah ilmu mencari jejak rumput, tanah, ranting, daun, dan sebagainya.

Meski berawal dari belajar berburu binatang, namun teori Piter Napa berhasil diaplikasikan oleh Aiptu Pudji untuk membaca jejak ‘target’ kasus pembunuhan yang dilakukan oleh manusia. Hasilnya, rata-rata kasus pembunuhan bisa diungkap oleh Aiptu Pudji. Tak hanya diungkap, Aiptu Pudji juga canggih membaca gerak pelaku saat menghabisi korbannya, kendati belum mendapat pengakuan langsung dari pelaku. Semua itu Ia baca dari hasil olah TKP yang dilakukannya.

TKP Bicara 1
Berdoa, rutinitas wajib Sebelum olah TKP

Kasus pembunuhan yang pertama kali diungkap Aiptu Pudji adalah ditemukannya mayat tak jauh dari sungai di wilayah Polsek Biudukfoho. Selama bertugas di Polsek Biudukfoho, jarang sekali ditemukan kasus pembunuhan, kecuali pencurian hewan ternak. Namun penemuan kali ini benar-benar ujian bagi Aiptu Pudji, sekaligus ‘ngetes’ teori Piter Napa dalam menangkap manusia ‘buruannya’.

Bagi yang suka membaca detektif, bab ini cukup seru diikuti, termasuk bagaimana Aiptu Pudji bermalam sendiri hanya ditemani jenazah yang belum ditemukan pelakunya. Rekan Aiptu Pudji yang lain bukan tidak membantu, tetapi mereka juga harus riwa-riwi dari TKP ke kantor Polsek. Kondisi medan yang berat dan jauh, membuat anggota yang lain bekerja sendiri.

Malam itu, sambil mengamati sosok jenazah, Aiptu Pudji berusaha mencari jejak pelaku. Yaitu dengan meneliti rumput satu persatu. Tak butuh waktu lama, Aiptu Pudji langsung menemukan pelakunya, walau masih dalam taraf menduga, namun insting Aiptu Pudji sudah meyakini siapa pelakunya.

“Pembunuh pasti penasaran melihat hasil karyanya. Dia pasti kembali ke tempat semula. Sekedar memastikan jejaknya agar tidak terlacak”

Dalam bab ini, pembaca seakan diajak turun langsung ke lokasi TKP. Pembaca juga diajak berlelah-lelah jalan kaki mengirim pelaku ke Polres Belu hanya dengan diikat ke punggung mengunakan tali lasso selama 11 jam!

Review Buku TKP Bicara

Banyak pelajaran yang diambil dari Buku TKP Bicara. Buku TKP Bicara mengajarkan kepada kita semua bahwa se- profesional apapun seseorang menutupi kejahatan, kebenaran akan terungkap. Pengalaman Aiptu Pudji membuktikan bahwa mayat adalah seni dinamis yang bisa berbicara. Dalam diamnya, mayat dan TKP bersinergi memberi kekuatan membantu mengungkap sebuah kasus. Dan satu lagi yang berperan membantu kesuksesan Aiptu Pudji mengungkap kasus, yaitu Insting.

TKP Bicara 5

16 cerita yang ditulis Aiptu Pudji, hampir semuanya memanfaatkan Insting. Di saat rekan dan pimpinannya hampir menyerah, Insting Aiptu Pudji berusaha bermain logika. Yah.. kadang-kadang antara Ngeyel dan Pantang Menyerah, bedanya seperti seutas rambut, tipiiiss.. *tergantung merk shamponya juga, sih* 😀

TKP Bicara 4
Foto Aiptu Pudji sedang melakukan identifikasi jari korban Pesawat Air Asia

Dalam bukunya, Aiptu Pudji tak melulu membahas dunia forensik, kejadian seperti ditinggal timnya berangkat ke TKP sehingga Ia harus menyusul naik motor sendirian dan kehujanan, memenangkan sayembara dari pimpinannya yang hampir menyerah mengungkap kasus, bersikeras antar rekan yang saling tak mau berdiri mengangkat telepon akibat kelelahan sepulang olah TKP, hingga mimpi (yang dirasakan nyata) akibat melempar jenazah orang tua yang alim. Kejadian yang terakhir menjadi pelajaran mahal, bahwa betatapun itu jenazah, ada hak untuk dirinya diperlakukan secara wajar dan mendapat penghormatan yang baik.

TKP Bicara 3
Diam dan terpekur sendiri adalah ciri khas Aiptu Pudji dalam mengolah insting. Siapa sangka kalau di bawah paving ternyata terdapat mayat?

“Saya lebih menikmati aroma pembusukan jenazah daripada bau formalin yang menyesakkan” TKP Bicara halaman 178

Membaca Buku TKP Bicara, tanpa sadar saya langsung bisa menebak karakter Aiptu Pudji. Gaya tulisan Aiptu Pudji sangat begitu hati-hati menuangkan kata-kata. Dugaan saya sih, Aiptu Pudji berusaha tidak menakut-nakuti pembaca. Sebab selain tulisan, Aiptu Pudji juga menyertakan foto-foto dirinya beserta foto korban (yang tentu saja di blur). Aiptu Pudji adalah sosok yang tak gampang menyerah dan mudah bergaul. Ia juga seorang negosiator ulung, dengan menggaris depankan kebijakan. Semoga saja tebakan saya benar, saya belum ketemu orangnya, juga 😀

Buku TKP Bicara berisi catatan perjalanan Aiptu Pudji mengungkap kasus pembunuhan di Surabaya diantaranya Pembunuhan Bos Keramik, Pembunuhan Mahasiswi Akper yang direkayasa seperti bunuh diri, Pembunuhan karyawati cantik yang TKP nya di rusak sehingga mengesankan korban bunuh diri, membongkar mayat dalam tabung, dan kisah lainnya lagi.

Kekurangan buku ini terdapat judul yang ditulis tanpa menggunakan spasi. Entah di sengaja tanpa spasi atau editornya kelewatan, saya tidak paham. Untuk kesalahan tulis hampir tidak ada.

TKP Bicara 6
Judul tanpa spasi

Buku TKP Bicara cocok bagi pembaca buku/novel detektif. Oh, yang suka baca novel biografi pun bisa juga!. Tenang saja, buku TKP Bicara tak seseram yang kalian bayangkan, kok. Justru menariknya kita bisa belajar cara mengolah sebuah insting. Walaupun kategori non fiksi, namun Aiptu Pudji mengajak pembaca untuk menyelami dunia identifikasi. Sejatinya dunia identifikasi tidak serumit yang kita duga, bagi Aiptu Pudji yang paling penting adalah ketelatenan dan ketelitian.

TKP Bicara 2
Sama-sama Mbois, Hayo tebak, yang mana komandannya? 😀

Bagi yang ingin memiliki buku TKP Bicara bisa mendatangi toko Buku Petra Togamas dengan harga per ekslempar Rp. 100.000,-. Kalau mau ringkes lagi, saya bantu koordinir, minimal 3 buku ya biar irit ongkirnya 🙂

Go Top