Blogging · Wajah Surabaya

THR Surabaya dan Kesenian Ludruk yang membutuhkan perhatian

Siapa yang pernah nonton Srimulat? Saya yakin ada anak 90-an disini yang langganan sabar, menanti jam 10 malam hari Jumat di Indosiar. Menunggu Gogon yang badannya fleksibel. Tertakjub-takjub dengan cincin akiknya Tessy. Atau berteriak histeris lihat drakula di atas panggung dengan permainan cahaya menyeramkan. Coba kalau masih ingat sebutkan nama-nama pelawak Srimulat. Tiga nama saja!

Srimulat, Ludruk, dan Wayang Orang merupakan sekian kesenian yang saya sukai. Terutama bahasa dan dialeknya. Lebih mudah memahami alurnya ketimbang terkantuk-kantuk menonton wayang kulit. Meskipun semuanya masuk dalam ranah budaya yang harus dilestarikan.

Hari Jumat minggu lalu saya kangen THR. Sangat kangen karena THR adalah tempat yang indah. Indah menurut saya, ya. Dan kalau ingat THR, pasti tidak lupa dengan gedung Srimulat nya.

“Tessy, Kadir, Basuki, Mamiek, itu dulu hidupnya di sini, Mbak..” obrolan yang membuat saya semangat menarik kursi mendengarkan suara Pak Rogo yang samar-samar berkompetisi dengan derasnya hujan. Continue reading “THR Surabaya dan Kesenian Ludruk yang membutuhkan perhatian”