Halal bihalal blogger dan launcing buku

Jadi sedih dan kasian melihat blog ini gak diupdate-update. Berhubung saya masih sibuk ngejar tantangan #30HariNonStopNgeblog di Blogdetik maka agak terlantarlah blog ini. Maafkan yaa..

Seharusnya postingan ini sudah harus tayang seminggu yang lalu, berhubung karena gak sempat-sempat nulis jadilah molor sebegini lama. Nggak papa kan ya? Dari pada nggak sama sekali hehe..

Ini cerita tentang kopdar kemarin. Kopdar sekaligus merayakan miladnya Pakde sang Komandan Blogcamp, sekaligus halal bihalal, sekaligus juga launching buku *haiya banyak banget sekaligusnya*.

Bertempat di Rumah Makan Bu Cokro,  kawasan Jl. Dharmahusada, acara ini berlangsung cukup meriah. Tamu undangan yang datang dari penjuru Jawa Timur antusias menghadiri undangannya Pakde.  Mulai dari Yogja, Jombang, Pasuruan, Sidoarjo, dan Surabaya sendiri. Barangkali masih ada kota lain yang belum saya sebutkan?

Tepat jam 10, belum banyak undangan yang hadir. Hanya ada Pakde, Budhe, Kang Yayat, saya dan suami. Sambil menunggu tamu-tamu datang, Pakde, Kang Yayat dan suami sibuk mengatur kursi yang digunakan untuk launching buku. Sedangkan saya bersama Budhe sibuk mengisi souvenir.

Tak lama kemudian satu persatu tamu datang. Ada Mbak Rahmah chemist dan suami, Inge sekeluarga,  Mbak Nunu El Fasa, Mbak Titi Surya, Niar, Mas Rudi Belalang cerewet  dan keluarga yang datang jauh dari Bogor, Mbak Elsa tantenya Dija, ada Asmie juga, teman SMP saya dulu, kopdar sekaligus reuni deh hehe..  dan masih banyak yang lainnya..

Acara pertama adalah pembukaan yang dibawakan langsung oleh sohibul hajat, Pakde Cholik. Di sela sambutannya, Pakde menceritakan tentang trilogi buku yang dilaunching hari itu. Pakde juga mengompor-ngompori agar blogger semangat menulis supaya nantinya bisa menerbitkan buku. Wah, inspiratif sekali sambutan Pakde ini..

Setelah Pakde, Mas Rudi juga turut serta memberikan wejangan. Sebagai penerbit buku Pakde, Mas Rudi mengceritakan proses awal mula hingga akhir sehingga bukunya Pakde terbit pada waktunya.

Untuk memeriahkan acara, Pakde juga mengadakan acara lomba puisi. Puisi yang dibacakan adalah bukunya Pakde sendiri. Saat Mbak Titi Surya membacakan puisi saya senang mendengarnya. Sebab Mbak Titi begitu mendalami. Intonasinya juga dapat. Iramanya pun sesuai dengan tanda bacanya, kereeen Mbakk..

Kata Pakde, kopdar gak makan itu rasanya kecut. Setelah lomba puisi kemudia sesi tanda tangan buku, para tamu lain dipersilakan untuk menikmati hidangan. Hmm.. nikmat-nikmat hidangannya.. sembari menikmati hidangan saya pun ngobrol bersama emak-emak blogger.

Di akhir acara waktunya sesi foto-foto.. karena kopdar kali ini pesertaya sangat banyak, jadilah sesi fotonya gak bisa kena semua.. lihatlah saya, berada dipaling atas, hiks.. muka imut saya gak kelihatan.. 😀

Dan biarlah foto-foto ini yang bicara:

Seksi souvenir :D
Seksi souvenir 😀
Bersama Emak-emak blogger
Bersama Emak-emak blogger
Narsis bersama banner buku
Narsis bersama banner buku

 

Pakde memberi instruksi kepada Pak Muhaimin dan Mas Rudi belalang cerewet. Gimana, sudah paham Bapak-bapak? :D
Pakde memberi instruksi kepada Pak Muhaimin dan Mas Rudi belalang cerewet. Gimana, sudah paham Bapak-bapak? 😀
Bella dan kue ulang tahun
Bella dan kue ulang tahun
Sesi foto keluarga
Sesi foto keluarga
Menerima souvenir. Asiiik.. dapat buku trilogi dari Pakde :D
Menerima souvenir. Asiiik.. dapat buku trilogi dari Pakde 😀 Foto: Pak Muhaimin
Karena saat foto bersama, muka saya gak kelihatan, jadi saya pasang pose chibi-chibi aja ya.. :D
Karena saat foto bersama, muka saya gak kelihatan, jadi saya pasang pose chibi-chibi ini aja ya.. 😀  Foto: Tante Elsa                                                                     

Lebaranku, memanfaatkan moment dan silaturrahmi

Seperti tahun kemarin, Lebaran tahun ini saya dan Suami memutuskan tidak mudik lagi. Biasanya setiap lebaran saya mudik ke rumah orang tua Suami di Jakarta. Tapi tahun ini alasan tidak mudik saya masih sama seperti sebelum-sebelumnya yaitu mepetnya pengumuman libur. Dan lagi membeli tiket kereta mepet-mepet begini sulitnya minta ampun. Jadilah lebaran tahun ini kami habiskan di Surabaya sembari berkunjung di rumah Saudara dan nenek yang ada di Jombang.

Diakhir-akhir bulan Ramadhan adalah waktu sibuknya umat Islam untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berbau lebaran. Pada saat sibuk itulah biasanya banyak ditemukan momen unik demi menyambut datangnya Hari Fitri. Karena lebaran tahun ini sangat spesial yaitu bersamaannya umat Islam merayakan Idhul Fitri juga karena saya belum pernah melakukan sesuatu yang unik.

Hunting Foto

Memang agak aneh sih, lebaran-lebaran kok malah dipakai buat hunting foto. Ya, bagaimana lagi menjelang lebaran momen seperti ini kan sangat berharga banget buat mendapatkan jepretan yang unik-unik. Kapan lagi bisa melihat pemandangan orang mudik dengan bawaan full kalau tidak pas momen lebaran seperti ini 😀

Supaya saya juga bisa merayakan Idhul Fitri, kegiatan hunting foto itu saya lakukan sehari menjelang lebaran. Pada hari puasa terakhir, pagi-pagi sekali saya dan suami mendatangi terminal Purabaya.

Mau pergi kemana?

Nggak kemana-mana. Cuma duduk-duduk sesekali hilir mudik ngeliatin orang mudik!

Iseng banget!

Memang. Kalau gak waktu lebaran kapan lagi bisa punya koleksi foto orang mudik 😛

Disana kami tak hanya melihat bis-bis yang berjajar tapi juga repotnya seorang porter yang membantu bawaan pemudik. Yang membuat kasian adalah kalau melihat porter yang sudah tua membopong bawaan pemudik yang jumlahnya melebihi kewajaran. Ada juga calo penumpang yang semangat menawarkan bis kepada pemudik. Saking semangatnya mereka sambil berteriak-teriak dan memaksa calon penumpag untuk segera naik ke bus.

Porter sedang mengemban tugas
Porter sedang mengemban tugas

Merayakan lebaran bersama Tetangga dan Saudara

Besoknya, pada hari H Idhul Fitri, seusai Sholat Ied di lapangan, saya dan Suami makan dengan menu khas lebaran Ibu saya, yaitu nasi kuning lengkap dengan lauk ayam, sambal goreng tempe, srundeng serta telur ceplok yang diiris-iris memanjang. Sebelumnya, malam-malam diiringi suara takbir di masjid Ibu saya getok-getok didapur untuk memotong ayam. Sambil memotong ayam Ibu saya bercerita bahwa Emak Ibu (nenek saya) kalau lebaran begini biasanya juga selalu memotong ayam yang jumlahnya cukup banyak, menurut Ibu, nenek sengaja membuat banyak masakan untuk dibagi-bagikan ke tetangga  seusai sholat Ied. Hmm.. momen berdua inilah yang saya suka dan pastinya akan menjadi kenangan tak terlupa. Mungkin suatu saat saya juga akan mengikuti tradisi yang dilakukan nenek serta Ibu saya.

Rupanya lebaran di Surabaya tak selalu sepi. Buktinya belum juga sejam usai bubaran Sholat Ied, rumah saya sudah kedatangan banyak tamu untuk bersilaturrahmi. Mereka ini adalah tetangga yang akan berangkat mudik. Selesai satu tamu berlanjut dengan tamu-tamu lainnya. Bak air mengalir, rumah saya tak pernah sepi tamu ditambah lagi dengan kedatangan kakak serta saudara yang mengajak istri dan anaknya kerumah membuat suasana ramainya luar biasa.

Saat tamu sudah agak sepi, bergantian saya yang mengunjungi rumah tetangga. Berkeliling dari satu rumah kerumah lainnya yang senantiasa terbuka menerima siapa saja yang datang.

Kumpul bersama saudara dan keponakan
Kumpul bersama saudara dan keponakan
Narsis bersama keponakan. Manda, Salsa, Bima dan Titha
Narsis bersama keponakan. Manda, Salsa, Bima dan Titha

Hingga menjelang malam, suasana rumah dan jalanan masih tampak ramai sehingga saya dan kakak-kakak lainnya yang menginap dirumah harus berdiri ditengah jalan untuk bersalaman dengan tetangga-tetangga yang lewat.

Mudik ke Jombang dan silaturrahmi dengan sahabat blog

Pada lebaran kedua barulah kami sekeluarga mudik ke Jombang, ke rumah nenek dari Ibu saya. Selama di perjalanan, memanfaatkan momen tetap kami lakukan yakni dengan memotret apapun yang kami anggap unik. Mulai macetnya jalanan, Pak Polisi yang sibuk mengatur lalu lintas, hingga memotret pemudik yang menggunakan segala cara demi bisa berkunjung ke rumah orangtua dikampung.

11-12 dengan situasi di Surabaya, suasana di Jombang juga sangat ramai. Walaupun badan terasa lelah karena 2 hari bangun pagi dan tidur menjelang malam pun tak sempat kami rasakan. Pencampuran rasa itu telah melebur dan berbaur manis membuahkan kebahagian dan keceriaan. Kerinduan terhadap sanak saudara terbayar sudah dengan berkumpulnya semua saudara. Ah, indahnya..

Disela-sela bertemu keluarga di Jombang itu saya juga sempatkan berkunjung ke rumah seorang teman blog. Siapa lagi kalau bukan senior saya yaitu Pakde Cholik. Yah, seorang blogger yang menetap di Surabaya tetapi lahir di kota Jombang. Saya yakin semua sudah pada tau itu. Pada saat itu Pakde memberitau saya kalau besoknya akan ada tamu blogger asli Jombang tapi tinggalnya di Jogya akan bertamu ke rumah Pakde juga adalah Pak Ahmad Muhamimin Azzet.

Kopdar blogger Hari Raya bersama Pakde dan Pak Muhaimin Azzet
Kopdar blogger Hari Raya bersama Pakde dan Pak Muhaimin Azzet

Benar saja, ketika keesokan harinya saya kerumah Pakde lagi, Pak Muhaimin beserta istri sudah hadir duluan. Seperti kopdar-kopdar yang lalu kami bercengkerama panjang lebar mengenai dunia perbloggingan, dunia tulis menulis dan sedikit menyinggung soal agama, sebab tamu kita satu ini adalah seorang ustad. 

Setelah kopdar itu kami langsung cap cus ke Surabaya. Ah, lebaran yang indah, dan kopdar yang menyenangkan. Jarang-jarang bisa unjung-unjung sekaligus kopdar dengan teman blogger pada saat lebaran seperti ini, yang ada mereka pada sibuk mudik ke kampung halamannya masing-masing, berkumpul keluarga sembari makan kue lebaran.

Ini cerita lebaranku, mana cerita lebaranmu? 🙂

Ketupat, tradisi Islam yang membudaya

Beberapa hari lalu saya bersama tetangga membuat ketupat. Kebiasaan kami, membuat ketupat dilakukan berbarengan, biasanya sepasaran atau lima hari setelah lebaran Idhul Fitri. Jadi tak heran bila setelah ketupat matang kami saling mengirimkan secara bergantian.

Pagi-pagi tetangga saya sudah memulai membuat ketupat didepan rumah. Iseng-iseng membantu, saya pun diminta Ibu membuat untuk dipakai sendiri juga. Pemandangan ini membuat siapa saja yang lewat didepan kami mau tak mau berhenti.  Ada yang sekedar melihat tapi ada juga yang ingin diajari membuat ketupat. Saat itulah tiba-tiba ada salah satu tetangga, sebut saja Bu A, berkata begini:

“Ketupat itu bukan ajaran Islam. Di Arab gak ada orang bikin ketupat. Cuma di Jawa aja yang bikin ketupat. Lihat saja di Papua gak ada yang bikin ketupat” dengan nada agak-agak sinis begitu.

Tak mau ketinggalan, tetangga lainpun menjawab “Siapa bilang, di Sumatera ada yang bikin ketupat”

Saya yang secara langsung mendengar perdebatan ini tak mau menambah ucapan. Cukup saja mendengarnya walau dalam hati sebetulnya ingin meluruskan. Tapi buat apalah, wong saya sendiri bukan orang lurus. Dan lagi usia saya jauh dibawah mereka.

Sebenarnya sah-sah aja bila Bu A mengatakan demikian. Kenyataannya memang Islam tak menganjurkan untuk membuat ketupat saat lebaran. Begitu juga Nabi SAW tak pernah menyuruh umatnya membuat ketupat. Pun di Arab tak ada tradisi membuat ketupat. Tradisi Ketupat (setau saya) hanya ada di Pulau Jawa. Kalau penduduk luar Jawa ada yang membuat ketupat mungkin mereka orang Jawa yang pindah ke luar Jawa Atau mereka memiliki darah Jawa. Kalaupun kedua alasan itu tak masuk hitungan, tak ada salahnya juga mereka membuat ketupat.

Bila ditelisik lebih jauh Masyarakat Jawa memiliki banyak sekali tradisi/upacara yang berseberangan dengan ajaran Islam. Salah satunya tradisi membuat ketupat. Bila kita melihat sejarah masuknya agama Islam di Pulau Jawa kekayaan tradisi tersebut dibawa oleh para ulama waktu itu sebagai alat penyebaran agama Islam di Pulau Jawa, salah satunya satu dari 9 Wali yakni, Sunan Kalijogo.

Menurut sejarah, Sunan Kalijogo memiliki cara berbeda dalam menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Mengingat pada waktu itu banyak masyarakat Jawa yang masih percaya akan hal-hal mistis. Lihat saja berapa banyak ‘alat’ yang digunakanSunan Kalijogo dalam mempengaruhi masyarakat Jawa ketika itu dan masih digunakan hingga sekarang. Sebut saja Wayang kulit, Gamelan, Lagu Lir-ilir, gundul-gundul pacul yang liriknya memiliki makna sangat dalam terhadap nilai-nilai kehidupan.

Begitu pula dengan penggunaan istilah, sejak dulu hingga sekarang banyak istilah-istilah Jawa yang diambil dari potongan-potongan bahasa Jawa yang kemudian dipakai hingga sekarang. Misalnya: Kupat Santen yang dipanjangkan menjadi Kulo lepat nyuwun ngapunten. Yang artinya kurang lebih begini, Saya salah minta maaf. Umumnya kupat atau ketupat dihidangkan dengan sayur berkuah menggunakan santen, seperti di Surabaya sayur ketupat menggunakan manisa (labu siam) yang dimasak sambal goreng dengan kuah santan.

Tradisi di Jawa ketupat disandingkan bersama lepet/lepat, sejenis makanan dari ketan yang dibungkus dengan janur dengan 3 tali dibadannya. Dengan lepat ini diharapkan dosa-dosa kita terampuni. Seperti arti kata lepet/lepat sendiri yang berarti salah.

Barangkali tradisi-tradisi seperti itu tak hanya ada di Pulau Jawa. Di pulau-pulau lain diluar Jawa saya yakin juga memiliki tradisi khas di masing-masing daerah yang memiliki cara tersendiri dalam mengaplikasikannya. Kekayaan tradisi-tradisi tersebut seyogyanya tak digunakan sebagai ajang perdebatan. Lebih indah bila kita menghormati kepercayaan masing-masing sehingga suasana kehidupan dalam berbangsa menjadi selaras dan harmonis. Karena tradisi-tradisi yang masih dijalani tersebut pada intinya mengajarkan kita semua akan arti kebersamaan dan silaturrahmi.

Error!

Kesalahan terbesar seorang blogger adalah kurang konsisten memposting tulisan. Itu memang benar. Dan saat inilah yang sedang saya alami. Terlalu lama tidak menulis membuat isi kepala saya buntu. Susah sekali mendapatkan ide tulisan. Rasanya mengawali kata itu terasa amat rumit.  Tiap memulai menulis selalu saja error. Arah tulisan pun makin lama juga makin gak jelas.

Karena masih error maka postingan inipun mengesankan keterpaksaan. Yah, apa boleh buat daripada saya gak menulis sama sekali dan blog ini melompong berlama-lama maka lebih baik saya isi saja dengan sesuatu yang juga terpaksa yang sekaligus memaksa otak saya untuk mau mendobrak pintu kebuntuan ini. Satu pelajaran yang saya petik adalah kesalahan terbesar menggampangkan menulis merupakan karma yang sulit dihentikan, kecuali dipaksa.

Menulis dan buku adalah satu kesatuan. Meskipun seorang penulis belum tentu memiliki buku. Tetapi buku adalah inspirasi terbesar saya tiap akan menuangkan sesuatu. Saya ingin menjadikan tulisan itu sebagai passion saya walaupun itu sangat tidak gampang. Jujur saja setiap masuk ke toko buku selalu timbul rasa iri. Tak usah membandingkan diri dengan penulis sekaliber Pramoedya, Dee Lestari atau Ayu Utami, ada banyak penulis-penulis yang tak saya kenal dan isi tulisannya hampir-hampir seperti membaca tulisan-tulisan diblog tetapi mereka sukses menciptakan buku bahkan sampai berbuku-buku. Tapi kenapa saya tidak bisa? Dimana letak kesalahan itu? atau mungkin saya yang harus lebih giat lagi belajar menulis serta merangkai kata.

Apalagi beberapa hari lalu saya mendapat kiriman buku dari Mbak Orin yang berjudul Obituari Oma. Bukunya tidak tebal, isinya pun tak sampai 70 halaman. Seharusnya aku juga bisa membuatnya, terlepas buku itu ditulis rame-rame. Seharusnya aku bisa!

Mungkin saya terlalu mudah terlena dengan semua itu. Atau juga karena saya belum memiliki teknik yang tepat untuk mewujudkannya.

Nyatanya saya hanya bisa menulis pendek-pendek saja. Niat pendek kadang juga jadi panjang. Sebaliknya inginnya nulis panjang, supaya jadi panjang lalu dipanjang-panjangin yang akhirnya tetep saja pendek hanya karena ide yang cekak! Catat! 😀

Oya, mumpung momennya masih lebaran saya ingin mengucapkan:

Minal Aidzin Wal Faidzin

Selamat Hari Idhul Fitri 1434H 

Mohon Maaf Lahir dan Batin  

Mobile Internet, Trend baru pengaruh tumbuhkembang anak serta peran Ibu dalam mengatasinya

Trend Mobile Internet diibaratkan sebuah medan magnet yang dapat menggaet siapapun. Kekayaan aplikasi serta fiturnya membuat siapa saja saling tertarik mendekatkan diri kesana. Semuanya klop, bak pepatah jawa: tumbu ketemu tutup. Aneka informasi dan hobby bisa ditemukan hanya dengan ‘tarian jemari’. Beragam aplikasi, berpuluh social media serta konten-konten pembunuh senggang bak berkeliaran dimana-mana. Terasa semua itu lengkap digenggaman.

Aktifitas online menggunakan smartphone kian hari kian marak. Kemudahan akses membuat pengguna yang biasa online dengan PC Komputer pelan-pelan mulai ditinggalkan. Saking mudahnya bila satu jam saja jauh dari gadget hidup terasa kurang. Chatting bersama teman yang berada nun jauh disana lebih mengasyikkan ketimbang berbicara dengan teman sebelah. Jadi bukan keheranan lagi manakala melihat sebuah keluarga duduk dalam satu meja di sebuah tempat makan tetapi mereka tak saling bicara, mereka lebih asyik dengan gadgetnya masing-masing.

Pengaruh Internet  dan kebiasaan buruk Orangtua

Perkembangan dunia internet bak virus yang menyebar tanpa mengenal usia di era mobilisasi ini. Keberagaman social media dan konten yang menyerap berbagai macam informasi seolah makanan instan yang setiap saat setiap waktu dapat di nikmati, walau tentunya menyimpan efek negatif bila terus-terusan dikonsumsi. Laki-laki, perempuan, tua, muda, juga anak-anak tak ketinggalan menerjunkan diri serta berselancar merasakan sensasi dunia maya. Ditambah banyaknya gadget murah dipasaran dianggap sebuah keuntungan bagi konsumen.

Tablet, gadget, smartphone dan apalah namanya kini bukan lagi dianggap barang mewah. Hampir semua orang memiliki gadget. Tak terkecuali anak-anak. Alasan orang tua membekali gadget anak adalah supaya mudah dihubungi dan menghubungi.

Namun seiring munculnya smartphone yang dianggap lebih pinter daripada ponsel biasa membuat orang tua berbondong-bondong membekali anak-anaknya. Hal itu membuat alasan kemudahan hubungan menjadi melebar, ditambah lagi guru-guru disekolah si anak sering memberi tugas melalui email maka lengkaplah sudah alasannya. Orangtua merasa lebih nyaman bila anak-anak memegang gadgetnya sendiri. Harapannya supaya tak mengganggu kesibukannya sehari-hari juga si anak lebih mandiri dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah.

Tetapi, bukan anak-anak kalau tak memiliki akal pintar. Ajang coba-coba dan rasa ingintaunya lebih besar dibanding sekedar mengerjakan tugas sekolah. Di sela-sela waktunya mereka bisa membaca berita, mencari informasi, download game terbaru, hingga membuka situs-situs yang seharusnya belum boleh dibuka oleh mereka. Lebih-lebih ada jejaring sosial yang membuat anak ingin menjalin pertemanan dengan banyak orang.

Perkembangan inilah yang akhirnya membuat peran ibu sebagai orangtua terdekat anak-anak harus menunjukkan eksistensinya.

Kebiasaan anak dalam berinternet perlu diwaspadai. Tak jarang para orangtua membiarkan anaknya berlama-lama dengan internet dengan harapan mereka memahami kecanggihan teknologi baru supaya nantinya mereka tidak gagap teknologi. Sebab masih banyak orangtua yang belum mengerti benar apa itu internet sehingga mereka berharap anak nya lah yang harus lebih pintar dari orangtuanya. Sebaliknya, bila Orangtua yang kecanduan internet, anaknya yang akhirnya menjadi korban. Disaat orangtua sibuk dengan smartphonenya, si anak dibiarkan bersama pengasuh. Atau malah orangtua memberinya gadget supaya mereka punya kesibukan sendiri.

Gadget menjadi kesibukan anak-anak. Masih ada Orangtua yang memberi gadget kepada anak supaya mereka berdiam diri dirumah, tidak berkeliaran diluar Foto: Doc. pribadi
Gadget menjadi kesibukan anak-anak. Masih ada Orangtua yang memberi gadget kepada anak supaya mereka berdiam diri dirumah, tidak berkeliaran diluar
Foto: Doc. pribadi
Gadget dianggap media unik. Untuk menunjukkan keunikannya anak-anak suka menunjukkan isi gadget kepada teman-temannya Foto: Doc. pribadi.
Gadget dianggap media unik. Untuk menunjukkan keunikannya anak-anak suka menunjukkan isi gadget kepada teman-temannya
Foto: Doc. pribadi.

 

Sayang disayangkan sikap orangtua seperti ini. Padahal sikap ini secara terang-terangan telah menyuruh  anak untuk menutup diri dari lingkungannya. Orang tua tidak tau bahwa keasyikan anak-anak menggunakan gadget berdampak buruk pada kehidupannya secara nyata. Kalau dibiarkan terus menerus si anak bisa mengalami ketergantungan. Mereka akan marah bila tak ada gadget disampingnya. Karena keasyikan online mereka bisa lupa waktu makan, lupa tidur, bahkan malah lupa mengerjakan PRnya.

Riset membuktikan Trend Mobile Internet menjurus ke anak-anak

Menurut riset Unicef tahun 2012 yang disampaikan oleh Shita Laksmi pada Talkshow Dari Perempuan dengan Topik “Peran Orangtua mengatasi Trend Mobile Internet terhadap perkembangan anak” yang digelar pada 5 Juli 2013, di 1/15 Coffee Gandaria – Jakarta, Penggunaan PC sangat rendah dibanding penggunaan teknologi mobile dan social networking.

Sangat masuk akal, anak-anak lebih senang online menggunakan gadget karena dirasa keberadaan gadget lebih privasi. Mereka bisa bebas melakukan apa saja tanpa dilihat, dibaca dan diperhatikan orang disekelilingnya. Lihat saja bagaimana interaksi mereka bila sudah facebook-an  atau twitteran, terlebih jika sudah memiliki banyak follower. Mereka seperti lupa dengan dunia nyatanya. Hal ini sedikit banyak merubah gaya hidup serta kebiasaan perilaku sehari-harinya. Mereka menjadi asyik dengan dunianya sendiri.

Berbeda dengan PC, fitur yang minim serta layarnya yang lebar membuat anak-anak agak kesulitan ‘menebarkan pesona’nya. Salah satu alasannya takut dibaca orang tua atau saudara. Kegiatan inilah yang akhirnya membuat pengawasan orangtua menjadi terbatas.

Hampir sama dengan Riset Unicef,  Survei Norton pada 2010 juga menyatakan 96% anak Indonesia memiliki pengalaman buruk di Internet seperti pornografi, kekerasaan, perjudian serta konten-konten negatif.

Para perempuan yang antusias menyimak nara sumber, semua ini mereka lakukan demi menyerap ilmu untuk diaplikasikan kepada anak-anak. Sumber foto: Facebook Dari Perempuan
Para perempuan yang antusias mengikuti TalkShow, semua ini mereka lakukan demi menyerap ilmu untuk diaplikasikan kepada anak-anak. Sumber foto: FB DariPerempuan

Kesalahan-kesalahan yang dilakukan sebagian besar anak-anak Indonesia ini menurut hemat saya tak bisa sepenuhnya di limpahkan ke mereka, ini semua bisa terjadi juga disebabkan kelalaian pengawasan orangtua. Kurangnya komunikasi serta sedikitnya interaksi membuat mereka jauh dari pengamatan. Biasanya alasan utama yang dikatakan orangtua adalah sibuk hingga mereka tak memperhatikan kuantitas dan kualitas obrolan.

Peran Perempuan mengatasi Trend Mobile Internet

 Dari sekian banyak kasus penyalahgunaan internet, sebagian besar perempuan menjadi korbannya. Kejahatannya macam-macam. Mulai dari korban kekerasan, pelecehan hingga trafficking.

Seperti informasi yang pernah saya baca di buklet Internet Sehat, menurut laporan U.S National Violence Against Women Survey, Sebanyak 60% korban dari pengintaian di dunia maya alias cyberstalking adalah kaum wanita. Dizaman modern seperti ini wanita masih dianggap lemah bagi sebagian orang sehingga mereka dengan mudah terpedaya. Kurangnya pengetahuan menjadi salah satu akses masuknya pelaku kejahatan terhadap wanita.

Lalu bagaimana peran perempuan mengatasi Trend Mobile Internet terhadap perkembangan anak?

Menurut saya sebelum mengenalkan Internet kepada anak, sebaiknya para Ibu harus sudah membekali dirinya terlebih dahulu. Para Ibu harus mengerti apa itu internet, Bagaimana seluk beluk Internet, apa kegunaan Internet, baik buruknya internet, pengaruh Internet, serta konten-konten yang boleh/tidak boleh dibuka untuk usia anak-anak. Selain itu Ibu juga harus paham kapan usia anak-anak sudah diperbolehkan mengenal internet dan atau mobile internet.

Ada baiknya bila masih usia balita, mereka diperkenalkan gambar-gambar yang menarik agar merangsang perkembangan otaknya. Di usia ini biasanya mereka suka mengamati benda-benda yang ada disekelilingnya seperti mengenal jenis-jenis mobil, jenis-jenis hewan, jenis-jenis buah, dan sebagainya. Diatas usia 5 tahun mereka sudah mulai mengenal tulisan. Dari sini Ibu harus sering-sering mendampingi serta mendengarkan apa yang sedang mereka baca. Jangan biarkan si anak memegang gadget sendiri tanpa pendamping orangtua sebab diusia ini mereka belum mengerti fungsi gadget sebenarnya. Mereka hanya suka mengutak-atik untuk mencari sesuatu yang menarik.

Bila sudah berusia diatas 10 tahun mereka mulai memerlukan pembekalan diri. Karena tak jarang diusia ini pengaruh lingkungan lebih mendominasi sehingga mereka mudah sekali terpengaruh. Beranjak dewasa peran Ibu harus lebih intens. Ajakan berdiskusi harus sering-sering dilakukan. Namun lebih baik lagi bila Ibu bisa berperan menjadi orangtua juga sahabat.

Dengan modal dasar seperti ini diharapkan para Ibu sudah mengerti bagaimana harus menyikapi bila suatu saat anak-anak mulai terbiasa menggunakan Internet.

Sikap bijak mengatasi Trend Mobile Internet pada anak-anak

Penggunaan mobile internet kesannya lebih privasi. Bila si anak sudah diberi kepercayaan menggunakan gadget/tablet berarti orangtua harus berani menanggung resiko lebih besar dibanding saat mereka berinternet menggunakan PC. Bila anak sudah terbiasa berinternet menggunakan gadget, seorang Ibu harus lebih mawas diri. Ibu harus lebih meluangkan perhatiannya kepada mereka. Jangan sampai karena mobile internet anak-anak menjadi lupa diri, lupa orang disekitarnya, lupa lingkungannya dan lupa segala-galanya.

Lalu bagaimana peran Ibu dalam menjawab hal tersebut? Dibawah ini beberapa sikap bijak dalam mengatasi trend mobile internet terhadap anak:

  •  Melakukan Mobile Internet bersama anak
  • Terlibat online bersama anak. Termasuk berteman di jejaring sosial serta mengenal teman-temannya. Bila perlu mintalah username dan passwordnya agar memudahkan Ibu melihat aktifitas anak di jejaring tersebut. Supaya lebih mudah setting ‘remember me’ pada gadget agar Ibu bisa membuka sewaktu-waktu.
  • Memberi pengertian kepada anak terhadap baik/buruknya internet serta memberitau situs-situs apa yang boleh dan tidak boleh dibuka.
  • Ibu harus menegur secara baik-baik bila anak terlihat asyik seperti senyum-senyum sendiri saat dihadapan gadget. Katakan bahwa menegur bukan berarti memarahi.
  • Memberi anak batasan waktu menggunakan gadget
  • Beri pengertian kepada mereka untuk selalu berhati-hati dalam berteman di jejaring sosial dan jangan mudah memberi data-data pribadi kepada teman-temannya.
  • Ibu mampu berperan ganda, menjadi orangtua sekaligus sebagai sahabat anak saat ber-mobile internet.
  • Bila sikap anak terlihat salah tingkah, Ibu harus segera cari tau penyebabnya
  • Saat menggunakan gadget, usahakan mereka tidak sendirian ditempat yang sepi. Anjurkan mereka bermain gadget diruang bersama.
  • Sering mengadakan diskusi terbuka atau menanyakan aktifitas apa saja yang dilakukan seharian
  • Ajak anak-anak untuk banyak berinteraksi di dunia nyata, berilah waktu seminim mungkin menggunakan gadget.
  • Ibu menyediakan waktu luang untuk anak-anaknya sebagai bukti perhatian terhadap mereka.
Contoh perempuan  mendidik anak untuk mengatasi  Trend Mobile Internet. Sumber foto dari Facebook Dari Perempuan
Contoh perempuan mendidik anak untuk mengatasi Trend Mobile Internet. Sumber foto: FB DariPerempuan

Kesibukan Ibu tak hanya menunggui anak-anak, tetapi ada banyak pekerjaan lain yang harus segera diselesaikan. Untuk menghindari hal-hal negatif terkait mobile internet terhadap perkembangan anak alangkah baiknya bila Ibu memberikan kepercayaan kepada mereka, tetapi dengan catatan kepercayaan itu tak boleh disalahgunakan. Dengan kepercayaan itu diharapkan suasana keluarga terasa lebih harmonis dan si anak juga menghormati kepercayaan Ibu sebagai orangtuanya.

Tentang Sinetron PPT jilid 7

Setiap bulan Ramadhan, Sinetron yang saya tunggu-tunggu adalah Sinetron Para Pencari Tuhan atau Sinetron PPT jilid 7. Sinetron ini bercerita mengenai kehidupan warga desa KINCIR yang memilki masalah keluarga yang berbeda antara satu dengan lainnya. Masalah yang dialami oleh mereka pun tergolong humanis, apa adanya seperti kehidupan yang dialami setiap insan dalam keseharian. Nggak terlalu berlebihan seperti sinteron pada umumnya. Jalan ceritanya pun juga sangat masuk akal. Kisah hidup bak roda berputar dituangkan habis-habisan dalam sinetron ini tanpa ada kesan menggurui. Seorang Ustad bisa disalahkan, seorang pembantu juga bisa dibenarkan. Dan baiknya, semua pemeran dalam sinetron itu gak ada yang jahat. Semuanya pernah jadi protagonis, tapi suatu saat bisa jadi antagonis.

Setiap pemeran memiliki musuh masing-masing. Seperti, Aya VS Kayla. Bang Jack VS Pak Wijoyo. Bu Jalal VS Loli. Udin VS Bang Asrul. Dan baru-baru ini Pak Idrus Madani (Pak RW) VS Pak Hakim (Bendahara RT dan Pak RT yang berambisi menggantikan Pak Idrus)

Dalam kehidupan sehari-hari mereka hidup rukun dan saling membutuhkan dengan yang lainnya. Bang Jack curhat ke Pak Ustad Feri. Udin curhatnya ke Asrul. Azam curhat ke Pak Jalal. Yang dicurhati pun tak selamanya benar. Kadang ada pihak ketiga yang menengahi menyelesaikan masalah, siapa lagi kalau bukan para istri-istri.

Secara keseluruhan sinetron ini memberi banyak sekali pelajaran yang dituangkan dalam cerita yang kemudian diterjemahkan sendiri oleh penonton . Saya pikir, penulis skenario PPT ini sangat pintar membuat alur. Padahal problem yang dimunculkan cukup banyak tetapi penulis pandai merangkai-rangkai cerita yang intinya ingin menyampaikan pesan berharga bagi pemirsanya. Istilah saya Wong pinter ning ora minteri (Orang pintar tapi tidak kepintaran)

Dalam mengatasi masalah mereka saling mengingatkan. Tak jarang demi mendapatkan pendapat yang benar mereka harus bertengkar dulu. Sebenarnya karakter pemain di sinetron ini cukup kompleks. Ada yang iri-an, ada yang cemburuan, ada yang ngeyelan, ada yang kepintaran, ada yang gak sabaran ditambah lagi kondisi masing-masing pemain, ada yang kaya tapi banyak juga yang hidupnya pas-pasan. Saya pikir Pak Ustad Feri itu keluarga mampu kalau dilihat dari perabotan dan kondisi rumahnya, nyatanya buat makan sehari-hari aja sering dikasih tetangga. Sebaliknya Pak Jalal yang awalnya kaya berbalik menjadi miskin papa, sampai dia harus tinggal di sebuah gubuk. Walaupun memiliki banyak tanah juga pembantu, tapi utangnya juga banyak.

Dan yang bikin mak jleb adalah peran trio Pak RW, Pak RT dan Bendahara. Ketiga orang ini selalu punya pikiran duit, proyek, untung. Dan satu lagi suka bikin malu. Asal berbau uang malu itu nomor sekian. Suap buat dapatin suara, menjual aset warga buat dijadikan Mall, atau.. batal belikan martabak karena kalah dalam pemilihan suara. Dan itu semua ditampakkan dalam adegan nyata. Gak pakai perasaan lagi. Coba kalau dalam kehidupan sehari-hari, martabaknya sih datang tapi ikhlasnya yang kabur duluan.

Kalau saya pemeran perempuan yang paling saya suka pastinya Aya. Orangnya cantik, modis, kalem, tapi kalau sudah cemburu dan marah, bikin semua lelaki emosi dalam batin. Kalau laki-laki sih saya suka sama karakter Bang Jack. Orangnya ceplas-ceplos, suka pura-pura, pinter nyari alasan, dan kocak.

Suka sekali lihat muka judesnya Aya :D Foto dari Google
Suka sekali lihat muka judesnya Aya 😀
Foto dari Google

Peran yang paling bikin gregetan itu Loli sama Udin. Pokoknya kalau orang 2 ini muncul, gak bisa nggak, sama seperti Bu Jalal bawaannya pengen marah aja sambil melototin mata.

Nah kalau ini sebel-sebel gregetan :D Foto punya Google juga
Nah kalau ini sebel-sebel gregetan 😀
Foto punya Google juga

Juga pasangan Pak Ustad Feri dan istrinya. Pasangan ini kelihatan harmonis tapi kalau sudah marah Bu Ustad suka bantingin panci.

Semua balutan dalam Sinetron PPT jilid 7 ini terasa sempurna dan asyik dinikmati. Cuma 1 yang bikin saya jengkel. Adalah sinekuisnya! Aduuh.. pengen aja protes sama SCTV, bisa nggak sih kalau sinekuis itu diilangin. Percuma aja tayang 1,5 jam tapi banyak iklan dan sinekuisnya. Paling-paling sinetronnya cuma tayang 40 menitan.  Dan lagi kurang mutu, gak ada benang merahnya. Kalau guyonannya segar sih gapapa, atau paling tidak ada inti ceritanya, gitu. Jangan cuma ngeliatin orang wira-wiri didepan kamera, dengerin orang ngobrol yang gak ada maksudnya. Anehnya, penonton yang di studio itu kok tahan ya, kalau saya mungkin sudah tidur sambil ngiler, kali..

Oke, postingan ini sekian dulu. Dari awal ngomongin Sinetron PPT jilid 7, sebenarnya cuma mau bilang sebaiknya  sinekuisnya diilangin. Sudah. Itu aja. 😀 *kabur jauh-jauh sebelum ditimpuk mantan mertuanya Udin*

Sebetulnya foto ini yang membuat saya punya ide nulis. Lihatlah, posenya mirip banget dengan fotonya Pak RT dan Kim waktu akan pemilihan ketua RW yang baru. Kang Yayat, pinjem fotonya ye..
Sebetulnya foto ini yang membuat saya punya ide nulis. Lihatlah, posenya mirip banget kan sama fotonya Pak RT dan Pak Hakim waktu akan pemilihan ketua RW yang baru.
Kang Yayat, pinjem fotonya ye.. 😀

 

Puasa, makan keres

Alhamdulillah tahun ini saya masih diberi Allah SWT umur panjang sehingga bisa bertemu kembali dengan bulan Ramadhan. Seperti tahun-tahun sebelumnya saya menjalani hari-hari puasa di kota Surabaya yang saat ini kondisi cuacanya suka meriang, kadang panas, kadang mendung, dan kadang-kadang tanpa ditebak tiba-tiba hujan.

Setiap datang bulan Ramadhan, pengalaman yang tak bisa saya lupakan adalah makan buah keres (kersen) pada pagi hari dibulan puasa. Walaupun itu sudah berlangsung berpuluh tahun yang lalu tapi rasa bersalahnya masih terasa sampai sekarang.

Ceritanya begini, dulu saat masih SD, saya dan teman-teman bersemangat merayakan euforia Ramadhan. Sehingga selesai sahur saya tidak kembali tidur tetapi menunggu sholat Shubuh dulu kemudian main bareng teman-teman. Entah jalan-jalan, bersepeda atau duduk-duduk di atas pipa di bawah kebun keres milik Perusahaan Air Minum. Kebetulan rumah saya berada di belakang komplek Penjernihan, disana ada banyak pipa-pipa mulai berukuran kecil hingga raksasa. Diantara pipa-pipa itu tumbuh pepohonan keres yang buahnya merah merekah. Meskipun bukan bulan puasa, setiap pulang sekolah atau hari libur saya dan teman-teman senang bermain disitu.

Pagi itu adalah hari pertama puasa. Setelah jalan-jalan kami duduk-duduk di atas pipa sambil ngelihatin teman-teman laki-laki yang sibuk dengan bambu panjang yang diisi karbit dan air kemudian dikasih api. Bunyi “DEBUMMM!!” yang keras, menggelegar lagi menggema membuat saya dan teman-teman lain asyik memperhatikan. Sambil sesekali menutup telinga.

Kebetulan sekali Saya melihat anak-anak bermain mercon bumbung di daerah Kenjeran
Kebetulan sekali Saya menemukan anak-anak bermain mercon bumbung di daerah Kenjeran

Ditengah keasyikan itu kepala saya mendongak keatas sambil iseng mencari buah keres yang sudah ranum. Melihat buah keres ranum itu rasanya senangnya minta ampun. Biasanya memang begitu, kalau tidak puasa, buah keres yang sudah diincar harus sesegera mungkin diambil, sebelum keduluan yang lain.

Disaat yang lain sedang asyik, saya pun mencari alternative mengambil buah itu. Saya mencoba naik ke atas pipa dan sekali raih langsung dapat buah yang merah. Tiba-tiba saja, “hap!” buah itu saya kulum. Rasanya, hmm.. nikmatnya. Manis sekali.. setelah mengulum, begitu akan membuang kulitnya saya ingat kalau hari itu sedang berpuasa. Aduh, kalau ketahuan teman-teman gimana. Seketika saya langsung salah tingkah. Padahal teman-teman saya tidak sedang melihat saya. tapi perasaan saya mengatakan ada mata yang sedang melihat ke arah saya. Dada saya deg-degan keras, rasanya galau antara batal, nggak, batal, nggak, walaupun memang kenyataannya tidak sengaja.

Akhirnya, secara diam-diam saya ambil kulit itu pke tangan kemudian saya buang. Lalu saya kembali lagi bergabung bersama teman-teman. Setelah kejadian itu, selama disana saya diam saja. gak berani ngomong apa-apa. Saya anggap kejadian tadi adalah rahasia saya sendiri, dan hanya Allah saja yang tahu.

Entahlah, kenapa pengalaman makan keres itu hingga sekarang masih terbayang terus diingatan. Mungkinkah karena saya sudah menikmatinya ya? 😀

Go Top