Nasib HP Second

Kali ini saya menceritakan kembali tentang kebiasaan saya memperhatikan penampilan dan mendengarkan orang lain bicara. Entahlah mengapa saya begitu tertarik dengan hal-hal seperti itu apalagi kalau pembicaraan mereka berkaitan dengan informasi yang sedang hangat atau cerita kehidupan yang mengandung hikmah.

Kejadian itu terjadi saat saya berniat mengisi pulsa di sebuah counter penjualan hp dan pulsa didekat kantor. Saat saya datang dicounter itu sudah ada pembeli laki-laki yang sepertinya membeli kartu perdana dan dilayani oleh pegawai counter. Di counter itu selain pegawai yang melayani itu ada pula seorang bapak yang duduk dibelakang meja yang sepertinya seorang pemilik counter tersebut.

Tak begitu lama menunggu sang pemilik counter menyuruh pegawainya untuk mendahulukan saya. Saat si pegawai menunggui saya menulis no HP yang akan diisi pulsa, sang pemilik counter berdiri lalu membantu melayani pembeli laki-laki yang membeli kartu perdana tadi.

Sambil menunggu si pegawai mencet-mencet HP tanda sedang mengetik sms mengisi pulsa, saya mendengar pembicaraan antara pembeli laki-laki disebelah saya dan bapak pemilik counter. Awalnya saya tidak begitu tertarik dengan obrolan mereka, tetapi saat sang pemilik berkata dengan suara keras barulah saya  ke mulai tertarik untuk mendengar dan memperhatikan topik yang sedang mereka bicarakan.

“Sampean beli HP ini, Mas?” seru pemilik counter. Seruannya itu terus terang membuat saya kaget, begitu juga dengan pembeli laki-laki itu. Kekagetan kami sepertinya beralasan sebab kami datang ke counter ini hanya ingin membeli pulsa dan bukan untuk pamer hp.

“Sampean beli HP ini berapa?” tanya pemilik counter sambil membolak-balik HP No*** seri 62** second yang sudah tidak mulus lagi.

“Seratus lima puluh ribu, Pak” jawab laki-laki itu datar.

“Waduh, Mas, sampean kemahalan belinya! HP ini tadi di jual ke saya seharga 80 ribu aja saya tolak”.

Batin saya, siapa juga yang mau jual hp itu ke bapak.

“Kenapa nggak mau, Pak?” tanya si pembeli itu.

“Sini saya kasih tau alasannya..” sambil si bapak membuka casing belakang HP lalu menyisipkan sim card yang baru dibeli didalamnya. “Ini pecah, Mas” si bapak menunjukkan bodi bagian bawah HP yang cuil sedikit. “Yang pecah ini bukan casingnya loh tapi bodinya” sambil si Bapak menunjukkan tempat yang rusak.

Saya yang awalnya berdiri agak jauh pelan-pelan mulai tertarik untuk mendekati pembeli laki-laki itu sambil melihat dan mendengarkan penjelasan dari pemilik counter. Begitu juga dengan pegawai yang melayani saya tadi juga ikut mendekat ke bosnya. Rupanya hal-hal aneh seperti ini mampu menarik orang untuk mencari sebab musababnya, ya..

Biar bagaimana dia adalah penjual HP, tentunya sedikit banyak mengerti seluk beluk ponsel.

“Trus Flash kameranya rusak” lanjut si pak Bos seraya menunjuk kamera. “Okelah barangkali tak seberapa masalah kalau flashnya rusak asal masih bisa dipakai memotret” lanjutnya.” Tapi kalau volume suaranya kecil meski sudah di maksimalkan, gimana? Ini nih dengarkan..” si Bapak menyalakan nada dering.

Seketika saya, pemilik hp, dan si pegawai bebarengan mendekatkan telinga ke hp tersebut. Persis anak kecil yang baru saja menemukan mainan unik, semua dibuat penasaran.

“Nggak kedengaran, Pak” akhirnya saya turut andil dalam obrolan.

“Dengar, mbak, tapi kuuecil” kata si pemilik hp.

Saya manggut-manggut, setuju.

“Lho, Bapak kok tau kalau Mas nya ini baru beli hp?” tanya saya kepada sang Bos. Investigasi dimulai hihi..

“Ya tau dong, Mbak, lha wong tadi yang punya HP ini mau jual ke sini. Tapi saya tolak”

“Kenapa ditolak, Pak?”

“ya nggak berani aja Mbak, lha kondisinya seperti itu..”. “Awalnya dia mau jual hp itu 150ribu. Lalu saya tawar 100ribu dengan syarat saya cek dulu kondisinya. Sama yang punya dikasih. Nah setelah saya cek dan ternyata hasilnya seperti itu saya tawar lagi 80ribu. Dan di kasih sama dia. Setelah nawar 80ribu saya pikir-pikir lagi kondisinya, akhirnya saya memutuskan tidak berani membeli”

“Wah saya kena tipu dong, Pak” kata pemiliknya

“Sampean gak kena tipu, Mas. Salahnya sampean sewaktu beli HP tadi kenapa tidak dicek”

“Soalnya saya sedang nggoreng, Pak. Jadi saya nggak memperhatikan betul-betul”

“Sampean tinggal dimana sih Mas?”

“Di sana, Pak. Saya jual gorengan Bandung” jawab si pemilik HP sambil tangannya menunjuk ke satu arah.

“Sebetulnya dengan harga 150ribu sampean nggak rugi, Mas. Karena memang pasarannya HP itu secondnya segitu, tapi kalau dengan kondisi normal”

Laki-laki itu diam dan termenung. Dan saya kok ikut-ikutan iba melihatnya.

“Lain kali kalau beli HP second hati-hati, Mas. Dicek dulu kondisinya” kata sang Bos.

Sebelum meninggalkan counter, saya kok merasa bahwa seharusnya si pemilik counter itu nggak perlu menceritakan secara detail kepada si pemilik. Ya memang sih memberi informasi yang baik boleh-boleh saja tapi kembali lagi ke status HP itu. HP itu kan sudah dibeli dan gak mungkin dikembalikan lagi sama yang punya. Dan lagi antara pemilik HP dan si Mas yang jual gorengan kan gak saling kenal, trus harus mencari kemana dong?

Kasihan si Masnya, jadi ‘gelo’ dan merasa ditipu. Padahal kalau dipikir-pikir yang salah bukan si penjual HP tapi karena keterbatasan informasi dan budget yang dimiliki si pembeli.

 

 

Padmasana

Narsisnya ini artististik gak sih? :D
Narsisnya ini artististik gak sih? 😀

Kokoh jeruji keangkuhan luruh terseret kewibawaan
Kasih melegalkan tatapan yang penuh rindu dan cinta,
Menumpahkan aura cahaya yang tak berbatas.

Kegagahan seolah mudra yang bermeditasi,
Menyimpan aroma wangi kesetiaan tapi juga rendah hati
Padmasana menyimpan seribu misteri, misteri yang hanya bisa dipecahkan oleh insan  berhati putih

Adakah dibalik posisi Lotus itu menyimpan keseriusan laksana Budha?
O, salah sama sekali..
Itu hanya gaya lotus-lotusan agar dianggap suatu kenarsisan.
Kenarsisisan yang katanya memiliki keartistikan 😀

#Bingung mau dikasih keterangan apa, terlampau sulit untuk menggambarkan suatu kenarsisan apalagi ada embel-embel artistik pulak. Semoga tulisan yang sedikit itu dapat mewakili gambaran arca Buddha di Candi Borobudur yang sedang melakukan meditasi dengan posisi lotus atau dinamakan Padmasana#

Kopdar mimpi

“Kopdar itu seperti mimpi”

Begitu yang Teh Nchie ucapkan saat saya diajak Pakde dan Bude mengantarkan Teh Nchie ke Hotel sepulang dari kopdar hari Sabtu kemarin.

Apa iya sh kopdar itu seperti mimpi?

Dan sebegitu hebatkah aura tulisan hingga menciptakan sebuah kedekatan emosional yang seolah seperti minyak jelantah bekas dipake goreng ikan asin yang biarpun warnanya hitam jelek tapi rasanya tak kalah nikmat dengan makan lontong kupang bila disandingkan dengan sambal terasi!

Kopdar dengan teman yang dikenal hanya lewat tulisan di blog juga ibarat orang tidur lalu mimpi yang tiba-tiba aja sudah berada di Inggris dan duduk berdampingan dengan Kate!

Dimana disana Kate menjamu dengan aneka hidangan lezat yang diiringi kilatan blitz kamera!

Tengok kamera sana – tengok kamera sini, senyum dikamera sana – senyum dikamera sini, piss dikamera sana – piss dikamera sini, cibi-cibi dikamera sana – cibi-cibi dikamera sini, setelah itu tiba-tiba para paparazi itu ikut foto bareng sambil bercibi-cibi ria..

Ternyata kopdar itu juga seperti berkaca di cermin yang buram! Sungguh memiliki banyak perbedaan antara tulisan yang dibaca dan pembawaan orangnya. Kadang saat membaca tulisan diblognya terkesan rame, tapi begitu ketemu ternyata orangnya pemalu dan kalem (seperti saya) 😀 , betapa sebuah fotomorgana!

Tapi itu tidak berlaku untuk Teh Nchie. Teh Nchie tulisannya ramek , status-status di facebook juga rame tapi begitu ketemu orangnya, rame juga!

Ditambah lagi Gaphe yang seperti om jin, lama gak muncul tiba-tiba dengan gaya natural seperti tanpa dosa muncul lagi dipermukaan, membuat gerrr suasana kopdar. Kehadiran Mas Insan dan Mas Ridwan yang konon akrab di warung blogger yang hobi timpal-timpalan komentar dengan Teh Nchie juga turut memeriahkan suasana..

Sebuah pembukaan acara kopdar yang mengagetkan ketika Pakde Cholik membuka pertanyaan dengan hadiah memberi uang sebesar 500.000 untuk menjawab tantangannya.

“Yun, kamu mau uang 500ribu, nggak?” Nadanya serius tanpa senyum dan tanpa kode.

“Hmm.. mau Pakde!” Dasar saya orangnya mata duitan, langsung saja setuju. Padahal dalam hati sempat curiga, jurus apa lagi yang Pakde keluarkan. Dan dari penglihatan saya Gaphe juga cukup tertarik untuk ikutan, iya kan Phe?

Suasana Resto Park Cafe yang sabtu malam itu rame yang sama sekali jauh dari sahdu dengan campuran bunyi gesekan piring-sendok diiringi obrolan bak suara lalat mendengung yang sesekali ada ledakan tawa membuat penasaran kami semakin mencekam.

“Tapi ada syaratnya..” lanjut Pakde

“Apa itu?” tanya saya nyengir. *dalam hati keplok-keplok, awas hati-hati ada jebakan*

“Syaratnya kamu harus teriak kencang sambil bilang “Woi semua diam!”

Glodak!! lemes deh.. Tuh kan saya bilang juga apa.. hati-hati dengan tanda bintang haha..

Kopdar dengan Teh Nchie, image pakde Cholik
Kopdar dengan Teh Nchie, image pakde Cholik

*Kesimpulan: Setelah melewati begitu banyak fase, begitu banyak ketemu teman blogger, dan begitu banyak perbedaan-perbedaan antara tulisan dan wujud aslinya, 99,99% blogger itu narsis sodara!*

Jajanan anak

Seperti halnya sifat anak-anak yang lucu, unik dan aneh, jajanan anak-anak pun juga begitu. Coba perhatikan saat melewati depan sekolah TK atau SD, disana ada berjajar penjual jajanan anak-anak yang beraneka rupa, aneh, unik tapi juga murah.

Waktu zaman SD saya dulu saya sering menemui jajanan aneh-aneh yang menurut saya unik. Seperti gulali. Gulali saat zaman saya dulu ditaruh disebuah loyang atau semacam mangkok lebar yang bentuknya sudah padat. Bila ada yang beli, si mbah penjual gulali terlebih dahulu menjewer gulali dari loyang sedikit demi sedikit lalu ditempelkan pada sebuah ujung lidi sehingga nanti ujung lidi yang lain digunakan sebagai pegangan. Nantinya jeweran-jeweran gulali itu akan berbentuk seperti gumpalan benang ruwet. Persis permen yang dikemas secara konvesional dan sederhana.

Bila dilihat cara menjewer padatan gulali itu sepertinya keras. Buktinya saat saya perhatikan ketika menjewer gulali urat-urat tangan si mbah itu keluar semua. Yang saya heran dengan si mbah penjual gulali, kenapa gulali-gulali itu harus dibiarkan padat diloyang, dan kenapa tidak dicetak satu-satu dengan lidi, jadi kalau ada yang beli tinggal kasih aja. Tapi yah itulah uniknya jajanan anak-anak.

Lain hari ada penjual gulali baru. Tapi bukan si mbah. Kali ini penjualnya lebih kreatif. Dia membawa cetakan kotak sebesar sabun mandi yang ditengahnya ada bentuk jagung, mobil, mawar, nanas dan lain sebagainya. Nah disini bila ada anak-anak yang ingin membeli gulali diperbolehkan memilih bentuk yang mereka suka. Nantinya si penjual akan mencetak gulali dengan cara menjepit gulali diantara 2 kotak sabun yang ditengah-tengahnya terdapat bentuk cetakan yang sama, sehingga hasil jadinya seperti 3D. Lucu dan bagus sekali! Misalnya saya ingin bentuk jagung. Maka si penjual akanmenaruh sejumput gulali lalu ditaruhnya ditengah-tengah 2 cetakan yang didalamnya ada bentuk jagungnya.

Cetakan Gulali modern, image dari google
Cetakan Gulali modern, image dari google

Dulu saya paling suka dengan gulali ini karena menurut saya rasa manisnya lebih enak ketimbang permen sugus. Namun sayang sekarang sudah tidak pernah lagi saya menemui penjual gulali seperti ini. Atau mungkin sayanya saja yang jarang memperhatikan jajanan anak-anak.

Tapi sekarang saya sedang tidak menceritakan gulali, saya mau menceritakan tentang jajanan aneh. Entahlah barangkali teman-teman pernah menemuinya atau tidak yang jelas jajanan ini juga saya temui ketika SD dulu dan sekarang masih ada yang jual.

Beberapa minggu lalu saat saya ke Taman Bungkul saya menemui jajanan ini. Awalnya saya menyebutnya brondong yang dikasih parutan kelapa plus dicampuri gula dan garam, walau saya sendiri tidak yakin dengan bentuknya yang lebih kecil dari brondong jagung.

Ketika itu mbak Sandy, mamanya Bella, tanya kesaya itu makanan apa? Saya bilang itu makanan seperti brondong tapi rasanya enak banget. Saya bisa nyebut enak karena waktu SD dulu saya suka beli makanan ini. Untuk menjawab penasarannya mbak Sandy saya mencoba membelinya sambil bernostalgia.

Sambil si Ibu memarut kelapa saya tanya apa benar makanan ini dari jagung. Si Ibu bilang bahwa makanan itu bukan brondong jagung tapi orean. Orean? Makanan apa itu?

Kata si Ibu orang di desanya (dari Lamongan) menyebutnya Orean, tapi orang Madura menyebutnya bulir. Katanya bentuk aslinya lebih kecil dari jagung. Sewaktu saya tanya apakah seperti kedelai, si Ibu bilang masih lebih kecil dari kedelai.

Jajanan ini bentuk jadinya seperti popcorn mini. Popocorn imut lah pokoknya. Kueciil sekali. Orean mentah itu diproses sehingga berubah bentuk menjadi popocorn imut. Ibu itu sih tidak menjelaskan secara rinci cara prosesnya dia cuma bilang ada alat khusus untuk membuatnya menjadi seperti popcorn. Kalau menurut saya sih dioven soalnya gak ada bekas minyak disana.

Sebelum dicampur kelapa, orean itu rasanya hambar tapi ada manisnya dikit. Makanya supaya lebih nikmat dicampurlah kelapa parut lalu ditambahlah gula dan garam. Kenapa harus dicampur kelapa? Iya supaya orean agak basah dan gula garamnya bisa nempel. Dan rasanya? Hmm.. enak, gurih kelapa, dan manis-manis asin. Tapi kalau sedang lapar tidak saya sarankan jajan yang beginian soalnya percuma, biar habis berbungkus-bungkus pun perut nggak akan bisa kenyang. Yang ada malah melembung hihi..

Dari wawancara saya dengan si Ibu, dia bilang bahwa orean ini pohonnya lebih mirip jagung namun buahnya ada diatas. Dan panennya setiap bulan 7. Dari hasil panen itu oleh si Ibu ditimbun sebagai stok untuk persediaan sampai panen berikutnya.

Malah kata si Ibu para petani orean di kampungnya pernah diliput oleh stasiun TV swasta lho! Sayangnya saya tidak menemukan bentuk mentah orean atau bulir di mbah google..

Kalau bentuk matangnya seperti ini:

Bentuk matangnya seperti itu, nanti kalau ada yang beli dikasih parutan kelapa lalu ditaburi garam dan gula
Bentuk matangnya seperti itu, nanti kalau ada yang beli dikasih parutan kelapa lalu ditaburi garam dan gula
Orean yang sudah dicampur kelapa parut, dimasukkan ke dalam kantong plastik. Harganya murah meriah aja mau beli 1000 juga boleh :D
Orean yang sudah dicampur kelapa parut, dimasukkan ke dalam kantong plastik. Harganya murah meriah aja mau beli 1000 juga boleh 😀

 

In Memoriam Procie AMD Barton

Saat mencintai sesuatu terkadang orang tak pernah berpikir sebab akibatnya. Yang penting suka, yang lain mah lewaat..

Kejadian ini pernah terjadi beberapa tahun lalu di sebuah Toko Komputer. Dimana toko itu adalah customer saya yang ketika itu saya bekerja di sebuah Distributor pemegang merk sparepart Komputer yang juga menjual Processor, Motherboard, Memory, dan lain-lainnya.

Pada waktu itu penjualan Komputer masih menggunakan Procesor kelas Pentium (paling tinggi Pentium 4) dan AMD socket A / 462.

Mengenai Komputer sendiri, CPU Pentium yang Procesornya merk Intel sudah biasa dibeli orang. Namun yang tidak biasa dibeli adalah Komputer dengan Procesor menggunakan merk AMD. Konon  CPU AMD gencar dibeli oleh para penggemar gamer sejati. Dan biasanya mereka juga menambahkan CPU itu dengan Video Card (VGA) supaya kinerja CPU semakin Oke.

Customer saya itu rata-rata pemilik toko dan ngakunya gamer sejati. Mereka paling suka ngomongin Procesor AMD dan kehebatan VGA pada type-type tertentu.

Untuk diketahui Procesor AMD untuk socket A / socket 462 ada beberapa macam yaitu:

Generasi kedua AMD Athlon Thunderbird, Generasi ketiga AMD Athlon XP Palomino, Generasi keempat Athlon XP Thoroughbred, dan Generasi kelima Athlon XP Barton yang memiliki kapasitas mulai dari 2500 +, 2600 +, 2800 +, 3000 +,  hingga 3200 +

Bila ada barang masuk terutama Processor AMD kecepatan 2.500+ selalu jadi ajang rebutan. Konon Processor AMD Barton kapasitas 2.500+Ghz bisa di over clock sampai maksimal 3.000+ Ghz! bahkan lebih.

Seperti inilah penampakan Procesor AMD Athlon XP Barton 2500+ (foto diambil dari ebay)
Seperti inilah penampakan Procesor AMD Athlon XP Barton 2500+ (foto diambil dari ebay)

Barang aneh lain yang jadi incaran adalah VGA AGP seri 9800GT 512 MB. Saking gilanya dengan barang-barang itu mereka gak segan-segan nyetock barang.  Berapapun barang yang masuk diambilnya semua. Mereka gak mikir barang sebanyak itu akan dijual kemana dan berapa tagihan yang harus dibayarnya!

Penampakan VGA AGP 9800 Pro 128. gambar dari google
Penampakan VGA AGP 9800 Pro 128. gambar dari google

VGA AGP 9800GT 128MB bisa diover clock menjadi 512MB. Meskipun resiko over clock adalah garans hilang tetapi justru CPU yang memiliki spesifikasi seperti ini yang banyak dibeli para gamer! #Aneh# 😀

Padahal tindakan meng over clock akan beresiko besar, mulai terbakar sampai Processor / VGA itu mati! Tapi herannya mereka biasa aja malah menganggap kalau hal itu biasa terjadi. Asal tau aja ya harga Processor Barton saat itu perbijinya 2 juta lebih! Dan harga VGA sendiri diatas 1,5 juta! (Padahal sekarang ini Processor dan VGA dengan kapasitas 1GB harganya berkisar dibawah sejutaan, tergantung typenya)

Ada beberapa toko yang mengincar barang ‘aneh’ ini. Siapa cepat dia yang dapat. Memang kedua barang ini masuknya tidak banyak, sekali masuk paling banyak 20 unit saja, meskipun begitu semua barang itu tidak serta merta diambil, menurut mereka ada beberapa Processor dan VGA yang memiliki kode-kode tertentu pada fisiknya dan konon bisa di over clock hingga kecepatan maksimal.

Yang membuat saya heran adalah ada toko yang tidak mau melayani pembelian CPU dengan Processor Intel di tokonya! Kalau ada pembeli yang masuk ke tokonya ‘dilarang’ menyebut kata Intel. Pokoknya harus AMD! Kalau perlu dia harus rela berbusa-busa menerangkan kehebatan Processor AMD! Kalau usernya gak mau beli CPU AMD sama dia juga gak akan dilayani..

Anggapan mereka bahwa barang siapa yang membeli CPU dengan procesor Intel dianggap tidak gentle alias Processornya b*nci! Nah Lo.. 😀

Sampai heran saya melihatnya. Kalau dipikir-pikir kenapa orang beli harus ditolak. Seandainya dia gak mikir ego, tetap aja dilayani kan, toh dia sendiri yang nanti dapat untung , ya nggak?  Ngapain juga orang beli CPU ditolak? Bukankah hal itu akan menguragi omzet penjualan, atau malah namanya menolak rejeki?

Tapi yah mau gimana lagi, yang penting barang saya laku hihi..

Barangkali postingan ini adalah postingan penuh memorial bagi saya dan mungkin bagi para pembaca yang dulu pernah memiliki CPU AMD socket A / 462. Processor ini ramai di pasaran kisaran tahun 2003 yang kemudian sering diuji cobakan oleh para gamer.

Atau bila ada yang pernah jalan-jalan di Pameran Komputer lalu melihat sebuah CPU dengan casing transparan dengan lampu menyala lalu ditengah-tengahnya terdapat fan besar atau bahkan air mengalir dari selang, itu merupakan CPU yang sudah diover clock. Mereka sengaja menggunakan air sebagai suhu di CPU tidak panas. (memang kekurangan Processor merk AMD  socket A ini adalah mudah panas). Biasanya CPU model aneh begini sengaja dipamerkan oleh brand-brand motherboard saat pameran berlangsung.

Memang sih kejadian ini sudah sangat lama terjadi, tetapi kalau saya ingat akan hal itu rasanya jadi tertawa sendiri. Dan saya sendiri yang malah menganggap orang-orang itu dengan orang aneh 😀

Nah zaman sekarang perkembangan Processor AMD sudah berbeda dengan zaman dulu. Walaupun harganya masih lebih murah dengan harga Processor keluaran Intel yang jelas Processor AMD sudah gak sepanas dulu. Begitu pula dengan kinerjanya, gak kalah deh sama merk Intel.

Jadi bagi para penganut extreem merk Intel sekarang lah saatnya mencoba CPU AMD. Processor AMD sekarang perkembangannya semakin pesat. Apalagi jika disandingkan dengan VGA keluaran Nvidia maupun ATI Radeon hasilnya dijamin maksimal. Buat Game oke, buat kerja design juga maknyus 😀

Gak percaya? Coba perhatikan brosur laptop bila sedang jalan-jalan di toko komputer. Pada semua merk Laptop baik ASUS, ACER, Lenovo, HP, Compac, Vaio, hingga Axioo sekalipun yang konon penganut berat faham Intel sekarang juga turut serta merilis Laptop dengan Procesor AMD.

Malahan untuk Laptop yang menggunakan Procesor AMD sudah terpasang Video Graphic  NVIdia / Ati Radeon juga. Bandingkan dengan laptop yang menggunakan Processor Intel, Video Graphicnya pasti menggunakan Intel juga, hanya beberapa saja yang menyandingkannya dengan VGA Nvidia / Ati Radeon. Namun yang pasti jatuh-jatuhnya harga menjadi lebih mahal 😀

Untuk diketahui saja, Bila ada yang membeli laptop menggunakan Processor dengan tulisan: AMD C60, AMD C70, AMD E300, AMD E450, AMD E1800 dan dibelakangnya ada embel-embel ‘Dual Core’ maka jangan salah terka bahwa itu merk Intel. Embel-embel Dual Core digunakan untuk Processor yang kecepatannya diatas 1 GHz baik merk Intel ataupun AMD.

Mendadak Bromo

Nekat!

Begitulah keputusanku saat Kang Yayat ngajak jalan ke Bromo.

Beberapa hari terakhir Kang Yayat sempat ngajak ke Bromo tapi karena kondisi cuaca yang setiap hari hujan dan tidak memungkinkan untuk berangkat akhirnya rencana mundur-mundur terus.

Tanggal 23 lalu saya SMS Kang Yayat gimana rencana jalan ke Bromo kapan bisa direalisasikan mumpung  cuaca sedang cerah ceria, dan Kang Yayat jawab nanti saya kabari kalau jadi.

Akhirnya malam jam 9 tepat malam Mauludan Kang Yayat ngajak berangkat saat itu juga! Ya sudahlah tak masalah. Alhamdulillah cuaca juga sedang bersahabat sehari itu hujan tidak turun. Toh waktunya juga belum terlalu larut seandainya ngejar Sunrise masih nututlah, sedangkan perjalanan Surabaya Bromo via Pasuruan gak sampai 4 jam-an!

Kami janjian bertemu di Taman Bungkul jam 12 tet. Sengaja milih di Taman Bungkul karena Kang Yayat mau nunjukin rute perjalanan. Saya sebagai pendamping ngikut saja sama yang punya gawe 😀 . Sebelumnya Kang Yayat punya rencana ingin melalui 2 rute berbeda yaitu jalur Tumpang – Ranu Pane –Bromo, lalu pulangnya lewat Tosari Pasuruan.

Sebetulnya saya belum pernah lewat Tumpang dan belum tau medannya seperti apa, sedangkan 2 kali perjalaan ke Bromo dulu rute yang saya lewati adalah Tosari Pasuruan dan Probolinggo.

Tapi malam itu rencana diubah oleh Kang Yayat, berangkatnya lewat Pasuruan lalu pulangnya lewat Tumpang. Ya sudah ngikut sajalah..

Di perjalanan saya sempat tanya-tanya ke orang, maklum saya lupa-lupa ingat rute Pasuruan. Sudah 7 tahun lalu soalnya saya lewat sini dan juga kondisi malam gelap jadi gak seberapa ingat jalan yang harus dilewati.

Ditambah lagi sesampai di Pasuruan Kota ada acara Maulud Akbar yang jalannya ditutup jadi makin bingung aja nyari jalan alternatif. Beruntungnya ada banyak orang lalu lalang  sehingga gak bingung nanya orang disitu.

Hanya ada 1 kebingungan yang saya alami disini yaitu Pom Bensin!

Beat yang saya naiki isinya Cuma full 10 ribu sedangkan jarak menuju Tosari masih 30 kiloan dan menanjak pula. Ya ada sih yang jual bensin eceran tapi suasana malam begitu, sungkan aja kalau harus ngetok rumah orang.

Sempat pula kami kesasar. Jalan yang harusnya belok saya ambil lurus aja (Sebetulnya bisa aja lewat lurus, jalan itu juga bisa mengarah ke Bromo tapi nantinya naik lewat Probolinggo). Alhasil kami bertanya lagi sama orang, untunglah jam 2 dinihari itu kami masih menemukan rumah terbuka dengan penghuni yang duduk-duduk diluar rumah.  Dan disana kami mendapat wejangan bahwa naik ke Tosari malam-malam begini tidak bagus, jalannya rawan,  apalagi Cuma 2 motor aja. Kami disarankan lewat Probolinggo atau lewat Tumpang.

Sengaja saya menolak lewat Probolinggo karena saya tau bagaimana medannya. Dan kalau lewat Tumpang itu berarti kita harus jalan lagi jauh, balik ke Pasuruan kota trus lewat Malang.

Kang Yayat sudah mau ngajak balik aja tuh lewat Tumpang saat duduk-duduk nunggu di sebuah warung. Bayangin aja 3 jam duduk di warung dan dikasih tontonan sinetron ind*siar yang bikin eneg otak.

Heran aja sama otak ini sudah tau ceritanya aneh begitu tapi kok ya bisa-bisanya jiwa dan pikiran ini terbawa ke alur yang gak bener. Masih aja ikut deg-degan lihatnya. Jangan-jangan ini film dikasih pelet supaya banyak yang nonton. Masak iya sih ada majikan takut sama pembokat. Malah si pembokat mau dikasih berlian pula sama majikan supaya tutup mulut. Dan lagi mau-maunya si Titi Kamal, Teddy Syah dan Tommy Kurniawan main difilm begituan #penting banget# 😀

Setelah 2 jam-an terbawa esmosi, akhirnya kami putuskan untuk selesai sholat Shubuh berangkat. Pokoknya yakin aja gak ada apa-apa dijalan, meskipun sama pemilik warung diminta berangkat jam 6. Lha kalau jam 6 baru naik, sampai pananjakan bisa jam 9, trus dapat apa kita disana..

Dan Alhamdulillah kami tidak menemui kendala apa-apa. Kami sampai di Pananjakan sekitar pukul setengah 8 berbarengan dengan jip-jip yang turun. Suasana Pananjakan juga sudah sepi. Tapi sst.. kita juga gak ditarik karcis lho soalnya portalnya sudah dibuka, jadi kita santai aja lewat. Asiik.. hihi..

Awan berarak di Pananjakan. Image By Arkasala.net
Awan berarak di Pananjakan. Image By Arkasala.net

Tumpang Surabaya

Baliknya, sesuai rencana kami melewati Tumpang. Rute ini perasaan lebih jauh dibanding lewat Pasuruan. Di rute ini kami harus melewati lebarnya lautan pasir dan dipaksa menikmati cantiknya bebukitan. Lihat gunung yang berdiri tepat didepan mata rasanya seperti melihat gundukan pasir raksasa. Nyata baget pokoknya! Untungnya pasir-pasir itu kesat banget habis kena air hujan jadi gampang dilewati gak harus ngepot-ngepot.

Berpelukan di bukit Teletabis hihi..
Berpelukan di bukit Teletabis hihi..

Medan yang dilalui juga lumayan naik turun berkelok. Sayang jalanannya bukan aspal tapi semacam cor-coran gitu dan banyak rusak disana-sini jadinya ya ngoyo-ngoyo dikit. Tapi yah sama ngoyonya lah kalau lewat di Pasuruan dan Probolinggo.

Malah saya sempat lihat ibu muda gendong bayi jalan ditanjakan sendirian. Rupanya si Bapak sudah duluan naik sambil bawa motor! “Aduh, Bu gak capek apa, kasian bayinya, Bu”. Saya aja yang gak bawa apa-apa yang bolak-balik turun karena tanjakannya yang tinggi rasanya sudah ngos-ngosan.

Tapi memang sungguh pemandangannya cantiiik banget!

Hawanya adem. Di kanan kiri ada kebun kol. Trus dari jauh kelihatan terasiring sawah yang bagus banget. Ditambah lagi kabutnya yang tebal. Sempat ada insiden rem motor yang saya naiki blong. Mana jalanannya belum datar sempurna masih ada banyak tanjakan naik turun yang harus dilalui. Kami lalu berhenti sebentar. Barangkali remnya kepanasan atau apa karena motor matic kan hanya mengandalkan rem.

Setelah berhenti sejenak sambil memakai jas hujan karena tiba-tiba gerimis turun, rem motor saya akhirnya bisa berfungsi lagi.

Di jalur Tumpang ini juga banyak pohon apel. Saya perhatikan dihampir setiap rumah memiliki 1 sampai beberapa pohon apel. Woww enaknya… kalau pengin makan tinggal petik aja, kan hehe..

Dan kami tiba di Surabaya pukul 4 lebih di sore keesokannya. Jadi kalau dibilang 2 harian kami tidak tidur! Dan saking lamanya duduk diatas motor p*ntat ini rasanya seperti kotak hihi..

Oke saya kasih lihat petanya:

Peta Bromo

  1. Dari Pasuruan: Naik ke Wonokitri sekitar 30 km. Dari Simpang Dingklik kita bisa pilih mau naik ke Pananjakan sekitar 14 km menanjak atau turun langsung ke lautan pasir.
  2. Dari Probolinggo: Lewat Sukapura lalu turun ke lautan pasir. Kalau langsung ke Bromo lebih dekat tapi kalau ingin ke Pananjakan maka harus lebih dulu melewati pasir itu lalu naik menuju ke Panajakan.  Konon rute probolinggo ini adalah rute favorit yang dilewati pengunjung. Barangkali rute favorit bagi pengguna mobil pribadi karena dari sini bisa menyewa jip menuju Pananjakan. Kalau naik motor kayaknya nggak banget deh kapok sama pengalaman yang sebelumnya, malam-malam harus dorong-dorong motor melewati lautan pasir 😛
  3. Tumpang: Oke saya akui bahwa rute ini memang paling menarik diantara yang lainnya. Di Rute ini kita bisa menikmati indahnya kawasan wisata gunung yang berjejer dengan indahnya, bukit-bukit hijau yang disebut bukit teletubbies, padang rumput yang eloknya gak karu-karuan! Dan kalau mau juga kita bisa mampir ke Ranu Pane yang jaraknya tinggal sedikit sekitar 6 km. Tapi ya begitu naik motor ke rute ini bagusnya di musim hujan karena pasirnya keset. Kalau di musim panas, pasirnya kering pastinya akan susah dilewati dengan motor khusus kota-kota. Bisa-bisa 2 hari baru nyampe rumah hihi.. Dan lagi rute ini ternyata lebih jauh jaraknya ketimbang lewat Pasuruan.

Ini nih foto-foto lengkapnya, Semua foto ini diambil dari jerih payah Kang Yayat 🙂

Foto Sejuta Umat: Taman Nasional Bromo Tengger dari Pananjakan
Foto Sejuta Umat: Taman Nasional Bromo Tengger dari Pananjakan
Ndaplang! :D
Ndaplang! 😀

 

After Wedding? :D
After Wedding? 😀
BerubahKondisi Bromo terupdate setelah meletus beberapa saat lalu
Berubah
Kondisi Bromo terupdate setelah meletus beberapa saat lalu
Persimpangan
Persimpangan

NB: Per Desember 2012 Mobil pribadi dilarang masuk ke lautan pasir Bromo. Bagi pengguna mobil pibadi bisa nyewa Jip. Dengan Jip ini penyewa bisa memilih tempat unik, Bromo – Pananjakan, Bromo – Pananjakan – Savana, atau Bromo – Savana

Bagi pengguna motor diharapkan hati-hati karena jalan tanjakan dari lautan pasir menuju Pananjakan berubah menjadi beton halus serta tikungan tajam, maka Waspadalah! kata Bang One 😀

*Map diambil dari www.gunungbromo.indonesiatravel.biz

Buka mata buka telinga

Selain suka mengamati penampilan orang saya itu juga suka sekali mendengarkan pembicaraan orang. Hmm, maksud saya bukan mau menguping atau apa tapi saya hanya ingin menilai sikap dan karakter orang yang berada didekat saya.

10 Tahun lalu saat saya baru bekerja disebuah toko accesories computer yang menjual beraneka CD Blank, Mouse dan perlengkapan komputer lainnya saya pernah mengalami kejadian yang berhubungan dengan kebiasaan saya mendengar percakapan orang.

Sebagai orang baru yang masih harus menghapalkan harga dan produk yang dijual di toko, saya lebih bayak melihat dan mendengarkan rekan senior saya ketika melayani pembeli. Namun tidak menutup kemungkinan saya ikut membantu melayani apabila situasi toko dalam keadaan rame walau saya harus sering-sering bertanya kepada teman senior mengenai harga dan spesifikasi barang.

Sambil mendengarkan biasanya saya kerap memperhatikan orang dari segi penampilannya, gayanya, sorot matanya, dan juga cara bicaranya.

Suatu hari datanglah seorang laki-laki ke toko. Pada saat itu suasana Mall tempat saya bekerja dalam keadaan sepi karena bertepatan dengan sholat Jumat. Saat laki-laki itu melihat-lihat merk CD Blank, teman senior saya menghampirinya dan bermaksud melayani. Dan lagi-lagi saya hanya kebagian memperhatikan sikap dan gaya bicaranya. Saat itu entah mengapa saya merasa ada yang aneh dengan sorot matanya. Setiap saya tatap matanya laki-laki itu seperti orang yang salah tingkah. Karena tidak ingin merusak transaksi akhirnya saya memilih untuk mengalihkan pandangan. Namun bukan berarti telinga saya ikut beralih.

“Mbak saya beli CD Blank 1” Setelah memilih-milih sekian lama akhirnya lelaki itu memutuskan membeli.

“ 1 apa, Pak? 1 Roll apa 1 keping?”  Tanya senior saya.

“eh.. 1, ya 1 aja, 1.. 1 biji” jawab laki-laki itu dengan nada bingung. Sambil menjuali teman saya menggerutu pelan. Saya lirik teman saya itu dan dia membalas lirika saya. lirikannya seperti mengatakan raut muka sebal. Saya menyadari sedari tadi laki-laki itu memang terlalu banyak tanya. Semua merk dia tanya harganya, tapi-ujung-ujungnya hanya membeli 1 keping CD yang harganya Rp. 2.500,-!

Setelah menerima bungkusan berisi CD, laki-laki itu menyerahkan uang Rp. 100.000-an kepada teman saya. Karena dianggap kembaliannya terlalu banyak teman saya minta dibayar dengan uang pas saja. Tapi oleh laki-laki itu dijawab tidak ada. Mau tak mau teman saya memberi juga kembalian sebanyak Rp. 97.500,-.

Secara tiba-tiba laki-laki itu mengatakan bahwa dia memiliki uang Rp. 2.500,- dan meminta kembali uang Rp. 100.000 nya dikembalikan lagi kepadanya.

Setelah transaksi usai dan laki-laki itu sudah pergi, barulah saya berani angkat bicara.

“Mbak, tadi harga CD Blank nya berapa?”

“Rp. 2.500,-“

“Trus Mbak ngasih uang berapa?”

“Seratus ribuan”

“Jadi kembaliannya, berapa”

“Rp. 97.500,-“

“Sudah Mbak kasih kembaliannya sama dia?”

“Sudah”

“Trus kok tadi dia ngasih duit lagi Rp. 2.500,-?”

“Iya, dia bilang ada uang pas”

“Trus yang uang seratus ribuannya dia, mbak kasihkan lagi?”

“Iya, kan dia sudah bayar Rp. 2.500,-”

“Lalu kembaliannya Mbak yang Rp. 97.500,-, gimana?”

Teman saya diam. Rupanya dia baru menyadari ada kesalahan transaksi. Lalu kami mencoba mereka ulang kembali kejadiannya. Untuk memastikan saya minta teman saya menghitung semua uang yang ada dilaci. Dan ternyata benar uang dilaci tidak sesuai jumlahnya, kurang Rp. 97.500.

Seketika dia berlari mengejar laki-laki tadi. Sayangnya laki-laki itu sudah menghilang.

Usut punya usut ternyata laki-laki itu memang penipu. Dia menggunakan modus dengan cara halus untuk mempengaruhi korbannya. Dan bukan toko kami saja yang menjadi korban penipuannya, toko-toko tetangga juga ada beberapa yang telah tertipu olehnya.

Go Top