Saat cagar budaya dijadikan sebagai pusat pertunjukan reog

Balai Pemuda merupakan salah satu gedung bersejarah yang hingga kini tetap dilestarikan oleh Pemerintah Kota Surabaya. Sebagai cagar budaya, gedung ini kerap dijadikan sebagai langganan penyelenggaraan event yang bersifat kesenian tradisional. Salah satunya adalah pertunjukan seni reog Ponorogo.

Seni Reog Ponorogo, karya Domi Yanto, Pemenang Potret Mahakarya Indonesia
Seni Reog Ponorogo, karya Domi Yanto, Pemenang Potret Mahakarya Indonesia

Setiap hari Minggu pagi, saya sering berkunjung ke gedung Balai Pemuda ini. Apalagi kalau bukan untuk menyaksikan pertunjukan reog. Ya, di gedung ini setiap hari Minggu, tepatnya di pelataran gedung selalu diadakan pertunjukan seni khas Jawa Timur. Jadwalnya berselang-seling, antara pertunjukan reog dan pertunjukan kuda lumping.

Walau sering tampil, namun tak mengurangi antusiasme warga Surabaya untuk menonton pertunjukan reog ini. Sebab grup yang tampil setiap 2 minggu itu selalu memiliki karakteristik yang berbeda. Baik dari sisi humor sang Bujang Ganong (Ganongan), Keluwesan gerak tari Jathilan juga penampilan gemblak yang terlihat sangar namun lucu.

Jam 8 pagi, penonton sudah siap di posisinya masing-masing. Meski tanpa komando para penonton ini sudah lebih dulu membentuk lingkaran yang tengah-tengahnya kosong. Sedangkan kru reog sendiri, sambil mempersiapkan timnya selesai dandan, sudah memulai membunyikan musik khas reog Ponorogo.

Sebagai pembuka, pertunjukan ini didahului oleh tari Jathilan yang dibawakan oleh 4 gadis. Mereka ini menari  secara luwes dengan gerak yang kadang berloncatan mengikuti irama musik.

Tari Jathilan. Foto Yuniari Nukti
Tari Jathilan.
Foto Yuniari Nukti

Setelah itu barulah muncul Warok yangkemudian di ikuti dengan Gemblak. 2 sosok ini selalu melengkapi pertunjukan barongan berkepala bulu merak raksasa ini.

Warok.  Foto Yuniari Nukti
Warok.
Foto Yuniari Nukti

Selanjutnya berganti dengan kemunculan anak kecil yang biasa disebut Bujag Ganong (Ganongan). Kemunculan anak-anak ini sering membawa kesegaran tersendiri. Sebab gerak dan tarian yang dibawakan kerap lucu dan menggemaskan. Tak jarang ia bersalto mengikuti hentakan kendang, hingga membuat penonton terperangah saking kagumnya.

Bujang Ganong  Foto Yuniari Nukti
Bujang Ganong
Foto Yuniari Nukti

Saat Bujang Ganong ini tampil biasanya Gemblak turut meramaikan suasana. Mereka kerap membuat obrolan dan adegan lucu sehingga membuat penonton tertawa karenanya. Bersama Bujang Ganong mereka saling berbalas atraksi salto atau membuat atraksi unik yakni membuat semacam piramid ala reog.

Atraksi Piramid Foto Yuniari Nukti
Atraksi Piramid
Foto Yuniari Nukti

Terakhir, dan yang paling ditunggu-tunggu adalah penampilan reog. Dalam setiap pertunjukan ada 2 reog yang tampil. Keduanya akan memakai topeng bersama-sama lalu menari saling berhadapan kemudian saling memutar menunjukkan aksinya. Aksi ini seolah-olah menggambarkan 2 singo barong yang sedang bertarung. Semakin kencang reog berputar, maka semakin kencang pula tepuk tangan penonton.

Reog bersiap tarung Foto Yuniari Nukti
Reog bersiap tarung
Foto Yuniari Nukti

Wajar jika penonton begitu kagum sebab beratnya dadak merak Reog ini konon mencapai 50 kilogram dengan panjang dan lebar kurang lebih sekitar 2 meter-an. Bayangkan, bagaimana sulitnya seseorang membawa barang seberat 50 kilogram hanya dengan bantuan gigi saja lalu meliuk-liuk dan berputar-putar keudara. Yang pasti akan sangat berat. Namun penari reog ini sudah terbiasa melakukannya.

Reog bertarung Foto Yuniari Nukti
Reog bertarung
Foto Yuniari Nukti

Kebiasaan membawa reog dengan hanya menggunakan bantuan gigi bukanlah pekerjaan mudah. Setidaknya diperlukan banyak-banyak latihan berupa membawa beban berat dan tentunya juga latihan ilmu tenaga dalam.

Sebagai warga Surabaya saya amat bangga dengan diadakannya pertunjukan Reog sebagai pertunjukan mingguan. Setidaknya dihari libur itu, selain untuk menghilangkan penat, saya masih bisa menikmati dan merasa memiliki kesenian tradisional negeri sendiri yang beberapa saat sebelumnya nyaris di klaim negara lain.

Untuk itu marilah bersama-sama memiliki Reog sebagai kesenian tradisional. Memiliki saja tak cukup jika sekedar diucapkan, tetapi dibuktikan dengan berbondong-bondong saling menggerakkan satu sama lain agar senantiasa menyaksikan kesenian tradisional. Dengan Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia, mari bersama-sama kita dukung kesenian tradisional nusantara sebagai harta berharga bangsa.

Surabaya dan gedhang goreng

Suatu ketika saya dikasih tunjuk suami Photo Profil kotak BBM teman kantornya. PP yang ditampilkan itu bukan foto orang melainkan sebuah tulisan.

Setelah membaca PP itu saya lantas tertawa keras.

“Koplaaakk…” kata saya sambil terus tertawa. Entah kenapa tiba-tiba saya mengucapkan itu. Yang jelas kata itu saya ucapkan bukan maksud untuk mengejek si empu PP. Pokoknya spontan aja.

Bunyi tulisannya begini:

Dobol Suroboyo puanase koyok gedhang goreng..

(Dobol Suroboyo panasnya seperti pisang goreng)

Ada 2 alasan disini kenapa saya tertawa sekencang itu.

Yang pertama kata Dobol.

Dobol ini kalau diartikan dalam bahasa jawa artinya lebih kearah ambrol atau jebol. Namun penggunaan dobol sendiri sangat jarang digunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang berbau jebol, ambrol dan sejenisnya.

Dobol lebih sering digunakan untuk mengumpat sesuatu.

Misalnya ada orang membawa sesuatu kemudian barang itu tiba-tiba jatuh. Karena kaget dia spontan berkata “eh dobol-dobol..”

Mungkin kata itu masih nyambung karena ada hubungannya dengan barang jatuh. Tapi ada juga yang berkata “Dobol, koen ojok golek gara-gara” (Dobol, kamu jangan cari gara-gara). Atau Dobol, sakjane karepmu iku opo seh? (Dobol, sebenarnya apa sih maumu?)

Sama seperti membaca tulisan itu, kalau saya mendengar orang marah atau mengumpat yang diawali dengan kata dobol saya langsung tertawa. Lucu dengarnya. Apalagi diucapkan dengan logat Suroboyo yang medok. Membayangkan aja saya langsung tertawa seperti saat saya menulis ini. Sambil kepingkel-kepingkel sendiri.

Yang kedua kata gedhang goreng

Saya bingung apa hubungan antara Surabaya, panas dan gedhang goreng. Maksudnya mungkin panasnya Surabaya sepanas gedhang goreng yang baru diangkat dari wajan. Namanya juga baru turun dari penggorengan, yo mesti ae panas. Tapi kenapa harus gedhang goreng, kok bukan ote-ote, tahu isi, pohong goreng atau telo goreng. Padahal biasanya telo sering dipakai buat mengumpat orang. “O, telo..”.

Saya pun sering menggunakan umpatan telo ini kalau lagi di jalan raya. Kata ini spontan saya ucapkan kalau lagi geram sama orang yang seenaknya menyerobot lampu merah atau yang bergaya ala preman.

Walaupun saya suka mengumpat tapi saya usahakan agar umpatan yang keluar terdengar elegan. Atau setidaknya tidak menyinggung orang lain. Emang telo itu elegan? 😀  Dan umpatan itu gak sembarangan saya ucapkan supaya gak kena imbasnya. Bisa-bisa saya yang malah berdosa.

Cara lain mengucapkan kata umpatan adalah dengan guyon yang nadanya dipanjangkan seperti muuaayak.. atau koplaaaak..

Janc*k juga bisa jadi guyonan tinggal mengubah tanda bintang menjadi huruf o atau i. Supaya nggak terkesan tabu kata janc*k bisa diubah menjadi  jambu, jamput, jangkrik dan semua yang mengandung huruf depan J. Umpatan guyon ini biasanya berlaku kepada teman yang yang sudah akrab dan kenal lama.

Dan yang paling penting saya gak berani mengumpat dengan sesuatu yang didalamnya ada campur tangan Tuhan. Seperti cuaca panas, dingin, atau mencela sesuatu yang sudah menjadi kehendak Tuhan.

Memang cuaca Surabaya akhir-akhir ini terasa panas. Saya lihat di aplikasi andorid mencapai 35 derajat. Bahkan kipas angin pun gak bisa dinikmati sama sekali. Gak di kipasi itu sumuk, dikipasi anginnya panas.

Untuk satu ini saya gak berani mengumpat, takut dosa. Kalau sudah gerah banget paling-paling saya hanya mengeluh Ya, Allah, panasee… atau sumuk’e reeek..

Walaupun sebenarnya mengeluh itu tidak boleh.

Panas dunia aja sudah ngeluh, gimana nanti panas nya neraka. Naudzubillahimindzaalik.. 

Traffic Light penyebrangan

Selain jembatan penyebrangan kota Surabaya juga memiliki traffic light penyebrangan khusus bagi pejalan kaki dan sepeda ontel.

Traffic Light penyebrangan ini sangat unik sebab orang yang ingin menyebrang tak perlu lagi melambaikan tangan kepada pengendara mobil dan motor sebagai tanda minta jalan, tetapi mereka cukup menekan tombol di tiang kemudian tanpa menunggu waktu lama akan ada aba-aba lampu berwarna merah. Aba-aba ini biasanya di tandai dengan suara sangat keras yang bunyinya seperti minta perhatian. “Didid… didid.. didid….” ketika ada bunyi itu para penyebrang di persilakan untuk menyebrang.

Inilah saatnya pejalan kaki di anggap bak raja jalanan. Tanpa harus di burui, tanpa rasa takut di tabrak. Melenggang santai saja seperti jalan itu milik sendiri. Mau nyebrang ramai-ramai, mau sendirian saja juga boleh. Tetapi biasanya mereka nunggu sampai ada temannya dulu. Baru kalau sudah di tunggu tapi gak dapat teman juga dia boleh menyebrang sendiri.

Di banding jembatan penyebrangan, lampu merah penyebrangan ini lebih efektif dan cepat ketimbang harus bercapek-capek naik ke jembatan lebih dulu.

Ada cerita menarik mengenai lampu merah ini.

Beberapa hari lalu ketika Kak Julie sedang di Surabaya kami janjian ketemuan. Saya pun menjemputnya di hotel kemudian naik Taksi bersama-sama ke rumah Pakde untuk silaturrahmi.  Kebetulan letak hotelnya tepat di depan Gedung DPRD Surabaya, di sebelahnya Zangrandi dan jalan itu adalah kawasan padat lalu lintas. Apalagi jalurnya hanya untuk satu arah saja.

Taksi kami panggil. Namun tak satu pun yang berhenti. Mungkin karena posisi kami berada di kanan jalan, sedangkan Taksi berjalan di bagian kiri tepat di depan Gedung DPRD. Begitu pula dengan Taksi yang sedang ngetem di depan DPRD. Walaupun kami sudah melambaikan tangan memanggil mereka namun tak ada satupun dari mereka yang tertarik mendekati kami. Kesannya mereka tak butuh penumpang. Jalan satu-satunya ialah kami harus nyamperin mereka. Dan tentu saja kami harus menyebrang ke sana.

“Kek mana nyebrangnya?” tanya Kak Julie.

“Kita pakai lampu merah ini, Kak” kata saya. Sedikit grogi sebab saya jarang menggunakan fasilitas ini. Gimana cara nekan tombolnya. Dan tombol mana yang harus di tekan. Letaknya saja saya belum tau..

Saya memutari tiangnya sambil mencari letak tombol itu. Ketemu. Lalu saya pencet tombolnya.

“Kok mobilnya gak berhenti, Dek?” tanya Kak Julie lagi setelah menunggu beberapa saat.

“Masih harus nunggu merah dulu Kak, baru mereka berhenti” kata saya. Dalam hati saya sendiri bingung, kenapa lampunya gak berubah juga.

Untung lah ada satu orang yag bergabung bersama kami. Dia pun lantas menekan tombol itu sekali lagi. Masih sama, lampunya belum berubah juga.

Melihat kebingungan ini di depan sana, di lampu merah depan Gedung sana ada Pak Becak yang mambantu menekan tombol dari sana. Tanpa menunggu lama lampu pun berubah merah. Dan semua mobil berhenti. Oalah, mungkin tombol di bagian saya gak berfungsi makanya gak ngefek sama lampunya.

Semua kendaraan berhenti, saya dan Kak Julie pun melenggang nyebrang.

“Dek, beneran mereka berhenti?”

“Iya, tenang saja gak mungkin mereka nabrak kita. Kalau sampai ada yang berani nabrak merekalah yang salah” kata saya sok hehe..

“Ih, keren ya Surabaya. Gak percaya aku ada beginian. Katrok kali aku ya hahaha….”

Dalam hati saya bilang “I.. iya.. kita sama-sama katroknya Kak haha..”

Dan memang setopan penyebrangan ini semakin di minati warga Surabaya. Buktinya semakin jarang ada orang yang menyebrang sembarangan. Imbasnya jembatan penyebrangan yang makin tak laku hehe..

Adakah traffic light penyebrangan di kotamu teman?

Bu Risma dan kota seribu taman

Kalau di Jakarta ada Pak Jokowi, maka di Surabaya saya bangga punya Bu Risma (Tri Rismaharini)

Sosok Ibu Walikota yang memiliki gaya kepemimpinan unik ini dalam 3 tahun jabatannya sedikit banyak telah sukses mengubah wajah kota Surabaya.

Walau namanya mungkin tak setenar Jokowi tetapi bagi warga Surabaya, khususnya pasukan kebersihan, sosok Bu Risma sangat di hormati dan di segani. Pembawaannya sederhana, suka ceplas-ceplos, murah senyum tapi juga punya hobi marah-marah. Bagi yang pernah dan sering bekerja di bawah kepemimpinan Bu Risma, mendengar Bu Risma marah adalah hal biasa. Dan itu salah satu upaya untuk menyelesaikan masalah.

Saya punya 2 orang dekat yang bekerja sebagai petugas kebersihan kota. Dan dari mereka lah saya bisa menulis ini disamping melakukan pengamatan sendiri juga melalui media cetak atau digital. Tinggal saya kait-kaitkan saja.

Meskipun suka ceplas-ceplos, namun Bu Risma tak main-main denga kata-katanya. Jika ada proyek atau saluran jalan yang tak kunjung selesai dan dirasa cukup mengganggu keindahan kota, Bu Risma akan secepat mungkin cari tau dan sesegera mungkin meminta mereka menyelesaikannya. Sejak sebelum menjadi Walikota hingga menjadi  walikota, Bu Risma memang menonjol dalam kebersihan jalan, saluran air/sungai juga kecantikan kota. Sepertinya sudah sesuai bidangnya, Bu Risma yang seorang lulusan S2 Manajemen Pembangunan Kota di ITS ini, selama karier di pemerintahan, beliau pernah menjabat: Kepala Seksi dan Tata Guna Bappeko Surabaya (1996), Kepala Dinas Pertamanan dan Kebersihan (2005-2008), Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (2008-2010) yang kemudian membawa beliau pada Partai Politik.

Meskipun di awal-awal Bu Risma enggan untuk menjadi Walikota tetapi mau tak mau Bu Risma berangkat juga. Itu karena hasil survei yang sempat di syaratkan oleh Bu Risma. Syarat yang diajukan adalah Jika survei atas dirinya tidak mencapai angka 20% maka Bu Risma enggan jadi walikota. Kenyataannya survei menunjukkan angka 22%.

Di usung oleh PDIP, Bu Risma di sandingkan dengan Walikota sebelumnya, yakni Bambang DH. Karena sudah menjabat selama 2 periode yang seharusnya Bambang DH tidak boleh menjabat lagi, maka di jadikanlan Bu Risma sebagai posisi walikota.

Meski selama pemilukada berjalan lancar, kenyataanya Bu Risma mendapat batu sandungan. Antara lain, belum 1 bulan menjabat, Bu Risma akan di lengserkan oleh DPRD Surabaya. Dan bahkan dalam pelengseran itu, PDIP sebagai partai pengusungnya juga masuk menjadi salah satu partai yang ikut melengserkan Bu Risma. Meski akhirnya gagal di turunkan. Sebaliknya, kini PDIP memberi perhatian penuh kepada Bu Risma atas kesuksesannya memimpin kota Surabaya.

Tak berhenti sampai di situ, Kini Bu Risma masih di uji dengan menjadi pemimpin tunggal kota Surabaya. Sebab, sejak  mencalonkan diri menjadi Cagub Jatim, Bambang DH telah mengundurkan diri menjadi wakil walikota sejak April lalu. Dan hingga kini belum juga ada penggantinya.

Kini kota Surabaya telah berubah wajah. Kota yang dulunya terkenal panas dan debu, menjadi asri dan segar. Pepohonan hijau tumbuh di mana-mana memayungi jalanan Surabaya. Juga taman-taman nan indah yang mempercantik kota membuat siapa saja betah berada di luaran. Di tangan Bu Risma, Surabaya memiliki tempat wisata gratisan yang bisa di kunjungi oleh siapa saja juga kapan saja.

Dan harapan saya sebagai warga Surabaya, semoga masih ada sosok Bu Risma lain yang mampu mengimbangi kinerja beliau sehingga jika di akhir masa pemerintahannya nanti Surabaya tetap menjadi kota terbersih dengan seribu tamannya.

Bu Risma tangannya di bebat karena patah
Bu Risma tangannya di bebat karena patah

 

Referensi: Majalah Detik

Konvoi Persebaya dan Bonek

Saat melintas di depan Stasiun Gubeng minggu siang kemarin, ada pemandangan tak biasa. Puluhan aparat dan ratusan bonek berkumpul dengan kostum hijau lengkap berikut atributnya. Akan ada konvoi Persebaya dan Bonek.

Bonek menunggu dari Depan Sta. Gubeng hingga Hotel Sahid Surabaya
Bonek menunggu dari Depan Sta. Gubeng hingga Hotel Sahid Surabaya
Aksi Bonek yang bersahabat :)
Aksi Bonek yang bersahabat 🙂
Misi.. numpang narsis ye.. :D
Misi.. numpang narsis ye.. 😀

Awalnya saya mengira ada razia, ternyata bukan. Mereka berkumpul untuk menunggu pemain Persebaya tiba dari Solo. Menurut kabar yang saya dapat, kesebelasan Persebaya menjuarai Divisi Utama setelah bertanding melawan Perseru Serui dengan kemenangan 2 – 0.

Beruntung saat itu saya bawa kamera dan karena peristiwa seperti ini jarang terjadi saya banting setir menjadi reportase dadakan. Mulanya saya hanya ingin memotret jeep keren yang dipakai untuk arak-arakan tetapi begitu melihat antusisme para Bonek saya pun ikut-ikutan konvoi. Bukan ikut konvoi sih, tapi saya hanya motret konvoinya aja.

Konvoi Persebaya dan Bonek di mulai dari depan Stasiun Gubeng. Para pemain yang menaiki jeep sambil membawa piala di arak oleh para supporter yang dikawal oleh aparat kepolisian. Persis seperti pertandingan di stadion, para supporter itu bernyanyi sambil mengibarkan bendera hijau Bonek. Beberapa bonek juga sempat membuat asap kuning selama di perjalanan membuat arak-arakan itu terlihat meriah dan hidup.

Tertib dan aman :)
Tertib dan aman 🙂
Pemain Persebaya
Pemain Persebaya
Piala di arak keliling Surabaya
Piala di arak keliling Surabaya
Seru, tidak menakutkan :D
Seru, tidak menakutkan 😀
Motor dan Mobil Polisi mengawal perjalanan konvoi di Jalan Urip Sumoharjo
Motor dan Mobil Polisi mengawal perjalanan konvoi di Jalan Urip Sumoharjo

Dari Sta. Gubeng, konvoi itu melewati Jl. Pemuda, Jl. Panglima Sudirman (Pangsud), Jl. Urip Sumoharjo hingga Darmo dan berhenti sejenak di depan Taman Bungkul. Selanjutnya mereka berputar melewati Kebun Binatang dan berlanjut terus hingga Jl. Urip Sumoharjo lagi melewati Jl. Basuki Rahmad, Jl. Gubernur Suryo di depan Grahadi lalu berhenti di depan Gedung DPRD Surabaya dibelakang Balai Pemuda. Di sana para pemain Persebaya dan Bonek di sambut oleh ketua DPRD Bpk. M. Mahmud.

Dalam sambutannya M. Mahmud mengucapkan selamat kepada para pemain yang telah berjuang dan para Bonek yang selalu setia memberi semangat. Kata M. Mahmud lagi, di Surabaya hanya satu Persebaya dan satu Bonek.

Piala di gadang-gadang
Piala di gadang-gadang

YUNI5241YUNI5242Sebelum masuk ke dalam Gedung DPRD, satu persatu Bonek berebut mengabadikan diri bersama pemain atau berdua dengan pialanya saja. Mereka berebut untuk bisa mencium piala kebanggaan mereka itu.

Karena hari sudah beranjak siang, saya buru-buru pulang karena belum Sholat Dhuhur. Rupanya selama acara penyambutan para Bonek itu masih setia di depan Gedung.

Dan pagi tadi saya baca berita tentang konvoi kemarin. Ternyata konvoi masih berlanjut hingga ke Jl. JAgung Suprapto.

Selamat konvoi Persebaya dan Bonek.. Semoga kemenangan yang di raih bukan kemenangan yang terakhir.

Kasih jalan-kasih jalan... ada Bonita lewat :P
Kasih jalan-kasih jalan… ada Bonita lewat 😛

Bahasa Surabaya: Dino valentin

Bahasa Surabaya adalah bahasa sehari-hari yang digunakan arek-arek Suroboyo khususnya dan orang Jawa Timur pada umumnya. Walaupun terdengar seperti bahasa jawa umum , tetapi dialek dan penekanan kata pada boso Suroboyoan memiliki ke khas-an tersendiri.

Boso Suroboyo memiliki ciri khas yang to the point atau ‘asal njeplak’. Terkesan lebay ketika menyebutkan sesuatu yang bersifat ‘banget’ seperti misalnya: banyak sekali = akeh banget (jawa)= uakeh (suroboyo), panas sekali = panas banget (jawa)=puanas (suroboyo) dsb. Juga selalu menggunakan akhiran ‘e pada kalimat yang menunjukkan kepemilikan, seperti rambutnya = rambut’e, uangnya = duik’e, bukunya = buku’e bisa juga bukune.

Oya maaf jika saat baca nanti menemukan kata-kata kasar, bukan maksud saya menuliskan sesuatu yang kasar tetapi saya berusaha mengikuti dialek asli Suroboyo yang walaupun kasar tetapi orangnya hangat kok, *mosoookkk..* hehe

Berikut ini adalah cerita yang saya tulis dengan bahasa Suroboyoan:

lCFF5L3LRd14 Februari winginane, jare arek enom-enom dino Valentin. Iku lho gae ngelingno dino roso sayang. Jareno pas dino iku gae ngungkapno roso sayang mbarek wong tuo, roso sayang mbarek bojo, roso sayang mbarek konco , utowo roso sayang mbarek sir-sirane.

Pancene ono-ono ae kok arek enom jaman saiki. Wong arep ngetokno roso sayang ae lho kok leren ngenteni setaun pisan, padal bendino yo wes mari sayang- sayangan. Lak iyo se, Rek?

Salah sijine, Pi’i, sing latah melok-melok ngramekno dino roso sayang mbarek sir-sirane, jenenge Ning Tun. Arek enom siji iku ket jam 5 sore wes macak ngguanteng. Nggawe clono lepis, hem kotak-kotak trus rambut’e di sureni klimis. Sampek tumo ae gak iso mancik pathak’e saking lunyune rambute. Nek Pi’i mlaku ambune mak bal-bul. Wuangi!

Karepe Pi’i dino valentin iki kudu di rayakno mbarek sir-siran. Mboh mlaku-mlaku, opo mangan-mangan. Pokok’e opo-opo kudu karo genda’ane. Ngono iku gae bukti nek Pi’i iku seneng temen mbarek Ning Tun masiyo duik nang dompet’e cekak.

Sing penting lak perhatian’e tah duduk duit’e. Ngono lho, Rek..

Mari muacak necis, Pi’i budhal nang omahe Ning Tun. Sak durunge budhal Pi’i wes pesen mbarek Ning Tun ojo mangan dhisek, polane arek enom iku arep ngejak mangan nang warung kalkulator taman bungkul. Rodok-rodok mbois thithik, rek, mosok valentinan nraktir mangan genda’an nang warung pojok. Arep di dekek endi raine Pi’i..

Duik satus ewu sing disiapno gae nraktir Ning Tun disimpen nang dompet’e trus didekek nang sak mburi clono lepis’e. Ben luwih ketok parlente dompet’e di pecungulno thithik. Sopo ngerti nek Ning Tun ndelok ben tambah sayang mbarek awak’e.

Pas wes tekan omahe Ning Tun, Pi’i njagang bronfit’e trus lungguh methangkring nang ndhukure. Prejengane pokok’e wes koyok yok-yok’o ae arek iku. Pithik ae sampek nggegek ndelok tingkahe arek lanang sing rodok koclok iku.

Gak suwe ngenteni, Ning Tun metu tekan omahe.

Ndelok sir-sirane macak uayu menik-menik tur semlohe, Pi’i ngadeg mbarek ngelus-ngelus rambute sing klimis iku. Mari ngguya-ngguyu isin-isinan arek enom loro lanang wedok iku budhal kota-kota.

Biasa, rek, mosok dino valentin mek lungguh-lungguh nang omah thok. Bek’bek’e oleh sak cipok rong cipok teko Ning Tun, batin Pi’i. Pancene arek iku rodok koplak kok utek’e. Gak tepak blas! Ojo ditiru lho rek, duso koen!

Mari tekan puter-puter Pi’i ngejak Ning Tun mlebu nang warung kalkulator sing wes ruame. Nang kono akeh arek enom, wong tuwek, lanang, wedok campur dadi siji. Pi’i mbarek Ning Tun lungguh nang salah siji dingklik kayu dowo.

Sek tas lungguh onok arek wedok-wedok liyo melbu nang warung kalkulator iku karo ngguyu cekakaan. Ning Tun langsung mlengos ndelok dapurane arek-arek sing ngguyu gak aturan iku.

Barang didelok tibak’e konco-konco kuliahe dewe. Langsung ae Ning Tun melok mbengok, karepe nyeluk arek-arek iku. Gak temen mari diceluk, arek wedok-wedok iku mau lungguh nang sebelahe Ning Tun. Trus melok pesen pisan.

Pi’i sing onok nang sebelahe Ning Tun rumongso  seneng-seneng seneb. Arek sak mono akeh’e sopo sing kate mbayari, nggawe duik gambar gareng, tah? Tapi Pi’i mbidheg ae gak wani ngomong Ning Tun.

Acara valentin sing dikiro romantis tibake seje ambek perkiraane. Ning Tun akeh ngobrol mbarek konco-koncoe. Pi’i gak direken blas. Atine Pi’i kroso mbedhodhok gak karuan.

Mari mangan, iso gak iso Pi’i yo kudu mbayari koncone Ning Tun pisan. Mosok arep mbayar dewe lak gak enak ambek Ning Tun.

“Kabeh satus suwidak pitu, Cak” jare mbok dhewor sing nduwe warung.

Pi’i  klagepen. Duik nang dompet mek onok satus ewu tok. Arep nyilih Ning Tun yo isin, rek. Pi’i bingung.

“Endi, Cak? Kabeh entek satus suwidak pitu” dibaleni maneh omongane mbarek mbok dhewor sing nduwe warung.

“Mak, sepurane. Duikku onok mek satus ewu tok. Iso utang gak. Mene tak bayar kurangane. Temenan! Nek sampeyan gak percoyo tak tinggali KTPku gae jaminan” Jare Pi’i.

Wong sing nduwe warung iku langsung mrengut. Bathuk’e melok mencureng pisan “Mbok pikir warung iku gaden tah, sak enak’e dewe utang! Warung iki duduk warunge mbahmu, Ngerti, kon!”

“Iyo yo, Mak. Sepurane sing uakeh. Temenan mene tak bayar. Sumprit iku lho aku gak mbojok!”

“Yo wes, ndang nyingkrih’o kono, gak sumbut aku ndelok prejenganmu!”

Pi’i ngalih, prainane pringisan.

Urusan mbayar wes beres. Pi’i langsung ngejak nyingkrih Ning Tun.

“Cak, ndelok biskop, yok. Jarene arek-arek onok film apik. Judul’e operesen widing,  jarene mulai tayang saiki”

Pi’i wes kadung mutung.

Batin’e Pi’i “gak ngurus! Babahno.. bah ono film anyar, bah ono film Jeki Cen dangdutan, sing penting saiki moleh. Wong duik’e wes amblas ngene kok!”

Tapi Pi’i gak eroh arep ngomong opo mbarek Ning Tun.

Yo opo-yo opo Pi’i kudu golek alasan ben iso mulih.

Gak suwe mikir

“Wetengku mules. Moleh ae, Ning” jare Pi’i ngaspo ambek mercing-mercingno motoe. Cepet-cepet tangane nggandeng Ning Tun nang parkiran. Pancene arek enom siji iku pualing pinter nek dikongkon ngaspo.

“Walaaah, Caaak….” lambene Ning Tun mrengut limang senti.

Terjemahan:

14 Februari kemarin, anak muda bilang merupakan hari valentin. Itu lho peringatan hari kasih sayang. Katanya  hari itu untuk mengungkapkan kasih sayang kepada orang tua, kasih sayang kepada istri/suami, kasih sayang kepada teman atau kasih sayang kepada kekasih.

Memang ada-ada aja anak muda jaman sekarang. Hanya untuk ngerayakan kasih sayang aja lho kok harus nunggu setaun sekali, padahal tiap hari kan sudah sayang- sayangan. Iya kan, teman-teman?

Salah satunya, Cak Pi’i, yang latah ikut-ikutan meramaikan hari kasih sayang itu dengan kekasihnya, namanya Ning Tun. Anak muda satu itu sejak dari jam 5 sore sudah dandan ngguanteng. Memakai celana lepis, hem kotak-kotak lalu rambutnya di sisir klimis. Sampai-sampai kutu aja gak bisa jalan dikulit kepalanya karena licinnya rambut Pi’i. Kalau dia jalan baunya kebal-kebul, wanginyaa!

Maunya Pi’i hari valentin itu harus dirayakan dengan kekasih. Entah itu jalan-jalan atau makan-makan. Pokoknya semuanya harus bareng pacar. Hal-hal seperti itu untuk membuktikan bahwa Pi’i sayang banget sama Ning Tun walaupun uang di dompet pas-pasan.

Yang penting kan perhatiannya bukan uangnya. Begitu lho teman-teman..

Setelah dandan necis, Pi’i berangkat ke rumahnya Ning Tun. Sebelum berangkat Pi’i sudah berpesan kepada Ning Tun untuk tidak makan dulu, sebab anak muda itu berniat ngajak makan di warung kalkulator taman bungkul. Keren-keren sedikit lah, masak hari valentin ngajak makan kekasih di warung pojok. Mau ditaruh mana muka Pi’i..

Uang seratus ribu yang sudah disiapkan untuk nraktir Ning Tun disimpan di dompetnya lalu ditaruh di saku belakang celana lepisnya. Supaya lebih tampak parlente dompetnya di angkat keatas sedikit. Siapa tau kalau Ning Tun melihat jadi makin sayang pada dirinya.

Sesampai dirumahnya Ning Tun, Pi’i mendirikan sepeda motornya lalu duduk diatasnya. Nggaya sekali, begitulah gambarannya Pi’i. Ayam aja sampai terbahak-bahak melihat tingkah lelaki sedikit nyleneh itu.

Tidak lama menunggu, Ning Tun keluar dari rumahnya.

Melihat kekasihnya dandan super cantik menik-menik serta sexy, Pi’i berdiri sambil ngelus-ngelus rambutnya yang klimis. Setelah senyum malu-malu dua anak muda laki perempuan itu langsung berangkat keliling kota.

Biasalah teman, masak hari valentin cuma dirayakan dengan duduk-duduk dirumah aja. Siapa tau dapat satu-dua ciuman dari Ning Tun, pikir Pi’i. Memang anak itu agak kurang waras otaknya.Gak benar sama sekali! Jangan ditiru ya teman, bikin tambah dosa!

Selesai dari putar-putar Pi’i ngajak Ning Tun masuk ke dalam warung kalkulator yang sudah rame. Disana banyak anak muda, orang tua, laki, perempuan campur jadi satu. Pi’i dan Ning Tun langsung mengambil tempat di salah satu bangku panjang.

Baru mereka saja duduk ada beberapa anak perempuan lain masuk di warung kalkulator itu sambil tertawa kencang. Seketika Ning Tun langsung menoleh untuk melihat kelakuan anak-anak yang tertawa tanpa sopan itu.

Setelah dilihat ternyata teman-teman kuliahnya sendiri. Langsung aja Ning Tun ikut teriak, maksudnya untuk memanggil mereka. Benar saja, anak-anak perempuan itu tadi duduk di sebelahnya Ning Tun. Lalu ikut pesan makan sekalian.

Pi’i yang ada di sebelahnya Ning Tun merasa senang-senang sedih. Anak segitu banyak siapa yang akan membayar makanannya, mau bayar pakai uang gambar gareng, apa? Tetapi Pi’i diam aja gak berani bilang Ning Tun.

Acara valentin yang awalnya berjalan  romantis ternyata beda seperti perkiraannya. Ning Tun lebih banyak ngobrol bersama teman-temannya. Pi’i dicuekin sama sekali. Hatinya Pi’i terasa membara.

Setelah makan, bisa tidak bisa Pi’i harus membayar makan teman-temannya Ning Tun sekalian. Masak mau bayar makanan sendiri, malu lah sama Ning Tun.

“Semua seratus enam puluh tujuh, Cak” kata ibu pemilik warung.

Pi’i  bingung. Uang di dompetnya hanya ada seratus ribu aja. Mau pinjam Ning Tun ya malu lah. Pi’i bingung.

“Mana, Cak? Semuanya habis seratus enam puluh tujuh ribu” ulang ibu pemilik warung.

“Bu, maaf. Uang saya hanya ada seratus ribu aja. Bisa utang gak. Besok saya bayar kekurangannya. Pasti! kalau Anda gak percaya saya tinggalkan KTP saya sebagai jaminan” Kata Pi’i.

Si pemilik warung seketika cemberut. Keningnya ikut berkerut “Kamu pikir warung ini pegadaian apa, seenak sendiri aja ngutang! Warung ini bukan warungnya nenekmu, tau kamu!

“Iya ya, Mak. Maaf sekali. Beneran besok saya bayar. Sumpah, saya tidak bohong!”

“Ya sudah, cepat sana pergi, gak cocok saya lihat modelmu (sikap dan kenyataan)!”

Pi’i pergi sambil senyam senyum.

Urusan bayar sudah selesai. Pi’i langsung ngajak keluar Ning Tun.

“Cak, nonton biskop, yok. Katanya teman-teman ada film bagus. Judulnya Operesen Widing, katanya hari ini tayang perdana”

Pi’i sudah terlanjur ngambek.

Pikir Pi’i “bukan urusan! Biar saja.. biar ada film baru, biar ada film Jeki Cen dangdutan, yang penting sekarang pulang. Duit sudah habis begini!”

Tapi Pi’i bingung harus bilang apa sama Ning Tun.

Biar bagaimana Pi’i harus nyari alasan supaya bisa pulang.

Tak lama berpikir

“Perutku sekarang mulas. Pulang aja yuk, Ning” kata Pi’i bohong sambil matanya menahan sakit. Cepat-cepat tangannya nggandeng Ning Tun ke parkiran. Memang anak muda satu itu paling pintar bohong.

“Yaaah, Caaak….” bibirnya Ning Tun cemberut lima senti.

NB:

Wes yo, Rek sak mene ae aku nggawe crito boso Suroboyo, nek akeh-akeh nggarai koen-koen kabeh kemekelen. Masio critone gak lucu, moco tulisan boso Suroboyo iku biasane nggawe wong ngguyu. Tapi nek mari moco tetep gak iso ngguyu, yo mbok mocone karo ngguyu, mesem-mesem thithik ngono lho rek..

Sudah ya teman-teman segini aja saya nulis cerita bahasa Surabaya, kalau banyak-banyak bikin kalian semua tertawa. Biarpun ceritanya tidak lucu, biasanya baca tulisan berbahasa Surabaya itu bisa bikin orang tertawa. Tapi kalau selesai baca tetap gak bisa bikin kalian tertawa, kalau begitu bacanya sambil tertawa aja, senyum-senyum dikit gitu..

Go Top