Liburan keluarga penuh rejeki

Whoah sudah hari Jumat, cepet aja sudah mau weekend. Waktu tepat buat liburan keluarga, nih!

Libur-libur kemana, yaa..

Agak-agaknya libur minggu ini masih sama seperti yang lalu-lalu. Gak ada acara pergi jauh. palingan muter-muter dalam kota lihat situasi atau datang ke event Pameran. Kalau nggak semuanya, mentok-mentoknya ke Taman Bungkul, atau malah diam dirumah sambil baca koran politik *modelmu, Yun, koyok politikus ae* hihi

Libur memang enak ya, apalagi bersama teman dan saudara. Tapi minggu-minggu ini saya lagi banyak kerjaan *horang sibukk* jadilah liburannya dirumah aja.
Kerjaannya apa sih, Yun, segitunya ngomong sibuk? Banyaaakkk…

Kerjaanku lagi banyaakk. Semua seputar blogging.. Alhamdulillah rejekinya ngeblog dapat tawaran sana-sini.. *blogger kemaruk* 😀

Eh, tapi gak hanya nulis aja, ya.. Baru-baru ini saya juga dapat undangan acara. 2 undangan. Yang satu hari Jumat, satunya lagi hari Sabtu. Dua-duanya weekend. Sebenarnya acara ini berbayar. Investnya 100 ribu. Tapi karena blogger dikasihlah gratis! Blogger gitu loh wkwk

Jadi menurut saya definisi rejeki gak melulu soal uang. Undangan acara pun juga termasuk rejeki. Apalagi kalau materinya saya suka. Seandainya gak datang ke undangan seperti itu, mana bisa dapat ilmu bermanfaat. Kalau butuh banget, jalan satu-satunya harus beli buku dulu. Ujung-ujungnya duit lagi, kan. Tapii karena rejeki dari blogger, dapat materi langsung dari nara sumber terpercaya *kalau bisa narsum terkenal biar sekalian diajak narsis* maka sedikit-sedikit bisa berhematlah.
Kalau nggak jadi blogger mana bisa dapat undangan seperti itu. Sepesial pula!

Definisi rejeki yang lain menurut analisis saya termasuk juga bisa beli baju dengan harga tawar semurah mungkin, bisa beli buku menggunakan jimat kartu diskon, dapat kiriman produk sample gratis, datang ke undangan dapat godie bag keren, daan yang lain-lain 😀 Intinya sih sering-sering dapat gratisan aja haha..

Ngomong-ngomong rejeki saya jadi ingat kejadian setahun lalu di bulan Desember. Saya diundang liburan ke Jakarta. Waktu itu saya diminta datang ke Jakarta untuk menghadiri perayaan ulang tahun salah satu brand otomotif terkemuka. Naik pesawat dibayar termasuk ongkos airport taxnya plus nginep dihotel gratis. Sampai di Jakarta dilayani dengan sempurna.
Malamnya, ketika berangkat ke tempat perayaan di sekitar Jakarta Pusat, naik bisa rombongannya pakai kawalan Polisi. Wuih betapa kerennya jadi blogger..

Tiba diacara MC sama bintang tamunya orang terkenal semua, walaupun mereka gak bisa diajak foto bersama, sih. Senangnya lagi selain dapat goodie bag, semua peserta dikasih door prize tanpa kecuali. Usai acara, esok paginya saya sudah kembali lagi ke Surabaya. Seperti mimpi, pagi di Surabaya, malam di Jakarta, besoknya di Surabaya lagi. Yang mencengangkan adalah duit saya utuh, sodara.. lha gimana wong kemana-mana disediakan penyelenggara. Mau apa tinggal bilang. Pengin ini tinggal tunjuk. Rejeki lagiii haha..

Harapan saya semoga tahun ini diundang lagi sama brand oto, dan kalau bisa jangan ke Jakarta lagi, ke Bali atau Lombok laahh *maunya* hihi

Kalau kawan-kawan pernah nggak merasakan liburan keluarga yang ngrejekeni (membawa rejeki)?

Jalan-jalan Modal 100ribu ke situs Trowulan Mojokerto

Jalan-jalan modal 100 ribu bisa kemana?
Kemana yaa, bisa sih kemana-kemana asal tidak keluar negeri hihi..
Mau keluar pulau, bisa.. tapi pulau Madura 😀
Kalau lagi pengen keluar kota tujuan saya kalau nggak ke Pandaan, Malang, ya Mojokerto. Soalnya 3 kota itu yang punya banyak tempat menarik dan murah meriah.

Nah kebetulan BLOG JALAN JALAN sedang ngadakan Giveaway jalan-jalan dengan modal 100 ribu. Ikutan ah..

Beberapa waktu lalu saya jalan-jalan ke Mojokerto. Tau kan ya Mojokerto memiliki banyak peninggalan Kerajaan Majapahit. Dan jelas saya kesana ingin mengunjungi situs peninggalan sejarah di Trowulan yang memang paling banyak menyimpan peninggalan bersejarah. Situs yang saya kunjungi adalah Candi Brahu, lokasinya didesa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Mojokerto. Kalau ditempuh dengan motor, jarak Surabaya – Trowulan sekitar 2 jam-an saja. Untuk berapa kilometernya saya gak ngukur, kata Mbah Google, sih kurang lebih 45-50 kilometer. Matur nuwun, Mbah 🙂
Yang jelas saya isi bensin motor full tanki 20ribu bisa dipakai buat pulang pergi.

Sebelum berangkat isi perut dulu supaya dijalan gak beli-beli makanan. Buat bekal dijalan saya bawa botol minuman, jadi kalau istirahat sewaktu-waktu tinggal teguk. Bisa hemat waktu dan hemat biaya dong..

Enaknya Jalan-jalan pagi itu kondisi lalu lintas lancar. Gak barengan sama yang berangkat kerja. Paling-paling macetnya pas di lampu merah bypass Krian dan Mojokerto. Karena saya niatnya jalan-jalan, jadi gak begitu ngejar kecepatan. Santai aja sambil menikmati pemandangan jalanan.

Ke Candi Brahu adalah kunjungan pertama saya. Gara-garanya pas sedang lewat Mojokerto secara tak sengaja saya melihat tanda panah yang mengarah ke gang masuk dengan tulisan CANDI BRAHU tepat sebelah kanan dari jalan raya Trowulan, beberapa kilometer sebelum menuju ke Terminal Mojoagung. Seketika tanda itu membuat saya terperangah dan berniat akan berkunjung sewaktu-waktu.
Dan begitulah, begitu ada kesempatan langsung saja saya ajak Suami kesana. Selain itu saya juga penasaran sama patung Budha Tidur yang konon letaknya di Mojokerto juga. Sudah lama pengen kesini..

Candi Brahu Trowulan keseluruhan
Candi Brahu Trowulan keseluruhan

Begitu motor sudah melalui jalan raya Trowulan, saya minta Suami untuk mengurangi kecepatan. Dan saya sibuk menajamkan pandangan ke arah kanan jalan mencari gang yang ada tanda panah bertuliskan CANDI BRAHU. Maklum, saya takut gang nya terlewati. Soalnya kalau sudah kelewatan, mutar baliknya akan sulit, apalagi lihat ukuran kendarannya yang guedhe-gedhe begitu.. ngeri.
Dan begitu gangnya terlihat, Suami langsung nyalakan sein kanan. Syukur nyebrangnya mudah 😀

Dari jalan raya, gang masuk menuju Candi Brahu kelihatan sempit. Tapi begitu didalam, muat kok buat dua mobil. Setelah tanya penduduk 2 kali, sampailah saya di Candi Brahu.

Candi Brahu diperkirakan dibangun pada abad 15 ini nampak terawat bersih. Selain rerumputan hijau memenuhi areal Candi, disana juga terdapat banyak sekali pohon buah Maja. Pohon-pohon ini semuanya berbuah, ukurannya sebesar buah melon. Dalam mitos, buah Maja adalah cikal bakal nama kerajaan Majapahit. Konon buah Maja rasanya pahit, sehingga disebut Majapahit.

Sudah seperti backpacker ulung gak sih? :D
Sudah seperti backpacker ulung belum sih? 😀

Karena Candi ini situs bersejarah, maka tak sembarang orang boleh naik ke atas Candi. Ditakutkan Candi setinggi 20 meter dengan bahan utama batu merah ini akan runtuh. Setiap hari areal Candi ini dibersihkan, itu terlihat dari aktifitas petugas yang menyapu seluruh halaman dan menyirami tanaman yang ada disana. Petugas itu begitu ramah menyapa siapa saja yang datang ke Candi itu. Waktu saya tanya-tanya petugas juga menjelaskan dengan baik. Malahan waktu saya melihat ada buah keres berwarna merah, petugas menyuruh saya mengambil buahnya.

“Ambil saja, mbak. Gapapa, kok”

Saya tersenyum aja. Gak enak juga mau ambil buah disana. Itukan cagar budaya, takut kenapa-napa 😀

Dilarang naik, nampangnya dibawah aja ya :P
Dilarang naik, nampang dibawah aja ya.. Tak lupa botol minumnya diajak juga 😛

Untuk masuk ke dalam Candi, pengunjung hanya diminta mengisi buku tamu. Waktu saya tanya, karcis masuknya berapa, petugas menjawab “seikhlasnya”. Okelah karena gak ada ketentuan karcis masuknya, dan parkir motorpun gak ditarik petugas, saya tinggalin uang sepuluh ribu.

The Sleeping Budha

Sebelum lanjut jalan, saya tanya dulu lokasi The Sleeping Budha alias patung Budha Tidur. Oleh seseorang saya dikasih ancer-ancer arah menuju patung Budha Tidur. Ternyata oh ternyata.. patung Budha Tidur masih dalam lingkup satu desa dengan Candi Brahu, yakni desa Bejijong, Kecamatan Trowulan. Jaraknya sekitar 300 meter dari Candi Brahu. Untuk menuju Maha Vihara Trowulan tempat patung Budha Tidur saya tidak perlu keluar ke jalan raya. Sesuai petunjuk yang diberikan warga saya hanya melalui jalanan desa yang rata-rata penduduknya menjadi pengrajin arca.

Maha Vihara Trowulan ini sebelumnya digunakan ibadah khusus untuk komunitas Budha, namun karena patung ini menjadi patung terbesar ketiga didunia setelah Thailand dan Nepal maka keberadannya menjadi daya tarik wisata tersendiri. Dan pengelola pun menyadari dengan membuka gerbang seluas-luasnya bagi siapa saja yang ingin berkunjung disana tanpa menarik bayaran.

Sebelum masuk ke dalam, saya parkir motor dulu didepan gerbang Vihara. Rupanya keberadaan patung Budha Tidur ini menjadi berkah tersendiri buat penduduk sekitar. Mereka bisa mendapatkan penghasilan dari pengunjung Vihara seperti jualan jajanan atau jasa penitipan motor.

Saya amati patung Budha Tidur ini ukurannya memang besar. Dari referensi yang saya baca, patung Budha Tidur dibuat tahun 1993 dengan panjang 22 meter, lebar 6 meter dan tinggi 4,5 meter. Meski terbuat dari beton namun hasil pahatannya halus sekali. Warna emasnya begitu alami. Konon patung ini dipahat oleh perajin dari Trowulan sendiri.

Sang Budha dalam keadaan tertidur

Dibawah Patung Budha Tidur terdapat relief-relief kehidupan sang Budha dengan kolam air yang ditumbuhi tanaman teratai. Untuk mencegah tangan-tangan jahil, patung Budha ini dikelilingi pagar aluminium.

Dari cerita yang saya dapat, setiap hari patung ini ramai dikunjungi. Tak hanya orang dewasa saja, tetapi anak-anak sekolah juga banyak yang berkunjung kesini.
Seperti saya, mungkin mereka penasaran ingin melihat Siddharta Gautama yang wafat dalam kondisi tertidur.

Patung Budha Tidur

Puas melihat dan berfoto didepan patung Budha saya pun kembali ke Surabaya, setelah sebelumnya bayar ongkos parkir 2 ribu. Melihat banyaknya jajanan saya beli bakso cilok 2 bungkus harga 6 ribu plus air mineral (2 botol @500ml) 6 ribu (persediaan air dibotol sudah habis :D)

Sesampai di Surabaya, karena perut keroncongan saya mampir dulu ke baksonya Pak Salam, bakso langganan di daerah Ketintang dekat kuburan. 2 porsi bakso ditambah lontong dan es jeruk habis 20 ribu.

Jadi kalau ditotal-total berapa ya, modal seratus ribu sisa banyak kayaknya..

Kita rinci, ya:
Bensin 20 ribu
Ke Candi Brahu 10 ribu
Parkir di Maha Vihara 2 ribu
Jajan bakso cilok 6 ribu
Beli minum 6 ribu
Beli bakso 20 ribu
Total semuanya 64 ribu
Yihaa 100 ribunya sisa banyaaaak…

Yang ingin mengenalkan anak-anak sekaligus wisata edukasi situs sejarah di kerajaan Majapahit bisa lho jalan-jalan ke Mojokerto. Wisatanya murah-murah tapi tidak murahan. Kalau ingin eksplorasi lebih banyak mengenai sejarah Majapahit bisa juga berkunjung di Museum Trowulan. Bayarnya Cuma 5 ribu aja.

Pantai Teluk Hijau, mutiara tersembunyi di Banyuwangi

Siapa yang nolak diajak ke pantai. Jalan-jalan ke pantai itu mengasyikkan. Biarpun harus menerobos cuaca yang terik tapi akan terbayar lunas dengan suguhan pemandangan yang memukau. Ombaknya, lautnya, pasirnya dan romantisnya *ehem*.
Kuncinya hanya satu jika ingin berlama-lama dipantai yaitu bawa perbekalan yang tepat. Terutama minuman untuk menjaga terhindar dari dehidrasi. Salah satu minuman yang pas untuk dibawa jalan-jalan ke pantai adalah Herbal Tea.

Beberapa bulan lalu saya dan teman-teman blogger dari Surabaya mengadakan perjalanan wisata ke kota Banyuwangi. Salah satu destinasi yang dituju adalah Pantai Teluk Hijau atau Teluk Ijo atau Green Bay. Wah, baru tau ada pantai bernama Teluk Hijau. Biasanya pantai identik dengan biru tapi kenapa satu ini bernuansa hijau? Hmm.. penasaran..

Pantai Teluk Hijau berada di Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi. Jaraknya sekitar 90 km arah barat daya Banyuwangi. Pantai ini masuk dalam wilayah konservasi Taman Nasional Meru Betiri.

Perjalanan menggapai pantai Teluk Hijau seolah petualang menjelajah alam. Ibarat peribahasa ‘Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ketepian’, kalau ini berperosot-perosot dahulu, berguling-guling dahulu, lalu berjingkrak-jingkrak kemudian 😀

Setelah melalui perjalanan panjang, berkelok dan berliku, mobil trooper yang kami sewa tiba di Pantai Rajegwesi. Kalau ditanya berlikunya seperti apa, ya berliku banget pokoknya pakai goyang oplosan segala. Efek ber off road ria. Medan yang dilalui si trooper gak hanya aspal, tapi juga kerikil-kerikil tajam yang kadang-kadang disertai genangan air. Seru sih tapi lama-lama bikin perut mual. Mungkin efek guncangannya itu.

Medan berliku yang harus dilewati mobil Trooper
Medan berliku yang harus dilewati mobil Trooper

Pantai Rajegwesi adalah akhir petualangan perjalanan si trooper karena untuk menuju pantai Teluk Hijau tidak bisa dilalui dengan kendaraan. Alternatif nya kalau nggak naik perahu ya jalan kaki.

Setelah melakukan diskusi yang cukup alot, bahkan sampai ada yang abstain segala, akhirnya didapatlah kesepakatan memilih berjalan kaki. Konon, rute jalan kaki sensainya lebih amboy ketimbang naik perahu.
Ah yang beneeer..?

Anak tangga ini menjadi saksi dimulainya petualangan
Anak tangga ini menjadi saksi dimulainya petualangan

Kata penduduk setempat naik perahu lebih cepat sampainya, cuma 15 menit. Sedangkan kalau jalan kaki jaraknya 1 kilometer ditempuh dalam 1 jam plus dapat bonus pemandangan laut dari atas bukit dimana pemandangan ini tidak didapatkan kalau naik perahu. Aih.. penasaraann..

Ya udah jalan kaki saja. Biar makin dekat dengan alam dan membuat badan lebih sehat!

Perjalanan dimulai dengan menaiki anak tangga. Awalnya saya pikir jarak 1 km kedepan medan yang dilalui akan begini terus tapi ternyata nggak, sampai habisnya anak tangga medan yang dilalui berganti menjadi jalan setapak berlumpur.

Menikmati Lukisan Agung

Pantai Teluk Ijo menawarkan berjuta keindahan. Pesona alamnya, pantai yang masih sepi, pasir yang putih dan bersih serta karang-karang kokoh yang begitu alami. Itulah gambaran yang saya tangkap ketika sampai di seperempat perjalanan. Saking terpesonanya saya berhenti dulu untuk mengabadikan apa yang tersaji didepan mata. Tak lupa juga meneguk Teh Liang Teh Cap Panda untuk menambah stamina tubuh. Efek manis teh yang terbuat dari ekstrak tumbuh-tumbuhan herbal ini membantu mempertahankan serta membangkitkan kembali daya tahan tubuh yang sudah banyak terkuras. Kandungan bahan-bahan herbalnya pun pelan-pelang menghilangkan rasa mual yang sejak tadi saya tahan.

Cantik, kan?
Cantik, kan?

Puas narsis-narsisan adegan selanjutnya adalah ‘perosot-perosotan’. Perosotannya serius nih, bukan mainan punya anak-anak ituu.. Benar-benar berat dan sulit medannya. Jalan yang semula berupa tanah lembek makin lama semakin basah bahkan beberapa ada yang becek. Ditambah tekstur tanah yang lembut yang jika diinjak akan licin, maka mau tak mau kami harus hati-hati. Kalau perlu satu sama lain harus saling membantu sebab kalau tak hati-hati kaki bisa tergelincir ke bawah. Untungnya ada tambang di kanan kiri jalan sehingga lumayan membantu. Memegang ranting saja kurang kuat, bisa-bisa malah rantingnya patah dan saya kebawa jatuh. Biar sudah hati-hati saja masih ada teman yang terpeleset kok sehingga celananya dipenuhi tanah basah.. hihi..

Begini ini jalannya. Kalau nggak hati-hati bisa terpleset :D Foto milik Mas Surya, teman rombongan
Begini ini jalannya. Kalau nggak hati-hati bisa terpleset 😀
Foto milik Mas Surya, teman rombongan

Ketemu Pantai Batu

“Ayo semangat!! Pantainya sudah dekaattt…” teriak teman didepan.

Mendengar kata pantai saya pun semangat berjuang memacu kaki agar segera sampai. Maklum tingkat kepo saya sudah tinggi pakai banget. Hasilnya, bukannya cepat sampai tapi saya benar-benar tergelincir, sodara haha.. tapi gak sampai guling-guling kok karena dipegangi sama petugas pemandu dari MER yang menemani kami. MER itu Masyarakat Ekowisata Rajegwesi, sebuah organisasi dibawah naungan Taman Nasional Meru Betiri dimana anggotanya adalah masyarakat sekitar pantai.

“ Santai aja Mbak itu bukan Teluk Hijaunya.. Teluk Hijau masih jauh disana. Yang dilihat mereka itu namanya Pantai Batu” jelas Mas-mas dari MER.

Pantai Batu?
Pantai apalagi tuh?

Eh iya bener pantainya banyak batunya lhoo.. pantesan dikasih nama Pantai Batu.

Pantai Batu
Pantai Batu

Biasanya pantai kan identik dengan pasir, tapi ini beda. Pantai Batu memiliki tepian berupa batu-batu alam asli. Ukurannya macam-macam, bentuknya juga. Keaslian batu di pantai ini terlihat dari tekstur dan warnanya. Uniknya lagi batu-batu di pantai ini tertata begitu rapi. Gak mungkin kayaknya kalau manusia yang nata, segitu banyak batu gak yakin manusia bisa melakukannya. Konon batu-batu ini terdampar akibat bencana Tsunami. Karena batu-batu itu masuk dalam konservasi Taman Nasional maka pengunjung dilarang membawa pulang mereka. Pegang boleh, dibawah kemana-mana juga boleh asalkan tidak dibawa pulang.
Sungguh pemandangan di Pantai Batu ini alami sekali. Tebing-tebing tinggi begitu kokoh memancarkan auranya. Hutan-hutam perdu disekitar pantai juga tak kalah memukau.

Sambil menunggu yang lain, yang masih tertinggal dibelakang, saya menghabiskan waktu dengan membersihkan celana dan sandal yang dipenuhi lumpur pakai air laut. Suka aja melihat air laut yang bening. Barulah setelah yang lain sampai dan memberikan waktu isitirahat sejenak saya melanjutkan kembali perjalanan. Kali ini medannya sama hanya saja derajat ketinggiannya yang berkurang. Tanahnya juga lebih landai.
Asyik, jalannya santai..

Teluk HIjau apa kabaar..

Dari Pantai Batu menuju Pantai Teluk Hijau jaraknya sekitar seperempat kilometer saja. Lokasinya tepat dibalik tebing pantai Batu. Kira-kira jalan 15 menitan-lah.

Dan inilah yang dibilang peribahasa itu.. berperosot-perosot dahulu, berguling-guling dahulu, lalu berjingkrak-jingkrak sambil teriak-teriak tak jelas kemudian hihi

Bagai menemukan mutiara asli, kilaunya pantai ini seketika menghunus nadi. Bagaimana tidak, disaat kelelahan melanda, tanpa diduga tampaklah cahaya putih berkilauan dari balik tebing. Sebuah tanda kayu bertuliskan Pantai Teluk Hijau (GREEN BAY) berdiri diatas pasir putih nan lembut. Dan saya makin yakin pantai Teluk Hijau sudah didepan mata! Yeayyy..

Pantai Teluk Hijau. Inilah mutiara berpendar itu :)
Pantai Teluk Hijau. Inilah mutiara berpendar itu 🙂

Subhanallah.. indahnyaa..
“Pantai Teluk Hijau lihatlah ada aku disini”

Tak disangka ternyata Indonesia masih memiliki mutiara alam yang berkilau yang kecantikannya begitu menggoda. Mutiara ini masih asli dan alami. Dan saya yakin suatu hari nanti Pantai ini akan menjunjung nama Indonesia ditingkat dunia dalam hal pariwisata pantai!

Wahai orang Indonesia lihatlah negaramu. Negaramu ini indah!

Ternyata melampiaskan kebahagiaan ini tak cukup hanya dengan teriak-teriak dan jingkrak-jingkrak karena semua keindahan alam ini adalah milik Tuhan semesta alam pemilik lukisan agung.

Diantara tebing
Diantara tebing

Pantai Teluk Ijo selain menawarkan berjuta kecantikan, Ia juga memiliki garis pantai yang bersih. Air lautnya.. oh air lautnya berwarna ijo! Bukan biru.. airnya beniing sekali. Jangan takut berenang atau sekedar bergelimpangan diatas pasir karena dipantai ini bebas dari sampah! Iya, pantai ini masih bersih dari sampah. Sejauh mata memandang saya tak melihat sampah sama sekali. Setelah dijelaskan petugas disana saya jadi tau bahwa aturan dipantai ini dilarang membuang sampah sembarangan. Datang gak bawa sampah, pulang wajib bawa sampah!

Yang paling meninggalkan kesan di pantai ini adalah pasirnya. Butiran pasirnya haluus dan tebal. Mau guling-gulingan, mau main istana-istanaan, Bisaa. Di kawasan pantai Teluk Hijau ini juga ada air terjunnya, lho.. nggak tinggi banget sih cuma 8 meter. Tapi sangat cukupan buat mandi dan membasuh badan setelah berendam di air laut. Keren banget kaann..
Lebih menarik lagi di pantai Teluk Hijau tidak ditemukan pedagang asongan. Dan rasanya seolah pantai punya sendiri. Disini satu-satunya penyedia makanan adalah MER. MERlah yang menyiapkan paket-paket wisata plus konsumsinya!

Eh iya, pantai ini juga punya penjaga lho.. ini dia penjaganya:

Hei! balikin kelapa muda itu! :D
Hei! balikin kelapa muda itu! 😀

Seperti kesepakatan awal, pulang dari Teluk Hijau rombongan memutuskan naik perahu. Iyalah, gak mau kalau harus pulang lagi jalan seperti tadi. Lumpurnya itu licin banget. Alhamdulillah.. tragedi pelesetan sudah berakhir hihi..
Bersama 5 kawan dan 1 nahkoda saya menumpang dalam satu perahu. Iya, perahu disini maksimal diisi untuk 6 orang saja. Setelah memakai jaket pelampung saya duduk di bagian depan perahu. Bukannya sok berani, tapi hanya disitulah tempat satu-satunya kosong. Bagian belakang sudah diduluin teman-teman. *hiks curang*

Sebelum dilepas ke tengah laut, perahu lebih dulu didorong rame-rame.

Mulanya naik perahu ini perasaan saya aman terkendali. Dan begitu berada di tengah laut yang diapit tebing, nyali saya menciut. Ditambah ombak besar lautan yang sedikit-sedikit menggoyang perahu kami.

“Ya Allah semoga perjalanan ini selamat sampai tujuan”. Walau jujur saya begitu menikmati pemandangan ditengah-tengah laut. Sangat-sangat menyihir mata. Hampir-hampir saya mengeluarkan kamera untuk mengabadikan moment ini. Sayangnya kamera dan peralatan yang berbau elektronik sudah saya bungkus rapat dan masuk ke dalam tas plastik. Hal ini sebagai antisipasi agar kamera tidak jatuh ke laut atau terkena cipratan air laut.

Saya hanya bisa menuliskan disini gambaran pemandangan itu. Diatas perahu yang berkecepatan sedang saya seperti menyongsong laut dan langit yang keduanya menyatu tanpa sekat. Dinding-dinding tebing menjulang dengan kokohnya. Ombak berayun, air berkecipakan kesana kemari. Ombak, laut, tebing, pepohonan semuanya bersatu dalam bingkai lukisan alam yang nyata. Oh, Indahnya Indonesiaku..

Hihi.. narsis dibelakang perahu sambil bawa batu :P
Hihi.. narsis dibelakang perahu sambil bawa batu 😛

Lima belas menit sudah berlalu saatnya saya turun dari perahu dan menginjak pasir pantai Rajegwesi. Alhamdulillah selamat sampai tujuan. Saat berjalan menuju tempat istirahat yang nyaman saya baru sadar kalau bibir terasa kering dan tenggorokan seperti gatal. Ah semoga bukan gejala panas dalam. Mumpung belum buru-buru saya buka Herbal Tea Liang The Cap Panda. Hmm.. segaaaar.

 

Jika kau kedinginan, teh akan menghangatkanmu. Jika kau kepanasan, teh akan menyejukkanmu. Jika kau depresi, teh akan membuatmu ceria. Jika kau terlalu gembira, teh akan menenangkanmu – William Gladstone, 1865

(dikutip dari Novel The Teashop Girls)

Kavling sajadah

Musholla Darussalam Bratang, Surabaya
Musholla Darussalam Bratang, Surabaya

Ini adalah pemandangan Musholla Darussalam yang letaknya 20 meter dari rumah saya. Setiap Ramadhan tiba Musholla ini selalu memanfaatkan jalanan kampung (gang) untuk pelaksanaan sholat tarawih. Foto ini saya ambil pada 22 Ramadhan 1435H lalu sekitar pukul 4 sore, tak lama usai karpet digelar.

Perhatikan sajadah merah dan biru yang sudah terhampar lalu ditinggal pemiliknya itu..

Kebiasaan warga disini adalah dulu-duluan mendapatkan tempat sholat yang menurutnya nyaman dan strategis. Tempat yang sudah dikavlingi sajadah tidak boleh ada yang memindah. Kalau masih nekat memindahkan siap-siap saja ditegur dan mencari tempat lain lagi 🙂

“Foto ini diikutsertakan dalam Lomba Foto Blog The Ordinary Trainer”

logo

Festival Rujak Uleg Surabaya 2014: Rukun menikmati sepiring rujak

“719.. 720.. 721.. Mulai!” Aba-aba Djadi Galajapo kepada seluruh peserta Festival Rujak Uleg Surabaya 2014 kemarin siang di jalan Kembang Jepun Surabaya.

Ribuan warga Surabaya 'tumplek blek' menonton Festival Rujak Uleg Surabaya 2014
Ribuan warga Surabaya ‘tumplek blek’ menonton Festival Rujak Uleg Surabaya 2014

Festival Rujak Uleg Surabaya 2014 merupakan bagian perayaan Hari Jadi Kota Surabaya yang ke 721. Acara rutin yang setiap tahun dilaksanakan di bulan Mei ini selalu diikuti ribuan peserta dari berbagai kalangan. Beragam instansi dan profesi turut menyemarakkan. Bahkan demi menarik perhatian juri dan pengunjung mereka sampai harus berdandan lucu dan unik. Alhasil dandanan mereka kerap menjadi jujugan moncong kamera. Sebaliknya, semakin banyak moncong kamera mendekat maka semakin uniklah gaya meraka hingga tak jarang membuat orang lain tertawa. Mereka berjoget sambil meneriakkan yel-yel.

Seperti salah satu peserta yang saya temui kemarin. Peserta ini menggunakan kostum badut dan tampak akrab dengan petugas Dishub yang sedang berdinas. Sambil melayani pengunjung yang ingin berfoto bersama, saya iseng bertanya:

“Bapak dari mana?”

“Dari mana yaa?” si Bapak menjawab sambil tertawa malu-malu…

“Anu mbak..” sambil tetap malu-malu. “Dari Dinas..” lama diam. “Perhubungan” kemudian cekikikan.

Melihat gaya malu-malu si badut saya pun tertawa terpingkal. Sambil berseloroh saya menggoda si badut “Oh, pantesan akrab sama petugas Dishub..” yang kemudian diikuti tertawa teman-temannya.

Peserta Festival Rujak Uleg Surabaya 2014 dari Dinas Perhubungan
Peserta Festival Rujak Uleg Surabaya 2014 dari Dinas Perhubungan
(Bukan) Bocah SD
(Bukan) Bocah SD

Lain Dishub lain pula tampilan Ibu-ibu dari Disperinda Perak ini. Saat turun dari bis yang membawa mereka saya ijin memotret karena kostumnya unik. Begitu saya mengarahkan kamera, seseorang dari mereka teriak: “Eh difoto lho reek…”

Usai saya potret, tanpa malu-malu mereka memberi pesan khusus: “Mbak-mbak jangan lupa ya, dari Disperindo Perak. Trus nanti tambahkan yel-yel “Geni.. geni-geni.. Bulll!” (api.. pai-api.. bull)

Festival Rujak Uleg Surabaya 2014 kemarin berlangsung meriah. Jalanan Kembang Jepun yang merupakan kawasan niaga bersejarah di kota Surabaya dan sehari-harinya padat oleh lalu lalang mobil box kini lengang berganti meja-meja yang diatasnya terdapat cobek dan ulegan.

NGULEG ROSO
NGULEG ROSO

Sebelum acara dimulai mereka asyik berjoget mengiringi alunan musik dangdut yang dibawakan oleh Orkes Melayu lokal. Lagu pokok’e joget yang liriknya diubah menjadi pokok’e nguleg semakin menambah keseruan. Tanpa malu-malu semua peserta dan pengunjung bergoyang.

“Pokok’e nguleg.. pokok’e nguleg.. pokok’e nguleg..”

Joget Pokok'e nguleg.. pokok'e nguleg
Joget Pokok’e nguleg.. pokok’e nguleg

Suasana semakin seru manakala Bu Risma hadir dan menyapa peserta satu persatu dari ujung ke ujung. Seolah jumpa fans, mereka saling berebut salaman dan sesekali meminta foto bersama. Sambil tak henti tersenyum, Mak’e arek-arek ini melambaikan tangan kepada pengunjung yang berdiri di belakang garis pembatas.

20140518-YUNI2315

Usai memberikan pidato pembukaan, acara nguleg bersama pun resmi dibuka.

20140518-YUNI2415

Menikmati sepiring rujak rame-rame
Menikmati sepiring rujak rame-rame

Tak hanya peserta saja, Panitia dari Pemerintah Kota juga turut nguleg dengan cobek berukuran raksasa yang telah disediakan di tengah-tengah panggung. Walikota, Wakil Walikota, Kepala Dinas, semuanya nguleg rujak bersama-sama.

Cobek besar yang sebelumnya digunakan 'nguleg' oleh Walikota beserta pejabat Pemkot sebagai simbolis
Cobek besar yang sebelumnya digunakan ‘nguleg’ oleh Walikota beserta pejabat Pemkot sebagai simbolis

Di akhir acara, rujak yang telah diuleg dibagikan kepada pengunjung yang sejak tadi menunggu. Meski ribuan warga Surabaya ‘tumplek blek’ dijalanan namun tak ada adegan saling rebut.

Festival Rujak Uleg Surabaya 2014 ini menjadi contoh bahwa sesama warga harus saling hidup rukun. Hal itu dibuktikan dengan rukunnya warga yang tak mendapat jatah piring rujak namun mereka tetap bisa menikmati secara bersama-sama bersama pengunjung yang lain.

Tretek Bungkuk Ngagel, Jembatan penuh kenangan

Kami menyebutnya Tretek Bungkuk Ngagel atau Jembatan Bungkuk.

Kemarin, sepulang dari Malang, saat turun dari Bis Kota saya menyempatkan mengambil gambar Tretek Bungkuk dari dekat. Rasanya sudah lama sekali saya tidak melintasi jembatan bergeladak kayu dimana dulu pernah saya lewati dengan jalan kaki menuju terminal Joyoboyo. Walau sekarang hampir setiap hari melalui jalan Ngagel, namun sekalipun saya sudah tidak pernah melintas. Terlebih karena sudah ada motor yang membawa saya kemana-mana sehingga jarang sekali menggunakan angkutan umum di Joyoboyo.

Tretek Bungkuk dari kejauhan yang masih tampak gagah membelah Kali Mas
Tretek Bungkuk dari kejauhan yang masih tampak gagah membelah Kali Mas

Masih jelas sekali saya ingat ketika Terminal Bis antar kota masih dipusatkan di Joyoboyo, Tretek ini ramai dengan lalu lalang manusia yang berangkat mudik atau sekedar liburan di Kebun Binatang Surabaya. Saat melintas, Bapak selalu menggandeng tangan saya dengan erat dan selalu memberi aba-aba loncat jika ada bilah kayu berlubang. Jika hari biasa, Tretek ini juga banyak sekali dilewati karyawan dan anak sekolah yang berangkat menuju tempat beraktifitas dengan jalan kaki atau menuntun sepeda ontel diatas jembatan. Namun sejak Terminal antar kota Purabaya di pindah ke Bungurasih, volume pengguna Tretek Bungkuk menjadi berkurang.

Lokasi Tretek Bungkuk ini berada di Jalan Ngagel Surabaya, tak jauh dari Stasiun Wonokromo. Entah siapa yang pertama memberi nama Tretek Bungkuk, yang jelas tretek ini sudah ada sejak saya kecil. Mungkin saja Tretek ini sudah ada sejak lama, sayangnya saya tak menemukan keterangan pasti tentang riwayat keberadaan Tretek Bungkuk yang hingga kini masih berdiri gagah diapit dua gelondong pipa raksasa milik PDAM.

Bagi penduduk perkampungan yang tinggal disekitar kawasan Ngagel dan Darmo Kali, Tretek Bungkuk ini sangat penting sebab dengan menggunakan Tretek ini mereka tak kesulitan menuju arah tengah kota seperti Jl. Raya Darmo atau Jl. Raya Diponegoro dan sebaliknya, kawasan Ngagel atau Gubeng. Bagi warga yang biasa naik angkutan umum, Tretek ini sangat membantu sekali. Mereka tak perlu lama-lama nambang/naik perahu gethek demi menyebrangi sungai Kali Mas.

Sejak dulu hingga kemarin, saat saya melewatinya, daya tarik dan keunikan yang dimiliki Tretek Bungkuk masih sama, yaitu jajaran kayu yang ditata sedemikan rupa sebagai jalan lintasannya. Saya tidak tau mengapa lintasan Tretek Bungkuk tidak dibuat cor atau beton, meski sebetulnya saya tetap suka kalau penampakannya masih seperti yang dulu. Selain kenangannya lebih kuat juga pejalan kaki lebih leluasa lewat tanpa harus terganggu dengan suara klakson motor. Sejak dulu memang tretek ini hanya dikhususkan bagi pejalan kaki saja.

Geladak kayu Tretek Bungkuk yang tampak rapi
Geladak kayu Tretek Bungkuk yang tampak rapi

Kalau melihat fungsi dan letak Tretek yang diatas sungai Kali Mas, saya yakin Tretek ini sudah ada jauh dari tahun saya lahir. Mengingat letak Tretek ini yang strategis, dekat dengan sungai Jagir yang merupakan muara sungai Kali Mas dimana sejak dulu Kali Mas sebagai jalur transportasi niaga pada jaman penjajahan.

Jika teman-teman datang ke Surabaya dan melintasi jalan Ngagel, sempatkan sebentar untuk mencoba melewati Tretek Bungkuk ini. Pastinya sensasinya sungguh luar biasa. Untuk jalan kaki, Tretek ini tak begitu panjang, hanya selebaran sungai Kali Mas. Paling tidak dengan melintas di jembatan ini teman-teman bisa merasakan sensasi berjalan diatas jembatan dengan bunyi kayu glodak-glodak sambil tetap waspada barangkali menemukan satu-dua kayu yang berlubang sehingga mau tak mau harus hati-hati saat melintas agar kaki tak terperosok ke bawah. Tapi yang pasti jembatan ini aman dilewati.

Atau mungkin ada teman-teman yang sudah pernah melewati Tretek Bungkuk Ngagel? Boleh dishare disini.. 😉

Ini lho 3030 yang Spektakuler itu..

Apa yang terjadi jika sebuah pertunjukan Laser dipadu dengan 3D Mapping dan hologram yang dibumbui Dance, Comedy serta Fashion yang dibalut dengan Teknologi luar biasa?

Hanya satu kata jawabannya, SPEKTAKULER!!

Dan semuanya ada di Pertunjukan bertajuk 3030.

Seperti yang telah saya posting sebelumnya, untuk menikmati event Spektakuler 3030, pengunjung hanya diminta menunjukkan follow akun @3030Surabaya. Dan pada hari Sabtu kemarin saya berhasil menjadi salah satu orang yang menikmati dengan mata kepala sendiri bagaimana uniknya pertunjukan ini.

Yes, mata kepala saya sendiri tanpa tedeng aling-aling lensa kamera atau apapun. Meskipun sebelumnya saya sudah menyiapkan semua peralatan perang itu, nyatanya begitu sampai didalam lokasi, ketika mau mengambil foto, eh lhadalah memory card dikamera kosong, alias ketinggalan dirumah. Woah nangis Bombay…

Oke tidak apa-apa. Demi sebuah pertunjukan saya harus konsisten menikmati semuanya tanpa harus terganggu oleh apapun walau sebenarnya tangan ini sungguh gatal dan jantung berdebar-debar saking gemasnya karena tidak bisa mendokumentasikan sesuatu yang fenomenal dihadapan saya. Percuma saja melotot tajam ke kamera kalau ternyata keberadaannya hanya sebagai pajangan belaka.  Ibarat jalan dihutan sambil gendong-gendong jerigen air  berisi 10 liter dan begitu sampai ternyata yang saya tuju adalah sumber air terjun yang airnya jernih dan dingin! Huh menyebalkan!

Adalah Satria dan Triana, 2 prajurit terbaik Tahun 3030 yang diutus Sang Kapten untuk berbagi teknologi kepada para manusia di masa lalu dan para dewa di langit. Tahun 3030 dunia diibaratkan telah mencapai titik kesempurnaan dalam segi teknologi maupun kehidupan bermasyarakat.

Pertama-tama pertunjukan dibuka dengan dance yang sangat ciamik dimana 3 dancer seolah memegang laser dengan tangan lalu dipermainkan sedemikian hebat. Teriakan dan tepuk tangan penonton sekejap membahana. Selanjutnya mulailah Misi pertama.

Misi Pertama. Satria dan Triana harus mengubah sebuah kota yang kotor dan sepi. Tiba-tiba muncullah Edi dan teman-temannya. Mereka adalah Youngster berjiwa muda, dinamis, dan ekspresif. Sayangnya ruang gerak mereka terbatas akibat lambatnya koneksi yang digunakan. Mereka seolah hampa dan tidak bisa melakukan apa-apa. Di sinilah tugas Satria dan Triana untuk membantu menyelesaikan permasalahan mereka.

Misi ke Dua. Satria dan Triana harus mencari asisten digital untuk menjawab semua kebutuhan. Pada misi kedua ini setting waktunya nyleneh. Tersebutlah Dewi Drupadi yang sedang mencari asisten untuk menjawab permasalahan ke 5 pacarnya yang hobi main gadget.

Penampakan Dewi Drupadi. Foto Merdeka.com
Penampakan Dewi Drupadi. Foto Merdeka.com

Alih-alih membantu muncullah seorang pemuda keren membawa gitar yang bernama Semar. Seketika itu Dewi Drupadi bernyanyi:

“Tuhan kirimkanlah aku… kekasih yang baik hati..

Bukan yang kayak begini.. yang bau terasi..”

Uniknya, dalam pertunjukan tersebut, Dewi Drupadi ditokohkan secara teknik 3D Holographic. Semacam gambar video namun bisa hilang meninggalkan serpihan-serpihan kertas. Serpihan ini benar-benar muncul lho ditengah-tengah penonton!

Dewi Drupadi yang berubah menjadi serpihan kertas
Dewi Drupadi yang berubah menjadi serpihan kertas

Demi membantu Dewi Drupadi Semar memanggil 3 anaknya yaitu Bagong, Gareng dan Petruk. Tak dinyana bukan asisten digital yang didapat melainkan asisten yang bernama BCL. Ngakunya BCL itu singkatan dari Bohay, Cantik, LANANG! 😀

Belum juga Dewi Drupadi mendapatkan asisten kini Bathara Guru juga mengeluh kuwalahan akan tugas-tugasnya. Misalnya ketika tugas Negara, Bathara Guru ingin menghubungi Mentri tiba-tiba pulsanya habis. Disinilah kemudian Satria dan Triana hadir menjawab semua permasalahan tersebut.

Satria dan Triana sedang memberi solusi Mbah Ciluk dan Punakawan
Satria dan Triana sedang memberi solusi Mbah Ciluk dan Punakawan

Misi ke 3. Satria dan Triana harus bisa memenuhi keinginan generasi muda supaya bisa tampil gaya meski membawa bermacam gadget. Mereka sudah menyiapkan 3 desainer muda yaitu Oscar Lawalata, Kleting dan Daniel Mananta.

Satria, Triana dan semua pemain
Satria, Triana dan semua pemain.

Bila melihat semua permasalahan diatas sudah bisa ditebak siapa penyelenggara acaranya. Yang pasti dia adalah penyedia jasa komunikasi GSM. Sudah tau kan?

Saking kagumnya saya sampai ingin sekali lagi menonton pertunjukan itu. Niatnya mau bawa semua perangkat perang sebagai dokumentasi. Daaannn Minggu pagi jam setengah sepuluh saya niat berangkat nonton 3030 lagi. Harapannya supaya bisa mendapatkan tiket. Hari terakhir, bo.. apalagi ditwitter panitia bilang full!

Sampai disana suasana sunyi senyap. Lha gimana gak senyap wong pertunjukan pertama aja dimulai jam 12. Saya lihat dimeja panitia masih amburadul. Saya pun iseng-iseng mendekati Pak Security sambil berharap siapa tau nyimpen tiket barang selembar dua lembar. Lumayan nanti gak perlu antri sambil berpanas-panas ria hehe

Daaannn lagi-lagi Pak Sec nya baik hati, saya dikasih beberapa tiket kosong fotokopian, sodara! Tiket itu lalu saya bagi ke anak-anak kuliahan yang juga berniat nonton 3030 tapi belum memiliki tiket. Jadi siang itu saya gak perlu antri lama-lama. Tapi panasnya tetep dapat.. 😀