Yamaha Vega R, motor pertamaku, Yamaha Xeon RC, Motor impianku

Akhir tahun 2004 silam, untuk pertama kalinya saya memiliki motor sendiri. Iya, motor sendiri, bukan motor punya orang tua. Walau untuk mendapatkannya saya harus membayar dengan mencicil selama 17 bulan.

Saat memutuskan beli motor, sebelumnya saya harus nabung dulu buat DPnya. Memang tidak mudah sih, butuh kesabaran selama beberapa tahun karena saya memang niat untuk membeli motor dari hasil jerih payah sendiri, bukan belas kasih orang tua.

Pada tahun 2004 itu saya masih kerja di Hi-Tech Mall. Sebetulnya untuk pergi ke tempat kerja hanya butuh naik angkutan (Lyn) sekali, tapi karena akses untuk menuju jalan raya dari rumah jauh makanya saya mengandalkan jalan kaki. Becak ada, tapi sayang kalau harus naik becak. Ongkos becak nya lebih mahal dari ongkos naik lyn nya.

Setelah ber’olah raga’ setiap jam sembilan pagi (masuk kerja di Hi-Tech Mall jam 10) selama hampir 2 tahun, akhirnya saya berani memutuskan membeli motor. Keputusan saya memiliki motor waktu itu untuk menghemat ongkos lyn, juga supaya menghemat waktu jalan saya sehingga berangkat kerja lebih siang, hehe.. bukan lah supaya menghemat waktu perjalanan.

Minimnya pengetahuan saya terhadap motor juga menjadi pemikiran saya waktu itu dengan harapan kedepannya motor yang baru dibeli itu tahan banting dan tidak rewel. Besarnya cicilan juga menjadi prioritas supaya nantinya saya sanggup membayar hingga motor itu lunas tanpa.

Dan rupanya insting saya mengatakan untuk memilih motor Yamaha Vega R Disk Brake warna biru. Alasan saya, karena Vega R Disc Brake memiliki kecanggihan pada rem cakramnya yang bila dipakai bisa langsung berhenti, “seet!” sekaligus saat melakukan pengereman.

Alasan lain bagi saya yang masih awam soal motor adalah:

  1. Merk Yamaha ‘merakyat’

Maksud saya merakyat disini adalah merk motor Yamaha sudah banyak dipakai orang. Dimana-mana sejauh mata saya memandang, motor Yamaha menjadi motor mayoritas dijalan. Saudara, tetangga, dan teman-teman, hampir semuanya menggunakan Yamaha. Pun saat di lampu merah, saya hobi mengedar pandang sekedar untuk melihat type motor yang dipakai pengendara disebelah saya. Ternyata hampir kebanyakan merknya Yamaha! Agak kurang kerjaan memang, tapi itu sebagai bahan keyakinan saya untuk tidak salah memilih motor.

  1. Langganan juara

Saya bukan penggemar motor balap. Boleh dibilang saya hampir tak pernah nonton balapan motor di TV. Tapi kata teman-teman saya, Yamaha selalu menjadi yang tercepat dan selalu ada di lini depan di balapan moto GP. Awalnya sempat tak percaya, tapi ketika saya coba survey di ‘yang kung’ google, memang benar kalau dari tahun 2004 hingga 2012, Yamaha menjadi motor juara selama 6 kali. Sebuah prestasi yang luar biasa..

  1. Irit bahan bakar

Bagi saya yang saat itu buta akan harga bensin, dan masih memegang erat obrolan orang dewasa, bahwa motor bisa menghemat anggaran ongkos lyn, percaya saja. Dan memang setelah saya banding-bandingkan, setelah memakai motor jauh lebih menghemat biaya dan tenaga.

Apalagi saat menggunakan Yamaha Vega, dengan sekali isi bensin Rp. 5.000,- yang ketika itu tidak salah harga per liternya masih Rp. 1.810,-, bisa saya gunakan selama seminggu – 10 hari. Sedangkan ongkos lyn ketika itu masih Rp. 1.300,-! Sudah irit berapa rupiah itu..

Malah pertama kali beli, Yamaha Vega itu saya bawa ke Bromo. Iya, Motor baru itu saya bawa ‘ngreyen’ (istilah suroboyo) atau bahasa kerennya uji test ke tempat-tempat yang sedikit ekstrim,  untuk mengetahui seberapa tahan bantingnya motor saya itu dan seberapa keren tarikannya.

Percaya tidak percaya sih, Surabaya – Bromo – Surabaya hanya isi bensin 3 x Rp. 5.000! padahal jalan tanjakannya di bromo meliuk-liuk naik turun dan jumlahnya tidak sedikit, lho, tapi tetap aja hematnya. Dan tarikannya juga lumayan lincah dan cepat.

  1. Saya menyebutnya si bebek bandel

Entahlah mengapa saya menyebutnya demikian untuk Yamaha Vega R DB saya. Setelah 4 tahunan menggunakan Yamaha Vega secara tidak sengaja saya menyebutnya si bebek bandel. Itu terucap setelah Yamaha Vega saya mengalami insiden yang menyedihkan saat berhenti di lampu merah Wonokromo. Tiba-tiba saja dari arah belakang, motor saya di tabrak motor lain.

Awalnya saya tidak sadar kalau motor saya ditabrak, tak ada goncangan apapun yang saya rasakan. Saya baru tau saat kaki kiri saya menyentuh bagian tubuh sepasang suami istri yang sudah tergeletak dibawah dengan motor roboh pecah berantakan. Karena saya merasa tidak bersalah apa-apa, menyenggol motornya pun tidak, saya pun diam saja. Pikir saya mereka jatuh sendiri karena keblabasan ngerem atau apa.

Beberapa saat kemudian, iseng saya menoleh kebelakang untuk mencari penyebab pasangan itu jatuh. Betapa kagetnya saat melihat lampu belakang saya pecah.

Rupanya, suami istri itu jalannya kekencangan. Mereka sepertinya sengaja menambah gas saat lampu akan menyala merah. Saat motor dalam keadaan kencang, didepannya terlihat Pak Polisi berdiri dibawah pohon. Dalam keadaan bingung hanya ada 2 pilihan, kalau terus kena tilang, kalau berhenti pasti remnya tidak nutut. Maka limbunglah mereka, tak bisa mengatasi keadaan. Akhirnya motor saya yang jadi sasaran.

Dibantu beberapa tukang becak yang saat itu turt menyaksikan, dikantor polisi saya dinyatakan tidak bersalah, justru suami istri itulah yang diwajibkan membayar ganti rugi motor saya.

  1. Merasa Klik

Tak salah saya memilih Yamaha Vega R DB. Sudah banyak yang membuktikan bahwa merk motor Yamaha itu bandel dan awet. Tempat servicenya ada dimana-mana dan spare partnya pun juga mudah didapat. Itu yang membuat hati saya terasa nyaman memilih merk Yamaha. Terasa seperti langsung ‘klik’ aja.

Garansi mesin yang panjang juga menjadi nilai tambah buat saya. Dan lagi kakak saya yang memiliki usaha bengkel mengatakan, bahwa motor Yamaha harga jual secondnya cukup tinggi.

Jadilah Yamaha merk motor pertamaku.

Pengalaman naik motor matic

Setelah sekian lama menggunakan motor bebek, kini saya berencana untuk ganti motor. Dan Motor impian saya selanjutnya adalah motor matic. Saya begitu penasaran menggunakan motor jenis ini karena melihat banyaknya pengguna motor matic dijalan.

Menurut teman-teman yang sudah menggunakan motor matic, hampir semuanya mengatakan kalau motor maticitu nyaman digunakan, irit bahan bakar, larinya cepat dan mudah pengoperasiannya. Mendengar iming-iming seperti itulah saya jadi tertarik juga untuk berpindah haluan ke teknologi motor injeksi.

Terus terang, saya memang belum fasih benar naik motor jenis matic karena sudah kebiasaan naik motor bebek, sehingga bila melalui lampu merah atau polisi tidur kaki saya masih suka ‘kagok’ (salah tingkah). Meskipun tangan sudah menekan hand rem, tapi kaki saya secara reflek mencari injakan gigi untuk dikurangi. Saya jadi malu sendiri di lihat pengendara lain, ketara banget kalau pakai motor hasil pinjaman 😀

Beberapa kali saya naik motor matic awalnya terasa aneh. Seperti ada sesuatu yang hilang di kaki. Tapi setelah berusaha membiasakan diri secara pelan-pelan ternyata naik motor matic itu asyik juga. Tinggal duduk di atas jok, nyalakan starter, kaki dua berdiri sejajar dan,  goyaaang.. 😀

Bergaya bersama motor pinjaman :D
Bergaya bersama motor pinjaman 😀

Kecanggihan motor injeksi

Lagi-lagi saya harus mengenalkan diri dengan motor berteknologi baru ini. Sebelum benar-benar akan membeli saya berusaha cari tau kelebihan motor matic dibanding motor bebek. Dari kebiasaan nguping ditambah browsing, lama-lama saya jadi mengerti keunggulan motor matic.  

Berbeda dengan motor jenis bebek, motor matic lebih hemat bahan bakar dan lebih ramah lingkungan karena menggunakan mesin bersistem bahan bakar injeksi. Sistem injeksi ini menghasilkan gas buang yang tidak terlalu besar  

Baru-baru ini sebagai pelopor matic pertama, Yamaha melakukan inovasi motor matic terkini yaitu penggabungan ketangguhan mesin juara Yamaha DiASil Cylinder dan Forged Piston dengan teknologi canggih FI, Yamaha Mixture Jet – Fuel Injection atau yang disingkat YM Jet-FI.

Hadirnya penggabungan inovasi ini nantinya tidak saja membuat tampilan motor lebih keren, cepat, tapi juga canggih.

Motor injeksi berteknologi YM Jet-FI merupakan mesin injeksi berteknologi balap yang mampu meningkatkan efisensi bahan bakar hingga 30 % serta dapat mengurangi polusi udara. 

Bukan.. bukannya saya mau balapan dijalan raya atau apa untuk mengidam-idamkan motor jenis ini, lagian saya tak perlu menarik motor kencang-kencang untuk segera sampai ditempat tujuan, toh jalanan Surabaya tidak begitu macet. Tetapi tidak salah kan kalau saya menginginkan motor yang berkualitas, agresif, inovativ, juga elegan.

Yamaha XEON RC, motor injeksi Impian

Kebiasaan saya dan suami bila bepergian jauh keluar kota  dalam provinsi selalu menggunakan motor. Hal ini supaya lebih cepat sampai, lebih murah ongkos, dan gak susah kalau mau kemana-mana.  Seperti jalan-jalan ke Malang, Jombang, Kediri, Blitar, hingga ke Bromo di Probolinggo, selama ini selalu menggunakan motor bebek, meski saat di perjalanan selalu mengandalkan kaki untuk menginjak gas dan rem.

Karena sering melakukan perjalanan jarak jauh itulah, makanya saya memimpikan motor injeksi Yamaha XEON RC. Alasannya:

Performa tangguh

Ini kaitannya dengan kapasitas mesin Yamaha XEON RC yang 125 cc. Besarnya kapasitas ini  membuat Yamaha Xeon RC semakin agresif, melesat cepat saat berada diatas aspal dan semakin tak tertandingi!

Diimbangi kapasitas tangki bensin yang lumayan besar, 3,8 liter membuat suasana perjalanan menjadi tenang dan nyaman. Begitu pula dengan Rem nya yang mengandalkan rem cakram dibagian depan dan tromol dibagian belakang membuat perjalanan menjadi lincah dan “sat-set!”

Teknologi mesinnya juara dan canggih

Perpaduan komponen Aluminium Silicon (DiASil)  Cylinder yang memiliki daya tahan kuat terhadap gesekan serta Forged Piston yang diproses menggunakan teknologi tempa membuat kebersihan piston terjaga. Ditambah kecanggihan YM Jet-FI membuat Yamaha Xeon RC tampil lebih istimewa dan full performance. Garansi komponen selama 5 tahun / 50.000 km membuat motor injeksi satu ini lebih sensasional dan awet.

DiASil Cylinder
DiASil Cylinder
Forged Piston
Forged Piston

Throttle Posisiton Sensornya yang smart membuat pembakaran lebih sempurna sehingga bahan bakar menjadi lebih efisien. Liquid Cooled nya juga menjadikan temperatur mesin stabil, suara mesin halus dan lincah maksimal

Throttle Position Sensor

Liquid Cooled
Liquid Cooled

Tampilan Keren

Disain tampilan luar Yamaha Xeon RC Aerodinamic yang terinspirasi dari pesawat tempur dengan sistem Auto Head – Light On serta Translucent Head Lamp yang berdimensi unik menjadikan penerangan menjadi lebih jelas sehingga mengurangi resiko kecelakaan.

Translucent Head Lamp
Translucent Head Lamp

Ultramodern back lamp dengan disain khas membuat penampilan lebih futuristik, lebih modern, tampak sporty dan lebih terang

Ultramodern back lamp
Ultramodern back lamp

New Striping dengan graphic baru yang bernuansa speed teknologi membuat penampilan semakin dinamis

Penampilan Xeon RC dengan striping baru
Penampilan Xeon RC dengan striping baru

Fitur keren dan sporty

Sebagai motor sahabat berkendara, Xeon RC memiliki beberapa kenyamanan, diantaranya:

Interior Box dibagian depan dapat difungsikan sebagai bagasi mini yang dapat menyimpan barang-barang yang dianggap penting seperti, botol minum, sarung tangan, masker, dll, hal ini untuk lebih memudahkan pengendara menyimpan aksesoris kecil.

Large Volume Baggage dapat digunakan untuk menyimpan helm, jaket atau barang-barang pendukung aktivitas pengendara.

Bagasinya lebar
Bagasinya lebar

New key shutter yang berfungsi ganda untuk melindungi motor supaya lebih aman juga sekaligus sebagai pembuka bagasi.

New Key Shutter
New Key Shutter

Selain itu fitur Smart Stand Switch dan Smart Lock System yang berguna sebagai pengaman pengendara dan praktis digunakan serta aman saat melakukan pengereman dijalan menanjak atau menurun

Smart Lock System and Stand Switch
Smart Lock System and Stand Switch

Penuh Ekspresi

Salah satu keistimewaan Yamaha Xeon RC, Sporty Casting Wheel and Colored Pin Stripe dengan Velg berwarna dikombinasi Lis Velg nya yang tegas membuat penampilannya lebih gagah, terutama saat motor melewati jalanan bergelombang. Begitu juga jarak antara tanah dan motor  yang didisain lebih tinggi membuat pengguna nyaman saat melewati polisi tidur.

Muscular and Sporty Muffler diadaptasi dari Motor Yamaha T-Max sangat powerful.

Kualitas terjamin

Motor Yamaha selain memiliki fitur yang keren, cepat dan juga canggih, tapi juga mengedepankan kualitas dan garansi. Tidak tanggung-tanggung Yamaha memberi garansi 5 tahun / 50.000 km untuk mesin terutama Forged Piston dan DiASil Cylinder, 2 tahun untuk kelistrikan, serta 6 bulan 6.000 km untuk bagian umum diluar kelistrikan.

***

Pengalaman saya membuktikan bahwa motor Yamaha memiliki banyak keunggulan. Dari segi kecanggihan teknologi, fitur yang keren, performance dan konsumsi bahan bakar, motor Yamaha selalu ‘terdepan’. Seperti peribahasa, tak kenal maka tak sayang, maka setelah menggunakan motor Yamaha saya jadi makin sayang dan tak mau beralih ke yang lain.

Semoga Yamaha selalu terus berinovasi agar kedepannya Yamaha semakin didepan dan akan terus menjadi yang terdepan secara percaya diri penuh ekspresi dan melesat jauh semakin tak tertandingi..

Ada apa di jl. Semarang

“Seandainya kamu jadi penulis, kamu mau bukumu dibeli orang tapi gak dapat royalti?”

Saya tersentak lalu diam. Ucapan suami saya benar. Saya terlalu naif menganggap sebuah hasil karya orang dengan harga murah.

**

Beberapa hari lalu ketika saya melewati Stasiun Pasar Turi, tiba-tiba saja saya ingin menghentikan laju kendaraan dan mampir disebuah deretan toko buku di jalan Semarang.

Jalan Semarang ini adalah pusatnya toko buku bekas di Surabaya. Namun saya hampir tidak pernah membeli buku disitu walaupun saya lihat banyak sekali lalu lalang orang yang keluar masuk di toko buku tersebut sambil mencari buku yang mereka inginkan.

Di deretan toko-toko buku tersebut bertumpuk-tumpuk buku bekas dengan aneka judul. Mulai buku pelajaran, komic, majalah, novel hingga skripsi.

Jajaran buku bekas di salah satu kios
Jajaran buku bekas di salah satu kios
Majalah dan komik bekas
Majalah dan komik bekas

Dari jajaran buku-buku itu saya tertarik dengan deretan buku yang tersampul rapi dan ditata secara berderet ala toko buku besar. Judul buku-buku itu menurut saya adalah buku best seller.

Saya ambil salah satu buku yang tidak bersampul. Saya perhatikan covernya berwarna agak gelap. Saya bolak-balik sampulnya memang sangat mirip dengan yang asli. Namun ketika saya melihat bagian dalam buku itu kualitas kertas serta tulisannya jauh berbeda dengan buku aslinya. Tapi yang pasti masih bisa terbaca..

“Wah menarik ini..” pikir saya.

Apalagi saat saya tanya harganya 3x lebih murah dari harga aslinya.

Dari hasil mampir itu saya mendapatkan beberapa buku. Tidak banyak sih, hanya beberapa. Maksudnya saya mendapatkan 3 buku yaitu 5 cm, 2, dan Kun Fayakuun 2 nya Ust. Yusuf Mansur hard cover.

Ke 3 buku itu saya beli murah saja, 45 ribu!

Tidak! Saya tidak bermaksud membajak! Saya hanya penasaran dengan isinya (Tapi tidak menutup kemungkinan untuk beli lagi sih kalau memungkinkan) hihi..

Rupanya beli buku di Jl. Semarang itu seperti candu! Sekali beli ingin rasanya nambah lagi.

Jadi setelah nonton film rectoverso kapan itu, suami saya tertarik untuk beli bukunya. Sebelumnya saya sudah sempat baca di Toga Mas, dan memang buku itu harganya cukup mahal.

Entah kenapa tiba-tiba saya merasa toko buku ini salah menempelkan label harga. Herannya lagi beberapa buku yang saya pegang, harganya juga seperti tak masuk akal. Ada konspirasi politikkah antara bawang dan buku? Apakah mereka janjian menaikkan harga? 😀

Lalu saya menggumam “kalau di jalan Semarang, ada buku rectoverso gak ya?”

“Gak ada! Toko bukunya tutup, musim hujan!” samber suami saya! *idih denger aja*

Minggu kemarin, alih-alih nunggu Toga Mas buka, kami melewati Jl. Semarang.

Padahal sebetulnya perjalanan kami gak relevan sama sekali. Toga Mas yang ada di jalan Pucang lebih dekat dengan rumah. Tapi kami malah muter melewati jl. Semarang yang nun jauh disana. Yah intinya boleh kan kalau saya mau ke Jakarta tapi muter lewat Manado  dulu? 😀

Dan, horee.. toko buku di Jl. Semarang buka..

Tapi kan saya kesini cuma lewat. Yah kali aja ada buku menarik yang ingin saya beli.

Saya masuk ke salah satu toko buku dan saya tanya, ada buku rectoverso, gak?

Sial. Semua penjual bilang, “buku apa itu?”

Ya deh, memang gak boleh kok beli buku bajakan. Kasihan penulisnya, gara-gara buku-buku bajakan itu royalti mereka jadi berkurang.*sok bijak*

Tapi kan gak salah juga kalau saya tanya, toh saya kan hanya lewat sini 😀

Dan akhirnya saya beli juga buku rectoverso di Toga Mas..!! Horee.. *sambil ngumpetin buku madre yang tadi sempat dibeli dengan harga 9ribu*

Giveaway #1 “Me and Jogja”: Menikmati malam di alun-alun

Menikmati malam di alun-alun Jogya
Menikmati malam di alun-alun Jogja

Jogja memang tak pernah mati, begitulah yang saya ucapkan manakala menikmati suasana Jogja di malam hari.

Sabtu malam itu, jam sebelas malam saya dan teman membelah jalanan kota Jogjakarta. Sengaja malam itu kami tidak berdiam diri dipenginapan mengingat malam itu adalah malam terakhir kami berada di kota Bakpia Pathok.

Malam itu kami sengaja mencari tempat untuk nongkrong sambil menjawab rasa penasaran saya terhadap nasi kucing. Sebetulnya kami juga penasaran dengan yang namanya kopi joss tetapi berhubung di tempat yang kami singgahi tidak ada menu itu akhirnya kami memilih untuk memesan teh panas, wedang ronde, nasi kucing, dan roti bakar.

Uniknya roti bakar yang disajikan tidak di bakar diatas wajan lebar seperti pada umumnya roti bakar yang dijual di Surabaya, tetapi roti itu memang benar-benar di bakar diatas arang sehingga terdapat keunikan rasa.

Sepanjang jalan dipinggir alun-alun yang menuju  Kraton  itu dipenuhi  warung-warung tenda lengkap dengan gelaran tikar untuk lesehan pengunjung. Satu dua orang pengamen juga turut meramaikan suasana dengan genjrengan gitarnya di bawah sorotan lampu jalan yang berwarna kuning.

Teman, jangan sungkan untuk selalu datang ke Jogja, karena JOGJA tinggal ‘JUJUG SAJA’  🙂

Bahasa Surabaya: Dino valentin

Bahasa Surabaya adalah bahasa sehari-hari yang digunakan arek-arek Suroboyo khususnya dan orang Jawa Timur pada umumnya. Walaupun terdengar seperti bahasa jawa umum , tetapi dialek dan penekanan kata pada boso Suroboyoan memiliki ke khas-an tersendiri.

Boso Suroboyo memiliki ciri khas yang to the point atau ‘asal njeplak’. Terkesan lebay ketika menyebutkan sesuatu yang bersifat ‘banget’ seperti misalnya: banyak sekali = akeh banget (jawa)= uakeh (suroboyo), panas sekali = panas banget (jawa)=puanas (suroboyo) dsb. Juga selalu menggunakan akhiran ‘e pada kalimat yang menunjukkan kepemilikan, seperti rambutnya = rambut’e, uangnya = duik’e, bukunya = buku’e bisa juga bukune.

Oya maaf jika saat baca nanti menemukan kata-kata kasar, bukan maksud saya menuliskan sesuatu yang kasar tetapi saya berusaha mengikuti dialek asli Suroboyo yang walaupun kasar tetapi orangnya hangat kok, *mosoookkk..* hehe

Berikut ini adalah cerita yang saya tulis dengan bahasa Suroboyoan:

lCFF5L3LRd14 Februari winginane, jare arek enom-enom dino Valentin. Iku lho gae ngelingno dino roso sayang. Jareno pas dino iku gae ngungkapno roso sayang mbarek wong tuo, roso sayang mbarek bojo, roso sayang mbarek konco , utowo roso sayang mbarek sir-sirane.

Pancene ono-ono ae kok arek enom jaman saiki. Wong arep ngetokno roso sayang ae lho kok leren ngenteni setaun pisan, padal bendino yo wes mari sayang- sayangan. Lak iyo se, Rek?

Salah sijine, Pi’i, sing latah melok-melok ngramekno dino roso sayang mbarek sir-sirane, jenenge Ning Tun. Arek enom siji iku ket jam 5 sore wes macak ngguanteng. Nggawe clono lepis, hem kotak-kotak trus rambut’e di sureni klimis. Sampek tumo ae gak iso mancik pathak’e saking lunyune rambute. Nek Pi’i mlaku ambune mak bal-bul. Wuangi!

Karepe Pi’i dino valentin iki kudu di rayakno mbarek sir-siran. Mboh mlaku-mlaku, opo mangan-mangan. Pokok’e opo-opo kudu karo genda’ane. Ngono iku gae bukti nek Pi’i iku seneng temen mbarek Ning Tun masiyo duik nang dompet’e cekak.

Sing penting lak perhatian’e tah duduk duit’e. Ngono lho, Rek..

Mari muacak necis, Pi’i budhal nang omahe Ning Tun. Sak durunge budhal Pi’i wes pesen mbarek Ning Tun ojo mangan dhisek, polane arek enom iku arep ngejak mangan nang warung kalkulator taman bungkul. Rodok-rodok mbois thithik, rek, mosok valentinan nraktir mangan genda’an nang warung pojok. Arep di dekek endi raine Pi’i..

Duik satus ewu sing disiapno gae nraktir Ning Tun disimpen nang dompet’e trus didekek nang sak mburi clono lepis’e. Ben luwih ketok parlente dompet’e di pecungulno thithik. Sopo ngerti nek Ning Tun ndelok ben tambah sayang mbarek awak’e.

Pas wes tekan omahe Ning Tun, Pi’i njagang bronfit’e trus lungguh methangkring nang ndhukure. Prejengane pokok’e wes koyok yok-yok’o ae arek iku. Pithik ae sampek nggegek ndelok tingkahe arek lanang sing rodok koclok iku.

Gak suwe ngenteni, Ning Tun metu tekan omahe.

Ndelok sir-sirane macak uayu menik-menik tur semlohe, Pi’i ngadeg mbarek ngelus-ngelus rambute sing klimis iku. Mari ngguya-ngguyu isin-isinan arek enom loro lanang wedok iku budhal kota-kota.

Biasa, rek, mosok dino valentin mek lungguh-lungguh nang omah thok. Bek’bek’e oleh sak cipok rong cipok teko Ning Tun, batin Pi’i. Pancene arek iku rodok koplak kok utek’e. Gak tepak blas! Ojo ditiru lho rek, duso koen!

Mari tekan puter-puter Pi’i ngejak Ning Tun mlebu nang warung kalkulator sing wes ruame. Nang kono akeh arek enom, wong tuwek, lanang, wedok campur dadi siji. Pi’i mbarek Ning Tun lungguh nang salah siji dingklik kayu dowo.

Sek tas lungguh onok arek wedok-wedok liyo melbu nang warung kalkulator iku karo ngguyu cekakaan. Ning Tun langsung mlengos ndelok dapurane arek-arek sing ngguyu gak aturan iku.

Barang didelok tibak’e konco-konco kuliahe dewe. Langsung ae Ning Tun melok mbengok, karepe nyeluk arek-arek iku. Gak temen mari diceluk, arek wedok-wedok iku mau lungguh nang sebelahe Ning Tun. Trus melok pesen pisan.

Pi’i sing onok nang sebelahe Ning Tun rumongso  seneng-seneng seneb. Arek sak mono akeh’e sopo sing kate mbayari, nggawe duik gambar gareng, tah? Tapi Pi’i mbidheg ae gak wani ngomong Ning Tun.

Acara valentin sing dikiro romantis tibake seje ambek perkiraane. Ning Tun akeh ngobrol mbarek konco-koncoe. Pi’i gak direken blas. Atine Pi’i kroso mbedhodhok gak karuan.

Mari mangan, iso gak iso Pi’i yo kudu mbayari koncone Ning Tun pisan. Mosok arep mbayar dewe lak gak enak ambek Ning Tun.

“Kabeh satus suwidak pitu, Cak” jare mbok dhewor sing nduwe warung.

Pi’i  klagepen. Duik nang dompet mek onok satus ewu tok. Arep nyilih Ning Tun yo isin, rek. Pi’i bingung.

“Endi, Cak? Kabeh entek satus suwidak pitu” dibaleni maneh omongane mbarek mbok dhewor sing nduwe warung.

“Mak, sepurane. Duikku onok mek satus ewu tok. Iso utang gak. Mene tak bayar kurangane. Temenan! Nek sampeyan gak percoyo tak tinggali KTPku gae jaminan” Jare Pi’i.

Wong sing nduwe warung iku langsung mrengut. Bathuk’e melok mencureng pisan “Mbok pikir warung iku gaden tah, sak enak’e dewe utang! Warung iki duduk warunge mbahmu, Ngerti, kon!”

“Iyo yo, Mak. Sepurane sing uakeh. Temenan mene tak bayar. Sumprit iku lho aku gak mbojok!”

“Yo wes, ndang nyingkrih’o kono, gak sumbut aku ndelok prejenganmu!”

Pi’i ngalih, prainane pringisan.

Urusan mbayar wes beres. Pi’i langsung ngejak nyingkrih Ning Tun.

“Cak, ndelok biskop, yok. Jarene arek-arek onok film apik. Judul’e operesen widing,  jarene mulai tayang saiki”

Pi’i wes kadung mutung.

Batin’e Pi’i “gak ngurus! Babahno.. bah ono film anyar, bah ono film Jeki Cen dangdutan, sing penting saiki moleh. Wong duik’e wes amblas ngene kok!”

Tapi Pi’i gak eroh arep ngomong opo mbarek Ning Tun.

Yo opo-yo opo Pi’i kudu golek alasan ben iso mulih.

Gak suwe mikir

“Wetengku mules. Moleh ae, Ning” jare Pi’i ngaspo ambek mercing-mercingno motoe. Cepet-cepet tangane nggandeng Ning Tun nang parkiran. Pancene arek enom siji iku pualing pinter nek dikongkon ngaspo.

“Walaaah, Caaak….” lambene Ning Tun mrengut limang senti.

Terjemahan:

14 Februari kemarin, anak muda bilang merupakan hari valentin. Itu lho peringatan hari kasih sayang. Katanya  hari itu untuk mengungkapkan kasih sayang kepada orang tua, kasih sayang kepada istri/suami, kasih sayang kepada teman atau kasih sayang kepada kekasih.

Memang ada-ada aja anak muda jaman sekarang. Hanya untuk ngerayakan kasih sayang aja lho kok harus nunggu setaun sekali, padahal tiap hari kan sudah sayang- sayangan. Iya kan, teman-teman?

Salah satunya, Cak Pi’i, yang latah ikut-ikutan meramaikan hari kasih sayang itu dengan kekasihnya, namanya Ning Tun. Anak muda satu itu sejak dari jam 5 sore sudah dandan ngguanteng. Memakai celana lepis, hem kotak-kotak lalu rambutnya di sisir klimis. Sampai-sampai kutu aja gak bisa jalan dikulit kepalanya karena licinnya rambut Pi’i. Kalau dia jalan baunya kebal-kebul, wanginyaa!

Maunya Pi’i hari valentin itu harus dirayakan dengan kekasih. Entah itu jalan-jalan atau makan-makan. Pokoknya semuanya harus bareng pacar. Hal-hal seperti itu untuk membuktikan bahwa Pi’i sayang banget sama Ning Tun walaupun uang di dompet pas-pasan.

Yang penting kan perhatiannya bukan uangnya. Begitu lho teman-teman..

Setelah dandan necis, Pi’i berangkat ke rumahnya Ning Tun. Sebelum berangkat Pi’i sudah berpesan kepada Ning Tun untuk tidak makan dulu, sebab anak muda itu berniat ngajak makan di warung kalkulator taman bungkul. Keren-keren sedikit lah, masak hari valentin ngajak makan kekasih di warung pojok. Mau ditaruh mana muka Pi’i..

Uang seratus ribu yang sudah disiapkan untuk nraktir Ning Tun disimpan di dompetnya lalu ditaruh di saku belakang celana lepisnya. Supaya lebih tampak parlente dompetnya di angkat keatas sedikit. Siapa tau kalau Ning Tun melihat jadi makin sayang pada dirinya.

Sesampai dirumahnya Ning Tun, Pi’i mendirikan sepeda motornya lalu duduk diatasnya. Nggaya sekali, begitulah gambarannya Pi’i. Ayam aja sampai terbahak-bahak melihat tingkah lelaki sedikit nyleneh itu.

Tidak lama menunggu, Ning Tun keluar dari rumahnya.

Melihat kekasihnya dandan super cantik menik-menik serta sexy, Pi’i berdiri sambil ngelus-ngelus rambutnya yang klimis. Setelah senyum malu-malu dua anak muda laki perempuan itu langsung berangkat keliling kota.

Biasalah teman, masak hari valentin cuma dirayakan dengan duduk-duduk dirumah aja. Siapa tau dapat satu-dua ciuman dari Ning Tun, pikir Pi’i. Memang anak itu agak kurang waras otaknya.Gak benar sama sekali! Jangan ditiru ya teman, bikin tambah dosa!

Selesai dari putar-putar Pi’i ngajak Ning Tun masuk ke dalam warung kalkulator yang sudah rame. Disana banyak anak muda, orang tua, laki, perempuan campur jadi satu. Pi’i dan Ning Tun langsung mengambil tempat di salah satu bangku panjang.

Baru mereka saja duduk ada beberapa anak perempuan lain masuk di warung kalkulator itu sambil tertawa kencang. Seketika Ning Tun langsung menoleh untuk melihat kelakuan anak-anak yang tertawa tanpa sopan itu.

Setelah dilihat ternyata teman-teman kuliahnya sendiri. Langsung aja Ning Tun ikut teriak, maksudnya untuk memanggil mereka. Benar saja, anak-anak perempuan itu tadi duduk di sebelahnya Ning Tun. Lalu ikut pesan makan sekalian.

Pi’i yang ada di sebelahnya Ning Tun merasa senang-senang sedih. Anak segitu banyak siapa yang akan membayar makanannya, mau bayar pakai uang gambar gareng, apa? Tetapi Pi’i diam aja gak berani bilang Ning Tun.

Acara valentin yang awalnya berjalan  romantis ternyata beda seperti perkiraannya. Ning Tun lebih banyak ngobrol bersama teman-temannya. Pi’i dicuekin sama sekali. Hatinya Pi’i terasa membara.

Setelah makan, bisa tidak bisa Pi’i harus membayar makan teman-temannya Ning Tun sekalian. Masak mau bayar makanan sendiri, malu lah sama Ning Tun.

“Semua seratus enam puluh tujuh, Cak” kata ibu pemilik warung.

Pi’i  bingung. Uang di dompetnya hanya ada seratus ribu aja. Mau pinjam Ning Tun ya malu lah. Pi’i bingung.

“Mana, Cak? Semuanya habis seratus enam puluh tujuh ribu” ulang ibu pemilik warung.

“Bu, maaf. Uang saya hanya ada seratus ribu aja. Bisa utang gak. Besok saya bayar kekurangannya. Pasti! kalau Anda gak percaya saya tinggalkan KTP saya sebagai jaminan” Kata Pi’i.

Si pemilik warung seketika cemberut. Keningnya ikut berkerut “Kamu pikir warung ini pegadaian apa, seenak sendiri aja ngutang! Warung ini bukan warungnya nenekmu, tau kamu!

“Iya ya, Mak. Maaf sekali. Beneran besok saya bayar. Sumpah, saya tidak bohong!”

“Ya sudah, cepat sana pergi, gak cocok saya lihat modelmu (sikap dan kenyataan)!”

Pi’i pergi sambil senyam senyum.

Urusan bayar sudah selesai. Pi’i langsung ngajak keluar Ning Tun.

“Cak, nonton biskop, yok. Katanya teman-teman ada film bagus. Judulnya Operesen Widing, katanya hari ini tayang perdana”

Pi’i sudah terlanjur ngambek.

Pikir Pi’i “bukan urusan! Biar saja.. biar ada film baru, biar ada film Jeki Cen dangdutan, yang penting sekarang pulang. Duit sudah habis begini!”

Tapi Pi’i bingung harus bilang apa sama Ning Tun.

Biar bagaimana Pi’i harus nyari alasan supaya bisa pulang.

Tak lama berpikir

“Perutku sekarang mulas. Pulang aja yuk, Ning” kata Pi’i bohong sambil matanya menahan sakit. Cepat-cepat tangannya nggandeng Ning Tun ke parkiran. Memang anak muda satu itu paling pintar bohong.

“Yaaah, Caaak….” bibirnya Ning Tun cemberut lima senti.

NB:

Wes yo, Rek sak mene ae aku nggawe crito boso Suroboyo, nek akeh-akeh nggarai koen-koen kabeh kemekelen. Masio critone gak lucu, moco tulisan boso Suroboyo iku biasane nggawe wong ngguyu. Tapi nek mari moco tetep gak iso ngguyu, yo mbok mocone karo ngguyu, mesem-mesem thithik ngono lho rek..

Sudah ya teman-teman segini aja saya nulis cerita bahasa Surabaya, kalau banyak-banyak bikin kalian semua tertawa. Biarpun ceritanya tidak lucu, biasanya baca tulisan berbahasa Surabaya itu bisa bikin orang tertawa. Tapi kalau selesai baca tetap gak bisa bikin kalian tertawa, kalau begitu bacanya sambil tertawa aja, senyum-senyum dikit gitu..

Mendadak Bromo

Nekat!

Begitulah keputusanku saat Kang Yayat ngajak jalan ke Bromo.

Beberapa hari terakhir Kang Yayat sempat ngajak ke Bromo tapi karena kondisi cuaca yang setiap hari hujan dan tidak memungkinkan untuk berangkat akhirnya rencana mundur-mundur terus.

Tanggal 23 lalu saya SMS Kang Yayat gimana rencana jalan ke Bromo kapan bisa direalisasikan mumpung  cuaca sedang cerah ceria, dan Kang Yayat jawab nanti saya kabari kalau jadi.

Akhirnya malam jam 9 tepat malam Mauludan Kang Yayat ngajak berangkat saat itu juga! Ya sudahlah tak masalah. Alhamdulillah cuaca juga sedang bersahabat sehari itu hujan tidak turun. Toh waktunya juga belum terlalu larut seandainya ngejar Sunrise masih nututlah, sedangkan perjalanan Surabaya Bromo via Pasuruan gak sampai 4 jam-an!

Kami janjian bertemu di Taman Bungkul jam 12 tet. Sengaja milih di Taman Bungkul karena Kang Yayat mau nunjukin rute perjalanan. Saya sebagai pendamping ngikut saja sama yang punya gawe 😀 . Sebelumnya Kang Yayat punya rencana ingin melalui 2 rute berbeda yaitu jalur Tumpang – Ranu Pane –Bromo, lalu pulangnya lewat Tosari Pasuruan.

Sebetulnya saya belum pernah lewat Tumpang dan belum tau medannya seperti apa, sedangkan 2 kali perjalaan ke Bromo dulu rute yang saya lewati adalah Tosari Pasuruan dan Probolinggo.

Tapi malam itu rencana diubah oleh Kang Yayat, berangkatnya lewat Pasuruan lalu pulangnya lewat Tumpang. Ya sudah ngikut sajalah..

Di perjalanan saya sempat tanya-tanya ke orang, maklum saya lupa-lupa ingat rute Pasuruan. Sudah 7 tahun lalu soalnya saya lewat sini dan juga kondisi malam gelap jadi gak seberapa ingat jalan yang harus dilewati.

Ditambah lagi sesampai di Pasuruan Kota ada acara Maulud Akbar yang jalannya ditutup jadi makin bingung aja nyari jalan alternatif. Beruntungnya ada banyak orang lalu lalang  sehingga gak bingung nanya orang disitu.

Hanya ada 1 kebingungan yang saya alami disini yaitu Pom Bensin!

Beat yang saya naiki isinya Cuma full 10 ribu sedangkan jarak menuju Tosari masih 30 kiloan dan menanjak pula. Ya ada sih yang jual bensin eceran tapi suasana malam begitu, sungkan aja kalau harus ngetok rumah orang.

Sempat pula kami kesasar. Jalan yang harusnya belok saya ambil lurus aja (Sebetulnya bisa aja lewat lurus, jalan itu juga bisa mengarah ke Bromo tapi nantinya naik lewat Probolinggo). Alhasil kami bertanya lagi sama orang, untunglah jam 2 dinihari itu kami masih menemukan rumah terbuka dengan penghuni yang duduk-duduk diluar rumah.  Dan disana kami mendapat wejangan bahwa naik ke Tosari malam-malam begini tidak bagus, jalannya rawan,  apalagi Cuma 2 motor aja. Kami disarankan lewat Probolinggo atau lewat Tumpang.

Sengaja saya menolak lewat Probolinggo karena saya tau bagaimana medannya. Dan kalau lewat Tumpang itu berarti kita harus jalan lagi jauh, balik ke Pasuruan kota trus lewat Malang.

Kang Yayat sudah mau ngajak balik aja tuh lewat Tumpang saat duduk-duduk nunggu di sebuah warung. Bayangin aja 3 jam duduk di warung dan dikasih tontonan sinetron ind*siar yang bikin eneg otak.

Heran aja sama otak ini sudah tau ceritanya aneh begitu tapi kok ya bisa-bisanya jiwa dan pikiran ini terbawa ke alur yang gak bener. Masih aja ikut deg-degan lihatnya. Jangan-jangan ini film dikasih pelet supaya banyak yang nonton. Masak iya sih ada majikan takut sama pembokat. Malah si pembokat mau dikasih berlian pula sama majikan supaya tutup mulut. Dan lagi mau-maunya si Titi Kamal, Teddy Syah dan Tommy Kurniawan main difilm begituan #penting banget# 😀

Setelah 2 jam-an terbawa esmosi, akhirnya kami putuskan untuk selesai sholat Shubuh berangkat. Pokoknya yakin aja gak ada apa-apa dijalan, meskipun sama pemilik warung diminta berangkat jam 6. Lha kalau jam 6 baru naik, sampai pananjakan bisa jam 9, trus dapat apa kita disana..

Dan Alhamdulillah kami tidak menemui kendala apa-apa. Kami sampai di Pananjakan sekitar pukul setengah 8 berbarengan dengan jip-jip yang turun. Suasana Pananjakan juga sudah sepi. Tapi sst.. kita juga gak ditarik karcis lho soalnya portalnya sudah dibuka, jadi kita santai aja lewat. Asiik.. hihi..

Awan berarak di Pananjakan. Image By Arkasala.net
Awan berarak di Pananjakan. Image By Arkasala.net

Tumpang Surabaya

Baliknya, sesuai rencana kami melewati Tumpang. Rute ini perasaan lebih jauh dibanding lewat Pasuruan. Di rute ini kami harus melewati lebarnya lautan pasir dan dipaksa menikmati cantiknya bebukitan. Lihat gunung yang berdiri tepat didepan mata rasanya seperti melihat gundukan pasir raksasa. Nyata baget pokoknya! Untungnya pasir-pasir itu kesat banget habis kena air hujan jadi gampang dilewati gak harus ngepot-ngepot.

Berpelukan di bukit Teletabis hihi..
Berpelukan di bukit Teletabis hihi..

Medan yang dilalui juga lumayan naik turun berkelok. Sayang jalanannya bukan aspal tapi semacam cor-coran gitu dan banyak rusak disana-sini jadinya ya ngoyo-ngoyo dikit. Tapi yah sama ngoyonya lah kalau lewat di Pasuruan dan Probolinggo.

Malah saya sempat lihat ibu muda gendong bayi jalan ditanjakan sendirian. Rupanya si Bapak sudah duluan naik sambil bawa motor! “Aduh, Bu gak capek apa, kasian bayinya, Bu”. Saya aja yang gak bawa apa-apa yang bolak-balik turun karena tanjakannya yang tinggi rasanya sudah ngos-ngosan.

Tapi memang sungguh pemandangannya cantiiik banget!

Hawanya adem. Di kanan kiri ada kebun kol. Trus dari jauh kelihatan terasiring sawah yang bagus banget. Ditambah lagi kabutnya yang tebal. Sempat ada insiden rem motor yang saya naiki blong. Mana jalanannya belum datar sempurna masih ada banyak tanjakan naik turun yang harus dilalui. Kami lalu berhenti sebentar. Barangkali remnya kepanasan atau apa karena motor matic kan hanya mengandalkan rem.

Setelah berhenti sejenak sambil memakai jas hujan karena tiba-tiba gerimis turun, rem motor saya akhirnya bisa berfungsi lagi.

Di jalur Tumpang ini juga banyak pohon apel. Saya perhatikan dihampir setiap rumah memiliki 1 sampai beberapa pohon apel. Woww enaknya… kalau pengin makan tinggal petik aja, kan hehe..

Dan kami tiba di Surabaya pukul 4 lebih di sore keesokannya. Jadi kalau dibilang 2 harian kami tidak tidur! Dan saking lamanya duduk diatas motor p*ntat ini rasanya seperti kotak hihi..

Oke saya kasih lihat petanya:

Peta Bromo

  1. Dari Pasuruan: Naik ke Wonokitri sekitar 30 km. Dari Simpang Dingklik kita bisa pilih mau naik ke Pananjakan sekitar 14 km menanjak atau turun langsung ke lautan pasir.
  2. Dari Probolinggo: Lewat Sukapura lalu turun ke lautan pasir. Kalau langsung ke Bromo lebih dekat tapi kalau ingin ke Pananjakan maka harus lebih dulu melewati pasir itu lalu naik menuju ke Panajakan.  Konon rute probolinggo ini adalah rute favorit yang dilewati pengunjung. Barangkali rute favorit bagi pengguna mobil pribadi karena dari sini bisa menyewa jip menuju Pananjakan. Kalau naik motor kayaknya nggak banget deh kapok sama pengalaman yang sebelumnya, malam-malam harus dorong-dorong motor melewati lautan pasir 😛
  3. Tumpang: Oke saya akui bahwa rute ini memang paling menarik diantara yang lainnya. Di Rute ini kita bisa menikmati indahnya kawasan wisata gunung yang berjejer dengan indahnya, bukit-bukit hijau yang disebut bukit teletubbies, padang rumput yang eloknya gak karu-karuan! Dan kalau mau juga kita bisa mampir ke Ranu Pane yang jaraknya tinggal sedikit sekitar 6 km. Tapi ya begitu naik motor ke rute ini bagusnya di musim hujan karena pasirnya keset. Kalau di musim panas, pasirnya kering pastinya akan susah dilewati dengan motor khusus kota-kota. Bisa-bisa 2 hari baru nyampe rumah hihi.. Dan lagi rute ini ternyata lebih jauh jaraknya ketimbang lewat Pasuruan.

Ini nih foto-foto lengkapnya, Semua foto ini diambil dari jerih payah Kang Yayat 🙂

Foto Sejuta Umat: Taman Nasional Bromo Tengger dari Pananjakan
Foto Sejuta Umat: Taman Nasional Bromo Tengger dari Pananjakan
Ndaplang! :D
Ndaplang! 😀

 

After Wedding? :D
After Wedding? 😀
BerubahKondisi Bromo terupdate setelah meletus beberapa saat lalu
Berubah
Kondisi Bromo terupdate setelah meletus beberapa saat lalu
Persimpangan
Persimpangan

NB: Per Desember 2012 Mobil pribadi dilarang masuk ke lautan pasir Bromo. Bagi pengguna mobil pibadi bisa nyewa Jip. Dengan Jip ini penyewa bisa memilih tempat unik, Bromo – Pananjakan, Bromo – Pananjakan – Savana, atau Bromo – Savana

Bagi pengguna motor diharapkan hati-hati karena jalan tanjakan dari lautan pasir menuju Pananjakan berubah menjadi beton halus serta tikungan tajam, maka Waspadalah! kata Bang One 😀

*Map diambil dari www.gunungbromo.indonesiatravel.biz

Go Top