Surabaya Urban Culture Festival, event penawar dahaga warga Surabaya

Petang beranjak malam, kemacetan jalan raya Basuki Rahmad telah mencair. Didepan sebuah pertokoan tua yang hingga sekarang masih eksis, Tunjungan Plasa Surabaya, pengendara juga tak seberapa rame seperti biasanya. Dari kejauhan, suasana didalam Mall juga tak se-sesak biasanya. Oh ada apakah gerangan? Mungkinkah efek Surabaya Urban Culture Festival?

Pintu masuk Surabaya Urban Culture Festival
Pintu masuk Surabaya Urban Culture Festival

Tak jauh dari pertokoan besar itu, perjalanan saya tiba di depan Monumen Pers Nasional yang berada dipojok antara jalan Embong Malang dan Jalan Tunjungan. Lagi-lagi suasana yang tak wajar saya dapati. Aneka motor berjajar dipinggir-pinggir jalan bahkan sampai memenuhi halaman Pasar Tunjungan yang bertahun-tahun ‘mangkrak’. Karena parkir dadakan itu dinyatakan sudah penuh, saya memilih menjauh dan melanjutkan perjalanan melewati Jalan Embong Malang.

Benar saja, rupanya event Surabaya Urban Culture Festival yang diadakan oleh Pemerintah Kota Surabaya 19 Mei 2013 itu diselenggarakan di sepanjang Jalan Tunjungan sejak siang, dan dibuka langsung oleh Ibu Walikota Surabaya, Bu Tri Risma Harini, memicu warga untuk berbondong-bondong mendatangi lokasi.

Mengapa harus di Jalan Tunjungan?

Karena Jalan Tunjungan memiliki sejarah tersendiri bagi kota Surabaya. Selain kaya akan bangunan sejarah, di Jalan Tunjungan juga terdapat Hotel Majapahit (sebelumnya dikenal dengan nama Hotel Yamato atau Hotel Orange) yaitu Hotel kebanggaan arek-arek Suroboyo dalam merebut kemerdekaan yang juga disemangati oleh Bung Tomo melalui siaran radio di Surabaya pada tahun 1945.

Hotel Majapahit malam hari, saksi sejarah perjuangan Arek-arek Surabaya
Hotel Majapahit malam hari, saksi sejarah perjuangan Arek-arek Surabaya

Surabaya Urban Culture Festival ini diadakan sebagai rangkaian untuk memperingati Hari Jadi kota Surabaya ke 720, 31 Mei mendatang. Disini ditemukan tenda-tenda beraneka merk produk dan resto-resto terkenal di Surabaya. Kalau boleh saya sebut sih, Resto turun ke jalan dan membuat paket menu murah.

Disepanjang jalan itu selain penuh dengan tenda-tenda, juga ada panggung besar ditengah jalan dimana didepan panggung itu ada tangga besi untuk penonton. Persis pertunjukan terbuka.

Meskipun dibuka mulai pukul 2 siang yang sorenya disertai guyuran hujan, namun tak mengurangi minat warga untuk datang, termasuk saya. Dan malam itu kedatangan saya begitu menguntungkan karena ternyata dipanggung besar itu masih tersisa pertunjukan ludruk dan jula-juli Suroboyo yang dibawakan langsung oleh Cak Kartolo CS.

Siapa Cak Kartolo CS?

Kartolo CS adalah tokoh legendaris Surabaya yang terkenal dengan ludruk dan Jula-Juli Suroboyonya. Yaitu semacam pantun jawa / parikan dengan bahasa khas Suroboyoan yang dibawakan secara kocak dan menggelitik.

Dari kiri: Cak Sapari, Ning Tini da Cak Kartolo
Dari kiri: Cak Sapari, Ning Tini da Cak Kartolo

Walaupun sudah tidak lagi muda, dan dulunya menjadi primadona orang tua kita, tetapi kemarin itu Cak Kartolo masih tampil semangat. Bersama Cak Sapari, Ning Tini (Istri Cak Kartolo) dan Dewi (yang baru saya ketahui ternyata putri Cak Kartolo) benar-benar menghidupkan kota Surabaya dengan guyonannya yang terdengar segar dan sempurna membuat orang terpingkal-pingkal. Tak hanya orang tua, yang muda dan anak-anak pun tertarik untuk memenuhi jalan Tunjungan dan mengikuti hingga akhir pentas. Panggung yang hanya sak uplik tak membuat warga berkecil hati karena mereka bisa melihat langsung dari layar lebar yang disediakan panitia. Ternyata animo arek Surabaya  cukup besar demi melihat langsung pertunjukan serta menjawab kerinduan mereka akan ludruk Suroboyo.

Tepat jam 10 malam pertunjukan itu berakhir. Selama kurang lebih satu jam tampil, sepertinya kehadiran Cak Kartolo masih ngangeni. Meski sudah ditutup dan panggung dianggap sudah buyar karena jalan Tunjungan harus dibuka kembali jam 00, mereka masih sulit untuk beranjak.

Makin tampak bahwa warga Surabaya begitu mendambakan acara semacam event Surabaya Urban Culture Festival ini. Event ini tidak saja menjadi penawar dahaga akan keunikan kota Surabaya tetapi juga untuk mengenalkan budaya yang dimiliki kota Surabaya. Semoga event ini selalu menyuguhkan suasana berbeda setiap tahunnya dan selalu menjadi agenda rutin kota Surabaya seperti Festival Rujak Uleg yang seminggu sebelumnya telah diselenggarakan di sepanjang Jalan Kya-kya.

Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, sejarah dunia warisan luhur budaya jawa

Siang itu, panas begitu terik. Berempat, saya, Mbak Kaka akin (Blogger Samarinda), Mbak Ila Rizki (Blogger Tegal), dan Andani (Blogger Surabaya) keluar dari Pasar Klewer. Tak disangka, pasar yang dipenuhi dengan aneka rupa batik dan jajana khas Jawa Tengah itu sudah membuai minat belanja kami. Baru tersadar kami adalah rombongan terakhir yang ketinggalan menuju Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Ya, Hari Minggu itu, 12 Mei 2013, kami semua, rombongan Asean Blogger Festival Indonesia 2013 masih memiliki 1 jadwal kunjungan lagi sebelum bertolak ke daerah kami masing-masing, yaitu makan siang sekaligus penutupan acara di Keraton Kasunanan Surakarta.

Didepan Pasar Klewer, kami berempat kebingungan. Dimana letak Kraton Kasunanan? Sempat ada yang memutuskan untuk naik becak saja. Namun rupanya ke khawatiran kami segera terjawab. Ada beberapa Bapak-bapak yang memberitau dimana jalan menuju Keraton Kasunanan itu.

Sesuai petunjuk yang kami terima, jalan menuju Keraton tidaklah jauh. Walaupun cuaca sangat terik, jalan yang tidak seberapa lebar dengan kiri kanan tembok khas bangunan kerajaan membuat jiwa saya terpuaskan. Berkali-kali saya berdecak mengagumi keindahan itu. Cat putih, warna bangunan tebal dan tinggi itu sekejap membawa kembali kenangan saya akan masa yang silam. Masa dimana tembok-tembok pertahanan (beteng) itu menjadi saksi bisu pergolakan yang pernah dialami bangsa ini.

Biar bagaimana, meski tak bercerita,  tembok yang berdiri dihadapan saya itu mengandung roh sejarah yang tak bisa diungkapkan dengan kalimat. Guratan-guratannya, goresan-goresannya, hingga detail-detailnya membuat perasaan saya tak bisa mengatakan apa-apa. Selain, takjub yang berlebihan.

Dipinggir-pinggir tembok itu kami menyusuri jalanan yang ramai, dan.. bersih!

Jalanan yang mirip seperti lorong itu bercampur dengan aneka kendaraan yang melintas. Tanpa pembatas juga tanpa trotoar. Justru inilah yang membuat tempat ini menjadi unik, eksotis dan berseni.

Kompleks Kamandungan

Bersama Mbak Ila didepan Kori Kamandungan
Bersama Mbak Ila didepan Kori Kamandungan

Tak lama menyusuri, tibalah kami disebuah gapura besar yang tepatnya disebut gerbang dengan pintu kayu besar terbuka lebar dikanan kirinya. Dilengkapi dengan atap penutup bergaya Jawa kami melangkah mantap. Sejauh mata memandang terhampar halaman kompleks Kamandungan nan luas dengan pemandangan sebuah menara tinggi yang dinamakan Panggung Sangga Buwana. Tiba-tiba saja kaki ini berhenti melangkah dengan sebuah pertanyaan memenuhi benak saya, “Boleh masuk kedalam, nggak? Nanti prajuritnya marah?”

Sambil membawa pertanyaan yang belum terjawab kaki saya bergerak melangkah. Pada sebuah Bale (bahasa Jawa halaman rumah) saya dan teman-teman dihadapkan kepada 2 orang prajurit berpakaian lengkap, plus senjata semacam pedang berukuran panjang. Hal ini makin menguatkan pertanyaan saya yang belum terjawab, “Jangan-jangan kita gak boleh masuk, nih. Prajuritnya aja mukanya seram begini”

Eh lha dalah, lha kok teman-teman pada minta foto bersama 2 prajurit itu..

Lebih herannya lagi, ternyata sambutan Bapak-bapak prajurit itu tak seseram penampilannya! Waktu kami minta foto, tanpa banyak bicara, Bapak prajurit itu bersedia mengambil posisi. Mungkin Bapak-bapak itu sudah mengerti kemauan blogger seperti kami yang sok narsis ini.. 😀

Takut-takut mau :D Meskipun kelihatan sangar, tapi prajurit itu baik-baik. Tuturnya halus.
Takut-takut mau 😀
Meskipun kelihatan sangar, tapi prajurit itu baik-baik. Tuturnya halus.

Setelah foto-foto kami dipersilakan masuk ke dalam kompleks Kedhaton. Waah sebuah penghormatan besar ini diperbolehkan masuk ke dalam kompleks Kedhaton, yang sebelumnya sama sekali belum pernah saya masuki.

Kompleks Kedhaton yang rindang dan alami

Pada saat akan memasuki kompleks Kedhaton, saya melihat teman-teman melepas sepatunya. Begitu melihat mereka saya jadi ikut-ikutan melepas juga. Terakhir saya baru tau, peraturan masuk kedalam kompleks Kedhaton adalah pengunjung harus memakai sepatu. Bagi pengunjung yang memakai sandal harus melepasnya di Bale sehingga masuknya tidak menggunakan alas kaki alias ‘nyeker’ (bhs jawa: yang artinya jalan dengan kaki telanjang).

Kompleks Kedhaton Karaton Kasunanan adalah sebuah halaman luas dengan rerimbunan puluhan pohon sawo yang tumbuh didalamnya. Disana juga terdapat pendopo yang arsitekturnya campuran Jawa dan Eropa. Arsitektur Jawanya terlihat dari bentuk bangunan, pilar-pilar dan perkakasnya, sedangkan arsitektur Eropanya terlihat dari patung-patung dan lampu yang menghiasi ruangan didalamnya.

Dibawah pepohonan yang rindang, saat melintas di area ini beberapa kali saya harus berjalan terpincang-pincang. Bukan karena sakit, tetapi karena kaki saya yang tanpa alas melewati pasir hitam didalam kompleks Kedhaton ini terasa sakit. Pasirnya sangat aneh menurut saya. Tekstur pasirnya kasar tapi halus. Eh, gimana ya nyebutinnya.. jadi begini pasir yang saya injak itu sekilas tampak halus, tapi kalau dilewati terasa kasar. Kalau saya bilang, pasirnya lebih mirip seperti pasir laut. Dan konon rupanya pasir-pasir itu didatangkan dari laut selatan..

Suasana Kompleks Kedhaton
Suasana Kompleks Kedhaton

Melintasi kompleks Kedhaton ini tak henti-hentinya saya mengungkapkan keindahan seninya. Dari semua area yang telah saya lewati, bisa dibilang ini bukan seni biasa, tapi betul-betul seni tingkat tinggi. Dan saya yakin Pangeran Mangkubumi atau Sultan Hamengkubuwono I, sang arsitektur Keraton Surakarta adalah orang yang memiliki jiwa seni tinggi.

Sejarah singkat Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat

Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat didirikan pada 20 Februari 1745 oleh Susuhunan Paku Buwono II. Keraton ini merupakan pindahan dari Keraton Mataram yang ada di Kartosuro karena luluh lantak akibat pristiwa geger pecina.

Keraton Kasunanan ini memiliki luas wilayah 97 hektar dengan setiap tempat yang dilalui memiliki makna tersendiri. Makna-makna itu diambil sesuai perjalanan hidup manusia dari mulai lahir hingga kembali kepada TuhanNya.

Walaupun sudah berdiri berabad-abad lamanya, Keraton Kasunanan Surakarta hingga kini masih menjadi tempat tinggal keluarga kerajaan yang sekarang dipimpin oleh Sunan Pakubuwono XIII. Sebab memiliki bangunan yang khas dan unik, Keraton ini kerap menjadi jujugan wisatawan asing maupun domestik yang ingin mengetahui secara detail bangunan yang juga merupakan warisan budaya leluhur Jawa. Hal ini dikarenakan Keraton Surakarta ditinggali oleh garis keturunan yang hingga kini turut melestarikan tradisi dan menjadi sumber inspirasi budaya jawa.

Di dalam Keraton Surakarta ini masih tersimpan pula kekayaan budaya peninggalan kasunanan sebelumnya yang masih tersimpan dan terawat baik. Seperti Gamelan asal Demak, pusaka-pusaka keraton, tarian adat yang sakral, juga upacara adat yang penyelenggaraannya bertepatan dengan perayaan hari-hari besar Islam, seperti:

  1. Grebeg

Grebeg merupakan upacara yang diadakan setidaknya 3 kali dalam setahun yang dihitung sesuai penanggalan jawa. Antara lain:

Grebeg Mulud. Seperti halnya Mauludan dalam tradisi Islam, grebeg Mulud diadakan pada bulan Mulud atau bulan ketiga penanggalan jawa, tepatnya tanggal 12. Grebeg Mulud ini juga sebagai puncak acara Sekaten.

Grebeg Syawal. Acara ini diselenggarakan setiap tanggal 1 Syawal atau bulan kesepuluh penanggalan jawa.

Grebeg Besar. Bula besar dalam kalender jawa adalah bulan Dzulhijah yaitu bulan kedua belas setiap tanggal 10.

Ketiga acara grebek tersebut diadakan semacam kirab gunungan sebagai perwujudan rasa syukur kemakmuran keluarga kerajaan dimana raja akan mengeluarkan sedekah yang kemudian dibagikan kepada rakyat.

  1. Sekaten

Acara sekaten pertamakali di kenalkan oleh Sunan Kalijaga pada masa kerajaan Demak yang pada waktu itu sebagai bagian dalam rangka menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Sekaten sendiri diselenggarakan pada bulan Mulud (Robiul Awal) untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada acara Sekaten diadakan bunyi gamelan yang ditabuh selama 7 hari sejak tanggal 6 Mulud yang kemudian ditutup dengan Grebeg Mulud.

  1. Malam 1 Suro

Suro adalah penyebutan untuk bulan Muharram (penanggalan Islam) dalam bahasa Jawa. Tanggal 1 Suro bagi masyarakat jawa masih dianggap keramat dan pada tanggal itu saatnya mensucikan pusaka-pusaka yang dimiliki keraton.

Pada perayaan itu juga diadakan kirab/ memutari tembok pertahanan (beteng) yang arahnya berbalik dengan arah jarum jam dengan kerbau bule Kyai Slamet sebagai pembuka jalan.

Selain ke 3 tradisi diatas, Keraton juga rutin mengadakan tradisi haul (memperingati hari kematian). Ada Haul eyang Jaka Tarub, Haul Diageng Sela, Haul Betara Katon, Haul Kebo Winongo, Haul Jaka Tingkir/Sultan hadiwijaya dan beberapa leluhur lainnya. Tradisi lainnya lagi adalah upacara Tingalan Jumenengan Dalem yaitu upacara peringatan kenaikan tahta raja, Ritual Mahesa Lawung yaitu upacara pemberian kepala kerbau sebagai sesajen dan Malam Selikuran yakni tradisi yang dilaksanakan pada malam 20 bulan Pasa/Ramadhan untuk menyambut datangnya Lailatul Qadar.

Dari berbagai tradisi perayaan diatas bisa disimpulkan bahwa tradisi Islam sudah mendarah daging dan itu berkaitan dengan penyebaran agama Islam pada masa dulu yang di sebarkan oleh Wali Songo di tanah Jawa. 

Dari simbol-simbol seni yang dimiliki Keraton serta beberapa tradisi yang masih dilestarikan hingga sekarang, sudah selayaknya Keraton Kasunanan Surakarta ini menjadi pusat sejarah dan warisan budaya khususnya kota Solo/Surakarta yang sudah dikenal luas sebagai kota ber ikon seni budaya.

Sambutan ramah keluarga Kasunanan Surakarta

Suasana di dalam ruang Sasana. Kursi kayunya bercirikhas Jawa
Suasana di dalam ruang Sasana. Kursi kayunya bercirikhas Jawa
Sambutan GKR Wandansari Koes Moertiyah
Sambutan GKR Wandansari Koes Moertiyah

Begitu memasuki Sasana Handrawina, tempat acara dilaksanaan, semua Blogger sudah berkumpul disana. Ruangan luas yang bentuknya seperti aula dengan perangkat gamelan jawa dibagian depan itu lagi-lagi terasa kental budaya jawanya. Ditambah lagi keluarga keraton yang menggunakan ‘ageman’ (kostum) kebaya lengkap dengan sanggul membuat suasana semakin ‘njawani’ (jawa banget). Belum lagi musik gamelan jawa yang ditabuh secara live dan suara merdu beberapa ibu menembangkan beberapa lagu semakin membuat adem hati dan pikiran saya. Dan lagi-lagi, banner wifi id yang disupport oleh PT Telkom Indonesia begitu setia menemani perjalanan kami, semakin membuat nyaman suasana 🙂

Saat sedang asyik menikmati semua itu, tiba-tiba di luar ruangan ada tampilan (semacam) drumband dari barisan pengawal. Sontak membuat saya lari keluar ruangan untuk mengabadikannya.

Performance Bapak-bapak prajurit
Performance Bapak-bapak prajurit

Dan begitu penampilan drumband selesai saya kembali lagi keruangan lalu duduk disalah satu barisan kursi kayu bertuliskan “KERATON SURAKARTA”

Penampilan Tari Serimpi Sangupati

Sungguh pengalaman ini begitu berharga buat saya. Dan saya cukup terkesan dengan semua ini. Bersyukur saya mengenal dunia blog, karena berkat blog saya merasa tersanjung dan mendapat kehormatan besar masuk ke dalam Keraton Surakarta. Dengan sambutan yang sangat ramah dan baik, saya juga bisa melihat bagaimana gemulainya 4 penari Serimpi Sangupati (terus terang baru kali ini saya melihat gerakan tari Serimpi sebenarnya, biasanya cuma dengar nama tariannya saja). disini saya baru tau, rupanya kembang beterbaran dilantai itu tidak disebar dengan tengan tapi dengan kaki. Mungkin sebelumnya kembang itu disimpan didalam jarit si penari lalu saat penari menyibakkan jaritnya kebelakang dengan salah satu kaki, kembang-kembang itu dengan sendirinya menyemprotkan kebelakang dan beterbaran dimana-mana.. ih beneran kereen banget..

Tari Serimpi Sangupati *Perhatikan minuman dimeja berwarna merah itu, menggoda.. awalnya saya kira parfum kok hehe*
Tari Serimpi Sangupati
*Perhatikan minuman dimeja berwarna merah itu, menggoda.. awalnya saya kira parfum kok hehe*
Tari Serimpi Sangupati *Adegan menuang minuman ke dalam gelas (sloki)*
Tari Serimpi Sangupati
*Adegan menuang minuman ke dalam gelas (sloki)*

 Apalagi waktu ditengah-tengah menari, 2 penari menuangkan air merah dari botol kepada 2 penari lainnya, lalu air itu diminum. Ih, baru kali ini saya melihat tarian yang sangat indah. Dan herannya semua adegan itu dilakukan dengan gemulai dan betul-betul dengan gerakan tari. Luwes, penuh penghayatan dan sempurna. Saya aja yang melihat, sampai takut sendiri kalau-kalau terjadi kesalahan gerakan hehe..

Tari Bondoyudo Tariannya keren, penarinya juga oke punya hihi..
Tari Bondoyudo
Tariannya keren, penarinya juga oke punya hihi..

Tarian selanjutnya adalah tari Bondoyudo. Tari ini dibawakan oleh 2penari laki-laki dengan masing-masing membawa tameng dari anyaman bambu dan pentungan. Dari gerakan-gerakannya sih, tarian ini seperti tarian perang. Gerakannya oke juga, apalagi melihat penarinya, malah makin oke hihi..

Matur nuwun ingkang sanget kepada Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Wandansari Koes Moertiyah yang telah menyambut kami dengan baik dan ramah

Berikut foto-foto lainnya:

Foto Raja Susuhunan Paku Buwono XII
Foto Raja Susuhunan Paku Buwono XII
Foto Raja Paku Buwono XIII Sinuhun Hangabehi. Foto itu bukan sembarang foto tetapi dibuat dari serpih-serpih batik sehingga kalau diperhatikan dari dekat detail-detail corak batik akan tampak
Foto Raja Paku Buwono XIII Sinuhun Hangabehi. Foto itu bukan sembarang foto tetapi dibuat dari serpih-serpih batik sehingga kalau diperhatikan dari dekat detail-detail corak batik akan tampak
Saya didepan Pendopo komplek Kedhaton
Saya didepan Pendopo komplek Kedhaton

 

 Secara keseluruhan kunjungan ke Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat ini sangat mengesankan. juga embel-embel kerajaan yang biasanya terdengar menakutkan, ternyata sangat menyenangkan. Itu menambah nilai plus bahwa Keraton Kasunanan Surakarta perlu dijaga dan dilestarikan sebagai pusaka bangsa dan warisan dunia jangan sampai kemajuan teknologi dan modernisasi merenggut warisan yang telah turun temurun menjadi pusaran sejarah bangsa ini.

Dermulen itu Tornado

Dulu, setiap libur panjang sekolah, di Lapangan Bratang, dekat rumah saya selalu kedatangan tamu. Tamu ini sangat istimewa dan paling ditunggu-tunggu anak-anak sekolah. Tamu spesial itu adalah Pasar Malam.

Biasanya penyelenggaraan Pasar Malam ini diadakan sebulan penuh atau hingga masa libur berakhir, dari jam 6 sampai jam 9 malam. Walaupun hanya buka selama 3 jam, tapi suasananya sangat ramai. Semua orang berwajah ceria tak terkecuali anak-anak.

Di pasar malam itu ada macam-macam mainan. Seperti kuda-kudaan, mobil-mobilan, kereta kelinci, rumah hantu, tong gembong, ombak air dan dermulen (Entah siapa yang mulai, tiba-tiba saja ada yang menyebut kalau ombak air itu sama dengan dermulen. Padahal saya browsing di googleimage, munculnya seperti bianglala loh, tapi ya sudah saya ikut-ikutan aja nyebut dermulen) Dari kesemuanya itu yang saya suka adalah naik dermulen. Yaitu sebuah wahana putar yang bisa naik turun seperti gelombang laut.

Menurut saya wahana ini adalah satu-satunya wahana yang agak ekstrim dan hanya boleh dinaiki oleh anak-anak berusia diatas 10 tahun. Tapi nyatanya ada juga sih Bapak-bapak dan Ibu-Ibu yang naik wahana ini sambil bawa anak 5 tahun. Sensasi naik wahana ini adalah seperti dikocok dan ada rasa ser.. ser.. diperut. Apalagi kalau dorongannya kuat, semakin berada di ketinggian semakin geli rasanya.

Sayang keberadaan pasar malam sekarang hanya tinggal kenangan. Apalagi anak-anak sekarang sudah mengenal banyak mainan modern. Kalaupun diadakan lagi, kemungkinan besar akan sepi.

Ke Dufan

12 Maret lalu saya ke Ancol. Sok alasan ngantar ponakan PORSENI, saya masuk aja ke Dufan. Dianggap ikut rombongan, saya dapat tiket masuknya dengan harga murah, hanya sepertiga dari harga aslinya! Siapa coba yang nolak penawaran ini..

Sekalinya masuk Dufan, semangat banget memburu semua wahana untuk di taklukkan.

Apa? Tornado? Hysteria? Kicir-kicir? Kora-kora? Bianglala? Halilintar? yakin bisaa…

Datang pagi saya ketempat PORSENI anak-anak dulu di Pasar Seni. Lalu sekitar jam 10 kurang kami menuju ke Dufan.

IMG_0031

Setelah urusan loket dan dikasih stempel ‘BEJI’ saya langsung nyari-nyari lokasi yang pas untuk foto. Yang pertama 2 orang gadis yang menyambut di pintu masuk dengan pakaian ala putri sudah saya ajak berfoto bersama.

Selanjutnya saya mencoba Turangga-rangga. Sebetulnya saya tau kalau wahana ini cemen sekali, berhubung adik ipar menyarankan untuk pemanasan dulu sebelum mencoba wahana yang ekstrim, oke lah saya ikuti. Apa sih, Cuma kuda naik turun ditempat trus berputar-putar, gitu aja. Kurang sensasinya, yang ada malah bikin pusing kepala *nggaya*. Dan lagi wahana ini berada di bagian depan sendiri, sepertinya wahana ini juga menjadi ikonnya Dunia Fantasi. Bolehlah di coba.

Sambil pusing-pusing sedikit, saya naik ke Bianglala. Wahana ini menurut saya juga biasa aja sih. Cuma duduk diatas gondola trus gondola itu berputar secara vertikal. Jadi kalau pas diatas bisa melihat indahnya laut dan kawasan Ancol sekitarnya. Keren lah pokoknya apalagi diselingi angin yang semilir. Sempat penasaran waktu diatas melihat Hysteria yang super gila itu. Masak manusia seperti dibuang saja keatas. Ingat ya, itu manusia lho bukan, plastik! Tapi boleh juga sih dicoba..

Turun dari Bianglala saya langsung antri lagi di Kora-kora. Mainan ini menarik banget, semacam perahu lalu kita diayun-ayun. Awalnya sih pelan-pelan. Lama-lama ayunan perahu itu makin kencang dan kencang sampai-sampai kaki saya gemetar menahan hempasan perahu. Handycam yang saya pegang pun tau-tau mati sendiri. Mungkin tanpa sengaja saya tekan karena saking gak tahannya.

Habis naik Kora-kora saya berhenti dulu. Kasihan suami saya, mukanya mejikuhibiniu habis saya paksa naik Kora-kora. Karena jatah makan pagi yang dibawa dari rumah habis, kami beli Mie Cup. Siang-siang makan mie gak ada nikmatnya sama sekali. Sudah suasana panas ditambah makan mie panas, jadi makin mendidih.

Inilah dermulen itu..

Denger-denger kalau belum nyoba Hysteria dan Tornado, dianggap belum ke Dunia Fantasi. Bener nggak sih?

Kalau gak ada yang ngiyain, berarti cuma Bapak mertua saya aja yang bilang begitu 😀

Saya ini orangnya suka penasaranan loh. Saya juga orangnya suka nyesel-an. Jadi kalau ada yang bilang seperti itu di hadapan saya, tanpa ragu-ragu saya akan berangkat menunaikannya.

Seperti kemaren itu habis makan mie saya dengan PDnya langsung ngantri di wahana Hysteria. Waktu saya utarakan ke suami, dengan muka gak percaya dia iyain keinginan saya. Mungkin dalam hati dia bilang jangan, tapi diluarnya ya.. ya udah sana, sambil ragu-ragu.

Dengan mantap saya melangkah ke tempat pengantrian. Ruangan antriannya luas dengan lika-liku teralis. Etapi yang nganti Cuma sekitar 10 orang! Gak percaya saya kalau wahana ini menakutkan banyak orang. Kora-kora aja lho ngantrinya puanjang minta ampun.

Ya udah deh saya memantapkan diri. Sambil ngeri-ngeri grogi saya lihat bagaimana antrian didepan saya yang sudah memasuki kursi panasnya. Beberapa menit kemudian, terdengar suara gemuruh menakutkan sebagai tanda Hysteria akan lepas keatas. Di belakang saya ada lelaki yang sepertinya ketakutan, tapi juga penasaran. Beneran, giliran hysteria itu lepas landas dia teriak kenceng banget. Sampe kaget saya. Dia bilang, kalau dia takut. Ye, sama takutnya dengan saya Mas 😀

Tiba giliran saya naik. Saya milih di bagian depan supaya bisa dilihat suami. Eh lha dalah, lelaki yang tadi takut itu tiba-tiba muncul, “barengan kita ya, Mbak”. Aman deh, ada teman yang sama-sama takut 😀

Sepi :D
Sepi 😀

Setelah ambil posisi nyaman dan mengkaitkan sabuk pengaman, kami masih ketawa ketiwi. Sengaja sandal saya lepas, supaya gak jatuh.

Nunggu beberapa menit, lalu kursi naik sedikit. Saat ada suara gemuruh, saya mulai bersiap ambil napas panjang. Tarik.. lepas. Tarik.. lepas. Tarik.. *belum juga dilepas* tiba-tiba Swiiiingg….. tiba-tiba saya sudah terbang. Baru saya sadar bahwa dalam perut ini mau keluar semua, protes karena gak tahan ngerinya.

Kemudian diam sebentar. Asyik.. duduk diatas ketinggian. Tapi belum juga puas, kursi sudah naik lagi, lalu turun. Naik lagi, turun lagi sampai beberapa kali. Dan kemudian turun. Benar-benar turun lho, gak naik lagi. Yah segitu doang hehe..

Asli, naik Hysteria itu sensasinya ruaar biasa! Tegang-tegang gimana gitu..

Masih semangat! Lanjut lagi jalan.

Begitu melihat Tornado kok kayaknya makin seru aja permainan ini. Lagi-lagi saya pamit suami naik Tornado. Kali ini mukanya pasrah, ragu-ragunya sudah ilang, kayaknya.

Lagi-lagi saya masuk ke ruang antrian yang melompong. Sama sekali gak ada yang ngantri. Malah saya langsung diminta naik. Rupanya tornado ini berhenti lama sambil nunggu penumpang yang naik. Kursi-kursi disisi kanan sudah penuh semua. Jadi saya ambil kursi disisi kiri yang masih kosong-song. Sebenarnya saya mau manggil suami supaya dia pindah ke pagar sebelah kiri, tapi karena gak ada celah untuk memanggil akhirnya saya naik aja. Gak bisa narsis deh.

Herannya, begitu saya duduk, tiba-tiba kursi dikanan kiri saya full. Lalu petugas segera mengancing kami didalam kursi. Dan lagi-lagi ada suara gemuruh.. Sialnya, ketika ada suara gemuruh itu, saya baru sadar bahwa HP saya ada disaku celana! Aduh, kenapa baru ingat sekarang..

Oke deh gpp, sebisa mungkin akan kutahan HP itu supaya gak jatuh. Eman, rek..

Astagila.. naik Tornado itu seperti kamu nggoreng tempe. Pertama di celup dulu di air garam, lalu dibalik. Sisi atas ditaruh dibawah dan sisi bawah di taruh di atasnya, supaya asinnya merata. Gak ada yang bisa nahan tempe selain jari, ibaratnya jari itulah sabuk pengamannya tempe. Pokoknya pasrah aja jadi tempe.

Seperti juga tempe, pertama kali dimasukin ke mangkok air garam kan pelan-pelan. Pelan-pelan dulu. Nah sebelum di cemplungin ke wajan, tempe itu di jerang dulu supaya airnya hilang dengan di pukul-pukulkan ke mangkok. terus dan terus. Ya begitu itu..

“Cukuuup.. cukup. Brentiii…” teriak cewek disebelah kanan saya.

“Jangan berhenti dulu, Mbak. Percuma brenti disini, wong kita masih diatas. Nanti aja brentinya kalau sudah dibawah!” jawab cowok disebelah kiri saya.

Saya: Gak bisa ngomong. Cuma bisa mikir semoga HP ini tidak jatuh.

Begitu selesai, saya elus-elus HP yang sudah mencungul separuh keatas.

Begitu turun saya diaaam aja. Gak bisa ngomong apa-apa. Muka sih ketawa-ketawa aja, tapi dalamnya ini ancur banget.

Diam saya bukan karena HP yang selamat, tapi karena kepala saya pusing dan perut seperti diaduk-aduk. Rasanya pengen muntah.

“Mau naik kicir-kicir?”

“Apa mau naik pontang-panting?”

“Istana Boneka juga masih ada lho..” Kata Suami.

Benar-benar penghinaan. Tapi apalah daya, semangat kuat tenaga kurang.. 😀

Mati-matian saya nahan rasa itu, saya tahan-tahan supaya tidak muntah. Selesai sholat di Musholla pun saya tidak langsung berdiri, tapi saya baringkan tubuh dulu, maksudnya supaya suasana perut kembali bersahabat. saya juga sudah merusaha menyuap mulut dengan minuman manis. Sayangnya nasib berkata lain, usaha menahan aksi protes itu jebol juga. Saya muntah haha..

Huh. Awas ya bila suatu saat aku datang lagi, semua wahanamu akan kutakhlukkan! *dendam kelas berat*

3 Pengalaman seru naik kereta ekonomi

3 Pengalaman seru naik kereta ekonomi pernah saya alami dan masih membekas hingga sekarang, sehingga bila mengingatnya kembali rasanya jadi pengin tertawa sendiri.

Setiap mudik ke Jakarta beberapa kali saya naik kereta kelas ekonomi. Iya naik kereta yang kelasnya paling murah dan paling ‘ancur’ suasananya.

Entah ya saya kok merasa eman ya kalau harus beli tiket yang mahal, toh hanya beda sedikit aja fasilitasnya dibanding kelas bisnis dan executif. Apalagi dari sedikit perbedaan fasilitas  itu, harga tiketnya berbeda sangat jauh-sejauhnya.

Boleh dibandingkan harga antara kereta api Gaya Baru Malam Selatan yang ditiket tertera Rp. 33.500 dengan kereta api Sembrani yang harganya berkisar Rp. 400.000.

Perbedannya hanya di jam keberangkatan, bentuk kursinya yang bisa diturunkan dan ditegakkan dan suasananya juga cenderung senyap, tak ada lalu lalang penjual.

Sedangkan persamaannya sama-sama belinya untuk urusan makan dan sama-sama ada ACnya! Iya kereta kelas ekonomi sekarang ada AC nya lho dan kamar mandinya juga lumayan bersih dan wangi. Hanya saja suasananya sedikit ramai oleh teriakan penjual.

Senangnya naik kelas ekonomi itu saya bisa jajan sesuka hati dengan jajanan yang aneka rupa, unik dan murah. Seperti tahu lombok, kacang rebus, lanting, sale pisang, tape goreng, dan macam-macam. Tapi untuk nasi saya jarang beli diatas kereta.

Ngomong-ngomong 3, seperti tema kontes yang diadakan Mbak Lidya, Mas Bro, dan Dija, ponakannya Tante Elsa, ada 3 kenangan mengesankan yang terus membekas di memori kepala saya mengenai pengalaman naik kereta ekonomi ini.

  1. Pulang bareng rombongan bonek.

Kejadian ini saya alami saat sepulang saya menghadiri acara ulang tahun Dblogger tanggal 11 Januari di Gandaria City.

Ketika itu saya sendirian saja berangkat dan pulang. Suami yang biasa menemani saat itu harus tinggal di Jakarta karena ada suatu pekerjaan.

Boleh dibilang saat itu saya beli tiketnya dadakan, jadi berangkat dari rumah langsung beli tiket di Jatinegara dan langsung naik kereta pulang ke Surabaya. Pada waktu itu kebijakan PT KAI khusus kereta ekonomi tidak boleh reservasi, tiket harus dibeli saat hari keberangkatan. Untungnya saya masih mendapatkan tiket.

Setelah mendapatkan tiket saya keliling disekitar stasiun sembari menunggu kedatangan kereta. Saat itulah saya baru tau bahwa kereta GBM yang saya tumpangi nantinya berbarengan dengan rombongan suporter / bonek yang pulang ke Surabaya setelah menonton pertandingan antara Persija dan persebaya. Ada 3 gerbong yang disediakan oleh PT KAI khusus untuk rombongan Bonek.

Awalnya saya senang pulang bareng bonek karena pastinya amanlah sama mereka yang sama-sama orang Surabaya. Ternyata dugaan saya salah besar. Kereta GBM itu jadi sasaran lemparan batu oleh para suporter di luar kereta.

Sebelum kereta berangkat, beberapa petugas Stasiun dan beberapa polisi yang disiagakan di gerbong kereta sudah memberi woro-woro untuk berhati-hati bila ada kekisruhan. Mereka memberi nasihat untuk segera menurunkan tas untuk ditata sedemikian rupa sebagai penutup jendela bila sewaktu-waktu ada lempara batu.

Dan benar saja selepas melewati Bekasi, kereta GBM itu riuh rendah bak tragedi besar terjadi. Aneka lemparan menghujani kereta kami yang menimbulkan “tak.. tak.. taratak.. taratak tak..” para Polisi berkeliling dengan helm dan senjata laras panjang mengamankan situasi didalam kereta. Bahkan demi keamanan penumpang, pihak PT KAI mengumumkan bahwa kereta akan langsung berhenti di Sta. Cirebon. Dari Sta. Cirebon kereta tidak berhenti di Sta selanjutnya dan akan berhenti lagi di Sta. Yogjakarta. Bagi penumpang yang akan turun di Sta. Sebelum Yogjakarta baru dibolehkan turun kalau kereta sudah berhenti.

Tak bisa dibayangkan suasana malam itu. hampir semua penumpang semalaman membuka mata. Kursi-kursi semuanya kosong karena ditinggal penghuninya menunduk di bawah kursi, dan ada juga yang telentang dibagasi atas demi menghindari lemparan.

Apalagi saat di Solo, suasana yang tadinya sudah sedikit mereda, kembali lagi dihujani bebatuan.

Suasana baru benar-benar berhenti dan sunyi saat kereta tiba di Sta. Madiun! Saya baru bisa bernafas lega dan menikmati tahu lombok dan bergelas-gelas minuman kemasan yang dibagikan petugas KAI, karena mereka tau bahwa kami sedang kelaparan karena sepinya penjual. Iya semua makanan itu dibagikan gratis!

Saat suasana sudah aman, para penumpang menaikkan kembali tasnya ke bagasi atas. Dan saat itu pemandangannya begitu parah. Kaca-kaca jendela sudah banyak yang bolong. Batu sebesar batubata beterbaran didalam kereta, dikursi dan dilantai.

Akhirnya saya tiba di Sta. Wonokromo dengan selamat pukul setengah 3 dinihari (lumayan menghemat waktu).

  1. Kehilangan Suami

Ini yang agak aneh, tiba-tiba saja suami saya hilang dan tak kembali lagi dikursinya setelah kereta berhenti di Sta. Purworejo.

Kejadian ini saya alami saat pulang mudik lebaran dari Jakarta. Waktu itu suasana kereta sangat ramai, kondisi kereta juga full hingga untuk berdiri saja sulitnya minta ampun karena sempitnya lahan sekedar untuk injakan kaki.

Belum lagi banyaknya penjual yang wara-wiri menawarakan dagangan seolah tak mau mengalah dengan para penumpang. Ketika itu belum ada kebijakan seperti sekarang ini, dimana PT KAI masih menjual tiket bebas tempat duduk bagi penumpang kereta kelas ekonomi. Sehingga biarpun suasananya sudah penuh hingga untuk nafas aja sulit, setiap kereta berhenti di Stasiun masih ada saja penumpang yang naik dan membuat para penumpang didalam ini seperti ‘tetel’ ditekan-tekan. (bisa bayangin kan bagaimana rasanya makanan tetel / jadah yang lengket itu ditekan-tekan, biar sudah ditekan kayak apa ya tetap aja gak bisa dapat space longgar)

Nah karena suasana sumpek, panas dan gak karu-karuan ditambah kereta api berhenti lama banget di tengah areal persawahan, saat itulah tiba-tiba lampu kereta mati. Malah bikin emosi saja, kan? Mana gak ada angin sama sekali, kipas angin juga mati. Huh! Pokoknya sumpek-pek!

Begitu kereta berjalan lalu berhenti lagi di Stasiun saat itulah suami saya berdiri dari kursinya. Saya pikir dia sedang ke kamar kecil atau mencari angin di dekat pintu.

Tak lama kemudian kereta berjalan lagi tapi suami saya belum juga kembali. Saya santai saja, mungkin berdiri didekat pintu lebih nyaman dibanding di dalam.

Baru saya menyadari saat ditanya penumpang lain, “Mbak, masnya tadi kemana, kok belum kembali-kembali?”

Saya mulai bingung. Untungnya tiket saya yang pegang, coba kalau dia yang pegang bisa disuruh turun saya kalau ada pemerikasaan. Dan yang bikin saya panik lagi dompet dan HP suami saya itu ada ditas saya. Mumet rasanya mikir. Sudah gitu ATM juga semua saya yang bawa. Sedangkan perjalanan masih jauh pula, Kota Solo aja belum nyampe, trus dia pulang naik apa? Duit juga gak pegang? Kalau lapar dia makan apa? Masak minta orang? Apa ngamen? Tapi rasanya gak mungkin 2 opsi itu di lakukan secara suami saya gak ada bakat melakukan 2 cara itu.

Akhirnya saya pasrah aja. Dibalik itu semua pasti nanti ada keajaiban. Saya sampai rumah jam 4 pagi dengan perasaan super galau.

Hingga jam 7 pagi saya belum dapat kabar akan keberadaan suami. Dirumah saya berusaha makan enak dan tidur nyaman aja walau sebetulnya pikiran kalut.

Ndilalah jam 12 siang saya ditelepon suami kalau dia sudah ada di Sta. Gubeng Surabaya dan minta dijemput. Uh leganyaa..

Dan benar saja keajaiban itu muncul, saat ketinggalan kereta dia langsung menghubungi PT KAI. Disana petugas meminta suami saya menunggu sampai ada kereta ke arah Surabaya. Dan coba apa yang dia dapat, gara-gara ketinggalan itu dia bisa dapat tumpangan kereta kelas Executive lho.. dan dilayani spesial pula oleh petugas PT KAI

  1. Salah Stasiun

Kejadian ini yang baru beberapa hari lalu saya alami. Karena kebijakan PT KAI yang sering berubah-ubah membuat saya bingung harus naik kereta dari mana. Terakhir kali saya naik ekonomi sih dari Sta. Senin karena di Sta. Jatinegara kereta tidak berhenti.

Dan kemarin itu saya mengikuti jejak sebelumnya berangkat menuju Sta. Senin. Dari rumah jam 10 pagi karena jadwal kereta GBM 12.20 siang. Dari Klender saya dan suami naik metro mini menuju Sta. Senin.

Sampai di Sta. Senin jam masih menunjukkan pukul 11.30, “Ah masih sejam lagi” pikir saya. Sambil menunggu jadwal, saya beli buah dan jajanan di Stasiun. harapannya supaya penantian kami nanti nyaman, begitu.

Di dalam Stasiun saat mencari tempat yang nyaman untuk menunggu, iseng saya tanya petugas portir, tetap dengan lagak Suroboyoannya. “Pak, sepur Gayabaru, ngentenine nang endi?” (Pak KA Gayabaru nunggunya dimana?”

Dijawab oleh petugas portir “Oalah Mbak, Gayabaru neng Kota, ra’ nang kene” dengan logat ngapaknya.

Glodak!! Mana sekarag sudah jam 11.45! kurang beberapa menit lagi..

“Sampean numpak taxi opo bajaj wae mbak, nek numpak angkot ra’ nututi” katanya, yang lalu saya akhiri dengan kata “Suwon”.

Secepat kaki ini melangkah saya melewati jajaran Taxi, “60 rebu, mbak, ngejar jam” kata tukang Taxi. Ogah ah, masak dari Senin ke Kota 60 rebu. “Selawe nek gelem!” tawar saya.

Lalu ada bajaj lewat, “telung puluh wae”. “Emoh, rong puluh nek gelem” tawar saya. “Yo wes Selawe wae” Oke deh tancap gas!

Namanya juga bajaj ya, walaupun sudah ngebut sambil ngeden trus badan ini keder semua tetap aja lari ditempat. Makin stres aja saya. Sudah gitu muacetnya minta ampyuun..

Untung Pak Bajaj nya baik, dia pintar nyari sela. Dia lewat Jl. Pangeran Jayakarta untuk menghindari macet didepan mangga dua. Sempat pula Pak bajaj nya marah karena dimundurin pick up saat kejebak macet. Mendengar dia marah saya dan suami ketawa gak berhenti-henti. Logat marahnya itu lho lucu banget..

Alhamdulillah saya tiba Sta. Kota tepat waktu. Sambil lari-lari untuk mengejar kereta yang sudah ‘ongkang-ongkang’ kaki diatas rel. Begitu naik kereta sudah mau jalan aja, dan lagi gerbong saya ada di paling depan sendiri, klop ngos-ngosannya!

Benar-benar deh 3 pengalaman seru naik kereta ekonomi yang pernah saya alami itu, semuanya bikin spot jantung 😀

Yamaha Vega R, motor pertamaku, Yamaha Xeon RC, Motor impianku

Akhir tahun 2004 silam, untuk pertama kalinya saya memiliki motor sendiri. Iya, motor sendiri, bukan motor punya orang tua. Walau untuk mendapatkannya saya harus membayar dengan mencicil selama 17 bulan.

Saat memutuskan beli motor, sebelumnya saya harus nabung dulu buat DPnya. Memang tidak mudah sih, butuh kesabaran selama beberapa tahun karena saya memang niat untuk membeli motor dari hasil jerih payah sendiri, bukan belas kasih orang tua.

Pada tahun 2004 itu saya masih kerja di Hi-Tech Mall. Sebetulnya untuk pergi ke tempat kerja hanya butuh naik angkutan (Lyn) sekali, tapi karena akses untuk menuju jalan raya dari rumah jauh makanya saya mengandalkan jalan kaki. Becak ada, tapi sayang kalau harus naik becak. Ongkos becak nya lebih mahal dari ongkos naik lyn nya.

Setelah ber’olah raga’ setiap jam sembilan pagi (masuk kerja di Hi-Tech Mall jam 10) selama hampir 2 tahun, akhirnya saya berani memutuskan membeli motor. Keputusan saya memiliki motor waktu itu untuk menghemat ongkos lyn, juga supaya menghemat waktu jalan saya sehingga berangkat kerja lebih siang, hehe.. bukan lah supaya menghemat waktu perjalanan.

Minimnya pengetahuan saya terhadap motor juga menjadi pemikiran saya waktu itu dengan harapan kedepannya motor yang baru dibeli itu tahan banting dan tidak rewel. Besarnya cicilan juga menjadi prioritas supaya nantinya saya sanggup membayar hingga motor itu lunas tanpa.

Dan rupanya insting saya mengatakan untuk memilih motor Yamaha Vega R Disk Brake warna biru. Alasan saya, karena Vega R Disc Brake memiliki kecanggihan pada rem cakramnya yang bila dipakai bisa langsung berhenti, “seet!” sekaligus saat melakukan pengereman.

Alasan lain bagi saya yang masih awam soal motor adalah:

  1. Merk Yamaha ‘merakyat’

Maksud saya merakyat disini adalah merk motor Yamaha sudah banyak dipakai orang. Dimana-mana sejauh mata saya memandang, motor Yamaha menjadi motor mayoritas dijalan. Saudara, tetangga, dan teman-teman, hampir semuanya menggunakan Yamaha. Pun saat di lampu merah, saya hobi mengedar pandang sekedar untuk melihat type motor yang dipakai pengendara disebelah saya. Ternyata hampir kebanyakan merknya Yamaha! Agak kurang kerjaan memang, tapi itu sebagai bahan keyakinan saya untuk tidak salah memilih motor.

  1. Langganan juara

Saya bukan penggemar motor balap. Boleh dibilang saya hampir tak pernah nonton balapan motor di TV. Tapi kata teman-teman saya, Yamaha selalu menjadi yang tercepat dan selalu ada di lini depan di balapan moto GP. Awalnya sempat tak percaya, tapi ketika saya coba survey di ‘yang kung’ google, memang benar kalau dari tahun 2004 hingga 2012, Yamaha menjadi motor juara selama 6 kali. Sebuah prestasi yang luar biasa..

  1. Irit bahan bakar

Bagi saya yang saat itu buta akan harga bensin, dan masih memegang erat obrolan orang dewasa, bahwa motor bisa menghemat anggaran ongkos lyn, percaya saja. Dan memang setelah saya banding-bandingkan, setelah memakai motor jauh lebih menghemat biaya dan tenaga.

Apalagi saat menggunakan Yamaha Vega, dengan sekali isi bensin Rp. 5.000,- yang ketika itu tidak salah harga per liternya masih Rp. 1.810,-, bisa saya gunakan selama seminggu – 10 hari. Sedangkan ongkos lyn ketika itu masih Rp. 1.300,-! Sudah irit berapa rupiah itu..

Malah pertama kali beli, Yamaha Vega itu saya bawa ke Bromo. Iya, Motor baru itu saya bawa ‘ngreyen’ (istilah suroboyo) atau bahasa kerennya uji test ke tempat-tempat yang sedikit ekstrim,  untuk mengetahui seberapa tahan bantingnya motor saya itu dan seberapa keren tarikannya.

Percaya tidak percaya sih, Surabaya – Bromo – Surabaya hanya isi bensin 3 x Rp. 5.000! padahal jalan tanjakannya di bromo meliuk-liuk naik turun dan jumlahnya tidak sedikit, lho, tapi tetap aja hematnya. Dan tarikannya juga lumayan lincah dan cepat.

  1. Saya menyebutnya si bebek bandel

Entahlah mengapa saya menyebutnya demikian untuk Yamaha Vega R DB saya. Setelah 4 tahunan menggunakan Yamaha Vega secara tidak sengaja saya menyebutnya si bebek bandel. Itu terucap setelah Yamaha Vega saya mengalami insiden yang menyedihkan saat berhenti di lampu merah Wonokromo. Tiba-tiba saja dari arah belakang, motor saya di tabrak motor lain.

Awalnya saya tidak sadar kalau motor saya ditabrak, tak ada goncangan apapun yang saya rasakan. Saya baru tau saat kaki kiri saya menyentuh bagian tubuh sepasang suami istri yang sudah tergeletak dibawah dengan motor roboh pecah berantakan. Karena saya merasa tidak bersalah apa-apa, menyenggol motornya pun tidak, saya pun diam saja. Pikir saya mereka jatuh sendiri karena keblabasan ngerem atau apa.

Beberapa saat kemudian, iseng saya menoleh kebelakang untuk mencari penyebab pasangan itu jatuh. Betapa kagetnya saat melihat lampu belakang saya pecah.

Rupanya, suami istri itu jalannya kekencangan. Mereka sepertinya sengaja menambah gas saat lampu akan menyala merah. Saat motor dalam keadaan kencang, didepannya terlihat Pak Polisi berdiri dibawah pohon. Dalam keadaan bingung hanya ada 2 pilihan, kalau terus kena tilang, kalau berhenti pasti remnya tidak nutut. Maka limbunglah mereka, tak bisa mengatasi keadaan. Akhirnya motor saya yang jadi sasaran.

Dibantu beberapa tukang becak yang saat itu turt menyaksikan, dikantor polisi saya dinyatakan tidak bersalah, justru suami istri itulah yang diwajibkan membayar ganti rugi motor saya.

  1. Merasa Klik

Tak salah saya memilih Yamaha Vega R DB. Sudah banyak yang membuktikan bahwa merk motor Yamaha itu bandel dan awet. Tempat servicenya ada dimana-mana dan spare partnya pun juga mudah didapat. Itu yang membuat hati saya terasa nyaman memilih merk Yamaha. Terasa seperti langsung ‘klik’ aja.

Garansi mesin yang panjang juga menjadi nilai tambah buat saya. Dan lagi kakak saya yang memiliki usaha bengkel mengatakan, bahwa motor Yamaha harga jual secondnya cukup tinggi.

Jadilah Yamaha merk motor pertamaku.

Pengalaman naik motor matic

Setelah sekian lama menggunakan motor bebek, kini saya berencana untuk ganti motor. Dan Motor impian saya selanjutnya adalah motor matic. Saya begitu penasaran menggunakan motor jenis ini karena melihat banyaknya pengguna motor matic dijalan.

Menurut teman-teman yang sudah menggunakan motor matic, hampir semuanya mengatakan kalau motor maticitu nyaman digunakan, irit bahan bakar, larinya cepat dan mudah pengoperasiannya. Mendengar iming-iming seperti itulah saya jadi tertarik juga untuk berpindah haluan ke teknologi motor injeksi.

Terus terang, saya memang belum fasih benar naik motor jenis matic karena sudah kebiasaan naik motor bebek, sehingga bila melalui lampu merah atau polisi tidur kaki saya masih suka ‘kagok’ (salah tingkah). Meskipun tangan sudah menekan hand rem, tapi kaki saya secara reflek mencari injakan gigi untuk dikurangi. Saya jadi malu sendiri di lihat pengendara lain, ketara banget kalau pakai motor hasil pinjaman 😀

Beberapa kali saya naik motor matic awalnya terasa aneh. Seperti ada sesuatu yang hilang di kaki. Tapi setelah berusaha membiasakan diri secara pelan-pelan ternyata naik motor matic itu asyik juga. Tinggal duduk di atas jok, nyalakan starter, kaki dua berdiri sejajar dan,  goyaaang.. 😀

Bergaya bersama motor pinjaman :D
Bergaya bersama motor pinjaman 😀

Kecanggihan motor injeksi

Lagi-lagi saya harus mengenalkan diri dengan motor berteknologi baru ini. Sebelum benar-benar akan membeli saya berusaha cari tau kelebihan motor matic dibanding motor bebek. Dari kebiasaan nguping ditambah browsing, lama-lama saya jadi mengerti keunggulan motor matic.  

Berbeda dengan motor jenis bebek, motor matic lebih hemat bahan bakar dan lebih ramah lingkungan karena menggunakan mesin bersistem bahan bakar injeksi. Sistem injeksi ini menghasilkan gas buang yang tidak terlalu besar  

Baru-baru ini sebagai pelopor matic pertama, Yamaha melakukan inovasi motor matic terkini yaitu penggabungan ketangguhan mesin juara Yamaha DiASil Cylinder dan Forged Piston dengan teknologi canggih FI, Yamaha Mixture Jet – Fuel Injection atau yang disingkat YM Jet-FI.

Hadirnya penggabungan inovasi ini nantinya tidak saja membuat tampilan motor lebih keren, cepat, tapi juga canggih.

Motor injeksi berteknologi YM Jet-FI merupakan mesin injeksi berteknologi balap yang mampu meningkatkan efisensi bahan bakar hingga 30 % serta dapat mengurangi polusi udara. 

Bukan.. bukannya saya mau balapan dijalan raya atau apa untuk mengidam-idamkan motor jenis ini, lagian saya tak perlu menarik motor kencang-kencang untuk segera sampai ditempat tujuan, toh jalanan Surabaya tidak begitu macet. Tetapi tidak salah kan kalau saya menginginkan motor yang berkualitas, agresif, inovativ, juga elegan.

Yamaha XEON RC, motor injeksi Impian

Kebiasaan saya dan suami bila bepergian jauh keluar kota  dalam provinsi selalu menggunakan motor. Hal ini supaya lebih cepat sampai, lebih murah ongkos, dan gak susah kalau mau kemana-mana.  Seperti jalan-jalan ke Malang, Jombang, Kediri, Blitar, hingga ke Bromo di Probolinggo, selama ini selalu menggunakan motor bebek, meski saat di perjalanan selalu mengandalkan kaki untuk menginjak gas dan rem.

Karena sering melakukan perjalanan jarak jauh itulah, makanya saya memimpikan motor injeksi Yamaha XEON RC. Alasannya:

Performa tangguh

Ini kaitannya dengan kapasitas mesin Yamaha XEON RC yang 125 cc. Besarnya kapasitas ini  membuat Yamaha Xeon RC semakin agresif, melesat cepat saat berada diatas aspal dan semakin tak tertandingi!

Diimbangi kapasitas tangki bensin yang lumayan besar, 3,8 liter membuat suasana perjalanan menjadi tenang dan nyaman. Begitu pula dengan Rem nya yang mengandalkan rem cakram dibagian depan dan tromol dibagian belakang membuat perjalanan menjadi lincah dan “sat-set!”

Teknologi mesinnya juara dan canggih

Perpaduan komponen Aluminium Silicon (DiASil)  Cylinder yang memiliki daya tahan kuat terhadap gesekan serta Forged Piston yang diproses menggunakan teknologi tempa membuat kebersihan piston terjaga. Ditambah kecanggihan YM Jet-FI membuat Yamaha Xeon RC tampil lebih istimewa dan full performance. Garansi komponen selama 5 tahun / 50.000 km membuat motor injeksi satu ini lebih sensasional dan awet.

DiASil Cylinder
DiASil Cylinder
Forged Piston
Forged Piston

Throttle Posisiton Sensornya yang smart membuat pembakaran lebih sempurna sehingga bahan bakar menjadi lebih efisien. Liquid Cooled nya juga menjadikan temperatur mesin stabil, suara mesin halus dan lincah maksimal

Throttle Position Sensor

Liquid Cooled
Liquid Cooled

Tampilan Keren

Disain tampilan luar Yamaha Xeon RC Aerodinamic yang terinspirasi dari pesawat tempur dengan sistem Auto Head – Light On serta Translucent Head Lamp yang berdimensi unik menjadikan penerangan menjadi lebih jelas sehingga mengurangi resiko kecelakaan.

Translucent Head Lamp
Translucent Head Lamp

Ultramodern back lamp dengan disain khas membuat penampilan lebih futuristik, lebih modern, tampak sporty dan lebih terang

Ultramodern back lamp
Ultramodern back lamp

New Striping dengan graphic baru yang bernuansa speed teknologi membuat penampilan semakin dinamis

Penampilan Xeon RC dengan striping baru
Penampilan Xeon RC dengan striping baru

Fitur keren dan sporty

Sebagai motor sahabat berkendara, Xeon RC memiliki beberapa kenyamanan, diantaranya:

Interior Box dibagian depan dapat difungsikan sebagai bagasi mini yang dapat menyimpan barang-barang yang dianggap penting seperti, botol minum, sarung tangan, masker, dll, hal ini untuk lebih memudahkan pengendara menyimpan aksesoris kecil.

Large Volume Baggage dapat digunakan untuk menyimpan helm, jaket atau barang-barang pendukung aktivitas pengendara.

Bagasinya lebar
Bagasinya lebar

New key shutter yang berfungsi ganda untuk melindungi motor supaya lebih aman juga sekaligus sebagai pembuka bagasi.

New Key Shutter
New Key Shutter

Selain itu fitur Smart Stand Switch dan Smart Lock System yang berguna sebagai pengaman pengendara dan praktis digunakan serta aman saat melakukan pengereman dijalan menanjak atau menurun

Smart Lock System and Stand Switch
Smart Lock System and Stand Switch

Penuh Ekspresi

Salah satu keistimewaan Yamaha Xeon RC, Sporty Casting Wheel and Colored Pin Stripe dengan Velg berwarna dikombinasi Lis Velg nya yang tegas membuat penampilannya lebih gagah, terutama saat motor melewati jalanan bergelombang. Begitu juga jarak antara tanah dan motor  yang didisain lebih tinggi membuat pengguna nyaman saat melewati polisi tidur.

Muscular and Sporty Muffler diadaptasi dari Motor Yamaha T-Max sangat powerful.

Kualitas terjamin

Motor Yamaha selain memiliki fitur yang keren, cepat dan juga canggih, tapi juga mengedepankan kualitas dan garansi. Tidak tanggung-tanggung Yamaha memberi garansi 5 tahun / 50.000 km untuk mesin terutama Forged Piston dan DiASil Cylinder, 2 tahun untuk kelistrikan, serta 6 bulan 6.000 km untuk bagian umum diluar kelistrikan.

***

Pengalaman saya membuktikan bahwa motor Yamaha memiliki banyak keunggulan. Dari segi kecanggihan teknologi, fitur yang keren, performance dan konsumsi bahan bakar, motor Yamaha selalu ‘terdepan’. Seperti peribahasa, tak kenal maka tak sayang, maka setelah menggunakan motor Yamaha saya jadi makin sayang dan tak mau beralih ke yang lain.

Semoga Yamaha selalu terus berinovasi agar kedepannya Yamaha semakin didepan dan akan terus menjadi yang terdepan secara percaya diri penuh ekspresi dan melesat jauh semakin tak tertandingi..

Ada apa di jl. Semarang

“Seandainya kamu jadi penulis, kamu mau bukumu dibeli orang tapi gak dapat royalti?”

Saya tersentak lalu diam. Ucapan suami saya benar. Saya terlalu naif menganggap sebuah hasil karya orang dengan harga murah.

**

Beberapa hari lalu ketika saya melewati Stasiun Pasar Turi, tiba-tiba saja saya ingin menghentikan laju kendaraan dan mampir disebuah deretan toko buku di jalan Semarang.

Jalan Semarang ini adalah pusatnya toko buku bekas di Surabaya. Namun saya hampir tidak pernah membeli buku disitu walaupun saya lihat banyak sekali lalu lalang orang yang keluar masuk di toko buku tersebut sambil mencari buku yang mereka inginkan.

Di deretan toko-toko buku tersebut bertumpuk-tumpuk buku bekas dengan aneka judul. Mulai buku pelajaran, komic, majalah, novel hingga skripsi.

Jajaran buku bekas di salah satu kios
Jajaran buku bekas di salah satu kios
Majalah dan komik bekas
Majalah dan komik bekas

Dari jajaran buku-buku itu saya tertarik dengan deretan buku yang tersampul rapi dan ditata secara berderet ala toko buku besar. Judul buku-buku itu menurut saya adalah buku best seller.

Saya ambil salah satu buku yang tidak bersampul. Saya perhatikan covernya berwarna agak gelap. Saya bolak-balik sampulnya memang sangat mirip dengan yang asli. Namun ketika saya melihat bagian dalam buku itu kualitas kertas serta tulisannya jauh berbeda dengan buku aslinya. Tapi yang pasti masih bisa terbaca..

“Wah menarik ini..” pikir saya.

Apalagi saat saya tanya harganya 3x lebih murah dari harga aslinya.

Dari hasil mampir itu saya mendapatkan beberapa buku. Tidak banyak sih, hanya beberapa. Maksudnya saya mendapatkan 3 buku yaitu 5 cm, 2, dan Kun Fayakuun 2 nya Ust. Yusuf Mansur hard cover.

Ke 3 buku itu saya beli murah saja, 45 ribu!

Tidak! Saya tidak bermaksud membajak! Saya hanya penasaran dengan isinya (Tapi tidak menutup kemungkinan untuk beli lagi sih kalau memungkinkan) hihi..

Rupanya beli buku di Jl. Semarang itu seperti candu! Sekali beli ingin rasanya nambah lagi.

Jadi setelah nonton film rectoverso kapan itu, suami saya tertarik untuk beli bukunya. Sebelumnya saya sudah sempat baca di Toga Mas, dan memang buku itu harganya cukup mahal.

Entah kenapa tiba-tiba saya merasa toko buku ini salah menempelkan label harga. Herannya lagi beberapa buku yang saya pegang, harganya juga seperti tak masuk akal. Ada konspirasi politikkah antara bawang dan buku? Apakah mereka janjian menaikkan harga? 😀

Lalu saya menggumam “kalau di jalan Semarang, ada buku rectoverso gak ya?”

“Gak ada! Toko bukunya tutup, musim hujan!” samber suami saya! *idih denger aja*

Minggu kemarin, alih-alih nunggu Toga Mas buka, kami melewati Jl. Semarang.

Padahal sebetulnya perjalanan kami gak relevan sama sekali. Toga Mas yang ada di jalan Pucang lebih dekat dengan rumah. Tapi kami malah muter melewati jl. Semarang yang nun jauh disana. Yah intinya boleh kan kalau saya mau ke Jakarta tapi muter lewat Manado  dulu? 😀

Dan, horee.. toko buku di Jl. Semarang buka..

Tapi kan saya kesini cuma lewat. Yah kali aja ada buku menarik yang ingin saya beli.

Saya masuk ke salah satu toko buku dan saya tanya, ada buku rectoverso, gak?

Sial. Semua penjual bilang, “buku apa itu?”

Ya deh, memang gak boleh kok beli buku bajakan. Kasihan penulisnya, gara-gara buku-buku bajakan itu royalti mereka jadi berkurang.*sok bijak*

Tapi kan gak salah juga kalau saya tanya, toh saya kan hanya lewat sini 😀

Dan akhirnya saya beli juga buku rectoverso di Toga Mas..!! Horee.. *sambil ngumpetin buku madre yang tadi sempat dibeli dengan harga 9ribu*

Giveaway #1 “Me and Jogja”: Menikmati malam di alun-alun

Menikmati malam di alun-alun Jogya
Menikmati malam di alun-alun Jogja

Jogja memang tak pernah mati, begitulah yang saya ucapkan manakala menikmati suasana Jogja di malam hari.

Sabtu malam itu, jam sebelas malam saya dan teman membelah jalanan kota Jogjakarta. Sengaja malam itu kami tidak berdiam diri dipenginapan mengingat malam itu adalah malam terakhir kami berada di kota Bakpia Pathok.

Malam itu kami sengaja mencari tempat untuk nongkrong sambil menjawab rasa penasaran saya terhadap nasi kucing. Sebetulnya kami juga penasaran dengan yang namanya kopi joss tetapi berhubung di tempat yang kami singgahi tidak ada menu itu akhirnya kami memilih untuk memesan teh panas, wedang ronde, nasi kucing, dan roti bakar.

Uniknya roti bakar yang disajikan tidak di bakar diatas wajan lebar seperti pada umumnya roti bakar yang dijual di Surabaya, tetapi roti itu memang benar-benar di bakar diatas arang sehingga terdapat keunikan rasa.

Sepanjang jalan dipinggir alun-alun yang menuju  Kraton  itu dipenuhi  warung-warung tenda lengkap dengan gelaran tikar untuk lesehan pengunjung. Satu dua orang pengamen juga turut meramaikan suasana dengan genjrengan gitarnya di bawah sorotan lampu jalan yang berwarna kuning.

Teman, jangan sungkan untuk selalu datang ke Jogja, karena JOGJA tinggal ‘JUJUG SAJA’  🙂

Go Top