Resep membuat kopi nikmat

Akhirnya bisa posting lagi..

Percayalah ini bukan kemauan saya, telat posting ini akibat koneksi internet yang lelet. Sungguh sinyal down ini benar-benar menjengkelkan! Wahai Petinggi jaringan (baca: tower) lihatlah kegalauanku ini!

Entahlah salahnya dimana ada yang bilang ini semua akibat cuaca yang tidak menentu. Padahal cuaca di Surabaya baik-baik saja. Hujan tidak, banjir nggak. Kalau angin kencang sih iya.. apa memang jaringan internet semuanya sedang drop? Sudah coba-coba ganti provider sih tapi masih saja jaringan tidak terjangkau.

Ya sudahlah dari pada saya tidak bisa posting dan galau terus menerus saya bagi resep membuat kopi aja deh ya.

Resep ini resep istimewa yang saya dapat dari kunjungan ke desa adat Using Kemiren Banyuwangi 2 minggu yang lalu. Di desa Kemiren inilah terdapat sebuah Sanggar pembuatan kopi yang memiliki citarasa Internasional. Namanya Sanggar Pathok Kemiren. Sanggar ini merupakan Sanggar Binaan Bapak Setiawan Subiakto. Beliau ini seorang tester kopi dunia lulusan Hawai yang ingin mengangkat citarasa kopi lokal Banyuwangi yang setara dengan rasa kopi Interlokal.

Menurut para Tholek (dalam bahasa Using artinya: pemuda) cara membuat kopi yang benar supaya tekstur kopi tidak rusak dan aromanya tidak hilang adalah dengan tidak mencampurnya langsung dengan gula.

Kopi dan pelengkap suguhan
Kopi dan pelengkap suguhan

Cara ini sudah saya coba dan memang rasanya lebih nikmat. Tapi saya mencobanya menggunakan kopi Kemiren, dan belum coba untuk merk kopi kemasan. Seperti yang saya lihat saat berkunjung kesana, kopi Kemiren dibuat dari kopi asli tanpa campuran bahan lain yang disangrai menggunakan wadah semacam wajan yang terbuat dari tanah liat.  Bentuknya mirip seperti cobek bumbu ulekan bumbu. Proses penyangraiannya pun menggunakan kayu bakar.

Mungkin saja teman-teman mau mencoba memakai kopi kemasan macam kapal api atau gelatik, barangkali ada perbedaan rasa. Sebab enak tidaknya kopi menurut saya relatif, tergantung lidah penikmatnya. Karena saya bukan peminum dan penikmat kopi, jadi hanya bisa bilang enak saja.

Kalau teman-teman mau bereksperimen silakan coba cara ini.

Kalau akan membuat kopi biasanya kopi dan gula di tuang dulu didalam gelas lalu dituangi air mendidih. Kemudian diaduk. Nah sekarang cobalah, kopi dituang dulu didalam cangkir kemudian tuang dengan air mendidih sebanyak 1/3 cangkir. Aduklah pelan-pelan. Kalau sudah, tambahkan air mendidih lagi sampai cangkirnya penuh. Aduk lagi pelan-pelan. Terakhir tambahkan gula sesuai kebutuhan.

Konon kopi yang enak adalah kopi yang banyak busanya. Jadi ketika membuat kopi dan mendapati ada busa, jangan buang busanya. Biarkan busa itu memancarkan aroma kenikmatan tersendiri.

Sudah dulu ya, soalnya lagi diwarnet. Waktu sejam saya sudah mau habis ini..

Oya, silakan coba resep diatas. Kalau kurang nikmat kabari saya, kalau sangat nikmat kabarkan kepada semua orang.. 😀

Oya lagi.. minggu ke 4 even Liga Blogger Indonesia 2014 temanya tentang review peserta LBI204, ngomong-ngomong saya sudah direview oleh Cicajoli di Keluarga baru Cicajoli dan Mas Alfan Renata di Dari Terdekat hingga Terjauh. Besok gantian saya yang nulis tentang mereka, jadi tunggu postingan berikutnya ya.. 🙂

Doping gula aren, si pemanis sehat dan manfaatnya

Ini sebuah cerita lama yang pernah saya alami kurang lebih 15 tahun silam. Yaitu pengalaman ketika mendaki gunung Welirang.

Waktu pertama kali mendaki saya masih dibangku SMK. Ide mendaki ini muncul saat saya sering kumpul-kumpul di Musholla ketika bulan Ramadhan. Biasa.. kalau bulan Ramadhan kan sehabis sholat Tarawih saya tadarusan di Musholla. Tapi.. namanya anak remaja pamitnya aja yang tadarus selanjutnya ngobrol sama teman sana sini hihi..

Ketika ngobrol di Musholla itu tiba-tiba ada satu teman yang ngajakin naik gunung. Supaya mendapat banyak peserta, si teman itu sambil promosi kalau naik gunung itu mengasyikkan. Menikmati suasananya, hawanya, sejuknya, dinginnya dan cerita-cerita indah lainnya..

Singkat cerita rencana naik gunung itu dimatangkan sekaligus direncanakan pada H+3.

Akibat promosi terselubung itulah saya terpicu untuk ikut serta. Meskipun sempat ragu, tapi si teman (sebut saja Heru) sudah memprovokasi saya, dia bilang kalau saya pasti kuat naik gunung. “Kalau Yuni pasti kuat, dia kan aktif lari-lari”

Berbekal semangat itulah akhirnya saya berangkat. Total peserta yang ikut ada 10 orang, 3 diantaranya sudah berpengalaman mendaki, termasuk Mas Heru.

Sebagai orang yang belum pernah mendaki saya tak membawa bekal apa-apa, selain mie instan dan beras. Untuk bekal minum dijalan saya membawa botol air minum kemasan 1,5L.

Di Pos pertama, di Pet Bocor Mas Heru menyuruh kami memenuhi botol-botol kosong yang kami bawa dari rumah sebagai bekal diperjalanan. Katanya perjalanan menuju Pos ke 2 memerlukan waktu 3-4 jam dan selama perjalanan tidak akan ditemukan sumber air lagi. Begh!

Begitulah akhirnya perjalanan trekking dimulai. Pertamanya saya semangat berjalan. Sambil sok merasa kuat saya lari sana-lari sini. Tak dinyana belum satu jam berjalan saya sudah kelelahan. Sebentar-sebentar minum-sebentar-sebentar minum. Efek kebanyakan minum itu akhirnya membuat badan saya bukan makin semangat, tapi makin drop. Tenggorokan mudah kering, perut seperti mual, plus kepala jadi nggliyeng.
Merasa kasihan, Mas Heru membawakan botol minum saya. Kini bekal saya lebih ringan.

“Mas Heru, masih jauh ta?”
“Nggaakkk.. paling habis sebatang rokok ini lho..” kata Mas Heru sambil nunjukin rokok yang nyala merah. Mas Heru ini kalau ditanya berapa jauh jawabnya selalu sampai habis sebatang rokok ditangannya. Padahal saya tau kalau rokoknya habis Mas Heru pasti nyalakan batang rokok baru lagi.. lucunya saya kok ya percaya aja sama ucapannya.

Bukan hanya saya yang drop tapi ada beberapa teman cewek juga. Kondisi dia sama seperti saya, sebentar-sebentar minta berhenti dan minta minum.

“Mas Heru, berhenti sebentar. Haus Mas..” kata saya memelas.
“Yun-yun.. dari tadi kamu minum terus” Jawab Mas Heru jengkel. “Jangan banyak minum, nanti badan kamu berat. Kalau berat jadi susah jalannya”

Wajar aja kalau dia jengkel, lha wong saya tiap 10 meter minta berhenti. Minta minum. Akibatnya teman-teman lain yang ada didepan ikut-ikutan berhenti dan nungguin saya sama teman yang kelelahan.

Permintaan saya kali ini di turuti sama Mas Heru. Eh, ada tapinya… saya boleh minum tapi cuma satu tutup botol saja.

Bisa dibayangkan gimana sengsaranya saya ditengah rasa kehausan hanya dikasih minum sebanyak satu tutup botol! Iya tutup botolnya yang kecil itu! tega banget..!

Ditengah penderitaan itulah ada salah satu teman yang memberi saya secuil gula aren. Katanya biar saya kuat jalan. Awalnya itu saya kira permen, ternyata gula aren yang berwarna merah. Kalau saya sih nyebutnya gula merah. Gula merah aren. Gula aren merah asli warnanya memang coklat kemerahan.

Tak hanya saya yang dikasih gula aren, semua teman juga dibagi. Gula aren yang sebongkah itu oleh Mas Heru di cuil-cuil kemudian dibagi-bagi sama yang lainnya. Untuk mencuilnya Mas Heru menggunakan batu yang dipukulkan ke gula tersebut. Mudah saja, sekali pukul gula itu sudah jadi serpihan kecil-kecil. Memang begitulah ciri gula aren asli, kalau di pukul mudah sekali hancur. Beda kalau gula aren yang dicampuri pemanis buatan, gula aren yang nggak asli kalau dipukul keras banget. Trus kalau dikunyah rasanya ada pahit-pahitnya.

Sebagai pegangan perjalanan, saya lalu dikasih beberapa serpih agar kalau lemas saya tinggal ngunyah gula itu. iya, dikunyah saja seperti permen.

Ajaib memang, setelah ngunyah gula aren, tenggorokan saya jadi gak haus. Itu karena gula aren tidak mudah larut dalam tubuh sehingga walaupun habis dikunyah rasa manisnya tetap melekat. Dan efek manisnya itu membuat lidah saya tidak terasa hambar meskipun nafas ngos-ngosan dan keringat berjatuhan akibat udara dingin dan perjalanan berat. Dari sini saya mulai percaya kalau gula aren adalah pemanis sehat yang bagus untuk dikonsumsi sehari-hari seperti membuat bubur kacang hijau, kolak santan, jemblem (sejenis penganan dari singkong yang diparut didalamnya diisi gula aren lalu digoreng), bumbu rujak manis, cuka pempek dan bubur campur.

Bubur campur madura yang menggunakan gula aren
Bubur campur madura yang menggunakan gula aren
Jajan pasar campur, ada klanting, dan gethuk yang disiram gula aren cair
Jajan pasar campur, ada klanting, dan gethuk yang disiram gula aren cair

 

Bubur madura diatas gerobak .  Kata Buk penjual, gula cairnya dibuat dari gula aren sebab banyak balita makan bubur ini,
Bubur madura didalam gerobak .
Kata Buk penjual, gula cairnya dibuat dari gula aren sebab bubur ini banyak dikonsumsi balita jadi biar balita-balita itu sehat dan tidak batuk.

 

Cuko manis gula aren di warung Pempek Ny Farina
Cuko manis gula aren di warung Pempek Ny Farina

Ngomong-ngomong gula aren saya sering membuat kudapan yang lezat, nikmat dan sehat. Bahannya dari singkong yang dikukus. Saya milih singkong karena mengandung karbohidrat, sama seperti kandungan nasi. Harga sekilonya pun murah meriah.

Singkong rebus yang belum ada rasa
Singkong rebus yang belum ada rasa

Karena saya tidak bisa masak, singkong kukus itu saya modifikasi rasanya. Kalau tidak asin gurih, ya saya bikin rasa manis. Supaya tidak ribet singkong kukus itu tinggal saya tuangi gula aren cair.

Untuk membuat gula aren cair juga tidak susah, tinggal masukkan air dan beberapa biji gula aren padat kemudian dimasak sampai airnya mendidih dan gula aren menjadi kental.

Hasilnya jadi seperti ini:

Gula aren cair
Gula aren cair

Inilah penampakan singkong kukus manis sehat ala saya

Singkongnya kemeprul dipadu dengan lezatnya gula aren, menjadi makanan sederhana ini berkelas bintang lima :D
Singkongnya kemeprul dipadu dengan lezatnya gula aren, menjadi makanan sederhana ini berkelas bintang lima 😀

Ada yang menyebut gula aren ini dengan sebutan palm sugar. Menurut penelitian, palm sugar memiliki banyak khasiat untuk tubuh terutama mengembalikan metabolisme tubuh yang menurun, mengatasi masuk angin dan aman dikonsumsi bagi penderita diabetes.

Palm sugar aman dikonsumsi karena terbuat dari nira pohon aren yang diolah dengan cara tradisional sehingga menghasilkan gula yang berkualitas baik dan rasa manis yang tidak dimiliki oleh gula putih.

produk Arenga 4
Palm Sugar Organic  produk Arenga yang dikemas dalam beberapa macam.

Sejak mengunyah gula aren itu perjalanan pendakian saya jadi lancar. Mas Heru sudah tak lagi ngomel-ngomel dibelakang saya hehe..

Pendakian berikutnya saya jadi langganan diajak sama Mas Heru. Terhitung saya sudah berhasil menahklukkan gunung Welirang sebanyak 3 kali! 3 kali yang sampai puncak, lainnya ada yang hanya niat ngecamp aja..

Pokoknya kalau mau naik gunung doping saya bukan minuman berstamina, cukuplah gula aren saja. Tak hanya dibawa dalam bentuk bongkahan, gula aren ini juga saya  seduh dengan teh. Seduhan ini lalu saya masukkan dalam botol tahan panas lalu dipakai buat jaga-jaga kalau ditengah jalan ada yang kelelahan dan kedinginan.

227908_1021974163350_1789516_n
Kasihan teman yang baju biru itu 🙁
Saya sudah sumringah karena ngunyah gula aren terus hihi
226688_1021974523359_7169477_n
Pagi-pagi tetap semangat ^_^
225753_1021974403356_4104864_n
Kalau ini emang niat ngecamp 😀

Untuk memudahkan masyarakat menyajikan makanan yang menggunakan bahan penyedap gula aren, sekarang ini sudah hadir produk gula aren yang dikemas dalam beberapa macam, namanya Arenga Organic Palm Sugar. Macam-macam produknya antara lain: Palm Sugar gula semut, dan Liquid Palm sugar dengan pilihan rasa pandan, original, durian, nangka.

Kehadiran produk Arenga ini merupakan bentuk kepedulian terhadap kesehatan masyarakat akan pentingnya pemanis sehat. Tak hanya menonjolkan rasa saja, tetapi juga rasa lezat dan kandungan-kandungan lain yang bermanfaat bagi tubuh.

Arenga Organic Palm Sugar (Gula Semut Aren)
Arenga Organic Palm Sugar (Gula Semut Aren)
Arenga Organic Palm Sugar: Gula semut  Aren dan Gula Aren Cair
Arenga Organic Palm Sugar: Gula semut Aren dan Gula Aren Cair

Tragedi Asinan Bogor

5 Tahun lalu..

Seumur-umur saya belum pernah makan asinan. Konon kata yang pernah makan rasanya asam-asam segar. Sebagai penyuka rasa rujak-rujakan saya jadi penasaran seperti apa rasa makanan yang bernama asinan ini.

Sampai suatu ketika saya datang ke Bogor. Tiba di Stasiun saya langsung disambut penjual asinan dengan rombong yang mangkal berjajar di bagian luar. Di dalam rombong asinan terdapat buah-buahan dan sayuran yang ditata sedemikian rupa dengan kuah yang ditaruh di wadah tembus pandang. Saya pikir itu rombong penjual rujak ternyata Mas Aldi bilang itu rombong jual asinan.

Dengar kata asinan saya langsung nelan ludah. “Hmm.. kayaknya enak nih siang-siang panas begini makan sesuatu yang asam-asam seger”.

Ditambah lihat asinan yang sudah dibungkus plastik yang digantung-gantung di atas rombong, makin gemes lihatnya. Warnanya cantik, kuahnya menggoda dengan butiran isi cabe yang betebaran.

Asinan Bogor Gambar dari Google
Asinan Bogor
Gambar dari Google

Tanpa menunggu lagi saya langsung beli 2. Dibilang kemaruk biarinlah asal kemecer dilidah ini segera hilang 😀

Sepanjang putar-putar di Kebun Raya Bogor saya sudah gak fokus lagi lihat pemandangan. Yang saya pikir cuma satu, segera mencari tempat teduh lalu duduk dibawahnya sambil menikmati asinan berkuah.

Begitu dapat tempat nyaman saya langsung membuka bungkus asinan itu. Setelah tali karet yang mengikatnya terbuka terciumlah aroma asam pedas yang nikmat itu. Lidah yang dari tadi kemecer makin gak tahan untuk segera menyantapnya.

Sebagai incipan pertama saya ambil pepayanya dulu. Warnanya yang merah cantik menggugah selera saya.

Sial, gigitan pertama saya gagal. Pasalnya pepaya yang saya ambil itu mentah. Warnanya memang merah, tapi pas digigit rasanya keras. Lidah saya jadi susah menikmati.

Lantas saya ambil incipan yang kedua. Saya ambil buah berwarna putih. Irisannya tipis melebar dan bayangan saya kalau digigit bisa menghasilkan efek kriuk renyah seperti bengkuang.

Ah, sial lagi.. ternyata buah yang barusan saya gigit itu bukan bengkuang tapi telo (ubi). Telo mentah!

“Gimana sih yang jual asinan ini.. makanan mentah semua gini kok dijual! Wong gak nggenah!” saya pun misuh-misuh.

Saya angkat plastik asinan, saya pegang bagian bawahnya lalu saya pijiat-pijat pakai tangan. Saya hanya memastikan buah apa saja yang ada didalam bungkus asinan ini. Disitu saya lihat ada kubis yang diiris panjang, kecambah, sama timun. Dan pas saya rasakan semuanya satu persatu, ternyata semua mentah sodara!

Antara kecewa, marah, tak bisa lagi dibendung. Harapan makan asinan segar nan pedas hanya tinggal bayangan. Lidah yang sudah trecep-trecep tidak mencapai kepuasan. Semuanya serba nggantung dan gak ada penyelesaian sama sekali!

Jadi galau lihat asinan ini. Dibuang itu sayang, tapi kalau gak dibuang juga percuma, saya gak bisa makan karena semuanya mentah. Padahal saya suka dengan kuahnya. Suka banget. Kuahnya enak seperti rasa nano-nano.

Mas Aldi: “Yang namanya asinan ya begitu itu rasanya”
Saya: “Tapi ini semuanya mentah”
Mas Aldi: “Ya emang begitu. Orang sini sudah biasa makan begituan” sambil ngakak

Masak sih. Gak percaya. Ngapain harus  makan yang mentah, kalau yang masak aja lebih enak.

Daan dari pada galau berkepanjangan asinan itu saya buang. Saya buang jauh ke tempat sampah dipojokan. Biar saja biar mampus dimakan cacing tanah! *emosi jiwa*

Tragedi asinan itu membuat saya kapok. Saya gak mau lagi makan makanan yang bernama asinan!

2 hari yang lalu..

Tragedi yang sudah saya tutup rapat-rapat kemarin terkuak lagi. Semua gara-gara Kang Yayat yang nulis status di FB. Di status itu Kang Yayat dengan ‘semena-mena’nya menayangkan resep asinan yang diambil dari majalah wanita online. Yang membuat saya makin trauma ketika membaca isi resepnya. Disana saya menemukan bahan yang menurut saya tidak wajar. Disana tercantum:

200 gr ubi merah, kupas, iris tipis

Bentar.. bentar.. maksudnya ubi yang bagaimana ini.. kenapa ubinya cuma dikupas trus diiris tipis. Saya curiga jangan-jangan ubi ini nantinya dimakan mentah sama seperti yang pernah saya rasakan 5 tahun lalu..

5 tahun itu bukan waktu yang sebentar lho, tapi kenapa selama 5 tahun itu ubi ini tetap masuk dalam daftar bahan asinan? Lebih mengenaskan lagi ubi itu diramu dalam kondisi mentah! wkwk..

Adakah yang spesial dengan ubi ini?
Tidak kah lebih baik ubi ini diganti dengan bahan yang lebih sopan dimakan mentah?hehe..
Atau bahan ini sengaja ditambahkan sebagai garnis asinan?

Mungkinkah ini semua hanya karena kebiasaan. Sebagai orang Jawa Timur lidah saya tidak biasa makan makanan yang seharusnya dikukus dulu. Tapi saya tetap penasaran..
Kenapa ubi masuk dalam daftar bahan asinan?
Kenapa ubi harus disajikan mentah?
Apakah tiap beli asinan ubi itu ikut dimakan?
Trus bagaimana rasa makan ubi mentah?

Ada yang bisa jawab kekepoan saya? hehe

Ketupat, tradisi Islam yang membudaya

Beberapa hari lalu saya bersama tetangga membuat ketupat. Kebiasaan kami, membuat ketupat dilakukan berbarengan, biasanya sepasaran atau lima hari setelah lebaran Idhul Fitri. Jadi tak heran bila setelah ketupat matang kami saling mengirimkan secara bergantian.

Pagi-pagi tetangga saya sudah memulai membuat ketupat didepan rumah. Iseng-iseng membantu, saya pun diminta Ibu membuat untuk dipakai sendiri juga. Pemandangan ini membuat siapa saja yang lewat didepan kami mau tak mau berhenti.  Ada yang sekedar melihat tapi ada juga yang ingin diajari membuat ketupat. Saat itulah tiba-tiba ada salah satu tetangga, sebut saja Bu A, berkata begini:

“Ketupat itu bukan ajaran Islam. Di Arab gak ada orang bikin ketupat. Cuma di Jawa aja yang bikin ketupat. Lihat saja di Papua gak ada yang bikin ketupat” dengan nada agak-agak sinis begitu.

Tak mau ketinggalan, tetangga lainpun menjawab “Siapa bilang, di Sumatera ada yang bikin ketupat”

Saya yang secara langsung mendengar perdebatan ini tak mau menambah ucapan. Cukup saja mendengarnya walau dalam hati sebetulnya ingin meluruskan. Tapi buat apalah, wong saya sendiri bukan orang lurus. Dan lagi usia saya jauh dibawah mereka.

Sebenarnya sah-sah aja bila Bu A mengatakan demikian. Kenyataannya memang Islam tak menganjurkan untuk membuat ketupat saat lebaran. Begitu juga Nabi SAW tak pernah menyuruh umatnya membuat ketupat. Pun di Arab tak ada tradisi membuat ketupat. Tradisi Ketupat (setau saya) hanya ada di Pulau Jawa. Kalau penduduk luar Jawa ada yang membuat ketupat mungkin mereka orang Jawa yang pindah ke luar Jawa Atau mereka memiliki darah Jawa. Kalaupun kedua alasan itu tak masuk hitungan, tak ada salahnya juga mereka membuat ketupat.

Bila ditelisik lebih jauh Masyarakat Jawa memiliki banyak sekali tradisi/upacara yang berseberangan dengan ajaran Islam. Salah satunya tradisi membuat ketupat. Bila kita melihat sejarah masuknya agama Islam di Pulau Jawa kekayaan tradisi tersebut dibawa oleh para ulama waktu itu sebagai alat penyebaran agama Islam di Pulau Jawa, salah satunya satu dari 9 Wali yakni, Sunan Kalijogo.

Menurut sejarah, Sunan Kalijogo memiliki cara berbeda dalam menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Mengingat pada waktu itu banyak masyarakat Jawa yang masih percaya akan hal-hal mistis. Lihat saja berapa banyak ‘alat’ yang digunakanSunan Kalijogo dalam mempengaruhi masyarakat Jawa ketika itu dan masih digunakan hingga sekarang. Sebut saja Wayang kulit, Gamelan, Lagu Lir-ilir, gundul-gundul pacul yang liriknya memiliki makna sangat dalam terhadap nilai-nilai kehidupan.

Begitu pula dengan penggunaan istilah, sejak dulu hingga sekarang banyak istilah-istilah Jawa yang diambil dari potongan-potongan bahasa Jawa yang kemudian dipakai hingga sekarang. Misalnya: Kupat Santen yang dipanjangkan menjadi Kulo lepat nyuwun ngapunten. Yang artinya kurang lebih begini, Saya salah minta maaf. Umumnya kupat atau ketupat dihidangkan dengan sayur berkuah menggunakan santen, seperti di Surabaya sayur ketupat menggunakan manisa (labu siam) yang dimasak sambal goreng dengan kuah santan.

Tradisi di Jawa ketupat disandingkan bersama lepet/lepat, sejenis makanan dari ketan yang dibungkus dengan janur dengan 3 tali dibadannya. Dengan lepat ini diharapkan dosa-dosa kita terampuni. Seperti arti kata lepet/lepat sendiri yang berarti salah.

Barangkali tradisi-tradisi seperti itu tak hanya ada di Pulau Jawa. Di pulau-pulau lain diluar Jawa saya yakin juga memiliki tradisi khas di masing-masing daerah yang memiliki cara tersendiri dalam mengaplikasikannya. Kekayaan tradisi-tradisi tersebut seyogyanya tak digunakan sebagai ajang perdebatan. Lebih indah bila kita menghormati kepercayaan masing-masing sehingga suasana kehidupan dalam berbangsa menjadi selaras dan harmonis. Karena tradisi-tradisi yang masih dijalani tersebut pada intinya mengajarkan kita semua akan arti kebersamaan dan silaturrahmi.

Puasa, makan keres

Alhamdulillah tahun ini saya masih diberi Allah SWT umur panjang sehingga bisa bertemu kembali dengan bulan Ramadhan. Seperti tahun-tahun sebelumnya saya menjalani hari-hari puasa di kota Surabaya yang saat ini kondisi cuacanya suka meriang, kadang panas, kadang mendung, dan kadang-kadang tanpa ditebak tiba-tiba hujan.

Setiap datang bulan Ramadhan, pengalaman yang tak bisa saya lupakan adalah makan buah keres (kersen) pada pagi hari dibulan puasa. Walaupun itu sudah berlangsung berpuluh tahun yang lalu tapi rasa bersalahnya masih terasa sampai sekarang.

Ceritanya begini, dulu saat masih SD, saya dan teman-teman bersemangat merayakan euforia Ramadhan. Sehingga selesai sahur saya tidak kembali tidur tetapi menunggu sholat Shubuh dulu kemudian main bareng teman-teman. Entah jalan-jalan, bersepeda atau duduk-duduk di atas pipa di bawah kebun keres milik Perusahaan Air Minum. Kebetulan rumah saya berada di belakang komplek Penjernihan, disana ada banyak pipa-pipa mulai berukuran kecil hingga raksasa. Diantara pipa-pipa itu tumbuh pepohonan keres yang buahnya merah merekah. Meskipun bukan bulan puasa, setiap pulang sekolah atau hari libur saya dan teman-teman senang bermain disitu.

Pagi itu adalah hari pertama puasa. Setelah jalan-jalan kami duduk-duduk di atas pipa sambil ngelihatin teman-teman laki-laki yang sibuk dengan bambu panjang yang diisi karbit dan air kemudian dikasih api. Bunyi “DEBUMMM!!” yang keras, menggelegar lagi menggema membuat saya dan teman-teman lain asyik memperhatikan. Sambil sesekali menutup telinga.

Kebetulan sekali Saya melihat anak-anak bermain mercon bumbung di daerah Kenjeran
Kebetulan sekali Saya menemukan anak-anak bermain mercon bumbung di daerah Kenjeran

Ditengah keasyikan itu kepala saya mendongak keatas sambil iseng mencari buah keres yang sudah ranum. Melihat buah keres ranum itu rasanya senangnya minta ampun. Biasanya memang begitu, kalau tidak puasa, buah keres yang sudah diincar harus sesegera mungkin diambil, sebelum keduluan yang lain.

Disaat yang lain sedang asyik, saya pun mencari alternative mengambil buah itu. Saya mencoba naik ke atas pipa dan sekali raih langsung dapat buah yang merah. Tiba-tiba saja, “hap!” buah itu saya kulum. Rasanya, hmm.. nikmatnya. Manis sekali.. setelah mengulum, begitu akan membuang kulitnya saya ingat kalau hari itu sedang berpuasa. Aduh, kalau ketahuan teman-teman gimana. Seketika saya langsung salah tingkah. Padahal teman-teman saya tidak sedang melihat saya. tapi perasaan saya mengatakan ada mata yang sedang melihat ke arah saya. Dada saya deg-degan keras, rasanya galau antara batal, nggak, batal, nggak, walaupun memang kenyataannya tidak sengaja.

Akhirnya, secara diam-diam saya ambil kulit itu pke tangan kemudian saya buang. Lalu saya kembali lagi bergabung bersama teman-teman. Setelah kejadian itu, selama disana saya diam saja. gak berani ngomong apa-apa. Saya anggap kejadian tadi adalah rahasia saya sendiri, dan hanya Allah saja yang tahu.

Entahlah, kenapa pengalaman makan keres itu hingga sekarang masih terbayang terus diingatan. Mungkinkah karena saya sudah menikmatinya ya? 😀

Lontong Kupang dan Sate Kerang

IMG_20130211_154919

IMG_20130211_155037

Gambar yang pertama itu adalah penampakan sate kerang. Dan gambar dibawahnya merupakan kupang lontong.

Ada yang pernah makan? atau malah ada yang belum kenal?

Ya. Lontong Kupang merupakan makanan khas dari Jawa Timur. Biasanya cara penyajiannya diiringi juga dengan Sate Kerang.

Kupang lontong ini banyak ditemui di Surabaya, Sidoarjo dan Pasuruan.  Kalau di Surabaya paling banyak didaerah dekat Pantai Kenjeran. Tapi ada juga sih yang keliling di kampung-kampung atau mangkal di pinggir jalan, namun penjualnya tak sebanyak bakso, gado-gado dan soto. Malah dibilang sudah jarang yang lewat.

1 Porsi harganya Rp. 5.000,- kalau beli dipenjual keliling. Tapi kalau di warung yang mangkal lebih mahal dikit, Rp. 8.000,- plus beberapa tusuk sate kerang. Kalau ingin cari yang murah ya di Pantai Kenjeran seporsi malah cuma Rp. 3.000,- , tapi sate kerangnya dibeli pisah 10 tusuknya Rp. 4.000,-.

Sebelum dihidangkan, bumbu lontong kupang dan sate kerang dibuat dulu dari campuran cabe dan petis lalu diuleg. Selanjutnya lontong diiris-iris tipis kemudian disiram dengan kuah kupangnya. Kupang lontong ini nikmat dimakan saat kuah masih hangat. Rasa kuahnya yang segar bercampur rasa petis membuat makanan ini terasa manis-manis sedap dan membuat siapa saja ketagihan mencobanya lagi dan lagi.

Penasaran kan? 😀

 

Jajanan anak

Seperti halnya sifat anak-anak yang lucu, unik dan aneh, jajanan anak-anak pun juga begitu. Coba perhatikan saat melewati depan sekolah TK atau SD, disana ada berjajar penjual jajanan anak-anak yang beraneka rupa, aneh, unik tapi juga murah.

Waktu zaman SD saya dulu saya sering menemui jajanan aneh-aneh yang menurut saya unik. Seperti gulali. Gulali saat zaman saya dulu ditaruh disebuah loyang atau semacam mangkok lebar yang bentuknya sudah padat. Bila ada yang beli, si mbah penjual gulali terlebih dahulu menjewer gulali dari loyang sedikit demi sedikit lalu ditempelkan pada sebuah ujung lidi sehingga nanti ujung lidi yang lain digunakan sebagai pegangan. Nantinya jeweran-jeweran gulali itu akan berbentuk seperti gumpalan benang ruwet. Persis permen yang dikemas secara konvesional dan sederhana.

Bila dilihat cara menjewer padatan gulali itu sepertinya keras. Buktinya saat saya perhatikan ketika menjewer gulali urat-urat tangan si mbah itu keluar semua. Yang saya heran dengan si mbah penjual gulali, kenapa gulali-gulali itu harus dibiarkan padat diloyang, dan kenapa tidak dicetak satu-satu dengan lidi, jadi kalau ada yang beli tinggal kasih aja. Tapi yah itulah uniknya jajanan anak-anak.

Lain hari ada penjual gulali baru. Tapi bukan si mbah. Kali ini penjualnya lebih kreatif. Dia membawa cetakan kotak sebesar sabun mandi yang ditengahnya ada bentuk jagung, mobil, mawar, nanas dan lain sebagainya. Nah disini bila ada anak-anak yang ingin membeli gulali diperbolehkan memilih bentuk yang mereka suka. Nantinya si penjual akan mencetak gulali dengan cara menjepit gulali diantara 2 kotak sabun yang ditengah-tengahnya terdapat bentuk cetakan yang sama, sehingga hasil jadinya seperti 3D. Lucu dan bagus sekali! Misalnya saya ingin bentuk jagung. Maka si penjual akanmenaruh sejumput gulali lalu ditaruhnya ditengah-tengah 2 cetakan yang didalamnya ada bentuk jagungnya.

Cetakan Gulali modern, image dari google
Cetakan Gulali modern, image dari google

Dulu saya paling suka dengan gulali ini karena menurut saya rasa manisnya lebih enak ketimbang permen sugus. Namun sayang sekarang sudah tidak pernah lagi saya menemui penjual gulali seperti ini. Atau mungkin sayanya saja yang jarang memperhatikan jajanan anak-anak.

Tapi sekarang saya sedang tidak menceritakan gulali, saya mau menceritakan tentang jajanan aneh. Entahlah barangkali teman-teman pernah menemuinya atau tidak yang jelas jajanan ini juga saya temui ketika SD dulu dan sekarang masih ada yang jual.

Beberapa minggu lalu saat saya ke Taman Bungkul saya menemui jajanan ini. Awalnya saya menyebutnya brondong yang dikasih parutan kelapa plus dicampuri gula dan garam, walau saya sendiri tidak yakin dengan bentuknya yang lebih kecil dari brondong jagung.

Ketika itu mbak Sandy, mamanya Bella, tanya kesaya itu makanan apa? Saya bilang itu makanan seperti brondong tapi rasanya enak banget. Saya bisa nyebut enak karena waktu SD dulu saya suka beli makanan ini. Untuk menjawab penasarannya mbak Sandy saya mencoba membelinya sambil bernostalgia.

Sambil si Ibu memarut kelapa saya tanya apa benar makanan ini dari jagung. Si Ibu bilang bahwa makanan itu bukan brondong jagung tapi orean. Orean? Makanan apa itu?

Kata si Ibu orang di desanya (dari Lamongan) menyebutnya Orean, tapi orang Madura menyebutnya bulir. Katanya bentuk aslinya lebih kecil dari jagung. Sewaktu saya tanya apakah seperti kedelai, si Ibu bilang masih lebih kecil dari kedelai.

Jajanan ini bentuk jadinya seperti popcorn mini. Popocorn imut lah pokoknya. Kueciil sekali. Orean mentah itu diproses sehingga berubah bentuk menjadi popocorn imut. Ibu itu sih tidak menjelaskan secara rinci cara prosesnya dia cuma bilang ada alat khusus untuk membuatnya menjadi seperti popcorn. Kalau menurut saya sih dioven soalnya gak ada bekas minyak disana.

Sebelum dicampur kelapa, orean itu rasanya hambar tapi ada manisnya dikit. Makanya supaya lebih nikmat dicampurlah kelapa parut lalu ditambahlah gula dan garam. Kenapa harus dicampur kelapa? Iya supaya orean agak basah dan gula garamnya bisa nempel. Dan rasanya? Hmm.. enak, gurih kelapa, dan manis-manis asin. Tapi kalau sedang lapar tidak saya sarankan jajan yang beginian soalnya percuma, biar habis berbungkus-bungkus pun perut nggak akan bisa kenyang. Yang ada malah melembung hihi..

Dari wawancara saya dengan si Ibu, dia bilang bahwa orean ini pohonnya lebih mirip jagung namun buahnya ada diatas. Dan panennya setiap bulan 7. Dari hasil panen itu oleh si Ibu ditimbun sebagai stok untuk persediaan sampai panen berikutnya.

Malah kata si Ibu para petani orean di kampungnya pernah diliput oleh stasiun TV swasta lho! Sayangnya saya tidak menemukan bentuk mentah orean atau bulir di mbah google..

Kalau bentuk matangnya seperti ini:

Bentuk matangnya seperti itu, nanti kalau ada yang beli dikasih parutan kelapa lalu ditaburi garam dan gula
Bentuk matangnya seperti itu, nanti kalau ada yang beli dikasih parutan kelapa lalu ditaburi garam dan gula
Orean yang sudah dicampur kelapa parut, dimasukkan ke dalam kantong plastik. Harganya murah meriah aja mau beli 1000 juga boleh :D
Orean yang sudah dicampur kelapa parut, dimasukkan ke dalam kantong plastik. Harganya murah meriah aja mau beli 1000 juga boleh 😀

 

Go Top