Tentang AKBP Takdir Mattanete, Kasat Reskrim Surabaya dan sosok Polisi Wangi

Tentang AKBP Takdir Mattanete, Kasat Reskrim Surabaya dan sosok Polisi Wangi

Siapa AKBP Takdir Mattanete? Semua orang pasti sepakat menjawab, Kasatreskrim Surabaya!
Ya ya ya sosok Polisi satu ini memang sedang jadi perbincangan hangat warga Surabaya, terutama yang sehari-harinya rajin mantengin berita kriminal. Meski sehari-harinya hidup di lingkaran beraura ‘kejahatan’, namun sosok ‘Polisi Wangi’ ini selalu menjadi bual-bualan manis para fansnya di dunia maya.

Tentang AKBP Takdir Mattanete, Kasat Reskrim Surabaya dan sosok Polisi Wangi. Polisi Wangi? siapa dia?

Takdir Mattanete, Kasat Reskrim Surabaya

Polisi Wangi adalah sebutan saya untuk Bang Takdir Mattanete. Maaf sedang songong manggil beliau Bang. Kita akrab-akraban dikit napa, Bang.. jangan sadis gitulah ama saya *kemudian dijitak duren*

Pada jam 1 dini hari, ketika saya kena ‘sandera’ 5 Jam bersama Polisi, sosok Polisi berkuncir ini berada di dekat saya. Saat itu saya adalah orang cuek yang gak ngerti dunia kepolisian dan gak penting ngapalin nama dan wajah pejabat Polisi. Yang saya ingat waktu itu hanyalah aroma wangi sabun GIV yang membaur diantara gelas-gelas es teh dan piring gorengan, tepat ketika sekelompok orang datang mengelilingi saya, satu diantaranya Bang Takdir. Iya, saya di sandera! Satu kata, kasian! 😀

“Siapa sih yang habis mandi malam-malam begini, baunya GIV banget!” batin saya. Sejak itu saya menyebut beliau Polisi Wangi, dan entah mengapa sebutan itu langsung menyebar di telinga Emak-emak Blogger haha.. *viral banget yak*

Sayangnya kita ((KITA)) gak bisa langsung berteman di Facebook. Beneran deh, fans beliau buanyaaak banget. Slotnya udah pas 5000. Saya gak dikasih geser kursi satu pun! Pertemanan saya di tolak mentah-mentah 😀

“Saya bingung, Facebook saya udah full 5000, gak bisa lagi nambah teman” curhat Bang Takdir saat bersiap melakukan pengamanan malam Taun Baru.
“Bapak bikin FP laah, fansnya banyak gitu. Kan lumayan dapat duit kalau ada yang endorse sepatu booth” *jawaban koplak*
“Selain FP, gimana caranya?”
“Bikin akun FB Takdir 2!”

Jangan kalah ama Tersanjung 7! 😀

Hingga pada suatu siang kami janjian kopdar di gedung Reskrim Polrestabes Surabaya, tempat lelaki kelahiran Makassar ini berdinas. Saya datang bersama Mas Rinaldy, Chandra, dan Dito. Sambil menunggu kami di tanya oleh seorang Ibu, “mau lapor kasus apa?”

Saya baru ngerti kalau datang ke Polisi bagian kriminal, harus punya masalah kejahatan. Dan jawaban kami, “Nggak ada kasus, kami mau ketemu sama Pak Takdir”

Ditanya lagi, “Kasusnya apa?”

Belum sempat jawab, lalu sebuah siulan menghampiri kami. “Suiiuuiiiiiittt!”vokal i yang belakang panjang dan bernada. Khas siulan memanggil sahabat.. kalau manggil cewek siulannya beda lagi, gini “Suit.. suiiiiittt…” vokal i nya panjang dan datar, terdengar menggoda. *Malah bahas nada siulan* 😀

Spontan kami noleh ke arah suara. Tak terkecuali petugas yang ada disana, ikut menoleh juga. Sambil bengong. Haha..

“Hi, come on!” Tangan dan kepalanya digoyang sekali tanda ajakan masuk. Duh, Baaang.. ini kantor Polisi apa apasih, kok gak ada serem-seremnyaa.. dan gaya sampean, gaul bangeeeet.. 😀

Kantor Bang Takdir itu berada di lantai 3, kalau lampu mati resikonya harus naik tangga manual. Liftnya mati, Kaka.. Seperti yang saya lakukan hari itu. Ruangannya terdiri dari 2 sekat. Sekat 1 khusus meja kerja, ruang lainnya buat terima tamu.

Berada di dalam ruangan yang adem itu, saya seperti sedang berada di ……. “Saya suka nonton drama Turki, yang itu lhoo.. Kaisar siapa namanya, lupa..”.. “Kekaisaran Ottoman?”.. “Naaah, iyaaa.. makanya dinding ruangan ini saya tempeli wallpaper yang mirip seperti di drama Abad Kejayaan”

Apa ini!???!
Takdir Mattanete, Kasat Reskrim Surabaya, yang tiap hari nangani kriminal ternyata suka nonton drama!

Perhatikan wallpapernya ^^
Perhatikan wallpapernya ^^

Saya terperangah mendengar kejujurannya, bahwa dibalik seorang Takdir Mattente, Kasatreskrim yang penampilannya gaul itu, ternyata suka nonton drama berseri! Daaaan, rupanya rambut gondrong yang sekarang di pelihara, inspirasinya dari Meteor Garden, drama jadul jaman anak 90-an masih asik mainan patil lele 😀

“Selain drama Turki saya juga suka nonton drama India, Akbar siapa dulu itu..”… “Jodha Akbar?”
“Hahaha.. iya iya.. Jodha Akbar”
“Sukanya kenapa, Pak?”
“Saya suka lihat adegan Ratu Jodha marahan sama raja Jalal. Manja-manja gimanaa.. trus Raja Jalal juga sosok raja yang berani, tegas juga berwibawa”
“Dan gondrong, Pak!” haha..

Penampilan berbeda
Penampilan berbeda

Selama ngobrol dengan lulusan SMA Negeri Langnga – Pinrang, kami seperti sudah akrab aja. Padahal ketemu tidak tentu sebulan sekali, tapi cara Bang Takdir memperlakukan kami, sebagai teman barunya, seolah sudah kenal lama.

Ketika saya tanya, kenapa mau jadi Polisi, bukankah di luar sana banyak profesi yang lebih menggiurkan selain Polisi. Jawaban Bang Takdir jauh dari prasangka saya. Ternyata daftar menjadi anggota Polisi alasanya sepele, supaya gak nganggur di rumah! Jadi ceritanya, masa muda dulu Bang Takdir pernah daftar UMPTN. Orang tua taunya anak lelakinya daftar UMPTN, tapi rupanya takdir membawa Takdir Mattanete masuk menjadi anggota Kepolisian.

Dalam keluarga besarnya, anak ke 5 dari 6 bersaudara ini tak ada satupun yang menjadi Polisi, kecuali Kakeknya. Di usia anak-anak, Takdir tinggal bersama Ibundanya, Haji Hasma. Ayahnya, Abdul Latif wafat ketika Takdir berusia sekitar 5 tahunan. Untuk membantu keluarga, Takdir hidup seperti anak-anak kampung di desanya, Desa Labolong, Mattiro Sompe, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, bekerja di sawah dan jualan es lilin.

Sebagai anak desa, Takdir tumbuh menjadi pribadi yang humanis, mudah bergaul dan grapyak pada semua orang. Seperti yang kita lihat sekarang, Takdir dikenal sebagai sosok rendah hati dan dekat kepada siapa saja. Di kalangan media, lelaki perwira berpundak Melati Dua ini akrab dipanggil dengan sebutan, Nette Boy.

Menyinggung kiprahnya di korps baju coklat, saya bertanya mengapa suka dengan kriminal. Bukankah kriminal resikonya besar. Dibenci keluarga korban, dibenci pelaku, bahkan beresiko punya musuh. Meski daftar di Polisi awalnya tak berniat serius, namun lagi-lagi takdir membawa Bang Takdir harus terlibat di ranah kriminal. Padahal sejujurnya, Takdir menginginkan menjadi Polisi Lalu Lintas. “Saya sebenarnya ingin jadi Polantas, Mbak. Tapi fisik ini lho, yang menjadikan saya Serse haha.. Badan saya kurang tinggi untuk jadi Polantas, Mbak”

Banyak pengalaman menarik yang dialami Takdir Mattanete selama menjadi Reskrim. Satu diantaranya adalah dibayang-bayangi pelaku tembak mati. Sampai 3 hari Takdir tak bisa tidur teringat wajah pelaku. Dalam jiwa Takdir sejatinya menolak untuk menembak mati, rasa kasihan kepada orang lain lebih besar dibanding harus menembak penjahat. Namun penjahat bisa nekat melakukan apa saja. Kenekatan penjahat bisa berlaku sangat sadis.

“Kasihan itu kasihan, Mbak.. tapi saya juga harus berani menghilangkan rasa kasihan saya, sebab pelaku ini kalau dibiarkan sangat sadis. Dia bisa membunuh orang dengan tega, apalagi kalau melihat wajahnya yang minta ampun dengan melas. Saya gak bisa melihat wajah melas, Mbak. Giliran mereka dilepas, mereka akan tega menghilangkan nyawa orang lain”

Dalam perjalanan memberantas kejahatan, Takdir pun pernah mendapat kiriman ancaman. Namun Takdir memahami bahwa sebagai Polisi Kriminal, ujian pasti ada. Menanggapi ancaman seperti itu, Takdir berusaha untuk memahami maksud kiriman ancaman tersebut. Takut sih takut, tapi lebih kepada sikap dan waspada.

Berbincang Tentang AKBP Takdir Mattanete, Kasat Reskrim Surabaya dan sosok Polisi Wangi bisa lupa waktu kalau kita nggak sadar diri. Ini hari kerja, dan jam kerja, Broo.. kalau diajak ngobrol terus kapan makan durennyaa.. Ehm, maksud saya kapan kerjanya.. 😀

Kesibukan Bang Takdir di kantor terasa banget beratnya. Di sela-sela ngobrol dengan kami, beliau berusaha menyempatkan diri membalas pesan masuk dan dering telepon dari HP merk lawas Nokia jenis Communicater. Sebagai Kasatreskrim, Bang Takdir adalah sosok pengabdi yang loyal. Seperti lagunya Armada, Pergi pagi, Pulang pagi, kecuali akhir pekan, beliau akan menghabiskan waktu khusus untuk keluarga. Tentu saja bercengkerama dengan putra-putrinya yang manis.

Reskrim Polrestabes Surabaya
Reskrim Polrestabes Surabaya

Menutup obrolan siang itu, saya sempat minta pendapat beliau terhadap kasus Jessica Sianida. Di mata reskrim, apa kesulitan yang sedang dihadapi Kepolisian. Dan jawaban yang saya terima cukup diplomatis, setelah diam beberapa saat, Bang Takdir menjawab kalem dan terdengar makjleb, “Kasus Jessica itu permainan otak” sambil telunjuknya diarahkan ke kapala. “Ibaratnya gini, ini ada orang mati, ada racun yang menyebabkan si orang mati. Siapa yang membunuh? Ini yang butuh kejelian. Kasus seperti ini lebih sulit dipecahkan ketimbang kasus pencurian. Bukti nggak kuat, pelaku bisa bebas pidana”

Curahan Hati Netizen kepada Kapolda Jatim

Curahan Hati Netizen kepada Kapolda Jatim di Tulungagung kemarin berlangsung sukses. Mereka menyampaikan kendala di daerah secara apa adanya. Bapak Kapolda saat itu didampingi oleh Kabid Humas, Kombespol Argo Yuwono serta Kapolres Tulungagung dan Kapolres Trenggalek, serta pejabat Polda beserta jajarannya.

IMG_20160304_215052

“Pak, pembuatan SIM di daerah saya sulit banget. Kenapa, Ya Pak?”

Pertanyaan itu terlontar dari Netizen Tulungagung saat acara Cangkruk Netizen bersama Polda Jatim, 4 Maret 2016 di Crown Victori Hotel, Tulungagung.

IMG_20160304_212924

“Pendaftaran SIM memang sengaja di persulit supaya pengendara benar-benar memahami fungsi rambu lalu lintas” jawab Bapak Irjen Pol Anton Setiadji, Kapolda Jawa Timur.

Urusan SIM sejak dulu hingga sekarang memang jadi satu-satunya momok bagi pengendara kendaraan bermotor. Kartu identitas khusus pengendara ini begitu susah sekali didapat. Saking susahnya, banyak Calo-calo SIM berkeliaran di kantor Samsat dengan harga yang begitu selangit. Bahkan bisa 2 – 3 kali lipat dari harga normal. Tak salah bila kemudian banyak masyarakat yang memanfaatkan calo SIM untuk meloloskan penerbitan SIM.

2016-03-08_10-48-51

Baca Juga SIM C harga 400 ribu

“Kalau pembuatan SIM dipermudah, banyak kecelakaan lalu lintas. Kalau banyak korban kecelakaan, Polisi juga nanti yang disalahkan. Yang paling utama ketika akan membuat SIM adalah memahami kesadaran berlalu lintas”

Hmm.. yang disampaikan oleh Pak Anton masuk akal juga. Tujuan mempersulit SIM sebenarnya agar masyarakat memahami betul peraturan lalu lintas. Jangankan dipermudah, sudah dipersulit saja, tiap hari hampir-hampir terjadi kecelakaan lalu lintas. Ini terjadi karena masih banyak pengendara yang tidak paham benar fungsi rambu-rambu lalu lintas seperti garis markah, garis batas berhenti, tanda lampu kuning menyala, belok kiri langsung, dan belok kiri mengikuti lampu. Dan masih banyak lagi.. Tapi masalahnya, akibat persulit ini banyak masyarakat yang memanfaatkan jasa calo yang kemudian merugikan dirinya sendiri.

“Fungsi Polisi adalah penegakan hukum. Penegakan hukum seringkali memicu kebencian terhadap Polisi” ujar mantan Kapolres Ngawi dan Kapolres Banyuwangi.

Cangkruk Netizen bersama Kapolda Jatim malam itu dihadiri blogger dan penggiat social media dari berbagai kota di Jawa Timur. Antara lain Tulungagung, Blitar, Malang, Bojonegoro, Surabaya, Bangkalan, Sidoarjo, Sampang, Pamekasan, Sumenep. Tujuan acara cangkruk’an ini adalah mengenal lebih dekat antara masyarakat dengan korp baju coklat. Selama acara cangkruk’an, masyarakat dipersilakan bertanya kepada Bapak Kapolda beserta jajarannya tentang apa saja. Dengan suasana santai ditemani botol air mineral serta gorengan, acara berlangsung sederhana dan gayeng tanpa protokoler. Santai, seperti sedang ngobrol bersama sahabat.

IMG_20160304_212959

Oya, ngomong-ngomong operasi lalu lintas, Bapak Kapolda Jatim malam itu memberikan tips yang sangat berguna bagi pengendara. Yaitu tips agar tidak kena tilang Polisi. Tips ini penting lho, dan pesan Pak Kapolda, jangan bilang-bilang Polisi..

Tips agar tidak kena tilang Polisi:
(Pssstt.. jangan bilang-bilang Polisi, ya. Janji? :D)

1. Ketika dijalan tidak bawa SIM dan STNK, jangan pasang muka takut di hadapan Polisi. Apalagi muka grogi. Lempeng aja, kayak biasanya. Kayak gak merasa bersalah. Kalau grogi justru Pak Polisinya curiga. Biasa aja.. 😀
2. Begitu ketauan gak bawa SIM, buru-buru minta maaf sama Polisi. Jangan ngeyel, lebih baik mengaku salah aja. Kalau ngeyel, Pak Polisinya malah ngeluarin surat tilang, dianggapnya kita gak mau nerima kesalahan. Orang lupa manusiawi, kok. Kalau Polisinya manusawi, mereka pasti memaafkan.. bukan begitu Pak Polisi?
Kalau masih tetap kena tilang, ya nasib.. hehe..
3. Selama di jalan banyak-banyak berdoa, semoga gak ada operasi Polisi. Bilapun ketemu Polisi, semoga Polisinya baik dan manusiawi, gak gampang ngeluarin surat tilang. Lak ngono se, Rek? 😀

Banyak sekali pertanyaan dan curhatan yang disampaikan netizen kepada Bapak Kapolda Jatim, Irjen Pol Anton Setiadji. Seperti bagaimana menghadapi pemberitaan di media yang cenderung ambigu dan memancing kesalahan pihak-pihak tertentu. Seperti yang selama ini terjadi di socialmedia, hal-hal ambigu seringkali memicu viral. Sebar sana, sebar sini, tanpa mencari tau dulu kebenarannya.

Pesan Bapak Kapolda:
Mari cermati hal-hal positif dan negatif lalu konfirmasikan dengan pihak terkait

IMG_20160304_231618

Curahan Hati Netizen kepada Kapolda Jatim di Tulungagung kemarin seakan menjadi pemuas dahaga masyarakat yang selama ini takut menghadapi Polisi. Canda-canda Pak Kapolda di hadapan netizen mencairkan suasana yang awalnya terasa mencekam. Di tengah-tengah obrolan, netizen dari Tulungagung sempat memberikan hadiah berupa 2 buah buku sebagai kenang-kenangan untuk Bapak Kapolda Jatim.

IMG_20160304_231505

Begitupula Netizen juga mendapat kenang-kenangan berupa kaos Netizen Polda Jatim yang diserahkan oleh Kapolres Trenggalek dan Kapolres Tulungagung.

IMG_20160304_232754
Kapolres Trenggalek, AKBP Made Agus Prasetya, menyerahkan kaos kepada perwakilan Netizen Malang

IMG_20160304_231417
Kapolres Tulungagung menyerahkan kaos kepada Netizen Tulungagung

Hingga hampir tengah malam, ngobrol bersama Bapak Kapolda di tutup dengan sesi foto bersama. Meski sudah foto bersama, masih ada rekan-rekan yang meminta selfie bersama Bapak. Untung Bapaknya baik, mau selfie, mau ingin lanjut ngobrol-ngobrol pun hayuuuk.. 😀

IMG_20160304_232609

Kombes Pol RP Argo Yuwono, Terkejut dinas di pulau Jawa

Saat aktif organisasi Kepemudaan di kampung, saya pernah berpikir bahwa menjabat sebagai Hubungan Masyarakat (Humas) itu menyenangkan. Seorang Humas seringnya berinteraksi dengan orang banyak, walaupun kadangkala dipusingkan urusan dan tetek bengek yang berhubungan dengan khalayak ramai. Begitupula yang terjadi pada Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono saat 6 bulan lalu di lantik menggantikan Kombes Pol Awi Setiyono.

Dugaan saya keliru, menjadi Humas tidaklah semudah gambaran saya.

Ketika bertemu beliau di sela acara koordinasi pengamanan momen pergantian tahun bersama Kapolda beserta jajarannya di hadapan jurnalis media, saya mencuri waktu untuk mendengarkan kisah Bapak 2 anak yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Tahanan dan Barang Bukti Polda Kalimanta Timur. “Saya ada disini karena saya adalah ‘corong’nya Kapolda. Apapun yang di sampaikan oleh Bapak Kapolda saya harus tau” jawaban sederhana tapi membuat saya berpikir ulang. “Oh, jadi tugas Humas Polda, begitu, ya..”

Argo Yuwono

Di tengah derai tawa yang hingar, saya ‘mojok’ berdua, eh ber-beberapa orang, ding, tepatnya ber lima *bahasanya mbulet* 😀 di Pasar Rakyat Singgasana Hotel, saya tertarik mendengarkan paparan sepak terjang beliau selama menjabat sebagai Kabid Humas Kepolisian di wilayah Jawa Timur.

Di temani sepiring ketela goreng dan segelas air putih, Pak Argo berkisah tak menyangka bakal dipindah tugaskan di pulau Jawa. Bahkan kertas Surat Tugas yang menyatakan kepindahan ke pulau Jawa di usek-usek sampai ludes untuk memastikan kebenarannya. “Seperti mimpi saja! Sampai sekarang pun saya masih tidak percaya bahwa saya ternyata di amanati tugas di pulau Jawa!”

Kebahagiaan tak terduga yang jatuh kepadanya lantaran selama 24 tahun menjadi anggota Kepolisian selalu mendapat tugas di daerah pelosok Nusantara dengan kondisi alam yang berat dan infrastruktur belum memadai. Meski memiliki latar belakang pengalaman Serse, namun beliau menerima dengan senang hati jabatan barunya menjadi Kabid Humas. Menurutnya, menjadi Humas Kepolisan adalah pengalaman baru. Untuk lebih memahami bidang barunya, Pak Argo tak segan membeli buku dan bertanya kepada rekan yang telah berpengalaman di bidangnya.

Trik ke-Humasan yang selama ini di jalani lelaki penyuka buku – buku Filsafat dan Budaya agar mandat Kabid Humas berjalan baik adalah sering belajar ngomong sendiri di depan kamera video. Trik ini dilakukan agar tidak demam panggung saat berhadapan langsung dengan kamera dan jurnalis. Begitpula saat menghadapi pertanyaan wartawan yang bertubi – tubi, Pak Argo tidak mau gegabah dengan menjawab semua pertanyaan.

“Saya harus fokus, Mbak. Pertanyaan wartawan harus saya jawab satu persatu. Kalau ada wartawan yang tanyanya barengan, tidak akan saya ladeni. Soalnya saya takut salah memberi statement. Lha wong kadang – kadang pertanyaan mereka memancing opini, lho..!” ujarnya dengan logat Jawa kental.

Agar tidak salah menyampaikan, Pak Argo yang asli orang Yogjakarta, kerap merekam statement yang disampaikan oleh Kapolda. Agar lebih memahami kasus yang terjadi, beliau tak segan terjun langsung ke lapangan. Hal ini di lakukan agar Ia paham benar kejadian sebenarnya. Hasilnya, selama 6 bulan bertugas menjadi Kabid Humas, 30 kota di Jawa Timur sudah pernah beliau datangi.

Kebiasaan turun lapangan Ia lakoni sejak bertugas di NTT. Karena tidak ada aliran air, listrik, dan saluran telepon, saat malam hari, Pak Argo sering mengunjungi rumah masyarakat. “Saya ingin mendengar keluhan di masyarakat langsung. Walaupun tidak bisa membantu banyak, namun berada di tengah – tengah masyarakat adalah kegiatan menyenangkan”.

Beliau berkisah tentang pengalaman paling berkesan saat pertama kali menjabat sebagai Kasatserse di wilayah NTT. Pada tahun 1993, beliau harus mengantarkan Surat Panggilan kepada seseorang. Tugas yang tidak lumrah untuk seorang Kasat. Namun kendala jarak dan kondisi medan, bersama tim, beliau turun sendiri mencari alamat yang di tuju. Untuk menuju kesana tim kepolisian harus naik mobil selama 2 jam, naik motor selama 1 jam, ditambah lagi jalan kaki 2 jam. “Waktu itu saya bawa bekal makan sendiri. Untuk minumnya ambil langsung dari air pancuran. Di sana cari air sulit, mbak. Musim kemarau disana lebih lama ketimbang musim hujan”, paparnya.

“Itu masih berangkatnya, belum pulangnya. Sudah sampai disana, orangnya belum tentu datang memenuhi panggilan..” ujarnya. “Kalau gak datang, terpaksa harus jalan kesana lagi…!” Katanya sambil geleng – geleng dan tertawa.

Argo Yuwono1

Kenangan yang tak bisa dilupakan selama tugas di NTT adalah kebiasaan masyarakat setempat yang minta di kasih uang 100 rupiah merah. saat memanggil seseorang, masyarakat setempat harus di kasih uang 100 rupiah merah.

“Pokoknya mau uang yang 100 merah! Kalau gak merah, gak mau datang! Di kasih uang 500, gak mau. Di kasih uang 1000 gak mau. Harus yang 100 merah! Konon uang 100 merah digunakan buat nginang”.

Selain bertindak sebagai Kabid Humas Polda, saat ini beliau juga sedang mengelola beberapa website Kepolisian. Agar tidak ketinggalan informasi, Pak Argo juga selalu mengikuti kemana Pak Anton pergi. “Acara Informal pun, saya harus ada supaya kalau di tanya bisa menjawab. Tugas saya, kan, melengkapi statement Kapolda” tutup Pak Argo yang berniat melanjutkan pendidikan S3 jurusan Psikologi.

Begitulah kesimpulan obrolan saya dengan Bapak Polisi yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Kasatserse dan Kapolres. Dalam catatan saya kisah yang di bagikan sebenarnya masih panjang, Spoilernya adalah cerita saat tugas di Nunukan – Kaltim, daerah perbatasan Malaysia dimana masyarakatnya memiliki jiwa Nasionalisme tinggi yang merayakan Hari Kemerdekaan selama sebulan penuh. Walau Infrastruktur masih jauh dari sempurna namun daerah ini memiliki Beras Adan, yaitu Beras Organik khas Krayan yang rasanya pulen. Konon Kesultanan Brunei menyukai beras Krayan.

Semoga tulisan yang berupa kesimpulan ini (kesimpulan kok panjang :D) bisa menginspirasi kita semua. Dibaca ampe habis, lho yaa.. hihi..

Kombes Pol Yan Fitri Halimansyah: Jadi Polisi karena takut Polisi

“Saya sebenarnya takut, lho, Mbak, sama Polisi. Saat SD kelas 1 saya pernah di tangkap Polisi!”

Kadang-kadang sebuah impian tidak selalu berjalan sesuai cita-cita. Seperti pepatah bilang, manusia boleh berencana, tetapi Tuhan lah yang menentukan. Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Yan Fitri Halimansyah mengalami sendiri bagaimana cita-citanya menjadi seorang Camat kandas di tengah jalan.

Hmm.. jadi Camat?
Beloknya jauh bener, Pak..
Dari Camat ke Polisi? hehe

Usai meresmikan Festival Batu Akik di depan Kantor Kapolrestabes jalan Sikatan Surabaya, tanggal 23 kemarin, saya mengambil kesempatan berbincang dengan beliau di ruangan kantornya. Mumpung berhadapa, sayang kalau tidak dimanfaatkan. Dan apa yang saya lakukan? Yes, ngepoin sepak terjang beliau selama karir di Kepolisian! 😀

Malam itu di kantor Pak Yan Fitri tampak ramai. Selain saya, ada beberapa perwakilan Bonek Surabaya yang juga bertamu di kantor Bapak kelahiran Tanjung Pinang yang akrab di panggil Meneer. Ada juga istri Meneer Yan dan keluarga yang baru datang dari Jakarta.

Pak Yan1

Di sela-sela menikmati makan malam, Meneer Yan bercerita ketakutan pertamanya terhadap korps berseragam coklat. “Namanya Pak Zakaria. Saya ingat betul nama beliau. Saat itu saya di tangkap sama Abang saya karena melanggar lalu lintas. Dan baru tau setelah jadi Polisi bahwa Pak Zakaria saat itu pangkatnya Kopral.”

Ketakutannya terhadap Polisi malah membawa masa kecil Meneer Yan akrab dengan Kepolisian. Tanpa di duga Kakak Meneer Yan menikah dengan Polisi dan Meneer Yan dibawa tinggal di asrama Polisi. Mau tak mau, Meneer Yan harus berada di lingkungan Polisi. Di akhir sekolah SMA, Meneer Yan mendaftarkan diri jadi Taruna Akpol.

“Daftarnya niat apa iseng-iseng, Pak?” tanya saya kepo hihi..

“Serius, sih daftarnya. Tidak iseng tapi juga tidak niat. Pokoknya takut, aja haha..” kelakar Meneer Yan. “Gimana nggak takut, mbak, lha wong lari aja di tungguin, jadi ya pasraah aja. Lama-lama, ketakutan itu jadi pasrah dan keinginan. Tapi banyak takutnya..”

Pelajaran dari seorang Meneer Yan, bahwa sebuah ketakutan harus di lawan dengan keseriusan. Jangan mikir rejeki, karena rejeki sudah ada yang ngatur.

Setelah lulus dari Taruna Akpol, Meneer Yan mendapat tugas melanjutkan ke Sekolah Penerbang Angkatan Udara selama 2 tahun. Disanalah awal mula karir kepolisian itu di tempa. Di saat kabar bahagia lulus dari Sekolah Penerbang, Meneer Yan harus menerima kabar berpulangnya sang Kakak sehingga diusia muda Meneer Yan harus menghidupi 4 keponakan yatim. Untuk menambah penghasilan, sambil bertugas menjadi anggota Polisi, Meneer Yan nyambi dagang sapi bersama 4 orang teman se-liting. “Senin sampai Jumat saya dinas di Polisi, Sabtu Minggu saya kulakan sapi di Lampung” kisah Meneer.

Pak Yan

Saya: “Dengan kesibukan Bapak sebagai Kapolres Surabaya, apalagi sudah larut begini Bapak juga masih ngantor, bagaimana cara Bapak membagi waktu dengan keluarga?

“Istirahat saya memang kurang, mbak. Baru bisa tidur jam 2. Pagi-pagi sudah berangkat lagi. Kalau ada libur ingin menghabiskan waktu bersama anak-anak. Jalan-jalan dan nonton.”

Saat bercerita mengenai waktu, Meneer Yan mengajak saya masuk ke dalam kehidupan pribadinya. Meneer Yan bercerita bahwa waktu yang diberikan untuk anak kurang. Anak-anak Meneer semuanya anak rumahan dan mereka masih suka minta di masakin Mama, dan disuapin Papanya. Selama sekolah, Meneer Yan bahkan jarang ambil raport sekolah dan ikut rapat walimurid.

Saat dinas di Pondok Cabe, Meneer Yan pernah mengalami kecelakaan jatuh dari Helikopter di atas ketinggian 1500 feet untuk menghindari badai di sekitar Bogor. Akan tetapi Allah masih berkehendak menyelamatkan Meneer Yan dengan menjatuhkan heli diatas pohon nangka. Sayangnya heli masih dalam kondisi nyala sehingga terjatuh lagi di kedalaman. Di tengah memikirkan anak pertama berusia 3 bulan di dalam kandungan istri, Meneer Yan berusaha membantu rekannya dan menyelamatkan dirinya sendiri. Pukul 9 malam, Meneer Yan di temukan sopir taksi Citra lalu dibawa ke Samapta Mabes Polri Penerbang. Atas kejadian itu Meneer Yan sempat melakukan pemulihan selama 2 tahun lamanya sehingga batal melanjutkan sekolah ke Amerika yang seharusnya berangkat tanggal 7 Mei 1997, 12 hari setelah tragedi jatuhnya pesawat.

“Kalau sudah pensiun saya ingin jadi pengajar saja, Mbak. Naik motor berdua dengan istri ngajar sana, ngajar sini. Saya ingin ngajar pendidikan bela bangsa dan negara yang sekarang sudah dilupakan generasi muda.”

Saya: “Selama di Polisi, dimana tempat dinas yang paling berkesan, Pak?”

Tanpa berpikir, Meneer Yan menyebutkan, bahwa di Surabaya berkesan. Di Bekasi berkesan. Di Polda Metro, juga berkesan. Semua berkesan karena tiap tempat beda karakter dan beda masalah.

Saya: “Kalau di Surabaya, apa yang meninggalkan kesan di hati Bapak?”

“Surabaya banyak, Mbaak..

1. Berhadapan dengan suporter. Saya heran, kenapa di Surabaya ada 2 suporter olahraga? Saya berusaha adil dan mendekati keduanya mencari duduk permasalahan. Persebaya 1927 dan ISL. Saya prihatin dengan suporter. Mereka terpecah karena kepentingan orang tertentu. Saya harap minimal mereka saling menghargai. Saya tidak memihak siapa salah, siapa yang benar. Saya ingin duduk diantara dua pihak. Dan ternyata mereka punya hati.

2. Membuat Bu Risma menyanyi dan tersenyum. Bisa melawak, melucu, menggoda orang.
Saya: “Memangnya Bu Risma selama ini kenapa, Pak?”
Biasanya marah-maraah… hehe..

3. Melenyapkan begal dan geng motor di Surabaya. Surabaya tidak ada begal dan geng motor. Jangan sampai adik-adik jadi geng motor. Ada begal, saya penggal. Karena begal selalu sadis.

4. Kejahatan di Surabaya sangat tinggi. Walaupun sekarang masih saja ada motor ilang. Satu dua ilang, wajar namanya kota besar. Tapi kami berusaha selesaikan. Dibantu anak buah Kasatreskrim, Polsek-polsek, kami ingin kejahatan di Surabaya lenyap. Saya ingin Polrestabes Surabaya harus berbeda dengan Polrestabes yang lain karena cikal bakal Polisi ada di Surabaya.

Pesan saya kepada Polisi yang lain, kalian harus memiliki mental pejuang agar saat purna nanti kalian tidak menyesal. Mumpung masih berseragam, kalian masih boleh nyemprit orang, boleh menghentikan orang, boleh nangkap orang. Puaskan lah itu. Jangan sampai saat purna kalian tidak meninggalkan kesan apa-apa.

Masa yang berjalan akan habis. Oleh karena itu tangkap penjahat sebanyak-banyaknya. Jadi Polisi harus tegas. Tegas dalam artian melayani. Transparan. Jangan sampai tajamnya ke bawah, ke atasnya tumpul. Jadi Polisi harus bisa jadi teladan. Klo gak bisa memberikan teladan nanti masyarakat mencontoh siapa?”

Ada banyak PR yang harus diselesaikan Meneer Yan Fitri Halimansyah sebagai Kapolrestabes di kota Surabaya ini. Namun Meneer Yan optimis bahwa arek-arek Surabaya mudah bersahabat. Bersama jajaran Kepolisian di Surabaya, Mener Yan berharap dukungan masyarakat terhadap kepolisian. Boleh takut dengan Polisi, tapi takut yang positif. Kalau masih ada yang takut melihat Polisi, saya doakan kalian semua menjadi camat haha..

Cara ngurus balik nama kendaraan sendiri tanpa calo

Desember kemarin masa berlaku plat nomor motor saya habis dan saya berencana melakukan balik nama kendaraan. Momennya pas. Plat minta ganti, STNKnya juga mati. Kok ya ndilalahnya pas Pakde Karwo (Gubernur Jatim) sedang memberlakukan penggratisan biaya balik nama hingga bulan Februari 2015 nanti. Padahal konon ngurus balik nama butuh biaya mahal! Nah, mumpung sekarang motor saya sedang menanti proses pengurusan saya akan menceritakan bagaimana cara Balik Nama Kendaraan di Surabaya.

Di STNK motor tercatat bahwa pajak motor saya berlaku hingga 30 Desember 2014. Mulanya bingung bagaimana cara balik nama kendaraan. Apakah saya perlu meminjam KTP pemilik lama atau tidak. Saya sudah menghubungi pemilik lama, dan katanya untuk balik nama nggak usah pakai KTPnya dia, cukup pakai KTP saya aja. Karena tidak yakin saya datangi kantor SAMSAT sekalian minta penjelasan.

Tanggal 17 Desember 2014 saya datang ke Kantor Samsat Surabaya Selatan di daerah Ketintang. Samsat Ketintang ini memang menaungi Kecamatan saya tinggal (Di sesuaikan dengan alamat KTP). Dan begitu masuk parkiran SAMSAT, wuihhh buanyakk banget calo-calo berkeliaran. Setiap ada motor yang masuk ke parkiran mereka antusias menyambut.

“Mau perpanjangan motor?”
“Perlu dibantu bayarkan pajak?”
“Sini saya proseskan, gak pakai lama…”

Satu sama lain saling berebut. Tapi sambil bisik-bisik.

Dan begitu saya masuk, ada calo yang langsung tau keperluan saya apa. “Mau ganti plat, ya?”

Huhuhu… mau bohong bilang nggak jelas tidak mungkin, wong jelas-jelas plat saya bulan 12.14. Tapi kalau bilang iya, nanti dikira mau pakai jasanya dia. Dari pada dikejar-kejar saya ngaku setengah bohong, “nggaaakkk, mau mampir aja kesini” hahaha..
Maaf Pak Calo saya bohongi Anda 😀

Saran saya buat teman-teman agar tetap hati-hati bila berhadapan dengan calo. Dan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, begitu masuk Samsat segera cari meja informasi didalam kantor. Pesan saya jangan sekali-sekali tanya orang di luar kantor Samsat, baik bertanya mengenai syarat membayar pajak atau ongkos biaya pembayaran pajak sebab bukan tidak mungkin yang kita hadapi adalah calo. Tapiii jangan juga pasang wajah takut atau bingung, biar gak ngetarani kalau kita orang awam. Santai aja, seolah-olah sudah sering masuk kantor Samsat. 😛

Informasi penting, Proses Balik Nama Kendaraan di Surabaya

Begitu di meja informasi, petugas akan memberi penjelasan apa-apa saja syarat untuk pengurusan balik nama kendaraan. Seperti yang saya alami, petugas meminta BPKB dan KTP saya asli untuk dilihat di wilayah mana BPKB saya terdaftar. Ternyata setelah dijelaskan petugas BPKB saya terdaftar di Samsat Surabaya Timur karena alamat tinggal pemilik lama berada di wilayah Surabaya Timur. Sehingga sebelum diproses lebih lanjut saya harus melakukan mutasi dulu dari Samsat Surabaya Timur ke Samsat Surabaya Selatan.

Dari sinilah perjuangan dimulai…

Sebelum datang ke Samsat saya lebih dulu menyiapkan fotocopy data-data pendukung beserta map dan materai 6000 1 lembar. Sengaja saya fotocopy diluar agar tidak wira-wiri dan antri foto copy di Samsat. Irit waktu dan biaya juga soalnya foto copy di Samsat mahal hihi..

Yang perlu disiapkan untuk proses Balik Nama Kendaraan adalah: BPKP asli, KTP asli (KTP pemilik baru), STNK asli dan Kwitansi asli bermaterai 6000. Ketiga data tersebut di fotocopy sebanyak 3 kali. Saran saya fotocopynya dilebihkan buat jaga-jaga kalau ada keperluan tambahan.

Untuk kwitansinya diisi saja harga beli sepeda motor berapa. Kalau lupa harga boleh diisi sembarang yang penting harganya masuk akal hehe. Ngisi tanggal di kwitansinya disesuaikan juga dengan waktu pengurusan ya biar semua sama, walaupun belinya sudah 3 tahun kepungkur.

Segini dulu ya langkah bagaimana cara Balik Nama Kendaraan sendiri tanpa calo di Surabaya. Untuk mengetahui proses selanjutnya silakan baca postingan Proses Balik Nama Kendaraan di Surabaya dan Biaya balik nama kendaraan di Surabaya tahun 2015. Biar stepnya runut dan tulisannya gak terlalu panjang. Soalnya ngurus balik nama motor butuh waktu lama, sampai sekarang aja masih belum kelar. Dan jangan heran bila ketemu saya dijalan lalu melihat plat motor saya mati. Tetap nyapa aja dan jangan sekali-kali melakukan tilang sebab saya sudah dibekali surat sakti! Huahahahaha….. *tertawa songong*

 

SIM C harga 400 ribu

Kejadian ini saya alami tahun 2008.

Gara-gara capek kucing-kucingan sama polantas yang sering operasi dadakan di tikungan jalan di Surabaya, akhirnya suami saya menyerah membuat SIM baru lagi. SIM lamanya yang keluaran Kabupaten Magetan tidak bisa diperpanjang lagi karena KTP yang sekarang sudah berganti menjadi KTP Jakarta. Jadilah kami mudik ke Jakarta sekaligus mengantar suami membuat SIM baru.

Berbekal pengetahuan sangat minim tentang tata cara pembuatan SIM, kami berdua berangkat ke tempat pembuatan SIM di bilangan Jakarta Barat. Maklum waktu saya membuat SIM melalui calo jadi tidak tau tahapan-tahapannya. Tau-tau datang melakukan sesi foto diri, besoknya SIM sudah jadi. 

Berangkat pagi-pagi dari rumah. Oleh mertua di pesan supaya kami ngurus melalui calo. Bayar lebih mahal gak papa asal SIMnya bisa selesai hari itu juga. Dari pada ngurus jalur sendiri, meskipun biayanya lebih murah tapi hasilnya gambling. Bisa lulus, bisa tidak, kan?

Turun dari angkutan umum, kami sudah di sambut oleh teriakan calo. Awalnya mereka nawari ojek masuk kedalam kantor pembuatan SIM yang jaraknya ratusan meter, tapi ujung-ujungnya mereka nawari jasa pembuatan SIM C dengan harga Rp. 550.000.

Saya kaget dong, mahal amat… secara saya bikin di Surabaya melalui calo tarifnya hanya Rp. 275.000. Dua kali lipat dari calo Surabaya.  Eh lupa ya, ini kan Jakarta..

Rembug punya rembug, kami memutuskan masuk dulu ke dalam ruangan untuk mencari info biaya pembuatan SIM baru. Berapa, sih, bayarnya bila tanpa calo?

Setelah dihitung-hitung mulai asuransi, tes ini, tes itu total yang harus kami bayarhanya  adalah Rp. 125.000. Jelas kami ngiler.  Jika menggunakan jasa calo, selisih bayarnya 4x lebih mahal!

Setelah diskusi alot, akhirnya kami memutuskan untuk ngurus SIM sendiri tanpa melalui calo. Belajar menjadi warga yang baik. Berusaha menuruti anjuran banner yang dipasang besar-besar di area loket pendaftaran. Kami mengikuti alur tahapan mengurus SIM yang tertera ditempelan kaca. Suami saya mengikuti prosedur secara baik dan benar. Harapannya supaya SIM jadi dan meyakini diri demi membuktikan kepada semua orang bahwa membuat SIM sendiri tanpa jasa calo sebenarnya bisa!

Mulailah suami mulai melakukan pendaftaran dan tes kesehatan, yang dengan mudah dinyatakan lulus. Selanjutnya kami dihaturkan membayar asuransi. Saya sudah seneng karena asurasinya sudah kami pegang. Tinggal selanjutnya menjalani tes tulis dan tes drive.

Sayang, tes tulisnya dinyatakan tidak lulus. Padahal Suami saya yakin sudah mengerjakan semua soal dengan baik dan benar. Tapi tidak lulus? Sedangkan dia tau dan melihat sendiri peserta ujian lain yang duduk di sebelahnya tidak mengerjakan tugasnya. Pura-pura mengerjakan, padahal tidak.

Dengan seribu kekecewaan kami pulang. SIM yang digadang-gadang bisa dibawa pulang gagal total.

Konon membuat SIM sendiri tanpa calo itu bisa asal mau riwa-riwi. Menurut bocoran petugas di sana dan gosip dari teman-teman, peserta yang tidak lulus tes harus ngulang lagi 14 hari kemudian. Kalau pengulangan tes selanjutnya masih tidak lulus juga, maka harus ngulang lagi dan lagi. Setelah pengulangan tes 5 kali, baru bisa dinyatakan lulus dengan selamat. Itu kata teman-teman saya. Mungkin ada teman-teman yang ingin mencoba? 😀

Setelah gagal membuat SIM secara ‘mandiri’, beberapa bulan kemudian kami ke Jakarta lagi dan urusannya masih tetep, untuk membuat SIM. Tapi kali ini kami tidak mau coba-coba. Mau tidak mau harus melalui calo, titik. *nyerah juga akhirnya*

Kabar gembiranya, ongkos jasa calo mengalami penurunan sangat tajam, kami diminta bayar 400 rebu saja. Walaupun masih terbilang mahal!  Senangnya, kami tidak ribet urus sana-urus sini. Bayar, tunggu beberapa menit, lalu foto. Olala, SIM akhirnya jadi dengan selamat, Horee…

Iseng saya tanya ke petugas, kenapa gak pakai tes, jawabannya karena rombongan. O, begituuuu ternyataaa.. 😀

 

Go Top