Halo Polisi

Kisah Aiptu Pudji, Tim Inafis Polrestabes Surabaya saat olah TKP tragedi Bom Surabaya (2)

Pertemuan saya dengan Pak Dji yang saya upload di insta story dan grup WA yang mendapat tanggapan dari teman-teman. Mereka titip pertanyaan kepada Pak Dji dan ketika saya tanyakan langsung dijawabnya.

Baca dulu Kisah Aiptu Pudji, Tim Inafis Polrestabes Surabaya saat olah TKP tragedi Bom Surabaya (1)

Vicky: Pak, sebetulnya akun-akun yang udah dilaporin suka posting provokatif anti NKRI itu beneran dibasmi nggak, sih?

Continue reading “Kisah Aiptu Pudji, Tim Inafis Polrestabes Surabaya saat olah TKP tragedi Bom Surabaya (2)”

Halo Polisi

Kisah Tim Inafis Polrestabes Surabaya olah TKP tragedi Bom Surabaya

Tulisan ini mengandung kengerian. Mohon dilewati bagian-bagian yang tidak tahan dibaca demi kebaikan bersama. Tulisan ini dibuat dari sudut Inafis yang dibumbui curhatan Polisi. Jika ada kalimat yang tidak sepakat mohon berkomentar yang baik 🙂

“Baru kali ini saya identifikasi jenazah ditunggui Presiden!”

“….. Mungkin saking kagetnya Pak Jokowi dengar berita bom, beliau langsung berangkat ke Surabaya. Sampai lupa mengenakan sabuk!”

Continue reading “Kisah Tim Inafis Polrestabes Surabaya olah TKP tragedi Bom Surabaya”

Blogging · Halo Polisi

Hidup tak sedrama itu, Jendral!

“Hidup tak sedrama itu, Jendral!”

Kalimat itu terlontar begitu saja kemarin. Tidak sedang baper, hanya gemas aja. Bisa jadi gara-gara gemas lalu jadi baper huahaha.. Plis deh jangan baper. Gak baik kata Pak Ustad. Orang baper pengennya marah. Tiap lihat orang bawaannya mau nerkam. Apa-apa yang ada didepan semua dianggap salah. Baper gak baik buat keuangan dan berat badan, ternyata, lho.. maunya beli makanan enak trus dihabisin sendiri. Mending makan yang bener, inget kolesterol, Buk! 😀

Ya udah, Yuun, saatnya berdamai dengan alam. Istighfar, minta ampun. Baper itu dosa, gara-gara baper kamu jadi orang culas sedunia! Saatnya buka jendela, hirup udara segar, kembalikan batako-batako yang berserakan di jalan setelah digali sama orang pasang pipa gas. Saatnya kamu berubah jadi tukang bangunan! Yun, Yun.. kasian kasian kasian

Ngerangkai puzzlenya gak sempurna!

Ini artikel murni curhat lho, ya.. kalau gak suka baca curhatan saya mending skip aja. Kalau nanti kebawa Baper saya tidak bertanggung jawab. Kalau setuju silakan lanjutkan. Oke? Toss dulu! 😀

Gemas saya berawal dengar kabar teman-teman diundang kopdar oleh humas sebuah instansi dan saya dilupakan begitu saja. Ih, gak diundang aja baper. Sori, Je, utang draft liputan numpuk. Fee udah diterima, godiebag sak arat-arat di gudang. Kalau cuma mengharap kaos selembar aja kepada sebuah instansi artinya saya gagal jadi blogger. Nyari gratisan gak perlu semurah itu..

Masalah utamanya bukan pada undangan, tapi pikiran saya ngelantur ke sebuah link website mereka yang isinya persis plek ketiplek di blog saya. itu saja! Ya ini akarnya. Gara-gara tulisan saya di copas, komplain saya gak direken, lalu saya diboikot. Mereka mencari netizen lain. Percaya sama saya, lebih nikmat minum madu ketimbang dimadu! 😀

Jadi selama ini itu saya diam. Alih-alih belajar ikhlas, berdamai dengan kenyataan, yang ada saya berubah jadi idealis. Maksudnya sih biar move on.. melupakan kenangan bersama ‘mantan’. Dan lama-lama saya kok jadi benci ya? Apa emang gitu efek orang move on? 😀

Berhadapan sama saya gak susah kok. Kalau salah bilang maaf, selesai urusan. Saya gampang di bujuk.

Oya, kalian sudah membaca status saya terbaru?
Kalau belum ini screenshootnya..

Sejatinya saya menyayangkan status ini mengotori beranda saya. Konsistensi update status serba bahagia malah tercemar dengan status kekanakan. Walo ada yang bilang, sekali-sekali bikin kontroversi gapapa, Yun.. tapi saya terlalu edan kalau status beginian.

Mulanya seseorang ngasih tau, “Yun, artikel ini sudah ijin belum?” dengan link terpampang nyata.

2016-08-24_01-37-35

Wadah?! Saya melotot dong. Pantesaan, akhir-akhir ini blog saya sering keok. Hosting gak kuat nahan banyaknya komen spam yang masuk sampai akhirnya saya dikomplain penyedia hosting karena bandwithnya kemakan banyak. Copasnya sih gapapa, cukup ngelus dodo aja. Yang sebel bandwith kemakan itu lo sampai saya dikomplain penyedia hosting. Rasanya pengen ngelus dodo Jupe *eh

Lalu apa yang saya lakukan? Ya klarifikasilah.

Meskipun tersakiti, saya bilangnya baik-baik. “Pak, mohon maaf (masih pula bilang maaf, kurang baik apa?), saya tidak keberatan artikel saya di copas, tapi mohon (pakai mohon-mohon segala lagi!) cantumkan sumbernya. Terima kasih :)”

Zonk! Komplain saya gak ditanggapi. Pesan saya tercentang garis dua tapi gak dikasih pertanggungan jawab. Pesan saya gak dibalas. Belum tau kalau saya ngeyelan.

Beberapa hari kemudian, saya japri lagi dengan kalimat yang sama. Lagi-lagi zonk, sodara. Gapapa.. mungkin beliau sedang kehabisan kuota.

Hingga suatu hari iseng saya cek, artikel saya sudah hilang. Saya japri lagi dong, “Pak, saya gak minta dihapus, saya hanya minta tolong cantumkan sumbernya..” Wes enak, toh?

Woh! Dibales aja nggak. Yo weslah! Kali ini saya berpikir positif, mungkin keypad HPnya bermasalah. Hidup tak sedrama itu, Jendral. Saya orangnya woles..

Sejak itu saya tak lagi berhubungan dengan pihak-pihak yang telah berbuat tidak ‘senonoh’ pada saya. Lebih tepatnya tidak pernah dihubungi, sih hahaha! Saya mah santai, gak merasa dimusuhi apalagi memusuhi. Rugi di dia gak dapat saya. Orang manis gini, disia-siakan.. *disampluk emas antam!* 😀 Yang butuh pencitraan kan mereka, bukan saya. Citra saya sudah baik di masyarakat, setidaknya Bu RT tiap tahun membutuhkan saya buat bikin undangan Agustusan *Bangga dong jadi warga Wonokromo* 😀

Kalau saya yang sudah, ya sudah. Ngapain diperpanjang, cukuplah sidang Jessica yang masih terus bersambung.. Urusan artikel copas sudah saya serahkan kepada yang berwajib. Malaikat juga tau siapa yang jadi juaranya.. *lalala..*

Urusan copas mengcopas sejatinya tak pernah saya permasalahkan. Saya sadar, apapun karya yang sudah naik tayang di media online harus direlakan dimanfaatkan oleh pihak lain. Baik itu tulisan maupun foto.

Dulu dulu, saya bahkan pernah menemukan artikel lomba saya di copas oleh sesama peserta lomba. Teman, kenal baik, lho. Saya tidak marah, tidak juga saya komplain. Praktis aja mikirnya, rejeki gak akan lari kemana, walau sebenarnya dada ini mendidih. “Kenapa harus copas artikel lomba sayah? 3 hari 3 malam saya nglembur nulisnya!” Berpikir positif aja mungkin sang pengcopas menganggap tulisan saya bagus, Alhamdulillah ya disukai..

Lombanya menang? Nggak! Haha..

Dan tadi malam, saya iseng dong buka-buka web mereka. Bener ya kata orang, benci bisa mengalihkan jadi rasa rindu. Buktinya tengah malam saya begadang hanya untuk ngecek artikel mereka satu persatu. Lumayan sih, ketangkap satu artikel punya Mas Gilang Detik bertengger disana huahaha…

2016-08-24_01-29-58

Artikel aslinya ini:

2016-08-24_01-30-17

Sudah cukup 2 aja ya buktinya. Bukti copasan lainnya cukup saya baca sendiri, udah tau juga kok sumbernya darimana. Paling kalau dikomplain mereka akan hapus. Sebelum dikomplain screenshoot dulu buat sewaktu-waktu kangen ihik..

Ya udahlah, Jendral. Hari sudah malam, saatnya istirahat. Di luar banyak angin…

Halo Polisi · Wajah Surabaya

Bu Risma sibuk ngatur Lalu Lintas, Kemana Polantasnya? Ini Jawaban Kasat PJR Polres Tanjung Perak, IPTU Sunarto!

Bu Risma sibuk ngatur Lalu Lintas, Kemana Polantasnya? Opini itu bertubi-tubi lewat Wall Facebook saya beberapa waktu lalu ketika sebuah video Ibu Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, diunggah. Di tayangan itu terlihat wanita nomor satu di Surabaya nampak bersemangat mengatur kepadatan di sudut jalan raya dan tak seorang pun petugas berseragam coklat membantu. Komentar netizen bertubi-tubi, tak sedikit juga yang mencemooh kinerja petugas, lalu apa tanggapan Kepolisian? Ini jawaban Kasat PJR Polres Tanjung Perak, IPTU Sunarto!

Disela obrolan, sempat menerima telpon dari Kasalantas Tanjung Perak terkait pengamanan wilayah Kenjeran menjelang UN Habitat
Disela obrolan, sempat menerima telpon dari Kasalantas Tanjung Perak terkait pengamanan wilayah Kenjeran menjelang UN Habitat

Beberapa hari ini kota Surabaya sedang bebenah. Bebenah melanjutkan pembangunan frontage road sisi barat jalan A Yani yang belum rampung sempurna serta beberes untuk menyambut tamu dari 193 negara yang berkunjung ke Surabaya dalam rangka Prepcom III UN Habitat. Kedatangan tamu ‘istimewa’ ini otomatis kian menyibukkan beberapa instansi, terutama dalam hal pengamanan. Salah satunya Kasat PJR Polres Tanjung Perak, IPTU Sunarto, SH, yang dini hari tadi sedang berpatroli Blue Silver di kawasan Jalan K.H. Mas Mansyur.

Duduk di salah satu bangku warung susu murni Pak Ali, IPTU Sunarto yang telah bertugas di Polres Tanjung Perak sejak tahun 1997 ini mengaku sedang giat patroli Blue Silver. “Biasanya Kapolres ikut patroli, Mbak”. Saya pun bertanya, apakah Kapolres sering turun ke jalan?, diakui Bapak yang pernah ditugaskan di Papua, “Pak Mattanete (panggilan Kapolres Tanjung Perak, AKBP Takdir Mattanete) sering banget bergabung di giat Blue Silver. Pagi-pagi jam 6 sudah apel di kantor, dilanjutkan ke lapangan mem-biru-kan langit kawasan Tanjung Perak!”

Ngobrol disela tugas patroli
Ngobrol disela tugas patroli

Patroli Blue Silver? Apa itu?

Patroli Blue Silver merupakan ide Kapolri untuk mendukung program 100 hari kinerjanya dengan menurunkan anggota di titik-titik tertentu. Dukungan itu oleh Kapolres Tanjung Perak disambut baik dengan menamakan kegiatannya Patroli Blue Silver. Blue yag dimaksud adalah lampu rotator menyala berwarna biru yang terpasang di kap atas mobil patroli. Sedangkan Silver adalah nama lain Polres Tanjung Perak. Jadilah Blue Silver.

Patroli Blue Silver dilaksanakan setiap hari sebagai bentuk pelayanan Polres Tanjung Perak kepada masyarakat. Dengan patroli ini diharapkan memicu kedekatan antara Polisi dan masyarakat. Yaahh, boleh juga sih idenya..

Kapolres Tanjung Perak, AKBP Takdir Mattanete saat memimpin apel Patroli Blue Silver. Image by Facebook Polisi Jatim
Kapolres Tanjung Perak, AKBP Takdir Mattanete saat memimpin apel Patroli Blue Silver. Image by Facebook Polisi Jatim

Terkait dengan fenomeno Bu Risma yang rajin ke jalan dan mengatur lalu Lintas, IPTU Sunarto menyambut positif dan menganggap hal itu biasa saja. “Kalau saya menganggapnya biasa. Memang sudah kewajiban seorang walikota turun ke lapangan melihat langsung kondisi lalu lintas di kotanya”

“Jadi, saat itu Pak Polisi Lalu Lintasnya kemana, Pak?” Semoga pertanyaan saya dapat mewakili pertanyaan kalian ya teman-teman netizen 🙂

Patroli Blue Silver Polres Tanjung Perak

“Gini, Mbak. Pos Polisi rata-rata dijaga oleh 3 petugas Polisi. Mereka bertugas selama 12 jam setiap hari. Di kawasan tertentu, lalu lintasnya sangat padat. Contoh saja kawasan Margomulyo yang isinya truk-truk gede, container, dan segala macamnya. Belum lagi di daerah Manukan yang masih ada pengerjaan pelebaran jalan. Walaupun sudah diatur sampai glegek’en, tetap aja macet. Tanggung jawab ke 3 petugas pos Polisi harus mengurai kemacetan dengan menyebarkan diri dan mencari biang kemacetan. Sudah menyebar sekalipun, masih saja ada penumpukan. Saat-saat seperti itu kehadiran seseorang sangat ditunggu-tunggu. Jangankan walikota, masyarakat saja boleh turun ke jalan mengatur pengendara yang lain…”

“….. Di Surabaya tidak banyak sosok masyarakat yang mau meninggalkan kendaraannya ketika di tengah kemacetan untuk sejenak mengatur lalu lintas. Kondisi seperti itu jangan harus selalu menunggu Polisi datang. Kalau sama-sama nggak mau ngalah, sampai malam pun gak selesai-selesai macetnya! Cobalah yang punya pengetahuan lantas turun ke jalan dan mengatur kebuntuan secara sukarela. Banyak masyarakat rela hati turun ke jalan, tapi ujung-ujungnya minta recehan ke para pengendara…” beber Polisi kelahiran Ponorogo yang pernah mendapat pendidikan Brimob.

Urun jempol dulu dengan mobil Blue nya..
Urun jempol dulu dengan mobil Blue nya..

Penjelasannya luas banget lho ya, bacanya pelan-pelan aja sampai selesai, jangan fast reading supaya kalau muncul lagi video Mak’e arek-arek Suroboyo ngatur jalan raya udah tau jawabannya dan nggak asal tanya, Bu Risma sibuk ngatur Lalu Lintas, Kemana Polantasnya? Akan lebih merasuk ke sanubari jika sebelum berkomentar rasakan dulu nikmatnya turun ke jalan ngatur kemacetan hehe…

Halo Polisi · Wajah Surabaya

Aiptu Pudji Hardjanto, Polisi Mbois sahabat Jenazah

Aiptu Pudji Hardjanto, Polisi Mbois sahabat Jenazah. Tampilan Mbois identik dengan gagah, parlente dan wangi yang berjalan ditengah kerubutan manusia dengan penuh pesona. Namun Mbois yang disandang Aiptu Pudji Hardjanto justru terbalik, Ke-mbois-an dirinya dirasa keren bila sedang berada di antara gelimang jenazah yang membutuhkan tangan dinginnya untuk diidentifikasi. Apa pendapat kalian?

Kalau saya gak jadi orang Mbois, gapapa! Gak Pathek’en! Buat apa dandan necis kalau hanya bersinggungan dengan mayat! Hihi..

Aiptu Pudji Hardjanto, Polisi Mbois sahabat Jenazah. Mungkin banyak yang bertanya, apa asiknya mengidentifikasi jenazah sedangkan di luar sana banyak orang menutup hidung menahan gejolak harum yang menyengat. Bagi Pak Djie, panggilan akrab beliau, jenazah dianggap sebuah karya seni. Seni Dinamis yang menyimpan banyak rahasia untuk di korek tingkat mahakarya nya. Hal itulah yang membawa sosok yang karib dengan kacamata hitam memilih menjadi bagian Tim Inafis di Polrestabes Surabaya.

Sejak membaca buku TKP Bicara, nama Aiptu Pudji Hardjanto membayang-bayangi pikiran saya bak hantu bergentayangan. Hanya satu keinginan saya, menjelma dihadapannya dan minta konfirmasi segala hal tentang isi bukunya. Sekaligus juga menggali kepenasaran saya bagaimana seseorang bisa mengkaitkan insting terhadap keberadaan jenazah korban pembunuhan.

Baca Resensi Buku: TKP Bicara, Catatan Aiptu Pudji Hardjanto, mengungkap kasus bermodal Rumput

TKP Bicara 2

Nyatanya, pertemuan saya dan Pak Dji malah keduluan produser Hitam Putih yang menghubungi saya melalui inbox FB, “Mbak, saya mau undang Aiptu Pudji sebagai Bintang Tamu Prog. Hitam Putih, bisa bantu no kontak?”

Yayaya.. sudahlah biarkan Pak Pudji masuk TV dulu, masuk blog saya belakangan haha… kata wong Jowo, Lakon Menang Keri, Bro! 😀

Apa dikata, setelah masuk TV saya malah dapat nomer antrian 799 pakai cap jempol kaki, mengungguli para fansnya yang ingin bertemu beliau. Sempat bersua pun di Polres Tanjung Perak beberapa waktu lalu hanya bisa foto bersama. Itupun dapat foto dengan gaya yang Koplak 😀 Bisa ngobrol cuma sebentar, gak sampai 3 menit putus karena kehabisan koin haha..

2016-06-18_02-37-37

Di Kedai Ketan Punel tadi malam kemenangan telak berada di tangan saya! Pak Djie sukses saya ‘ikat’ di tepi pagar raya Darmo sampai jam 12 malam di temani 2 petugas Polsek Wonokromo. Selama berjam-jam saya interogasi beliau habis-habisan! Setengah tega, saya persilakan secangkir kecil wedang sereh menemani beliau.

Mengenakan kaos hitam lengan panjang, celana jins, dan sepatu corak ular, pemiliki akun FB Djie Saja, saya tuntut menjawab pertanyaan saya. Rambut gondrongnya yang aduhai (kayaknya habis direbonding, deh haha) mengingatkan saya pada Charlie ST 12. Kali ini rejeki saya bisa mengamati wajah sangar beliau tanpa kaca mata hitam. Tuh, kan, saya bilang apa, Lakon Menang Keri, Reeek! 😀

Sebagai Polisi Identifikasi, Pak Djie banyak menyimpan foto hasil olah TKP beberapa kasus kejahatan. Kerajinan Djie mendokumentasikan foto membawa dirinya ke hadapan Kapolrestabes Surabaya yang saat itu dipimpin KombesPol Yan Fitri Halimansyah, untuk menyusun buku tentang pengalamannya melakukan olah TKP. Tak main-main, perintah atasan itu harus Ia selesaikan dalam waktu 2 Minggu! Dibantu Kasatreskrim Surabaya, AKBP Takdir Mattanete, buku itu diserahkan kepada Pak Yan tepat 2 Minggu kendati belum semuanya tuntas.

Baca juga Tentang AKBP Takdir Mattanete, Kasat Reskrim Surabaya dan sosok Polisi Wangi

2016-06-18_02-38-08

Rupanya, trik Pak Yan melecut semangat anggotanya untuk berkarya, membawa sisi kebaikan yang tak terduga bagi Pak Djie. Buku yang awalnya di beri judul “Aku Bukan Siapa-siapa” yang kemudian melalui tahap revisi sebanyak 5 kali plus penggantian judul menjadi TKP Bicara, menunjang popularitas dan rejeki bagi diri orang tua Rizki dan Mentari.

Bukan tak mudah menerbitkan sebuah buku, beragam pertentangan diterima Djie dari berbagai kalangan, terutama dari institusinya sendiri. Bila kita baca buku TKP Bicara, sangat jarang kita temukan istilah-istilah ilmiah tentang identifikasi. Justru di buku itu lebih banyak kita dapatkan cerita seputar kisah dibalik pengungkapan kasus pembunuhan. Itulah yang menjadi perdebatan karena isi buku itu dianggap tidak memiliki dasar. Djie pun tak tinggal diam, Ia merasa buku TKP Bicara diperuntukkan bagi pembaca non akademis sehingga Ia menulis segalanya dengan bahasa yang mudah dipahami.

Baca juga Kombes Pol Yan Fitri Halimansyah: Jadi Polisi karena takut Polisi

Sebagai pembaca non akademis, saya merasakan benar manfaat buku TKP Bicara, karena dari sanalah saya memahami TKP detail, cara membaca jejak, dan merangkai bukti.

“Berkembanglah kamu, tanpa melanggar hal yang ditentukan” – Djie Saja

Buku TKP Bicara menunjukkan bahwa sebenarnya tim Identifikasi berperan besar MEMBANTU mengungkap sebuah kasus. Berdasar fakta dan TKP, pelaku kejahatan mudah dikenali walau sangat disayangkan bagian Identifikasi jarang mendapat publikasi. Selama ini kan, masyarakat hanya tau, dan media selalu menyorot kegiatan Polisi sedang menangkap pelaku, padahal dibalik itu ada proses besar yang telah dilewatkan, yaitu identifikasi. Dari buku TKP Bicara lah terkuak tugas iden ternyata tidak mudah.

Momen Gokil bersama Pak Djie di Kantor Polres Tanjung Perak
Momen Gokil bersama Pak Djie di Kantor Polres Tanjung Perak

Setiap melihat Pak Djie tak pernah sekalipun memakai seragam dinas Polisi. Ketika saya tanya tentang seragam, Pak Djie malah tertawa. Ia mengaku sudah jarang memakai seragam Polisi. Semenjak bertugas menjadi serse dan Iden, seragam tak lagi sering menempel di badannya. Lucunya, anak-anak Pak Djie malah tidak tau bahwa Papa nya ternyata seorang Polisi!

Ketika saya tanya apa harapan menjadi seorang Polisi ‘tanpa seragam’, Pak Djie menjawabnya, “Saya tidak ingin menjadi Polisi Sukses, Saya ingin Menjadi Polisi Baik”

Ada sepercik keanehan yang saya dapat dari jawabannya. Di saat orang lain berlomba ingin menjadi orang sukses, justru seorang Djie, malah ingin menjadi orang baik. Lihat saja bagaimana Ashoka selalu terkendala masalah karena menjunjung tinggi asas kebaikan. Sedangkan di pihak Sushima, dia lebih mendapatkan kemenangan karena mengejar kesuksesan dan jabatan.

“Buat saya Polisi Baik akan dikenang baik kalau perbuatannya baik. Kalaupun tidak mendapat kebaikan, saya anggap buah jatuh di tempat yang salah”

Mumpung di hadapan Pak Djide, iseng saya bertanya tentang ‘kejahatan’ lalu lintas seperti menanggalkan helm saat berkendara. Ternyata kejadian ditilang Polisi kerap dilakukan putranya sendiri, Rizki, sepulang sekolah di SMAN 2 Surabaya. Usia 18 tahun belum memiliki SIM merupakan kenakalan remaja. Di saat teman-temannya kena tilang, Rizki pun menyerahkan diri untuk ditilang. Teman-temannya bilang, “Bapakmu kan Polisi, kok mau ditilang?”, jawaban Rizki, “Justru kalau gak ditilang, saya kena marah Bapak!”

Lebih lucu lagi, ada Polisi yang hapal kelakuan Rizki sering kena tilang lalu lapor ke Pak Djie, “Djie.. Djie.. lain kali selipkan fotokopi KTA mu di STNK, biar kami gak nilang” Pak Djie tertawa dan menjawab, “Tilang ya tilang aja. Tinggal bayar kok!”, Di balas oleh rekannya, “Duit gajimu berapa, bisa-bisa habis dipakai bayar tilang” haha..

Pernah pula nama Pak Djie dijadikan taruhan ponakan agar lolos dari tilang. Mendapat laporan dari rekannya, Pak Djie malah minta saudaranya agar ditilang. Alasannya sepele, “Ketika saya tugas di pelosok dengan segala kekurangan, apa mereka membantu saya? Ketika saya bekerja berat dan susah, saya gak minta bantuan mereka. Tapi ketika mereka berurusan sama Polisi kok minta saya selesaikan? Saya mau bantu kalau posisi mereka benar. Kalau salah, ya tilang aja..”

Aiptu Pudji Hardjanto, Polisi Mbois sahabat Jenazah mengakui dirinya tidak pernah merasa takut hantu. Bagi Djie, rasa takut hanyalah khayalan, khayalan yang membentuk imajinasi dalam bentuk hantu. Saat bersinggungan dengan jenazah, Djie merasa mereka adalah kawannya. Ia lebih tega melihat orang mati ketimbang orang sakit. Menurut Djie, Orang hidup pasti mengalami kematian, sedangkan tidak semua orang hidup mengalami sakit. Alasan itu yang membuat Djie takut melihat jarum suntik dan selang infus.

Momen bersama Pak Djie di Gapura Surya. Merasa aman ditemani Polisi Mbois :D
Momen bersama Pak Djie di Gapura Surya. Merasa aman ditemani Polisi Mbois 😀

Ngobrol dan bicara panjang lebar dengan Pak Djie menjadi kesenangan tersendiri. Pribadinya yang sederhana dan santai menanggapi persoalan mampu menarik magnet tiap orang berkawan dekat dengan beliau. ‘Kepolisiannya’ tidak membatasi pergaulannya terhadap siapa saja. Saya jadi makin yakin, dibalik satu Polisi brengsek, ada sejuta Polisi baik yang menjaganya. Sukses selalu untuk Pak Djie dan keluarga…

Buku · Halo Polisi

Resensi Buku: TKP Bicara, Catatan Aiptu Pudji Hardjanto, mengungkap kasus bermodal Rumput

TKP Bicara

Judul: TKP Bicara
Penulis: Aiptu Pudji Hardjanto
Penerbit: PT. Revka Petra Media
Tahun Terbit: Juli 2015
Tebal: 250 halaman

Resensi Buku: TKP Bicara, Catatan Aiptu Pudji Hardjanto, mengungkap kasus bermodal Rumput – Dalam salah satu tayangan FOX Crime, seorang anggota CSI berhasil mengungkap kasus pembunuhan setelah menemukan bekas tapakan di atas rumput. Padahal pembunuhan sendiri dilakukan di dalam ruangan yang sama sekali jauh dari rumput berada. Belakangan diketahui ada bekas rumput tercerabut di sepatu pelaku. Disitulah kemudian kejahatan mulai terungkap.

Di dunia kriminalitas, rupanya rumput berperan besar membantu pengungkapan sebuah pembunuhan. Kedengarannya sepele, apa bagusnya rumput? Eh, jangan main-main sama rumput, Rumput tetangga pun kalau hijaunya berbeda bisa jadi panjang urusannya.. apalagi urusan yang menyangkut Ibu-Ibu, pakai ditanya pula belinya dimana, caranya nanamnya gimana, harganya berapa, lanjut deh jadi bahasan di Arisan RT, Hiks!

TKP Bicara

Di tangan Aiptu Pudji Hardjanto, sebuah rumput bisa menjadi barang bukti mengungkap kejahatan. Semua itu dituang dalam bukunya berjudul TKP Bicara.

Siapa Aiptu Pudji Hardjanto? Saya yakin dunia literasi tidak mengenal nama beliau. Memang, Aiptu Pudji Hardjanto bukan sosok penggiat literasi, beliau adalah seorang anggota Unit Identifikasi Polrestabes Surabaya. Yes, Aiptu Pudji Hardjanto adalah Polisi. Polisi yang menceritakan perjalanan hidupnya ke dalam sebuah buku.

Suatu siang saya mendapat hadiah buku berjudul TKP Bicara dari Polisi Wangi, Bapak AKBP Takdir Matanette. Buku tersebut merupakan karya anggota Reskrim Polrestabes Surabaya bernama Aiptu Pudji Hardjanto. Begitu diserahkan oleh Om Nette Boy, hal pertama yang saya lakukan adalah memperhatikan gambar cover depan dan membaca sinopsis cover belakang, persis yang selama ini saya lakukan saat akan membeli buku.

Setelah membaca sinopsisnya yang hanya separagraf, saya merasa, buku ini buku bagus. Komentar bagus teramat umum, lebih tepatnya menarik.

Sejak pulang dari Atambua, Aiptu Pudji Hardjanto mendapat tugas baru, yakni mengurus mayat. Bukan mayat biasa, melainkan mayat korban pembunuhan. Anggota unit Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis) Jawa Timur ini boleh dibilang menguasai apa yang disebut Jeffrey Deaver dalam novel-novel kriminalnya: hukum pertukaran materi. Bahwa ketika terjadi sebuah peristiwa kriminalitas, selalu terjadi transfer materi. Banyak kasus pembunuhan maupun tragedi kemanusiaan berhasil diungkap Aiptu Pudji. Cara mengungkapnya pun tidak biasa dan unik, malah terkesan sepele. Bagaimana bisa?

Dihadapan Om Nette Boy, plastik buku itu langsung saya sobek. Dengan sekali belah, halaman buku itu terbuka acak. Sekilas, rangkaian kalimatnya bagus, penyusunan bahasanya mudah dipahami. Sekali duduk, dua lembar halaman seketika berpindah ke kepala saya.

Sinopsis Buku TKP Bicara

Buku TKP Bicara berisi catatan perjalanan seorang Aiptu Pudji Hardjanto saat menjalankan tugas menjadi anggota Kepolisian. Usai menamatkan pendidikan Bintara Militer Sukarela Polri tahun ajaran 1993 – 1994, Ia mendapat tugas pertamanya di Polres Belu, Polda NTT. 3 bulan kemudian, Aiptu Pudji di tugaskan di Polsek Haekesek, Desa Tohe, 60 kilometer sebelah Timur Kota Atambua sebagai Kanit Resintel.

“Darah Kita, isi perut kita, hati kita, otak dan pikiran kita, bahkan kegilaan kita sama, karena kita dilahirkan dan ditakdirkan sebagai anggota Polisi”

Kehidupan di Polsek Haekesek menempa Aiptu Pudji hidup serba apa adanya. Di sini pun Aiptu Pudji menambatkan hatinya kepada sosok wanita asal Bali yang kemudian berhasil Ia pinang.

Tak lama tugas di Polsek Haekesek, Aiptu Pudji dipindah tugas ke Polsek Biudukfoho, lokasinya jauh di pelosok, jaraknya 160 kilometer dari Polsek Haekesek. Tidak ada listrik, jauh dari sumber air, alat komunikasi satu-satunya menggunakan SSB (radio komunikasi). Yang tampak menonjol dari gedung Polsek Biudukfoho adalah atap seng, berdinding anyaman batang lontar. Bersama ke 4 rekannya (Polsesk Biudukfoho dihuni 6 orang termasuk Aiptu Pudji dan Kapolsek), Aiptu Pudji merangkap jabatan sebagai anggota Babinkamtibmas.

Keminiman fasilitas di Polsek Biudukfoho membuat Aiptu Pudji akrab terhadap siapa saja, salah satunya adalah Piter Napa, seorang pemburu binatang dan petani.

Bagi Aiptu Pudji, Piter Napa merupakan sosok luar biasa yang berjasa dalam hidupnya. Dari Piter Napa, Ia belajar banyak bagaimana cara berburu binatang, membaca arah larinya binatang, juga membaca jejak hewan buruan. Yang paling utama dari teori Piter Napa adalah ilmu mencari jejak rumput, tanah, ranting, daun, dan sebagainya.

Meski berawal dari belajar berburu binatang, namun teori Piter Napa berhasil diaplikasikan oleh Aiptu Pudji untuk membaca jejak ‘target’ kasus pembunuhan yang dilakukan oleh manusia. Hasilnya, rata-rata kasus pembunuhan bisa diungkap oleh Aiptu Pudji. Tak hanya diungkap, Aiptu Pudji juga canggih membaca gerak pelaku saat menghabisi korbannya, kendati belum mendapat pengakuan langsung dari pelaku. Semua itu Ia baca dari hasil olah TKP yang dilakukannya.

TKP Bicara 1
Berdoa, rutinitas wajib Sebelum olah TKP

Kasus pembunuhan yang pertama kali diungkap Aiptu Pudji adalah ditemukannya mayat tak jauh dari sungai di wilayah Polsek Biudukfoho. Selama bertugas di Polsek Biudukfoho, jarang sekali ditemukan kasus pembunuhan, kecuali pencurian hewan ternak. Namun penemuan kali ini benar-benar ujian bagi Aiptu Pudji, sekaligus ‘ngetes’ teori Piter Napa dalam menangkap manusia ‘buruannya’.

Bagi yang suka membaca detektif, bab ini cukup seru diikuti, termasuk bagaimana Aiptu Pudji bermalam sendiri hanya ditemani jenazah yang belum ditemukan pelakunya. Rekan Aiptu Pudji yang lain bukan tidak membantu, tetapi mereka juga harus riwa-riwi dari TKP ke kantor Polsek. Kondisi medan yang berat dan jauh, membuat anggota yang lain bekerja sendiri.

Malam itu, sambil mengamati sosok jenazah, Aiptu Pudji berusaha mencari jejak pelaku. Yaitu dengan meneliti rumput satu persatu. Tak butuh waktu lama, Aiptu Pudji langsung menemukan pelakunya, walau masih dalam taraf menduga, namun insting Aiptu Pudji sudah meyakini siapa pelakunya.

“Pembunuh pasti penasaran melihat hasil karyanya. Dia pasti kembali ke tempat semula. Sekedar memastikan jejaknya agar tidak terlacak”

Dalam bab ini, pembaca seakan diajak turun langsung ke lokasi TKP. Pembaca juga diajak berlelah-lelah jalan kaki mengirim pelaku ke Polres Belu hanya dengan diikat ke punggung mengunakan tali lasso selama 11 jam!

Review Buku TKP Bicara

Banyak pelajaran yang diambil dari Buku TKP Bicara. Buku TKP Bicara mengajarkan kepada kita semua bahwa se- profesional apapun seseorang menutupi kejahatan, kebenaran akan terungkap. Pengalaman Aiptu Pudji membuktikan bahwa mayat adalah seni dinamis yang bisa berbicara. Dalam diamnya, mayat dan TKP bersinergi memberi kekuatan membantu mengungkap sebuah kasus. Dan satu lagi yang berperan membantu kesuksesan Aiptu Pudji mengungkap kasus, yaitu Insting.

TKP Bicara 5

16 cerita yang ditulis Aiptu Pudji, hampir semuanya memanfaatkan Insting. Di saat rekan dan pimpinannya hampir menyerah, Insting Aiptu Pudji berusaha bermain logika. Yah.. kadang-kadang antara Ngeyel dan Pantang Menyerah, bedanya seperti seutas rambut, tipiiiss.. *tergantung merk shamponya juga, sih* 😀

TKP Bicara 4
Foto Aiptu Pudji sedang melakukan identifikasi jari korban Pesawat Air Asia

Dalam bukunya, Aiptu Pudji tak melulu membahas dunia forensik, kejadian seperti ditinggal timnya berangkat ke TKP sehingga Ia harus menyusul naik motor sendirian dan kehujanan, memenangkan sayembara dari pimpinannya yang hampir menyerah mengungkap kasus, bersikeras antar rekan yang saling tak mau berdiri mengangkat telepon akibat kelelahan sepulang olah TKP, hingga mimpi (yang dirasakan nyata) akibat melempar jenazah orang tua yang alim. Kejadian yang terakhir menjadi pelajaran mahal, bahwa betatapun itu jenazah, ada hak untuk dirinya diperlakukan secara wajar dan mendapat penghormatan yang baik.

TKP Bicara 3
Diam dan terpekur sendiri adalah ciri khas Aiptu Pudji dalam mengolah insting. Siapa sangka kalau di bawah paving ternyata terdapat mayat?

“Saya lebih menikmati aroma pembusukan jenazah daripada bau formalin yang menyesakkan” TKP Bicara halaman 178

Membaca Buku TKP Bicara, tanpa sadar saya langsung bisa menebak karakter Aiptu Pudji. Gaya tulisan Aiptu Pudji sangat begitu hati-hati menuangkan kata-kata. Dugaan saya sih, Aiptu Pudji berusaha tidak menakut-nakuti pembaca. Sebab selain tulisan, Aiptu Pudji juga menyertakan foto-foto dirinya beserta foto korban (yang tentu saja di blur). Aiptu Pudji adalah sosok yang tak gampang menyerah dan mudah bergaul. Ia juga seorang negosiator ulung, dengan menggaris depankan kebijakan. Semoga saja tebakan saya benar, saya belum ketemu orangnya, juga 😀

Buku TKP Bicara berisi catatan perjalanan Aiptu Pudji mengungkap kasus pembunuhan di Surabaya diantaranya Pembunuhan Bos Keramik, Pembunuhan Mahasiswi Akper yang direkayasa seperti bunuh diri, Pembunuhan karyawati cantik yang TKP nya di rusak sehingga mengesankan korban bunuh diri, membongkar mayat dalam tabung, dan kisah lainnya lagi.

Kekurangan buku ini terdapat judul yang ditulis tanpa menggunakan spasi. Entah di sengaja tanpa spasi atau editornya kelewatan, saya tidak paham. Untuk kesalahan tulis hampir tidak ada.

TKP Bicara 6
Judul tanpa spasi

Buku TKP Bicara cocok bagi pembaca buku/novel detektif. Oh, yang suka baca novel biografi pun bisa juga!. Tenang saja, buku TKP Bicara tak seseram yang kalian bayangkan, kok. Justru menariknya kita bisa belajar cara mengolah sebuah insting. Walaupun kategori non fiksi, namun Aiptu Pudji mengajak pembaca untuk menyelami dunia identifikasi. Sejatinya dunia identifikasi tidak serumit yang kita duga, bagi Aiptu Pudji yang paling penting adalah ketelatenan dan ketelitian.

TKP Bicara 2
Sama-sama Mbois, Hayo tebak, yang mana komandannya? 😀

Bagi yang ingin memiliki buku TKP Bicara bisa mendatangi toko Buku Petra Togamas dengan harga per ekslempar Rp. 100.000,-. Kalau mau ringkes lagi, saya bantu koordinir, minimal 3 buku ya biar irit ongkirnya 🙂

Halo Polisi · Wajah Surabaya

Tentang AKBP Takdir Mattanete, Kasat Reskrim Surabaya dan sosok Polisi Wangi

Tentang AKBP Takdir Mattanete, Kasat Reskrim Surabaya dan sosok Polisi Wangi

Siapa AKBP Takdir Mattanete? Semua orang pasti sepakat menjawab, Kasatreskrim Surabaya!
Ya ya ya sosok Polisi satu ini memang sedang jadi perbincangan hangat warga Surabaya, terutama yang sehari-harinya rajin mantengin berita kriminal. Meski sehari-harinya hidup di lingkaran beraura ‘kejahatan’, namun sosok ‘Polisi Wangi’ ini selalu menjadi bual-bualan manis para fansnya di dunia maya.

Tentang AKBP Takdir Mattanete, Kasat Reskrim Surabaya dan sosok Polisi Wangi. Polisi Wangi? siapa dia?

Takdir Mattanete, Kasat Reskrim Surabaya

Polisi Wangi adalah sebutan saya untuk Bang Takdir Mattanete. Maaf sedang songong manggil beliau Bang. Kita akrab-akraban dikit napa, Bang.. jangan sadis gitulah ama saya *kemudian dijitak duren*

Pada jam 1 dini hari, ketika saya kena ‘sandera’ 5 Jam bersama Polisi, sosok Polisi berkuncir ini berada di dekat saya. Saat itu saya adalah orang cuek yang gak ngerti dunia kepolisian dan gak penting ngapalin nama dan wajah pejabat Polisi. Yang saya ingat waktu itu hanyalah aroma wangi sabun GIV yang membaur diantara gelas-gelas es teh dan piring gorengan, tepat ketika sekelompok orang datang mengelilingi saya, satu diantaranya Bang Takdir. Iya, saya di sandera! Satu kata, kasian! 😀

“Siapa sih yang habis mandi malam-malam begini, baunya GIV banget!” batin saya. Sejak itu saya menyebut beliau Polisi Wangi, dan entah mengapa sebutan itu langsung menyebar di telinga Emak-emak Blogger haha.. *viral banget yak*

Sayangnya kita ((KITA)) gak bisa langsung berteman di Facebook. Beneran deh, fans beliau buanyaaak banget. Slotnya udah pas 5000. Saya gak dikasih geser kursi satu pun! Pertemanan saya di tolak mentah-mentah 😀

“Saya bingung, Facebook saya udah full 5000, gak bisa lagi nambah teman” curhat Bang Takdir saat bersiap melakukan pengamanan malam Taun Baru.
“Bapak bikin FP laah, fansnya banyak gitu. Kan lumayan dapat duit kalau ada yang endorse sepatu booth” *jawaban koplak*
“Selain FP, gimana caranya?”
“Bikin akun FB Takdir 2!”

Jangan kalah ama Tersanjung 7! 😀

Hingga pada suatu siang kami janjian kopdar di gedung Reskrim Polrestabes Surabaya, tempat lelaki kelahiran Makassar ini berdinas. Saya datang bersama Mas Rinaldy, Chandra, dan Dito. Sambil menunggu kami di tanya oleh seorang Ibu, “mau lapor kasus apa?”

Saya baru ngerti kalau datang ke Polisi bagian kriminal, harus punya masalah kejahatan. Dan jawaban kami, “Nggak ada kasus, kami mau ketemu sama Pak Takdir”

Ditanya lagi, “Kasusnya apa?”

Belum sempat jawab, lalu sebuah siulan menghampiri kami. “Suiiuuiiiiiittt!”vokal i yang belakang panjang dan bernada. Khas siulan memanggil sahabat.. kalau manggil cewek siulannya beda lagi, gini “Suit.. suiiiiittt…” vokal i nya panjang dan datar, terdengar menggoda. *Malah bahas nada siulan* 😀

Spontan kami noleh ke arah suara. Tak terkecuali petugas yang ada disana, ikut menoleh juga. Sambil bengong. Haha..

“Hi, come on!” Tangan dan kepalanya digoyang sekali tanda ajakan masuk. Duh, Baaang.. ini kantor Polisi apa apasih, kok gak ada serem-seremnyaa.. dan gaya sampean, gaul bangeeeet.. 😀

Kantor Bang Takdir itu berada di lantai 3, kalau lampu mati resikonya harus naik tangga manual. Liftnya mati, Kaka.. Seperti yang saya lakukan hari itu. Ruangannya terdiri dari 2 sekat. Sekat 1 khusus meja kerja, ruang lainnya buat terima tamu.

Berada di dalam ruangan yang adem itu, saya seperti sedang berada di ……. “Saya suka nonton drama Turki, yang itu lhoo.. Kaisar siapa namanya, lupa..”.. “Kekaisaran Ottoman?”.. “Naaah, iyaaa.. makanya dinding ruangan ini saya tempeli wallpaper yang mirip seperti di drama Abad Kejayaan”

Apa ini!???!
Takdir Mattanete, Kasat Reskrim Surabaya, yang tiap hari nangani kriminal ternyata suka nonton drama!

Perhatikan wallpapernya ^^
Perhatikan wallpapernya ^^

Saya terperangah mendengar kejujurannya, bahwa dibalik seorang Takdir Mattente, Kasatreskrim yang penampilannya gaul itu, ternyata suka nonton drama berseri! Daaaan, rupanya rambut gondrong yang sekarang di pelihara, inspirasinya dari Meteor Garden, drama jadul jaman anak 90-an masih asik mainan patil lele 😀

“Selain drama Turki saya juga suka nonton drama India, Akbar siapa dulu itu..”… “Jodha Akbar?”
“Hahaha.. iya iya.. Jodha Akbar”
“Sukanya kenapa, Pak?”
“Saya suka lihat adegan Ratu Jodha marahan sama raja Jalal. Manja-manja gimanaa.. trus Raja Jalal juga sosok raja yang berani, tegas juga berwibawa”
“Dan gondrong, Pak!” haha..

Penampilan berbeda
Penampilan berbeda

Selama ngobrol dengan lulusan SMA Negeri Langnga – Pinrang, kami seperti sudah akrab aja. Padahal ketemu tidak tentu sebulan sekali, tapi cara Bang Takdir memperlakukan kami, sebagai teman barunya, seolah sudah kenal lama.

Ketika saya tanya, kenapa mau jadi Polisi, bukankah di luar sana banyak profesi yang lebih menggiurkan selain Polisi. Jawaban Bang Takdir jauh dari prasangka saya. Ternyata daftar menjadi anggota Polisi alasanya sepele, supaya gak nganggur di rumah! Jadi ceritanya, masa muda dulu Bang Takdir pernah daftar UMPTN. Orang tua taunya anak lelakinya daftar UMPTN, tapi rupanya takdir membawa Takdir Mattanete masuk menjadi anggota Kepolisian.

Dalam keluarga besarnya, anak ke 5 dari 6 bersaudara ini tak ada satupun yang menjadi Polisi, kecuali Kakeknya. Di usia anak-anak, Takdir tinggal bersama Ibundanya, Haji Hasma. Ayahnya, Abdul Latif wafat ketika Takdir berusia sekitar 5 tahunan. Untuk membantu keluarga, Takdir hidup seperti anak-anak kampung di desanya, Desa Labolong, Mattiro Sompe, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, bekerja di sawah dan jualan es lilin.

Sebagai anak desa, Takdir tumbuh menjadi pribadi yang humanis, mudah bergaul dan grapyak pada semua orang. Seperti yang kita lihat sekarang, Takdir dikenal sebagai sosok rendah hati dan dekat kepada siapa saja. Di kalangan media, lelaki perwira berpundak Melati Dua ini akrab dipanggil dengan sebutan, Nette Boy.

Menyinggung kiprahnya di korps baju coklat, saya bertanya mengapa suka dengan kriminal. Bukankah kriminal resikonya besar. Dibenci keluarga korban, dibenci pelaku, bahkan beresiko punya musuh. Meski daftar di Polisi awalnya tak berniat serius, namun lagi-lagi takdir membawa Bang Takdir harus terlibat di ranah kriminal. Padahal sejujurnya, Takdir menginginkan menjadi Polisi Lalu Lintas. “Saya sebenarnya ingin jadi Polantas, Mbak. Tapi fisik ini lho, yang menjadikan saya Serse haha.. Badan saya kurang tinggi untuk jadi Polantas, Mbak”

Banyak pengalaman menarik yang dialami Takdir Mattanete selama menjadi Reskrim. Satu diantaranya adalah dibayang-bayangi pelaku tembak mati. Sampai 3 hari Takdir tak bisa tidur teringat wajah pelaku. Dalam jiwa Takdir sejatinya menolak untuk menembak mati, rasa kasihan kepada orang lain lebih besar dibanding harus menembak penjahat. Namun penjahat bisa nekat melakukan apa saja. Kenekatan penjahat bisa berlaku sangat sadis.

“Kasihan itu kasihan, Mbak.. tapi saya juga harus berani menghilangkan rasa kasihan saya, sebab pelaku ini kalau dibiarkan sangat sadis. Dia bisa membunuh orang dengan tega, apalagi kalau melihat wajahnya yang minta ampun dengan melas. Saya gak bisa melihat wajah melas, Mbak. Giliran mereka dilepas, mereka akan tega menghilangkan nyawa orang lain”

Dalam perjalanan memberantas kejahatan, Takdir pun pernah mendapat kiriman ancaman. Namun Takdir memahami bahwa sebagai Polisi Kriminal, ujian pasti ada. Menanggapi ancaman seperti itu, Takdir berusaha untuk memahami maksud kiriman ancaman tersebut. Takut sih takut, tapi lebih kepada sikap dan waspada.

Berbincang Tentang AKBP Takdir Mattanete, Kasat Reskrim Surabaya dan sosok Polisi Wangi bisa lupa waktu kalau kita nggak sadar diri. Ini hari kerja, dan jam kerja, Broo.. kalau diajak ngobrol terus kapan makan durennyaa.. Ehm, maksud saya kapan kerjanya.. 😀

Kesibukan Bang Takdir di kantor terasa banget beratnya. Di sela-sela ngobrol dengan kami, beliau berusaha menyempatkan diri membalas pesan masuk dan dering telepon dari HP merk lawas Nokia jenis Communicater. Sebagai Kasatreskrim, Bang Takdir adalah sosok pengabdi yang loyal. Seperti lagunya Armada, Pergi pagi, Pulang pagi, kecuali akhir pekan, beliau akan menghabiskan waktu khusus untuk keluarga. Tentu saja bercengkerama dengan putra-putrinya yang manis.

Reskrim Polrestabes Surabaya
Reskrim Polrestabes Surabaya

Menutup obrolan siang itu, saya sempat minta pendapat beliau terhadap kasus Jessica Sianida. Di mata reskrim, apa kesulitan yang sedang dihadapi Kepolisian. Dan jawaban yang saya terima cukup diplomatis, setelah diam beberapa saat, Bang Takdir menjawab kalem dan terdengar makjleb, “Kasus Jessica itu permainan otak” sambil telunjuknya diarahkan ke kapala. “Ibaratnya gini, ini ada orang mati, ada racun yang menyebabkan si orang mati. Siapa yang membunuh? Ini yang butuh kejelian. Kasus seperti ini lebih sulit dipecahkan ketimbang kasus pencurian. Bukti nggak kuat, pelaku bisa bebas pidana”