Si sahabat cuaca panas

Bulan-bulan terakhir ini cuaca kota Surabaya sangat panas. Begitu terik. Tak hanya di luar rumah, didalam rumah pun udaranya ‘sumuk’ sekali.

Hingga kipas angin yang gak siang, gak malam, bahkan pagi hari pun terus berputar. Namun tetap tak membantu menyegarkan udara di dalam ruangan. Untungnya kipas angin saya tahan banting. Ups, jangan ngerasani kipas angin nanti baling-balingnya ngambek. Malah bikin repot nanti.

“Di kipasi panas, nggak dikipasi badan basah oleh keringat”
Begitu keluh saya setiap usai matikan kipas beberapa menit yang lalu karena sebelumnya anginnya mengganggu badan saya yang makin lama anginnya makin tak nyaman. Hawanya seperti paduan antara gerah dan isis yang kemudian menghasilkan udara meriang.

Tips saya untuk menghilangkan segala kegerahan adalah dengan memainkan tombol kecepatan. Biarlah tombol itu berganti setiap 10 menit asal saya bisa menikmati kipas angin ini. Dari pada saya harus bolak-balik ke kamar mandi untuk mengguyur badan. Nanti malah jadi boros air.

Saya tidak tau kenapa di wilayah tempat tinggal belum juga turun hujan. Padahal di kawasan Dinoyo, yang lokasinya tak jauh dari rumah saya sudah sering turun hujan bahkan sampai jalanannya tergenang air! itu berarti hujannya lebat banget, kan ya? Yang buat saya heran kenapa tempat tinggal saya gak dikasih cipratan air hujan barang seember pun, toh ya jarak nya cuma dibatasi sungai kali Mas aja. Ini mendungnya pilih kasih sih!

“Kebanyakan dosa!”
Selalu begitu jawaban yang diberikan orang-orang ketika saya bertanya kenapa di rumah saya tidak hujan-hujan?

Emang ada gitu hubungan antara hujan dan dosa?
Dosa kan relatif ya. Kalaupun sering melakukan dosa, upaya jitunya ya meminta ampun. Bukannya minta hujan, kan?

Yah terserah deh apa alasannya yang penting semoga tingkat kegerahan ini bisa diturunkan secepatnya supaya kipas angin saya segera istirahat untuk sementara waktu. Karena kipas angin ini sudah mulai menunjukkan gejala tidak beres. Tombol kecepatan sudah gak mau fungsi. Ditambah lagi penutup baling-balingnya suka bunyi-bunyi. Sudah dicoba betulin eh, bunyinya makin keras. Dari pada mengganggu pendengaran akhirnya penutupnya di copot. Jadilah kipas angin saya gundul. Harus makin waspada nih kalau ada anak kecil. Siapa tau dia melihat baling-baling muter, lalu tangannya di masukin ke dalam kipas angin.

Sebagai jaga-jaga kalau suatu saat kipas angin itu marah lalu mogok, lalu saya coba browsing di toko online Lazada.co.id .

Kalau nggak dikasih tau itu kipas, pasti sudah saya pake masak air :D
Kalau nggak dikasih tau itu kipas, pasti sudah saya pake masak air 😀

Pas saya lihat di bagian peralatan rumah tangga saya melihat kipas angin yang bentuknya unik. Awalnya saya kira panci yang ada pegangannya. Eh ternyata kipas angin yang gak ada baling-balingnya. Konon kalau pakai kipas angin ini saya tak perlu mengatur sudut hembusaan! Ah, keren sekali..

Harus mulai nabung dari sekarang nih supaya bisa beli kipas angin cantik ini. Karena kalau kelamaan takut stock di Lazada Indonesia habis.

Mobile Internet, Trend baru pengaruh tumbuhkembang anak serta peran Ibu dalam mengatasinya

Trend Mobile Internet diibaratkan sebuah medan magnet yang dapat menggaet siapapun. Kekayaan aplikasi serta fiturnya membuat siapa saja saling tertarik mendekatkan diri kesana. Semuanya klop, bak pepatah jawa: tumbu ketemu tutup. Aneka informasi dan hobby bisa ditemukan hanya dengan ‘tarian jemari’. Beragam aplikasi, berpuluh social media serta konten-konten pembunuh senggang bak berkeliaran dimana-mana. Terasa semua itu lengkap digenggaman.

Aktifitas online menggunakan smartphone kian hari kian marak. Kemudahan akses membuat pengguna yang biasa online dengan PC Komputer pelan-pelan mulai ditinggalkan. Saking mudahnya bila satu jam saja jauh dari gadget hidup terasa kurang. Chatting bersama teman yang berada nun jauh disana lebih mengasyikkan ketimbang berbicara dengan teman sebelah. Jadi bukan keheranan lagi manakala melihat sebuah keluarga duduk dalam satu meja di sebuah tempat makan tetapi mereka tak saling bicara, mereka lebih asyik dengan gadgetnya masing-masing.

Pengaruh Internet  dan kebiasaan buruk Orangtua

Perkembangan dunia internet bak virus yang menyebar tanpa mengenal usia di era mobilisasi ini. Keberagaman social media dan konten yang menyerap berbagai macam informasi seolah makanan instan yang setiap saat setiap waktu dapat di nikmati, walau tentunya menyimpan efek negatif bila terus-terusan dikonsumsi. Laki-laki, perempuan, tua, muda, juga anak-anak tak ketinggalan menerjunkan diri serta berselancar merasakan sensasi dunia maya. Ditambah banyaknya gadget murah dipasaran dianggap sebuah keuntungan bagi konsumen.

Tablet, gadget, smartphone dan apalah namanya kini bukan lagi dianggap barang mewah. Hampir semua orang memiliki gadget. Tak terkecuali anak-anak. Alasan orang tua membekali gadget anak adalah supaya mudah dihubungi dan menghubungi.

Namun seiring munculnya smartphone yang dianggap lebih pinter daripada ponsel biasa membuat orang tua berbondong-bondong membekali anak-anaknya. Hal itu membuat alasan kemudahan hubungan menjadi melebar, ditambah lagi guru-guru disekolah si anak sering memberi tugas melalui email maka lengkaplah sudah alasannya. Orangtua merasa lebih nyaman bila anak-anak memegang gadgetnya sendiri. Harapannya supaya tak mengganggu kesibukannya sehari-hari juga si anak lebih mandiri dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah.

Tetapi, bukan anak-anak kalau tak memiliki akal pintar. Ajang coba-coba dan rasa ingintaunya lebih besar dibanding sekedar mengerjakan tugas sekolah. Di sela-sela waktunya mereka bisa membaca berita, mencari informasi, download game terbaru, hingga membuka situs-situs yang seharusnya belum boleh dibuka oleh mereka. Lebih-lebih ada jejaring sosial yang membuat anak ingin menjalin pertemanan dengan banyak orang.

Perkembangan inilah yang akhirnya membuat peran ibu sebagai orangtua terdekat anak-anak harus menunjukkan eksistensinya.

Kebiasaan anak dalam berinternet perlu diwaspadai. Tak jarang para orangtua membiarkan anaknya berlama-lama dengan internet dengan harapan mereka memahami kecanggihan teknologi baru supaya nantinya mereka tidak gagap teknologi. Sebab masih banyak orangtua yang belum mengerti benar apa itu internet sehingga mereka berharap anak nya lah yang harus lebih pintar dari orangtuanya. Sebaliknya, bila Orangtua yang kecanduan internet, anaknya yang akhirnya menjadi korban. Disaat orangtua sibuk dengan smartphonenya, si anak dibiarkan bersama pengasuh. Atau malah orangtua memberinya gadget supaya mereka punya kesibukan sendiri.

Gadget menjadi kesibukan anak-anak. Masih ada Orangtua yang memberi gadget kepada anak supaya mereka berdiam diri dirumah, tidak berkeliaran diluar Foto: Doc. pribadi
Gadget menjadi kesibukan anak-anak. Masih ada Orangtua yang memberi gadget kepada anak supaya mereka berdiam diri dirumah, tidak berkeliaran diluar
Foto: Doc. pribadi
Gadget dianggap media unik. Untuk menunjukkan keunikannya anak-anak suka menunjukkan isi gadget kepada teman-temannya Foto: Doc. pribadi.
Gadget dianggap media unik. Untuk menunjukkan keunikannya anak-anak suka menunjukkan isi gadget kepada teman-temannya
Foto: Doc. pribadi.

 

Sayang disayangkan sikap orangtua seperti ini. Padahal sikap ini secara terang-terangan telah menyuruh  anak untuk menutup diri dari lingkungannya. Orang tua tidak tau bahwa keasyikan anak-anak menggunakan gadget berdampak buruk pada kehidupannya secara nyata. Kalau dibiarkan terus menerus si anak bisa mengalami ketergantungan. Mereka akan marah bila tak ada gadget disampingnya. Karena keasyikan online mereka bisa lupa waktu makan, lupa tidur, bahkan malah lupa mengerjakan PRnya.

Riset membuktikan Trend Mobile Internet menjurus ke anak-anak

Menurut riset Unicef tahun 2012 yang disampaikan oleh Shita Laksmi pada Talkshow Dari Perempuan dengan Topik “Peran Orangtua mengatasi Trend Mobile Internet terhadap perkembangan anak” yang digelar pada 5 Juli 2013, di 1/15 Coffee Gandaria – Jakarta, Penggunaan PC sangat rendah dibanding penggunaan teknologi mobile dan social networking.

Sangat masuk akal, anak-anak lebih senang online menggunakan gadget karena dirasa keberadaan gadget lebih privasi. Mereka bisa bebas melakukan apa saja tanpa dilihat, dibaca dan diperhatikan orang disekelilingnya. Lihat saja bagaimana interaksi mereka bila sudah facebook-an  atau twitteran, terlebih jika sudah memiliki banyak follower. Mereka seperti lupa dengan dunia nyatanya. Hal ini sedikit banyak merubah gaya hidup serta kebiasaan perilaku sehari-harinya. Mereka menjadi asyik dengan dunianya sendiri.

Berbeda dengan PC, fitur yang minim serta layarnya yang lebar membuat anak-anak agak kesulitan ‘menebarkan pesona’nya. Salah satu alasannya takut dibaca orang tua atau saudara. Kegiatan inilah yang akhirnya membuat pengawasan orangtua menjadi terbatas.

Hampir sama dengan Riset Unicef,  Survei Norton pada 2010 juga menyatakan 96% anak Indonesia memiliki pengalaman buruk di Internet seperti pornografi, kekerasaan, perjudian serta konten-konten negatif.

Para perempuan yang antusias menyimak nara sumber, semua ini mereka lakukan demi menyerap ilmu untuk diaplikasikan kepada anak-anak. Sumber foto: Facebook Dari Perempuan
Para perempuan yang antusias mengikuti TalkShow, semua ini mereka lakukan demi menyerap ilmu untuk diaplikasikan kepada anak-anak. Sumber foto: FB DariPerempuan

Kesalahan-kesalahan yang dilakukan sebagian besar anak-anak Indonesia ini menurut hemat saya tak bisa sepenuhnya di limpahkan ke mereka, ini semua bisa terjadi juga disebabkan kelalaian pengawasan orangtua. Kurangnya komunikasi serta sedikitnya interaksi membuat mereka jauh dari pengamatan. Biasanya alasan utama yang dikatakan orangtua adalah sibuk hingga mereka tak memperhatikan kuantitas dan kualitas obrolan.

Peran Perempuan mengatasi Trend Mobile Internet

 Dari sekian banyak kasus penyalahgunaan internet, sebagian besar perempuan menjadi korbannya. Kejahatannya macam-macam. Mulai dari korban kekerasan, pelecehan hingga trafficking.

Seperti informasi yang pernah saya baca di buklet Internet Sehat, menurut laporan U.S National Violence Against Women Survey, Sebanyak 60% korban dari pengintaian di dunia maya alias cyberstalking adalah kaum wanita. Dizaman modern seperti ini wanita masih dianggap lemah bagi sebagian orang sehingga mereka dengan mudah terpedaya. Kurangnya pengetahuan menjadi salah satu akses masuknya pelaku kejahatan terhadap wanita.

Lalu bagaimana peran perempuan mengatasi Trend Mobile Internet terhadap perkembangan anak?

Menurut saya sebelum mengenalkan Internet kepada anak, sebaiknya para Ibu harus sudah membekali dirinya terlebih dahulu. Para Ibu harus mengerti apa itu internet, Bagaimana seluk beluk Internet, apa kegunaan Internet, baik buruknya internet, pengaruh Internet, serta konten-konten yang boleh/tidak boleh dibuka untuk usia anak-anak. Selain itu Ibu juga harus paham kapan usia anak-anak sudah diperbolehkan mengenal internet dan atau mobile internet.

Ada baiknya bila masih usia balita, mereka diperkenalkan gambar-gambar yang menarik agar merangsang perkembangan otaknya. Di usia ini biasanya mereka suka mengamati benda-benda yang ada disekelilingnya seperti mengenal jenis-jenis mobil, jenis-jenis hewan, jenis-jenis buah, dan sebagainya. Diatas usia 5 tahun mereka sudah mulai mengenal tulisan. Dari sini Ibu harus sering-sering mendampingi serta mendengarkan apa yang sedang mereka baca. Jangan biarkan si anak memegang gadget sendiri tanpa pendamping orangtua sebab diusia ini mereka belum mengerti fungsi gadget sebenarnya. Mereka hanya suka mengutak-atik untuk mencari sesuatu yang menarik.

Bila sudah berusia diatas 10 tahun mereka mulai memerlukan pembekalan diri. Karena tak jarang diusia ini pengaruh lingkungan lebih mendominasi sehingga mereka mudah sekali terpengaruh. Beranjak dewasa peran Ibu harus lebih intens. Ajakan berdiskusi harus sering-sering dilakukan. Namun lebih baik lagi bila Ibu bisa berperan menjadi orangtua juga sahabat.

Dengan modal dasar seperti ini diharapkan para Ibu sudah mengerti bagaimana harus menyikapi bila suatu saat anak-anak mulai terbiasa menggunakan Internet.

Sikap bijak mengatasi Trend Mobile Internet pada anak-anak

Penggunaan mobile internet kesannya lebih privasi. Bila si anak sudah diberi kepercayaan menggunakan gadget/tablet berarti orangtua harus berani menanggung resiko lebih besar dibanding saat mereka berinternet menggunakan PC. Bila anak sudah terbiasa berinternet menggunakan gadget, seorang Ibu harus lebih mawas diri. Ibu harus lebih meluangkan perhatiannya kepada mereka. Jangan sampai karena mobile internet anak-anak menjadi lupa diri, lupa orang disekitarnya, lupa lingkungannya dan lupa segala-galanya.

Lalu bagaimana peran Ibu dalam menjawab hal tersebut? Dibawah ini beberapa sikap bijak dalam mengatasi trend mobile internet terhadap anak:

  •  Melakukan Mobile Internet bersama anak
  • Terlibat online bersama anak. Termasuk berteman di jejaring sosial serta mengenal teman-temannya. Bila perlu mintalah username dan passwordnya agar memudahkan Ibu melihat aktifitas anak di jejaring tersebut. Supaya lebih mudah setting ‘remember me’ pada gadget agar Ibu bisa membuka sewaktu-waktu.
  • Memberi pengertian kepada anak terhadap baik/buruknya internet serta memberitau situs-situs apa yang boleh dan tidak boleh dibuka.
  • Ibu harus menegur secara baik-baik bila anak terlihat asyik seperti senyum-senyum sendiri saat dihadapan gadget. Katakan bahwa menegur bukan berarti memarahi.
  • Memberi anak batasan waktu menggunakan gadget
  • Beri pengertian kepada mereka untuk selalu berhati-hati dalam berteman di jejaring sosial dan jangan mudah memberi data-data pribadi kepada teman-temannya.
  • Ibu mampu berperan ganda, menjadi orangtua sekaligus sebagai sahabat anak saat ber-mobile internet.
  • Bila sikap anak terlihat salah tingkah, Ibu harus segera cari tau penyebabnya
  • Saat menggunakan gadget, usahakan mereka tidak sendirian ditempat yang sepi. Anjurkan mereka bermain gadget diruang bersama.
  • Sering mengadakan diskusi terbuka atau menanyakan aktifitas apa saja yang dilakukan seharian
  • Ajak anak-anak untuk banyak berinteraksi di dunia nyata, berilah waktu seminim mungkin menggunakan gadget.
  • Ibu menyediakan waktu luang untuk anak-anaknya sebagai bukti perhatian terhadap mereka.
Contoh perempuan  mendidik anak untuk mengatasi  Trend Mobile Internet. Sumber foto dari Facebook Dari Perempuan
Contoh perempuan mendidik anak untuk mengatasi Trend Mobile Internet. Sumber foto: FB DariPerempuan

Kesibukan Ibu tak hanya menunggui anak-anak, tetapi ada banyak pekerjaan lain yang harus segera diselesaikan. Untuk menghindari hal-hal negatif terkait mobile internet terhadap perkembangan anak alangkah baiknya bila Ibu memberikan kepercayaan kepada mereka, tetapi dengan catatan kepercayaan itu tak boleh disalahgunakan. Dengan kepercayaan itu diharapkan suasana keluarga terasa lebih harmonis dan si anak juga menghormati kepercayaan Ibu sebagai orangtuanya.

Bu TV

Kemarin saya ketemu Bu TV.

Bu TV, Begitu saya memaanggil.

Sebutan Bu TV tidak ada keterkaitan inisial namanya. Sebutan itu juga tidak ada hubungannya dengan pemilik banyak TV, lebih-lebih pemilik stasiun TV. Tapi saya menyebut begitu karena Bu TV adalah petugas yang menarik pajak TV zaman saya belum sekolah dulu.

Waktu saya kecil, saya sering melihat Bu TV mengetuk dari satu rumah ke rumah yang lain setiap sore di awal-awal bulan. Memakai bawahan coklat tua serta atasan coklat terang dengan lambang TVRI, Bu TV telaten memasuki rumah tetangga. Ada yang ramah mempersilahkan Bu TV masuk tapi ada juga yang menutup pintu sebagai penolakan halus. Salah satunya rumah saya yang masuk golongan penolakan.   

Setiap awal bulan, Ibu saya sudah mewanti-wanti kepada anak-anaknya, kalau lihat Bu TV nagih iuran, segera tutup pintunya. Atau kalau Bu TV masuk, bilang Ibu tidak dirumah.

Sebenarnya penolakan Ibu saya itu beralasan. Sebab saat itu kami memang memiliki TV hitam putih layar 14’ yang kondisinya rusak dan sering ngamar di tempat service. Atau kalau sedang normal TV disekolahkan di kantor pegadaian sehingga meskipun di bukunya Bu TV ada nama orangtua saya, tapi fisik dirumah tidak ada, makanya Ibu saya malas bayar iurannya.

Lucunya kami percaya saja apa yang dikatakan Ibu. Setiap kali kami tanya kenapa TV itu harus disekolahkan, jawaban Ibu saya terdengar klise, supaya pinter!

Tapi ujung-ujungnya tetap bayar iuran juga meskipun dobel.

Setelah beberapa lama berada dalam ketidak pastian akhirnya Bapak membeli TV warna kondisi second yang bisa dipakai nyetel saluran TV swasta. Gara-garanya sih sepele, kalau tidak salah ingat supaya bisa nonton siaran langsung piala dunia yang jam tayangnya dini hari. Katanya TV hitam putih yang lama tidak bisa dipakai nonton saluran lain selain TVRI. 

Nah pas bu TV nagih, ketahuan kalau TV saya baru. Jadilah tagihan iurannya nambah. Yang awalnya iuran senilai TV hitam putih, berganti iuran senilai TV warna.

Dan nyatanya kondisi TV warna second itu sebelas dua belas. Di pakai nyetel TV swasta sih bisa, tapi warnanya suka gak mau muncul. Kadang warna kadang hitam putih. Malah kadang sudah disetting warna sampai full pun gambarnya tetap hitam putih.

Sebel, kan. TV warna yang hitam putih tapi bayar iurannya seharga TV warna. Awal-awalnya dibayar sama Ibu saya, tapi lama-lama kok eman-eman.

Saat ditagih Ibu saya bilang ke Bu TV bahwa TVnya bukan warna tapi hitam putih, jadi minta supaya iurannya diturunin.

Bu TVnya sih sempat tidak percaya. Tapi waktu diperlihatkan *untung warnanya gak muncul*, Bu TVnya percaya.

Lagi-lagi saat jadwalnya Bu TV narik iuran, Ibu saya segera memberitau kami, kalau ada Bu TV nagih dan kami sedang nonton TV, trus TVnya muncul warna, cepat-cepat matikan TV. Atau setting warnanya diganti hitam putih supaya Bu TV lihatnya TV kita hitam putih.

Tapi lama-lama Bu TV maklum akan keadaan TV kita. Dan meskipun Bu TV datang narik iuran lalu melihat TV itu tampilannya warna, Bu TV maklum. Tagihannya tetap TV hitam putih 😀

Tak lama kemudian Bu TV sudah tak pernah lagi keliling narik iuran TV. Konon kabarnya pajak TV dihapus jadi mau punya TV berapapun sudah tak dikenai iuran lagi.

Hingga sekarang kalau ketemu Bu TV saya geli sendiri. Kalaupun menyapa, tetap saya panggil dengan sebutan Bu TV.

“Monggo, Bu TV..”

Fenomena novel difilmkan

Kalau diperhatikan fenomena novel di filmkan sedang in. banyak film Indonesa diadaptasi dari novel dalam negeri. Entah karena cerita novel lebih menjual atau sekedar ingin mendompleng judul novel yang sudah best seller sehingga nantinya promosi film itu lebih gampang diterima oleh masyarakat. Dan itu sebuah ide yang bagus supaya keberadaan penulis di Indonesia lebih di kenal dan dihargai oleh masyarakat, disamping untuk menggugah kembali semangat mereka akan kebiasaan membaca, lebih-lebih menulis.

Walau sebenarnya saya lebih suka kalau novel yang difilmkan itu memang benar-benar sastra yang apik sehingga sebagai apresiasianya novel-novel itu layak didokumentasikan.

Terus terang, seandainya tidak ada penggagas memfilmkan cerita di novel, niscaya film-film kita akan terus berputar disekitaran genre horor dan sensualitas saja. Sangat disayangkan mengapa film-film horor yang selama ini beredar di layar lebar Indonesia lebih banyak menjual sensualitasnya saja ketimbang isi ceritanya sendiri. Tak perlu saya sebutkan judul filmnya yang pasti film-film horor keluaran negeri ini masih berada di level ‘murahan’. Antara judul dan isi cerita sangat tidak relevan, malah terkesan ‘asal jadi’ dan mudah ditebak endingnya sambil merem sekalipun.

Tak perlu juga saya bandingkan antara film horor produksi kita dengan film horor produksi barat yang sudah mendunia itu sangat jauh berbeda. Barangkali faktor permodalan dan kreativitasnya yang sulit diraih sehingga film-film kita memberi kesan monoton.

Kembali lagi ke novel..

Ada cukup banyak karya sastra kita yang dibioskopkan walau terkadang masih ada efek didramatisir supaya lebih memacu jantung penonton. Bagi saya sih boleh-boleh saja, terserah sang sutradara, tapi alangkah baiknya bila efek dramatisir itu dibuat lebih natural dan tidak mengada-ada.

Sebagai penikmat novel saya lebih suka kalau novel yang difilmkan itu sama persis ceritanya dengan yang ada dinovel. Sehingga antara membaca di novel dan menonton filmnya, sensasinya bisa berbeda meski ceritanya sama.

Ada beberapa film yang keluar setelah saya membaca novelnya. Tapi ada juga film yang ditayangkan sebelum saya baca novelnya.

Jeleknya saya, kalau sudah membaca novelnya kemudian nonton filmnya yang ternyata ada kemelencengan cerita, secara spontan saya langsung protes. Apalagi ceritanya didramatisir dan dibuat-buat. Rasanya kecewa sekali.

Sebaliknya, kalau saya sudah nonton filmnya, tapi belum baca novelnya, lalu ceritanya terus membekas dikepala saya, besoknya saya langsung membeli novel itu. dan lagi-lagi jeleknya saya, suka membandingkan antara cerita di novel dan di film. Kalau tidak sesuai ya protes lagi. *Mohon maklumi penonton cerewet satu ini* 😀

Sebagai contoh fenomena novel difilmkan yang pernah saya lihat, tapi saya protes 😀

Novel Ayat-ayat Cinta. Setelah menyelesaikan novel ini saya begitu terkesima. Jalan ceritanya bagus, penulisannya bagus, endingnya juga luar biasa. Habis baca novel ini imaginasi saya seolah sedang di Mesir, membayangkan indahnya suasana kota Mesir dengan penduduknya yang humanis dan rasa kekeluargaan yang dimiliki para Mahasiswa Indonesia di Mesir. Begitupun kisah cinta segitiga antara Maria, Aisha dan Fahri yang begitu romantis dan islami.

Tapi begitu melihat filmnya, dimana sedari awal saya berharap lebih, minimal sama, seperti yang ada dinovel, tiba-tiba  lenyap begitu saja. Film AAC jauh dari bayangan saya. Setting Mesirnya kurang, pemeran Aisha nya kurang sesuai dan lagi ceritanya banyak dibuat-buat. Seperti saat Maria sakit. Dinovel Maria sakit karena memikirkan Fahri, sedangkan di film dia sakit karena ditabrak mobil. Gak sinkron sama sekali.

5 cm. Jujur saja saya belum pernah nonton 5 cm. Padahal pada awal-awal tayang saya ingin sekali nonton film itu. Bahkan kalau disuruh milih antara 5 cm dan Habibie Ainun yang rilisnya hampir barengan, dengan semangat saya milih 5 cm!. Apalagi kesan teman-teman yang sudah nonton film ini menyatakan bagus, saya jadi makin penasaran.

Namun keinginan nonton saya terpatahkan dengan penasaran saya membaca novelnya. Waktu itu saya pikir belum afdol rasanya kalau nonton film 5 cm tapi belum baca novelnya. Dengan kesan yang saya dapat dari teman-teman, cerita novelnya pasti akan lebih bagus dan lebih detail.

Sayangnya, begitu membaca novel, baru juga mulai di halaman pertama, kok saya tidak mendapatkan ‘roh’nya sama sekali. Rasanya tulisan Donny Dhirgantoro ini kurang mengena sama sekali. Ditambah lagi, di buku itu Donny banyak mengutip lirik-lirik lagu inggris yang sama sekali saya tidak tau dan tidak kenal. Jadi aneh sendiri bacanya.

Akhirnya, buku itu tetap saya baca sampai habis, tapi tidak bisa saya nikmati. Ibarat makan nasi, nasi itu masuk keperut tapi tidak nikmat dilidah. Kecewalah saya, dan memudarlah niat saya untuk menonton filmnya (gak nolak juga sih kalau dikasih gratisannya)

Namun kekecewaan saya terbayar sudah dengan hadirnya film RECTOVERSO. Film yang sebelumnya sudah saya baca ceritanya sebagian ketika di toko buku itu sangat memukau. Antara novel dan filmnya sangat pas. Saya pikir sutradara sangat pintar mencari pemain yang sesuai dengan karakter yang di buku. Ekspresi pemainnya bisa mewakili gaya penulisan Dee.

Saya sendiri berharap semoga kedepannya nanti semakin banyak film-film Indonesia yang berkisah tentang kehidupan apa adanya. Boleh-boleh saja fantasi, tapi mbok ya yang masuk akal. Bukan sekedar menjual peran dan mengobral daya khayal tinggi saja, tapi diimbangi kisah realistis. Kasihan penontonnya, sudah mahal-mahal bayar tiket tapi yang didapat jauh dari harapan ^_^

Nasib HP Second

Kali ini saya menceritakan kembali tentang kebiasaan saya memperhatikan penampilan dan mendengarkan orang lain bicara. Entahlah mengapa saya begitu tertarik dengan hal-hal seperti itu apalagi kalau pembicaraan mereka berkaitan dengan informasi yang sedang hangat atau cerita kehidupan yang mengandung hikmah.

Kejadian itu terjadi saat saya berniat mengisi pulsa di sebuah counter penjualan hp dan pulsa didekat kantor. Saat saya datang dicounter itu sudah ada pembeli laki-laki yang sepertinya membeli kartu perdana dan dilayani oleh pegawai counter. Di counter itu selain pegawai yang melayani itu ada pula seorang bapak yang duduk dibelakang meja yang sepertinya seorang pemilik counter tersebut.

Tak begitu lama menunggu sang pemilik counter menyuruh pegawainya untuk mendahulukan saya. Saat si pegawai menunggui saya menulis no HP yang akan diisi pulsa, sang pemilik counter berdiri lalu membantu melayani pembeli laki-laki yang membeli kartu perdana tadi.

Sambil menunggu si pegawai mencet-mencet HP tanda sedang mengetik sms mengisi pulsa, saya mendengar pembicaraan antara pembeli laki-laki disebelah saya dan bapak pemilik counter. Awalnya saya tidak begitu tertarik dengan obrolan mereka, tetapi saat sang pemilik berkata dengan suara keras barulah saya  ke mulai tertarik untuk mendengar dan memperhatikan topik yang sedang mereka bicarakan.

“Sampean beli HP ini, Mas?” seru pemilik counter. Seruannya itu terus terang membuat saya kaget, begitu juga dengan pembeli laki-laki itu. Kekagetan kami sepertinya beralasan sebab kami datang ke counter ini hanya ingin membeli pulsa dan bukan untuk pamer hp.

“Sampean beli HP ini berapa?” tanya pemilik counter sambil membolak-balik HP No*** seri 62** second yang sudah tidak mulus lagi.

“Seratus lima puluh ribu, Pak” jawab laki-laki itu datar.

“Waduh, Mas, sampean kemahalan belinya! HP ini tadi di jual ke saya seharga 80 ribu aja saya tolak”.

Batin saya, siapa juga yang mau jual hp itu ke bapak.

“Kenapa nggak mau, Pak?” tanya si pembeli itu.

“Sini saya kasih tau alasannya..” sambil si bapak membuka casing belakang HP lalu menyisipkan sim card yang baru dibeli didalamnya. “Ini pecah, Mas” si bapak menunjukkan bodi bagian bawah HP yang cuil sedikit. “Yang pecah ini bukan casingnya loh tapi bodinya” sambil si Bapak menunjukkan tempat yang rusak.

Saya yang awalnya berdiri agak jauh pelan-pelan mulai tertarik untuk mendekati pembeli laki-laki itu sambil melihat dan mendengarkan penjelasan dari pemilik counter. Begitu juga dengan pegawai yang melayani saya tadi juga ikut mendekat ke bosnya. Rupanya hal-hal aneh seperti ini mampu menarik orang untuk mencari sebab musababnya, ya..

Biar bagaimana dia adalah penjual HP, tentunya sedikit banyak mengerti seluk beluk ponsel.

“Trus Flash kameranya rusak” lanjut si pak Bos seraya menunjuk kamera. “Okelah barangkali tak seberapa masalah kalau flashnya rusak asal masih bisa dipakai memotret” lanjutnya.” Tapi kalau volume suaranya kecil meski sudah di maksimalkan, gimana? Ini nih dengarkan..” si Bapak menyalakan nada dering.

Seketika saya, pemilik hp, dan si pegawai bebarengan mendekatkan telinga ke hp tersebut. Persis anak kecil yang baru saja menemukan mainan unik, semua dibuat penasaran.

“Nggak kedengaran, Pak” akhirnya saya turut andil dalam obrolan.

“Dengar, mbak, tapi kuuecil” kata si pemilik hp.

Saya manggut-manggut, setuju.

“Lho, Bapak kok tau kalau Mas nya ini baru beli hp?” tanya saya kepada sang Bos. Investigasi dimulai hihi..

“Ya tau dong, Mbak, lha wong tadi yang punya HP ini mau jual ke sini. Tapi saya tolak”

“Kenapa ditolak, Pak?”

“ya nggak berani aja Mbak, lha kondisinya seperti itu..”. “Awalnya dia mau jual hp itu 150ribu. Lalu saya tawar 100ribu dengan syarat saya cek dulu kondisinya. Sama yang punya dikasih. Nah setelah saya cek dan ternyata hasilnya seperti itu saya tawar lagi 80ribu. Dan di kasih sama dia. Setelah nawar 80ribu saya pikir-pikir lagi kondisinya, akhirnya saya memutuskan tidak berani membeli”

“Wah saya kena tipu dong, Pak” kata pemiliknya

“Sampean gak kena tipu, Mas. Salahnya sampean sewaktu beli HP tadi kenapa tidak dicek”

“Soalnya saya sedang nggoreng, Pak. Jadi saya nggak memperhatikan betul-betul”

“Sampean tinggal dimana sih Mas?”

“Di sana, Pak. Saya jual gorengan Bandung” jawab si pemilik HP sambil tangannya menunjuk ke satu arah.

“Sebetulnya dengan harga 150ribu sampean nggak rugi, Mas. Karena memang pasarannya HP itu secondnya segitu, tapi kalau dengan kondisi normal”

Laki-laki itu diam dan termenung. Dan saya kok ikut-ikutan iba melihatnya.

“Lain kali kalau beli HP second hati-hati, Mas. Dicek dulu kondisinya” kata sang Bos.

Sebelum meninggalkan counter, saya kok merasa bahwa seharusnya si pemilik counter itu nggak perlu menceritakan secara detail kepada si pemilik. Ya memang sih memberi informasi yang baik boleh-boleh saja tapi kembali lagi ke status HP itu. HP itu kan sudah dibeli dan gak mungkin dikembalikan lagi sama yang punya. Dan lagi antara pemilik HP dan si Mas yang jual gorengan kan gak saling kenal, trus harus mencari kemana dong?

Kasihan si Masnya, jadi ‘gelo’ dan merasa ditipu. Padahal kalau dipikir-pikir yang salah bukan si penjual HP tapi karena keterbatasan informasi dan budget yang dimiliki si pembeli.

 

 

In Memoriam Procie AMD Barton

Saat mencintai sesuatu terkadang orang tak pernah berpikir sebab akibatnya. Yang penting suka, yang lain mah lewaat..

Kejadian ini pernah terjadi beberapa tahun lalu di sebuah Toko Komputer. Dimana toko itu adalah customer saya yang ketika itu saya bekerja di sebuah Distributor pemegang merk sparepart Komputer yang juga menjual Processor, Motherboard, Memory, dan lain-lainnya.

Pada waktu itu penjualan Komputer masih menggunakan Procesor kelas Pentium (paling tinggi Pentium 4) dan AMD socket A / 462.

Mengenai Komputer sendiri, CPU Pentium yang Procesornya merk Intel sudah biasa dibeli orang. Namun yang tidak biasa dibeli adalah Komputer dengan Procesor menggunakan merk AMD. Konon  CPU AMD gencar dibeli oleh para penggemar gamer sejati. Dan biasanya mereka juga menambahkan CPU itu dengan Video Card (VGA) supaya kinerja CPU semakin Oke.

Customer saya itu rata-rata pemilik toko dan ngakunya gamer sejati. Mereka paling suka ngomongin Procesor AMD dan kehebatan VGA pada type-type tertentu.

Untuk diketahui Procesor AMD untuk socket A / socket 462 ada beberapa macam yaitu:

Generasi kedua AMD Athlon Thunderbird, Generasi ketiga AMD Athlon XP Palomino, Generasi keempat Athlon XP Thoroughbred, dan Generasi kelima Athlon XP Barton yang memiliki kapasitas mulai dari 2500 +, 2600 +, 2800 +, 3000 +,  hingga 3200 +

Bila ada barang masuk terutama Processor AMD kecepatan 2.500+ selalu jadi ajang rebutan. Konon Processor AMD Barton kapasitas 2.500+Ghz bisa di over clock sampai maksimal 3.000+ Ghz! bahkan lebih.

Seperti inilah penampakan Procesor AMD Athlon XP Barton 2500+ (foto diambil dari ebay)
Seperti inilah penampakan Procesor AMD Athlon XP Barton 2500+ (foto diambil dari ebay)

Barang aneh lain yang jadi incaran adalah VGA AGP seri 9800GT 512 MB. Saking gilanya dengan barang-barang itu mereka gak segan-segan nyetock barang.  Berapapun barang yang masuk diambilnya semua. Mereka gak mikir barang sebanyak itu akan dijual kemana dan berapa tagihan yang harus dibayarnya!

Penampakan VGA AGP 9800 Pro 128. gambar dari google
Penampakan VGA AGP 9800 Pro 128. gambar dari google

VGA AGP 9800GT 128MB bisa diover clock menjadi 512MB. Meskipun resiko over clock adalah garans hilang tetapi justru CPU yang memiliki spesifikasi seperti ini yang banyak dibeli para gamer! #Aneh# 😀

Padahal tindakan meng over clock akan beresiko besar, mulai terbakar sampai Processor / VGA itu mati! Tapi herannya mereka biasa aja malah menganggap kalau hal itu biasa terjadi. Asal tau aja ya harga Processor Barton saat itu perbijinya 2 juta lebih! Dan harga VGA sendiri diatas 1,5 juta! (Padahal sekarang ini Processor dan VGA dengan kapasitas 1GB harganya berkisar dibawah sejutaan, tergantung typenya)

Ada beberapa toko yang mengincar barang ‘aneh’ ini. Siapa cepat dia yang dapat. Memang kedua barang ini masuknya tidak banyak, sekali masuk paling banyak 20 unit saja, meskipun begitu semua barang itu tidak serta merta diambil, menurut mereka ada beberapa Processor dan VGA yang memiliki kode-kode tertentu pada fisiknya dan konon bisa di over clock hingga kecepatan maksimal.

Yang membuat saya heran adalah ada toko yang tidak mau melayani pembelian CPU dengan Processor Intel di tokonya! Kalau ada pembeli yang masuk ke tokonya ‘dilarang’ menyebut kata Intel. Pokoknya harus AMD! Kalau perlu dia harus rela berbusa-busa menerangkan kehebatan Processor AMD! Kalau usernya gak mau beli CPU AMD sama dia juga gak akan dilayani..

Anggapan mereka bahwa barang siapa yang membeli CPU dengan procesor Intel dianggap tidak gentle alias Processornya b*nci! Nah Lo.. 😀

Sampai heran saya melihatnya. Kalau dipikir-pikir kenapa orang beli harus ditolak. Seandainya dia gak mikir ego, tetap aja dilayani kan, toh dia sendiri yang nanti dapat untung , ya nggak?  Ngapain juga orang beli CPU ditolak? Bukankah hal itu akan menguragi omzet penjualan, atau malah namanya menolak rejeki?

Tapi yah mau gimana lagi, yang penting barang saya laku hihi..

Barangkali postingan ini adalah postingan penuh memorial bagi saya dan mungkin bagi para pembaca yang dulu pernah memiliki CPU AMD socket A / 462. Processor ini ramai di pasaran kisaran tahun 2003 yang kemudian sering diuji cobakan oleh para gamer.

Atau bila ada yang pernah jalan-jalan di Pameran Komputer lalu melihat sebuah CPU dengan casing transparan dengan lampu menyala lalu ditengah-tengahnya terdapat fan besar atau bahkan air mengalir dari selang, itu merupakan CPU yang sudah diover clock. Mereka sengaja menggunakan air sebagai suhu di CPU tidak panas. (memang kekurangan Processor merk AMD  socket A ini adalah mudah panas). Biasanya CPU model aneh begini sengaja dipamerkan oleh brand-brand motherboard saat pameran berlangsung.

Memang sih kejadian ini sudah sangat lama terjadi, tetapi kalau saya ingat akan hal itu rasanya jadi tertawa sendiri. Dan saya sendiri yang malah menganggap orang-orang itu dengan orang aneh 😀

Nah zaman sekarang perkembangan Processor AMD sudah berbeda dengan zaman dulu. Walaupun harganya masih lebih murah dengan harga Processor keluaran Intel yang jelas Processor AMD sudah gak sepanas dulu. Begitu pula dengan kinerjanya, gak kalah deh sama merk Intel.

Jadi bagi para penganut extreem merk Intel sekarang lah saatnya mencoba CPU AMD. Processor AMD sekarang perkembangannya semakin pesat. Apalagi jika disandingkan dengan VGA keluaran Nvidia maupun ATI Radeon hasilnya dijamin maksimal. Buat Game oke, buat kerja design juga maknyus 😀

Gak percaya? Coba perhatikan brosur laptop bila sedang jalan-jalan di toko komputer. Pada semua merk Laptop baik ASUS, ACER, Lenovo, HP, Compac, Vaio, hingga Axioo sekalipun yang konon penganut berat faham Intel sekarang juga turut serta merilis Laptop dengan Procesor AMD.

Malahan untuk Laptop yang menggunakan Procesor AMD sudah terpasang Video Graphic  NVIdia / Ati Radeon juga. Bandingkan dengan laptop yang menggunakan Processor Intel, Video Graphicnya pasti menggunakan Intel juga, hanya beberapa saja yang menyandingkannya dengan VGA Nvidia / Ati Radeon. Namun yang pasti jatuh-jatuhnya harga menjadi lebih mahal 😀

Untuk diketahui saja, Bila ada yang membeli laptop menggunakan Processor dengan tulisan: AMD C60, AMD C70, AMD E300, AMD E450, AMD E1800 dan dibelakangnya ada embel-embel ‘Dual Core’ maka jangan salah terka bahwa itu merk Intel. Embel-embel Dual Core digunakan untuk Processor yang kecepatannya diatas 1 GHz baik merk Intel ataupun AMD.

Go Top