Pengalaman pertama belanja online

Membeli barang di toko online pernah saya lakukan sekali. Waktu itu ada customer yang ingin membeli Monitor LCD merk Sa*sung layar 23 inch.

Bekerja di toko komputer, mencari spare part adalah tugas saya, karena toko di tempat saya bekerja tidak menyediakan barang. Akibatnya bila ada yang ingin membeli barang mereka harus memesan dulu melalui chatting atau telpon. Bagi yang sudah langganan mereka terbiasa dengan keadaan ini disamping mereka bisa menawar harga, barang yang saya kasih pun garansinya baru (garansi per tanggal pembelian) karena saya pesankan dulu melalui distributor.

Seperti biasa customer itu tanya-tanya dulu. Punya LCD Monitor Sa*sung 23’ nggak? Typenya apa? Harga berapa?

Mendapat pertanyaan yang bertubi-tubi itu seringnya saya jawab singkat dan padat: “Saya cek dulu ya”

Merekapun mahfum.

Segera saja saya menghubungi seluruh pemegang Monitor merk tersebut. Dari mulai kelas Distributor, Master Dealer hingga Dealer, semua saya hubungi untuk menanyakan ketersediaan barang dan harga yang paling murah.

Sayangnya dari kesemuanya itu mengatakan barang yang saya cari sedang kosong. Bahkan mereka juga mengatakan stock di Jakarta juga sedang kosong.

Kalau sudah begini langkah saya selanjutnya adalah menawari customer itu dengan stock barang yang sedang ready di Surabaya, misalnya ada ready  layar 22, ya itu saya tawarkan’.

Namun usaha tawar menawar itu gagal karena customer saya maunya yang 23’. Tak mau pasrah meninggalkan customer, sayapun berusaha mencari cara lain yaitu browsing di toko online.

Lucu sih sebetulnya. Saya jualan komputer tapi malah nyari ditoko online yang harganya diatas harga yang seharusnya saya dapatkan. Apalagi untuk dijual kembali. Bisa saja saya tawarkan ke customer dengan harga mahal tapi saya takut kalau customer itu gak jadi beli. Kalau sekedar gak jadi sih gak masalah, kalau toko saya di cap mahal? Tapi saya pikir, apa salahnya dicoba, namaya juga usaha?

Namun lagi-lagi usaha saya gagal karena di toko-toko online yang masuk jajaran halaman pertama google, rata-rata hasilnya tak memuaskan saya. Mulai link yang error, link yang diklik tak ditemukan, hingga link terbuka namun harga yang tertera jauh lebih mahal.

Ditengah kebuntuan, saya tanya ke teman-teman dan bos yang rajin buka internet, dimana toko komputer online yang menjual LCD 23’. Dari mereka biasanya saya dapat informasi serta memberi link alternative untuk saya kunjungi, karena mereka aktif di forum.

“Coba buka ent*r computer.com, disana barang-barangnya lengkap” kata Bos saya.

Mendengar namanya saya sedikit ragu, sebab selama ini toko online yang sering jadi perbincangan adalah toko itu-itu aja. Sedangkan nama toko ini baru sekali ini saya dengar. Dan lebih ragu lagi, pendengaran saya yang salah atau Bos yang salah nyebutin webnya karena saya tulis ent*rcomputer.com, yang muncul toko komputer luar negeri. Rupanya saya yang salah ketik, harusnya ent*rkomputer.com.

Begitu terbuka, halaman depannya berisi promo produk murah. Di bagian atasnya tertera alamat, no telpon dan YM. Selanjutnya ada kolom-kolom petunjuk jenis-jenis produk yang ingin kita cari.

Langsung saja saya klik bagian kolom LCD.

Daan.. betapa senangnya, dihalaman itu terpampang semua jenis, ukuran, type, dan merk LCD Monitor. Tampilannya berbaris persis pricelist sehingga memudahkan saya mencari barisan merk yang ingin saya beli.

Barisan harga itu tanpa gambar dengan spesifikasi seadanya. Harga yang tertera juga sangat murah. Saya yang setiap hari berpegang harga distributor aja masih kalah dibanding toko ini. entah kenapa harga-harga yang tertera rata-rata adalah harga dealer. Malah beberapa diantaranya dibawah standart harga dealer.

Bukan kesenangan, saya malah takut. Ini beneran toko online apa sekedar nampang harga doang. Malah-malah toko ini fiktif yang menawarkan harga murah kemudian berujung.. ah saya tidak mau berandai-andai. Namun ketakutan itu saya halau karena toko ini menyebutkan alamat. Jadi tidak mungkin kalau toko ini fiktif.

Lebih girang lagi, saat saya bertanya LCD 23’ melalui layanan chatting, si CS menyatakan barang ready.  Sayangnya layanan mereka sedikit lamban. Dari 6 CS yang tersedia, hanya 2-3 saja yang online. Setelah nge-BUZZ berkali-kali dan menunggu sekian jam (jam loh, bukan menit) baru salah satu dari mereka menjawab (Sengaja saya BUZZ semua CS yang online dengan harapan mana yang duluan balas dia yang saya orderi). Untungnya si CS tersebut enak diajak ngobrol. Bahkan dia menyarankan untuk packingan LCD dialas pakai kayu supaya aman. Ah, solusi yang jitu, saya aja gak kepikiran sampai kesana.

Akhirnya terjadilah transaksi. Seperti harapan saya barang sampai dalam waktu 2 hari.

Saya senang belanja online di sini karena selain barang-barang yang dijual sangat lengkap, harga yang ditawarkan termasuk murah. Namun yang jadi kendala adalah kurangnya layanan informasi.

Saya contohkan toko komputer di Surabaya yang rata-rata buka jam 9-10 pagi, maka jam segitu  YM mereka langsung nyala. Namun di ent*rkomputer ini hingga jam 10 lebih, layanan chatting belum ada yang nyala. Saya berpikir, apakah toko komputer ini belum buka? Atau sudah buka tapi YMnya belum dinyalakan?

Sayang kan kalau ada yang beli harus ketahan, namanya juga toko online pastinya YM adalah sarana termudah yang bisa diakses.

Seperti saya yang ada di Surabaya, gak mungkin kalau harus interlokal telpon kesana, walaupun saya butuh banget barangnya. Kalaupun ada No GSM tapi khusus untuk layanan SMS aja. Pun saya coba SMS juga gak dibalas-balas.

Walaupun hanya sekali bertransaksi saya jadi sering berkunjung kemari. Setiap membuka halaman web ini untuk mengecek harga,  seringkali saya mendapati YMnya CS hanya beberapa yang online. Mungkin saja si CS kebanjiran order sehingga harus jawab sana jawab sini. Kalau sudah begitu kenapa layanan CS lainnya tidak dibuka sehingga kami, para calon pembeli dapat segera bertransaksi.

Jangan rusak hubungan ini

Menjadi karyawan yang sudah bekerja sekian tahun serta setiap hari bertemu teman-teman yang sama membuat hubungan saya dengan karyawan lainnya ibarat dulur ketemu gedhe alias akrab dengan sendirinya.  Kesamaan nasib dan pengalaman membuat dinding tinggi yang awalnya terpisah secara pelan-pelan menyatu menjadikan hubungan erat bak kakak dan adik.

Sebut saja namanya Bulan. Usia yang terpaut 2 tahun, membuat saya memanggilnya Mbak Bulan, walaupun kalau secara hitungan kertas saya yang lebih lama bekerja dibanding dia. Kepintarannya berbicara dan mengerti keinginan satu sama lain membuat saya suka bila berdekatan dengannya. Tak hanya saat bekerja, diluar jam kantor pun kami sering bertemu dan berlama-lama ngobrol melalui telepon. Seringnya sih Mbak Bulan dulu yang menelpon saya untuk curhat masalah cowok, menurutnya saya bisa membaca kemauan cowok karena dianggapnya saya sudah menikah, sedangkan dia belum.

Hingga suatu hari, tepatnya sebelum libur lebaran, saya ijin tidak masuk karena membuat kue lebaran untuk dibawa mudik ke rumah mertua. Supaya tidak jadi masalah, saya ijinnya tidak terus terang beralasan bikin kue, namun alasan lain yang lebih masuk akal. Yang tau saya bolos bikin kue hanya Mbak Bulan saja, teman-teman lain tidak tau.

Esoknya ketika saya masuk, suasana kantor berubah drastis. Entah kenapa teman-teman semua pada gak ngajak ngomong saya termasuk Mbak Bulan. Gak mau berprasangka buruk saya pun menganggap biasa aja, seperti tak terjadi apa-apa. Tapi makin saya buat biasa makin lama mereka ini makin menjengkelkan. Ditanya baik-baik jawabannya singkat, kayak saya ini musuh dalam selimut. Akhirnya saya memilih diam dan aktifitas seperti biasanya.

Saat Bos datang kekakuan kami bukannya mencair, tapi makin menjadi. Saya jadi bingung, ada apa sebenarnya..

Lalu saya dipanggil Bos keruangannya. Saat ini pun saya tak menganggap hal itu aneh karena bos sering memanggil saya mengajak ngobrol dan diskusi panjang lebar. Begitu saya duduk dihadapannya, Bos langsung berkata: “Bulan ini kamu terakhir kerja disini”

Seperti badai besar menghantam karang saya kaget. Saya jawab: “Masalahnya apa, Pak?”

Setelah diam beberapa saat, bos berkata: “Kemarin kamu nggak masuk bikin kue, ya?” sambil tatapan menyelidik. Jelas saya kaget, padahal kemarin saya ijin gak masuk dengan alasan ada urusan keluarga, kenapa sekarang dia tau saya gak masuk karena bikin kue.

“Kalau iya, kenapa Pak?” tantang saya balik. “Bikin kue kan termasuk urusan keluarga”. Si Bos diam. Lalu dia bilang akibat saya gak masuk sehari tokonya merugi. Saya jawab begini: “Pak ditoko ini yang bagian jualan bukan hanya saya, lagian besok sudah lebaran, lihat aja toko-toko sebelah sudah pada tutup. Tapi Bapak aja yang bertahan buka. Kalau memang kemarin saya dilarang bolos, kenapa Bapak gak balas SMS ijin saya? Karena bapak gak balas saya anggap ijin saya disetujui, seperti ijin yang  kemarin-kemarin mana ada Bapak balas SMS ijin saya, toh Bapak gak semarah ini..”

Debat kusir kami berlanjut. Bahkan si Bos menuduh yang nggak-nggak. Katanya saya suka ngasih harga modal ke kompetiter, dia juga menyalahkan saya karena sering berhubungan dengan teman-teman mantan karyawannya, dan tuduhan-tuduhan lain yang justru makin terdengar gak masuk akal.

Kali ini saya gak mau balas, saya pikir buat apa berdebat dengan orang macam ini. Saya dengarkan apa aja dia ngomong. Yang kemudian saya tutup dengan pertanyaan: “Itu semua kata siapa?” Dia diam gak bisa ngomong. “Kalau benar tuduhan itu saya lakukan, saya do’akan semoga toko ini sukses”

Akhirnya saya terima kekalahan itu walaupun dalam hati saya merasa menang. Saya pulang tanpa pamit ke teman-teman, setelah sebelumnya mendengarkan istrinya bos nangis-nangis minta maaf dan meminta saya membuktikan bahwa saya tidak salah. Dari lubuk hati saya sebenarnya ingin mengorek pelakunya, tapi buat apa, toh kalau saya sudah menyerahkan pelakunya, tak akan membuat saya bisa kembali lagi bekerja disini.

Esok dan esoknya lagi tak ada teman-teman yang menghubungi saya, termasuk Mbak Bulan. Begitupun dengan saya, karena sudah sakit hati saya juga nggak mau menghubungi Mbak Bulan. Walaupun sebenarnya ingin sekali konfirmasi, namun bagi saya hubungan kami cukup sekian.

Suatu hari saya mendapat kabar kalau Ibunya Mbak Bulan meninggal dunia. Entah kenapa tiba-tiba saya ingin menemuinya meskipun dalam hati masih ada perasaan marah dan tak terima. Setelah diskusi dengan suami dan berusaha membuang jauh-jauh ego dan emosi, berdua kami kerumahnya yang ternyata sudah pindah alamat.

Pertama kali bertemu dengan rasa canggung kami berpelukan. Rupanya setelah sekian lama tak bertemu membuat kami masing-masing kangen. Ada perasaan menyesal walau tak terungkap. Dan rasa itu.. rasa kasih sayang kakak terhadap adik yang tetap dia simpan, mengacak-ngacak kepala, memaki-maki, menghina penampilan (yang memang saya akui dia lebih matching). Sambil pelukan kami sama-sama meminta maaf kesalahan lalu.

Hingga kini hubungan kami masih baik. Kami masih sering chatting, berkirim kabar, atau salah satu datang kerumah. Yang lebih membahagiakan beberapa bulan lalu Mbak Bulan telah melangsungkan pernikahannya. Selamat ya Mbak semoga hubungan kalian bahagia dan langgeng, Amiin.. 🙂


Aksi keren kiper Timnas Indonesia Kurnia Meiga

Yeayy.. Keren banget aksi kiper Timnas Indonesia Kurnia Meiga ini!!

Sempat ketinggalan nonton pertandingan Timnas Garuda melawan Netherland tadi malam yang sudah berjalan di menit 35 akhirnya berlanjut hingga berakhir babak pertama.

Saya bukan maniak bola banget ya, tapi karena kemarin itu penjaga gawangnya Timnas Garuda dipegang Kurnia Meiga jadilah saya menikmati pertandingan hingga menit ke 70 sekian-an, kalau tidak salah habis gawang kita kebobolan 2 kali deh.

Maunya saya pengen tetap nonton sampe pertandingannya habis, apalagi ada Andik yang diturunkan oleh pelatih Jackson F Tiago pada babak ke 2, tapi apa daya tiba-tiba saya merasa phobia akut. Walaupun sudah berusaha menenangkan diri sambil berbesar hati menerima apapun hasilnya karena pertandingan ini adalah laga persahabatan, tapi… bukan masalah kalah menangnya. Saya hanya menyayangkan duit yang 1 Miliar itu lho!! Ah.. melayang deh 😀

Kalau menurut pengamatan saya yang nggak gibol-gibol banget, pemain Timnas kita itu sudah kalah serangan dihadapan skuat Netherland, namun Timnas cuma bisa bertahan dan bertahan. Beruntung pawang gawang Garuda berkali-kali mengelak bola, dan jadilah pertandingan tadi malam menjadi asyik ditonton karena Kurnia Meiga berhasil menciptakan sebuah tontonan dramatis mengalahkan semua judul sinetron produksi Genta Buana!

Idih lirikannya.. :D
Idih lirikannya.. 😀

Kiper Timnas Indonesia Kurnia Meiga yang tadi malam tampil memukau dihadapan ribuan penonton, memiliki nama asli Kurnia Meiga Hermansyah. Lelaki bertinggi badan 184 cm dan bulan Mei lalu berusia 23 tahun merupakan sosok yang sangat piawai menangkap bola. Dugaan saya, sejak kecil Kurnia Meiga punya hobi menangkap kecebong dan belut di empang sambil hujan-hujanan. Dan waktu kecil Ibunya kerap menyanyikan lagu Cicak-cicak didinding. Jadi selain piawai membaca arah bola, instingnya juga ikutan main. Sekalinya ada bola yang mendekati gawang, hap! Langsung ditangkap, Tuh kan seperti lagu cicak-cicak didinding.. 😀

Setelah pertandingan semalam, konon Kiper Timnas Indonesia Kurnia Meiga dipuji oleh Pelatih Timnas Belanda, Louis Van Gaal karena beberapa kali sukses menampik bola yang mengancam gawangnya. Naah.. kalau penjaga gawangnya sudah bermain oke seperti ini, semoga untuk kedepan bisa diimbangi oleh pemain-pemain lainnya. Oke, Kurnia.. siap-siap ya dapat kontrak bintang iklan seperti Andik 😀

*gambar dari google

Masakan Cinta ala Chef Letnan Sari

Kapten Bhirawa tak bisa menyembunyikan kekagumannya terhadap Letnan Sari saat melihat gadis ayu itu secara cekatan menyelesaikan kegiatan memasak dalam suatu perlombaan di instansinya. Gadis tinggi semampai dengan lesung dipipi itu sangat berbeda dalam penampilan kesehariannya. Biasanya Ia tampil bak prajurit laki-laki, namun sekarang Ia seolah Ibu rumah tangga yang luwes dan bersahabat bersama piranti dapur.

“Tak salah bila selama ini aku mengagumimu?” Gumam Kapten Bhirawa sambil menatap tajam si gadis berambut sebahu bak mata burung Elang yang siap menerkam. Sudah setahun ini, sejak mutasinya ke Surabaya, Ia sering memperhatikan gadis yang sehari-harinya berpenampilan cuek ini . Rupanya pembawaan yang tegas telah menutupi segala kemilau wanitanya hingga Ia sendiri tak menyadari bahwa Letnan Sari memiliki sejuta keindahan wanita yang selama ini dicarinya, yaitu perempuan tegas namun bijaksana.

Ketika sedang menikmati suguhan maha indah itu, Kapten Bhirawa terlambat menyadari bahwa 2 bola mata Letnan Sari juga sedang mengarah kepadanya. Namun sebelum Ia mengalihkan pandang ke arah lain sebagai tepisan rasa malu, sesegera mungkin Kapten Bhirawa menyunggingkan senyum semanis mungkin yang Ia mampu walaupun dalam hatinya yakin sekarang ini Ia sedang menjadi bahan tertawaan Letnan Sari akibat tertangkap basah menatapnya.

Tepat sesuai perkiraan. Masakan Letnan Sari dinyatakan sebagai juara pertama! Bergegas Kapten Bhirawa mendekati Letnan Sari untuk memberi ucapan selamat. “Siap! Kapten. Ijin mempersembahkan masakan ini untuk Anda!” Malu-malu Letnan Sari berhadapan dengan lelaki yang diam-diam dipujanya. Seperti mendapat angin segar, tanpa banyak kata Kapten Bhirawa membalas dengan menyerahkan sekuntum mawar merah yang disana terselip sepucuk surat cinta yang sempat ditulis tanpa terencana. Sebagai simbol menyatunya 2 hati itu Letnan Sari dan kapten Bhirawa menikmati masakan cinta hasil olahan Chef Letnan Sari.

Menjadi Kondektur

Tadi pagi iseng-iseng saya buka-buka lemari buku. Disana saya menemukan sebuah buku kenangan saat SMK dulu. Sebetulnya sih bukan buku beneran hanya berupa lembaran fotokopian yang saya kumpulkan jadi lembaran buku.

Ceritanya dulu itu saat kelas 3 SMK saya ingin membuat sebuah buku kenangan untuk teman-teman sekelas. Karena sekolah tidak mencetak buku kenangan akhirnya saya berinisiatif menyusun sendiri dengan meminta teman-teman sekelas membuat semacam biodata pribadi masing-masing pada selembar kertas HVS. Dengan selembar HVS itu mereka boleh menulis apa saja seperti puisi, pantun, gambar atau apapun asal unik dan kreatif serta foto mereka.

Kumpulan-kumpulan HVS itu saya fotokopi lalu saya bagikan kepada mereka.

Tidak mudah saat itu menyuruh mereka membuat biografi. Ada saja alasannya. Katanya: “Gae opo nggawe buku kenangan?”

Begh. Rasanya pengen aja jitak kepala mereka satu-satu, mereka baru menyadari setelah saya jelaskan fungsinya.

Oke. Mungkin saat itu buku seperti  itu gak ada apa-apanya dan sama sekali gak penting, tapi sekarang? Setelah 13 tahun berlalu?

Kalau saya bilang buku itu sangat-sangat sederhana sekali. Dan yang saya suka adalah kekreatifannya mereka dalam membuat goresan-goresan gambar dan puisi sederhana dengan bahasa yang sederhana pula hingga membuat saya tiba-tiba kangen ketemu mereka.

Saya buka satu persatu halaman bergambar yang saya susun sesuai buku absen sambil tertawa baca tulisan-tulisan mereka. Foto dan nama-nama yang mereka ragkai dengan font cara mereka sendiri membuat saya kagum bahwa ternyata temanku-temanku dulu itu romantis-romantis dan pintar merangkai kata walau terkesan lebai. Namun justru kelebaian itu yang membuat saya kangen dengan masa-masa remaja.

Hingga tibalah saatnya saya membuka halaman yang paling belakang. Sesuai abjad, nama sayalah yang selalu paling bawah sejak SD dulu. Disitu saya menulis Nama, alamat rumah (waktu itu belum punya telpon), dan beberapa coretan-coretan aneh.

Ada satu tulisan yang tiba-tiba membuat saya kaget dan tertawa. Saya menulis begini: Sebenarnya saya bercita-cita ingin menjadi Kondektur!

Hah?

Kenapa saya dulu menulis begitu ya?

Gak ada kerennya sama sekali, cita-cita kok jadi kondektur bis! 😀

Oke, mungkin itu ungkapan polos saya waktu itu. Tapi jujur sejak dulu saya ingin sekali menjadi seorang kondektur bis.

Iya, kondektur. Yang kerjaannya berdiri didekat pintu bis sambil naik turun jika ada penumpang akan naik atau turun. Sepertinya saya akan tampak keren dengan balutan seragam warna orange memakai tas pinggang berisi duit recehan sambil ditangan menggenggam segepok duit kertas dan segepok karcis, berjalan dari belakang ke depan minta ongkos kepada penumpang. Keren, kan?

Saya juga akan tampak gagah mengetok-ngetok duit recehan di kaca pintu bis sambil teriak kencang, “Kiriii!!!” sebagai aba-aba supaya sopirnya berhenti.

Sampai sekarang pun kalau melihat kondektur wanita atau kenek perempuan saya suka iri. Kenapa saya dulu gak bisa ngejar cita-cita jadi kondektur. Padahal saya pernah lho berdiri dipinggir pintu dengan kaki sebelah. Saya juga bisa nurunin penumpang terus lari ngejar bis. Narikin ongkos penumpang kemudian meluruskan uang-uang kertas saya juga bisa.

Tapi apa kondektur itu juga termasuk cita-cita? 😀

Cerita Es Teh

Saat beli nasi bungkus di sebuah warung kopi saya tidak langsung beranjak pergi, mata saya tertarik membaca halaman Jawa Pos yang tergeletak diatas meja warung dengan halaman muka seorang pejabat yang sedang naik daun terkait sebuah kasus.

Di warung itu selain saya ada 3 orang laki-laki yang sedang sibuk mendinginkan kopi dengan cara meniup-niup cairan hitam itu diatas lepek. Sesekali Ia menyeruputnya sedikit-sedikit.

Sedangkan 2 laki-laki lainnya serius memencet-mencet keypad Hpnya seraya sesekali menyedot lintingan tembakau yang lalu menciptakan kepulan asap di udara.

Saat saya sedang sibuk membaca deretan kata pada halaman lebar itu datanglah seorang pengunjung baru diwarung. Seorang perempuan berusia sekitar 40-an dengan pakaian yang biasa namun terlihat sedikit modis duduk agak jauh dengan posisi saya.

Kedatangannya itu membuat saya mendongak lalu berpaling memperhatikannya meski tetap dengan kondisi koran yang masih terbuka.

Dari jauh saya mendengar si Ibu itu memesan es teh bungkus. Si penjual pun dengan cekatan menuruti permintaan si Ibu. Setelah mencampur biang teh dan air putih lalu teh itu diaduknya. Tak lupa beberapa sendok gula telah dituang juga kedalam air berwarna coklat itu. Sebelum air teh dituang ke plastik, terlebih dahulu dimasukkan es batu.

Bungkusan es teh pun siap diserahkan kepada si Ibu lengkap dengan plastik pembungkusnya.

Setelah diserahkan tiba-tiba si Ibu itu bilang bahwa bukan es teh seperti ini yang diinginkannya. Dia ingin teh botol.

Penjual pun menuruti keinginan si Ibu. Es teh yang tadi diserahkan dimintanya balik lalu digantikan dengan teh botol biasa.

“Es nya mana?” kata si Ibu.

Coba kalau kondisi seperti itu apa yang ada dipikiran teman-teman?

Pasti kita mikirnya oh berarti si Ibu ini maunya teh botol yang dituang ke dalam plastik lalu dikasih es batu, gitu kan? Sama seperti pikiran saya dan si penjual.

Si penjual warung pun meminta balik lagi teh botol tadi lalu menuangnya ke dalam plastik yang sudah dikasih es batu.

Bungkusan itu pun lalu diserahkan kepada si Ibu tadi itu lagi.

Lagi-lagi si Ibu berkata, bukan es teh seperti ini yang diinginkannya.

Dari jauh saya pun mengernyit sambil memandang si Ibu dengan pikiran aneh. Trus maunya es teh yang seperti apa?

Kalau dari awal dia bilang es teh, dapatnya ya teh yang diaduk lalu dikasih es. Kalau bilangnya es teh botol, dapatnya ya teh bermerk kemasan botol lalu dituang dan dikasih es.

“Ibu maunya es teh yang seperti apa?” tanya si penjual.

Tapi sayang jawaban si Ibu tak terdengar di telinga saya. Setelah beberapa saat mereka berdebat, diakhir pembicaraan si penjual marah dan mengusir si Ibu itu.

“Sudah sana, gak usah beli-beli lagi kesini!” teriak si penjual.

Dan seperti tidak merasa bersalah si Ibu itu menjawab sebelum akhirnya meninggalkan warung.

“Ya sudah, sekali aja saya beli disini!” teriaknya.

Karena sebel, bungkusan es teh yang tadi dipegang penjual di lemparkan saja di jalan. Dan hasil lemparannya itu jatuh di hadapan si Ibu. Yang pastinya sih si Ibu melihat bahwa teh yang batal dibelinya itu dibuang saja oleh penjual.

Setelah insiden itu saya dan beberapa orang di warung saling pandang-pandangan.

“Mas, kenapa teh nya tadi dibuang? Kan sayang..” kata saya.

“Biarin, Mbak. Lebih baik saya rugi teh botol satu dari pada ngelayani orang edan itu!”

Akhirnya warung itu riuh dengan omelan sedangkan saya yang sudah hilang nafsu membaca koran memilih pergi, tapi tetap dengan pikiran sendiri tentang kemauan si Ibu tadi akan es teh.

Kira-kira apa ya maunya si Ibu tadi itu? #edisi penasaran# 😀

  

Padmasana

Narsisnya ini artististik gak sih? :D
Narsisnya ini artististik gak sih? 😀

Kokoh jeruji keangkuhan luruh terseret kewibawaan
Kasih melegalkan tatapan yang penuh rindu dan cinta,
Menumpahkan aura cahaya yang tak berbatas.

Kegagahan seolah mudra yang bermeditasi,
Menyimpan aroma wangi kesetiaan tapi juga rendah hati
Padmasana menyimpan seribu misteri, misteri yang hanya bisa dipecahkan oleh insan  berhati putih

Adakah dibalik posisi Lotus itu menyimpan keseriusan laksana Budha?
O, salah sama sekali..
Itu hanya gaya lotus-lotusan agar dianggap suatu kenarsisan.
Kenarsisisan yang katanya memiliki keartistikan 😀

#Bingung mau dikasih keterangan apa, terlampau sulit untuk menggambarkan suatu kenarsisan apalagi ada embel-embel artistik pulak. Semoga tulisan yang sedikit itu dapat mewakili gambaran arca Buddha di Candi Borobudur yang sedang melakukan meditasi dengan posisi lotus atau dinamakan Padmasana#

Go Top