Review Buku Satu Jodoh Dua Istikharah, Mau jadi Suami Istri yang hebat, baca ini!

Sudah lama rasanya saya tidak membuat postingan review buku. Dih, jangankan mereview, membaca buku saja senin kemis. Beli bukunya, sih, rajin. Bacanya yang aras-arasen 😂. Tapi akhirnya semangat baca buku saya naik lagi setelah dipaksa membuat review buku Satu Jodoh Dua Istkaharah.

review-buku-satu-jodoh-dua-istikharah

Read More “Review Buku Satu Jodoh Dua Istikharah, Mau jadi Suami Istri yang hebat, baca ini!”

Review Film Terbang Menembus Langit, ajak penonton melanglang susuri kota Surabaya

Sebelum saya me- Review Film Terbang: Menembus Langit, saya mau cerita Meet n Greet nya dulu.

Dari sekian Gala Premiere, Launching film Terbang: Menembus Langit bagi saya adalah yang ‘paling mewah’. Read More “Review Film Terbang Menembus Langit, ajak penonton melanglang susuri kota Surabaya”

Sinopsis Film My Generation, Ketika Remaja Millenial Mengungkapkan Kejujuran

Sinopsis Film My Generation, Ketika Remaja Millenial Mengungkapkan Kejujuran, saya tulis usai nobar premier di Surabaya. Mumpung perasaan saya masih teraduk-aduk, jadilah saya buatkan postingan.

Kalau boleh jujur, saya sama sekali tidak memasang ekpetasi tinggi terhadap film ini, meskipun saya menjadi salah satu buzzernya. Apa, yaaa.. sukar menebak alur film Indonesia akhir-akhir ini. Genre drama di Indonesia mulai menunjukkan peningkatan yang signifikan!

Meski jadi buzzer film, selama ini saya tidak pernah memuja-muja dan me-WAH-kan film ini kedalam konten yang saya sebar di sosmed. Kenapa saya harus membaik-baik’i, wong filmnya aja belum tayang di bioskop? Nonton trailernya aja tidak cukup menjanjikan tingkat kebagusan film. Read More “Sinopsis Film My Generation, Ketika Remaja Millenial Mengungkapkan Kejujuran”

My Generation, Film tentang Realita Remaja Generasi Milenials

Dunia Perfilman Indonesia sebentar lagi kedatangan satu tayangan lagi produksi IFI Sinema yang berjudul My Generation. Film bergenre remaja besutan sutradara Upi yang mengangkat tentang realita remaja generasi milenials yang penuh sensasi tapi juga menyiratkan sejuta drama.

Sebagai pecinta drama remaja, My Generation bukan satu-satunya film genre remaja yang pernah tayang di Indonesia, meskipun rata-rata kisah yang diangkat seputar pergaulan anak SMA. Ceritanya pun klasik, kalau nggak percintaan, ya persahabatan. Dua sisi berbeda yang tidak bisa terpisahkan. Pun, tayangan seperti ini seringkali terbukti laris di pasaran Read More “My Generation, Film tentang Realita Remaja Generasi Milenials”

Review Film: Pinky Promise, selalu ada warna dalam persahabatan

Pertama kali mendengar judul film Pinky Promise, dugaan saya sudah mengarah pada cerita para pejuang kanker. Berhubungan dengan warna pink, dan tanggal tayang perdana di bioskop 13 Oktober 2016; yang merupakan bulan kesadaran kanker payudara. Untuk memantapkan hati, sebelum nonton film ini, saya cari tau dulu thriller nya di youtube dan baca-baca sinopsisnya.

Film Pinky Promise di bintangi oleh pemain yang rata-rata senior. Beredar nama artis dan aktor papan atas Indonesia menjadi penguat karakter di film yang mengarah pada genre drama. Sepengamatan saya, Indonesia paling pintar membuat film genre drama, apalagi yang bernuansa melow hingga penonton diajak menguras sapu tangan atau membuang tissu berlembar-lembar. Ya, gak masalah juga karena kenyataannya, bioskop drama di Indonesia masih menampakkan penonton yang rela antri mengular.

Lihat postingan review film Horor Indonesia, Dilarang Masuk!

Seperti yang terlihat pada Selasa sore di studio XXI Royal Plasa Surabaya, penonton sudah menyesaki studio hanya untuk menonton film Pinky Promise. Salah satunya saya, hehe.. wajar sih, soalnya menurut kabar yang beredar, sore itu selain nonton bareng, ada meet and greet juga dengan bintang filmnya, yaitu Chelses Islan. Siapa yang gak pengen lihat perawakan si Bintang di sitkom Tetangga Masa Gitu yang rada-rada konyol tapi pintar dan menggemaskan. Saya sendiri juga berharap bisa foto seframe ama dia. Pastilah pengen narsis buat dijejer sama koleksi foto artis lainnya. Macam resto gitulah, gak terkenal tapi kalau koleksi foto sama artis banyak bisa menaikkan mutu dan harga pada menu makanannya 😀

film-pinky-promise

Tak lama di dalam studio, tiba-tiba saja Chelsea Islan muncul bersama Dhea Ananda dan Dhea Seto. Seketika seruangan heboh dong menyapa Chelsea Islan. Heran, deh, padahal ada 3 artis, yang dihebohin cuma si Chelsea aja, haha.. saya sendiri pun baru dong kalau ada Dhea Ananda. Saya juga gak ngenali Dhea Seto yang ternyata putri psikolog anak, Kak Seto.

Baca juga review film Laga Indonesia, Spy In Love

Sinospsis film Pinky Promise

Film Pinky Promise dibangun atas kesamaan misi. Diawali dengan kesedihan Kartika Rahayu yang memutuskan membatalkan pertunangan hingga Ia memilih tinggal bersama Tante Anind. Di rumah Tante Anind, Tika diajari mengolah kesedihan hingga Ia dipertemukan dengan banyak orang dan terjebak dalam project Rumah Pink. Meski menolak mentah-mentah, dan Tika merasa gagal hidup, wejangan Tante Anind menguatkan:

GAGAL HIDUP adalah Gagal menjalin hubungan bermakna dengan orang lain!

Dari rumah Pink, Tika bertemu dengan Ken, seorang mahasiswi, mantan penari yang juga blogger dan vlogger. Vina, ibu rumah tangga yang bersuamikan satpam. Baby, orang jawa yang berprofesi sebagai model dan istri simpanan. Ken, Vina, dan Baby memiliki latar belakang sama, yakni pejuang kanker payudara.

Disatukan dari latar belakang yang berbeda, persahabatan mereka kian bermakna. Namun jalan hidup menggoyahkan satu sama lain, disinilah warna-warni persahabatan itu diuji

Tiket Film Pinky Promise

Review Film: Pinky Promise, selalu ada warna dalam persahabatan

Kalau boleh jujur, film ini hampir dikatakan sempurna, baik dari segi pemeran, penggarapan, karakter, dan totalitas. Akan tetapi bukan review namanya kalau gak ada kritik. Mengatakan baik dan bagus saja tidak cukup untuk mengatakan film ini layak tonton.

Pemeran

Dari segi pemeran, saya acungi jempol, deh. Saya aja sampe berdecak melihat artis papan atas yang hanya jadi cameo. Gunawan dan Maudy Kusnaedi berperan sebagai orangtua Ken, yang hanya tampil beberapa menit, itupun dialognya sedikit. Jajang C. Noer, menampakkan muka 2 kali dan hanya sebentar aja saat menunggu berdua di ruang kemoterapi. Ringgo Agus Rahman masih lumayan, dialog bantah-bantahan di tengah kemacetan bersama istrinya, Vina, cukup menguras tawa. Ira Maya Sopha, juga banyak, karena perannya sebagai Tante Anind. Justru yang gak saya sangka adalah kehadiran Chelsea Islan, yang tampil di penghujung film karena perannya sebagai brand ambassador Breast Cancer. Lucunya, meski jadi cameo di film, saat meet and greet, Chelsea malah jadi bintang utama, haha..

Penggarapan

Guntur Soeharjanto sebagai sutradara menggarap film ini dengan sangat bagus. Hampir tak ada celah yang bisa dikomentari. Saat menulis ini, saya lama mikir adegan apa ya yang janggal, tapi kok gak nemu-nemu. Kalau teman-teman ada, tulis dikomentar ya.. 😀

Karakter

Pendalaman karakter yang ditampilkan sangat mempesona. Sedihnya dapat, Lucunya dapat. Seperti pemeran Baby, Alexandra Gottardo. Semua tau kan ya, kalau muka Alexandra ini kebule-bulean. Tampil sebagai orang Jawa yang dituntut ngomong Jawa, logatnya bisa persis kayak orang Jawa. Medoknya, timpalannya, gokilnya, persis karakter orang Jawa. Di tengah adegan sedih, kalau Baby udah ngomong atau nyolot langsung membuat grrrr.. suasana. Pokoknya peran Baby ini gokilnya pas dimainkan oleh Alexandra. Cuma kontras aja antara muka sama logat, hehe..

Agni Pratistha, saya baru tau kalau aktingnya bagus. Sebagai mantan Putri Indonesia, Agni tak begitu familiar di bioskop Indonesia. Setelah nonton film ini saya berharap bisa melihat wajah Agni lagi di dunia perfilman Indonesia.

Artis Film Pinky Promise

Totalitas

Totalitas di film ini, saya katakan sungguh berat. Bahkan demi film ini Agni dan Dhea Seto harus rela melepaskan mahkota perempuannya. Tak main-main, cukur rambutnya bener-benar dimasukkan dalam adegan film. Padahal kalau dilihat runutan adegan, Agni bisa saja menolak rambutnya tak digunduli, sebab perannya sebagai Tika belum diagnosis sebagai pengidap kanker. Hanya demi kekompakan persahabatan saja, Agni nekat mencukur rambut.

Totalitas lain yang muncul difilm ini adalah istilah yang diceploskan dengan sangat polos adalah –maaf, ya- tetek dan susu. Malah muncul juga istilah WTS alias Wanita Susu Satu

Intip postingan review film I am Hope

Pemain Film Pinky Promise

Agni Pratistha sebagai Kartika Rahayu (Tika)
Dhea Ananda sebagai Vina
Dhea Seto sebagai Ken
Alexander Gottardo sebagai Baby
Ira Maya Sopha sebagai Tante Anind
Chelsea Islan sebagai Chelsea
Ringgo Agus Rahman sebagai Farid, suami Vina
Maudy Kusnaedy, Gunawan, Jajang C. Noer, Derby Romero,

Film Pinky Promise memastikan satu lagi film Indonesia jadi tontonan rekomendasi. Semua orang bisa nonton film ini karena didalamnya mengandung edukasi bahwa Kanker bisa menyerang siapa saja tanpa melihat gender. Dari segi kehidupan, film ini mengajarkan arti persahabatan yang sebenarnya. Seperti judul diatas, Review Film: Pinky Promise, selalu ada warna dalam persahabatan

[Review Film] Spy In Love, Film Laga Spionase ala Indonesia

Film laga masih berada di peringkat atas mengalahkan genre drama dan horor. Hollywood sering membuktikan kesuksesannya dalam menciptakan tontonan layar lebar berbalut adegan fisik hingga membuat pecinta film action rela berdiri antre di barisan loket bioskop untuk jadi penonton pertamanya. Serial CSI, Hawaai Five O, dan sejenisnya makin mengundang orang suka terhadap tayangan berbau kriminalitas. Fenomena ini ditangkap produser kelahiran Indonesia, Danial Rifki dengan menciptakan film Spy In Love, film laga Spionase ala Indonesia.

Indonesia bisa membuat film Action?

Review Film, Spy In Love

Saat pertama ditawari nonton bareng film Spy In Love, saya buru-buru browsing di internet. Judulnya mengundang pertanyaan, Spy tapi Love. Apa ini artinya film ‘tembak-tembakan yang dibalut adegan buka-bukaan?

Ups! Lupa kalau KPI sekarang ketat untuk urusan ini. Saya tidak berharap juga film ini ada adegan begituannya, cukup aja di Jangkrik Boss yang masih setia bawa-bawa dada dan paha. Padahal tanpa keduanya, humornya udah dapat, lho! Harusnya produser Warkop DKI bagi-bagi untung dengan membiarkan paha dan dada dipamerkan di counter Kaefsi, hehe …

Kembali ke Spy In Love …

Film Spy In Love dibuka dengan adegan misteri sebuah Tablet Smartphone yang dibawa oleh wanita sambil berlarian kesana kemari. Belakangan, Tablet itu dimasukkan ke dalam tas ransel milik seorang anak yang kemudian ditutup dengan sebuah tembakan sehingga wanita itu mati.

Tonton dulu, yuk, Thrillernya:

**

Ray Sahetapy (Kakek Ray) seorang pensiunan BIN yang menjadi dosen, bersahabat dengan Krisna yang diperankan oleh Pong Hardjatmo, seorang Inteligen aktif. Keduanya sering berbagi informasi seputar kejahatan internasional.

Putra, cucu Kakek Ray diperankan oleh Hamish Daud menjalin hubungan dengan Yasmin (Siti Saleha). Mereka berencana menikah dengan mengundang Kakek Ray dan Megan (Shafira Umm), Ibu Yasmin datang ke Penang, Malaysia.

Review Film Spy In Love

Di Penang, Kakek Ray tak sekedar menemui cucunya, tetapi juga menganalisa kasus pembajakan pesawat Malaysia Airlines yang belum menemui titik terang. Informasi dari Krisna, ciri-ciri pelaku adalah seorang wanita yang mengenakan pakaian dan aksesoris serba hitam. Kebeneran, didepan Kakek Ray berdiri seorang perempuan dengan cicir-ciri sama. Curigalah Kakek Ray.

Merasa diperhatikan, perempuan itu balik curiga. Hal-hal konyol menyelimuti pertemuan mereka. Belakangan diketahui bahwa perempuan yang dicurigai Kakek Ray adalah Megan, Ibunya Yasmin.

Di sini saja terlihat adegan yang ambigu. Antara serius, atau humor. Film action seserius Barry Prima gak ada adegan beginian. Namun, jika laga humor, feel humornya terkesan nggantung. Nggantungnya karena Ray Sahetapy bukan aktor humor, selucunya Ray tetap gak terlihat lucu. Untung saja gaya bicara Megan lucu, walau gak terlalu maksa, penonton masih bisa tersenyum.

Baca juga: Review Film Dilarang Masuk!

Kakek Ray dan Megan tinggal di hotel yang sama. Hotel tempat Putra dan Yasmin bekerja. Keberadaan mereka membuat suasana hotel menjadi runyam. Baru tiba di hotel, Kakek Ray sudah membuat pingsan pelayan. Ceritanya gini, ada seorang pelayan mengirim minuman ke kamar Kakek Ray. Belum-belum Kakek Ray udah aja curiga dengan botol minuman yang dibawa pelayan. Padahal belum ada ciri-ciri yang membuktikan pelayan akan meracuni Kakek Ray. Barulah saat udah curiga itu, Kakek Ray melihat ada sebuah tato di pergelangan pelayan sehingga Kakek Ray memaksa pelayan itu minum minuman yang dibawanya sendiri. Setelah sedikit adu hantam, pelayan itu pingsan!

Review Film Spy In Love
Ray beraksi!

Selanjutnya, curiga demi curiga menghantui Kakek Ray. Di sekitarnya muncul musuh-musuh rahasia yang membuntuti Kakek Ray. Saat melihat Kakek Ray berhadapan dengan musuh, ekspetasi saya terhadap film ini runtuh. Mengapa seorang lakon laga harus Ray Sahetapy? Kemana aktor-aktor laga Indonesia jaman dulu yang tentu cocok jadi pemeran Kakek, seperti Barry Prima dan Advent Bangun? Kalau gak ada, masih mending pakai Rhoma Irama yang adegan pukul memukulnya tak terlalu memalukan. Dibanding Ray Sahetapy, lho ya, hehe …

Banyak adegan mengejutkan yang muncul dalam film Spy In Love. Yang paling tampak adalah layar grafis berisi video Krisna sedang ngobrol dengan Kakek Ray. Kalau teman-teman pernah lihat film agen rahasia sepert CSI, maka Spy In Love juga memilikinya! Gak hanya saya, penonton lain pun langsung riuh keheranan. Tumben film Indonesia ada grafisnya! Haha..

Maaf, bukan mau merendahkan mutu film Indonesia, justru adanya grafis ini menunjukkan film Indonesia mengalami kemajuan besar. PR buat sutradara agar lebih halus lagi menggarapnya supaya tampilannya sama bagus dengan grafis-grafis yang di film barat.

Review Film Spy In Love

Dalam film Spy In Love penonton diajak berkelana keliling Penang hingga di sudut-sudut kota. Yang paling menyenangkan adalah belajar memahami bahasa Malaysia, Betul .. betul .. betul ..!

Selama menonton film ini, perasaan saya senang terus. Gak ada takut kalau-kalau lakonnya ditembak, trus mati. Yang membuat saya yakin hanya satu, yaitu lakon pasti menang belakang, sebab ekspetasi saya terhadap lakon laga sudah ambruk. Untung saja ada Putra. Ternyata diam-diam Putra adalah seorang agen rahasia yang sedang menyamar.

Review film Spy In Love
Putra saat action dengan Bren -nya

Kehadiran Putra meningkatkan kembali harapan saya terhadap suksesnya film action, yaitu wajah ganteng cenderung bule, gagah, dan nenteng senjata mentereng. Makin takjub lagi bahwa Putra memiliki jam tangan yang bisa digunakan sebagai titik koordinat saat dirinya sedang dalam masalah. Sebagai agen rahasia, Putra hanya dibantu oleh seorang wanita yang disebut sebagai Big Mama. Kalau di Mission Imposible, Big Mama itu perannya sebagai ‘M’.

Review Film Spy In Love
Big Mama

Yang suka nonton film action luar negeri, kalian kudu nonton film action rasa Indonesia, Spy In Love ini. Ide ceritanya bagus. Begitupun adegan-adegan luar biasa yang selama ini belum ditampilkan oleh film produksi Indonesia. Pokoknya layak tonton, deh!

Bagaimana Putra bisa menyelamatkan penumpang pesawat yang ternyata pelakunya adalah rekan terdekatnya? Saksikan film Spy In Love di Bioskop, yah. Tayang perdana tanggal 29 September kemarin!

Ini testimoni saya:

Resensi Buku: TKP Bicara, Catatan Aiptu Pudji Hardjanto, mengungkap kasus bermodal Rumput

TKP Bicara

Judul: TKP Bicara
Penulis: Aiptu Pudji Hardjanto
Penerbit: PT. Revka Petra Media
Tahun Terbit: Juli 2015
Tebal: 250 halaman

Resensi Buku: TKP Bicara, Catatan Aiptu Pudji Hardjanto, mengungkap kasus bermodal Rumput – Dalam salah satu tayangan FOX Crime, seorang anggota CSI berhasil mengungkap kasus pembunuhan setelah menemukan bekas tapakan di atas rumput. Padahal pembunuhan sendiri dilakukan di dalam ruangan yang sama sekali jauh dari rumput berada. Belakangan diketahui ada bekas rumput tercerabut di sepatu pelaku. Disitulah kemudian kejahatan mulai terungkap.

Di dunia kriminalitas, rupanya rumput berperan besar membantu pengungkapan sebuah pembunuhan. Kedengarannya sepele, apa bagusnya rumput? Eh, jangan main-main sama rumput, Rumput tetangga pun kalau hijaunya berbeda bisa jadi panjang urusannya.. apalagi urusan yang menyangkut Ibu-Ibu, pakai ditanya pula belinya dimana, caranya nanamnya gimana, harganya berapa, lanjut deh jadi bahasan di Arisan RT, Hiks!

TKP Bicara

Di tangan Aiptu Pudji Hardjanto, sebuah rumput bisa menjadi barang bukti mengungkap kejahatan. Semua itu dituang dalam bukunya berjudul TKP Bicara.

Siapa Aiptu Pudji Hardjanto? Saya yakin dunia literasi tidak mengenal nama beliau. Memang, Aiptu Pudji Hardjanto bukan sosok penggiat literasi, beliau adalah seorang anggota Unit Identifikasi Polrestabes Surabaya. Yes, Aiptu Pudji Hardjanto adalah Polisi. Polisi yang menceritakan perjalanan hidupnya ke dalam sebuah buku.

Suatu siang saya mendapat hadiah buku berjudul TKP Bicara dari Polisi Wangi, Bapak AKBP Takdir Matanette. Buku tersebut merupakan karya anggota Reskrim Polrestabes Surabaya bernama Aiptu Pudji Hardjanto. Begitu diserahkan oleh Om Nette Boy, hal pertama yang saya lakukan adalah memperhatikan gambar cover depan dan membaca sinopsis cover belakang, persis yang selama ini saya lakukan saat akan membeli buku.

Setelah membaca sinopsisnya yang hanya separagraf, saya merasa, buku ini buku bagus. Komentar bagus teramat umum, lebih tepatnya menarik.

Sejak pulang dari Atambua, Aiptu Pudji Hardjanto mendapat tugas baru, yakni mengurus mayat. Bukan mayat biasa, melainkan mayat korban pembunuhan. Anggota unit Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis) Jawa Timur ini boleh dibilang menguasai apa yang disebut Jeffrey Deaver dalam novel-novel kriminalnya: hukum pertukaran materi. Bahwa ketika terjadi sebuah peristiwa kriminalitas, selalu terjadi transfer materi. Banyak kasus pembunuhan maupun tragedi kemanusiaan berhasil diungkap Aiptu Pudji. Cara mengungkapnya pun tidak biasa dan unik, malah terkesan sepele. Bagaimana bisa?

Dihadapan Om Nette Boy, plastik buku itu langsung saya sobek. Dengan sekali belah, halaman buku itu terbuka acak. Sekilas, rangkaian kalimatnya bagus, penyusunan bahasanya mudah dipahami. Sekali duduk, dua lembar halaman seketika berpindah ke kepala saya.

Sinopsis Buku TKP Bicara

Buku TKP Bicara berisi catatan perjalanan seorang Aiptu Pudji Hardjanto saat menjalankan tugas menjadi anggota Kepolisian. Usai menamatkan pendidikan Bintara Militer Sukarela Polri tahun ajaran 1993 – 1994, Ia mendapat tugas pertamanya di Polres Belu, Polda NTT. 3 bulan kemudian, Aiptu Pudji di tugaskan di Polsek Haekesek, Desa Tohe, 60 kilometer sebelah Timur Kota Atambua sebagai Kanit Resintel.

“Darah Kita, isi perut kita, hati kita, otak dan pikiran kita, bahkan kegilaan kita sama, karena kita dilahirkan dan ditakdirkan sebagai anggota Polisi”

Kehidupan di Polsek Haekesek menempa Aiptu Pudji hidup serba apa adanya. Di sini pun Aiptu Pudji menambatkan hatinya kepada sosok wanita asal Bali yang kemudian berhasil Ia pinang.

Tak lama tugas di Polsek Haekesek, Aiptu Pudji dipindah tugas ke Polsek Biudukfoho, lokasinya jauh di pelosok, jaraknya 160 kilometer dari Polsek Haekesek. Tidak ada listrik, jauh dari sumber air, alat komunikasi satu-satunya menggunakan SSB (radio komunikasi). Yang tampak menonjol dari gedung Polsek Biudukfoho adalah atap seng, berdinding anyaman batang lontar. Bersama ke 4 rekannya (Polsesk Biudukfoho dihuni 6 orang termasuk Aiptu Pudji dan Kapolsek), Aiptu Pudji merangkap jabatan sebagai anggota Babinkamtibmas.

Keminiman fasilitas di Polsek Biudukfoho membuat Aiptu Pudji akrab terhadap siapa saja, salah satunya adalah Piter Napa, seorang pemburu binatang dan petani.

Bagi Aiptu Pudji, Piter Napa merupakan sosok luar biasa yang berjasa dalam hidupnya. Dari Piter Napa, Ia belajar banyak bagaimana cara berburu binatang, membaca arah larinya binatang, juga membaca jejak hewan buruan. Yang paling utama dari teori Piter Napa adalah ilmu mencari jejak rumput, tanah, ranting, daun, dan sebagainya.

Meski berawal dari belajar berburu binatang, namun teori Piter Napa berhasil diaplikasikan oleh Aiptu Pudji untuk membaca jejak ‘target’ kasus pembunuhan yang dilakukan oleh manusia. Hasilnya, rata-rata kasus pembunuhan bisa diungkap oleh Aiptu Pudji. Tak hanya diungkap, Aiptu Pudji juga canggih membaca gerak pelaku saat menghabisi korbannya, kendati belum mendapat pengakuan langsung dari pelaku. Semua itu Ia baca dari hasil olah TKP yang dilakukannya.

TKP Bicara 1
Berdoa, rutinitas wajib Sebelum olah TKP

Kasus pembunuhan yang pertama kali diungkap Aiptu Pudji adalah ditemukannya mayat tak jauh dari sungai di wilayah Polsek Biudukfoho. Selama bertugas di Polsek Biudukfoho, jarang sekali ditemukan kasus pembunuhan, kecuali pencurian hewan ternak. Namun penemuan kali ini benar-benar ujian bagi Aiptu Pudji, sekaligus ‘ngetes’ teori Piter Napa dalam menangkap manusia ‘buruannya’.

Bagi yang suka membaca detektif, bab ini cukup seru diikuti, termasuk bagaimana Aiptu Pudji bermalam sendiri hanya ditemani jenazah yang belum ditemukan pelakunya. Rekan Aiptu Pudji yang lain bukan tidak membantu, tetapi mereka juga harus riwa-riwi dari TKP ke kantor Polsek. Kondisi medan yang berat dan jauh, membuat anggota yang lain bekerja sendiri.

Malam itu, sambil mengamati sosok jenazah, Aiptu Pudji berusaha mencari jejak pelaku. Yaitu dengan meneliti rumput satu persatu. Tak butuh waktu lama, Aiptu Pudji langsung menemukan pelakunya, walau masih dalam taraf menduga, namun insting Aiptu Pudji sudah meyakini siapa pelakunya.

“Pembunuh pasti penasaran melihat hasil karyanya. Dia pasti kembali ke tempat semula. Sekedar memastikan jejaknya agar tidak terlacak”

Dalam bab ini, pembaca seakan diajak turun langsung ke lokasi TKP. Pembaca juga diajak berlelah-lelah jalan kaki mengirim pelaku ke Polres Belu hanya dengan diikat ke punggung mengunakan tali lasso selama 11 jam!

Review Buku TKP Bicara

Banyak pelajaran yang diambil dari Buku TKP Bicara. Buku TKP Bicara mengajarkan kepada kita semua bahwa se- profesional apapun seseorang menutupi kejahatan, kebenaran akan terungkap. Pengalaman Aiptu Pudji membuktikan bahwa mayat adalah seni dinamis yang bisa berbicara. Dalam diamnya, mayat dan TKP bersinergi memberi kekuatan membantu mengungkap sebuah kasus. Dan satu lagi yang berperan membantu kesuksesan Aiptu Pudji mengungkap kasus, yaitu Insting.

TKP Bicara 5

16 cerita yang ditulis Aiptu Pudji, hampir semuanya memanfaatkan Insting. Di saat rekan dan pimpinannya hampir menyerah, Insting Aiptu Pudji berusaha bermain logika. Yah.. kadang-kadang antara Ngeyel dan Pantang Menyerah, bedanya seperti seutas rambut, tipiiiss.. *tergantung merk shamponya juga, sih* 😀

TKP Bicara 4
Foto Aiptu Pudji sedang melakukan identifikasi jari korban Pesawat Air Asia

Dalam bukunya, Aiptu Pudji tak melulu membahas dunia forensik, kejadian seperti ditinggal timnya berangkat ke TKP sehingga Ia harus menyusul naik motor sendirian dan kehujanan, memenangkan sayembara dari pimpinannya yang hampir menyerah mengungkap kasus, bersikeras antar rekan yang saling tak mau berdiri mengangkat telepon akibat kelelahan sepulang olah TKP, hingga mimpi (yang dirasakan nyata) akibat melempar jenazah orang tua yang alim. Kejadian yang terakhir menjadi pelajaran mahal, bahwa betatapun itu jenazah, ada hak untuk dirinya diperlakukan secara wajar dan mendapat penghormatan yang baik.

TKP Bicara 3
Diam dan terpekur sendiri adalah ciri khas Aiptu Pudji dalam mengolah insting. Siapa sangka kalau di bawah paving ternyata terdapat mayat?

“Saya lebih menikmati aroma pembusukan jenazah daripada bau formalin yang menyesakkan” TKP Bicara halaman 178

Membaca Buku TKP Bicara, tanpa sadar saya langsung bisa menebak karakter Aiptu Pudji. Gaya tulisan Aiptu Pudji sangat begitu hati-hati menuangkan kata-kata. Dugaan saya sih, Aiptu Pudji berusaha tidak menakut-nakuti pembaca. Sebab selain tulisan, Aiptu Pudji juga menyertakan foto-foto dirinya beserta foto korban (yang tentu saja di blur). Aiptu Pudji adalah sosok yang tak gampang menyerah dan mudah bergaul. Ia juga seorang negosiator ulung, dengan menggaris depankan kebijakan. Semoga saja tebakan saya benar, saya belum ketemu orangnya, juga 😀

Buku TKP Bicara berisi catatan perjalanan Aiptu Pudji mengungkap kasus pembunuhan di Surabaya diantaranya Pembunuhan Bos Keramik, Pembunuhan Mahasiswi Akper yang direkayasa seperti bunuh diri, Pembunuhan karyawati cantik yang TKP nya di rusak sehingga mengesankan korban bunuh diri, membongkar mayat dalam tabung, dan kisah lainnya lagi.

Kekurangan buku ini terdapat judul yang ditulis tanpa menggunakan spasi. Entah di sengaja tanpa spasi atau editornya kelewatan, saya tidak paham. Untuk kesalahan tulis hampir tidak ada.

TKP Bicara 6
Judul tanpa spasi

Buku TKP Bicara cocok bagi pembaca buku/novel detektif. Oh, yang suka baca novel biografi pun bisa juga!. Tenang saja, buku TKP Bicara tak seseram yang kalian bayangkan, kok. Justru menariknya kita bisa belajar cara mengolah sebuah insting. Walaupun kategori non fiksi, namun Aiptu Pudji mengajak pembaca untuk menyelami dunia identifikasi. Sejatinya dunia identifikasi tidak serumit yang kita duga, bagi Aiptu Pudji yang paling penting adalah ketelatenan dan ketelitian.

TKP Bicara 2
Sama-sama Mbois, Hayo tebak, yang mana komandannya? 😀

Bagi yang ingin memiliki buku TKP Bicara bisa mendatangi toko Buku Petra Togamas dengan harga per ekslempar Rp. 100.000,-. Kalau mau ringkes lagi, saya bantu koordinir, minimal 3 buku ya biar irit ongkirnya 🙂

Go Top