Buku

Review Buku Satu Jodoh Dua Istikharah, Mau jadi Suami Istri yang hebat, baca ini!

Sudah lama rasanya saya tidak membuat postingan review buku. Dih, jangankan mereview, membaca buku saja senin kemis. Beli bukunya, sih, rajin. Bacanya yang aras-arasen 😂. Tapi akhirnya semangat baca buku saya naik lagi setelah dipaksa membuat review buku Satu Jodoh Dua Istkaharah.

review-buku-satu-jodoh-dua-istikharah

Continue reading “Review Buku Satu Jodoh Dua Istikharah, Mau jadi Suami Istri yang hebat, baca ini!”

Buku · Halo Polisi

Resensi Buku: TKP Bicara, Catatan Aiptu Pudji Hardjanto, mengungkap kasus bermodal Rumput

TKP Bicara

Judul: TKP Bicara
Penulis: Aiptu Pudji Hardjanto
Penerbit: PT. Revka Petra Media
Tahun Terbit: Juli 2015
Tebal: 250 halaman

Resensi Buku: TKP Bicara, Catatan Aiptu Pudji Hardjanto, mengungkap kasus bermodal Rumput – Dalam salah satu tayangan FOX Crime, seorang anggota CSI berhasil mengungkap kasus pembunuhan setelah menemukan bekas tapakan di atas rumput. Padahal pembunuhan sendiri dilakukan di dalam ruangan yang sama sekali jauh dari rumput berada. Belakangan diketahui ada bekas rumput tercerabut di sepatu pelaku. Disitulah kemudian kejahatan mulai terungkap.

Di dunia kriminalitas, rupanya rumput berperan besar membantu pengungkapan sebuah pembunuhan. Kedengarannya sepele, apa bagusnya rumput? Eh, jangan main-main sama rumput, Rumput tetangga pun kalau hijaunya berbeda bisa jadi panjang urusannya.. apalagi urusan yang menyangkut Ibu-Ibu, pakai ditanya pula belinya dimana, caranya nanamnya gimana, harganya berapa, lanjut deh jadi bahasan di Arisan RT, Hiks!

TKP Bicara

Di tangan Aiptu Pudji Hardjanto, sebuah rumput bisa menjadi barang bukti mengungkap kejahatan. Semua itu dituang dalam bukunya berjudul TKP Bicara.

Siapa Aiptu Pudji Hardjanto? Saya yakin dunia literasi tidak mengenal nama beliau. Memang, Aiptu Pudji Hardjanto bukan sosok penggiat literasi, beliau adalah seorang anggota Unit Identifikasi Polrestabes Surabaya. Yes, Aiptu Pudji Hardjanto adalah Polisi. Polisi yang menceritakan perjalanan hidupnya ke dalam sebuah buku.

Suatu siang saya mendapat hadiah buku berjudul TKP Bicara dari Polisi Wangi, Bapak AKBP Takdir Matanette. Buku tersebut merupakan karya anggota Reskrim Polrestabes Surabaya bernama Aiptu Pudji Hardjanto. Begitu diserahkan oleh Om Nette Boy, hal pertama yang saya lakukan adalah memperhatikan gambar cover depan dan membaca sinopsis cover belakang, persis yang selama ini saya lakukan saat akan membeli buku.

Setelah membaca sinopsisnya yang hanya separagraf, saya merasa, buku ini buku bagus. Komentar bagus teramat umum, lebih tepatnya menarik.

Sejak pulang dari Atambua, Aiptu Pudji Hardjanto mendapat tugas baru, yakni mengurus mayat. Bukan mayat biasa, melainkan mayat korban pembunuhan. Anggota unit Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis) Jawa Timur ini boleh dibilang menguasai apa yang disebut Jeffrey Deaver dalam novel-novel kriminalnya: hukum pertukaran materi. Bahwa ketika terjadi sebuah peristiwa kriminalitas, selalu terjadi transfer materi. Banyak kasus pembunuhan maupun tragedi kemanusiaan berhasil diungkap Aiptu Pudji. Cara mengungkapnya pun tidak biasa dan unik, malah terkesan sepele. Bagaimana bisa?

Dihadapan Om Nette Boy, plastik buku itu langsung saya sobek. Dengan sekali belah, halaman buku itu terbuka acak. Sekilas, rangkaian kalimatnya bagus, penyusunan bahasanya mudah dipahami. Sekali duduk, dua lembar halaman seketika berpindah ke kepala saya.

Sinopsis Buku TKP Bicara

Buku TKP Bicara berisi catatan perjalanan seorang Aiptu Pudji Hardjanto saat menjalankan tugas menjadi anggota Kepolisian. Usai menamatkan pendidikan Bintara Militer Sukarela Polri tahun ajaran 1993 – 1994, Ia mendapat tugas pertamanya di Polres Belu, Polda NTT. 3 bulan kemudian, Aiptu Pudji di tugaskan di Polsek Haekesek, Desa Tohe, 60 kilometer sebelah Timur Kota Atambua sebagai Kanit Resintel.

“Darah Kita, isi perut kita, hati kita, otak dan pikiran kita, bahkan kegilaan kita sama, karena kita dilahirkan dan ditakdirkan sebagai anggota Polisi”

Kehidupan di Polsek Haekesek menempa Aiptu Pudji hidup serba apa adanya. Di sini pun Aiptu Pudji menambatkan hatinya kepada sosok wanita asal Bali yang kemudian berhasil Ia pinang.

Tak lama tugas di Polsek Haekesek, Aiptu Pudji dipindah tugas ke Polsek Biudukfoho, lokasinya jauh di pelosok, jaraknya 160 kilometer dari Polsek Haekesek. Tidak ada listrik, jauh dari sumber air, alat komunikasi satu-satunya menggunakan SSB (radio komunikasi). Yang tampak menonjol dari gedung Polsek Biudukfoho adalah atap seng, berdinding anyaman batang lontar. Bersama ke 4 rekannya (Polsesk Biudukfoho dihuni 6 orang termasuk Aiptu Pudji dan Kapolsek), Aiptu Pudji merangkap jabatan sebagai anggota Babinkamtibmas.

Keminiman fasilitas di Polsek Biudukfoho membuat Aiptu Pudji akrab terhadap siapa saja, salah satunya adalah Piter Napa, seorang pemburu binatang dan petani.

Bagi Aiptu Pudji, Piter Napa merupakan sosok luar biasa yang berjasa dalam hidupnya. Dari Piter Napa, Ia belajar banyak bagaimana cara berburu binatang, membaca arah larinya binatang, juga membaca jejak hewan buruan. Yang paling utama dari teori Piter Napa adalah ilmu mencari jejak rumput, tanah, ranting, daun, dan sebagainya.

Meski berawal dari belajar berburu binatang, namun teori Piter Napa berhasil diaplikasikan oleh Aiptu Pudji untuk membaca jejak ‘target’ kasus pembunuhan yang dilakukan oleh manusia. Hasilnya, rata-rata kasus pembunuhan bisa diungkap oleh Aiptu Pudji. Tak hanya diungkap, Aiptu Pudji juga canggih membaca gerak pelaku saat menghabisi korbannya, kendati belum mendapat pengakuan langsung dari pelaku. Semua itu Ia baca dari hasil olah TKP yang dilakukannya.

TKP Bicara 1
Berdoa, rutinitas wajib Sebelum olah TKP

Kasus pembunuhan yang pertama kali diungkap Aiptu Pudji adalah ditemukannya mayat tak jauh dari sungai di wilayah Polsek Biudukfoho. Selama bertugas di Polsek Biudukfoho, jarang sekali ditemukan kasus pembunuhan, kecuali pencurian hewan ternak. Namun penemuan kali ini benar-benar ujian bagi Aiptu Pudji, sekaligus ‘ngetes’ teori Piter Napa dalam menangkap manusia ‘buruannya’.

Bagi yang suka membaca detektif, bab ini cukup seru diikuti, termasuk bagaimana Aiptu Pudji bermalam sendiri hanya ditemani jenazah yang belum ditemukan pelakunya. Rekan Aiptu Pudji yang lain bukan tidak membantu, tetapi mereka juga harus riwa-riwi dari TKP ke kantor Polsek. Kondisi medan yang berat dan jauh, membuat anggota yang lain bekerja sendiri.

Malam itu, sambil mengamati sosok jenazah, Aiptu Pudji berusaha mencari jejak pelaku. Yaitu dengan meneliti rumput satu persatu. Tak butuh waktu lama, Aiptu Pudji langsung menemukan pelakunya, walau masih dalam taraf menduga, namun insting Aiptu Pudji sudah meyakini siapa pelakunya.

“Pembunuh pasti penasaran melihat hasil karyanya. Dia pasti kembali ke tempat semula. Sekedar memastikan jejaknya agar tidak terlacak”

Dalam bab ini, pembaca seakan diajak turun langsung ke lokasi TKP. Pembaca juga diajak berlelah-lelah jalan kaki mengirim pelaku ke Polres Belu hanya dengan diikat ke punggung mengunakan tali lasso selama 11 jam!

Review Buku TKP Bicara

Banyak pelajaran yang diambil dari Buku TKP Bicara. Buku TKP Bicara mengajarkan kepada kita semua bahwa se- profesional apapun seseorang menutupi kejahatan, kebenaran akan terungkap. Pengalaman Aiptu Pudji membuktikan bahwa mayat adalah seni dinamis yang bisa berbicara. Dalam diamnya, mayat dan TKP bersinergi memberi kekuatan membantu mengungkap sebuah kasus. Dan satu lagi yang berperan membantu kesuksesan Aiptu Pudji mengungkap kasus, yaitu Insting.

TKP Bicara 5

16 cerita yang ditulis Aiptu Pudji, hampir semuanya memanfaatkan Insting. Di saat rekan dan pimpinannya hampir menyerah, Insting Aiptu Pudji berusaha bermain logika. Yah.. kadang-kadang antara Ngeyel dan Pantang Menyerah, bedanya seperti seutas rambut, tipiiiss.. *tergantung merk shamponya juga, sih* 😀

TKP Bicara 4
Foto Aiptu Pudji sedang melakukan identifikasi jari korban Pesawat Air Asia

Dalam bukunya, Aiptu Pudji tak melulu membahas dunia forensik, kejadian seperti ditinggal timnya berangkat ke TKP sehingga Ia harus menyusul naik motor sendirian dan kehujanan, memenangkan sayembara dari pimpinannya yang hampir menyerah mengungkap kasus, bersikeras antar rekan yang saling tak mau berdiri mengangkat telepon akibat kelelahan sepulang olah TKP, hingga mimpi (yang dirasakan nyata) akibat melempar jenazah orang tua yang alim. Kejadian yang terakhir menjadi pelajaran mahal, bahwa betatapun itu jenazah, ada hak untuk dirinya diperlakukan secara wajar dan mendapat penghormatan yang baik.

TKP Bicara 3
Diam dan terpekur sendiri adalah ciri khas Aiptu Pudji dalam mengolah insting. Siapa sangka kalau di bawah paving ternyata terdapat mayat?

“Saya lebih menikmati aroma pembusukan jenazah daripada bau formalin yang menyesakkan” TKP Bicara halaman 178

Membaca Buku TKP Bicara, tanpa sadar saya langsung bisa menebak karakter Aiptu Pudji. Gaya tulisan Aiptu Pudji sangat begitu hati-hati menuangkan kata-kata. Dugaan saya sih, Aiptu Pudji berusaha tidak menakut-nakuti pembaca. Sebab selain tulisan, Aiptu Pudji juga menyertakan foto-foto dirinya beserta foto korban (yang tentu saja di blur). Aiptu Pudji adalah sosok yang tak gampang menyerah dan mudah bergaul. Ia juga seorang negosiator ulung, dengan menggaris depankan kebijakan. Semoga saja tebakan saya benar, saya belum ketemu orangnya, juga 😀

Buku TKP Bicara berisi catatan perjalanan Aiptu Pudji mengungkap kasus pembunuhan di Surabaya diantaranya Pembunuhan Bos Keramik, Pembunuhan Mahasiswi Akper yang direkayasa seperti bunuh diri, Pembunuhan karyawati cantik yang TKP nya di rusak sehingga mengesankan korban bunuh diri, membongkar mayat dalam tabung, dan kisah lainnya lagi.

Kekurangan buku ini terdapat judul yang ditulis tanpa menggunakan spasi. Entah di sengaja tanpa spasi atau editornya kelewatan, saya tidak paham. Untuk kesalahan tulis hampir tidak ada.

TKP Bicara 6
Judul tanpa spasi

Buku TKP Bicara cocok bagi pembaca buku/novel detektif. Oh, yang suka baca novel biografi pun bisa juga!. Tenang saja, buku TKP Bicara tak seseram yang kalian bayangkan, kok. Justru menariknya kita bisa belajar cara mengolah sebuah insting. Walaupun kategori non fiksi, namun Aiptu Pudji mengajak pembaca untuk menyelami dunia identifikasi. Sejatinya dunia identifikasi tidak serumit yang kita duga, bagi Aiptu Pudji yang paling penting adalah ketelatenan dan ketelitian.

TKP Bicara 2
Sama-sama Mbois, Hayo tebak, yang mana komandannya? 😀

Bagi yang ingin memiliki buku TKP Bicara bisa mendatangi toko Buku Petra Togamas dengan harga per ekslempar Rp. 100.000,-. Kalau mau ringkes lagi, saya bantu koordinir, minimal 3 buku ya biar irit ongkirnya 🙂

Buku

Bergumul dengan buku Bergumul dengan Gus Mul

Judulnya ruwet yak, kalau pusing baca judulnya, saran saya jangan dibaca. Daripada tambah ruwet mending baca langsung Buku Bergumul dengan Gus Mul!

Sebenarnya, saya menulis buku ini tujuannya ingin berbagi cerita kehidupan saya, yang menurut banyak orang selalu kelihatan susah, padahal saya sih bahagia-bahagia saja. Kadang, malah sebaliknya. Kalau kata orang Jawa, urip pancen wang-sinawang.

Lalu, banyak yang bilang bahwa bahagia itu bisa berawal dari hal yang sederhana dan sepele. Lha, memang iya. Saya bisa mendapatkan kebahagiaan itu dari orang-orang di sekitar saya, seperti keluarga, tetangga, dan juga kawan bermain. Mereka selalu membuat hati saya bahagia. Walaupun dibalik kebahagiaan hidup itu, masih ada stempel yang melekat pada saya, bahkan awet sekali: Jomblo (sabar yo, Le)

Jomblo, akhir-akhir ini semakin gencar saja. Apalagi ada tambahan kehadiran Agus Mulyadi atau Gus Mul yang secara vulgar menyatakan kejombloannya melalui blog pribadi yang kemudian bertransformasi menjadi sebuah buku. Buku yang pertama, Jomblo hapal Pancasila, dan yang kedua, yang baru diluncurkan bulan Februari 2015, judulnya Bergumul dengan Gusmul.

Nyatanya kehadiran buku seputar jomblo tak membuat para singgelers di seluruh dunia protes atau marah, mereka bahkan seperti menemui oase dan semakin bangga bahwa sebenarnya masih banyak stock jomblo di dunia ini hehe…

Walau bukan dari kalangan jomblo (setidaknya saya ingin menyatakan kepada khalayak bahwa saya Alhamdulillah dilahirkan ke dunia menemukan pasangan lebih dulu sebelum para jomblo-jomblo itu :D), nyatanya saya teramat penasaran membaca buku Bergumul dengan Gusmul. Entah karena judulnya yang ‘ngawe-awe’, atau karena fotonya Gus Mul yang nyentrik sok SKSD, atau karena warna pink cover bukunya yang girly, haha…

Saya curiga jangan-jangan editornya salah milih warna, nih, padahal diluar sana para jomblowan banting tulang berusaha mengumbar warna biru ditubuhnya agar terlihat maskulin dihadapan para jomblowati. Lha kok malah melawan arus!

Saya menyadari buku Bergumul dengan Gusmul terbitnya bulan Februari, yang.. yang katanya bulan bagi-bagi ‘gula jawa’ sedunia *lagi gak punya coklat, coklat mahal, sekilo 200 rebu! Gantinya gulo jowo ae.. :D*. Mungkin juga karena penulis dan pembuat desain cover buku ini sedang kasmaran jadi dibuatlah warna pink *kecurigaan tak beralasan* haha..

Etapi, ngomong-ngomong warna pinknya cantik lho.. seperti.. seperti bajunya Raja Jalal hihi.. melirik warnanya saja langsung bikin perasaan ingin mengoleksi orangnya, eh, bukan ding, mengoleksi bukunya *twink-twink*

Buku Bergumul dengan Gusmul berisi banyak kisah-kisah sederhana yang sering muncul di sekitar. Terdiri dari 39 bab yang semuanya hampir sukses membuat saya tak berhenti tertawa. Ada hikmah, intrik, kekuasaan, dan pengorbanan… mirip seperti kisah cinta raja Jalal kalau sedang sakau memikirkan ratu Jodha *eaa kok larinya ke raja Jalal lagi…

gusmul foto.

Jadi sebenarnya di Buku Bergumul dengan Gusmul ini pembaca diajak mengenal teman-teman Gusmul yang doyan nge-ciu, orangtua dan saudara Gusmul yang jowo tulen, serta cerita kearifan lokal yang lumrah terjadi di kampung.

Ada salah satu obrolan ngakak yang membuat saya tidak bisa berhenti tertawa. Obrolan ini terjadi antara Bapak dan Emaknya Gus Mul dihalaman 32:

Pak, mbok KTPne digoleki meneh yo, lha iki nang fotokopian’e, fotoku ora patio cetho, Je
(Pak, mbok KTPnya dicari lagi, lha ini di fotokopiannya, foto saya nggak begitu jelas) kata Emaknya Gus Mul ketika sibuk mencari KTP yang tersesat nyimpannya.

Dijawab sama Bapaknya: “Halah, kowe ki rasah ramin, Bu, lha wong rupamu ki ket biyen cen wes ra cetho, kok!” (Halah, kamu nggak usah ribut, Bu, lha wong wajahmu sejak dulu memang sudah nggak jelas, kok)

Glodhak!!!

Siapa yang nggak ngakak baca jawaban begitu. Bagi orang yang ngerti bahasa Jawa, jawaban Bapaknya Gus Mul ini tergolong koplak. Guyonan ini sukses membuat saya tertawa sampai nangis-nangis.

Ini masih nemu satu bab, padahal dibab lainnya, masih banyak lontaran-lontaran makjleb khas Gus Mul yang selalu menjebak di bagian penutupnya.

Dari banyak buku humor yang saya baca, baru nemu tulisan yang menurut saya anti mainstream. Bahasa Indonesia berpadu logat Jawa membuat saya kangen reuni dengan teman-teman sekolah yang kekoplakannya persis seperti tulisan Gus Mul yang tingkat humornya diatas rata-rata. Celetukannya natural, khas naluriah orang Jawa kalau sedang njagong.

Bagi yang sedang haus kasih sayang hiburan, buku Bergumul dengan GusMul layak jadi teman pergumulan. Bagi yang sedih, patah hati, kangen orangtua, dikecewakan sahabat, baca deh buku ini, dijamin selesai baca buku ini tingkat keromantisan teman-teman akan bertambah, minimal seromantis warna covernya.. ihik-ihik 😀

Buku

Resensi Buku Obit Rumah Pohon di Hutan Kecil by Ina Inong

Judul Buku: Obit Rumah Pohon di Hutan Kecil

Penulis: Ina Inong

Terbit: Februari 2012

Penerbit: Tiga Ananda (Imprint Tiga Serangkai)

Tebal: 120 halaman

ISBN: 978-979-084-582-4

IMG_2545

Obit adalah salah satu penghuni Rumah Besar Insan Mutiara yang di asuh oleh Bunda Mala. Meski penghuni di Rumah Besar ini kebanyakan anak yatim piatu namun Bunda Mala tidak senang jika Rumah Besar disebut sebagai Panti Asuhan.

Selain Bunda Mala, ada Kak Tia sebagai kakak asuh, Bu Toty yang pintar masak dan Pak Man yang sehari-hari mengurus peternakan dan kebun.

Hari itu saatnya Hari Kunjungan. Obit paling tidak suka dengan Hari Kunjungan karena Obit tidak mau berdandan cantik dan malas untuk seharian memasang senyum kepada calon Orang tua mereka. Obit lebih suka bermain di hutan. Duduk di salah satu dahan pohon Ceremai yang buahnya terasa asam.

Dari sekian teman-teman di Rumah Besar, Obit sangat dekat dengan Alin. Alin anak yang baik dan manis. Mereka mengukuhkan untuk menjadi sahabat terbaik selamanya. Best friends forever!

IMG_2546

Pada Hari Kunjungan itu mereka kedatangan seorang tamu yang mereka sebut sebagai Pasangan Wayang Istimewa yaitu Pak Wicitrawirya dan Ibu Ambalika Dewi. Obit terkesan dengan pasangan suami istri itu sehingga berharap agar dialah yang diangkat sebagai anak angkat mereka.

“Bit, kamu mau mereka menjadi ayah dan bundamu?” tanya Alin

“Iya, tapi aku nggak mau sendiri. Kamu harus ikut denganku aku” jawab Obit.

Namun ternyata Pak dan Ibu Wira hanya menginginkan Alin seorang. Mendengar kabar itu Obit marah kepada Alin. Obit mengaggap Alin tak menepati janji.

IMG_2547

Kesedihan Obit akhirnya mereda karena Obit menyadari kesalahannya. Meski tak tinggal di Rumah Besar bersama lagi namun persahabatan mereka tetap kompak.

Suatu hari ditengah-tengah merayakan pesta panen, Alin memberitahu Obit bahwa dia akan pergi ke Prancis mengikuti tugas ayah angkatnya melalui sambungan telepon. Sambil pamit Alin juga menitipkan hadiah untuk Obit.

Ternyata ketika Tante Irna menyerahkan hadiah dari Alin, Obit mendengar kabar yang menyedihkan. Sedihnya bukan main hati Obit. Kini impian mereka untuk selalu bersama pupus sudah.

Walau begitu Obit masih punya satu impian. Impian yang terinspirasi dari hadiah yang diberikan oleh Alin, yaitu rumah pohon. Bagaimana usaha Obit untuk membuat rumah pohon? Berhasilkah Obit mewujudkannya? Yuk baca buku buku kisah tentang Obit.

IMG_2548

Buku ini mengajarkan anak-anak akan pentingnya persahabatan. Banyak hikmah yang terkandung dalam buku ini salah satunya agar anak-anak selalu ceria memandang kehidupan meskipun tidak ada orangtua disamping mereka.

Selain itu Anak-anak diajarkan untuk saling tolong menolong dan berbuat baik kepada lingkungan sekitar seperti ketika Obit membantu Bu Ami memanen bunga sedap malam untuk pesta pernikahan.

Dalam buku ini juga terkandung unsur budaya seperti belajar menunggang kuda, adu cepat memilih tomat dan lomba menangkap belut. Gambaran dalam buku ini mengangkat suasana pedesaan yang asri dan selalu dirindukan anak-anak ketika hari libur tiba.

Buku

Meneladani semangat pahlawan melalui novel Sang Patriot

Sang PatriotJudul Buku : Sang Patriot, Sebuah Epos Kepahlawanan
Penulis : Irma Devita
ISBN : 978-602-14969-0-9
Penerbit : Inti Dinamika Publisher
Penyunting : Agus Hadiyono
Desain cover : WinduUKMJem
Cetakan pertama: Februari 2014
Tebal : 280 Halaman
Ukuran: 20,5 cm

Sesosok jasad terbujur kaku dimeja yang sengaja diletakkan di pelataran Musholla. Terbaring dalam hening. Tampak agung walau tersungkur bergenang darah mengering dari luka menganga di wajah yang bola matanya raib tercerabut tempatnya…. Tubuh berperawakan sedang namun berisi itu menjadi saksi bisu kekejaman tangan-tangan yang pernah mendera, penuh lubang peluru dan cabikan bayonet.

Tulang kepala berambut ikalnya retak, terdera popor senapan. Satu… dua… tiga… jari-jari tangan sang jasad tak lagi lengkap, hilang sebagian. Jari-jari itu biasanya lincah memetik ukulele, melantunkan nada merdu.

Ketika memegang buku ini yang saya lakukan pertama kali adalah menikmati cover punggung sesosok prajurit. Warna merah yang mendasari judul pun tak luput dari pandangan yang serupa.. entah darah entah bara dihiasi pemandangan porak poranda sebuah kota yang hancur akibat peperangan.

Api dan besi tak akan menyurutkan langkahku
Derita dan luka tak akan mematahkan semangatku
Demi bangsa ini!

Sebait puisi yang dirangkai latin gandeng semakin menyiratkan bahwa novel yang saya baca bukanlah novel biasa. Ada semangat, pengorbanan dan kecintaan yang tersirat didalamnya. Pantaslah kalau buku ini diberi judul Sang Patriot, Sebuah Epos Kepahlawanan.

Sosok pejuang yang digambarkan dalam cover secara reflek mengingatkan saya akan sebuah film lama yang pernah saya tonton waktu kecil berjudul Pasukan Berani Mati yang dibintangi oleh Barry Prima, Roy Marten dan Eva Arnaz. Film ini mengangkat cerita para pejuang melawan kekejian penjajah. Sama seperti novel yang saya saat itu tengah saya pegang, setting waktunya kisaran tahun 1940-an dimana saat itu Indonesia mengalami pasang surut: penjajah datang silih berganti, kondisi ekonomi carut marut, sistem pemerintahan tidak stabil serta ketidak jelasan nasib rakyat ditangan penjajah. Satu sekuel yang masih saya ingat dalam film itu adalah ketika Belanda dengan kejamnya mencabut kuku seorang kyai dengan semena-mena. Serupa dengan isi novel itu dimana Belanda juga memperlakukan pejuang kita dengan sama kejamnya.

Novel Sang Patriot ditulis oleh seorang praktisi hukum, Irma Devita. Dalam catatan sekapur sirih pada bab pembuka novel, secara tersurat, Irma Devita mengaku sebagai cucu Letkol. Mochammad Sroedji, sang tokoh utama dalam novel yang dibuatnya. Berpegang pada janji yang dibuatnya sendiri dihadapan sang nenek, Irma Devita akhirnya memenuhinya dengan menulis kisah perjalanan kedua orang tersayang dalam sebuah buku. Meski cerita yang diangkat dalam novel merupakan kisah nyata, Irma sukses merangkai dalam bahasa novel apik plus deskripsi cerita yang mendetail sehingga mempermudah pembaca dalam memahami kisah epos kepahlawanan.

Sungguh sulit menuliskan kejadian yang kita sendiri tidak mengalaminya. Apalagi setting waktunya berhubungan dengan kemerdekaan bangsa Indonesia (1942-1949). Salah menulis waktu kejadian dan nama tokoh saja bisa fatal akibatnya sebab menulis novel sejarah yang berdasar kisah nyata diperlukan riset mendalam dan otentik. Berbeda dengan novel fiksi biasa yang hanya diperlukan nalar sesaat. Sebagai cucu yang mendengar langsung dari pelaku sejarah, penulis begitu pintar menekan emosi sehingga liuk-liuk bahasa yang digunakan tak terdengar serampangan dan menggebu-gebu. Begitupula alur yang digunakan, maju-mundur, seakan saya selalu berada di samping Rukmini dan Sroedji. Narasi yang panjangpun menjadikan pembaca lebih paham situasi saat itu.

Cerita diawali dengan Legenda Calon Arang di kampung Kauman, Gurah, Kediri sebagai tempat tinggal Hasan dan Amni yang tak lain adalah orangtua Sroedji. Hasan dan Amni adalah pasangan dari Bangkalan yang mengadu nasib ke Kediri. Diawal kisah alurnya sedikit lambat karena sepertinya penulis ingin mengulik biografi dengan menampilkan latar belakang keluarga dan pendidikan sang tokoh. Dan sekelumit legenda itu menampakkan bahwa penulis seorang yang berpengetahuan luas.

Lembar demi lembar selanjtnya pembaca diajak merangkai puzzle hingga Sroedji sukses meminang kekasih hatinya bernama Rukmini. Kala itu Sroedji adalah seorang Mantri Malaria dan Rukmini hanyalah wanita pendamba gelar Meester in de Rechten, sebuah gelar ahli hukum. Meski kala itu mengenyam pendidikan adalah mustahil bagi rakyat jelata, namun karena niat dan tekat yang besar akhirnya Sroedji berhasil masuk HIS (Hollands Indische School) yang tak lain sekolah khusus golongan priyayi dan Ambactsleergang (Sekolah Tehnik) sedangkan Rukmini lulusan sekolah keputrian Van De Venter. Berbeda dengan Sroedji, nasib Rukmini lebih baik karena Ia lahir dari keluarga yang berkecukupan dan terpandang. Perbedaan ‘kasta’ semakin melengkapi kekurangan pribadi masing-masing.

Kependudukan penjajah di Indonesia yang tak ada habisnya membuat Sroedji bertekat ingin merebut bumi Indonesia kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Setelah Belanda dipukul mundur oleh Jepang, Sroedji menggabungkan diri menjadi kadet PETA (Pembela Tanah Air) yang digembleng secara militer oleh Taibatsu, Kopral Pelatih Jepang.
Sroedji yang sebelumnya aktif di gerakan kepanduan Hizbul Wathan akhirnya tercatat sebagai Chuudanchoo yakni Perwira Menengah PETA. Dari sinilah kemudian kehidupan rumah tangga Sroedji dan Rukmini mengalami banyak tempaan.

“Pak, ikuti kata hatimu. Sudah jadi tekadmu  menjadi pembela tanah air. Jangan khawatirkan Cuk,  Pom atau aku. Kami tidak pernah sendirian. Allah selalu beserta kita, Pak. Aku ikhlas.”(Hal. 46)

Rukmini adalah wanita tangguh dan sabar. Kecintaannya kepada Suami dan anak-anaknya membuat Rukmini harus tabah menjalani kehidupan. Selama ditinggal Sroedji bertugas Rukmini harus menjadi Ibu sekaligus Ayah bagi anak-anaknya. Sroedji yang kemudian menjadi Komandan Daidan kerap meninggalkan Rukmini serta anak-anaknya.

Pasangan suami istri merupakan dua orang dalam satu jiwa. Perpisahan karena kematian hanyalah bersifat sementara. Suatu saat, suami istri yang saling setia akan berkumpul lagi di surga. (sekapur sirih ix)

Ada banyak pelajaran yang saya ambil dari buku Sang Patroit ini. Saya seolah disentil akan nilai Patriotisme dan semangat kebangsaan yang sedikit demi sedikit luntur karena bertumpuknya sejarah yang tidak secara detail saya pelajari. Usai membaca novel ini saya tergugah ternyata sebuah buku sejarah jika ditulis dengan bahasa fiksi lebih nyaman dimengerti ketimbang dengan bahasa diktat.

Terus terang nama Letkol Moch. Sroedji baru pertama saya ketahui di buku ini. Tidak seperti Pahlawan sesudah kemerdekaan lainnya yang namanya sering disebut-sebut di buku sejarah, bahkan gambarnya dipampang di ruangan kelas. Begitu membaca bagaimana Sroedji berjuang membela tanah air saya tersadar rupanya ada banyak Sroedji-sroedji lain di bumi Indonesia yang telah gugur di medan perang dan kemudian tak dikenal hingga detik ini.

Dalam buku ini kisah yang diceritakan tak melulu tentang epos, peperangan, baku tembak, tetapi juga cinta, kasih sayang, romantisme, persahabatan, dan pengorbanan. Sambil menikmati alunan kisah cinta antara Sroedji dan Rukmini saya pun jadi tau sejarah berdirinya PETA, bagaimana Partai Komunis kemudian bercokol di bumi Indonesia, mengapa kemudian nama Dr. Soebadhi dijadikan nama rumah sakit dan kronologi-kronologi lain di Indonesia yang hingga sekarang dijadikan rujukan referensi sejarah . Banyak sisi kehidupan Pahlawan yang tak sengaja terpotret dalam buku ini. Meski secara garis besar mengangkat tokoh Letkol. Sroedji, namun penulis tetap menyajikannya secara berimbang.

Buku Sang Patriot ini tidak hanya menjadi koleksi bacaan sastra tetapi juga sebagai pemantik semangat nasionalisme generasi muda agar selalu mengenang jasa-jasa para Pahlawannya. Bagi yang sedang membutuhkan referensi, buku ini sangat saya rekomendasikan sekali.

Membaca buku ini emosi saya serasa di aduk-aduk. Ada sedih, haru, tergelitik, sampai akhirnya mata berkaca-kaca. Terutama saat membaca nasib Sroedji di akhir masa hayatnya dan kesedihan Rukmini yang kehilangan kekasih hatinya.

Selama membaca buku ini nyaris saya tak menemukan kesalahan huruf. Hanya saja saya sempat menemukan penulisan yang tak sesuai.

1.    Hal. 47 Paragraf 3
Diawal tertulis Koran Djawa Baroe dibaris selanjutnya menjadi “majalah” Djawa Baroe

2.    Hal. 81 Paragraf terbawah
Di sana tertulis Mayor Sroedji bersama Pasukan Alap-alap berencana melancarkan serangan balasan terhadap “konvoi Belanda” yang akan menyeberangi kali Brantas. Ia rancang dengan cermat rangkaian bom dibawah jembatan. Siap diledakkannya bom itu setiap saat jika posisi “tank-tank Inggris” tepat benar ditengah jembatan.

3.    Hal 174 Paragraf 1
Mulanya paragraf ini menceritakan situasi pagi di kota Malang, namun diakhir paragaraf yang tertulis: Jember yang masih dilingkupi musim penghujan terasa sejuk.

Jika dalam novel saya menemukan banyak dialog berbahasa Jawa Timuran itu maklum karena memang buku ini sebagian besar bersetting di Jawa Timur. Tapi jangan khawatir, penulis selalu memberikan penjelasan dalam bahasa Indonesia agar pembaca tak perlu dibuat ‘roaming. Namun yang agak disayangkan, ada beberapa kalimat berbahasa asing yang tidak saya mengerti dan tidak disertai penjelasan sehingga menganggu keasyikan saya saat membaca. Meski begitu penulis tetap melengkapinya dengan daftar istilah dibelakang buku.

Kesimpulan setelah membaca buku ini adalah saya cukup terapresiasi. Karena buku inilah saya jadi mengetahui sejarah dan situasi sebelum/sesudah jaman kemerdekaan. Begitupula dengan gaya bahasa yang ringan dan menarik semakin membuat saya kagum, biar bagaimana menulis cerita sejarah yang dibalut bahasa novel itu sangat sulit. Buat adik-adik dan para generasi penerus ayo tanamkan semangat kepahlawanan sejak dini, salah satunya adalah dengan membaca buku Sang Patriot ini..

Buku

Perhaps You, hanya cinta yang bisa

Ketika menulis draft ini saya sedang dipusingkan dengan postingan ASUS Notebook Terbaik dan Favoritku yang nasibnya dimesin pencarian belum beranjak ke halaman pertama Google. Aih.. baru kali ini ikutan kontes semi SEO dan ternyata emang rumit pake banget ya hihi..

Beberapa hari lalu saya dikasih pinjem sama Hani Wulandari Yasin buku berjudul Perhaps You terbitan Gagas Media yang dicovernya tertulis nama Stephanie Zen sebagai pengarangnya.

Hmm.. galau antara mau pinjem apa nggak secara buku Gagas Media yang hadiah even Gagas Debut lalu belum dibaca semua. Ditambah kemarin dapat kiriman lagi 2 buku dari Gagas yang di ‘Surat Cinta’nya menyatakan kalau buku ini adalah kekurangannya yang dulu. Duh, Gagas baik  banget sih, dulu dikasih 14 buku, sekarang dikirimi lagi 1 buku After Rain dan 1 buku bonus terlambat kirim Love Secret and Justice. Makasiihh banyak Gagas Media…  sering-sering ngasih buku yaaa 😀

cover-revisi_perhaps-you

Perhaps You. Baca buku ini saya hanya butuh waktu sehari saja *rekor baca buku tercepat yang pernah ku raih*.  Dibilang bagus, nggak juga soalnya cerita yang diangkat khas sinetron kita, perselingkuhan! Dan kenapa saya bisa menyelesaikan dengan cepat, alasan utamanya antara lain ini buku pinjeman. Gak enak dong kalau lama-lama minjem. Lainnya lagi karena banyak halaman yang isinya melulu isi BBM-an antara sang tokoh utama bernama Abby dengan selingkuhannya yang notabene rekan kerja bernama Chris.

Buku ini lumayan tebel, 441 halaman dengan font tulisan yang menurut saya kurang nyaman dibaca. Terlalu kecil dan seperti fotocopyan. Entahlah mungkin karena kertas yang digunakan semacam kertas buram sehingga ada halaman yang tintanya tebal dan ada yang tipis. Malah awalnya saya kira ini buku stensilan, kok.. tumben buku Gagas Media begitu ya..

Buku Perhaps You bercerita tentang Abby, seorang gadis anak pengusaha distributor lampu Oaks di Surabaya. Abby adalah lulusan Singapura yang kemudian bekerja ikut Ayahnya sebagai staf Adminstrasi. Ketelatenan dan kepintarannya mencari costumer membawa Abby menjadi seorang Manager Pemasaran. Walaupun dia bekerja di kantor Bapaknya sendiri, namun Abby tidak mau diperlakukan secara special. Ia ingin menjadi Abby yang dianggap karyawan biasa seperti staf yang lainnya.

Diawal cerita karakter Abby begitu kuat kalau dia seorang yang kaku dan lurus dalam hal percintaan. Ingatan akan Daniel, cowok yang diharapkan Abby selama 8 tahun yang hingga kini tak ada kabar membuatnya menjadi seorang yang pantang mengenal cinta. Sayangnya ketika mengenal Chris, rekan kerja dicabangnya Jakarta membuat Abby berubah pikiran. Konyolnya, Ia mau dijadikan selingkuhan Chris! Nah lo..

Sepertinya cerita karma berlaku untuk Abby. Mulanya Abby melarang Sandra, Sekretaris sekaligus sahabatnya itu pacaran dengan lelaki yang sudah berpasangan, eh ternyata malah Abby ikut terperosok dalam jurang yang sama.

Saya nggak tau ya kenapa Stephanie Zen mengangkat drama perselingkuhan seperti ini. Kesan ceritanya jadi sinteron Indonesia banget.. emang sih kemungkinan untuk terjadi didunia nyata peluangnya besar banget tapi kalau 2 orang sahabat melakukan hal yang sama itu kan jadi gimanaa gitu..

Dibalik cerita seputar orang kedua, halaman novel Perhaps You banyak dihabiskan isi BBM-an antara Abby dan Chris. Memang sih asyik baca obrolan orang selingkuh tapi sayang halamannya habis untuk hal-hal begituan.

Secara keseluruhan novel ini bagus. Kalimat yang disampaikan juga mudah dicerna. Stephanie sukses membawa pembaca  mendalami karakter para tokohnya hanya saja karakter untuk Abby rasanya kurang ‘jebret!’. Menurut saya Stephanie kurang konsisten menjadikan sosok Abby yang sejak diawal tak ada romantis-romantisnya tiba-tiba jadi sosok yang cengeng. Bentar-bentar nangis.. tau Chris makan malam sama ceweknya, nangis.. lihat PP FBnya Chris diganti, nangis.. lihat foto cincin tunangan, nangis lagi.. karena kebanyakan nangis pembaca jadi gak kebawa emosi. “Duh, nangis lagi..”

Dan untuk Daniel, kayaknya kamu harus protes sama penulisnya karena cerita kamu hanya sedikit diulas padahal kamu adalah dewa penyelamat diakhir cerita hehe..

Quote yang saya sukai di novel ini:

Cinta itu seperti pasir. Semakin erat kamu menggengamnya, semakin cepat pasir-pasir itu berjatuhan dari tanganmu.

Tak tahukah kau, seperih apa perasaan hati yang tak terbalas? menanti sesuatu yang tak kunjung datang?

Hari berganti hari, tetapi arah hatiku tak pernah berubah, selalu tertuju padamu. Aku tak pernah jenuh menunggu, menunggu untuk kau cintai. Namun, kau hanya menganggapku lalu. Seperti tak kasat mata aku bagimu.

Terkadang lelah menyuruhku menyerah, memintaku berhenti melakukan perbuatan sia-sia dan mulai mencari cinta baru. Namun, bagaimana mungkin aku sanggup melakukannya, kalau semua tentangmu mengikuti seperti bayangan menempel di bawah kakiku? Dan bagaimana pula caranya membakar habis semua rindu yang bertahun-tahun mengendap di hatiku?

Aku berharap mendapatkan jawaban darimu. Namun, kau tetap membisu, membuatku lebih lama menunggu

 

Buku

Srikandi Ngedan yang bikin edan

Judul: Srikandi Ngedan
Penulis: Guskar Suryatmojo
Penerbit: Halaman Moeka Publishing (Jakarta, April 2014)
Tebal: 212 halaman
Harga: Rp 43.000

Cover-Srikandi-NgEdan-kecilBagi yang tidak hobi nonton wayang, menghapalkan nama tokoh dan karakter dalam dunia pewayangan adalah pekerjaan berat. Terutama dalam hal mengingat silsilah keluarga.

Makin rumit lagi jika sang tokoh menikah beberapa kali lalu memiliki anak yang kemudian saling berebut tahta dan kekuasaan. Dan bertambah pelik jalan ceritanya jika sang anak adalah keturunan dewa.

Sepertinya harus memberi jempol 4 deh buat para dalang yang paham seluk beluk pewayangan..

Untungnya masa sekolah sudah berlalu, jadi nggak usah repot-repot mikir siapa nama raja Hastinapura, siapa nama anak Kunti, Berawa jumlah saudara Kurawa, dan mengapa Arjuna hobi selingkuh hihi

Dalang yang pintar adalah dalang yang pandai membuat cerita seolah-olah kisahnya terjadi pada masa sekarang. Apa jadinya jika zaman dahulu BBM, Whatsapp, Facebook, twitter dan segala jenis socmed sudah ada. Bisa-bisa jumlah selingkuhan Arjuna menembus angka 12.000. Bak dollar yang sering melemahkan rupiah hehe..

Dan apa jadinya jika Kunti yang masih kelas 5 di SDN Yadawa Timur tiba-tiba kepo dengan mantra yang diberikan Resi Durwasa sehingga Ia mencoba menggunakannya dengan memanggil Dewa Surya.

“Haha.. akulah Batara Surya, dewa yang kamu panggil dengan mantramu tadi!”
“Oh.. aku hanya main-main dengan mantra sakti itu, kenapa bisa jadi begini, sih.. Ampun dewa, aku jangan diapa-apain ya?”
“Xixi.. salahmu dewe. Ini sudah garis nasibmu. Kamu harus punya anak dariku!

Nahlo.. kalau sudah begitu gimana, coba?
Sakarepmu, Nduk. Aku tidak bisa kembali ke khayangan sebelum menyentuhmu. Ini konsekuensi dari mantra sakti itu” (hal. 5-6)

Bagi yang suka nonton film Mahabharata dan melihat seorang anak lelaki yang baik hati dengan lambang matahari di jidatnya itulah Karna. Karna adalah buah ketrampilan Kunti dengan Dewa Surya. Anggap aja kecil-kecil punya karya haha.. Ini dong baru heboh, kisah anak kecil yang sukses bikin anak kecil haha. Sejarah lho yang bicara. Sejelek apapun sejarah tetap menjadi cerita dimasa depan.

Eh, jangan ngeres dulu, yang namanya dewa prosesnya gak seperti manusia. Dibutuhkan sekerlingan mata aja, Kunti langsung hamil. Sekerlingan lagi Kunti melahirkan.

Mungkin ada yang bertanya mengapa tiba-tiba saya ngomongin Wayang. Klo gak ada yang nanya gapapa sih, saya cuma ngetes dowang 😀

Ceritanya sejak abis baca buku Srikandi Ngedan karya Pak Guskar Suryatmojo, seorang blogger senior, saya merasa antusias dengan dunia pewayangan. Pas nonton film Mahabharata pun buku itu saya kempit terus demi memperdalam pemahaman ceritanya.

Buku Srikandi Ngedan ini bukan buku cerita wayang biasa. Saya malah gak merasa kalau sedang baca buku pewayangan. Mana ada cerita Keong Racun di pewayangan. Wong modal BBM-an aja Arjuna bisa dapatin istri 15, padahal jumlah itu belum termasuk selingkuhannya

“Lebay” batin Karna

“Arjuna didadaku.. Arjuna kebanggaanku. Ku yakin hari ini pasti menang…!!!” teriak gadis Hastinapura

Arjuna kok dilawan.. 😀

Beruntung saya beli buku Srikandi Ngedan ini. Awalnya saya mau belikan Bapak yang suka nonton wayang, eh ndilalah kok saya jadi ketagihan baca juga. Dalam buku yang terdiri dari 40 cerita dengan jumlah 212 halaman kesemuanya membuat saya selalu tersenyum ketika membaca. Tapi lebih banyak ngakaknya 😀

Buku ini memang bikin aneh saya kok. Sebelumnya gak suka sama wayang, eh sekarang jadi tergila-gila sama wayang.
Yang penasaran sama buku Srikandi Ngedan silakan berkunjung ke website Halaman Moeka, disana bisa baca-baca sinopsis dulu. Atau bisa juga hubungi penulisnya langsung via email ke kyaine2010@gmail.com

Dijamin baca buku ini gak bikin rugi kok.. 😀