Halal bihalal blogger dan launcing buku

Jadi sedih dan kasian melihat blog ini gak diupdate-update. Berhubung saya masih sibuk ngejar tantangan #30HariNonStopNgeblog di Blogdetik maka agak terlantarlah blog ini. Maafkan yaa..

Seharusnya postingan ini sudah harus tayang seminggu yang lalu, berhubung karena gak sempat-sempat nulis jadilah molor sebegini lama. Nggak papa kan ya? Dari pada nggak sama sekali hehe..

Ini cerita tentang kopdar kemarin. Kopdar sekaligus merayakan miladnya Pakde sang Komandan Blogcamp, sekaligus halal bihalal, sekaligus juga launching buku *haiya banyak banget sekaligusnya*.

Bertempat di Rumah Makan Bu Cokro,  kawasan Jl. Dharmahusada, acara ini berlangsung cukup meriah. Tamu undangan yang datang dari penjuru Jawa Timur antusias menghadiri undangannya Pakde.  Mulai dari Yogja, Jombang, Pasuruan, Sidoarjo, dan Surabaya sendiri. Barangkali masih ada kota lain yang belum saya sebutkan?

Tepat jam 10, belum banyak undangan yang hadir. Hanya ada Pakde, Budhe, Kang Yayat, saya dan suami. Sambil menunggu tamu-tamu datang, Pakde, Kang Yayat dan suami sibuk mengatur kursi yang digunakan untuk launching buku. Sedangkan saya bersama Budhe sibuk mengisi souvenir.

Tak lama kemudian satu persatu tamu datang. Ada Mbak Rahmah chemist dan suami, Inge sekeluarga,  Mbak Nunu El Fasa, Mbak Titi Surya, Niar, Mas Rudi Belalang cerewet  dan keluarga yang datang jauh dari Bogor, Mbak Elsa tantenya Dija, ada Asmie juga, teman SMP saya dulu, kopdar sekaligus reuni deh hehe..  dan masih banyak yang lainnya..

Acara pertama adalah pembukaan yang dibawakan langsung oleh sohibul hajat, Pakde Cholik. Di sela sambutannya, Pakde menceritakan tentang trilogi buku yang dilaunching hari itu. Pakde juga mengompor-ngompori agar blogger semangat menulis supaya nantinya bisa menerbitkan buku. Wah, inspiratif sekali sambutan Pakde ini..

Setelah Pakde, Mas Rudi juga turut serta memberikan wejangan. Sebagai penerbit buku Pakde, Mas Rudi mengceritakan proses awal mula hingga akhir sehingga bukunya Pakde terbit pada waktunya.

Untuk memeriahkan acara, Pakde juga mengadakan acara lomba puisi. Puisi yang dibacakan adalah bukunya Pakde sendiri. Saat Mbak Titi Surya membacakan puisi saya senang mendengarnya. Sebab Mbak Titi begitu mendalami. Intonasinya juga dapat. Iramanya pun sesuai dengan tanda bacanya, kereeen Mbakk..

Kata Pakde, kopdar gak makan itu rasanya kecut. Setelah lomba puisi kemudia sesi tanda tangan buku, para tamu lain dipersilakan untuk menikmati hidangan. Hmm.. nikmat-nikmat hidangannya.. sembari menikmati hidangan saya pun ngobrol bersama emak-emak blogger.

Di akhir acara waktunya sesi foto-foto.. karena kopdar kali ini pesertaya sangat banyak, jadilah sesi fotonya gak bisa kena semua.. lihatlah saya, berada dipaling atas, hiks.. muka imut saya gak kelihatan.. 😀

Dan biarlah foto-foto ini yang bicara:

Seksi souvenir :D
Seksi souvenir 😀
Bersama Emak-emak blogger
Bersama Emak-emak blogger
Narsis bersama banner buku
Narsis bersama banner buku

 

Pakde memberi instruksi kepada Pak Muhaimin dan Mas Rudi belalang cerewet. Gimana, sudah paham Bapak-bapak? :D
Pakde memberi instruksi kepada Pak Muhaimin dan Mas Rudi belalang cerewet. Gimana, sudah paham Bapak-bapak? 😀
Bella dan kue ulang tahun
Bella dan kue ulang tahun
Sesi foto keluarga
Sesi foto keluarga
Menerima souvenir. Asiiik.. dapat buku trilogi dari Pakde :D
Menerima souvenir. Asiiik.. dapat buku trilogi dari Pakde 😀 Foto: Pak Muhaimin
Karena saat foto bersama, muka saya gak kelihatan, jadi saya pasang pose chibi-chibi aja ya.. :D
Karena saat foto bersama, muka saya gak kelihatan, jadi saya pasang pose chibi-chibi ini aja ya.. 😀  Foto: Tante Elsa                                                                     

Error!

Kesalahan terbesar seorang blogger adalah kurang konsisten memposting tulisan. Itu memang benar. Dan saat inilah yang sedang saya alami. Terlalu lama tidak menulis membuat isi kepala saya buntu. Susah sekali mendapatkan ide tulisan. Rasanya mengawali kata itu terasa amat rumit.  Tiap memulai menulis selalu saja error. Arah tulisan pun makin lama juga makin gak jelas.

Karena masih error maka postingan inipun mengesankan keterpaksaan. Yah, apa boleh buat daripada saya gak menulis sama sekali dan blog ini melompong berlama-lama maka lebih baik saya isi saja dengan sesuatu yang juga terpaksa yang sekaligus memaksa otak saya untuk mau mendobrak pintu kebuntuan ini. Satu pelajaran yang saya petik adalah kesalahan terbesar menggampangkan menulis merupakan karma yang sulit dihentikan, kecuali dipaksa.

Menulis dan buku adalah satu kesatuan. Meskipun seorang penulis belum tentu memiliki buku. Tetapi buku adalah inspirasi terbesar saya tiap akan menuangkan sesuatu. Saya ingin menjadikan tulisan itu sebagai passion saya walaupun itu sangat tidak gampang. Jujur saja setiap masuk ke toko buku selalu timbul rasa iri. Tak usah membandingkan diri dengan penulis sekaliber Pramoedya, Dee Lestari atau Ayu Utami, ada banyak penulis-penulis yang tak saya kenal dan isi tulisannya hampir-hampir seperti membaca tulisan-tulisan diblog tetapi mereka sukses menciptakan buku bahkan sampai berbuku-buku. Tapi kenapa saya tidak bisa? Dimana letak kesalahan itu? atau mungkin saya yang harus lebih giat lagi belajar menulis serta merangkai kata.

Apalagi beberapa hari lalu saya mendapat kiriman buku dari Mbak Orin yang berjudul Obituari Oma. Bukunya tidak tebal, isinya pun tak sampai 70 halaman. Seharusnya aku juga bisa membuatnya, terlepas buku itu ditulis rame-rame. Seharusnya aku bisa!

Mungkin saya terlalu mudah terlena dengan semua itu. Atau juga karena saya belum memiliki teknik yang tepat untuk mewujudkannya.

Nyatanya saya hanya bisa menulis pendek-pendek saja. Niat pendek kadang juga jadi panjang. Sebaliknya inginnya nulis panjang, supaya jadi panjang lalu dipanjang-panjangin yang akhirnya tetep saja pendek hanya karena ide yang cekak! Catat! 😀

Oya, mumpung momennya masih lebaran saya ingin mengucapkan:

Minal Aidzin Wal Faidzin

Selamat Hari Idhul Fitri 1434H 

Mohon Maaf Lahir dan Batin  

Puasa, makan keres

Alhamdulillah tahun ini saya masih diberi Allah SWT umur panjang sehingga bisa bertemu kembali dengan bulan Ramadhan. Seperti tahun-tahun sebelumnya saya menjalani hari-hari puasa di kota Surabaya yang saat ini kondisi cuacanya suka meriang, kadang panas, kadang mendung, dan kadang-kadang tanpa ditebak tiba-tiba hujan.

Setiap datang bulan Ramadhan, pengalaman yang tak bisa saya lupakan adalah makan buah keres (kersen) pada pagi hari dibulan puasa. Walaupun itu sudah berlangsung berpuluh tahun yang lalu tapi rasa bersalahnya masih terasa sampai sekarang.

Ceritanya begini, dulu saat masih SD, saya dan teman-teman bersemangat merayakan euforia Ramadhan. Sehingga selesai sahur saya tidak kembali tidur tetapi menunggu sholat Shubuh dulu kemudian main bareng teman-teman. Entah jalan-jalan, bersepeda atau duduk-duduk di atas pipa di bawah kebun keres milik Perusahaan Air Minum. Kebetulan rumah saya berada di belakang komplek Penjernihan, disana ada banyak pipa-pipa mulai berukuran kecil hingga raksasa. Diantara pipa-pipa itu tumbuh pepohonan keres yang buahnya merah merekah. Meskipun bukan bulan puasa, setiap pulang sekolah atau hari libur saya dan teman-teman senang bermain disitu.

Pagi itu adalah hari pertama puasa. Setelah jalan-jalan kami duduk-duduk di atas pipa sambil ngelihatin teman-teman laki-laki yang sibuk dengan bambu panjang yang diisi karbit dan air kemudian dikasih api. Bunyi “DEBUMMM!!” yang keras, menggelegar lagi menggema membuat saya dan teman-teman lain asyik memperhatikan. Sambil sesekali menutup telinga.

Kebetulan sekali Saya melihat anak-anak bermain mercon bumbung di daerah Kenjeran
Kebetulan sekali Saya menemukan anak-anak bermain mercon bumbung di daerah Kenjeran

Ditengah keasyikan itu kepala saya mendongak keatas sambil iseng mencari buah keres yang sudah ranum. Melihat buah keres ranum itu rasanya senangnya minta ampun. Biasanya memang begitu, kalau tidak puasa, buah keres yang sudah diincar harus sesegera mungkin diambil, sebelum keduluan yang lain.

Disaat yang lain sedang asyik, saya pun mencari alternative mengambil buah itu. Saya mencoba naik ke atas pipa dan sekali raih langsung dapat buah yang merah. Tiba-tiba saja, “hap!” buah itu saya kulum. Rasanya, hmm.. nikmatnya. Manis sekali.. setelah mengulum, begitu akan membuang kulitnya saya ingat kalau hari itu sedang berpuasa. Aduh, kalau ketahuan teman-teman gimana. Seketika saya langsung salah tingkah. Padahal teman-teman saya tidak sedang melihat saya. tapi perasaan saya mengatakan ada mata yang sedang melihat ke arah saya. Dada saya deg-degan keras, rasanya galau antara batal, nggak, batal, nggak, walaupun memang kenyataannya tidak sengaja.

Akhirnya, secara diam-diam saya ambil kulit itu pke tangan kemudian saya buang. Lalu saya kembali lagi bergabung bersama teman-teman. Setelah kejadian itu, selama disana saya diam saja. gak berani ngomong apa-apa. Saya anggap kejadian tadi adalah rahasia saya sendiri, dan hanya Allah saja yang tahu.

Entahlah, kenapa pengalaman makan keres itu hingga sekarang masih terbayang terus diingatan. Mungkinkah karena saya sudah menikmatinya ya? 😀

Koleksi Sophie Kinsella

Sejak menemukan di sebuah rak obral Gramedia saya ketagihan mengoleksi buku karya Sophie Kinsella.

Awalnya saya tak begitu suka dengan buku-buku terjemahan. Entah mungkin nerjemahinnya kurang pas atau apa kadang saya bingung sendiri membacanya. Siapa tokoh utamanya, konfliknya apa, apa yang sedang diobrolin, gak sampai di kepala saya. Sudah beberapa kali saya membaca buku-buku terjemahan, juga mencoba dengan beberapa penulis. Tapi tetap aja, saya nggak ngerti maksudnya.

Suatu ketika saat ngobrak-abrik buku obralan di sebuah rak yang ditata mirip bak buku dengan aneka judul dan jenis buku bercampur aduk disana. Tangan saya memegang buku berwarna putih yang sampulnya sudah hilang entah kemana, dan tiba-tiba saya merasa ingin membelinya. Agak ragu-ragu, sebab judulnya berbahasa Inggris ‘Confessions of a Shopaholic’ yang langsung saya simpulkan bahwa ini adalah buku terjemahan.

Judulnya menarik banget untuk dibeli. Tapi bayangin buku itu adalah buku terjemahan, keraguan saya melonjak. Di beli, nggak, dibeli, nggak. Harganya sih murah aja, Cuma 20 ribu. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya saya putuskan untuk membeli. Yah, kalaupun nantinya gak terbaca, gak masalah, toh Cuma 20 ribu ini..

Sesampai dirumah, langsung aja buku itu saya ambil untuk dibaca. Maksudnya, saya ingin menakhlukkan buku terjemahan. Masak sih saya gak bisa baca buku terjemahan sama sekali. Apakah semenyerah itu saya dengan buku-buku terjemahan sehingga tak satupun buku terjemahan ada dikoleksi saya.

Baru baca sehalaman aja, langsung ketagihan. Saya merasa tulisan Sophie Kinsella beda banget dengan buku-buku terjemahan lainnya. Gaya-gaya tulisan ‘aku’ nya humanis banget. Ia harus rela berbohong demi mengungkapkan kejujuran. Juga sikapnya yang konyol begitu menyentuh perasaan membuat sayang untuk tak meneruskan membacanya sampai habis.

Dan begitu saya habiskan satu buku, tiba-tiba saya merasa sayang. Kenapa tadi saya terlalu cepat bacanya.

Besoknya saya mencoba ke toko buku. Tak seperti biasanya, kali ini saya mengobok-obok deretan rak bagian novel terjemahan. Tak ada alasan lain, yaitu mencari novelnya Sophie Kinsella. Hingga sekarang, kebiasaan pertama masuk ke toko buku adalah mencari novelnya Sophie Kinsella.

Lambat laun, tanpa terasa, saya sudah mengoleksi novelnya Sophie Kinsella mulai dari serial si gila belanja: Confessions of a Shopaholic (Pengakuan si gila belanja), Shopaholic Abroad (Si gila belanja merambah Manhattan), Shopaholic ties the knot (Si gila belanja akhirnya kawin juga), Shopaholic and Sister (Si gila belanja punya kakak), Shopaholic and Baby (Si gila belanja punya bayi). Sebetulnya masih ada 1 lagi kelanjutannya, Minishopaholic yang menceritakan bayinya si Becky  (si gila belanja) yang juga punya hobby seperti Mamanya, gila belanja. Sayangnya beberapa kali saya nyari sudah gak ada lagi.

Selain serialnya saya juga memiliki ChikLitnya, The Undomestic Goddess (Bukan cewek Rumahan).

Hanya ini yang saya punya, maunya sih nambah lagi :P
Hanya ini yang saya punya, maunya sih nambah lagi 😛

Dari kesemua buku itu saya memiliki kesimpulan tersendiri, bahwa si penulis ini rajin belanja dan selera belanjanya tinggi banget. Dia sering menyebut merk dan butik ternama seperti  Tas Louis Vitton, Rok Miu-miu, Jas Armani, DKNY, M&S, French Connection, Knickerbox, Denny and George dalam setiap penulisannya. Mungkin saja untuk menuliskan itu semua, Sophie harus mengoleksi semua merk itu lebih dulu sehingga dia mengerti harga, kualitas dan ciri-cirinya.

Demi melengkapi koleksi buku Sophie Kinsella, menemukan buku secondnya di Jl. Semarang yang halamannya sudah hilang itu sesuatu banget. Padahal buku second itu barunya masih terpajang di Rumah Buku Ngagel. Dan saya mendapatkan secondnya itu dengan harga sepersupuluh dari harga aslinya, Novel itu berjudul Can You Keep a Secret (Jangan bilang-bilang, ya…)

Kondisi kayak gini, tetap dibeli . Yang penting isinya, gak penting sampulnya :D
Kondisi kayak gini, tetap dibeli . Yang penting isinya, gak penting sampulnya 😀

Dan kemarin itu, saya mencoba ke tempat persewaan novel. Niatnya sih mau nyari majalah fotografi. Karena nggak ada, saya nanya ke si Mbaknya, apakah punya koleksi novelnya Sophie Kinsella. Sayangnya nama Sophie Kinsella gak begitu dikenal. Dia lebih mengenal Harlequinn.  Nyatanya saat saya melototi satu persatu koleksinya saya menemukan beberapa, hanya beberapa, masih lengkapan punya saya, buku Sophie Kinsella. Karena buku terbarunya  yang ChickLit: Pesta Tenis belum ada di persewaan, pun saya mau beli juga masih pikir-pikir (galau milih antara beli buku atau beli baju lebaran) saya nemu buku Remember Me? (Ingat aku?), Ah lumayan..

Tinggal kenangan. Sudah dikembalikan ke pemiliknya
Tinggal kenangan. Sudah dikembalikan ke pemiliknya

Dan kayaknya saya terlambat mengenal buku-buku Sophie Kinsella. Setelah browsing ternyata ada banyak sekali buku-buku Sophie Kinsella yang belum saya punya dan di toko buku pun sudah nggak dipajang lagi. Seperti, ChickLit: I’ve Got Your Number, Klub Koktail da Berbagi Rajang. Padahal sebelumnya sempat lihat dipajangan, tapi saat-saat terakhir saya lihat di Gramedia Rosa, Rumah Buku, dan Toga Mas sudah gak ada. Cek di daftar komputer dan tanya ke Mbaknya juga bilangnya nggak ada. Gak tau lagi deh, nggak adanya itu emang stock kosong atau sudah ditarik ke penerbit. Saya Cuma berharap kalaupun sudah gak dipajang lagi, dan stock di gudang masih banyak, semoga kalau ada pameran, novelnya di obral murah..

Ada yang ngoleksi bukunya Sophie Kinsella juga? Mbak Erry dan Mbak Irma saya yakin punya) 😀

Kenal dari kopdar, akrab ketika hunting

“Sungguh bersahabat dengan Anda, membuat hidup ini semakin berwarna-warni”.

Tagline yang sering kita temui di akhir kata penutupan pengumuman kontes di blognya Pakde Abdul Cholik berloncatan dikepala manakala pulang dari acara kopi darat. Kadang tanpa bisa ditahan senyum terus mengembang selama diperjalananan dan akan terus terbayang hingga menciptakan memori indah di album kehidupan. Album yang memancarkan aura warna-warni.

Seringnya diajak kopdar Komandan Blogcamp, saya bisa mengenal lebih banyak teman blog darimanapun berasal. Salah satunya bertemu dengan sahabat blog yang berasal dari Jawa Barat tapi menetap sekota dengan saya, di Surabaya.

Kami menyebutnya Keluarga Cemara. Seringnya kopdar membuat kebersamaan kami bak keluarga. Keluarga Komandan, Keluarga Kang Yayat, Keluarga Mas Benny, Saya dan Suami, Gaphe, Niar, dan Inge sekeluarga,
Kami menyebutnya Keluarga Cemara. Seringnya kopdar membuat kebersamaan kami bak keluarga. Keluarga Komandan, Keluarga Kang Yayat, Keluarga Mas Benny, Saya dan Suami, Gaphe, Niar, dan Inge sekeluarga.
Saat Kopdar Galaxy bersama Pakde sekeluarga, Kang Yayat sekeluarga, Mas Insan, Mas Ridwan, Gaphe, Niar
Saat Kopdar Galaxy bersama Pakde sekeluarga, Kang Yayat sekeluarga, Mas Insan, Mas Ridwan, Gaphe, Niar
Bersama Pakde dan Kang Yayat sekeluarga dan Gaphe
Bersama Pakde dan Kang Yayat sekeluarga dan Gaphe
Bersama Komandan, Om NH dan Kang Yayat
Bersama Komandan, Om NH dan Kang Yayat

 

Merayakan syukuran bertambahnya usia Kang Yayat pada 2012
Merayakan syukuran bertambahnya usia Kang Yayat pada 2012

Namanya Kang Yayat, Sang pemilik blog arkasala.net.

Pertamanya saya mengenal Kang Yayat ketika diajak kopdar kali pertama oleh Kak Julie bersama Pakde, dan Inge juga. Padahal saat itu saya belum pernah sekalipun berkunjung ke blog mereka. Tapi suasana keakraban sudah sangat terasa. Baru sepulangnya saya mulai berkunjung untuk melihat-lihat tulisan-tulisan mereka diblog. Dari kopdar pertama berlanjut ke kopdar kedua, ketiga dan kesekian. Sekarang mungkin sudah lebih dari ke sepuluh.

Dari seringnya kopdar itu, kami bermetamorfosis, dari sahabat maya menjadi sahabat nyata. Suatu hari di akhir tahun 2012 Kang Yayat chatting dengan saya untuk mengajak jalan-jalan ke kawasan tua di Surabaya disekitaran Jl. Gula, Jl. Coklat dan Jembatan Merah. Menurut Kang Yayat, jalanan tua itu bagus untuk diabadikan. Sehingga berangkatlah kami bersama Pakde juga. Pada Minggu pagi.

Mampir sarapan pecel dulu sebelum puter-puter kota Surabaya. Bersama Komandan dan Kang Yayat
Mampir sarapan pecel dulu sebelum puter-puter kota Surabaya. Bersama Komandan dan Kang Yayat sambil menikmati alunan musik Keroncong

Pengalaman hunting foto terasa mengesankan, Kang Yayat berencana ngajak saya jalan lagi ke tempat lain. Ke tempat yang lebih indah untuk diframekan. Rencananya ngajak ke Bromo. Alasannya karena Kang Yayat belum pernah ke Bromo, sedangkan saya sudah 2 kali kesana. Tapi karena saat itu cuaca belum mendukung dan waktunya belum tepat rencana itu hanyalah rencana.

Pada pertengahan Januari 2013, mendadak Kang Yayat mengajak saya jalan ke Bromo. Rencana yang sudah lama menggantung itu ingin kami deal kan. Kami janjian jam 12 malam di Taman Bungkul. Bayangkan jam 12 malam, tet! Cuma kita bertiga aja! Padahal waktu itu saya dan suami hanya menjadi pendamping karena belum punya kamera. Tapi karena hobby saya  jalan-jalan, ajakan itu sangat menyenangkan. Walaupun bagi saya pergi ke Bromo adalah pengalaman untuk ke 3 kalinya, tapi dengan teman yang berbeda, waktu yang berbeda dan suasana yang berbeda membuat perjalanan saya begitu berwarna-warni. Terutama saat melewati hijaunya bukit Teletabis yang indah itu. Nah kalau ini baru pertama saya kesana..

Ekspedisi Bromo. Jepretan kamera Kang Yayat
Ekspedisi Bromo. Jepretan kamera Kang Yayat. Perjalaan ini menghasilkan tulisan yang seru di blog saya disini dan di blog Kang Yayat

Merasa klop satu sama lain, hari demi hari kami makin sering SMS-an. Kadang Kang Yayat BBM-an sama Suami. Terutama kalau mau ngajak hunting foto atau ada ‘penemuan’ baru seputaran fotografi.

Kang Yayat itu orangnya serius tapi santai. Kalau sudah serius belajar sesuatu, Kang Yayat akan serius mempelajari sampai detail-detailnya. Dan enaknya lagi, saya yang tinggal nyontek ke dia. Contohnya ketika sama-sama belajar teknik foto. Kang Yayat yang belajar, dari membaca buku sampai ikut kursus. Saya yang tinggal nurunin ilmunya. Begitupun mengenai dunia blogging, Kang Yayat yang belajar mengenai widget dan teknik seputaran blogging, saya tinggal ngasih username dan password blog. Sudah, tinggal menunggu hasilnya, hihi..

Suatu ketika, Kang Yayat pernah ngajak hunting foto ke Malang. Jarak Surabaya-Malang ditempuh sekitar 2 jam. Dan supaya sampai di Malang sebelum matahari terbit, maka kami janjian di rumah Kang Yayat jam 3 pagi! Iya pagi-pagi buta. Bahkan saya dan Suami sampai tertahan di depan Pos Satpam karena portalnya belum dibuka. Sedangkan penjaganya pada tidur. Sedangkan saya teramat sungkan untuk membangunkannya. SMS Kang Yayat pun gak dibalas. Akhirnya dengan segenap menghalau rasa sungkan, akhirnya saya bangunkan Pak Satpam. Begitu sampai rumah Kang Yayat, masih gelap gulita. Untunglah ada Mbak Lely, istrinya Kang Yayat yang sudah bangun.

Hingga sekarang kami masih suka komunikasi. Kadang kalau saya lagi pengen hunting foto, saya iseng SMS-an Kang Yayat buat ngajak sekalian. Kalau sedang senggang Kang Yayat pasti menyetujui. Sebaliknya, kalau Kang Yayat mau ngajak hunting, Kang Yayat SMS ngajak saya jalan. Sudah banyak tempat-tempat yang kami datangi. Mulai menelusuri candi di Trowulan Mojokerto, Ke Air Terjun Kakek Bodo Pandaan, Ke Kenjeran, Ke Taman Pelangi, dan baru-baru ini mencoba foto cityscape di jalan Basuki Rahmad Surabaya. Kalau lagi ada undangan Kopdar dari Pakde Cholik, kami juga masih ketemuan.

Setiap selesai hunting Kang Yayat selalu rajin memposting hasil foto dan perjalanan. Berikut postingan blog arkasala.net:

Untitled1

Saya dan Kang Yayat di situs pemandian Trowulan Mojokerto. Tampilan ini saya ambil dari postingan Kang Yayat
Saya dan Kang Yayat di situs pemandian Trowulan Mojokerto. Tampilan ini saya ambil dari postingan Kang Yayat

 

 Jalan-jalan Malam di sekitaran Jl. Basuki Rahmad dan Tunjungan Plasa. Tampilan saya ambil dari postingan blog http://arkasala.net/

Jalan-jalan Malam di sekitaran Jl. Basuki Rahmad dan Tunjungan Plasa. Tampilan saya ambil dari postingan blog http://arkasala.net/

Ini hanya beberapa saja bukti kebersamaan saya dan Kang Yayat. Untuk mendapatkan lebih banyak cerita lagi tentang saya disana, teman-teman bisa membuka blog arkasala.net. Disana teman-teman tak hanya menemukan cerita tapi juga suguhan fotografi hasil hunting yang sungguh memukau dan trik-trik fotografi bermanfaat.

Kang Yayat itu bagi saya bukan hanya sebatas teman blog, yang hanya bertukar komentar. Kang Yayat juga bukan saja sebagai sahabat diduniamaya dan dunia nyata tapi juga tempat saya berguru. Kang Yayat juga bukan sekedar teman hunting foto, tapi juga ‘fotografer pribadi’. Kang Yayat juga bukan sekedar teman curhat, tapi juga sahabat yang mau mendengarkan dan memberi solusi hingga masalah tuntas. Kang Yayat bukan sekedar teman serius tapi juga teman haha hihi yang punya segudang humor.

Pokoknya saya beruntung banget bersahabat dengan Kang Yayat. Juga mengenal Mbak Lely yang sabar dan kalem, bercanda bersama si kecil Aiko yang fotogenic serta imut-imut. Dan itu semua saya dapatkan dari hobby ngeblog!

Sekali lagi, Sungguh bersahabat dengan Anda, membuat hidup ini semakin berwarna-warni..

Hari Sabtu

“Sekarang hari apa, Bu?”

“Hari Rabu! Kenapa toh Pak, tiap hari nanya melulu?”

Aku tersenyum.

Di usia ke 63 ini tak ada kebahagiaan selain menunggu tiba nya hari Sabtu. Hari yang sejak remaja dulu pernah kunantikan. Hari yang membuat jiwaku bagai muda lagi. Hari yang membuat hidupku selalu bahagia akan setiap kedatangannya. Membayangkan tawanya, cerianya, keluguannya, tangisannya, teriakannya, dan semuanya. Cucu-cucuku, kakek merinduimu..

SIM C harga 400 ribu

Kejadian ini saya alami tahun 2008.

Gara-gara capek kucing-kucingan sama polantas yang sering operasi dadakan di tikungan jalan di Surabaya, akhirnya suami saya menyerah membuat SIM baru lagi. SIM lamanya yang keluaran Kabupaten Magetan tidak bisa diperpanjang lagi karena KTP yang sekarang sudah berganti menjadi KTP Jakarta. Jadilah kami mudik ke Jakarta sekaligus mengantar suami membuat SIM baru.

Berbekal pengetahuan sangat minim tentang tata cara pembuatan SIM, kami berdua berangkat ke tempat pembuatan SIM di bilangan Jakarta Barat. Maklum waktu saya membuat SIM melalui calo jadi tidak tau tahapan-tahapannya. Tau-tau datang melakukan sesi foto diri, besoknya SIM sudah jadi. 

Berangkat pagi-pagi dari rumah. Oleh mertua di pesan supaya kami ngurus melalui calo. Bayar lebih mahal gak papa asal SIMnya bisa selesai hari itu juga. Dari pada ngurus jalur sendiri, meskipun biayanya lebih murah tapi hasilnya gambling. Bisa lulus, bisa tidak, kan?

Turun dari angkutan umum, kami sudah di sambut oleh teriakan calo. Awalnya mereka nawari ojek masuk kedalam kantor pembuatan SIM yang jaraknya ratusan meter, tapi ujung-ujungnya mereka nawari jasa pembuatan SIM C dengan harga Rp. 550.000.

Saya kaget dong, mahal amat… secara saya bikin di Surabaya melalui calo tarifnya hanya Rp. 275.000. Dua kali lipat dari calo Surabaya.  Eh lupa ya, ini kan Jakarta..

Rembug punya rembug, kami memutuskan masuk dulu ke dalam ruangan untuk mencari info biaya pembuatan SIM baru. Berapa, sih, bayarnya bila tanpa calo?

Setelah dihitung-hitung mulai asuransi, tes ini, tes itu total yang harus kami bayarhanya  adalah Rp. 125.000. Jelas kami ngiler.  Jika menggunakan jasa calo, selisih bayarnya 4x lebih mahal!

Setelah diskusi alot, akhirnya kami memutuskan untuk ngurus SIM sendiri tanpa melalui calo. Belajar menjadi warga yang baik. Berusaha menuruti anjuran banner yang dipasang besar-besar di area loket pendaftaran. Kami mengikuti alur tahapan mengurus SIM yang tertera ditempelan kaca. Suami saya mengikuti prosedur secara baik dan benar. Harapannya supaya SIM jadi dan meyakini diri demi membuktikan kepada semua orang bahwa membuat SIM sendiri tanpa jasa calo sebenarnya bisa!

Mulailah suami mulai melakukan pendaftaran dan tes kesehatan, yang dengan mudah dinyatakan lulus. Selanjutnya kami dihaturkan membayar asuransi. Saya sudah seneng karena asurasinya sudah kami pegang. Tinggal selanjutnya menjalani tes tulis dan tes drive.

Sayang, tes tulisnya dinyatakan tidak lulus. Padahal Suami saya yakin sudah mengerjakan semua soal dengan baik dan benar. Tapi tidak lulus? Sedangkan dia tau dan melihat sendiri peserta ujian lain yang duduk di sebelahnya tidak mengerjakan tugasnya. Pura-pura mengerjakan, padahal tidak.

Dengan seribu kekecewaan kami pulang. SIM yang digadang-gadang bisa dibawa pulang gagal total.

Konon membuat SIM sendiri tanpa calo itu bisa asal mau riwa-riwi. Menurut bocoran petugas di sana dan gosip dari teman-teman, peserta yang tidak lulus tes harus ngulang lagi 14 hari kemudian. Kalau pengulangan tes selanjutnya masih tidak lulus juga, maka harus ngulang lagi dan lagi. Setelah pengulangan tes 5 kali, baru bisa dinyatakan lulus dengan selamat. Itu kata teman-teman saya. Mungkin ada teman-teman yang ingin mencoba? 😀

Setelah gagal membuat SIM secara ‘mandiri’, beberapa bulan kemudian kami ke Jakarta lagi dan urusannya masih tetep, untuk membuat SIM. Tapi kali ini kami tidak mau coba-coba. Mau tidak mau harus melalui calo, titik. *nyerah juga akhirnya*

Kabar gembiranya, ongkos jasa calo mengalami penurunan sangat tajam, kami diminta bayar 400 rebu saja. Walaupun masih terbilang mahal!  Senangnya, kami tidak ribet urus sana-urus sini. Bayar, tunggu beberapa menit, lalu foto. Olala, SIM akhirnya jadi dengan selamat, Horee…

Iseng saya tanya ke petugas, kenapa gak pakai tes, jawabannya karena rombongan. O, begituuuu ternyataaa.. 😀

 

Go Top