Kenal dari kopdar, akrab ketika hunting

“Sungguh bersahabat dengan Anda, membuat hidup ini semakin berwarna-warni”.

Tagline yang sering kita temui di akhir kata penutupan pengumuman kontes di blognya Pakde Abdul Cholik berloncatan dikepala manakala pulang dari acara kopi darat. Kadang tanpa bisa ditahan senyum terus mengembang selama diperjalananan dan akan terus terbayang hingga menciptakan memori indah di album kehidupan. Album yang memancarkan aura warna-warni.

Seringnya diajak kopdar Komandan Blogcamp, saya bisa mengenal lebih banyak teman blog darimanapun berasal. Salah satunya bertemu dengan sahabat blog yang berasal dari Jawa Barat tapi menetap sekota dengan saya, di Surabaya.

Kami menyebutnya Keluarga Cemara. Seringnya kopdar membuat kebersamaan kami bak keluarga. Keluarga Komandan, Keluarga Kang Yayat, Keluarga Mas Benny, Saya dan Suami, Gaphe, Niar, dan Inge sekeluarga,
Kami menyebutnya Keluarga Cemara. Seringnya kopdar membuat kebersamaan kami bak keluarga. Keluarga Komandan, Keluarga Kang Yayat, Keluarga Mas Benny, Saya dan Suami, Gaphe, Niar, dan Inge sekeluarga.
Saat Kopdar Galaxy bersama Pakde sekeluarga, Kang Yayat sekeluarga, Mas Insan, Mas Ridwan, Gaphe, Niar
Saat Kopdar Galaxy bersama Pakde sekeluarga, Kang Yayat sekeluarga, Mas Insan, Mas Ridwan, Gaphe, Niar
Bersama Pakde dan Kang Yayat sekeluarga dan Gaphe
Bersama Pakde dan Kang Yayat sekeluarga dan Gaphe
Bersama Komandan, Om NH dan Kang Yayat
Bersama Komandan, Om NH dan Kang Yayat

 

Merayakan syukuran bertambahnya usia Kang Yayat pada 2012
Merayakan syukuran bertambahnya usia Kang Yayat pada 2012

Namanya Kang Yayat, Sang pemilik blog arkasala.net.

Pertamanya saya mengenal Kang Yayat ketika diajak kopdar kali pertama oleh Kak Julie bersama Pakde, dan Inge juga. Padahal saat itu saya belum pernah sekalipun berkunjung ke blog mereka. Tapi suasana keakraban sudah sangat terasa. Baru sepulangnya saya mulai berkunjung untuk melihat-lihat tulisan-tulisan mereka diblog. Dari kopdar pertama berlanjut ke kopdar kedua, ketiga dan kesekian. Sekarang mungkin sudah lebih dari ke sepuluh.

Dari seringnya kopdar itu, kami bermetamorfosis, dari sahabat maya menjadi sahabat nyata. Suatu hari di akhir tahun 2012 Kang Yayat chatting dengan saya untuk mengajak jalan-jalan ke kawasan tua di Surabaya disekitaran Jl. Gula, Jl. Coklat dan Jembatan Merah. Menurut Kang Yayat, jalanan tua itu bagus untuk diabadikan. Sehingga berangkatlah kami bersama Pakde juga. Pada Minggu pagi.

Mampir sarapan pecel dulu sebelum puter-puter kota Surabaya. Bersama Komandan dan Kang Yayat
Mampir sarapan pecel dulu sebelum puter-puter kota Surabaya. Bersama Komandan dan Kang Yayat sambil menikmati alunan musik Keroncong

Pengalaman hunting foto terasa mengesankan, Kang Yayat berencana ngajak saya jalan lagi ke tempat lain. Ke tempat yang lebih indah untuk diframekan. Rencananya ngajak ke Bromo. Alasannya karena Kang Yayat belum pernah ke Bromo, sedangkan saya sudah 2 kali kesana. Tapi karena saat itu cuaca belum mendukung dan waktunya belum tepat rencana itu hanyalah rencana.

Pada pertengahan Januari 2013, mendadak Kang Yayat mengajak saya jalan ke Bromo. Rencana yang sudah lama menggantung itu ingin kami deal kan. Kami janjian jam 12 malam di Taman Bungkul. Bayangkan jam 12 malam, tet! Cuma kita bertiga aja! Padahal waktu itu saya dan suami hanya menjadi pendamping karena belum punya kamera. Tapi karena hobby saya  jalan-jalan, ajakan itu sangat menyenangkan. Walaupun bagi saya pergi ke Bromo adalah pengalaman untuk ke 3 kalinya, tapi dengan teman yang berbeda, waktu yang berbeda dan suasana yang berbeda membuat perjalanan saya begitu berwarna-warni. Terutama saat melewati hijaunya bukit Teletabis yang indah itu. Nah kalau ini baru pertama saya kesana..

Ekspedisi Bromo. Jepretan kamera Kang Yayat
Ekspedisi Bromo. Jepretan kamera Kang Yayat. Perjalaan ini menghasilkan tulisan yang seru di blog saya disini dan di blog Kang Yayat

Merasa klop satu sama lain, hari demi hari kami makin sering SMS-an. Kadang Kang Yayat BBM-an sama Suami. Terutama kalau mau ngajak hunting foto atau ada ‘penemuan’ baru seputaran fotografi.

Kang Yayat itu orangnya serius tapi santai. Kalau sudah serius belajar sesuatu, Kang Yayat akan serius mempelajari sampai detail-detailnya. Dan enaknya lagi, saya yang tinggal nyontek ke dia. Contohnya ketika sama-sama belajar teknik foto. Kang Yayat yang belajar, dari membaca buku sampai ikut kursus. Saya yang tinggal nurunin ilmunya. Begitupun mengenai dunia blogging, Kang Yayat yang belajar mengenai widget dan teknik seputaran blogging, saya tinggal ngasih username dan password blog. Sudah, tinggal menunggu hasilnya, hihi..

Suatu ketika, Kang Yayat pernah ngajak hunting foto ke Malang. Jarak Surabaya-Malang ditempuh sekitar 2 jam. Dan supaya sampai di Malang sebelum matahari terbit, maka kami janjian di rumah Kang Yayat jam 3 pagi! Iya pagi-pagi buta. Bahkan saya dan Suami sampai tertahan di depan Pos Satpam karena portalnya belum dibuka. Sedangkan penjaganya pada tidur. Sedangkan saya teramat sungkan untuk membangunkannya. SMS Kang Yayat pun gak dibalas. Akhirnya dengan segenap menghalau rasa sungkan, akhirnya saya bangunkan Pak Satpam. Begitu sampai rumah Kang Yayat, masih gelap gulita. Untunglah ada Mbak Lely, istrinya Kang Yayat yang sudah bangun.

Hingga sekarang kami masih suka komunikasi. Kadang kalau saya lagi pengen hunting foto, saya iseng SMS-an Kang Yayat buat ngajak sekalian. Kalau sedang senggang Kang Yayat pasti menyetujui. Sebaliknya, kalau Kang Yayat mau ngajak hunting, Kang Yayat SMS ngajak saya jalan. Sudah banyak tempat-tempat yang kami datangi. Mulai menelusuri candi di Trowulan Mojokerto, Ke Air Terjun Kakek Bodo Pandaan, Ke Kenjeran, Ke Taman Pelangi, dan baru-baru ini mencoba foto cityscape di jalan Basuki Rahmad Surabaya. Kalau lagi ada undangan Kopdar dari Pakde Cholik, kami juga masih ketemuan.

Setiap selesai hunting Kang Yayat selalu rajin memposting hasil foto dan perjalanan. Berikut postingan blog arkasala.net:

Untitled1

Saya dan Kang Yayat di situs pemandian Trowulan Mojokerto. Tampilan ini saya ambil dari postingan Kang Yayat
Saya dan Kang Yayat di situs pemandian Trowulan Mojokerto. Tampilan ini saya ambil dari postingan Kang Yayat

 

 Jalan-jalan Malam di sekitaran Jl. Basuki Rahmad dan Tunjungan Plasa. Tampilan saya ambil dari postingan blog http://arkasala.net/

Jalan-jalan Malam di sekitaran Jl. Basuki Rahmad dan Tunjungan Plasa. Tampilan saya ambil dari postingan blog http://arkasala.net/

Ini hanya beberapa saja bukti kebersamaan saya dan Kang Yayat. Untuk mendapatkan lebih banyak cerita lagi tentang saya disana, teman-teman bisa membuka blog arkasala.net. Disana teman-teman tak hanya menemukan cerita tapi juga suguhan fotografi hasil hunting yang sungguh memukau dan trik-trik fotografi bermanfaat.

Kang Yayat itu bagi saya bukan hanya sebatas teman blog, yang hanya bertukar komentar. Kang Yayat juga bukan saja sebagai sahabat diduniamaya dan dunia nyata tapi juga tempat saya berguru. Kang Yayat juga bukan sekedar teman hunting foto, tapi juga ‘fotografer pribadi’. Kang Yayat juga bukan sekedar teman curhat, tapi juga sahabat yang mau mendengarkan dan memberi solusi hingga masalah tuntas. Kang Yayat bukan sekedar teman serius tapi juga teman haha hihi yang punya segudang humor.

Pokoknya saya beruntung banget bersahabat dengan Kang Yayat. Juga mengenal Mbak Lely yang sabar dan kalem, bercanda bersama si kecil Aiko yang fotogenic serta imut-imut. Dan itu semua saya dapatkan dari hobby ngeblog!

Sekali lagi, Sungguh bersahabat dengan Anda, membuat hidup ini semakin berwarna-warni..

Hari Sabtu

“Sekarang hari apa, Bu?”

“Hari Rabu! Kenapa toh Pak, tiap hari nanya melulu?”

Aku tersenyum.

Di usia ke 63 ini tak ada kebahagiaan selain menunggu tiba nya hari Sabtu. Hari yang sejak remaja dulu pernah kunantikan. Hari yang membuat jiwaku bagai muda lagi. Hari yang membuat hidupku selalu bahagia akan setiap kedatangannya. Membayangkan tawanya, cerianya, keluguannya, tangisannya, teriakannya, dan semuanya. Cucu-cucuku, kakek merinduimu..

SIM C harga 400 ribu

Kejadian ini saya alami tahun 2008.

Gara-gara capek kucing-kucingan sama polantas yang sering operasi dadakan di tikungan jalan di Surabaya, akhirnya suami saya menyerah membuat SIM baru lagi. SIM lamanya yang keluaran Kabupaten Magetan tidak bisa diperpanjang lagi karena KTP yang sekarang sudah berganti menjadi KTP Jakarta. Jadilah kami mudik ke Jakarta sekaligus mengantar suami membuat SIM baru.

Berbekal pengetahuan sangat minim tentang tata cara pembuatan SIM, kami berdua berangkat ke tempat pembuatan SIM di bilangan Jakarta Barat. Maklum waktu saya membuat SIM melalui calo jadi tidak tau tahapan-tahapannya. Tau-tau datang melakukan sesi foto diri, besoknya SIM sudah jadi. 

Berangkat pagi-pagi dari rumah. Oleh mertua di pesan supaya kami ngurus melalui calo. Bayar lebih mahal gak papa asal SIMnya bisa selesai hari itu juga. Dari pada ngurus jalur sendiri, meskipun biayanya lebih murah tapi hasilnya gambling. Bisa lulus, bisa tidak, kan?

Turun dari angkutan umum, kami sudah di sambut oleh teriakan calo. Awalnya mereka nawari ojek masuk kedalam kantor pembuatan SIM yang jaraknya ratusan meter, tapi ujung-ujungnya mereka nawari jasa pembuatan SIM C dengan harga Rp. 550.000.

Saya kaget dong, mahal amat… secara saya bikin di Surabaya melalui calo tarifnya hanya Rp. 275.000. Dua kali lipat dari calo Surabaya.  Eh lupa ya, ini kan Jakarta..

Rembug punya rembug, kami memutuskan masuk dulu ke dalam ruangan untuk mencari info biaya pembuatan SIM baru. Berapa, sih, bayarnya bila tanpa calo?

Setelah dihitung-hitung mulai asuransi, tes ini, tes itu total yang harus kami bayarhanya  adalah Rp. 125.000. Jelas kami ngiler.  Jika menggunakan jasa calo, selisih bayarnya 4x lebih mahal!

Setelah diskusi alot, akhirnya kami memutuskan untuk ngurus SIM sendiri tanpa melalui calo. Belajar menjadi warga yang baik. Berusaha menuruti anjuran banner yang dipasang besar-besar di area loket pendaftaran. Kami mengikuti alur tahapan mengurus SIM yang tertera ditempelan kaca. Suami saya mengikuti prosedur secara baik dan benar. Harapannya supaya SIM jadi dan meyakini diri demi membuktikan kepada semua orang bahwa membuat SIM sendiri tanpa jasa calo sebenarnya bisa!

Mulailah suami mulai melakukan pendaftaran dan tes kesehatan, yang dengan mudah dinyatakan lulus. Selanjutnya kami dihaturkan membayar asuransi. Saya sudah seneng karena asurasinya sudah kami pegang. Tinggal selanjutnya menjalani tes tulis dan tes drive.

Sayang, tes tulisnya dinyatakan tidak lulus. Padahal Suami saya yakin sudah mengerjakan semua soal dengan baik dan benar. Tapi tidak lulus? Sedangkan dia tau dan melihat sendiri peserta ujian lain yang duduk di sebelahnya tidak mengerjakan tugasnya. Pura-pura mengerjakan, padahal tidak.

Dengan seribu kekecewaan kami pulang. SIM yang digadang-gadang bisa dibawa pulang gagal total.

Konon membuat SIM sendiri tanpa calo itu bisa asal mau riwa-riwi. Menurut bocoran petugas di sana dan gosip dari teman-teman, peserta yang tidak lulus tes harus ngulang lagi 14 hari kemudian. Kalau pengulangan tes selanjutnya masih tidak lulus juga, maka harus ngulang lagi dan lagi. Setelah pengulangan tes 5 kali, baru bisa dinyatakan lulus dengan selamat. Itu kata teman-teman saya. Mungkin ada teman-teman yang ingin mencoba? 😀

Setelah gagal membuat SIM secara ‘mandiri’, beberapa bulan kemudian kami ke Jakarta lagi dan urusannya masih tetep, untuk membuat SIM. Tapi kali ini kami tidak mau coba-coba. Mau tidak mau harus melalui calo, titik. *nyerah juga akhirnya*

Kabar gembiranya, ongkos jasa calo mengalami penurunan sangat tajam, kami diminta bayar 400 rebu saja. Walaupun masih terbilang mahal!  Senangnya, kami tidak ribet urus sana-urus sini. Bayar, tunggu beberapa menit, lalu foto. Olala, SIM akhirnya jadi dengan selamat, Horee…

Iseng saya tanya ke petugas, kenapa gak pakai tes, jawabannya karena rombongan. O, begituuuu ternyataaa.. 😀

 

4 Halaman saja..

Tidak terasa hari ini sudah tanggal 1 bulan Sya’ban, itu artinya sebulan lagi umat muslim seluruh penjuru dunia akan menyambut datangnya bulan Ramadhan.

Di bulan Sya’ban yang penuh barokah ini, umat muslim disunnahkan untuk memperbanyak amalan, salah satunya adalah malam Nisfu Sya’ban yaitu malam pada pertengahan di bulan Sya’ban.

Buat saya pribadi bulan Sya’ban ini adalah waktu yang tepat untuk mempersiapkan diri menyambut hadirnya bulan Ramadhan, karena dibulan Ramadhan nanti secara maraton selama sebulan penuh umat muslim digembleng untuk menambah, memperbanyak serta memfokuskan diri beribadah kepada Allah. Mulai dari puasa wajib, sholat sunnah Tarawih, hingga tadarus Al-Quran.

Beberapa hari lalu saya pernah membaca status di Facebook, entah status dari mana saya lupa. Intinya status ini mengenai target mengkhatamkan AlQuran selama sebulan, sehingga diharapkan setiap bulan umat muslim dapat khatam Al Quran sekali.

Susah? memang iya kalau secara teori. Apalagi bagi kaum muslimah yang setiap bulannya memiliki jatah libur. Namun saya apresiasif dan itu sangat menginspirasi saya untuk benar-benar niat ingin dapat mengkhatam Al Quran dalam waktu sebulan. Dan Alhamdulillah cara itu pelan-pelan telah saya laksanakan, hingga hari ini saya sudah sampai pada juzz 20. Pencapaian yang sangat luar biasa mengingat selama hidup saya belum pernah mengkhatamkan AlQuran dengan membacanya sendiri dari awal hingga akhir, dan bukan bergantian seperti saat khataman atau tadarusan.

Dari status ini di gambarkan secara gamblang. AlQuran terdiri dari kurang lebih 600 halaman. Sebulan ada 30 hari. Kalau dibagi hasilnya menjadi 20 halaman. Sholat wajib umat muslin dalam sehari adalah 5 kali. Jadi kalau setelah sholat wajib saya membiasakan diri membaca Al Quran, maka sekali sholat saya membaca 4 halaman saja. Seharusnya sih gak susah ya?

Tapi kembali lagi ke saya, kalau hitungan itu hanya di bayangkan saja tanpa langsung direalisasikan pastinya akan susah, ada aja alasannya. Seperti kalau kerja bagaimana? Kalau sedang berhalangan bagaimana? Dan kalau sedang-kalau sedang yang lainnya, yah namanya juga manusia banyak maunya. Tapi saya gak mau memikirkan itu, pokoknya saya harus coba dulu. Yang penting niat dan kemauan. Kalaupun sekali baca gak sampe 4 halaman, yang penting dalam sehari saya harus baca Al Quran.

Dan memang benar membaca Al Quran itu bikin candu. Kalau sedang tidak ada kerjaan 4 halaman saja terasa kurang. Untuk memantapkan hati disela-sela waktu senggang saya gunakan untuk membaca juga terjemahannya. Dari sinilah timbul keinginan saya memiliki Al Quran yang lengkap dengan terjemahannya serta bacaan tajwidnya, karena saya sering lupa 15 huruf Ikhfa yang mesti dibaca samar.

Sepengetahuan saya ada banyak jenis Al Quran yang memudahkan umat muslim untuk membacanya, sekalipun bagi yang masih kesulitan membaca. Di toko-toko buku, di toko kitab, bahkan di toko online ada banyak tersedia berbagai macam Al Quran yang lengkap dengan terjemahan dan tajwid.

Seperti produk dari Syaamil Quran. Produk Syaamil Quran ini sangat lengkap variannya, dan saya ingin sekali memilikinya. Teman-teman muslim bisa memilih jenis AlQuran mana yang cocok untuk digunakan sehari-hari. Ada AlQuran New Miracle 66 in 1 yang dilengkapi dengan aplikasi digital, Murottal dari beberapa Imam, E-book Tafsir Ibunu Katsir, Video dan audio bermanfaat, serta banyak panduan ibadah sebagai pegangan sehari-hari umat muslim. Ada AlQuran Arafah yang dilengkapi Ushul Fiqih. Ada AlQuran Tajwid, AlQuran Fadhilah, dan yang terbaru serta lebih modern adalah Miracle E-Pen the Guidance yakni AlQuran tajwid yang dilengkapi dengan aneka fitu yang memudahkan umat muslim mempelajari dan memahami Al Quran secara fleksibel dan mudah dibawa.

Salah satu produk dari Syaamil Quran
Salah satu produk dari Syaamil Quran

Bagi umat muslim sekalian yang di bulan Ramadhan mendatang ingin mengkhatamkan Al Quran sebagai amalan tambahan bisa mendapatkan Al Quran produk AlQuran Syaamil ini melalui media online di fanspage https://www.facebook.com/QuranCentrumStore. Via twitter juga ada silakan follow di @syaamil_quran

Kalau umat muslim ingin mendapatkan pesan-pesan moral sebagai penyemangat dalam membaca AlQuran dalam kehidupan sehari-hari, Anda  juga bisa bergabung di fanspagenya di http://www.facebook.com/SemangatQuran atau follow @semangatquran.

Semoga pada Ramadhan mendatang, kita semua bisa memantapkan hati melaksanakan ibadah selama sebulan penuh agar apa yang kita laksanakan dibulan Ramadhan mendatang lebih baik dari bulan sebelumnya demi mendapatkan berkah, rahmad serta ampunan dari Allah SWT. Amiin  

Menjadi Kondektur

Tadi pagi iseng-iseng saya buka-buka lemari buku. Disana saya menemukan sebuah buku kenangan saat SMK dulu. Sebetulnya sih bukan buku beneran hanya berupa lembaran fotokopian yang saya kumpulkan jadi lembaran buku.

Ceritanya dulu itu saat kelas 3 SMK saya ingin membuat sebuah buku kenangan untuk teman-teman sekelas. Karena sekolah tidak mencetak buku kenangan akhirnya saya berinisiatif menyusun sendiri dengan meminta teman-teman sekelas membuat semacam biodata pribadi masing-masing pada selembar kertas HVS. Dengan selembar HVS itu mereka boleh menulis apa saja seperti puisi, pantun, gambar atau apapun asal unik dan kreatif serta foto mereka.

Kumpulan-kumpulan HVS itu saya fotokopi lalu saya bagikan kepada mereka.

Tidak mudah saat itu menyuruh mereka membuat biografi. Ada saja alasannya. Katanya: “Gae opo nggawe buku kenangan?”

Begh. Rasanya pengen aja jitak kepala mereka satu-satu, mereka baru menyadari setelah saya jelaskan fungsinya.

Oke. Mungkin saat itu buku seperti  itu gak ada apa-apanya dan sama sekali gak penting, tapi sekarang? Setelah 13 tahun berlalu?

Kalau saya bilang buku itu sangat-sangat sederhana sekali. Dan yang saya suka adalah kekreatifannya mereka dalam membuat goresan-goresan gambar dan puisi sederhana dengan bahasa yang sederhana pula hingga membuat saya tiba-tiba kangen ketemu mereka.

Saya buka satu persatu halaman bergambar yang saya susun sesuai buku absen sambil tertawa baca tulisan-tulisan mereka. Foto dan nama-nama yang mereka ragkai dengan font cara mereka sendiri membuat saya kagum bahwa ternyata temanku-temanku dulu itu romantis-romantis dan pintar merangkai kata walau terkesan lebai. Namun justru kelebaian itu yang membuat saya kangen dengan masa-masa remaja.

Hingga tibalah saatnya saya membuka halaman yang paling belakang. Sesuai abjad, nama sayalah yang selalu paling bawah sejak SD dulu. Disitu saya menulis Nama, alamat rumah (waktu itu belum punya telpon), dan beberapa coretan-coretan aneh.

Ada satu tulisan yang tiba-tiba membuat saya kaget dan tertawa. Saya menulis begini: Sebenarnya saya bercita-cita ingin menjadi Kondektur!

Hah?

Kenapa saya dulu menulis begitu ya?

Gak ada kerennya sama sekali, cita-cita kok jadi kondektur bis! 😀

Oke, mungkin itu ungkapan polos saya waktu itu. Tapi jujur sejak dulu saya ingin sekali menjadi seorang kondektur bis.

Iya, kondektur. Yang kerjaannya berdiri didekat pintu bis sambil naik turun jika ada penumpang akan naik atau turun. Sepertinya saya akan tampak keren dengan balutan seragam warna orange memakai tas pinggang berisi duit recehan sambil ditangan menggenggam segepok duit kertas dan segepok karcis, berjalan dari belakang ke depan minta ongkos kepada penumpang. Keren, kan?

Saya juga akan tampak gagah mengetok-ngetok duit recehan di kaca pintu bis sambil teriak kencang, “Kiriii!!!” sebagai aba-aba supaya sopirnya berhenti.

Sampai sekarang pun kalau melihat kondektur wanita atau kenek perempuan saya suka iri. Kenapa saya dulu gak bisa ngejar cita-cita jadi kondektur. Padahal saya pernah lho berdiri dipinggir pintu dengan kaki sebelah. Saya juga bisa nurunin penumpang terus lari ngejar bis. Narikin ongkos penumpang kemudian meluruskan uang-uang kertas saya juga bisa.

Tapi apa kondektur itu juga termasuk cita-cita? 😀

Nyasar di perpustakaan

Di sudut ruang pelayanan ada sebuah pintu yang menarik perhatianku. Dari kejauhan tertangkap sebuah pemandangan yang menurutku sedikit aneh, sebuah komputer dengan beberapa anak mengerubunginya serta beberapa mbak-mbak muda sedang asyik dimejanya.

Kucoba mendekati kusen yang pintunya terbuka lebar. Saat kulongokkan kepala ternyata dibagian kirinya terdapat jajaran buku yang berdiri rapi yang ditata menurut jenis dan golongannya pada sebuah tatakan kayu panjang bertingkat.

Mataku terperangah takjub.

“Silakan masuk mbak..” seru sebuah suara. Aku pun tertegun. Dan aku pun mencari sumber suara sekaligus melayangkan senyum.

“E.. saya sedang ngambil e-KTP, mbak”

Si mbak yang tadi memanggilku mendekati seraya menyodorkan buku besar untuk kuiisi.

“Silakan baca-baca dulu, mbak. Boleh juga dipinjam..”

Seketika aku tertarik untuk masuk dan ingin melihat lebih jauh tentang ruangan itu.

Ditengah-tengah rak, beberapa anak sedang sibuk mengerjakan tugas ketrampilan diatas sebuah matras lebar. Mereka bekerja berkelompok menyelesaikan pekerjaan sekolah. Dipojokan rak bagian ilmu pengetahuan, 2 anak berseragam SMP sedang asyik mencari-cari buku. Barangkali saja mereka sedang mencari literatur.

Melihat judul buku yang tertata apik dan rapi itu mataku seolah kalap. Rasanya ingin semuanya kulahap saat ini juga. Ingin kuraup buku-buku itu lalu segera kujejalkan kedalam gudang otakku.

Ruangan ini begitu indah dan nyaman. Tulisan-tulisan penyemangat membaca buku yang ditulis didinding dengan font serta warna ala anak-anak membuatku sangat terkesan. Ditambah lagi fasilitas tambahan bagi pengunjung semakin membuat betah berlama-lama disana.

Walaupun fasilitasnya terbatas (komputer 1 unit yang bebas digunakan pengunjung untuk berselancar maya serta meja besar untuk digunakan anak-anak mengerjakan tugas) namun tak mengurangi nilai sebuah perpustakaan dikelas kelurahan.

Buku-buku yang terpajang juga beraneka rupa. Mulai buku-buku tentang UKM, hobi dan ketrampilan, ilmu pengetahuan, bahasa, agama, fiksi, majalah hingga anak-anak.

Ruangannya pun jauh dari kesan berantakan karena di sebelah rak paling pojok terdapat sebuah ‘sampah’ buku, dimana buku-buku yang sudah dibaca harus ‘dibuang’ kesitu sehingga tidak merusak tatanan buku yang sudah berdiri di raknya.

Setelah puas mencari-cari buku, aku pun meminjam sebuah buku milik Dee yang berjudul Filosofi kopi untuk kubawa pulang. Rupanya di perpusatakaan ini seorang pengunjung boleh membawa maksimal 2 buku untuk dibawa pulang dengan jagka waktu meminjam 1 minggu. Ongkos sewanya? Tidak ada, alias gratis! Jaminannya apa? Tidak ada jaminan apa-apa. KTP dan SIM kita aman didompet karena tak perlu ditinggal disana.

Begitulah suasana perpusatakaan kelurahan ngagel rejo, kelurahan yang dari sejak aku kecil hingga dewasa menaungi segala data administrasi kependudukanku.  Sebenarnya sudah lama aku ingin berkunjung kesini. Karena belum ada urusan dikelurahan aku tidak serta merta masuk kesana. Padahal untuk pinjam buku diperpustakaan ini tidak hanya dikhususkan bagi warga yang sedang ‘berurusan’, tetapi sengaja dibuka untuk semua warga kelurahan yang ingin meminjam buku.

Konon perpustakaan Ngagel rejo ini adalah perpustakaan terbaik tingkat nasional dan baru-baru ini mendapat award Nugra Jasadarma Pustaloka 2012 kategori lomba perpustakaan desa tingkat nasional dengan menyisihkan 500-an perpustakaan kelurahan se-Indonesia. Kabar ini juga aku taunya dari teman yang berdinas di perpustakaan daerah kota Lamongan Jawa Timur setelah sebelumnya aku bercerita bahwa di kelurahan ngagel rejo memiliki perpustakaan.

Awalnya sih sempat tak percaya tapi setelah googling dengan keyword Perpustakaan terbaik nasional, ternyata memang betul.

Dari hasil googling itu aku mendapat jawaban mengapa perpustakaan kelurahan ngagel rejo kecamatan wonokromo ini bisa meraih juara. Yaitu karena buku-buku yang dimiliki kelurahan ngagel rejo ada lebih dari 1.000 buku dan memiliki katalog serta karena memenuhi syarat administrasi  yakni adanya struktur organisasi perpustakaan.

Dan menurut Kepala Badan Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya Arini Pakistianingsih, yang dilansir dari situs antar jatim.com

Perpustakaan Ngagelrejo tidak hanya telah berhasil mendongkrak minat baca masyarakat tapi turut mendorong perekonomian dan pemberdayaan masyarakt melalui pembinaan dan pengelolaan UMKM. Disamping itu, sejumlah inovasi dikembangkan di perpustakaan itu di antaranya fasilitas baca bagi penyandang tuna netra serta fasilitas belajar bagi masyarakat di Ngagelrejo. Jadi perpustakaan ini di design menjadi tempat rekreasi yang edukatif yakni sebagai tempat membaca sekaligus rumah belajar yang nyaman. Masyarakat memanfaatkan perpustakaan ini sebagai tempat belajar kedua selain di rumah mereka sendiri.

Sementara itu, Lurah Ngagelrejo Suji widodo menyatakan menyambut gembira atas penghargaan ini. Menurutnya masyarkat terbantu bisa mengembangkan usahanya dari rajin membaca. Saat ini sejumlah usaha UMKM berhasil dikembangkan mulai usaha kuliner, kerajinan hingga pada usaha padat karya. Agar minat baca semakin meningkat, perpustakaan Ngagelrejo juga menggelar kegiatan sekolah terbuka bekerja sama dengan SMPN 12 Surabaya. Dari situ minat baca terutanma anak-anak semakin meningkat sehingga semakin rajin mengunjungi perpustakaan”

Suasana Perpustakaan Ngegal Rejo
Suasana Perpustakaan Ngegal Rejo

Adik2 SMPN 12 memanfaatkan komputer dan sebagian lagi mengerjaka pekerjaan sekolah
Adik2 SMPN 12 memanfaatkan komputer dan sebagian lagi mengerjaka pekerjaan sekolah

Tempat parkir perpustakaan yang penuh dengan gambar da tulisan motivasi
Tempat parkir perpustakaan yang penuh dengan gambar da tulisan motivasi

Kalau di kelurahan teman-teman bagaimana, ada perpustakaannya juga? 🙂

 

RECTOVERSO dan Meet and Greet

RECTOVERSO..  REC.. TO.. VER.. SO..

Cinta tak harus diungkapkan, karena cinta memiliki hati yang pandai mengungkapkan. (Yuniari Nukti – 2013)

RECTO VERSO adalah film yang merupakan adaptasi dari kumpulan cerpennya Dee yang dikemas dalam sebuah buku dengan judul sama yaitu RECTOVERSO.

Dalam buku ini terdapat 11 cerita namun hanya 5 judul saja yang difilmkan. Cerita-cerita itu berjudul: Malaikat Juga Tahu, Firasat, Cicak di Dinding, Curhat buat sahabat, dan Hanya Isyarat.

Film RECTOVERSO ini di Produseri oleh Marzella Zalianty dengan merangkul 4 Sutradara cantik yang antara lain: Olga Lydia, Cathy Sharon, Marcella Zalianty, Happy Salma dan Rachel Maryam.

Meski diambil dari 5 judul yang berbeda, dan pastinya dengan cerita yang berbeda, dengan ending yang berbeda, pemain yang berbeda dan sutradara yang berbeda namun tidak membuat film ini kehilangan pesan yang akan disampaikan. Dari semua perbedaan itu terangkum menjadi satu kesimpulan bahwa Cinta tak perlu terucapkan.

Justru dengan jalan cerita yang terlompat-lompat itu membuat film ini menjadi unik dan penuh makna. Seperti halnya tulisan-tulisan Dee yang penuh intrik, makna serta kekuatan dalam merangkai kata membuat pembaca diajak untuk berpikir kritis tapi juga cerdas dalam memahami sebuah karya sastra.

Dalam memadukan ke 5 cerita itu Marcella sengaja membuat cerita sepotong-sepotong. Seperti misalnya pada cerita Malaikat Juga Tahu diputar dengan durasi beberapa menit, lalu berlanjut dengan Firasat, lalu Cicak di Dinding, Curhat buat sahabat dan yang terakhir Hanya Isyarat kemudian cerita kembali lagi di Malaikat Juga Tahu dan seterusnya. Dengan alur yang seperti itu penonton diajak untuk mampu  mengingat-ingat jalan cerita sebelumnya. Dan inilah keunikan film ini.

Film RECTOVERSO selain di Sutradarai aktris-aktris papan atas Indonesia juga dipenuhi oleh bintang papan atas juga seperti Lukman Sardi, Prisia Nasution, Asmirandah, Widyawati, Dwi Sasono, Yama Carlos, Sophia Latjuba, Cathy Sharon, Marcella Zalianty, Rachel Maryam, Indra Bhirowo, Acha Septriasa, dan masih ada banyak lagi.

Meet and Greet with Marcella zalianti dan Nonton Bareng film Recto Verso

26 Februari kemarin di @Black Canyon Coffee Surabaya Town Square diadakan acara Meet and Greet with Marcella Zalianti dan Nonton Bareng film Recto Verso. Info ini saya dapat dari seorang teman suami yang bekerja di Speedy dan sering ketemu saya juga kalau sedang ada acara komunitas. Dari info itu saya ikut registrasi karena saya pengguna kartu Simpati.

Di tempat registrasi saya hanya diminta menunjukkan SMS registrasi lalu mendapatkan goodie bag, kaos merah Rectoverso, tiket yang bisa ditukar makanan, dan tiket nonton rectoversi di XXI Sutos.

Dari kantor saya langsung datang ke Sutos. Sempat gak pede sih karena gak ada yang kenal, suami juga datang terlambat. Beruntung saya ketemu teman-teman media dari Sindo dan detik saat di lift yang kemudian saya barengi mereka. Rupanya keberadaan media membuat kepercayaan diri saya menguat karena  bersama mereka saya mendapat tempat duduk yang strategis dan walaupun tidak saling kenal kami jadi akrab 😀

Sst.. ternyata Marcella Zalianty itu cantik banget loh, walaupun body nya kelihatan makin berisi. Dan justru Happy Salma yang badannya agak kurus dan makin terlihat sexy hihi..

Acara Meet and Greet di sponsori oleh UseeTV yang merupakan program barunya Telkom. Jadi selain mengenalkan film, Telkom juga mengenalkan keunggulan dari UseeTV yang diantaranya Layanan VoD (Video On Demand) gratis, Live TV, Layanan Radio lokal, Layanan ToVi (Toko Video) yang melayani tontonan video-video flm terbaru box office hanya dengan membayar Rp. 3.500 per film yang dapat ditonton selama 48 jam, atau bisa juga berlangganan selama 1 bulan dengan membayar Rp. 10.000.

Jujur waktu diterangin tentang UseeTV ini saya benar-benar gak nyimak. UseeTV itu apa, yang nerangin juga siapa, yang saya tau cuma mereka itu pegawai Telkom, gitu aja!

Menurut saya semua itu gak penting banget. Bagi saya yang paling penting saat itu adalah mengagumi sosok para artis plus sibuk mencari tempat yang strategis buat ambil gambar mereka. Tapi yang lebih menonjok perasaan saya adalah ketika saya sibuk dengan semua itu, tiba-tiba seorang teman media tanya ke saya “Mbak, itu namanya Pak Satyo, ya?”

Rasanya Mak Jleb aja pertanyaannya. Karena bingung saya ‘iyain’ aja.. habis saya gak ngerti siapa itu. Seandainya yang nanya itu teman saya gak begitu pusing, lha ini kan mereka wartawan. Benar-benar nyari berita. Kalau salah info gimana?

Karena merasa bersalah dan takut memberi informasi yang salah akhirnya saya mulai benar-benar menyimak apa yang disampaikan tentang UseeTV ini.

Dan akhirnya sebelum mereka pergi saya ralat jawaban saya itu. Maaf ya Mas.. masih belum terlambat, kan? 😀

Bersama teman media dan radio
Bersama teman media dan radio

Nobar Rectoverso
Nobar Rectoverso

 

Go Top