Prediksi Tren Blogger Indonesia 2016

Prediksi Tren Blogger Indonesia 2016

Mengawali tahun baru seperti biasa banyak postingan blog membahas tentang resolusi, prediksi, dan si si yang lain. Wajar, Januari sebagai bulan pembuka tahun dijadikan sebagai acuan dalam rangka mengukur konsistensi diri terutama semangat meramaikan dunia blogging yang setiap tahun cenderung meningkat.

Tahun 2016, Liga Blogger Indonesia kembali hadir dengan tema-tema menarik setiap minggunya. Dan tema minggu pertama kali ini adalah Tren Blogger Indonesia Tahun 2016.

Dalam bidang apapun, tren memang tak ada matinya. Seperti halnya di dunia fashion, model pakaian setiap tahun senantiasa berubah. Sepatu, tas, perhiasan, bahkan otomotif sekalipun, selalu mengalami perubahan. Namun setiap perbedaan yang terjadi ada kalanya seperti roda berputar.

Pada era 70-80-an, celana model Cutbray mendominasi pakaian orang-orang dewasa. Terlihat dari pakaian-pakaian yang dipakai Bang Haji Rhoma Irama dan grup Warkop Dono Kasiono Indro, hampir model celananya melebar dibagian bawah. Untungnya saya lahir generasi 80, masa dimana film-film Indonesia sedang booming sehingga saya bisa melihat mode peninggalan era 70-an.

Masa berganti, dan saya menginjak remaja. Eh, celana Cutbray rame lagi. Sebagai remaja yang pengen eksis, saya pakai dong celana cutbray punya Bapak saya. Lumayan keren, siih.. teman-teman saya juga banyak yang bilang keren, kok hehe..

Kembali lagi ke Prediksi Tren Blogger Indonesia 2016

Menurut ‘Ramalan’ saya, Tren dunia blogger tahun 2016 mengalami banyak perkembangan. Seperti kata kartu Tarot The Chariot, prediksi yang saya dapat memiliki arti Penentuan, Penaklukan, Ambisi, Pergerakan, Kemajuan. *Diam-diam sudah kayak tukang ramal aja, ih* 😀

the chariot

Baiklaah, sekarang saya akan konsentrasi meramal nasib Blogger Indonesia setahun kedepan. Tolong siapkan kembang 7 rupa, secengkeh pisang, dan secangkir kopi. Jangan lupa tambahkan beberapa linting tembakau buat ngusir nyamuk.. hihi..

Blogger dan Buzzer

Melihat geliat ramainya dunia blogger dan social media saat ini, besar kemungkinan kemanfaatan blog sebagai media penyampai berita positif (buzzer) sangat diperlukan oleh sebagian kalangan, seperti katakanlah instansi dan perusahaan. Lagi-lagi alasan kejujuran bahasa yang disampaikan para blogger memicu pihak terkait untuk menyandarkan bahu di pundak netizen.

Komunikasi Komunitas

Begitupula perkembangan komunitas yang saat ini makin merajalela. Kemudahan membuat micro group modal aplikasi android, memicu sebagian blogger membangun komunitasnya sendiri. Aplikasi WhatsApp salah satunya yang dapat menampung 100 nomor HP. Jadi jangan heran bila grup-grup komunitas di Facebook yang beranggota ribuan sepi komunikasi. Karena obrolannya lebih intens lewat chatting. Tapi tetap saja, pembangunan komunitas blogger Indonesia masih sesemangat pembangunan MRT di Jakarta hehe..

Jakarta sebagai Bloggerpolitan

Bloggerpolitan, istilah apalagi ini..
Semoga istilahnya gak kliru, kalau salah benerin ya, nemunya asal-asalan inih biar kebaca keren aja hihi..
Karena jumlah bloggernya buanyaaakkk.. jangan mupeng jika tiap hari di Jakarta banyak acara dan undangan blogger. Ada blogger Jakarta mengakui kalau sehari bisa dapat 2 – 3 tawaran undangan!

Jakarta sebagai pusat ‘peradaban’ Indonesia masih dianggap kiblat bagi perusahaan. Di Jakarta banyak kantor-kantor perusahaan bertengger, walaupun kenyataannya produksinya dilakukan di seantero Indonesia Raya.

Sebagai blogger daerah kita jangan merasa iri dengan penghuni bloggerpolitan. Meskipun banyak peluang undangan, tapi rintangannya juga sak bajeg. Macet, udah pasti. Lelah karena jarak tempuh jauh, juga termasuk kendala.

Sebagai blogger daerah kita juga bisa kok mengadakan acara sendiri. Contohnya Arisan Ilmu dan Sunday Sharing Blogdetik yang setiap bulan rutin diadakan. Memang acaranya tidak semewah di Jakarta, godie bag pun juga nggak ada, tapi yang pasti ilmu-ilmu blogger daerah tak kalah pintar dengan blogger Ibukota. Camkan itu!! 😀

Seperti yang dikatakan kartu Tarot The Chariot:

Optimisme dan motivasi akan membawa kesuksesan. Dan sebuah kemenangan dapat dicapai melalui usaha pribadi

So, Prediksi Tren Blogger Indonesia 2016 akan sukses di capai dengan jalan melakukan usaha sendiri secara konsisten dan tak berhenti berusaha.

Kombes Pol RP Argo Yuwono, Terkejut dinas di pulau Jawa

Saat aktif organisasi Kepemudaan di kampung, saya pernah berpikir bahwa menjabat sebagai Hubungan Masyarakat (Humas) itu menyenangkan. Seorang Humas seringnya berinteraksi dengan orang banyak, walaupun kadangkala dipusingkan urusan dan tetek bengek yang berhubungan dengan khalayak ramai. Begitupula yang terjadi pada Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono saat 6 bulan lalu di lantik menggantikan Kombes Pol Awi Setiyono.

Dugaan saya keliru, menjadi Humas tidaklah semudah gambaran saya.

Ketika bertemu beliau di sela acara koordinasi pengamanan momen pergantian tahun bersama Kapolda beserta jajarannya di hadapan jurnalis media, saya mencuri waktu untuk mendengarkan kisah Bapak 2 anak yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Tahanan dan Barang Bukti Polda Kalimanta Timur. “Saya ada disini karena saya adalah ‘corong’nya Kapolda. Apapun yang di sampaikan oleh Bapak Kapolda saya harus tau” jawaban sederhana tapi membuat saya berpikir ulang. “Oh, jadi tugas Humas Polda, begitu, ya..”

Argo Yuwono

Di tengah derai tawa yang hingar, saya ‘mojok’ berdua, eh ber-beberapa orang, ding, tepatnya ber lima *bahasanya mbulet* 😀 di Pasar Rakyat Singgasana Hotel, saya tertarik mendengarkan paparan sepak terjang beliau selama menjabat sebagai Kabid Humas Kepolisian di wilayah Jawa Timur.

Di temani sepiring ketela goreng dan segelas air putih, Pak Argo berkisah tak menyangka bakal dipindah tugaskan di pulau Jawa. Bahkan kertas Surat Tugas yang menyatakan kepindahan ke pulau Jawa di usek-usek sampai ludes untuk memastikan kebenarannya. “Seperti mimpi saja! Sampai sekarang pun saya masih tidak percaya bahwa saya ternyata di amanati tugas di pulau Jawa!”

Kebahagiaan tak terduga yang jatuh kepadanya lantaran selama 24 tahun menjadi anggota Kepolisian selalu mendapat tugas di daerah pelosok Nusantara dengan kondisi alam yang berat dan infrastruktur belum memadai. Meski memiliki latar belakang pengalaman Serse, namun beliau menerima dengan senang hati jabatan barunya menjadi Kabid Humas. Menurutnya, menjadi Humas Kepolisan adalah pengalaman baru. Untuk lebih memahami bidang barunya, Pak Argo tak segan membeli buku dan bertanya kepada rekan yang telah berpengalaman di bidangnya.

Trik ke-Humasan yang selama ini di jalani lelaki penyuka buku – buku Filsafat dan Budaya agar mandat Kabid Humas berjalan baik adalah sering belajar ngomong sendiri di depan kamera video. Trik ini dilakukan agar tidak demam panggung saat berhadapan langsung dengan kamera dan jurnalis. Begitpula saat menghadapi pertanyaan wartawan yang bertubi – tubi, Pak Argo tidak mau gegabah dengan menjawab semua pertanyaan.

“Saya harus fokus, Mbak. Pertanyaan wartawan harus saya jawab satu persatu. Kalau ada wartawan yang tanyanya barengan, tidak akan saya ladeni. Soalnya saya takut salah memberi statement. Lha wong kadang – kadang pertanyaan mereka memancing opini, lho..!” ujarnya dengan logat Jawa kental.

Agar tidak salah menyampaikan, Pak Argo yang asli orang Yogjakarta, kerap merekam statement yang disampaikan oleh Kapolda. Agar lebih memahami kasus yang terjadi, beliau tak segan terjun langsung ke lapangan. Hal ini di lakukan agar Ia paham benar kejadian sebenarnya. Hasilnya, selama 6 bulan bertugas menjadi Kabid Humas, 30 kota di Jawa Timur sudah pernah beliau datangi.

Kebiasaan turun lapangan Ia lakoni sejak bertugas di NTT. Karena tidak ada aliran air, listrik, dan saluran telepon, saat malam hari, Pak Argo sering mengunjungi rumah masyarakat. “Saya ingin mendengar keluhan di masyarakat langsung. Walaupun tidak bisa membantu banyak, namun berada di tengah – tengah masyarakat adalah kegiatan menyenangkan”.

Beliau berkisah tentang pengalaman paling berkesan saat pertama kali menjabat sebagai Kasatserse di wilayah NTT. Pada tahun 1993, beliau harus mengantarkan Surat Panggilan kepada seseorang. Tugas yang tidak lumrah untuk seorang Kasat. Namun kendala jarak dan kondisi medan, bersama tim, beliau turun sendiri mencari alamat yang di tuju. Untuk menuju kesana tim kepolisian harus naik mobil selama 2 jam, naik motor selama 1 jam, ditambah lagi jalan kaki 2 jam. “Waktu itu saya bawa bekal makan sendiri. Untuk minumnya ambil langsung dari air pancuran. Di sana cari air sulit, mbak. Musim kemarau disana lebih lama ketimbang musim hujan”, paparnya.

“Itu masih berangkatnya, belum pulangnya. Sudah sampai disana, orangnya belum tentu datang memenuhi panggilan..” ujarnya. “Kalau gak datang, terpaksa harus jalan kesana lagi…!” Katanya sambil geleng – geleng dan tertawa.

Argo Yuwono1

Kenangan yang tak bisa dilupakan selama tugas di NTT adalah kebiasaan masyarakat setempat yang minta di kasih uang 100 rupiah merah. saat memanggil seseorang, masyarakat setempat harus di kasih uang 100 rupiah merah.

“Pokoknya mau uang yang 100 merah! Kalau gak merah, gak mau datang! Di kasih uang 500, gak mau. Di kasih uang 1000 gak mau. Harus yang 100 merah! Konon uang 100 merah digunakan buat nginang”.

Selain bertindak sebagai Kabid Humas Polda, saat ini beliau juga sedang mengelola beberapa website Kepolisian. Agar tidak ketinggalan informasi, Pak Argo juga selalu mengikuti kemana Pak Anton pergi. “Acara Informal pun, saya harus ada supaya kalau di tanya bisa menjawab. Tugas saya, kan, melengkapi statement Kapolda” tutup Pak Argo yang berniat melanjutkan pendidikan S3 jurusan Psikologi.

Begitulah kesimpulan obrolan saya dengan Bapak Polisi yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Kasatserse dan Kapolres. Dalam catatan saya kisah yang di bagikan sebenarnya masih panjang, Spoilernya adalah cerita saat tugas di Nunukan – Kaltim, daerah perbatasan Malaysia dimana masyarakatnya memiliki jiwa Nasionalisme tinggi yang merayakan Hari Kemerdekaan selama sebulan penuh. Walau Infrastruktur masih jauh dari sempurna namun daerah ini memiliki Beras Adan, yaitu Beras Organik khas Krayan yang rasanya pulen. Konon Kesultanan Brunei menyukai beras Krayan.

Semoga tulisan yang berupa kesimpulan ini (kesimpulan kok panjang :D) bisa menginspirasi kita semua. Dibaca ampe habis, lho yaa.. hihi..

Kombes Pol Yan Fitri Halimansyah: Jadi Polisi karena takut Polisi

“Saya sebenarnya takut, lho, Mbak, sama Polisi. Saat SD kelas 1 saya pernah di tangkap Polisi!”

Kadang-kadang sebuah impian tidak selalu berjalan sesuai cita-cita. Seperti pepatah bilang, manusia boleh berencana, tetapi Tuhan lah yang menentukan. Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Yan Fitri Halimansyah mengalami sendiri bagaimana cita-citanya menjadi seorang Camat kandas di tengah jalan.

Hmm.. jadi Camat?
Beloknya jauh bener, Pak..
Dari Camat ke Polisi? hehe

Usai meresmikan Festival Batu Akik di depan Kantor Kapolrestabes jalan Sikatan Surabaya, tanggal 23 kemarin, saya mengambil kesempatan berbincang dengan beliau di ruangan kantornya. Mumpung berhadapa, sayang kalau tidak dimanfaatkan. Dan apa yang saya lakukan? Yes, ngepoin sepak terjang beliau selama karir di Kepolisian! 😀

Malam itu di kantor Pak Yan Fitri tampak ramai. Selain saya, ada beberapa perwakilan Bonek Surabaya yang juga bertamu di kantor Bapak kelahiran Tanjung Pinang yang akrab di panggil Meneer. Ada juga istri Meneer Yan dan keluarga yang baru datang dari Jakarta.

Pak Yan1

Di sela-sela menikmati makan malam, Meneer Yan bercerita ketakutan pertamanya terhadap korps berseragam coklat. “Namanya Pak Zakaria. Saya ingat betul nama beliau. Saat itu saya di tangkap sama Abang saya karena melanggar lalu lintas. Dan baru tau setelah jadi Polisi bahwa Pak Zakaria saat itu pangkatnya Kopral.”

Ketakutannya terhadap Polisi malah membawa masa kecil Meneer Yan akrab dengan Kepolisian. Tanpa di duga Kakak Meneer Yan menikah dengan Polisi dan Meneer Yan dibawa tinggal di asrama Polisi. Mau tak mau, Meneer Yan harus berada di lingkungan Polisi. Di akhir sekolah SMA, Meneer Yan mendaftarkan diri jadi Taruna Akpol.

“Daftarnya niat apa iseng-iseng, Pak?” tanya saya kepo hihi..

“Serius, sih daftarnya. Tidak iseng tapi juga tidak niat. Pokoknya takut, aja haha..” kelakar Meneer Yan. “Gimana nggak takut, mbak, lha wong lari aja di tungguin, jadi ya pasraah aja. Lama-lama, ketakutan itu jadi pasrah dan keinginan. Tapi banyak takutnya..”

Pelajaran dari seorang Meneer Yan, bahwa sebuah ketakutan harus di lawan dengan keseriusan. Jangan mikir rejeki, karena rejeki sudah ada yang ngatur.

Setelah lulus dari Taruna Akpol, Meneer Yan mendapat tugas melanjutkan ke Sekolah Penerbang Angkatan Udara selama 2 tahun. Disanalah awal mula karir kepolisian itu di tempa. Di saat kabar bahagia lulus dari Sekolah Penerbang, Meneer Yan harus menerima kabar berpulangnya sang Kakak sehingga diusia muda Meneer Yan harus menghidupi 4 keponakan yatim. Untuk menambah penghasilan, sambil bertugas menjadi anggota Polisi, Meneer Yan nyambi dagang sapi bersama 4 orang teman se-liting. “Senin sampai Jumat saya dinas di Polisi, Sabtu Minggu saya kulakan sapi di Lampung” kisah Meneer.

Pak Yan

Saya: “Dengan kesibukan Bapak sebagai Kapolres Surabaya, apalagi sudah larut begini Bapak juga masih ngantor, bagaimana cara Bapak membagi waktu dengan keluarga?

“Istirahat saya memang kurang, mbak. Baru bisa tidur jam 2. Pagi-pagi sudah berangkat lagi. Kalau ada libur ingin menghabiskan waktu bersama anak-anak. Jalan-jalan dan nonton.”

Saat bercerita mengenai waktu, Meneer Yan mengajak saya masuk ke dalam kehidupan pribadinya. Meneer Yan bercerita bahwa waktu yang diberikan untuk anak kurang. Anak-anak Meneer semuanya anak rumahan dan mereka masih suka minta di masakin Mama, dan disuapin Papanya. Selama sekolah, Meneer Yan bahkan jarang ambil raport sekolah dan ikut rapat walimurid.

Saat dinas di Pondok Cabe, Meneer Yan pernah mengalami kecelakaan jatuh dari Helikopter di atas ketinggian 1500 feet untuk menghindari badai di sekitar Bogor. Akan tetapi Allah masih berkehendak menyelamatkan Meneer Yan dengan menjatuhkan heli diatas pohon nangka. Sayangnya heli masih dalam kondisi nyala sehingga terjatuh lagi di kedalaman. Di tengah memikirkan anak pertama berusia 3 bulan di dalam kandungan istri, Meneer Yan berusaha membantu rekannya dan menyelamatkan dirinya sendiri. Pukul 9 malam, Meneer Yan di temukan sopir taksi Citra lalu dibawa ke Samapta Mabes Polri Penerbang. Atas kejadian itu Meneer Yan sempat melakukan pemulihan selama 2 tahun lamanya sehingga batal melanjutkan sekolah ke Amerika yang seharusnya berangkat tanggal 7 Mei 1997, 12 hari setelah tragedi jatuhnya pesawat.

“Kalau sudah pensiun saya ingin jadi pengajar saja, Mbak. Naik motor berdua dengan istri ngajar sana, ngajar sini. Saya ingin ngajar pendidikan bela bangsa dan negara yang sekarang sudah dilupakan generasi muda.”

Saya: “Selama di Polisi, dimana tempat dinas yang paling berkesan, Pak?”

Tanpa berpikir, Meneer Yan menyebutkan, bahwa di Surabaya berkesan. Di Bekasi berkesan. Di Polda Metro, juga berkesan. Semua berkesan karena tiap tempat beda karakter dan beda masalah.

Saya: “Kalau di Surabaya, apa yang meninggalkan kesan di hati Bapak?”

“Surabaya banyak, Mbaak..

1. Berhadapan dengan suporter. Saya heran, kenapa di Surabaya ada 2 suporter olahraga? Saya berusaha adil dan mendekati keduanya mencari duduk permasalahan. Persebaya 1927 dan ISL. Saya prihatin dengan suporter. Mereka terpecah karena kepentingan orang tertentu. Saya harap minimal mereka saling menghargai. Saya tidak memihak siapa salah, siapa yang benar. Saya ingin duduk diantara dua pihak. Dan ternyata mereka punya hati.

2. Membuat Bu Risma menyanyi dan tersenyum. Bisa melawak, melucu, menggoda orang.
Saya: “Memangnya Bu Risma selama ini kenapa, Pak?”
Biasanya marah-maraah… hehe..

3. Melenyapkan begal dan geng motor di Surabaya. Surabaya tidak ada begal dan geng motor. Jangan sampai adik-adik jadi geng motor. Ada begal, saya penggal. Karena begal selalu sadis.

4. Kejahatan di Surabaya sangat tinggi. Walaupun sekarang masih saja ada motor ilang. Satu dua ilang, wajar namanya kota besar. Tapi kami berusaha selesaikan. Dibantu anak buah Kasatreskrim, Polsek-polsek, kami ingin kejahatan di Surabaya lenyap. Saya ingin Polrestabes Surabaya harus berbeda dengan Polrestabes yang lain karena cikal bakal Polisi ada di Surabaya.

Pesan saya kepada Polisi yang lain, kalian harus memiliki mental pejuang agar saat purna nanti kalian tidak menyesal. Mumpung masih berseragam, kalian masih boleh nyemprit orang, boleh menghentikan orang, boleh nangkap orang. Puaskan lah itu. Jangan sampai saat purna kalian tidak meninggalkan kesan apa-apa.

Masa yang berjalan akan habis. Oleh karena itu tangkap penjahat sebanyak-banyaknya. Jadi Polisi harus tegas. Tegas dalam artian melayani. Transparan. Jangan sampai tajamnya ke bawah, ke atasnya tumpul. Jadi Polisi harus bisa jadi teladan. Klo gak bisa memberikan teladan nanti masyarakat mencontoh siapa?”

Ada banyak PR yang harus diselesaikan Meneer Yan Fitri Halimansyah sebagai Kapolrestabes di kota Surabaya ini. Namun Meneer Yan optimis bahwa arek-arek Surabaya mudah bersahabat. Bersama jajaran Kepolisian di Surabaya, Mener Yan berharap dukungan masyarakat terhadap kepolisian. Boleh takut dengan Polisi, tapi takut yang positif. Kalau masih ada yang takut melihat Polisi, saya doakan kalian semua menjadi camat haha..

Kopdar Teman Asyiiik; Dari Tas Goni sampai Komunitas KOBEL

Setelah mengikuti workshop KolaborAsyiiik bersama penggiat komunitas, keesokan hari para seniman dan pengrajin lokal bertemu dengan para blogger di Jakarta. Sebanyak 20 blogger melakukan kopi darat sekaligus membahas potensi kerajinan daerah. Alhasil, pertemuan ini menghasilkan obrolan kolaborasi yang asyiiik..

2015-11-13_06-53-57

Hampir jam satu siang saya tiba di Restoran Demang, Sarinah Plaza, tempat Kopdar Teman Asyiiik diadakan. Hujan yang sempat turun sebentar membuat suasana terasa sedikit syahdu. Di dalam Restoran Demang, para blogger dan seniman sudah berkumpul semua, dan saya masuk dengan mata terbelalak. Lihat kanan, lihat kiri, semuanya laki-laki!

Aseemmm.. blogger yang datang semuanya laki-laki.. perempuannya hanya dua, saya dan Neng Biker. Oh Maiii.. saya bak perawan terperangkap di sarang penyamun.. haha..

Untung penyamunnya baik-baik. Begitu masuk saya langsung mengenali wajah-wajah yang selama ini akrab di Facebook. Sebaliknya, mereka juga sok akrab gitu senyum-senyum ma saya.. *nyeleb dikit, boleh* wkwk

KolaborAsyiiik seniman dan pengrajin daerah

Sebelum mulai acara semua yang di sana harus mengenalkan diri kemudian dilanjutkan sesi makan siang. Selanjutnya para seniman tampil satu persatu memperkenalkan produk andalannya.

1. Bang Ipul, Pengrajin Topi Bambu dari Tangerang

2015-11-13_06-47-43

Produk Kerajinan Topi Bambu Tangerang ada beberapa macam, diantaranya topi, tas, piring, sepeda, hingga rumah bambu. Sampai saat ini pemasaran produk bambu sudah merambah ke pasar luar negeri, terutama Asia, seperti India dan Jepang. Banyaknya peminat produk bambu di luar negeri, kini Komunitas Bambu berinisiatif untuk ‘Mem-bambu-kan dunia’

2. Mas Nanang, Pengrajin batu dari Mojokerto

Kerajinan Batu yang di produksi Mas Nanang lebih banyak berupa patung. Untuk memproduksi kerajinan ini, Mas Nanang menggunakan batu andesit. Pemasaran kerajinan batu banyak di pesan dari Bali.

2015-11-13_06-47-57

2015-11-13_06-52-52

3. Mas Mursito, Kerajinan Ikat dari Blitar

Selama ini blangkon hanya dikenal di Yogja dan Solo, tapi ternyata Blitar juga punya kerajinan ikat. Keunikan ikat blangkon dari Blitar adalah cara ngikatnya. Dan gak sembarangan, ada filosofinya lhoo..

2015-11-13_06-48-11

4. Abah Iwan ‘Goni’, Kerajinan Goni dari Sukabumi

Ini yang lebih dari sekedar unik. Abah Iwan datang dari Sukabumi menunjukkan kreasinya yang dibuat dari bahan karung goni. Seperti Tas, Gelang, ikat pinggang, topi, hingga rompi.

2015-11-13_06-48-56

5. Pak Tri Suryanto, Komunitas Reog dan Jaranan Surabaya

Diantara Kesenian di Indonesia, reog merupakan salah satu seni yang mahal. Mahal dalam arti sebenarnya, yaa.. Gimana nggak mahal kalau bulu merak dan kepala macannya aja harganya bisa tembus 1 M! M, asli.. bukan M-beeerr 😀

2015-11-13_06-50-12

Seperti yang kita lihat saat pertunjukan reog, properti pertunjukan reog sangat banyak. Selain reog-nya sendiri, ada jaranan, pecut, dan lain-lain. Belum penari yang jumlahnya puluhan. Untuk sekali pertunjukan, Pak Tri mematok harga Rp. 5 juta untuk sekali tampil.

Banyak yang salah mengira, bahwa sebenarnya tujuan kesenian reog adalah menyampaikan pesan moral. Jadi bukan mistiiik..

6. Mas Fathul Huda, Komunitas Batik Pekalongan

Dalam dunia perbatik-an, kota Pekalongan adalah rajanya. Salah satunya kain Batik legendaris Jumilah Kedung Wuni.

2015-11-14_07-34-51

2015-11-13_06-50-28

7. Pak Daryanto, Komunitas Sandal Bandhol dari Purwokerto

Sandal Bandhol yang di perkenalkan oleh Pak Daryanto ini terbuat dari ban, sodara. Model-modelnya bagus dan unik. Kalau beli sandal Bandhol dijamin awet, gak mudah putus.

2015-11-13_06-52-28

Komunitas Kobel

Ternyata, ya, kopdar Bapak-bapak blogger lebih runyam suasananya haha. Gak ada mati ketawa. Ngakak teruuuss.. malahan ada sesi foto-fotoan dan obralan. Khas Bapak-bapak, semua mau dibeli, dan semua maunya muraaah..

2015-11-13_06-49-19

Untuk mengenal lebih dekat dekat para seniman, Mas Karel sebagai host siang itu membuat grup-grup kecil dimana para blogger diberikan waktu ngobrol bersama mereka. Tidak hanya ngobrol, blogger dan seniman ini diharapkan dapat berkolaborasi dan saling memberikan masukan agar kerajinan lokal membudaya. Jangan sampai kerajinan asli Indonesia yang sudah susah payah di bangun kemudian di akui negara lain. Biasanya, sih, kalau ada pengakuan baru kitanya heboh. Iya nggak sih? Hihi.. Nah, makanya, mulai sekarang hayuuk lah kita saling mencintai produk dari negeri sendiri. Hayuk menghargai kesenian daerah yang uniknya tak terbantahkan.

2015-11-13_06-52-01

2015-11-13_06-50-57

Dalam kopdar Teman Asyiiik kali ini, para Bapak-bapak Blogger mendirikan komunitas baru dimana anggotanya laki-laki semua. Sebelum palu di gedok, mereka urun rembug nama komunitas yang akan di usung. Ada yang menyarankan Komunitas Blogger Batangan, Komunitas Bapak Blogger, Komunitas Laki Lucky, dan Komunitas Blogger Laki.

Akhirnya, tepat pukul 16.32, di saksikan 2 blogger cewek, salah satunya saya *ehem*, di saksikan 7 seniman daerah, di bawah rintik hujan yang mesra, akhirnya terbitlah deklarasi Komunitas Blogger Laki yang disingkat KOBEL!!! Yeayyyy… Selamaattt.. sukses untuk Komunitas Kobel..

2015-11-13_06-54-46

Terima kasih Komunitas Blogger Laki, semoga deklarasi ini menjadikan pertemanan antara blogger dan seniman semakin kuat. Begitupula potensi kesenian dan kerajinan lokal ikut berkembang di kancah nasional dan internasional. Untuk Sampoerna Kretek terima kasih telah mendukung acara positif ini, semoga tahun-tahun selanjutnya pertemanan ini tetap berlanjut menjadi persahabatan 🙂

Sek-sek.. numpang narsisi, Reek 😀

2015-11-13_06-55-02

Cangkruk ‘kerakyatan’ Polisi dan Netizen Surabaya

Saya sering cangrukan. Cangkruk sama teman komunitas, cangruk sama penjual bakso, cangkruk sama satpam, cangkruk sama sopir angkot..

Cangkruk Netizen

Cangkruk itu seru dan menyenangkan. Tidak ada jabatan, tidak ada bawahan, semua membaur jadi satu, merakyat. Dari cangkruk biasanya muncul ide-ide brilian, menularkan aura positif pada diri sendiri dan orang lain, serta bisa menjadi alternatif memecahkan persoalan.

Tanggal 3 November 2015, Warung Kopi ‘rakyat’ Mbah Cokro menjadi tempat cangkruk Netizen bersama Kapolda. Di balut suasana santai, sebanyak 30 netizen Surabaya membaur bersama jajaran Kepolisian. Mulai dari Kapolda, Kapolres, hingga Srikandi Polisi.

Cangkruk Netizen Surabaya

Lalu, apa saja, yang di obrolkan dalam cangkruk’an, itu?

Hmm.. sebelum saya mulai ke inti obrolan, saya buka dulu, ya, sambutan yang di sampaikan Mas Akbar sebagai moderator malam itu.

“Selamat malam, dan selamat datang kepada Bapak Kapolda, Irjen. Pol. Anton Setiadji…..”

Tiba-tiba Pak Anton meralat, “Mas jangan panggil Irjen. Panggil Anton saja. Kalau malam saya bukan Polisi. Di sini kita sama-sama rakyat biasa”

“Nyeeesss..” adem dengarnya 😀

Kapolrestabes, 'Menir' Yan (kiri) dan Kapolda Anton Setiadji
Kapolrestabes, ‘Menir’ Yan (kiri) dan Kapolda Anton Setiadji

Kekeliruan itu membuat suasana cangkruk menjadi riuh oleh tepuk tangan. Kami tidak lagi seperti pejabat publik dengan warga biasa. Apalagi tempat duduk kita juga sama, duduk di atas bangku bambu. Seketika kegiatan ini menjadi semacam cangkruk persahabatan. Bagi saya, inilah esensi cangkruk sebenarnya.. 🙂

Seperti yang pernah saya tulis di postingan 5 jam bersama Polisi, Pak Anton adalah Kapolda baru di Jawa Timur. Sebagai ‘warga baru’ Surabaya, Pak Kapolda bersama jajarannya ingin mengenal dekat dengan warga Surabaya, salah satunya cangkruk bersama netizen.

Mengapa harus netizen?
Karena netizen dianggap sebagai warga yang selalu jujur dalam mengungkapkan sesuatu di media sosial. Netizen dianggap cocok mewakili masyarakat untuk menyampaikan uneg-unegnya.

Sesuai konteks, Pak Anton ingin mendengarkan keluh kesah yang dirasakan masyarakat Jawa Timur, khususnya Surabaya, tentang kinerja polisi selama ini. Pak Anton melihat polisi belum sepenuhnya dekat dengan masyarakat. Begitupun masyarakat juga belum memahami seluk beluk kinerja kepolisian.

“Saya memahami banyak Polisi brengsek sehingga menjatuhkan citra Polisi itu sendiri. Oleh karena itu agar saling mengenal satu sama lain, mari kita cangkruk bersama..”

Cangkruk’an malam itu memberikan inspirasi baru untuk saya, juga kepada para netizen. Polisi yang selama ini di-cap ‘suka nilang pengendara’ (dan sikap buruk lainnya sehingga menurunkan citra Kepolisian) punya niat baik untuk memperbaiki diri.

Sebagai institusi pengayom masyarakat, Polisi juga turut berpartisipasi revolusi mental yang dicanangkan Presiden. Sebaliknya, sebagai masyarakat kita juga harus mendukung niat baik ini. Caranya dengan tidak mengajarkan anak-anak bahwa Polisi adalah institusi yang harus di takuti. Anak-anak harus diajari untuk mengenal Polisi dalam citra yang baik. Apabila ada Polisi yang bertindak ‘kasar’, jangan segan-segan melaporkan, karena laporan warga dapat menjadi masukan untuk kinerja Polisi yang lebih baik.

Dalam cangkruk malam itu, Bapak Kapolda menerima banyak kritikan berkaitan kinerja Polisi dari netizen. Meski begitu beliau tetap menjelaskan secara gamblang sehingga netizen puas mendengarnya. Suasana menjadi lebih guyub lantaran Pak Anton menyampaikan jawaban dengan gaya humor. Kontan saja warung Mbah Cokro dipenuhi candaan meriah.

Suasana Cangkruk Netizen dan Kapolda di Warung Mbah Cokro. Penuh kerakyatan...
Suasana Cangkruk Netizen dan Kapolda di Warung Mbah Cokro. Penuh kerakyatan…

Tidak sendiri, Pak Kapolda juga mengenalkan anggota jajarannya, mulai dari Kapolrestabes, Dir. Narkoba, Dir. Lantas, Kabid Humas, dan tak ketinggalan, Pak Kasatserse ‘wangi’ yang malam itu jadi jujugan Emak-emak Blogger diajak ber-selfi haha..

Pak Yan Fitri, Kapolrestabes yang akrab di panggil Menir oleh para Srikandi, menyampaikan bahwa situasi kota Surabaya sangat kondusif. Masyarakatnya tidak mudah terpancing terhadap hal-hal yang memicu perselisihan. Kondisi seperti ini sangat membantu kepolisian dalam menekan angka kriminalitas di Surabaya.

Malam itu Pak Yan Fitri juga mengenalkan Srikandi Polisi kepada para netizen. “Selama ini Polwan dianggap sebagai faktor pendukung, dan pembentukan Srikandi Polisi berfungsi untuk mengakomodir masyarakat.”

Srikandi Polisi
Srikandi Polisi

Kehadiran Srikandi Polisi di tengah-tengah kami membuat suasana cangkruk menjadi lebih terang. Kepiawaian Srikandi di tunjukkan kepada netizen, seperti ketika bagaimana menangkap pelaku kejahatan. Pokoknya keren, deeh..

Mas Dito ngapain tutup muka, belum diapa-apain wkwk
Mas Dito ngapain tutup muka, belum diapa-apain wkwk

Pak Kapolrestabes sempat menyinggung kantornya yang sekarang di gunakan sebagai museum sejarah. Museum sejarah ini sudah di buka untuk umum, lho.. jadi bagi warga Surabaya yang ingin mengenal lebih banyak sejarah perjuangan kota Surabaya dipersilakan berkunjung ke museum ini. Gratis!

Acara cangkruk malam itu di tutup dengan foto bersama dan selfi-selfian. Biar adil dan semua kebagian frame, selfinya pakai si Tombol Narsis alias Tomsis hehe.. Terima kasih Pak Anton yang sudah menemani cangkruk. Semoga masih ada kesempatan cangkruk-cangkruk di lain hari. Saya ucapkan Selamat bertugas kepada anggota Kepolisian Jawa Timur. Merdeka! 😀

Supaya semangat saya kasih bonus foto Emak-Emak bersama Pak Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, Takdir Matanette, yang katanya.. hm.. Polisi wangi hihi..

Ehem! :D
Ehem! 😀

Jadi Tengu

Ada yang tau hewan Tengu?
Saya tidak tau, makanya saya tanya haha..
Maklum belum pernah lihat Tenguu.. Mungkin saja pernah papasan di jalan, karena saya dan Tengu belum kenalan, jadi nggak saling sapaan 😀

Jalannya Tengu kayak gimana, sih? Trus suaranya seperti apa? Aktifitasnya di dunia nyata ngapain aja? Maaf ya kalau pertanyaannya rombongan. Males googling wekeke..

Pada waktu sesi Fun Games acara Blogger Camp kemarin tim saya pusing mikirin gaya Tengu berjalan. Makin ruwet gimana niru suaranya Tengu. Ya, wajarlaah.. kami memang bukan bangsa Tengu haha..

Entah gimana awalnya tiba-tiba muncul ide kasih nama tim Tengu. Tim lainnya ada yang Semut, Kingkong, Singa, dan tim saya, Tengu! Jauh bangeet.. yang lain sangar-sangar, kami malah pakai nama Tengu!

Mas Frenavit bilang, Tengu gak ada suaranya. Aktifitasnya diam. Di apa-apain, ya tetep diam. Kayaknya Mas Frenavit paham benar, ya, gimana gaya Tengu. Mungkin dia mantan anak Tengu hihi..

Dan barusan saya googling, ternyata Tengu adalah binatang kecil berkerabat dengan Laba-laba. Ukuranya hampir sama seperti Kutu. Kebiasaan Tengu kalau menggigit memunculkan rasa gatal hebat. Tau nggak dimana Tengu suka bertengger? Di kulit bagian tubuh yang vital! Astagaa.. kecil-kecil tak tau diri bener si Tengu ini.. 😀

tengu
si nakal, Tengu.
Gambar dari www.wikipedia.com

Ketika instruktur minta niruin kita gaya Tengu, kami ber 8 seketika ancang-ancang gaya pelawak Gogon. Kaki dimajukan satu, tangan bersedekap, dan kepala menunduk. Diam semua. Sampai Mas instrukturnya bingung haha..

Seru ikut Fun Games di The Pines. Baru kali ini saya puas main sambil lari-lari berjoget dangdut. Semua peserta berdiri melingkar, tidak boleh gandengan, dan nurut apa kata instruktur. Persis anak Pramuka Siaga main-main sambil ngemil jajanan 90an..

Materi Fun Games yang di lontarkan instruktur cukup membuat saya tegang. Terutama tegang di bagian pipi. Aduuh.. ngakak gak habis-habis. Sampai tertawa nangis-nangis.

Jadi, sesi mainan sengaja dibuat agar seluruh Blogger Camp mengenal dekat satu sama lain. Tidak ada geng-geng-an. Yang kenal sama yang tidak berbaur jadi satu. Tidak ada hukuman, kalaupun ada yang kena hukum disuruh joget Sakitnya tuh disini 😀

Fun Games di sambung Flying Fox. Seruuu..!
Fun Games di sambung Flying Fox. Seruuu..!

Permainan di awali berdiri melingkar lalu berjalan mutar sambil joget. Saat ada aba-aba “Cari teman ber 2” artinya saya harus mencari teman satu lagi. Sudah itu joget lagi. Ada aba-aba, “cari teman ber 5” satu sama lain royokan membentuk tim 5 orang, begitu seterusnya. Jadi gandengannya ya gak mungkin 4 L, alias Lo Lagi Lo Lagi 😀

Terakhir baru lah dibentuk tim 7 orang dimana mereka harus kompak satu sama lain. Yang gak kompak kena hukuman rame-rame. Pokoknya asik lah.. jarang blogger bisa kumpul-kumpul begitu. Makasih Blogger Camp.. kemasan acaranya menarik sangaat..

Puas main 2,5 jam, terakhir adalah pemenang tim terbaik. Hadiahnya apa? Dapat piala doong.. Piala berupa Nanas Sunpride! Haha..

Sebelum berkemas-kemas kembali ke Surabaya, kami antri naik tangga Flying Fox. Eh, asik juga ternyata ya main flying fox. Bisa terbang lama..

Halo Super Tengu???
Krik.. krik.. krik..

Ini Video gaya si Tengu:

Hari Blogger Nasional, yuk semangat Membangun Kredibilitas Blogger!

Tanggal 26 – 27 Oktober kemarin hawa blogger kota Surabaya sangat panas. Terutama hawa di kalangan para netizen (baca blogger) yang selama 2 hari di gembleng wawasannya tentang bagaimana membangun kredibilitas blogger.

Blogger di depan Hotel Yello Jemursari Surabaya
Blogger di depan Hotel Yello Jemursari Surabaya

Sudah tau, kan, kalau tanggal 27 ada momen penting?
Kalau ada yang nyebut Hari Listrik Nasional itu betul, tapi masih ada lagi tanggal penting untuk para blogger. Jadi, tanggal 27 Oktober diperingati sebagai Hari Blogger Nasional…

Yang baru tau perayaan ini kasian banget, deh, kamuu… hehe

Tahun 2015 ini kembali perayaan Hari Blogger di laksanakan dengan meriah. Setelah 2 tahun perayaan besar di kalangan blogger hiatus, tahun ini Juara Agency membuat gebrakan dengan konsep yang jauh berbeda dari sebelum-sebelumnya, yaitu menghadirkan even Blogger Camp.

Even Blogger Camp merupakan acara kopdar Blogger yang di selenggarakan di 4 kota. Diantaranya Surabaya, Jakarta, Makassar, dan Purwokerto. Kemasan acaranya sangat menarik, blogger diajak tinggal di hutan dan menikmati suasana alam yang jauh dari rutinitas ibukota.

Kopdar di mulai jam 14 di Yello Hotel Surabaya. Yello Hotels ini adalah hotel baru di kawasan Surabaya Selatan. Konsep yang diusung Yello Hotels berbeda dari hotel lainnya. Di sana kita dapat menemukan oase technologi yang dibalut dengan kesan casual. Tamu yang menginap di hotel ini tidak harus datang langsung menemui resepsionis, sebaliknya, resepsionis yang menemui tamu dengan membawa gadget dan tamu dipersilakan mengisi data sendiri secara online. Ketika duduk menunggu kita dapat bermain game yang telah disediakan. Yello Hotels memiliki 150 kamar dengan 1 jenis kamar, yaitu Yello Room. Hotel ini dibawah manajemen Tauzia Hotel.

Mainan gadget di Yello Hotel
Mainan gadget di Yello Hotel

Puas melihat kamar dan bermain game, peserta Blogger Camp memulai perjalanan menuju The Pines, Taman Dayu, Pandaan, Jawa Timur, menggunakan bis Blue Bird. Fasilitas bis Blue Bird mewah dan nyaman. Panitia bahkan sempat mengadakan kompetisi karaoke dangdut sambil berjoget. Pemenang lomba mendapatkan hadiah voucher Blue Bird. Dia adalaaahh.. Upit!! Selamaatt.. 😀

Upit Karaoke di Bis Blue Bird
Upit Karaoke di Bis Blue Bird

Blogger Camp Surabaya 2015

Seperti yang saya bilang diatas, konsep Blogger Camp sangat seru. Di The Pines, blogger akan menginap di dalam tenda, dengan 1 tenda berisi 6 orang. Jelas ini akan membuat persahabatan para blogger menjadi lebih lekat. Bila sebelumnya ada yang belum mengenal satu sama lain, maka ada harapan mereka pulang membawa jalinan pertemanan yang lebih ‘romantis’.

Terbukti, ketika malam hari, saya dan para blogger kompak berkumpul di pendopo Bale Segawe. Acara sharing yang sebelumnya bersamaan dengan api unggun harus di tunda selama beberapa jam karena blogger sangat antusias mendengarkan materi narasumber, yang malam itu di bawakan oleh.. hmm saya :D, yang membahas tentang fenomena job review, juga narasumber dari tim Blue Bird.

Antusias mendengarkan nara sumber
Antusias mendengarkan nara sumber

Salah satu pesan yang saya sampaikan kepada teman-teman peserta BloggerCamp adalah memiliki 2 blog. Blog tematik dan blog campur-campur. Usahakan juga agar memakai blog berdomain. Domain sekarang murah harganya, di Qwords.com kapan lalu malah menjual denga harga 50 ribu, saja. Saya juga meyakinkan ke teman-teman kalau memiliki blog domain tak ada ruginya. Insya Allah hosting dan domain yang dibayar pertahun dipastikan balik modal.

Malam itu tim Blue Bird dan blogger ‘ngeblend’. Blue Bird adalah perusahaan keluarga yang hingga saat ini tetap eksis. Walaupun banyak persaingan, namun Blue Bird selalu mempertahankan pelayanannya kepada tamu dengan baik, jujur, dan sabar. Dalam bisnisnya, Blue Bird juga berupaya bermain ‘cantik’ dan tetap bersahabat dengan masyarakat.

Hingga jam 11 malam, sharing yang berjalan gayeng akhirnya berakhir. Sambil ngejagung bakar, kami mengitari api unggun, bersenang-senang menghabiskan malam. Hingga jam 1 malam kami berpisah ke masing-masing tenda.

Blogger Camp

Pagi hari semua blogger kompak berkumpul dan melakukan senam pagi sebab jam 8 mereka harus sudah berkumpul di pendopo untuk mengikuti sharing session. Tapi ada beberapa yang masih di tenda sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Ada yang live tweet, ada juga yang live blog. Walaupun sinyal sempat naik turun, tapi kami tetap semangat.

Mas, Mas, mau beli hosting di QWords.com, yaa... :D
Mas, Mas, mau beli hosting di QWords.com, yaa… 😀
Senam pagiii.. biar sehat!
Senam pagiii.. biar sehat!

Ngomong-ngomong sinyal, saat bertemu dengan marketing The Pines, Bu Tatik, saya bertanya mengenai provider yang bagus di kawasan hutan ini. Bu Tatik bilang kalau sinyal yang bagus di The Pines adalah menggunakan Indosat. Yeayyy.. Love Indosat.. 

Sharing session pagi itu di bawakan oleh 3 narasumber. Yaitu Mbak Swastika Nohara, Script Writer dan blogger, Mas Frenavit, digital marketing communication, dan Kang Yayat Sudrajat, blogger dan penggiat online CPA.

Sambil mendengarkan narasumber, sambil ngedraft live blog ^^
Sambil mendengarkan narasumber, sambil ngedraft live blog ^^

Menurut Mbak Tika ngeblog harus dijadikan kegiatan bersenang-senang. Di sela-sela menceritakan pekerjaannya sebagai pembuat script film, Mbak Tika juga membocorkan rahasia menulis konten job review yang baik agar tidak nampak jelas konten berbayar.

Mas Frenavit juga menyambung bahwa sah-sah saja blogger menjadi ‘blogger amplop’, tetapi konten juga harus diperhatikan. Supaya klien puas, kemasan konten harus dibalut dengan indah. “Jangan hanya mau amplopnya saja, tetapi konten juga harus diperhatikan” tutup Mas Frenavit.

Kang Yayat sebagai pembicara ketiga tak mau kalah dengan hadir membawakan etika blogger. Dunia blogger saat ini sangat meluas. Oleh karena itu kita harus pinter-pinter menjaga hubungan baik kepada sesama blogger.

Diskusi ini lumayan seru. Setelah itu dilanjut dengan live blogging.
Sebelum kembali ke Surabaya, para blogger diajak seru-seruan mengikuti fun games dan flying fox. Selama hampir 3 jam, para blogger seru-seruan bersama. Puas dan lelah pun terbayarkan dengan buah Sunpride yang tiba-tiba hadir di tengah-tengah kami. Hmm.. capek dan lelah langsung hilang seketika setelah makan buah Sunpride. Tanpa sadar berat badan langsung turun 5 ons! Hihihi..

Fun Games di sambung Flying Fox. Seruuu..!
Fun Games di sambung Flying Fox. Seruuu..!

Setelah bermain dan seru-seruan bersama, kami kembali naik bis Blue Bird menuju Surabaya. Setelah hari itu saya pulang dengan perasaan riang. Keakraban dan kekompakan yang diciptakan teman-teman blogger Jawa Timur menjadi tanda bahwa kami adalah satu. Satu Blogger Indonesia yang siap berbagi informasi positif kepada semua orang.

Akhir kata, saya ucapkan Selamat Hari Blogger Nasional!!

Go Top