[GagasDebut] Review Novel: One More Chance

Cintaku tak bisa habis untuknya.

Naif, tapi itulah cinta yang kurasa.
Tak sepadan dengan waktu yang selalu tepat waktu.

Tapi tahukah kamu dimana letak ironisnya situasi ini,
ketika menyadari cintaku ternyata berbanding terbalik dengan perjalanan waktu.

Pintaku ini nyaris mustahil. Tapi, jika memang bisa, sudikah waktu berhenti sejenak untuk mengabulkan ingnku, agar bersamanya lebih lama lagi?
Karena bersama dia selamanya pun sebenarnya tidaklah cukup…

one-more-chance

Ada yang bilang kalau mereview blog tidak boleh mengatakan jelek atau bagus. Akan tetapi sah-sah saja kan jika saya memberikan kritikan sebagai ungkapan ketidakpuasan saya walau sebetulnya bukan ingin berkata nyinyir terhadap penulisnya.

Seperti kebiasaan saya setiap akan membeli buku, saya terlebih dulu melihat covernya dan membaca sinopsisnya. Kalau perlu mengintip juga isinya. Tentu saja saya mengintipnya menggunakan buku yang kemasannya sudah terbuka.

Sama halnya ketika memilih novel One More Chance (OMC) karya Ninna Rosmina. Saat membaca judulnya saya pikir novel ini menceritakan suatu hubungan yang sudah terjalin kemudian retak lalu salah satu pelakunya ingin kembali lagi. Ternyata dugaan saya salah, novel ini malah menceritakan seorang gadis yang menderita Leukimia. Hmm.. bisa juga sih, walaupun agak-agak gimanaa gitu, karena penyakit ini kan biasanya berhubungan dengan umur. Dan tebakan saya mungkin endingnya meninggal dunia. Ternyata benar.

Diawal-awal cerita penulis tidak menyebutkan nama penyakit yang diderita Dawai atau Vio, sang tokoh utama. Akan tetapi saya yakin pembaca bisa langsung menebak nama penyakit itu.

Yang membuat aneh menurut saya adalah nama sang tokoh. Violina Dawai Martadipura (dipangil Dawai dan Vio) dan Anugrah Putra Cello (dipanggilnya Cello). 2 Nama yang berhubungan dengan musik. Buat Cello mungkin pantas karena dia seorang gitaris band dikampusnya. Sedangkan Vio, dalam dirinya tidak ditemukan sesuatu sama sekali yang berhubungan dengan musik, melodi atau lagu. Nyanyi aja yang dihapal Cuma It’s my life Bon Jovi. Dan penulis juga tidak menyinggung latar belakang orang tuanya Dawai sebagai penyanyi atau pecinta seni.

Vio kuliah di jurusan Arsitektur, jurusan yang biasanya dihuni para cowok-cowok, namun dinovel Vio seolah tak memiliki teman cowok, kecuali kakak tingkat atasnya seperti Cello, Wisnu dan Rizky. Teman-teman Vio yang sering disebut Rully dan Rida.

Awal ketertarikan Vio mengambil jurusan ini karena terpesona dengan Cello saat menonton konsernya. Dia tertarik karena Cello memiliki rambut gondrong.

Dari awal membaca novel ini saya begitu sulit menemuka benang merah. Hingga bab ke 15, saya tak menemukan gregetnya. Adegan yang muncul masih Vio yang terus menerus ngejar-ngejar Cello. Bahkan beberapa bab saya diajak membaca kisah Vio ketika duduk dibangku SMA. Saya nggak ngerti maksud bab ini apa. Disana diceritakan Vio menjadi anak yang kaku, gak mau bergaul dengan teman-teman, bergabung menjadi anak geng, hingga ikut-ikutan balap motor liar. Kesannya cerita ini makin melebar kemana-mana.

Rasa haru novel ini baru muncul di bab akhir, yaitu saat Vio berada di detik tutup usia. Vio dan Cello duduk di taman. Sambil menyandarkan kepala di bahu Cello Vio berpesan agar Cello mau menjaga Putri Dawai, puteri mereka.

Vio tak menyesal kalau harus meninggal saat itu karena dia merasa 100 wishesnya sudah terisi penuh: jatuh cinta, merasakan patah hati, menikah, memiliki anak, dan meninggal dalam pelukan lelaki yang mencintai da dicintai olehnya.

Aku tahu kalau Tuhan itu Maha Adil, aku diciptakan oleh-Nya dengan sangat sempurna tanpa kekurangan satu apa pun dan aku diberikan akal untuk berpikir. Bahkan sampai detik ini, aku tetap merasa sempurna

Membaca novel ini secara keseluruhan membuat saya tidak begitu nyaman. Karena selama saya berkutat dengan halaman tulisan bukan cerita yang saya dapatkan tetapi saya jadi seperti mendengarkan orang ngobrol. Kalau obrolan berbobot dan masih ada hubungan cerita sih gak masalah, tapi obrolan yang saya dapatkan kesannya bertele-tele. Anak gaul bilang menye-menye. Entahlah apa itu artinya. Obrolan yang mestinya gak perlu seharusnya gak usah dibuat panjang yang akhirnya malah menghabiskan halaman tanpa memberi cerita berbobot.

Untuk adegan. Ada catatan yang menurut saya janggal. Yaitu saat Cello mengajak Vio nikah. Biasanya dalam adegan romantis-romantisan seorang lelaki yang mengajak nikah cewek menggunakan kata-kata mesra atau sikap yang menunjukkan keseriusan. Menurut saya kalau Cello ngajak nikah trus bilang, “Vio, yuk kita nikah” kok kayaknya seperti ngajak makan bakso, ya.. dataaaar bangeet..

Apalagi saat mengutarakan itu dikatakan kalau Cello keluar dari ruang sidang lalu mendekati Vio yang berdiri di kaca jendela. Namun di bab selanjutnya diungkit kembali bahwa Cello mengucapkannya di koridor kelas, didepan seluruh mahasiswa dan dosen yang hadir sehingga mendapatkan banyak tepuk tangan. Mana nih yang bener?

Satu lagi, untuk panggilan. Kadang dipanggil Vio, kadang Vi. Kalau buat saya sih enaknya Vi. Sebagai catatan lebih baik tidak menggunakan banyak panggilan seperti Dawai, Vio, Vi. Cukup satu saja asal pas ditelinga.

Yang paling saya suka adalah tampilan covernya. Berwarna hijau dengan pita warna merah. Pita ini yang membuat novel ini enak dilihat karena berhubungan dengan penderita kanker.

Judul: One More Chance
Penulis: Ninna Rosmina
Penerbit: Gagas Media
Terbit: Cetakan pertama, April 2013
ISBN: 979-780-642-1
Halaman: 313
Ukuran: 13 x 19 cm
Harga: Rp. 48.000

Giveaway Novel Lampau

Setelah kemarin saya mengupas novel Lampau karya Sandi Firly dan mewawancarai langsung penulisnya kini saatnya bagi-bagi novel Lampau.

Akan ada 1 eksemplar buku lampau dari Gagas Media yang diberikan kepada 1 teman beruntung. Syaratnya gak susah kok, simak berikut ini:

  1. Follow twitter @Gagasmedia. Kalau mau memfollow twitter saya juga boleh di @yuninukti (ini gak wajib, difollow Alhamdulillah, gak difollow naudzubillah hehe)
  2. Baca review novel lampau di sini dan wawancaranya di sini
  3. Jawab pertanyaan ini:
    Apa yang teman-teman pikirkan saat membaca kata lampau
  4. Jawaban ditulis di kolom komentar ini dengan format:
    Nama:
    Akun twitter:
    Jawaban:
  5. Dari semua jawaban yang masuk akan dipilih yang paling unik dan menarik untuk mendapatkan 1 novel lampau dari Gagas Media.
    Supaya agak lama, jawaban saya tunggu hingga tanggal 15 November 2013 ya..

    Jadi, jangan sampai ketinggalan ya, berikan jawabanmu seunik dan semenarik mungkin

[GagasDebut] Wawancara bersama Sandi Firly, penulis Novel Lampau

Setelah kemarin saya mengupas novel Lampau, karya Sandy Firli, kini saya berkesempatan mewawancarai sang penulis.

Buat saya kesempatan ini sangat berharga mengingat sebelumnya saya belum pernah mewawancarai seseorang untuk dijadikan sebagai postingan.

Supaya lebih akrab saya panggil Sandi Firly dengan sebutan Abang. Kenapa harus Abang, karena itu permintaan Bang Sandy sendiri. Dan sepertinya panggilan Bang lebih enak didengar ketimbang saya memanggilnya Om. Bang Sandy bilang panggilan Om tidak mengesankan seorang penulis tetapi lebih kepada ‘Om-om’ berkepala agak botak, perut buncit dan mungkin nakal. Tentu saja gambaran ini berlaku buat Om dengan tanda kutip yang ada dalam fiksi. Bukan Om beneran ya.. 😀

Oke, saya mulai saja wawancaranya:

  • Apa kabar, Bang Sandi? Kesibukannya apa sekarang selain menulis novel?

Kabar baik. Kesibukan rutinitas tetap sebagai redaktur di koran harian Media Kalimantan

  • Bisa diceritakan Bang bagaimana perjalanan Abang sehingga bisa menjadi penulis seperti sekarang ini?

Proses menjadi penulis cukup panjang ya.. Sudah pasti karena suka membaca sejak kecil. Awal yakin memiliki bakat menulis, waktu di SMA sering diminta teman-teman menuliskan surat untuk cewek yang mereka taksir, walau sebenarnya keseringan ditolak juga. Tapi kukira itu bukan karena isi suratnya yang jelek, tapi karena teman saya sendiri yang jelek, haha…

  • Sebagai seorang redaktur pelaksana Media Kalimantan, bagaimana cara Abang membagi waktu antara bekerja dan menulis?

Sebagai redaktur sebagian besar pekerjaan saya pada waktu malam. Dan saya menulis novel setelah pulang kerja, biasanya di atas pukul 12 malam. Kalau tidak ngantuk, bisa sampai subuh.

  • Selama ini Abang sudah menerbitkan sejumlah cerpen di Media. Kalau boleh tau berapa lama waktu yang dibutuhkan dalam membuat cerpen?

Kalau untuk menulis cerpen, waktu yang diperlukan bisa beberapa jam (mungkin juga ada penulis yang tak lebih dari satu jam), bisa sehari, bisa beberapa hari, bisa seminggu, bisa sebulan, bahkan bisa saja setahun. Kukira, penulis lainnya juga begitu. Tergantung cerpennya itu sendiri, memang bisa diselesaikan cepat atau tidak.

  • Sedangkan untuk novel lampau, bisa diceritakan bagaimana tahap-tahap penulisannya dari mulai riset, menulis, hingga self editing? Dan berapa lama total waktunya?

Novel Lampau diselesaikan sekitar 3-4 bulan.
Lampau semula berawal dari cerita pendek yang saya tulis dengan judul Perempuan Balian (cerpen ini diterbitkan koran Kompas pada Juni 2012, dan kemudian juga terpilih dan termuat dalam buku Cerpen Pilihan Kompas 2012)

Namun, saya merasa cerita tentang Perempuan Balian ini masih bisa saya tuliskan lebih panjang lagi dalam bentuk sebuah novel. Terlebih lagi, saya juga memiliki pengalaman terhadap setting cerita, yakni Loksado, sebuah kecamatan di pedalaman Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, yang sebelumnya sudah berkali-kali saya kunjungi.

Saya pun kemudian menarik kembali kenangan-kenangan masa lalu ketika mengunjungi kampung Malaris, Loksado, serta saat mengarungi jeram Sungai Amandit yang cukup deras dan berbatu-batu besar. Juga gunung Kantawan yang begitu menawan.

Salah satu ritual yang menarik di Loksado adalah upacara Aruh yang biasanya dilaksanakan saat akan memulai masa tanam, panen, serta pengobatan. Ritual ini biasanya dipimpin oleh seorang Balian, yang merupakan tokoh masyarakat setempat. Dan tokoh ini mesti seorang laki-laki, tdalam struktur masyarakat setempat tidak dikenal seorang perempuan menjadi Balian. Paling tinggi jabatan seorang perempuan dalam ritual ini hanyalah sebagai pinjulang, atau pembantu Balian laki-laki.

Lalu, saya kemudian mengandaikan bagaimana bila ternyata ada seorang perempuan yang memiliki ilmu setinggi seorang Balian laki-laki? Dan dalam buku referensi yang saya baca, memang ada seorang perempuan yang memiliki ilmu setara dengan seorang Balian laki-laki.

Dalam proses penulisan, saya kemudian memasukkan tokoh Sandayuhan (Ayuh), seorang anak laki-laki dari Balian perempuan bernama Uli Idang. Ayuh sendiri adalah sebuah nama dari seorang pemuda yang diyakini sebagai nenek moyang dari suku Dayak di Pegunungan Meratus dulunya. Ayuh inilah yang kemudian justru menjadi tokoh utama dalam novel Lampau. Karena memang tokoh Ayuh yang kemudian paling berkembang, mulai dari masa kecil, perjuangannya dalam mendapatkan pendidikan, hingga kemudian merantau sampai Jakarta.

  • Ketika menulis novel lampau, kesulitan apa yang pernah Abang hadapi?

Sejujurnya saya tidak mengalami banyak kesulitan dalam penulisan Lampau.

  • Novel lampau mengambil setting di Kalimantan Selatan. Untuk mendalami karakter setting ini apakah Abang harus melakukan riset dulu dengan pergi ke Kalimantan Selatan atau bagaimana, sedangkan Abang sendiri berasal dari Kalimantan Tengah?

Saya sudah lama tinggal di Kalimantan Selatan, dan memang sudah cukup sering ke Loksado, yang menjadi setting Lampau.

  • Novel lampau ini kan sebagian besar bercerita tentang kehidupan Balian. Darimana Abang mendapatkan ide membuat nama Sandayudan, Uli Idang, dan Amang Dulalin?

Nama Sandayuhan memang diambil dari nama yang konon katanya adalah nenek moyang orang Dayak pegunungan Meratus (seperti diceritakan juga di dalam novelnya). Sedangkan nama seperti Uli Idang atau Amang Dulalin, adalah nama yang begitu saja melintas di benak saya, yang saya kira memang cukup tepat dengan karakter masing-masing—karena nama orang-orang pegunungan di sana juga kebanyakan unik.

  • Novel lampau sendiri lebih banyak menceritakan tentang Balian, lalu mengapa Abang memberikan judul Lampau? Mengapa tidak Balian supaya lebih unik, begitu?

Awalnya novel ini memang saya beri judul Balian. Namun saat didiskusikan dengan editor dan redaksi GagasMedia, akhirnya dipilihlah judul Lampau— sudah pasti lewat banyak pertimbangan.

  • Bisa diceritakan bagaimana awal mulanya sehingga Abang memilih Gagas Media sebagai penerbit novel Abang yang pertama?

Lampau “berjodoh” dengan GagasMedia, karena saya sebelumnya sudah kenal dengan Gita Romadhona yang menjadi editor novel ini. Kami pertamakali bertemu saat Kongres Cerpen Indonesia (KCI) di Riau tahun 2005—waktu itu Gita masih mahasiswa di UI Depok. Nah, ketika bertemu lagi lewat chatting di Facebook tahun 2012, ternyata dia sudah kerja di GagasMedia, dan kebetulan naskah novel ini sudah hampir selesai. Lalu saya tawarkan, dan… akhirnya jadilah Lampau diterbitkan GagasMedia

  • Bagian / cerita mana yang Abang suka dan tidak suka di novel lampau?

Hahaa…sebenarnya saya suka semuanya. Tapi kalau disuruh memilih yang paling suka, saya terkadang terharu sendiri kalau membaca bagian ketika Amang Dulalin menuliskan surat kepada Anna, bule Amerika, saat perpisahan. Dan dia tidak mencuci wajahnya yang dicium Anna selama seminggu lantaran katanya, ”Bibirnya serasa masih menempel di pipiku.”

  • Seandainya memilih, Abang harus pilih siapa? gadis berkepang dua atau gadis berwajah teduh?

Nah.., justru itu, saya ingin bertanya kepada pembaca Lampau—karena sekarang saya sedang menggarap sekuel lanjutannya. Anda sendiri menyarankan memilih siapa?

  • Tuliskan pendapat Abang tentang novel lampau dalam 5 kata!

Mestinya bagian pertanyaan ini diajukan kepada pembaca. Kalau diharuskan saya menjawab, saya hanya ingin bilang, ”Ini tentang keberanian mencintai dan bermimpi”.

  • Ketika menulis novel lampau ini pesan apa yang sebetulnya ingin Abang sampaikan kepada pembaca?

Seperti terdapat di novel ini, banyak pesan (tanpa terkesan menggurui) yang bisa dipetik pembaca. Salah satunya adalah, “bahwa untuk bisa merasakan manisnya sebuah mimpi, seringkali memang diperlukan perjuangan dan pengorbanan”.

  • Bisa disebutkan 5 penulis di Indonesia yang paling Abang sukai. Dan mengapa?

Lima (5) penulis Indonesia yang saya suka; Ahmad Tohari, Seno Gumira Ajidarma, Goenawan Mohamad, dan Ayu Utami; karena merekalah yang menjadi inspirasi saya awal-awal menjalani dunia kepenulisan. Oh, baru empat ya? Satunya lagi, saya sendiri, hahaa…. Ya, sebenarnya masih banyak penulis Indonesia yang saya sukai.

  • Sebutkan 3 buku fiksi dan non fiksi yang Abang sukai!

Tiga (3) buku fiksi yang saya suka; Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari), Il Postino (Antonio Skarmeta), dan Of Mice and Men (John Steinbeck).  Tiga (3) buku nonfiksi yang suka: Catatan Pinggir (Goenawan Mohamad), On Writing (Stephen King), dan Pembebasan Manusia (tulisan buah pikiran terdiri dari banyak tokoh, di antara: Albert Einstein, Arnold Toynbee, Jean-Paul Sartre, John F. Kennedy, Karl R. Popper, Martin Luther King Jr, Mohammed Arkoun, dll)

  • Lebih suka mana menulis cerpen, novel atau berita?

Saya menyukai ketiganya. Namun menulis novel keasyikannya bisa dinikmati lebih lama.

  • Seandainya menulis buku non fiksi, apa yang ingin Abang tulis? Dan genre apa yang Abang pilih.

Menuliskan orang-orang pedalaman Kalimantan, dengan bentuk “jurnalisme sastrawi”

  • Apa rencana Abang selanjutnya dalam hal tulis menulis?

Saya sedang mengerjakan dua novel, salah satunya sekuel Lampau

  • Apa yang Abang lakukan ketika sedang menulis kemudian mengalami ide mandeg yang datang tiba-tiba?

Ini pertanyaan yang sering ditanyakan calon penulis yang sebenarnya juga pasti pernah dialami para penulis. Jawabannya pun bermacam-macam, dan kukira jawaban yang terbaik adalah dengan banyak membaca lagi, membaca lagi. Aku lebih suka mengistilahkan ide mandeg atau block writer ini seperti mobil mogok. Mobil yang mogok tidak akan pernah bisa bergerak apabila ditinggalkan, atau tidak ada upaya keras untuk mendorongnya. Jadi, jangan pernah tinggalkan tulisan yang sudah Anda tulis, dan terus dorong dia dengan berpikir lebih keras dan dengan segala bantuan atau inspirasi apapun agar tulisannya bisa terus bergerak, jalan, dan kembali bisa lancar.

  • Beri saran dong Bang bagaimana supaya sukses menulis buku, karena banyak teman mengeluh tidak bisa menyelesaikan novelnya

Perlu disiplin dalam menulis, dan upaya yang “keras kepala” untuk menyelesaikannya.

  • Yang terakhir, Bang. Apa pesan khusus buat teman-teman yang sedang belajar menulis fiksi

Banyak orang yang bercita-cita jadi penulis fiksi, namun sebagian cita-cita itu hanya ada dalam kepalanya tanpa upaya keras untuk mewujudkannya, dan akhirnya cita-citanya hanya menjadi fiksi. Tak ada cara lain untuk menjadi penulis (fiksi), selain menulis, menulis, dan menulis.

Itulah beberapa pertanyaan yang saya ajukan kepada penulis Lampau, Bang Sandi Firly. Orangnya ramah dan asyik diajak ngobrol. Sengaja, selain bertanya tentang debut novelnya saya juga menyelipkan pertanyaan-pertanyaan seputar dunia kepenulisan. Hal ini supaya menjadi penyemangat buat diri saya sendiri dan mungkin buat teman-teman yang membaca postingan ini agar selalu semangat menulis, terlebih lagi semangat melanjutkan draft buku yang (seperti saya) mandeg dan belum ada kabar kapan diselesaikan 😀

Supaya lengkap, dibawah ini ada penampilan Bang Sandi dengan latar cerpen karyanya

Doc. pribadi milik Sandi Firly
Doc. pribadi milik Sandi Firly

[Gagas Debut] Review Novel: Lampau

Aku mengingatmu, gadis berkepang dua. Di jalan menyusuri masa kecil. Senyum manis, cinta pertamaku. Mengingatmu adalah perjalanan panjang kembali ke buku-buku bergaris masa sekolah dasar, pensil warna, dan mimpi-mimpi beralur manis.

Gadis berkepang dua dengan senyum semenarik krayon warna, kau juga mengingatkaku pada takdir. Takdir yang lekat akan gemerincing denting gelang hiyang perunggu dalam iringan tetabuhan gendang, dan senandung mantra-mantra yang dengan sendirinya dapatkubaca.

Hingga bayangmu kutinggalkan dalam frame tua. Aku menemui gadis lain berwajah teduh. Gadis yang tak mengingatkanku pada takdir yang menunggu. Gadis yang membuatku tahu bahwa hidup bukan sekadar menjalani takdir yang kita tahu.

Namun gadis berkepang dua, jalanku memutar, entah mengapa seolah ujungnya ingin menemukanmu. Senandung mantra siapa yang akan aku jelmakan, kali ini?

Lampau_515a477ae6c1d

Usai membaca ini harapan saya selanjutnya mendapat suguhan akan kisah seorang lelaki yang dilanda kebimbangan, bingung memilih antara dua cinta yang pernah dan tengah bersemi. Melabuhkan cintanya kepada gadis berkepang dua atau kepada gadis berwajah teduh.

Adalah Sandayudan, biasa di panggil Ayuh, dari desa Malaris, Kecamatan Loksado, nama daerah di pedalaman Kalimantan Selatan. Ayuh adalah anak Uli Idang, seorang Balian terkemuka yang memiliki Ilmu tinggi dalam menyembuhkan orang sakit bahkan yang akan meninggal sekalipun.

Sebagai Ibu yang membesarkan anaknya seorang diri, Uli Idang berharap agar kelak Ayuh dapat menjadi Balian seperti dirinya. Mewarisi Ilmunya lalu menggunakannya untuk membantu orang lain serta dirinya sendiri.

Namanya Amang Dulalin, sepupu Uli Idang. Sebagai pecinta buku Amang Dulalin berjasa membuka cakrawala Ayuh, bahwa kehidupan tidak hanya ada di kampung Loksado saja, tetapi masih ada kehidupan di luar sana yang lebih indah dan lebih megah.

“Ayuh, bila kau ingin melihat dunia, mengintiplah lewat buku-buku itu”

“Untuk bisa mengunjungi daerah, kota dan negeri lain, tidak mesti harus memiliki harta yang banyak. Cukup dengan ilmu. Ilmu bisa membawamu kemana saja”

Kata-kata penyemangat yang diucapkan Amang Dulalin kepada Ayuh.

Kebiasaan membaca buku-buku milik Amang Dulalin, Ayuh menjadi lupa akan ilmu Balian yang akan segera diwariskan Ibunya. Selepas SD Ayuh ingin melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi. Keterbatasan biaya dan pertentangan sebagai pemilik garis keturunan seorang Balian membuat Ayuh harus memaksa masuk ke Pondok Pesantren di Banjar Baru tanpa biaya dengan syarat bekerja merawat Pondok.

Rupanya ketegasan dan sifat kepemimpinan Ayuh telah menerpanya menjadi lelaki yang tangguh. Perjalanan hidup Ayuh tanpa disangka-sangka membawanya ke Jakarta, dan menjadikannya seorang penulis sukses.

Ditengah keberhasilannya itu Ayuh menemukan kembali gadis berkepang dua yang dulu sempat ditambatkan hatinya. Sayangnya pertemuan itu bertepatan dengan Ayuh yang menemukan lebih dulu gadis bermata teduh.

Berlainan itu harapan Uli Idang agar Ayuh menjadi seorang Balian terus menerus merasukinya. Di malam-malamnya mimpi-mimpi itu terus hadir yang dianggap petanda bahwa dia adalah seorang Balian. Pertarungan batin Ayuh menjadi berliku karena Ayuh tidak ingin menjadi seorang Balian. Alasanya Ayuh tidak pernah melaksanakan upacara adat, Ayuh tidak pernah menghafal mantra, walaupun sebenarnya Ayuh juga merasa bahwa dia memiliki kekuatan yang tak disangka-sangka.

**

Secara keseluruhan, isi buku ini lebih banyak mengisahkan tentang liku-liku hidup seorang Balian. Tak seperti kalimat blurp di belakang covernya, kisah cintanya justru hanya sepenggal saja.

Sebagai bacaan, novel lampau tak jenuh untuk dibaca. Bahasa cerpen yang digunakan sangat indah, mengalir apa adanya tanpa kesan menggurui.

Sandi Firly cukup pintar dalam mengolah alur. Alur maju dan mundur yang dipakai dalam pengemasan novel ini sangat memukau. Ia juga piawai menyusun sub bab sehingga pembaca seperti tak sadar telah berada di bagian selanjutnya.

Kalimat-kalimatnya disusun baku namun santai yang mengupas kehidupan suku Dayak, suku yang selama ini sangat dikenal tetapi jarang diangkat kedalam cerita. Hal ini sangat bagus agar kehidupan dan kebudayaan suku Dayak semakin dikenal.

Ketika saya menginjak pada bab: Lelaki, Ayahku, halaman 45-61, saya terkaget karena font yang di gunakan tiba-tiba berbeda dengan sebelumnya. Lebih kecil dan tidak nyaman. Saya pikir ada kesalahan pada editornya. Namun setelah saya ikuti terus, pada bagian akhir fontnya kembali lagi seperti awal. Ternyata penulisan font yang berbeda itu sebagai pembeda antara cerita sebenarnya dengan kisah yang diceritakan oleh Amang Dulalin. Tidak seperti novel lainnya, biasanya perbedaan font tidak berlaku untuk bagian yang menceritakan kembali. Entahlah mungkin penulis berniat baik supaya pembaca tidak bingung mengikuti alur.

Judulnya sendiri, Lampau, menurut saya kurang sesuai dengan isi cerita. Memang isi dalam buku ini banyak memuat cerita masa lalu, apalagi diikuti kata-kata: yang menjelma kini, yang mewujud lalu. Tetapi menurut saya lebih pas jika judulnya diubah menjadi Balian. Sebab sebagian besar buku ini menceritakan kehidupan seorang Balian. Akan tetapi kembali lagi kepada sang penulis, mungkin Sandi Firly memiliki pertimbangan tersendiri mengapa buku itu diberi judul lampau.

Untuk buku ini saya kasih jempol 4 deh buat editornya. Karena dari awal hingga akhir membaca buku ini saya hanya menemukan sedikit sekali kesalahan tulis. Setidaknya saya telah menemukan 2 kata yang salah. Tetapi itu tak jadi masalah karena kesalahan tulisnya hanya 1 huruf dan tak begitu mengganggu.

Dan untuk joke-jokenya lumayan segar dan lucu. Saya suka cara menyuguhkannya sehingga tak terasa garing ketika dibaca.

Terakhir, selamat buat Bang Sandy yang telah sukses menerbitkan buku. Meskipun lampau ini adalah novel pertama yang di terbitkan tapi buat saya layak bersanding dengan penulis novel sekelas A. Fuadi atau Tere Liye

Judul Buku: Lampau
Penulis: Sandi Firly
Penerbit: Gagas Media
Terbit: Cetakan pertama, 2013
Tebal Buku: 345 halaman
ISBN: 979-780-620-0
Ukuran: 13 x 19 cm
Harga: Rp. 48.000
Editor: Gita Romadhona & eNHa
Desain sampul: Levina Lesmana

Tentang Sandi Firly:

Lahir pada 16 Oktober 1975 di Kuala Pembuang, Kalimantan Tengah. Seusai menempuh pendidikan di Ilmu Komunikasi FISIP, Universitas Islam Kalimantan, Banjarmasin pada 1999, ia bekerja sebagai wartawan; 2000-2009 menjadi wartawan dan redaktur pelaksana di Radar Banjarmasin (Jawa Pos Group), 2009-2010 menjabat sebagai pemimpin redaksi Radar Bandung (Jawa Pos Group), dan sejak 2010-sekarang bertindak sebagai redaktur pelaksana Media Kalimantan.

Sejumlah cerita pendeknya dipublikasikan di media cetak nasional, antara lain KOMPAS, Jurnal Cerpen Indonesia, dll. Novel perdananya, Rumah Debu (November 2010), membawanya pada perhelatan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2011 di Ubud, Bali

3c110c9d5a6f3f8ec1fbaa5f16c66090

Surabaya dan gedhang goreng

Suatu ketika saya dikasih tunjuk suami Photo Profil kotak BBM teman kantornya. PP yang ditampilkan itu bukan foto orang melainkan sebuah tulisan.

Setelah membaca PP itu saya lantas tertawa keras.

“Koplaaakk…” kata saya sambil terus tertawa. Entah kenapa tiba-tiba saya mengucapkan itu. Yang jelas kata itu saya ucapkan bukan maksud untuk mengejek si empu PP. Pokoknya spontan aja.

Bunyi tulisannya begini:

Dobol Suroboyo puanase koyok gedhang goreng..

(Dobol Suroboyo panasnya seperti pisang goreng)

Ada 2 alasan disini kenapa saya tertawa sekencang itu.

Yang pertama kata Dobol.

Dobol ini kalau diartikan dalam bahasa jawa artinya lebih kearah ambrol atau jebol. Namun penggunaan dobol sendiri sangat jarang digunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang berbau jebol, ambrol dan sejenisnya.

Dobol lebih sering digunakan untuk mengumpat sesuatu.

Misalnya ada orang membawa sesuatu kemudian barang itu tiba-tiba jatuh. Karena kaget dia spontan berkata “eh dobol-dobol..”

Mungkin kata itu masih nyambung karena ada hubungannya dengan barang jatuh. Tapi ada juga yang berkata “Dobol, koen ojok golek gara-gara” (Dobol, kamu jangan cari gara-gara). Atau Dobol, sakjane karepmu iku opo seh? (Dobol, sebenarnya apa sih maumu?)

Sama seperti membaca tulisan itu, kalau saya mendengar orang marah atau mengumpat yang diawali dengan kata dobol saya langsung tertawa. Lucu dengarnya. Apalagi diucapkan dengan logat Suroboyo yang medok. Membayangkan aja saya langsung tertawa seperti saat saya menulis ini. Sambil kepingkel-kepingkel sendiri.

Yang kedua kata gedhang goreng

Saya bingung apa hubungan antara Surabaya, panas dan gedhang goreng. Maksudnya mungkin panasnya Surabaya sepanas gedhang goreng yang baru diangkat dari wajan. Namanya juga baru turun dari penggorengan, yo mesti ae panas. Tapi kenapa harus gedhang goreng, kok bukan ote-ote, tahu isi, pohong goreng atau telo goreng. Padahal biasanya telo sering dipakai buat mengumpat orang. “O, telo..”.

Saya pun sering menggunakan umpatan telo ini kalau lagi di jalan raya. Kata ini spontan saya ucapkan kalau lagi geram sama orang yang seenaknya menyerobot lampu merah atau yang bergaya ala preman.

Walaupun saya suka mengumpat tapi saya usahakan agar umpatan yang keluar terdengar elegan. Atau setidaknya tidak menyinggung orang lain. Emang telo itu elegan? 😀  Dan umpatan itu gak sembarangan saya ucapkan supaya gak kena imbasnya. Bisa-bisa saya yang malah berdosa.

Cara lain mengucapkan kata umpatan adalah dengan guyon yang nadanya dipanjangkan seperti muuaayak.. atau koplaaaak..

Janc*k juga bisa jadi guyonan tinggal mengubah tanda bintang menjadi huruf o atau i. Supaya nggak terkesan tabu kata janc*k bisa diubah menjadi  jambu, jamput, jangkrik dan semua yang mengandung huruf depan J. Umpatan guyon ini biasanya berlaku kepada teman yang yang sudah akrab dan kenal lama.

Dan yang paling penting saya gak berani mengumpat dengan sesuatu yang didalamnya ada campur tangan Tuhan. Seperti cuaca panas, dingin, atau mencela sesuatu yang sudah menjadi kehendak Tuhan.

Memang cuaca Surabaya akhir-akhir ini terasa panas. Saya lihat di aplikasi andorid mencapai 35 derajat. Bahkan kipas angin pun gak bisa dinikmati sama sekali. Gak di kipasi itu sumuk, dikipasi anginnya panas.

Untuk satu ini saya gak berani mengumpat, takut dosa. Kalau sudah gerah banget paling-paling saya hanya mengeluh Ya, Allah, panasee… atau sumuk’e reeek..

Walaupun sebenarnya mengeluh itu tidak boleh.

Panas dunia aja sudah ngeluh, gimana nanti panas nya neraka. Naudzubillahimindzaalik.. 

Diingatkan itu..

Diingatkan oleh sesama pengguna motor di jalan itu rasanya super sekali.

Kemarin sepulang dari Hi-tech Mall, sesampai di dekat lampu merah Jl. Ambengan saya mengurangi laju kendaraan karena kena lampu merah.

Saat motor sedang melaju pelan, didepan saya sudah ada satu mobil yang berhenti lebih dulu. Ketika sedang bersiap untuk berhenti, dari arah kiri saya ada 2 pemuda berboncengan melewati saya sambil teriak “Mbak, jagange!”

Mendengar teriakan itu saya spontan menoleh lalu buru-buru menaikkan jagang menggunakan kaki kiri. Sebagai ucapan rasa terima kasih karena telah diingatkan saya pun lantas membuka kaca helm dan memberi kode dengan jari kepada mereka.

Sayang kode yang saya berikan itu tak sampai mereka lihat karena tiba-tiba mereka sudah melesat jauh menerobos lampu merah. Untungnya kendaraan dari arah berlawanan belum ada yang lewat sehingga motor yang membawa dua pemuda itu dengan leluasanya menyebrang.

Perasaan saya antara senang sedih.

Senang karena di jalan masih ada orang yang peduli terhadap keselamatan pengendara lain. Dan sedih karena mereka tidak konsisten terhadap ucapannya sendiri. Mengingatkan orang lain supaya tidak celaka, eh mereka malah melakukan percobaan mencelakai diri.

Mereka ingin mengorbankan diri, atau sengaja berkorban demi saya?

Ah, jadi GeeR saya..

Dan untungnya mereka masih diberi keselamatan. Andai celaka saya mau bilag apa sama mereka. Mau bilang terima kasih dihadapan orang tergelatak sambil nangis-nangis? Itu sih sinetron bangeet. Atau bisa-bisa saya yang malah di tuduh mencelakai mereka. Orang celaka kok di kasih ucapan terima kasih.

Mau bilang maaf, lah memangnya saya salah apa, wong saya nggak ngapa-ngapain mereka.

Ada baiknya saya berdoa meminta ampunan buat mereka supaya dosa-dosa yang telah diperbuat tidak diulang lagi.

Iya kalau masih hidup. Lah, kalau meninggal?

Aduuh.. kok saya jadi berpikir jahat sih..

Mau gimana lagi kemungkinan seperti itu kan cuma 2 pilihannya. Kalau nggak hidup dengan menderita luka, ya menderita luka lantas meninggal. Aduh, ngerinya.

Apapun kemungkinan itu yang jelas saya mohon ampun saja deh. Yang penting saya sudah minta ampun dan memohonkan ampunan buat mereka. Harus bagaimana lagi wong sudah terlanjur terjadi.

Palsu

Baru tau ternyata merk Sepeda itu bisa di ‘palsu’.

Baru tau juga ternyata keinginan seorang anak juga bisa ‘palsu’.

Lebih baru tau lagi ternyata orang dewasa suka bikin janji ‘palsu’ 😀

Ceritanya saya mau beli sepeda buat keponakan. Sebelum deal, saya iseng browsing dulu di toko penjualan sepeda di Pasar Gembong. Buat orang Surabaya Pasar Gembong di kenal sebagai pusat penjualan barang bekas alias pasar loak.

Eh, mau beli sepeda second, yaa..

Nggaaak, di sana cuma bandingin harga, kok..

Rencana semula ingin beli sepeda di Carrefo*r. Kebetulan di sana sedang ada promo harga sepeda lipat merk Aleoca ukuran 16” Rp. 599.000.

Murah, nggak sih harga ini?

Promonya emang bener-bener promo atau sekedar narik konsumen?

Di sini bibit keinginan nge-cek harga pasaran muncul. Rasanya kalau nggak pke nawar kok nggak afdhol.

Kalau ngecek kenapa gak di toko sepeda?

Sudah..

Saya sudah tanya-tanya di toko sepeda dan harganya rata-rata di atas 600 ribu semua. Karena ingin kejelasan saya pergi ke Pasar Gembong. Dengar-dengar di Pasar Loak ini harganya murah-murah. Barangnya pun tak melulu second, baru juga ada.

Saya pun pergi ke sana. Sengaja motor tak saya parkir, tapi saya naiki sambil keliling-keliling.  Begitu tiba di depan toko sepeda, saya turun lalu tanya-tanya. Saya perhatikan di toko itu sepeda baru yang di pajang kebanyakan merk Polygon. Wah, pasti mahal nih

“Pak, yang warna merah ini berapa?” Tanya saya sambil memegang sepeda merk Polygon ukuran 20”.

“Itu 600 ribu”

“Ini asli (Polygon), Pak?”

“Asli”

Saya lihat sepeda itu memang mulus. Ada plastik pembungkusnya juga. Tapi saya ragu. Merk Polygon ukuran 20” harganya cuma segitu. Di banding Carrefo*r yang ukurannya lebih kecil dan merk biasa harganya sama. Ini Carrefo*rnya yang kemahalan atau Pasar Gembong jual kemurahan? Padahal saya belum nawar, lho, kalau nawar mungkin 400ribu dapat, kali hehe.. *sok pinter nawar*

Minggu pagi saya ajak Galih, ponakan saya, ke Pasar Gembong. Maksudnya biar dia milih sendiri mau sepeda yang seperti apa. Ngomong awalnya sih mau sepeda lipat. Tapi begitu saya suruh milih, maunya malah BMX! *tepuk jidat*

Seneng-seneng aja dia milih BMX, harganya lebih murah jauh dari sepeda lipat. Baru lagi. Begini ini repotnya bujuk anak umur 6 tahun. Di toko dia milih BMX, gak seperti kesepakatan awal. Yang saya takutkan nanti di rumah dia merengek-rengek minta sepeda lipat. Iya kalau boleh di tukar. *tepuk jidat lagi*

Di sini saya baru ngerti ilmu persepedaan. Rupanya sepeda-sepeda baru yang di pajang itu awalnya sepeda second. Supaya kelihatan bagus dan bisa terjual mahal sepeda itu di cat ulang lalu lalu labeli stiker Polygon. Dan supaya terlihat baru, sepeda itu di beri plastik pembungkus.

Dari pada terjadi yang nggak-nggak, dan dari pada beli sepeda aspal, saya bujuk Galih buat pergi ke Carrefo*r. Mending beli sepeda di sana. Biar mahal dikit, asal nyata baru. Lagian di sana saya bisa beli pakai voucher simpanan 300ribu hehe..

Runyamnya, lha kok dia gak mau di ajak ke carrefo*r. Dia kekeh mau di belikan yang BMX! Gak mau sepeda lipat!

Setelah menggunakan jurus sejuta kebohongan, saya bilang kalau sepeda BMX itu jadul, gak keren, gak bisa di lipat, gampang rusak, warnanya jelek, dan alasan lain supaya dia segera ilfill. Dan jawaban yang saya dapat:

“Gak popo. Aku seneng!”

*tepuk jidat lagi, lagi dan lagi, sampai jendol!*

Daaan, setelah jurus saya habis dan stock kata-kata saya tinggal “Ke Carrefo*r aja, ya”, dia tetep gak mau pulang.

Tinggal 1 jurus terakhir saya dan semoga ini jitu, yaitu rapat negosiasi antara saya, Ibunya (kakak ipar saya), dan Galih.

Setelah saya bicara sama Ibunya, saya suruh Ibunya bicara sendiri sama anaknya. Setelah berpuluh menit rapat pakai pulsa, keputusan tetap ada di tangan saya. “Galih di rayu aja, pokoknya. Tadi sudah saya rayu dia gak mau” Alamaaak, Ibunya aja pasrah, apalagi saya…

Jalan terakhir saya ajak dia pulang. Saya bilang ambil duit dulu hehe..

Di rumah, negosiasi pun dilanjut. Hasil akhirnya, Yess, Galih mau pergi ke Carrefour!

“Di Carrefo*r nanti beli sepeda nya beneran?” tanya Galih

“Iya, beneran”

“Pulang langsung di bawa sepedanya?

“Iya, dong”

“Yo wes, engkok pas nang kono mek ndelok-ndelok thok koyok wingi! (Ya sudah, takutnya nanti di sana cuma lihat-lihat aja seperti kemarin)

Hush! Anak kecil buka rahasia orang dewasa hehe..

Go Top