Masakan Cinta ala Chef Letnan Sari

Kapten Bhirawa tak bisa menyembunyikan kekagumannya terhadap Letnan Sari saat melihat gadis ayu itu secara cekatan menyelesaikan kegiatan memasak dalam suatu perlombaan di instansinya. Gadis tinggi semampai dengan lesung dipipi itu sangat berbeda dalam penampilan kesehariannya. Biasanya Ia tampil bak prajurit laki-laki, namun sekarang Ia seolah Ibu rumah tangga yang luwes dan bersahabat bersama piranti dapur.

“Tak salah bila selama ini aku mengagumimu?” Gumam Kapten Bhirawa sambil menatap tajam si gadis berambut sebahu bak mata burung Elang yang siap menerkam. Sudah setahun ini, sejak mutasinya ke Surabaya, Ia sering memperhatikan gadis yang sehari-harinya berpenampilan cuek ini . Rupanya pembawaan yang tegas telah menutupi segala kemilau wanitanya hingga Ia sendiri tak menyadari bahwa Letnan Sari memiliki sejuta keindahan wanita yang selama ini dicarinya, yaitu perempuan tegas namun bijaksana.

Ketika sedang menikmati suguhan maha indah itu, Kapten Bhirawa terlambat menyadari bahwa 2 bola mata Letnan Sari juga sedang mengarah kepadanya. Namun sebelum Ia mengalihkan pandang ke arah lain sebagai tepisan rasa malu, sesegera mungkin Kapten Bhirawa menyunggingkan senyum semanis mungkin yang Ia mampu walaupun dalam hatinya yakin sekarang ini Ia sedang menjadi bahan tertawaan Letnan Sari akibat tertangkap basah menatapnya.

Tepat sesuai perkiraan. Masakan Letnan Sari dinyatakan sebagai juara pertama! Bergegas Kapten Bhirawa mendekati Letnan Sari untuk memberi ucapan selamat. “Siap! Kapten. Ijin mempersembahkan masakan ini untuk Anda!” Malu-malu Letnan Sari berhadapan dengan lelaki yang diam-diam dipujanya. Seperti mendapat angin segar, tanpa banyak kata Kapten Bhirawa membalas dengan menyerahkan sekuntum mawar merah yang disana terselip sepucuk surat cinta yang sempat ditulis tanpa terencana. Sebagai simbol menyatunya 2 hati itu Letnan Sari dan kapten Bhirawa menikmati masakan cinta hasil olahan Chef Letnan Sari.

Belajar fotografi itu seru di Kakek Bodo

Meladeni ajakan teman belajar fotografi itu seru! Salah satunya adalah harus merelakan mata melek sebelum waktunya 😀

Menurut beberapa pakar fotografi, waktu yang bagus untuk mengambil gambar itu adalah pagi-pagi buta alias subuh dan sore menjelang petang alias maghrib. Saya gak tau siapa orang yang pertama kali mendeklarasikan teori tersebut , namun yang jelas foto dengan 2 waktu diatas betul-betul menghasilkan gambar yang oke punya.. terutama dari segi pencayahaannya.. *sok teori*

Bagi pecinta fotografi, barangkali teori saya adalah lagu lama, tapi disini saya bukan ingin menjelaskan mengenai teori tersebut, tetapi saya cuma ingin menceritakan bagaimana ‘kurang kerjaannya’ mereka bangun petang, dan harus segera berangkat cuma supaya gak keduluan matahari.

Belajar fotografi itu seru juga harus mau berbaik-baik sama pemilik warung. Warung apa aja, entah itu warung kopi atau warung sabun mandi. Karena disanalah tempat kita numpang nongkrong sambil nungguin loket buka atau dapatin info akan keamanan jalan yang akan dilewati. Itung-itung sambil menyelam nyebur sekalian 😀

Minggu kemarin teman saya yang seorang mastah fotografi ngajak jalan ke Air Terjun Kakek Bodo. Konon teman saya itu kepengen belajar efek slow speed dan long exposure pada air terjun supaya hasilnya seperti kapas.  *Padahal sudah seneng aja, kirain mau difoto efek slow motion* 😀

Seperti biasa, sang teman ngajak berangkat pagi-pagi buta, dan lagi-lagi supaya sampai di Kakek Bodo yang makan waktu perjalanan sekitar 1,5 jam masih belum keduluan matahari, berangkatlah saya dan suami sebelum subuh! Asyiik.. serasa menjadi raja jalanan, bow.. 😀

Tiba di lokasi Kakek Bodo, jam masih menunjukkan pukul setengah 7. Celingak-celinguk, loket masih tutup. Petugas pun juga belum ada yang datang, sedangkan pagarnya masih ‘grendelan’. Jadilah tempat penampungan kami sementara adalah.. warung kopi. Lagi-lagi kami mendapat arahan jalan masuk gratisan dari bapak pemilik warung. Sayang pas dilihat, medannya curam, bo.. dari pada resiko membunuh kamera lebih baik membunuh lapar dulu.. makan indomie spesial pke telor hihi..

Selesai rumpi-rumpi sambil nunggu telornya dibeli dulu sama anaknya si bapak :D, kami melenggang ke pintu masuk yang sudah dibuka, walaupun loketnya sendiri belum buka.

Sambil masuk kami bergunjing ria, asyiik.. masuk dulu, bayarnya nanti belakangan.

Ee.. salah satu kami sda yang nyeletuk “Iya kalau inget, biasanya sengaja dilupain”.

Sambil ketawa-ketiwi nakal, Lha kok tiba-tiba dari atas ada petugas yang melongok sambil teriak “Mas, jangan lupa nanti baliknya bayar, ya..”. Ah si Bapak dengar aja.. 😀

Di lokasi wana wisata, suasana masih sepi. Herannya sudah ada beberapa orang yang sudah balik lho. Gak tau mereka masuk jam berapa, jam segitu kok sudah balik. Sambil melewati anak tangga, nafasnya pada ngos-ngosan semua. Lumayan sih, jaraknya sekitar setengah kiloan sampai ke air terjun. Kalau sudah begitu, dopingnya buat saya Cuma satu, yaitu di foto! Hihi..

Yeah.. akhirnya sampai juga di dekat air terjun.

Airnya kelihatan lembut
Airnya kelihatan lembut nggak sih? 😀

Dari kejauhan lokasi air terjunnya agak beda, gak seperti sebelumnya. Yang saya lihat kemarin itu air terjunnya ada 2, satunya gak seberapa deras. Trus disungainya juga banyak batu-batu yang bikin tempatnya makin asyik buat lokasi foto bergalau ria. Jalanan setapak menuju air terjun rasanya juga kelihatan makin sempit aja. Pas lihat keatas, monyet-monyetnya juga pada menghilang.

Mirip Wallpaper nya WIndows :D
Mirip Wallpaper nya WIndows 😀
Kakek Bodo, asyik juga dipke tempat pacaran #ups
Kakek Bodo, asyik juga dipke tempat pacaran #ups

Usut-punya usut, lagi-lagi dapat info dari salah satu ibu-ibu yang jualan disana, ternyata air terjunnya bisa berubah begitu karena kena banjir. 

Disana saya biarkan para fotografer mengambil gambar dengan sangat seriusnya didepan tripod, sambil jongkok-jongkok pula. Mungkin teman saya sengaja beradegan begitu untuk mempraktekkan anjuran iklan yang menyesatkan, berani kotor itu baik.

Scott Kelby juga berkata: “Kalau Anda ingin mendapatkan gambar yang keren, jangan takut untuk berkotor-kotor”

Rela basah-basahan
Rela basah-basahan

Tuh, bener kan yang saya bilang, belajar fotografi itu seru! 

Surabaya Urban Culture Festival, event penawar dahaga warga Surabaya

Petang beranjak malam, kemacetan jalan raya Basuki Rahmad telah mencair. Didepan sebuah pertokoan tua yang hingga sekarang masih eksis, Tunjungan Plasa Surabaya, pengendara juga tak seberapa rame seperti biasanya. Dari kejauhan, suasana didalam Mall juga tak se-sesak biasanya. Oh ada apakah gerangan? Mungkinkah efek Surabaya Urban Culture Festival?

Pintu masuk Surabaya Urban Culture Festival
Pintu masuk Surabaya Urban Culture Festival

Tak jauh dari pertokoan besar itu, perjalanan saya tiba di depan Monumen Pers Nasional yang berada dipojok antara jalan Embong Malang dan Jalan Tunjungan. Lagi-lagi suasana yang tak wajar saya dapati. Aneka motor berjajar dipinggir-pinggir jalan bahkan sampai memenuhi halaman Pasar Tunjungan yang bertahun-tahun ‘mangkrak’. Karena parkir dadakan itu dinyatakan sudah penuh, saya memilih menjauh dan melanjutkan perjalanan melewati Jalan Embong Malang.

Benar saja, rupanya event Surabaya Urban Culture Festival yang diadakan oleh Pemerintah Kota Surabaya 19 Mei 2013 itu diselenggarakan di sepanjang Jalan Tunjungan sejak siang, dan dibuka langsung oleh Ibu Walikota Surabaya, Bu Tri Risma Harini, memicu warga untuk berbondong-bondong mendatangi lokasi.

Mengapa harus di Jalan Tunjungan?

Karena Jalan Tunjungan memiliki sejarah tersendiri bagi kota Surabaya. Selain kaya akan bangunan sejarah, di Jalan Tunjungan juga terdapat Hotel Majapahit (sebelumnya dikenal dengan nama Hotel Yamato atau Hotel Orange) yaitu Hotel kebanggaan arek-arek Suroboyo dalam merebut kemerdekaan yang juga disemangati oleh Bung Tomo melalui siaran radio di Surabaya pada tahun 1945.

Hotel Majapahit malam hari, saksi sejarah perjuangan Arek-arek Surabaya
Hotel Majapahit malam hari, saksi sejarah perjuangan Arek-arek Surabaya

Surabaya Urban Culture Festival ini diadakan sebagai rangkaian untuk memperingati Hari Jadi kota Surabaya ke 720, 31 Mei mendatang. Disini ditemukan tenda-tenda beraneka merk produk dan resto-resto terkenal di Surabaya. Kalau boleh saya sebut sih, Resto turun ke jalan dan membuat paket menu murah.

Disepanjang jalan itu selain penuh dengan tenda-tenda, juga ada panggung besar ditengah jalan dimana didepan panggung itu ada tangga besi untuk penonton. Persis pertunjukan terbuka.

Meskipun dibuka mulai pukul 2 siang yang sorenya disertai guyuran hujan, namun tak mengurangi minat warga untuk datang, termasuk saya. Dan malam itu kedatangan saya begitu menguntungkan karena ternyata dipanggung besar itu masih tersisa pertunjukan ludruk dan jula-juli Suroboyo yang dibawakan langsung oleh Cak Kartolo CS.

Siapa Cak Kartolo CS?

Kartolo CS adalah tokoh legendaris Surabaya yang terkenal dengan ludruk dan Jula-Juli Suroboyonya. Yaitu semacam pantun jawa / parikan dengan bahasa khas Suroboyoan yang dibawakan secara kocak dan menggelitik.

Dari kiri: Cak Sapari, Ning Tini da Cak Kartolo
Dari kiri: Cak Sapari, Ning Tini da Cak Kartolo

Walaupun sudah tidak lagi muda, dan dulunya menjadi primadona orang tua kita, tetapi kemarin itu Cak Kartolo masih tampil semangat. Bersama Cak Sapari, Ning Tini (Istri Cak Kartolo) dan Dewi (yang baru saya ketahui ternyata putri Cak Kartolo) benar-benar menghidupkan kota Surabaya dengan guyonannya yang terdengar segar dan sempurna membuat orang terpingkal-pingkal. Tak hanya orang tua, yang muda dan anak-anak pun tertarik untuk memenuhi jalan Tunjungan dan mengikuti hingga akhir pentas. Panggung yang hanya sak uplik tak membuat warga berkecil hati karena mereka bisa melihat langsung dari layar lebar yang disediakan panitia. Ternyata animo arek Surabaya  cukup besar demi melihat langsung pertunjukan serta menjawab kerinduan mereka akan ludruk Suroboyo.

Tepat jam 10 malam pertunjukan itu berakhir. Selama kurang lebih satu jam tampil, sepertinya kehadiran Cak Kartolo masih ngangeni. Meski sudah ditutup dan panggung dianggap sudah buyar karena jalan Tunjungan harus dibuka kembali jam 00, mereka masih sulit untuk beranjak.

Makin tampak bahwa warga Surabaya begitu mendambakan acara semacam event Surabaya Urban Culture Festival ini. Event ini tidak saja menjadi penawar dahaga akan keunikan kota Surabaya tetapi juga untuk mengenalkan budaya yang dimiliki kota Surabaya. Semoga event ini selalu menyuguhkan suasana berbeda setiap tahunnya dan selalu menjadi agenda rutin kota Surabaya seperti Festival Rujak Uleg yang seminggu sebelumnya telah diselenggarakan di sepanjang Jalan Kya-kya.

Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, sejarah dunia warisan luhur budaya jawa

Siang itu, panas begitu terik. Berempat, saya, Mbak Kaka akin (Blogger Samarinda), Mbak Ila Rizki (Blogger Tegal), dan Andani (Blogger Surabaya) keluar dari Pasar Klewer. Tak disangka, pasar yang dipenuhi dengan aneka rupa batik dan jajana khas Jawa Tengah itu sudah membuai minat belanja kami. Baru tersadar kami adalah rombongan terakhir yang ketinggalan menuju Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Ya, Hari Minggu itu, 12 Mei 2013, kami semua, rombongan Asean Blogger Festival Indonesia 2013 masih memiliki 1 jadwal kunjungan lagi sebelum bertolak ke daerah kami masing-masing, yaitu makan siang sekaligus penutupan acara di Keraton Kasunanan Surakarta.

Didepan Pasar Klewer, kami berempat kebingungan. Dimana letak Kraton Kasunanan? Sempat ada yang memutuskan untuk naik becak saja. Namun rupanya ke khawatiran kami segera terjawab. Ada beberapa Bapak-bapak yang memberitau dimana jalan menuju Keraton Kasunanan itu.

Sesuai petunjuk yang kami terima, jalan menuju Keraton tidaklah jauh. Walaupun cuaca sangat terik, jalan yang tidak seberapa lebar dengan kiri kanan tembok khas bangunan kerajaan membuat jiwa saya terpuaskan. Berkali-kali saya berdecak mengagumi keindahan itu. Cat putih, warna bangunan tebal dan tinggi itu sekejap membawa kembali kenangan saya akan masa yang silam. Masa dimana tembok-tembok pertahanan (beteng) itu menjadi saksi bisu pergolakan yang pernah dialami bangsa ini.

Biar bagaimana, meski tak bercerita,  tembok yang berdiri dihadapan saya itu mengandung roh sejarah yang tak bisa diungkapkan dengan kalimat. Guratan-guratannya, goresan-goresannya, hingga detail-detailnya membuat perasaan saya tak bisa mengatakan apa-apa. Selain, takjub yang berlebihan.

Dipinggir-pinggir tembok itu kami menyusuri jalanan yang ramai, dan.. bersih!

Jalanan yang mirip seperti lorong itu bercampur dengan aneka kendaraan yang melintas. Tanpa pembatas juga tanpa trotoar. Justru inilah yang membuat tempat ini menjadi unik, eksotis dan berseni.

Kompleks Kamandungan

Bersama Mbak Ila didepan Kori Kamandungan
Bersama Mbak Ila didepan Kori Kamandungan

Tak lama menyusuri, tibalah kami disebuah gapura besar yang tepatnya disebut gerbang dengan pintu kayu besar terbuka lebar dikanan kirinya. Dilengkapi dengan atap penutup bergaya Jawa kami melangkah mantap. Sejauh mata memandang terhampar halaman kompleks Kamandungan nan luas dengan pemandangan sebuah menara tinggi yang dinamakan Panggung Sangga Buwana. Tiba-tiba saja kaki ini berhenti melangkah dengan sebuah pertanyaan memenuhi benak saya, “Boleh masuk kedalam, nggak? Nanti prajuritnya marah?”

Sambil membawa pertanyaan yang belum terjawab kaki saya bergerak melangkah. Pada sebuah Bale (bahasa Jawa halaman rumah) saya dan teman-teman dihadapkan kepada 2 orang prajurit berpakaian lengkap, plus senjata semacam pedang berukuran panjang. Hal ini makin menguatkan pertanyaan saya yang belum terjawab, “Jangan-jangan kita gak boleh masuk, nih. Prajuritnya aja mukanya seram begini”

Eh lha dalah, lha kok teman-teman pada minta foto bersama 2 prajurit itu..

Lebih herannya lagi, ternyata sambutan Bapak-bapak prajurit itu tak seseram penampilannya! Waktu kami minta foto, tanpa banyak bicara, Bapak prajurit itu bersedia mengambil posisi. Mungkin Bapak-bapak itu sudah mengerti kemauan blogger seperti kami yang sok narsis ini.. 😀

Takut-takut mau :D Meskipun kelihatan sangar, tapi prajurit itu baik-baik. Tuturnya halus.
Takut-takut mau 😀
Meskipun kelihatan sangar, tapi prajurit itu baik-baik. Tuturnya halus.

Setelah foto-foto kami dipersilakan masuk ke dalam kompleks Kedhaton. Waah sebuah penghormatan besar ini diperbolehkan masuk ke dalam kompleks Kedhaton, yang sebelumnya sama sekali belum pernah saya masuki.

Kompleks Kedhaton yang rindang dan alami

Pada saat akan memasuki kompleks Kedhaton, saya melihat teman-teman melepas sepatunya. Begitu melihat mereka saya jadi ikut-ikutan melepas juga. Terakhir saya baru tau, peraturan masuk kedalam kompleks Kedhaton adalah pengunjung harus memakai sepatu. Bagi pengunjung yang memakai sandal harus melepasnya di Bale sehingga masuknya tidak menggunakan alas kaki alias ‘nyeker’ (bhs jawa: yang artinya jalan dengan kaki telanjang).

Kompleks Kedhaton Karaton Kasunanan adalah sebuah halaman luas dengan rerimbunan puluhan pohon sawo yang tumbuh didalamnya. Disana juga terdapat pendopo yang arsitekturnya campuran Jawa dan Eropa. Arsitektur Jawanya terlihat dari bentuk bangunan, pilar-pilar dan perkakasnya, sedangkan arsitektur Eropanya terlihat dari patung-patung dan lampu yang menghiasi ruangan didalamnya.

Dibawah pepohonan yang rindang, saat melintas di area ini beberapa kali saya harus berjalan terpincang-pincang. Bukan karena sakit, tetapi karena kaki saya yang tanpa alas melewati pasir hitam didalam kompleks Kedhaton ini terasa sakit. Pasirnya sangat aneh menurut saya. Tekstur pasirnya kasar tapi halus. Eh, gimana ya nyebutinnya.. jadi begini pasir yang saya injak itu sekilas tampak halus, tapi kalau dilewati terasa kasar. Kalau saya bilang, pasirnya lebih mirip seperti pasir laut. Dan konon rupanya pasir-pasir itu didatangkan dari laut selatan..

Suasana Kompleks Kedhaton
Suasana Kompleks Kedhaton

Melintasi kompleks Kedhaton ini tak henti-hentinya saya mengungkapkan keindahan seninya. Dari semua area yang telah saya lewati, bisa dibilang ini bukan seni biasa, tapi betul-betul seni tingkat tinggi. Dan saya yakin Pangeran Mangkubumi atau Sultan Hamengkubuwono I, sang arsitektur Keraton Surakarta adalah orang yang memiliki jiwa seni tinggi.

Sejarah singkat Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat

Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat didirikan pada 20 Februari 1745 oleh Susuhunan Paku Buwono II. Keraton ini merupakan pindahan dari Keraton Mataram yang ada di Kartosuro karena luluh lantak akibat pristiwa geger pecina.

Keraton Kasunanan ini memiliki luas wilayah 97 hektar dengan setiap tempat yang dilalui memiliki makna tersendiri. Makna-makna itu diambil sesuai perjalanan hidup manusia dari mulai lahir hingga kembali kepada TuhanNya.

Walaupun sudah berdiri berabad-abad lamanya, Keraton Kasunanan Surakarta hingga kini masih menjadi tempat tinggal keluarga kerajaan yang sekarang dipimpin oleh Sunan Pakubuwono XIII. Sebab memiliki bangunan yang khas dan unik, Keraton ini kerap menjadi jujugan wisatawan asing maupun domestik yang ingin mengetahui secara detail bangunan yang juga merupakan warisan budaya leluhur Jawa. Hal ini dikarenakan Keraton Surakarta ditinggali oleh garis keturunan yang hingga kini turut melestarikan tradisi dan menjadi sumber inspirasi budaya jawa.

Di dalam Keraton Surakarta ini masih tersimpan pula kekayaan budaya peninggalan kasunanan sebelumnya yang masih tersimpan dan terawat baik. Seperti Gamelan asal Demak, pusaka-pusaka keraton, tarian adat yang sakral, juga upacara adat yang penyelenggaraannya bertepatan dengan perayaan hari-hari besar Islam, seperti:

  1. Grebeg

Grebeg merupakan upacara yang diadakan setidaknya 3 kali dalam setahun yang dihitung sesuai penanggalan jawa. Antara lain:

Grebeg Mulud. Seperti halnya Mauludan dalam tradisi Islam, grebeg Mulud diadakan pada bulan Mulud atau bulan ketiga penanggalan jawa, tepatnya tanggal 12. Grebeg Mulud ini juga sebagai puncak acara Sekaten.

Grebeg Syawal. Acara ini diselenggarakan setiap tanggal 1 Syawal atau bulan kesepuluh penanggalan jawa.

Grebeg Besar. Bula besar dalam kalender jawa adalah bulan Dzulhijah yaitu bulan kedua belas setiap tanggal 10.

Ketiga acara grebek tersebut diadakan semacam kirab gunungan sebagai perwujudan rasa syukur kemakmuran keluarga kerajaan dimana raja akan mengeluarkan sedekah yang kemudian dibagikan kepada rakyat.

  1. Sekaten

Acara sekaten pertamakali di kenalkan oleh Sunan Kalijaga pada masa kerajaan Demak yang pada waktu itu sebagai bagian dalam rangka menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Sekaten sendiri diselenggarakan pada bulan Mulud (Robiul Awal) untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada acara Sekaten diadakan bunyi gamelan yang ditabuh selama 7 hari sejak tanggal 6 Mulud yang kemudian ditutup dengan Grebeg Mulud.

  1. Malam 1 Suro

Suro adalah penyebutan untuk bulan Muharram (penanggalan Islam) dalam bahasa Jawa. Tanggal 1 Suro bagi masyarakat jawa masih dianggap keramat dan pada tanggal itu saatnya mensucikan pusaka-pusaka yang dimiliki keraton.

Pada perayaan itu juga diadakan kirab/ memutari tembok pertahanan (beteng) yang arahnya berbalik dengan arah jarum jam dengan kerbau bule Kyai Slamet sebagai pembuka jalan.

Selain ke 3 tradisi diatas, Keraton juga rutin mengadakan tradisi haul (memperingati hari kematian). Ada Haul eyang Jaka Tarub, Haul Diageng Sela, Haul Betara Katon, Haul Kebo Winongo, Haul Jaka Tingkir/Sultan hadiwijaya dan beberapa leluhur lainnya. Tradisi lainnya lagi adalah upacara Tingalan Jumenengan Dalem yaitu upacara peringatan kenaikan tahta raja, Ritual Mahesa Lawung yaitu upacara pemberian kepala kerbau sebagai sesajen dan Malam Selikuran yakni tradisi yang dilaksanakan pada malam 20 bulan Pasa/Ramadhan untuk menyambut datangnya Lailatul Qadar.

Dari berbagai tradisi perayaan diatas bisa disimpulkan bahwa tradisi Islam sudah mendarah daging dan itu berkaitan dengan penyebaran agama Islam pada masa dulu yang di sebarkan oleh Wali Songo di tanah Jawa. 

Dari simbol-simbol seni yang dimiliki Keraton serta beberapa tradisi yang masih dilestarikan hingga sekarang, sudah selayaknya Keraton Kasunanan Surakarta ini menjadi pusat sejarah dan warisan budaya khususnya kota Solo/Surakarta yang sudah dikenal luas sebagai kota ber ikon seni budaya.

Sambutan ramah keluarga Kasunanan Surakarta

Suasana di dalam ruang Sasana. Kursi kayunya bercirikhas Jawa
Suasana di dalam ruang Sasana. Kursi kayunya bercirikhas Jawa
Sambutan GKR Wandansari Koes Moertiyah
Sambutan GKR Wandansari Koes Moertiyah

Begitu memasuki Sasana Handrawina, tempat acara dilaksanaan, semua Blogger sudah berkumpul disana. Ruangan luas yang bentuknya seperti aula dengan perangkat gamelan jawa dibagian depan itu lagi-lagi terasa kental budaya jawanya. Ditambah lagi keluarga keraton yang menggunakan ‘ageman’ (kostum) kebaya lengkap dengan sanggul membuat suasana semakin ‘njawani’ (jawa banget). Belum lagi musik gamelan jawa yang ditabuh secara live dan suara merdu beberapa ibu menembangkan beberapa lagu semakin membuat adem hati dan pikiran saya. Dan lagi-lagi, banner wifi id yang disupport oleh PT Telkom Indonesia begitu setia menemani perjalanan kami, semakin membuat nyaman suasana 🙂

Saat sedang asyik menikmati semua itu, tiba-tiba di luar ruangan ada tampilan (semacam) drumband dari barisan pengawal. Sontak membuat saya lari keluar ruangan untuk mengabadikannya.

Performance Bapak-bapak prajurit
Performance Bapak-bapak prajurit

Dan begitu penampilan drumband selesai saya kembali lagi keruangan lalu duduk disalah satu barisan kursi kayu bertuliskan “KERATON SURAKARTA”

Penampilan Tari Serimpi Sangupati

Sungguh pengalaman ini begitu berharga buat saya. Dan saya cukup terkesan dengan semua ini. Bersyukur saya mengenal dunia blog, karena berkat blog saya merasa tersanjung dan mendapat kehormatan besar masuk ke dalam Keraton Surakarta. Dengan sambutan yang sangat ramah dan baik, saya juga bisa melihat bagaimana gemulainya 4 penari Serimpi Sangupati (terus terang baru kali ini saya melihat gerakan tari Serimpi sebenarnya, biasanya cuma dengar nama tariannya saja). disini saya baru tau, rupanya kembang beterbaran dilantai itu tidak disebar dengan tengan tapi dengan kaki. Mungkin sebelumnya kembang itu disimpan didalam jarit si penari lalu saat penari menyibakkan jaritnya kebelakang dengan salah satu kaki, kembang-kembang itu dengan sendirinya menyemprotkan kebelakang dan beterbaran dimana-mana.. ih beneran kereen banget..

Tari Serimpi Sangupati *Perhatikan minuman dimeja berwarna merah itu, menggoda.. awalnya saya kira parfum kok hehe*
Tari Serimpi Sangupati
*Perhatikan minuman dimeja berwarna merah itu, menggoda.. awalnya saya kira parfum kok hehe*
Tari Serimpi Sangupati *Adegan menuang minuman ke dalam gelas (sloki)*
Tari Serimpi Sangupati
*Adegan menuang minuman ke dalam gelas (sloki)*

 Apalagi waktu ditengah-tengah menari, 2 penari menuangkan air merah dari botol kepada 2 penari lainnya, lalu air itu diminum. Ih, baru kali ini saya melihat tarian yang sangat indah. Dan herannya semua adegan itu dilakukan dengan gemulai dan betul-betul dengan gerakan tari. Luwes, penuh penghayatan dan sempurna. Saya aja yang melihat, sampai takut sendiri kalau-kalau terjadi kesalahan gerakan hehe..

Tari Bondoyudo Tariannya keren, penarinya juga oke punya hihi..
Tari Bondoyudo
Tariannya keren, penarinya juga oke punya hihi..

Tarian selanjutnya adalah tari Bondoyudo. Tari ini dibawakan oleh 2penari laki-laki dengan masing-masing membawa tameng dari anyaman bambu dan pentungan. Dari gerakan-gerakannya sih, tarian ini seperti tarian perang. Gerakannya oke juga, apalagi melihat penarinya, malah makin oke hihi..

Matur nuwun ingkang sanget kepada Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Wandansari Koes Moertiyah yang telah menyambut kami dengan baik dan ramah

Berikut foto-foto lainnya:

Foto Raja Susuhunan Paku Buwono XII
Foto Raja Susuhunan Paku Buwono XII
Foto Raja Paku Buwono XIII Sinuhun Hangabehi. Foto itu bukan sembarang foto tetapi dibuat dari serpih-serpih batik sehingga kalau diperhatikan dari dekat detail-detail corak batik akan tampak
Foto Raja Paku Buwono XIII Sinuhun Hangabehi. Foto itu bukan sembarang foto tetapi dibuat dari serpih-serpih batik sehingga kalau diperhatikan dari dekat detail-detail corak batik akan tampak
Saya didepan Pendopo komplek Kedhaton
Saya didepan Pendopo komplek Kedhaton

 

 Secara keseluruhan kunjungan ke Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat ini sangat mengesankan. juga embel-embel kerajaan yang biasanya terdengar menakutkan, ternyata sangat menyenangkan. Itu menambah nilai plus bahwa Keraton Kasunanan Surakarta perlu dijaga dan dilestarikan sebagai pusaka bangsa dan warisan dunia jangan sampai kemajuan teknologi dan modernisasi merenggut warisan yang telah turun temurun menjadi pusaran sejarah bangsa ini.

Bu TV

Kemarin saya ketemu Bu TV.

Bu TV, Begitu saya memaanggil.

Sebutan Bu TV tidak ada keterkaitan inisial namanya. Sebutan itu juga tidak ada hubungannya dengan pemilik banyak TV, lebih-lebih pemilik stasiun TV. Tapi saya menyebut begitu karena Bu TV adalah petugas yang menarik pajak TV zaman saya belum sekolah dulu.

Waktu saya kecil, saya sering melihat Bu TV mengetuk dari satu rumah ke rumah yang lain setiap sore di awal-awal bulan. Memakai bawahan coklat tua serta atasan coklat terang dengan lambang TVRI, Bu TV telaten memasuki rumah tetangga. Ada yang ramah mempersilahkan Bu TV masuk tapi ada juga yang menutup pintu sebagai penolakan halus. Salah satunya rumah saya yang masuk golongan penolakan.   

Setiap awal bulan, Ibu saya sudah mewanti-wanti kepada anak-anaknya, kalau lihat Bu TV nagih iuran, segera tutup pintunya. Atau kalau Bu TV masuk, bilang Ibu tidak dirumah.

Sebenarnya penolakan Ibu saya itu beralasan. Sebab saat itu kami memang memiliki TV hitam putih layar 14’ yang kondisinya rusak dan sering ngamar di tempat service. Atau kalau sedang normal TV disekolahkan di kantor pegadaian sehingga meskipun di bukunya Bu TV ada nama orangtua saya, tapi fisik dirumah tidak ada, makanya Ibu saya malas bayar iurannya.

Lucunya kami percaya saja apa yang dikatakan Ibu. Setiap kali kami tanya kenapa TV itu harus disekolahkan, jawaban Ibu saya terdengar klise, supaya pinter!

Tapi ujung-ujungnya tetap bayar iuran juga meskipun dobel.

Setelah beberapa lama berada dalam ketidak pastian akhirnya Bapak membeli TV warna kondisi second yang bisa dipakai nyetel saluran TV swasta. Gara-garanya sih sepele, kalau tidak salah ingat supaya bisa nonton siaran langsung piala dunia yang jam tayangnya dini hari. Katanya TV hitam putih yang lama tidak bisa dipakai nonton saluran lain selain TVRI. 

Nah pas bu TV nagih, ketahuan kalau TV saya baru. Jadilah tagihan iurannya nambah. Yang awalnya iuran senilai TV hitam putih, berganti iuran senilai TV warna.

Dan nyatanya kondisi TV warna second itu sebelas dua belas. Di pakai nyetel TV swasta sih bisa, tapi warnanya suka gak mau muncul. Kadang warna kadang hitam putih. Malah kadang sudah disetting warna sampai full pun gambarnya tetap hitam putih.

Sebel, kan. TV warna yang hitam putih tapi bayar iurannya seharga TV warna. Awal-awalnya dibayar sama Ibu saya, tapi lama-lama kok eman-eman.

Saat ditagih Ibu saya bilang ke Bu TV bahwa TVnya bukan warna tapi hitam putih, jadi minta supaya iurannya diturunin.

Bu TVnya sih sempat tidak percaya. Tapi waktu diperlihatkan *untung warnanya gak muncul*, Bu TVnya percaya.

Lagi-lagi saat jadwalnya Bu TV narik iuran, Ibu saya segera memberitau kami, kalau ada Bu TV nagih dan kami sedang nonton TV, trus TVnya muncul warna, cepat-cepat matikan TV. Atau setting warnanya diganti hitam putih supaya Bu TV lihatnya TV kita hitam putih.

Tapi lama-lama Bu TV maklum akan keadaan TV kita. Dan meskipun Bu TV datang narik iuran lalu melihat TV itu tampilannya warna, Bu TV maklum. Tagihannya tetap TV hitam putih 😀

Tak lama kemudian Bu TV sudah tak pernah lagi keliling narik iuran TV. Konon kabarnya pajak TV dihapus jadi mau punya TV berapapun sudah tak dikenai iuran lagi.

Hingga sekarang kalau ketemu Bu TV saya geli sendiri. Kalaupun menyapa, tetap saya panggil dengan sebutan Bu TV.

“Monggo, Bu TV..”

Fenomena novel difilmkan

Kalau diperhatikan fenomena novel di filmkan sedang in. banyak film Indonesa diadaptasi dari novel dalam negeri. Entah karena cerita novel lebih menjual atau sekedar ingin mendompleng judul novel yang sudah best seller sehingga nantinya promosi film itu lebih gampang diterima oleh masyarakat. Dan itu sebuah ide yang bagus supaya keberadaan penulis di Indonesia lebih di kenal dan dihargai oleh masyarakat, disamping untuk menggugah kembali semangat mereka akan kebiasaan membaca, lebih-lebih menulis.

Walau sebenarnya saya lebih suka kalau novel yang difilmkan itu memang benar-benar sastra yang apik sehingga sebagai apresiasianya novel-novel itu layak didokumentasikan.

Terus terang, seandainya tidak ada penggagas memfilmkan cerita di novel, niscaya film-film kita akan terus berputar disekitaran genre horor dan sensualitas saja. Sangat disayangkan mengapa film-film horor yang selama ini beredar di layar lebar Indonesia lebih banyak menjual sensualitasnya saja ketimbang isi ceritanya sendiri. Tak perlu saya sebutkan judul filmnya yang pasti film-film horor keluaran negeri ini masih berada di level ‘murahan’. Antara judul dan isi cerita sangat tidak relevan, malah terkesan ‘asal jadi’ dan mudah ditebak endingnya sambil merem sekalipun.

Tak perlu juga saya bandingkan antara film horor produksi kita dengan film horor produksi barat yang sudah mendunia itu sangat jauh berbeda. Barangkali faktor permodalan dan kreativitasnya yang sulit diraih sehingga film-film kita memberi kesan monoton.

Kembali lagi ke novel..

Ada cukup banyak karya sastra kita yang dibioskopkan walau terkadang masih ada efek didramatisir supaya lebih memacu jantung penonton. Bagi saya sih boleh-boleh saja, terserah sang sutradara, tapi alangkah baiknya bila efek dramatisir itu dibuat lebih natural dan tidak mengada-ada.

Sebagai penikmat novel saya lebih suka kalau novel yang difilmkan itu sama persis ceritanya dengan yang ada dinovel. Sehingga antara membaca di novel dan menonton filmnya, sensasinya bisa berbeda meski ceritanya sama.

Ada beberapa film yang keluar setelah saya membaca novelnya. Tapi ada juga film yang ditayangkan sebelum saya baca novelnya.

Jeleknya saya, kalau sudah membaca novelnya kemudian nonton filmnya yang ternyata ada kemelencengan cerita, secara spontan saya langsung protes. Apalagi ceritanya didramatisir dan dibuat-buat. Rasanya kecewa sekali.

Sebaliknya, kalau saya sudah nonton filmnya, tapi belum baca novelnya, lalu ceritanya terus membekas dikepala saya, besoknya saya langsung membeli novel itu. dan lagi-lagi jeleknya saya, suka membandingkan antara cerita di novel dan di film. Kalau tidak sesuai ya protes lagi. *Mohon maklumi penonton cerewet satu ini* 😀

Sebagai contoh fenomena novel difilmkan yang pernah saya lihat, tapi saya protes 😀

Novel Ayat-ayat Cinta. Setelah menyelesaikan novel ini saya begitu terkesima. Jalan ceritanya bagus, penulisannya bagus, endingnya juga luar biasa. Habis baca novel ini imaginasi saya seolah sedang di Mesir, membayangkan indahnya suasana kota Mesir dengan penduduknya yang humanis dan rasa kekeluargaan yang dimiliki para Mahasiswa Indonesia di Mesir. Begitupun kisah cinta segitiga antara Maria, Aisha dan Fahri yang begitu romantis dan islami.

Tapi begitu melihat filmnya, dimana sedari awal saya berharap lebih, minimal sama, seperti yang ada dinovel, tiba-tiba  lenyap begitu saja. Film AAC jauh dari bayangan saya. Setting Mesirnya kurang, pemeran Aisha nya kurang sesuai dan lagi ceritanya banyak dibuat-buat. Seperti saat Maria sakit. Dinovel Maria sakit karena memikirkan Fahri, sedangkan di film dia sakit karena ditabrak mobil. Gak sinkron sama sekali.

5 cm. Jujur saja saya belum pernah nonton 5 cm. Padahal pada awal-awal tayang saya ingin sekali nonton film itu. Bahkan kalau disuruh milih antara 5 cm dan Habibie Ainun yang rilisnya hampir barengan, dengan semangat saya milih 5 cm!. Apalagi kesan teman-teman yang sudah nonton film ini menyatakan bagus, saya jadi makin penasaran.

Namun keinginan nonton saya terpatahkan dengan penasaran saya membaca novelnya. Waktu itu saya pikir belum afdol rasanya kalau nonton film 5 cm tapi belum baca novelnya. Dengan kesan yang saya dapat dari teman-teman, cerita novelnya pasti akan lebih bagus dan lebih detail.

Sayangnya, begitu membaca novel, baru juga mulai di halaman pertama, kok saya tidak mendapatkan ‘roh’nya sama sekali. Rasanya tulisan Donny Dhirgantoro ini kurang mengena sama sekali. Ditambah lagi, di buku itu Donny banyak mengutip lirik-lirik lagu inggris yang sama sekali saya tidak tau dan tidak kenal. Jadi aneh sendiri bacanya.

Akhirnya, buku itu tetap saya baca sampai habis, tapi tidak bisa saya nikmati. Ibarat makan nasi, nasi itu masuk keperut tapi tidak nikmat dilidah. Kecewalah saya, dan memudarlah niat saya untuk menonton filmnya (gak nolak juga sih kalau dikasih gratisannya)

Namun kekecewaan saya terbayar sudah dengan hadirnya film RECTOVERSO. Film yang sebelumnya sudah saya baca ceritanya sebagian ketika di toko buku itu sangat memukau. Antara novel dan filmnya sangat pas. Saya pikir sutradara sangat pintar mencari pemain yang sesuai dengan karakter yang di buku. Ekspresi pemainnya bisa mewakili gaya penulisan Dee.

Saya sendiri berharap semoga kedepannya nanti semakin banyak film-film Indonesia yang berkisah tentang kehidupan apa adanya. Boleh-boleh saja fantasi, tapi mbok ya yang masuk akal. Bukan sekedar menjual peran dan mengobral daya khayal tinggi saja, tapi diimbangi kisah realistis. Kasihan penontonnya, sudah mahal-mahal bayar tiket tapi yang didapat jauh dari harapan ^_^

Dermulen itu Tornado

Dulu, setiap libur panjang sekolah, di Lapangan Bratang, dekat rumah saya selalu kedatangan tamu. Tamu ini sangat istimewa dan paling ditunggu-tunggu anak-anak sekolah. Tamu spesial itu adalah Pasar Malam.

Biasanya penyelenggaraan Pasar Malam ini diadakan sebulan penuh atau hingga masa libur berakhir, dari jam 6 sampai jam 9 malam. Walaupun hanya buka selama 3 jam, tapi suasananya sangat ramai. Semua orang berwajah ceria tak terkecuali anak-anak.

Di pasar malam itu ada macam-macam mainan. Seperti kuda-kudaan, mobil-mobilan, kereta kelinci, rumah hantu, tong gembong, ombak air dan dermulen (Entah siapa yang mulai, tiba-tiba saja ada yang menyebut kalau ombak air itu sama dengan dermulen. Padahal saya browsing di googleimage, munculnya seperti bianglala loh, tapi ya sudah saya ikut-ikutan aja nyebut dermulen) Dari kesemuanya itu yang saya suka adalah naik dermulen. Yaitu sebuah wahana putar yang bisa naik turun seperti gelombang laut.

Menurut saya wahana ini adalah satu-satunya wahana yang agak ekstrim dan hanya boleh dinaiki oleh anak-anak berusia diatas 10 tahun. Tapi nyatanya ada juga sih Bapak-bapak dan Ibu-Ibu yang naik wahana ini sambil bawa anak 5 tahun. Sensasi naik wahana ini adalah seperti dikocok dan ada rasa ser.. ser.. diperut. Apalagi kalau dorongannya kuat, semakin berada di ketinggian semakin geli rasanya.

Sayang keberadaan pasar malam sekarang hanya tinggal kenangan. Apalagi anak-anak sekarang sudah mengenal banyak mainan modern. Kalaupun diadakan lagi, kemungkinan besar akan sepi.

Ke Dufan

12 Maret lalu saya ke Ancol. Sok alasan ngantar ponakan PORSENI, saya masuk aja ke Dufan. Dianggap ikut rombongan, saya dapat tiket masuknya dengan harga murah, hanya sepertiga dari harga aslinya! Siapa coba yang nolak penawaran ini..

Sekalinya masuk Dufan, semangat banget memburu semua wahana untuk di taklukkan.

Apa? Tornado? Hysteria? Kicir-kicir? Kora-kora? Bianglala? Halilintar? yakin bisaa…

Datang pagi saya ketempat PORSENI anak-anak dulu di Pasar Seni. Lalu sekitar jam 10 kurang kami menuju ke Dufan.

IMG_0031

Setelah urusan loket dan dikasih stempel ‘BEJI’ saya langsung nyari-nyari lokasi yang pas untuk foto. Yang pertama 2 orang gadis yang menyambut di pintu masuk dengan pakaian ala putri sudah saya ajak berfoto bersama.

Selanjutnya saya mencoba Turangga-rangga. Sebetulnya saya tau kalau wahana ini cemen sekali, berhubung adik ipar menyarankan untuk pemanasan dulu sebelum mencoba wahana yang ekstrim, oke lah saya ikuti. Apa sih, Cuma kuda naik turun ditempat trus berputar-putar, gitu aja. Kurang sensasinya, yang ada malah bikin pusing kepala *nggaya*. Dan lagi wahana ini berada di bagian depan sendiri, sepertinya wahana ini juga menjadi ikonnya Dunia Fantasi. Bolehlah di coba.

Sambil pusing-pusing sedikit, saya naik ke Bianglala. Wahana ini menurut saya juga biasa aja sih. Cuma duduk diatas gondola trus gondola itu berputar secara vertikal. Jadi kalau pas diatas bisa melihat indahnya laut dan kawasan Ancol sekitarnya. Keren lah pokoknya apalagi diselingi angin yang semilir. Sempat penasaran waktu diatas melihat Hysteria yang super gila itu. Masak manusia seperti dibuang saja keatas. Ingat ya, itu manusia lho bukan, plastik! Tapi boleh juga sih dicoba..

Turun dari Bianglala saya langsung antri lagi di Kora-kora. Mainan ini menarik banget, semacam perahu lalu kita diayun-ayun. Awalnya sih pelan-pelan. Lama-lama ayunan perahu itu makin kencang dan kencang sampai-sampai kaki saya gemetar menahan hempasan perahu. Handycam yang saya pegang pun tau-tau mati sendiri. Mungkin tanpa sengaja saya tekan karena saking gak tahannya.

Habis naik Kora-kora saya berhenti dulu. Kasihan suami saya, mukanya mejikuhibiniu habis saya paksa naik Kora-kora. Karena jatah makan pagi yang dibawa dari rumah habis, kami beli Mie Cup. Siang-siang makan mie gak ada nikmatnya sama sekali. Sudah suasana panas ditambah makan mie panas, jadi makin mendidih.

Inilah dermulen itu..

Denger-denger kalau belum nyoba Hysteria dan Tornado, dianggap belum ke Dunia Fantasi. Bener nggak sih?

Kalau gak ada yang ngiyain, berarti cuma Bapak mertua saya aja yang bilang begitu 😀

Saya ini orangnya suka penasaranan loh. Saya juga orangnya suka nyesel-an. Jadi kalau ada yang bilang seperti itu di hadapan saya, tanpa ragu-ragu saya akan berangkat menunaikannya.

Seperti kemaren itu habis makan mie saya dengan PDnya langsung ngantri di wahana Hysteria. Waktu saya utarakan ke suami, dengan muka gak percaya dia iyain keinginan saya. Mungkin dalam hati dia bilang jangan, tapi diluarnya ya.. ya udah sana, sambil ragu-ragu.

Dengan mantap saya melangkah ke tempat pengantrian. Ruangan antriannya luas dengan lika-liku teralis. Etapi yang nganti Cuma sekitar 10 orang! Gak percaya saya kalau wahana ini menakutkan banyak orang. Kora-kora aja lho ngantrinya puanjang minta ampun.

Ya udah deh saya memantapkan diri. Sambil ngeri-ngeri grogi saya lihat bagaimana antrian didepan saya yang sudah memasuki kursi panasnya. Beberapa menit kemudian, terdengar suara gemuruh menakutkan sebagai tanda Hysteria akan lepas keatas. Di belakang saya ada lelaki yang sepertinya ketakutan, tapi juga penasaran. Beneran, giliran hysteria itu lepas landas dia teriak kenceng banget. Sampe kaget saya. Dia bilang, kalau dia takut. Ye, sama takutnya dengan saya Mas 😀

Tiba giliran saya naik. Saya milih di bagian depan supaya bisa dilihat suami. Eh lha dalah, lelaki yang tadi takut itu tiba-tiba muncul, “barengan kita ya, Mbak”. Aman deh, ada teman yang sama-sama takut 😀

Sepi :D
Sepi 😀

Setelah ambil posisi nyaman dan mengkaitkan sabuk pengaman, kami masih ketawa ketiwi. Sengaja sandal saya lepas, supaya gak jatuh.

Nunggu beberapa menit, lalu kursi naik sedikit. Saat ada suara gemuruh, saya mulai bersiap ambil napas panjang. Tarik.. lepas. Tarik.. lepas. Tarik.. *belum juga dilepas* tiba-tiba Swiiiingg….. tiba-tiba saya sudah terbang. Baru saya sadar bahwa dalam perut ini mau keluar semua, protes karena gak tahan ngerinya.

Kemudian diam sebentar. Asyik.. duduk diatas ketinggian. Tapi belum juga puas, kursi sudah naik lagi, lalu turun. Naik lagi, turun lagi sampai beberapa kali. Dan kemudian turun. Benar-benar turun lho, gak naik lagi. Yah segitu doang hehe..

Asli, naik Hysteria itu sensasinya ruaar biasa! Tegang-tegang gimana gitu..

Masih semangat! Lanjut lagi jalan.

Begitu melihat Tornado kok kayaknya makin seru aja permainan ini. Lagi-lagi saya pamit suami naik Tornado. Kali ini mukanya pasrah, ragu-ragunya sudah ilang, kayaknya.

Lagi-lagi saya masuk ke ruang antrian yang melompong. Sama sekali gak ada yang ngantri. Malah saya langsung diminta naik. Rupanya tornado ini berhenti lama sambil nunggu penumpang yang naik. Kursi-kursi disisi kanan sudah penuh semua. Jadi saya ambil kursi disisi kiri yang masih kosong-song. Sebenarnya saya mau manggil suami supaya dia pindah ke pagar sebelah kiri, tapi karena gak ada celah untuk memanggil akhirnya saya naik aja. Gak bisa narsis deh.

Herannya, begitu saya duduk, tiba-tiba kursi dikanan kiri saya full. Lalu petugas segera mengancing kami didalam kursi. Dan lagi-lagi ada suara gemuruh.. Sialnya, ketika ada suara gemuruh itu, saya baru sadar bahwa HP saya ada disaku celana! Aduh, kenapa baru ingat sekarang..

Oke deh gpp, sebisa mungkin akan kutahan HP itu supaya gak jatuh. Eman, rek..

Astagila.. naik Tornado itu seperti kamu nggoreng tempe. Pertama di celup dulu di air garam, lalu dibalik. Sisi atas ditaruh dibawah dan sisi bawah di taruh di atasnya, supaya asinnya merata. Gak ada yang bisa nahan tempe selain jari, ibaratnya jari itulah sabuk pengamannya tempe. Pokoknya pasrah aja jadi tempe.

Seperti juga tempe, pertama kali dimasukin ke mangkok air garam kan pelan-pelan. Pelan-pelan dulu. Nah sebelum di cemplungin ke wajan, tempe itu di jerang dulu supaya airnya hilang dengan di pukul-pukulkan ke mangkok. terus dan terus. Ya begitu itu..

“Cukuuup.. cukup. Brentiii…” teriak cewek disebelah kanan saya.

“Jangan berhenti dulu, Mbak. Percuma brenti disini, wong kita masih diatas. Nanti aja brentinya kalau sudah dibawah!” jawab cowok disebelah kiri saya.

Saya: Gak bisa ngomong. Cuma bisa mikir semoga HP ini tidak jatuh.

Begitu selesai, saya elus-elus HP yang sudah mencungul separuh keatas.

Begitu turun saya diaaam aja. Gak bisa ngomong apa-apa. Muka sih ketawa-ketawa aja, tapi dalamnya ini ancur banget.

Diam saya bukan karena HP yang selamat, tapi karena kepala saya pusing dan perut seperti diaduk-aduk. Rasanya pengen muntah.

“Mau naik kicir-kicir?”

“Apa mau naik pontang-panting?”

“Istana Boneka juga masih ada lho..” Kata Suami.

Benar-benar penghinaan. Tapi apalah daya, semangat kuat tenaga kurang.. 😀

Mati-matian saya nahan rasa itu, saya tahan-tahan supaya tidak muntah. Selesai sholat di Musholla pun saya tidak langsung berdiri, tapi saya baringkan tubuh dulu, maksudnya supaya suasana perut kembali bersahabat. saya juga sudah merusaha menyuap mulut dengan minuman manis. Sayangnya nasib berkata lain, usaha menahan aksi protes itu jebol juga. Saya muntah haha..

Huh. Awas ya bila suatu saat aku datang lagi, semua wahanamu akan kutakhlukkan! *dendam kelas berat*

Go Top